Monthly ArchiveNovember 2017

Byadmin

Ubah Cubitan Jadi Elusan Sayang

Dari kegiatan Parenting Desa kerjasama Himpaudi Kota Banjarbaru dan Bank Kalsel Cabang Banjarbaru

Amun ngalih ditagur, ulun kibit ae (kalau susah ditegur, saya cubit saja),” demikian tutur seorang ibu di Kelurahan Bangkal ketika ditanya Retno – salah seorang relawan RBP – tentang bagaimana kebiasaannya menangani anaknya saat rewel. Alhasil, puluhan ibu dan anak di Raudhatul Athfal Al Aman yang mengikuti kegiatan parenting desa itu pun tergelak. Suasana menjadi riuh.

Begitulah suasana jalannya program parenting desa di RT 6 Kelurahan Bangkal, Cempaka, Kota Banjarbaru yang dilaksanakan Kamis (23/11) tadi.

Ketua Himpaudi Kota Banjarbaru Nurhayati yang bertindak langsung sebagai narasumber memberikan jawaban bijak bagi ibu tersebut. “Berhenti mencubit ya Bunda, karena anak-anak sepenuhnya belum mengerti. Orang tua lah yang harus banyak bersabar,” himbaunya. Nurhayati pun memberikan contoh bagaimana bersikap kepada anak-anak. “Ubah cubitan itu jadi elusan sayang. Anak itu dipeluk Bunda, sehingga Ia bisa belajar apa itu kasih sayang,” pungkasnya.

Keceriaan semakin terasa begitu RBP membagikan makanan sehat berupa nugget gratis persembahan Bank Kalsel Cabang Banjarbaru. “Terima kasiiih…,” ucap siswa siswi RA Al Aman serempak membuat suasana bertambah ramai.

Parenting desa kali ini menjadi penutup dari program selama setahun pertama. Namun, baik RBP maupun Himpaudi Kota Banjarbaru sama-sama masih punya komitmen untuk kembali melaksanakan program ini. “Kegiatan ini sangat positif karena bisa membangun pemahaman tentang parenting hingga ke pelosok,” ujar Nurhayati.

Senada, Direktur RBP Dokter Diauddin juga berharap program ini terus berlangsung. “Jika ada dukungan dari banyak pihak mungkin wilayah program bisa diperluas,” ucapnya. (en)

Byadmin

Kebaikan Selalu Menemukan Jalannya

Oleh Retno Sulisetiyani
(Manajer Marketing Komunikasi RBP)

“Saya kepikiran biaya kontrakan, bulan Desember harus bayar 700rb,” Bu Sum akhirnya bersuara tentang gundah yang Ia rasakan pagi itu, Jumat (17/11). “Ibu ingat Allah yaa, tenangkan pikiran, perbanyak doa. InsyaAllah rezeki ibu sudah ada yg ngatur,” Saya berusaha menguatkan.

Malam itu saya coba membagi kisah tentang Sumiati kepada para sahabat dermawan.

Sumiati adalah janda berusia 45 tahun yang hidup bersama anak satu-satunya bernama Zailani. Ia dan anaknya tak punya pekerjaan tetap. Sehari-hari Sumiati kerja menjadi asisten di kantin kantor Gubernur. Tapi sudah dua bulan libur karena kantin sedang direnovasi. Akhirnya Sumiati mengambil upah nyuci baju tetangga beliau. Namun, kondisinya yang sakit membuatnya kesulitan. “Biasanya dibantu Zailani,” ucapnya kala itu.

Zailani, yang kini berusia 28 tahun juga sedang tak punya pekerjaan. Dulunya, Ia bekerja di sebuah bengkel di Liang Anggang. Namun, karena ada pelebaran bengkel tersebut kena gusur dan akhirnya tutup. Ia tak bisa ikut kerja bangunan karena tak punya sepeda motor. “Kalau harus naik angkutan umum malah habis upahnya untuk ongkos transport,” keluhnya siang itu kepada Saya.

