Monthly ArchiveDesember 2017

Byadmin

Enam Bulan Beradaptasi, Sempat Nangis Dua Hari

Mengunjungi Wildan, Penerima Beasiswa SMART Ekselensia Indonesia Asal Banua

Muhammad Wildan (12) yang sering disapa sebagai Wildan itu adalah salah satu anak yang beruntung mendapatkan beasiswa SMART Ekselensia Indonesia. Betapa tidak, karena seleksi masuk dengan persaingan ketat, maka pelajar yang benar-benar berprestasi dan siap secara psikis lah yang mampu bersekolah disana. Setiap tahunnya, sekolah itu hanya menerima 40 siswa se-Indonesia. Sabtu (16/12) yang lalu Wildan dan 4 siswa lain asal Kalsel telah dipulangkan dalam rangka liburan sekolah.

SMART Ekselensia Indonesia termasuk sekolah yang menyediakan beasiswa bagi kaum duafa yang memiliki keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Sekolah ini disajikan khusus untuk para anak laki-laki yang berprestasi dan mampu bersaing dengan anak-anak lain saat lulus sekolah nanti. Sekolah yang terletak di Kemang, Bogor, Jawa Barat itu memang patut disandingkan dengan sekolah-sekolah bergengsi lain di tingkat nasional.

Awal menjadi siswa SMART Ekselensia Indonesia, Wildan harus mengalami masa-masa sulit. Ia sempat kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan teman-temannya. Hal itu disebabkan karena perbedaan budaya dan bahasa daerah masing-masing. Menurutnya butuh waktu sebulan untuk bisa beradaptasi lebih dekat lagi dengan mereka. Wildan juga sempat menangis dua hari dua malam karena rindu akan keluarganya di Kalimantan.

“Syukur saja bisa berkomunikasi dengan sanak keluarga meski hanya melalui telepon genggam hari sabtu dan minggu,” tutur Wildan.

Namun, ketika kini memasuki musim liburan semester, Wildan malah ingin sekali cepat-cepat masuk sekolah. “Kangen sama temen-temen,” ucapnya sembari tersenyum simpul. Ia mengaku sangat senang sekali bisa kenal dengan teman-teman dari berbagai daerah.

“Mereka ramah, seru, dan jujur. Ditambah keseruan diajak out bond saat weekend tiba,” akunya lagi. Wildan merasa sangat dihargai dan diakui keberadaannya tanpa ada perbedaan derajat dan status sosial masing-masing.

Orang Tua Mendukung Penuh

Keberhasilan dan kebahagiaan yang diraih Wildan tentu ada peran orang tua di sana. Wildan mulanya tak menyangka bisa lolos ke sana. “Seleksinya banyak dan ketat, saingannya banyak sekali,” kenangnya. Wildan memang harus bersaing melawan ratusan anak se nusantara.

Namun dukungan orang tua berhasil membuatnya melewati tahapan demi tahapan seleksi. Awalnya, ia direkomendasikan oleh gurunya karena prestasinya yang cukup membanggakan sekolah. Prestasi yang ia raih juga tak main-main. Menurut ibunda wildan, Lili Hariyanti (29) Wildan mulai dari kelas 1 SD hingga kelas 6 SD selalu ranking 1 dan memenangkan banyak perlombaan khususnya yang berkategori islami.

Wildan juga pernah menjadi juara lomba meayat (menghapal ayat al qur’an), tilawah, dan lain-lain. Tak heran jika ia termasuk siswa favorit dan disukai oleh guru-gurunya di SDN Sungai Tiung 3 Cempaka Banjarbaru.

Lili Hariyanti menceritakan bahwa Wildan kecil tidak suka keluar rumah. Ia selalu fokus belajar dan serius tanpa ada gangguan dari teman-teman sebayanya yang sering keluar rumah untuk bermain-main. “Wildan suka belajar dan bersemangat untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru-gurunya dengan tekun dan baik,” imbuhnya.

Rupanya kecintaannya terhadap ilmu, membuat Wildan tumbuh menjadi pembelajar. Buktinya, keinginan bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia muncul atas inisiatifnya sendiri. “Kami kadada memaksa, murni niatan Wildan sendiri,” ujar Sairoji (36), ayahnya. Melihat semangatnya itulah, Sairoji sebagai orang tua mendukung sepenuhnya niat Wildan dan mendoakan Wildan agar bisa sukses disana.

Meski berjauhan, Sairoji yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pasir itu mengaku cukup tenang melepas anaknya. Apalagi dibolehkan menelpon pada hari sabtu dan minggu. Hanya mendengar suara Wildan saja cukup menenangkan hati Sairoji dan Istrinya.

“Sebenarnya pengen bisa menengok ke sana (Bogor) tapi nggak punya biaya, Istri saya tidak bekerja jadi uang sehari-hari cukup untuk makan saja,” ucap Sairoji.

Kondisi tersebut sangat dimengerti oleh Wildan yang merupakan anak pertama sekaligus anak laki-laki satu-satunya di keluarga Sairoji. Maka Ia tak pernah menuntut untuk dijenguk ke Bogor.

Keluarga Wildan menaruh harapan agar Wildan bisa meneruskan pendidikannya hingga ke jenjang kuliah. Wildan pun berharap seperti itu juga. “Saya harus semangat dan focus menggapai mimpi untuk membanggakan orang tua dan orang-orang yang ia sayangi. Tanpa terpengaruh apapun yang bisa menghambat impiannya,” ucapnya bersungguh-sungguh.
Ah, mimpi yang indah ya Wildan. Semoga banyak tangan kebaikan yang menghampiri Wildan dan keluarganya, sehingga mimpi itu dapat mewujud nyata. 

Penulis : Elma Apriliani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

RBP Gandeng Baznas Gaungkan Kepedulian di Kabupaten Banjar

Jumat (15/12) kemarin RBP berkesempatan bertemu dengan jajaran pengurus Baznas Kabupaten Banjar. Direktur RBP Dokter Diauddin MKes bersama Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra disambut dengan hangat oleh Ketua Baznas Banjar HM Yaserin Yaqub yang ditemani Wakil Ketua I Gusti Rachmadi Syafri dan Wakil Ketua II H Arman.

Bertempat di Sekretariat Baznas Kabupaten Banjar silaturahmi berlangsung santai dan akrab. Sesekali terlihat gelak tawa mereka. Meski demikian, pembicaraan tak luput dari isu sosial dan kemanusiaan. “Dalam menjalankan amanah umat, maka kami harus menjaga kepercayaan tersebut,” ucap HM Yaserin Yaqub.

Menurut Yaserin Yaqub bencana kemanusiaan di Kabupaten Banjar terbilang tinggi baik dari bencana alam maupun kemiskinan. “Maka kami perlu menggalang mitra agar makin banyak tangan-tangan yang menerima kebaikan,” ujarnya. Terlebih menurutnya Baznas Banjar baru saja dibentuk pada Maret 2017 yang lalu.

Hal tersebut tentu ditanggapi baik oleh RBP. “Kami ingin bermitra karena tahun 2018 nanti kami ingin meluaskan area pendayagunaan ke wilayah Kabupaten Banjar. Senang rasanya jika gayung bersambut,” tutur Diauddin.
“Kami siap bekerjasama karena banyak sekali kesamaan visi antara Baznas dan RBP,” Imbuh Yaserin Yaqub menanggapi keinginan RBP.

Keduanya bersepakat untuk menuangkan kerjasama dalam bentuk nota kesepakatan. “Kami menawarkan program Homecare Duafa untuk dikerjasamakan, tapi lihat ke depan bagaimana kesepakatan yang disetujui,” ujar Diauddin setelah pertemuan tersebut.

Menggalang kerjasama atau sinergi tentu adalah hal yang positif. Masalah yang bisa dikerjakan bersama, mengapa harus sendiri-sendiri? Semoga sinergi RBP dan Baznas menjadi kenyataan, sehingga makin banyak kaum duafa yang bisa dibahagiakan kehidupannya.

Sekilas Tentang Baznas Banjar

Baznas Kabupaten Banjar merupakan lembaga pemerintah non structural yang bersifat mandiri dibentuk berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Keberadaan Baznas Kabupaten Banjar turut mendukung program pemerintah menuju Kabupaten yang sejahtera dan barokah dengan mengemban prinsip dasar pengelolaan ZIS (zakat, infak, sedekah) yaitu kepercayaan, amanah dan transparan.