Saya tentu tak bisa membantu Sumiati dan anaknya secara langsung. Namun ikhtiar Saya maksimalkan untuk membaginya kepada teman-teman. Rupanya Allah swt mendengar doa-doa Sumiati. Selang beberapa jam kemudian beberapa pesan masuk ke handphone Saya.

Saya bantu satu juta
Kontrakan beliau biar saya yang tanggung
Ada sepeda motor silahkan dipakai

Allahuakbar. Segalanya mudah bagi Allah swt. Benar janjiNya, bahwa kebaikan pasti akan menemukan jalannya. Banyak tangan terulur untuk Sumiati. Bahkan ada yang hanya mengirimkan bukti transfer donasi dengan nominal yang lumayan. Ah, semua memang sangat mudah bagiNya.

Terima kasih sahabat dermawan. Semoga kebaikan dari segala arah kembali kepada kalian.

Byadmin

Eny Apriyati : Ayo Bantu Sumiati Berjuang!

Sumiati, janda 45 tahun yang sedang berjuang melawan kanker payudara itu tersenyum lebar. Betapa tidak, seperti mimpi di siang bolong, Ia tak menyangka Ketua GOW Kota Banjarbaru yang juga istri Wakil Walikota Banjarbaru Eny Apriyati Darmawan Jaya mengunjunginya di RS Idaman Banjarbaru, Sabtu (18/11) kemarin. “Nggak nyangka sidin mau nengok saya,” ucapnya.

“Ibu harus kuat, jalani hidup dengan semangat,” ujar Eny seraya mengelus lembut lengan Sumiati. Eny juga menyapa Zailani, anak Sumiati. “Jaga ibu ya, temani ibu menjalani pengobatan,” ujarnya kepada lelaki berusia 28 tahun itu. Zailani mengangguk seraya berjanji.

Eny juga berbagi kisah tentang komunitas penderita kanker payudara di Kota Banjarbaru. “Nanti ibu gabung saja dengan komunitas itu, jadi bisa saling berbagi cerita. Beban pikiran kan bisa lebih ringan kalau berbagi,” tutur wanita berparas cantik itu. Senyum dikulum kembali menghiasi wajah Sumiati. Rupanya, Eny yang juga seorang perawat itu memberi perhatian khusus untuk para pejuang kanker payudara. “Banyak para penderita kanker payudara di Kota Banjarbaru, mereka perlu dukungan dari kita semua,” ucapnya kepada RBP.

Kamis (16/11) malam yang lalu, Sumiati terpaksa dilarikan ke RS Idaman Banjarbaru karena kondisinya yang mengkhawatirkan. “Mama sesak nafas dan sakit kepala hebat,” terang Zailani berkabar kepada RBP. Relawan RBP pun sigap membawa Sumiati ke rumah sakit.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani yang turut mendampingi malam itu menuturkan bahwa kondisi Sumiati cukup mengkhawatirkan. “Bu Sum sering mengaduh sakit kepala dan nafsu makan menurun,” ujarnya. Setelah dua hari dirawat, Sumiati mengaku sakit kepalanya sudah berkurang. Kini Ia sudah terlihat bisa tertawa. (en)

Byadmin

RBP Berbagi Ilmu Kehumasan Kepada Mahasiswa

Pagi itu, Minggu (12/11) bertempat di SDIT anic Banjarbaru, sekitar 15 mahasiswa dari berbagai kampus di Banjarbaru berkumpul. Duduk lesehan di salah satu ruangan, mereka asik berdiskusi bersama Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani. Mahasiswa-mahasiswa itu adalah pengurus dan anggota dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Idaman. 

Izza, salah satu pengurus KAMMI Komsat Idaman menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya peningkatan kapasitas organisasi. “Kebetulan banyak kader baru, sehingga perlu dibekali pengetahuan dan Alhamdulillah ada RBP yang mau memfasilitasi,” ujar Izza seraya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada RBP. Ia mengaku terbantu dengan bantuan yang telah diberikan. 