Hingga Desember 2017, Baznas Banjar telah menghimpun dana sebesar Rp 500juta dan hampir 90% sudah tersalurkan. Program pendistribusian dan pendayagunaan yang telah dilaksanakan antara lain Banjar Peduli berupa pembagian sembako untuk duafa dan lansia di 15 kecamatan. Selain itu juga melaksanakan bedah rumah sebanyak 2 unit di Pekauman Dalam dan Sungai Tabuk.

“Untuk saat ini kami mendahulukan kebutuhan konsumtif dalam hal penyaluran,” terang Wakil Ketua I Gusti Rachmadi Syafri. 

Penulis :Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Konsisten Berbuat Demi Masyarakat Sehat

Berbincang dengan Relawan Posko Kesehatan SMPC

Posko kesehatan SMPC yang terlaksana atas kerjasama RBP dengan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin dan Akper Intan Martapura dari tahun ke tahun selalu ramai diminati masyarakat. Layanan pemeriksaan darah sederhana itu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang sedang berolahraga pagi, baik di Lapangan Murjani Banjarbaru maupun Alun-alun Ratu Zaleha Martapura. Hal ini tentu tak lepas dari peran serta para relawan medis yang terlibat. Dalam kesempatan ini RBP berhasil menemui dua orang relawan dari Poltekkes Kemenkes Banjarmasin dan mengajaknya berbincang-bincang.

Nurmalasari nama lengkapnya. Namun sehari-hari biasa disapa Mala. Mahasiswa DIV semester 5 Jurusan Analis itu mengisahkan pengalamannya saat menjadi relawan medis. “Kegiatan ini semakin menambah pengalaman saya dalam berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat dan hal ini tentu sangat berguna saat bekerja nanti,” tuturnya. Ia mengaku sering keasyikan mendengarkan keluhan-keluhan warga. “Senang sekali bisa memberikan pengetahuan berdasarkan diagnosis yang dianjurkan,” imbuhnya.

Namun ternyata tak hanya pengalaman suka yang Mala alami. Saat baru mulai menjadi relawan, tak jarang Ia merasa sangat gugup melakukan pemeriksaan. “Takut gagal atau menyakiti pasien tersebut,” akunya sembari tersenyum malu. Syukurlah hal itu bisa teratasi karena Mala rajin berlatih di kampus.

Pengalaman tersebut ternyata tak hanya dialami oleh Mala. Feby, rekannya di Jurusan Analis juga mengalami hal serupa. Saat itu Feby masih berada di tingkat 1 semester 2. Bersama dua temannya, Feby merasa takut jika terjadi kesalahan saat memeriksa warga. “Pengalaman pertama memang penuh kekhawatiran,” ungkapnya. Namun, karena melihat antusias warga yang berbondong-bondong ingin periksa kesehatan, terpaculah semangat Feby dan dua temannya untuk mengambil langkah berani melakukan pemeriksaan.

Mala dan Feby merasa program Posko Kesehatan SMPC sangat bermanfaat, tidak hanya bagi warga penerima namun juga bagi relawan medis. Hal tersebut membuat keduanya sepakat bahwa program tersebut harus terus ada. “Tentu harapannya ke depan ada inovasi-inovasi baru, seperti mengadakan penyuluhan tentang promosi kesehatan, supaya masyarakat banyak mengetahui tentang kesehatan dan juga memahami penyakit yang bisa menyerang kapan saja,” ujar Mala. Sedangkan Febi mengharapkan lokasi pelayanan kesehatan ini lebih diperluas lagi, tidak hanya di daerah Martapura dan Banjarbaru saja.

Sinergi itu membahagiakan. Hal inilah yang terlihat dari program Posko Kesehatan SMPC yang hadir setiap minggu. Berkat konsistensi para relawan untuk hadir setiap minggu, tercatat lebih dari 1000 orang per tahun telah merasakan manfaatnya. “Adanya posko kesehatan SMPC mempermudah akses untuk memeriksa kesehatan karena letaknya yang strategis yaitu di pusat kota. Semoga kedepannya kegiatan ini tidak berhenti sampai disini dan akan terus berlanjut,” ungkap Widiyanti Ningsih, perempuan 48 tahun yang telah rutin menjadi pasien program tersebut.

Luar biasa peran relawan. Program sederhana ternyata bisa berimbas besar pada perubahan dengan konsistensi. Bravo volunteers! Terus semangat berbagi kebahagiaan dan kepedulian!. 