Dalam pemaparannya, Retno menjelaskan tentang apa saja peran penting dan tugas humas dalam organisasi. “Humas itu representasi lembaga. Komponen pentingnya ada pada kemampuan komunikasi,” ujarnya. 

Perempuan berkacamata itu juga memberikan tugas-tugas untuk dipraktekkan. “Salah satu cara menyampaikan pesan adalah dengan menulis, dan untuk bisa menulis harus sering berlatih,” himbaunya kepada semua peserta. 

Retno menilai kegiatan seperti ini harus didukung karena pemuda yang terlatih adalah generasi harapan. “Siapapun kita, harus memiliki perhatian kepada para pemuda. Bentuk mereka agar menjadi generasi berwawasan dan kreatif,” pungkasnya. (en) 

Byadmin

Bantu Mustadi, Bocah Penderita Kanker Asal Cempaka

Mustadi, bocah 11 tahun itu seperti tak terlihat sedang sakit. Ia asik bermain dengan adiknya, Edo, yang empat tahun lebih muda darinya. Namun, wajahnya yang pucat tak bisa membohongi keadaannya yang telah berjuang melawan kanker darah sejak empat tahun yang lalu.
Ruang anak kelas 3 RS Idaman Banjarbaru. Di sanalah Mustadi dirawat. Sang Ibu, Solatiah, tampak duduk bersender di salah satu dinding ruangan itu. “Saya sedih mengetahui anak saya kena kanker, saya ingin Ia sembuh kembali,” ungkapnya kepada penulis. Sejak 2013 yang lalu, perempuan berusia 35 tahun itu berjuang sekuat tenaga membawa Mustadi berobat. “Saya ikuti semua proses pengobatan. Alhamdulillah gratis,” kisahnya.
Namun, rupanya pengobatan kanker tidaklah sebentar. Menurut Dokter Harapan Parlindungan Spesialis Anak dan Hematologi, Mustadi sudah menjalani kemoterapi dan selama satu tahun awal berjalan baik. “Namun ketika hampir menyelesaikan proses kemoterapi, ternyata kambuh lagi sehingga program kemo pun diulang,” ujar dokter yang biasa disapa Dokter Parlin tersebut.
Di tahun kedua, kondisi serupa terjadi kembali sehingga menyebabkan Solatiah putus asa. Bagaimana tidak? Untuk pengobatan Mustadi, Solatiah terpaksa menjual rumahnya. “Semua harta benda sudah terjual, cuma tersisa punya rumah hasil kerja suami. Sementara saya pengen Mustadi sehat kembali, ya kami jual rumah tersebut,” akunya.
“Saya tak sanggup lagi. Tidak ada biaya untuk ke RS. Kerjaan suami sedang sepi,” ucapnya kala itu.
Ahmad (43), suami Solatiah, memang hanya mengandalkan hidup dari hasil mendulang. Sudah berbulan-bulan ini tidak mendapatkan hasil apapun.
Beruntung, kepedulian Dokter Parlin terhadap pasiennya menggugah salah satu rekan medisnya untuk menggalang dana. Dialah Dokter Siti Ningsih, yang juga adalah pengurus Radar Banjar Peduli (RBP).
“Saya bermaksud mengajak bapak ibu yang ingin membantu mama Mustadi supaya bisa tetap menjalankan program kemoterapi karena anak ini masih ada kemungkinan untuk baik dan beraktifitas normal,” tulisnya melalui pesan whatsapp.
Dana yang Ia kumpulkan kemudian dititipkan ke RBP untuk dikelola. “Mudahan dengan dikelola lembaga, kesinambungan pengobatan lebih terjaga karena dana benar-benar disalurkan sesuai peruntukannya,” ucapnya.
Direktur RBP Dokter Diauddin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas sinergi yang telah terjalin. “Alhamdulillah dengan sinergi seperti ini harapan Mustadi untuk sembuh dapat kembali bersinar. Semoga makin banyak tangan terulur, tidak hanya untuk Mustadi tapi juga penderita kanker lainnya,” ujar Dokter Diauddin.
Sahabat, banyak pejuang kanker di Kalimantan Selatan sedang berjuang keras. Bukan untuk melawan maut, melainkan untuk bertahan hidup dengan baik. Mereka berhak untuk bahagia. RBP hadir membersamai mereka bukan untuk menjadi pahlawan, namun ingin menjadi teman seperjuangan. Membersamai dalam setiap tangis bahkan tawa. (en)