Penulis : Elma Apriliyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

RBP Bersama Komunitas Gelar Pentas Amal Peduli Bencana

Memasuki puncak musim penghujan, berbagai wilayah mulai dilanda bencana. Banjir, longsor, putting beliung, dan cuaca buruk menerjang Pulau Jawa dan Bali. Senin (27/11), Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG (Tropical Center Warning Center/ TCWC) tepat pada hari ini pukul 19.00 WIB berhasil mendeteksi siklon tropis yang tumbuh sangat dekat dengan pesisir selatan Pulau Jawa dengan nama “CEMPAKA”.

Laporan dari Aksi Cepat Tanggap menyebutkan banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi dengan 645 kejadian, disusul oleh Puting Beliung dan Tanah Longsor. Sementara Tanah Longsor merupakan bencana yang paling banyak memakan korban jiwa. Di Bali, ribuan orang mengungsi. Di Sidoarjo sebanyak 618 rumah warga luluh lantak akibat terjangan angin, sedangkan 35 orang Luka-luka. Di Pacitan empat kecamatan terendam dan 1200 warga mengungsi akibat banjir. Lain lagi di Tebing Tinggi Sumatera Utara, banjir berdampak pada 33ribu jiwa dan 21ribu jiwa mengungsi.

Banyaknya korban yang terdampak menumbuhkan empati dari penjuru nusantara, termasuk dari warga Banua khususnya di Banjarbaru. Sabtu (16/12) malam tadi Radar Banjar Peduli (RBP) bersama Dewan Kesenian Daerah Banjarbaru, Purna Prakarya Muda, Pawadahan Nang Galuh, dan Sanggar Kamilau Intan menggelar pentas seni untuk amal. Acara tersebut dihadiri oleh Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan bersama asisten 2 Dra Mahrianur, Pembina RBP Ogi Fajar Nuzuli, dan anggota Komisi 4 DPRD Kabupaten Banjar H Ismail Hasan.

“Kami ingin menggalang kepedulian untuk korban bencana dengan tetap memupuk kreatifitas di kalangan pemuda,” ujar Roni Arifin selaku ketua pelaksana. Ia menyebutkan bahwa kegiatan pentas amal akan rutin mereka gelar setiap tiga bulan. “Kami ingin mengangkat seni dan budaya di Banjarbaru sehingga mudah-mudahan bisa mengangkat nama kota ini lebih baik lagi,” pungkasnya. Tak lupa Roni berterima kasih kepada RBP atas dukungan yang telah diberikan.

Wakil Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan dalam sambutannya menyampaikan rasa bahagia atas terselenggaranya acara pentas amal tersebut. “Acara ini sangat bermanfaat karena dalam agama kita diajarkan bahwa jika kita berbuat baik kepada orang lain maka sebenarnya kita berbuat baik kepada diri kita sendiri,” ujarnya. H Darmawan Jaya Setiawan berharap akan terus tumbuh empati yang besar di kalangan muda. “Semoga kita semua mendapat berkah dari Allah swt,” imbuhnya.

Pentas amal tersebut dimeriahkan oleh tari-tarian dan musik panting dari Sanggar Kamilau Intan, dance modern dari Pawadahan Nanang Galuh, dan permainan piano. Para relawan gabungan berkeliling mengumpulkan donasi selama acara berlangsung.

Pembina RBP Ogi Fajar Nuzuli mengapresiasi kegiatan tersebut. “ Terima kasih atas sinergi dan kerjasama semua pihak. Mudah-mudahan mendapat balasan terbaik dari Allah swt,” ucapnya.

Selama 2,5 jam berlangsung, panitia berhasil mengumpulkan dana peduli bencana sebesar Rp 1.236.500. Dana tersebut langsung diserahkan kepada RBP untuk dikelola dalam penanganan kebencanaan di Indonesia.
RBP juga membuka dompet peduli bencana melalui rekening BSM 0262042000 atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli. Silahkan konfirmasi via sms ke 08132272004. 

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Saatnya Relawan Jadi Problem Solver

Radar Banjar Peduli (RBP) kembali mengadakan Orientasi Relawan pada Minggu (10/12) tadi. Sebanyak 35 relawan hadir dalam kegiatan yang bertempat di Aula Pustarda Kota Banjarbaru itu. Selain relawan Sahabat Kalsel, juga hadir utusan dari Komunitas Relawan Inklusi, Kopma ULM, KAMMI Komisariat Idaman, dan beberapa perorangan yang memang tertarik pada dunia kerelawanan. Dalam orientasi tersebut para relawan belajar bersama memahami bagaimana menjadi problem solver bagi bangsa ini.

Narasumber kegiatan, Miftahani Zakiati SSi MEng, melontarkan satu pertanyaan pada para relawan di awal pemaparan, mengapa saya disini? Beberapa relawan bergantian menyampaikan pendapatnya. Ada yang ingin mendalami ilmu kerelawanan. Ada pula yang termotivasi dengan semangat bahwa berbagi itu menyenangkan. Ada juga yang ingin mengenal masalah lebih dekat.

“Sebenarnya aksi kerelawanan tak harus muncul atas dasar masalah, namun akan lebih baik jika berasal dari sebuah isu (ide) positif,” ucap perempuan muda yang biasa disapa Kia itu.

Kia menyebutkan bahwa relawan dan Community Development adalah organisasi yang menyediakan social service untuk ikut memastikan tujuan pembangunan manusia dalam setiap level bisa tercapai. “Peran ini bisa dimulai dari menelaah secara seksama tujuan pembangunan di berbagai level (global think), lalu dilanjutkan dengan membaca realitas di lingkungan kita (local act),” ungkapnya.

Kia juga memaparkan berbagai permasalahan yang kerap menjadi momok dalam kehidupan. Mulai dari populasi manusia itu sendiri, kebutuhan ruang, kebencanaan, hingga kesenjangan sosial. “Soal bencana saja, mari kita lihat kembali apakah bencana itu murni kejadian alami atau jangan-jangan akibat perbuatan manusia,” tekannya.

Dalam melihat fenomena sekitar, Kia memberikan saran kepada para relawan untuk terus-menerus membaca informasi. “Pahami perubahan penting apa yang terjadi dan cari tahu cerita di baliknya,” imbuhnya.

Para relawan terlihat antusias mengikuti kegiatan. Bahkan salah satu peserta dari Relawan Inklusi, Sulaiman, mengaku bahwa kegiatan itu membuka wawasannya lebih luas lagi. “Ternyata aspek kerelawanan ini sangat penting dalam pembangunan,” begitu ujarnya.

“Kegiatan ini adalah komitmen RBP dalam pembentukan karakter kerelawanan, kami ingin semangat relawan terus bergelora di kalangan pemuda. Karena mereka adalah generasi penerus bangsa,” ujar Retno Sulisetiyani selaku penanggungjawab kegiatan.

RBP melihat proses pembangunan tak bisa dilepaskan dari masyarakat itu sendiri, sehingga perlu upaya dalam menanamkan jiwa kerelawanan dari lingkungan terdekat. “Tentu kami tak bisa kerja sendiri, perlu dukungan masyarakat luas agar upaya-upaya ini bisa terus terlaksana,” pungkas Retno. 

Penulis : Devi Putri Listyasari

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Bergerak Bantu Palestina

Benda ajaib bernama stetoskop itu ditempelkan di dada si adik kecil. Denyut yang tak normal seketika bisa diketahui oleh Paman Dokter. Hari itu, di Khan Yunis, Gaza – Palestina, Paman Dokter bertugas sebagai relawan medis dari Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Stetoskop diangkat, Paman Dokter meminta adik kecil membuka lebar mulutnya. Tampak tenggorokan si adik merah menyala. Tanda kalau si adik sedang radang. Si adik kecil berambut keriting itu pun mengeluh ke Paman Dokter, kalau ia memang sedang demam.

Hari itu, Selasa (19/12) memang menjadi hari spesial bagi ribuan warga Gaza yang bermukim di wilayah marjinal di Kota Khan Yunis, sebelah selatan Gaza. Ada kado dari Indonesia, ada kiriman hadiah dari masyarakat Indonesia. Seharian itu, sebuah klinik bernama Alhuda Medical Centre di Kota Khan Yunis diubah oleh Aksi Cepat Tanggap menjadi sebuah klinik gratis!