Byadmin

Sumiati, Pejuang Kanker yang Kini Sendiri

Dua Tahun Tanpa Pengobatan karena Ketidaktahuan

Sumiati adalah janda berusia 45 tahun yang hidup bersama anak satu-satunya bernama Zailani (27). Perempuan yang tak tamat SD itu sebenarnya sudah merasakan benjolan di payudaranya sejak dua tahun yang lalu. Namun karena ketidaktahuan maka Ia hanya mendiamkannya. Ditambah saat itu suaminya tiba-tiba pergi tanpa pesan. Beban perpisahan itulah yang lebih menguras pikirannya kala itu.

Hingga, akhirnya benjolan itu pecah dan menimbulkan luka. Sumiati akhirnya berkeluh kesah dengan salah satu tetangganya. Melalui tetangganya itulah kabar tentang derita penyakit Sumiati sampai ke RBP.

“Saya tidak paham Bu, harus diapakan penyakit saya ini,” ucapnya kala ditanya kenapa tidak pernah berobat. “Alhamdulillah kalau ada yang bantu saya, saya mau kok berobat,” imbuhnya.

Jumat (27/10) lalu, RBP membawa Sumiati ke RS Idaman Banjarbaru menggunakan jaminan SKTM. Setelah bertemu dan diperiksa Dokter Eko Wahyu Pribadi Spesialis Bedah, Sumiati dirujuk ke RS Ratu Zaleha Martapura untuk mendapatkan tindakan operasi. “Ibu harus dioperasi karena kankernya sudah ganas,” ujar Dokter Eko kala itu.

Sumiati menjalani operasi pengambilan jaringan kanker pada hari Jumat (3/11) kemarin di RS Ratu Zaleha Martapura. “Alhamdulillah operasi berjalan lancar, dan sedang diproses pemeriksaan jaringan kankernya di laboratorium,” ujar Manajer Program RBP Nurhayah.

Sumiati memang perempuan tangguh. Hal ini terlihat saat RBP menjenguknya siang pasca operasi. Ia seperti tak merasakan sakit di tubuhnya. Ketika akan dipakaikan baju pun Ia secepat kilat bangun. “Pelan-pelan saja Bu, ini ada jahitan pasca operasi lo,” ucap salah seorang relawan yang mengaku heran dengan ketangguhan Sumiati. “Ibu ini kuat sekali,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.

Hal yang sama juga dikatakan Zailani, anak Sumiati. “Ibu memang jarang mengeluh,” akunya. Bahkan, kata Zailani, sang Ibu masih sempat mengambil upah nyuci baju beberapa hari sebelum operasi. “Untung saya ada di rumah waktu itu jadi bisa saya bantu, soalnya ibu nyucinya dikucek saja pakai tangan,” kisahnya kepada RBP.

Sumiati mungkin kini hidup sendiri tanpa suami, namun kami yakin tangan-tangan kebaikan banyak yang peduli pada perjuangannya. Perjuangan yang masih sangat panjang. Sahabat dermawan yang ingin membantu Sumiati bisa melalui rekening Yayasan Radar Banjar Peduli BSM 0260018953. Lakukan konfirmasi transfer melalui sms ke 081333272004. Uluran tangan Anda sangat berharga bagi mereka. (en)

Byadmin

Relawan Harus Bermental Tangguh

Dari Kegiatan Orientasi Relawan RBP sesi Sharing Bersama Wakil Walikota Banjarbaru

“Salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan memberi nilai atau arti untuk setiap aktivitas yang kita lakukan atas dasar nilai-nilai ketuhanan” (H Darmawan Jaya Setiawan, wakil walikota Banjarbaru)

“Saya ini banyak hobinya, bagaimana caranya saya menentukan minat yang sebenarnya Pak?” tanya Hikmah, salah seorang relawan RBP kepada Wakil Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan dalam acara orientasi relawan sesi sharing with figures yang dilaksanakan di Pendopo Kampung Purun, Minggu (29/10) lalu.