“Kami menyiapkan seluruh pelayanan medis gratis. Ada amanah dari masyarakat Indonesia untuk menjalankan klinik ini gratis seharian penuh. Alhamdulillah Selasa (19/12) itu tidak kurang 900 pasien datang ke klinik ini,” kata Abu Hasan (bukan nama sebenarnya, -red) salah satu relawan dokter ACT di Klinik Alhuda.

selengkapnya:

https://act.id/news/detail/kado-dari-indonesia-ada-hari-medis-gratis-di-khan-yunis-gaza

Sahabat Peduli,

Semoga sahabat peduli selalu dalam keberkahan dalam menjalani aktivitas, juga selalu dalam keadaan penuh syukur atas nikmat kehidupan dan kemerdekaan. Mengingat saudara kita di Palestina yang kini tengah memperjuangkan hak mereka atas tanah air yang merdeka.

Situasi terkini Palestina : pihak Israel sempat menutup dan membatasi akses dua penyeberangan perbatasan Gaza. Membuat rakyat Palestina kian kesulitan dan terancam kelaparan, dikarenakan jalur tersebut merupakan akses masuknya bahan pangan dan kebutuhan logistik lainnya.

Sahabat Peduli,

RBP bersama ACT terus menyalurkan amanah bangsa Indonesia. Rasa syukur, haru juga apresiasi dari rakyat Palestina kepada rakyat Indonesia yang senantiasa membersamai perjuangan mereka. Semoga nama harum Bangsa ini, senantiasa tersemat dalam doa-doa tulus mereka.

*Dapur Umum*

Dapur umum ACT terus aktif dan menyalurkan amanah dari rakyat Indonesia. Kali ini, Dapur Umum menyapa sekolah-sekolah di Selatan Gaza pada Minggu (17/12). _”Wahid, ithnan, thalatha, syukron ACT, syukron Indonesia!”_. Teriakan bahagia itu terucap nyaring sekali. Dari sebuah sekolah di sudut Kota Khanyounis, Gaza, Palestina. Paket makanan diterima oleh 1900 murid dan 100 guru. Program yang sama juga berjalan di hari yang sama di Jerussalem, 1750 porsi makan siang dibagikan ke 4 sekolah. Memuliakan anak-anak Palestina yakni Dar Alaytem school, Islamic Secondary School, Alhuda Alkemary and Alhuda kindergarten.

*Water Tank*

Bantuan yang sudah berjalan lebih dari setahun ini sangat membantu para keluarga di Palestina dalam mengakses air bersih. Alirkan bahagia di sekolah-sekolah, masjid-masjid juga rumah-rumah warga. Water Tank sangat ditunggu-tunggu kedatangannya, seperti di salah 1 pemukiman yang terbilang kumuh di sebelah Timur Khanyounis, Gaza (17/12),  yang merupakan lokasi paling miskin di Gaza. Anak-anak kecil berlarian menyambut kedatangan Water Tank.

Bersama, kita bantu perjuangan saudara-saudara di Palestina dengan doa & aksi nyata. InsyaAllah perjuangan kita menjadi saksi sejarah & sebagai pemberat amal kebaikan di yaumil akhir.

Bantuan terbaik sahabat untuk Palestina dapat disalurkan melalui rekening an. Radar Banjar Peduli

Bank Mandiri Syariah 0262042000

#Let’sActIndonesia

#Let’sSaveAl-Aqsa

Informasi lebih lanjut :

SMS Center : 081333272004

Instagram : @radarbanjarpeduli

FB : radar banjar peduli

Byadmin

Dalam Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Catatan Pendampingan Lilik Suryati, Penderita Kanker Kelenjar Tiroid
Oleh Devi Putri Listyasari (Staf Pendayagunaan RBP)

Ugh. Rasanya pinggang ini ingin sekali diluruskan. Gelisah memposisikan badan ketika mata sangat ingin terpejam. Ya Allah baru tiga jam perjalanan. Tak sabar menanti pagi. Begitu saya bergumam pada diri sendiri ketika dalam sebuah perjalanan dari Surabaya ke Bandung, Sabtu (25/11) lalu. Tepatnya saya berada di sebuah gerbong kereta api. Dari petugas Stasiun Gubeng yang saya dengar perjalanan akan memakan waktu sekitar 14 jam. Lebih dari setengah hari!.
Saya tak sendiri. Lilik Suryati dan anaknya tepat di samping Saya. Kami duduk berjejer. Sekilas Saya lihat mereka juga tak bisa tidur nyenyak.