“Selagi muda cobalah semua hal, jangan pilih-pilih. Dan yang paling penting adalah gantungkan cita-citamu setinggi langit. Karena kalaupun gagal, kita akan jatuh diantara bintang-bintang,” jawab Jaya yang langsung disambut tepuk tangan meriah oleh 26 relawan yang hadir pagi itu.

Dalam sesi bincang dan diskusi bersama tokoh itu Jaya bercerita bagaimana jatuh bangun kehidupannya sebelum menjadi seperti sekarang. “Saya mengalami empat kali kegagalan saat mencoba berwirausaha, namun saya terus mencoba dan tak patah semangat. Selalu berbaik sangka saja dengan jalan yang diberikan Tuhan,” ujar lelaki yang baru saja menjalankan ibadah haji September yang lalu.

Jaya juga memberi pesan kepada para relawan untuk mengingat tiga kunci untuk mencapai kebahagiaan, yaitu kemampuan fisik, memiliki emosional yang baik meliputi sifat sabar, ketangguhan, kejujuran, dan keikhlasan, serta senantiasa mengingat Tuhan (spiritual).

Penanggungjawab program orientasi relawan Retno Sulisetiyani menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya RBP sebagai lembaga sosial kemanusiaan dalam menjaga semangat kerelawanan. Menurutnya, saat ini sangat diperlukan kontribusi relawan. “Tidak hanya dalam hal kebencanaan, namun semua aspek kehidupan. Terlebih di era digital seperti ini, warga tidak mampu banyak memerlukan uluran tangan generasi muda,” ujar perempuan berkacamata itu. “Insha Allah orientasi relawan akan kami laksanakan setiap bulan, karena semangat itu perlu diperbaharui setiap saat,” imbuhnya.

RBP mengajak kepada anak-anak muda di Banjarbaru dan sekitarnya untuk senantiasa mengukir karya dengan berbagi. Pikiran, tenaga, ataupun keahlian. Ingatlah pesan Presiden pertama RI, Ir Soekarno, yang berkata : “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (en)

Byadmin

Mengenal dan Mencegah Stroke


Oleh dr. Pagan Pambudi, Sp.S
Dokter spesialis saraf dan dosen di FK Unlam/RSUD Ulin
Bekerja di RSUD Ulin Banjarmasin

Stroke adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak, terjadi mendadak dan ditandai dengan kelumpuhan anggota gerak sebelah, wajah yang tidak simetris dan kesulitan bicara (dapat berupa bicara cadel sampai tidak memahami pembicaraan sama sekali). Agar mudah diingat, masyarakat cukup mengingat kata SEGERA yang merupakan singkatan dari senyum yang tidak simetris, sulit bergerak dan sulit bicara. Jika terjadi gejala seperti itu harus segera membawa penderita ke rumah sakit.

Departemen Kesehatan RI mencatat bahwa Stroke merupakan penyakit nomer 3 terbanyak menyebabkan kematian dan nomer 1 penyebab kecacatan di Indonesia. Salah paham sering terjadi di masyarakat yang menyebut dirinya atau keluarganya hanya terkena stroke ringan. Pada kenyataannya tidak ada istilah stroke ringan. Satu kelumpuhan yang bersifat singkatpun (15 menit – 24 jam) adalah keadaan gawat darurat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Semakin cepat pasien stroke mendapatkan pertolongan di rumah sakit semakin baik peluang untuk sehat kembali dan menurunkan kemungkinan menjadi fatal. Data menyebutkan bahwa pasien stroke iskemik yang mendapatkan terapi trombolisis dalam waktu 3 – 4,5 jam setelah kejadian mempunyai angka kecacatan pasca stroke yang lebih rendah dibandingkan pasien yang tidak mendapatkan terapi trombolisis sehingga tidak ada cara yang lebih tepat untuk membantu orang yang mengalami serangan stroke kecuali SEGERA membawanya ke rumah sakit.