Perjalanan ini adalah ikhtiar kami dalam membantu Lilik untuk sembuh dari sakit kankernya. Sejak 2016 yang lalu, RBP memang berkomitmen melakukan pendampingan untuk Lilik, penderita kanker kelenjar tiroid asal Cindai Alus Kabupaten Banjar. Setelah menjalani operasi di RS Ulin Banjarmasin, rupanya Lilik harus melanjutkan pengobatan di Pulau Jawa. Kami memutuskan ke Surabaya pada Selasa (31/10) lalu, namun setelah melewati diagnosa di RS Dokter Soetomo, perjuangan kami diuji. Pengobatan lanjutan hanya bisa dilakukan di Bandung.

“Senang kok bisa berobat sampai ke sini. Hanya saja tidak tenang, kepikiran sama adik-adik Rita yang ditinggalkan,” begitu Lilik berkata meskipun perjalanan kami ternyata di luar perkiraan.

Dan di sinilah kami. Melewati perjalanan panjang demi sebuah nafas kehidupan.

Saya terbangun dari lelap ketika matahari mulai nampak. Terbentang hamparan sawah yang menghijau serta segerombolan itik mencari makan. Indah sekali. Di kelilingi pegunungan dan hutan yang amat rindang. Allah, kuasa-Mu tiada batas. Saya lihat Lilik dan anaknya juga terkesima. Namun selepas itu kami tertegun. Tak mampu berkutik. Hanya memejamkan mata dan berdoa. Semoga Allah masih memberikan kesempatan hidup. Doa tak henti saya panjatkan dalam hati.

Jalur rel kereta yang kami tumpangi sangat curam. Masinis tiba tiba memperlambat kecepatan. Ada tanah longsor yang menutupi jalur kereta. Jalur menikung dan sangat tinggi, khawatir gerbong kereta akan terlepas dari jalurnya. Allahu akbar. Beberapa jalur sangat berbahaya kami lalui. Kami hanya bisa pasrah dan berdoa.

Ternyata jalur yang kami lewati itu banyak sekali longsoran tanah akibat hujan terus menerus. Sungguh, Saya merasa kerdil di hadapan kuasa Ilahi. Atas segala pertolonganNya jua lah kami bisa selamat sampai tujuan. Saya menyesal telah mengeluh, tak bisa tidur nyenyak.

Sekitar pukul 10 pagi, kami sampai di Stasiun Bandung. Letih tentu menyapa raga kami. Namun, demi melihat kebaikan yang menghampiri tak pantas rasanya jika ingin berkeluh kesah. Para relawan MRI ACT sudah menanti kedatangan kami. Bahkan, mereka pun sudah mencarikan kos-kosan yang bisa kami tempati.

Ucapan syukur berkali-kali saya panjatkan atas segala kebaikan.

Lilik dan anaknya pun sepertinya begitu. “Saya harus semangat karena ingin sembuh total,” ungkapnya kepada Saya. Tak lupa Lilik menyampaikan rasa terima kasih kepada para donatur yang telah membantunya. “Semoga di lancarkan apapun yg menjadi tujuan, dimurahkan rejekinya,” imbuhnya. Aamiin. Sahut Saya dalam hati. (en)

Byadmin

Butuh Dana untuk Operasi

Kisah Muhammad Ilham, Balita 21 Bulan Penderita Jantung Bocor

Wajah Muhammad Ilham yang rupawan rupanya tak seindah nasibnya. Bagaimana tidak, di usia yang masih kecil itu sudah mengalami kelainan jantung, tepatnya jantung bocor. Ayah dan ibunya tak tinggal bersama lagi. Ayahnya tinggal di Kelurahan Bangkal bersama kedua kakaknya. Sedangkan Ia tinggal bersama ibunya di Kelurahan Sungai Tiung. Ibunya tidak bekerja sehingga untuk kebutuhan sehari-hari tergolong tidak mampu.

Halidah (32), sang ibu, mengatakan bahwa mereka sekarang hanya menumpang di rumah keluarga. Meskipun begitu, Halidah bersyukur Ilham tak gampang rewel saat menjalani pemeriksaan. “Alhamdulillah Ilham ini anaknya kuat, saya pun harus kuat dan sabar menjalaninya,” akunya.