Mencegah Stroke
Mencegah selalu lebih baik dan lebih mudah dibanding mengobati, hal ini terutama benar untuk penyakit Stroke. Pengobatan Stroke relatif sulit, lama dan mahal, belum lagi kecacatan yang disebabkan stroke dapat membuat pasien tidak lagi produktif bahkan menjadi beban bagi keluarga. Stroke dapat dicegah dengan cara-cara sederhana sebagai berikut:
• Makan makanan sehat dalam jumlah cukup tidak berlebihan, makanan tersebut hendaknya mengandung cukup sayuran, buah-buahan, mengurangi makanan berlemak dan berminyak. Pendapat awam bahwa sayuran dapat menyebabkan peningkatan asam urat dan menyebabkan nyeri sendi tidak benar untuk sebagian besar populasi. Penelitian di Cina pada tahun 2014 menyebutkan setiap 200 gram konsumsi sayuran perhari dapat menurunkan resiko Stroke sebanyak 32%, dan setiap konsumsi 200 gram buah-buah dapat menurunkan resiko stroke sebanyak 11%
• Tidak merokok. World Heart Federation menyatakan bahwa perokok mempunyai resiko empat kali lebih besar untuk menderita stroke dibanding yang bukan perokok. Sayangi keluarga anda dengan berhenti merokok mulai sekarang
• Tidak minum minuman beralkohol. Minum minuman beralkohol lebih dari 2 sloki perhari, memperpendek waktu anda untuk terkena stroke 5 tahun lebih cepat dibanding yang bukan peminum alkohol
• Olahraga teratur. Jurnal Asosiasi Stroke Amerika melaporkan individu yang aktif berolahraga mempunyai resiko terkena serangan stroke iskemik 34% dan stroke perdarahan 21% lebih rendah dibanding individu yang tidak aktif.
• Cukup tidur. Jumlah jam tidur ideal adalah 6 – 8 jam perhari. Orang yang tidur kurang jadi ini berisiko mendapat serangan stroke dua kali lipat. Beberapa penelitian menyebutkn bahwa kurang tidur sama atau lebih buruk daripada merokok.
• Mengendalikan hipertensi. Hipertensi tidak diragunakan lagi merupakan faktor resiko paling penting pada penyakit stroke. Mengendalikan tensi sangat penting dalam pencegahan stroke. Jurnal Stroke yang merangkum beberapa penelitian tentang stroke dan hipertensi di seluruh dunia menyebutkan bahwa setiap penurunan 10 mmHg dapat menurunkan resiko stroke sebanyak 40-50% pda pasien yang berusia < 60 tahun. Pasien tidak perlu ragu untuk mengkonsumsi obat antihipertensi secara teratur bila telah didiagnosis hipertensi. Obat antihipertensi baru tidak merusak ginjal pada penggunaan jangka panjang, bahkan justru menjaga ginjal dari kerusakan. • Mengendalikan kadar gula darah bila menderita diabetes. Diabetes melitus adalah faktor resiko serangan stroke kedua setelah hipertensi. Data epidemiology menunjukkan penderita diabetes mempunyai kemungkian 2,7 kali lebih tinggi untuk terkena stroke iskemik dibanding bukan penderita diabetes. Menurunkan kadar gula darah dapat menurunkan resiko ini sehingga pasien dengan diabetes diharapkan dapat mengndalikan diabetesnya dengan cara berobat, olah raga dan mengatur makanan secara baik Demikianlah hal-hal sederhana yang dapat kita mulai lakukan mulai sekarang, mulai saat peringatan hari stroke sedunia 29 Oktober 2017 agar terhindar dari penyakit stroke demi kesehatan pribadi dan masa depan keluarga tercinta.