Diungkap oleh Halidah bahwa Ilham mengalami kelainan jantung sejak berumur 6 bulan. Lalu pada umur 11 bulan, keadaannya mulai membaik. Namun selama masa pemulihan cobaan lain datang menghampiri. “Penyakit-penyakit lain satu persatu menggerogoti di dalam tubuhnya. Mulai dari tifus, ambien, hingga radang paru-paru (TBC),” ujar Halidah.
Perjuangan Halidah tak sampai di situ. Ilham juga mengalami kesulitan menelan makanan. “Dia sering muntah kalau disuapi, jadi saya tidak berani untuk menyuapi makanan selain susu,” kisahnya kelu. Beruntung, lanjut Halidah, Ilham tidak rewel saat diminumi obat dan selalu tepat waktu dalam meminumnya sehingga perlahan keadaannya membaik kembali.

Yayuk selaku petugas gizi di Puskesmas Cempaka yang menangani Ilham menerangkan bahwa kondisi Ilham memang naik turun. “Kesulitan menelan makanan menyebabkan Ilham hanya mendapatkan asupan gizi dari selang NGT, sementara semakin besar usia anak harusnya bisa mendapatkan gizi seimbang dari berbagai makanan,” tutur Yayuk mengingat pertambahan berat badan Ilham cukup signifikan. Memang awal ditemukan, Ilham hanya memiliki berat 5,2kg dan sekarang sudah mencapai 8,8kg.

“Ilham masih perlu pemeriksaan rutin agar ia semakin pulih. Pengobatan pun juga sangat diperlukan dalam menunjang kesehatannya,” ujar Dokter Yanuar Nusca Permana spesialis anak yang selama ini menangani Ilham. “Upaya pengobatan yang bisa dilakukan saat ini adalah mencegah infeksi saluran nafas yang berulang, gangguan pertumbuhan dengan pemberian nutrisi yang adekuat, vaksinasi, dan edukasi kepada orang tuanya mengenai penyakit jantung bawaan,” lanjutnya. Melihat kondisi jantungnya, Dokter Yanuar menyatakan jika tidak terjadi penutupan spontan maka harus dilakukan upaya tindakan operasi bedah.

Namun, kendala dana menjadi beban utama bagi Halidah. Tentu tak sedikit biaya yang diperlukan untuk melakukan operasi. “Saya dan keluarganya selalu berdoa kepada Allah agar penyakit Ilham segera diangkat. Ingin sekali melihatnya bermain seperti anak-anak lain yang normal,” ungkapnya penuh harap.

Masih ada harapan untuk Ilham. Harapan itu ada pada uluran tangan para dermawan. Mari bersama-sama bantu Ilham sembuh dari sakitnya. Donasi Anda bisa disalurkan melalui rekening Bank Syariah Mandiri 0260018953 atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli. Silahkan lakukan konfirmasi via sms ke 081333272004. Atau Anda bisa langsung datang ke kantor Radar Banjar Peduli di Jalan A Yani Km 26,9 Landasan Ulin Kota Banjarbaru. (el/en)

Byadmin

Peduli Karena Naluri

Relawan Dibalik Program Homecare Duafa RBP


Siti Ramlah. Perempuan kurus yang selalu bisa menghadirkan tawa itu sudah menjalankan tugasnya selama sembilan bulan. Banyak kisah dan kesan yang Ia rasakan selama menjadi relawan. Memperingati hari relawan internasional, RBP berkesempatan mewawancarainya dan menggali pengalamannya selama mengemban tugas tersebut.

Semenjak duduk di bangku sekolah, Siti Ramlah sudah mencintai dunia kerelawanan. Namun, kecintaannya ini tidak tersalurkan lantaran belum menemukan “wadah” yang tepat. Memasuki bangku kuliah, akhirnya perempuan 29 tahun itu bergabung dalam organisasi KSR-PMI (Korps Sukarela-Palang Merah Indonesia) di kampusnya. Saat itulah menjadi jejak awalnya dalam dunia kerelawanan.

Tahun 2016 Siti Ramlah bertemu dengan komunitas relawan Sahabat Kalsel. Perempuan yang akrab disapa Ramlah itu aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kerelawanan Sahabat Kalsel. Hingga suatu hari Ia diajak mendampingi program homecare duafa RBP.

“Awalnya saya tidak paham apa itu homecare, namun setelah terjun langsung ke dalam setiap kegiatan, saya jadi tau dan tertarik untuk terlibat secara terus menerus,” tuturnya.

Ramlah mengaku sangat bahagia karena dapat membantu orang lain sekaligus hasrat kerelawanannya juga dapat tersalurkan. “Saat ini saya menjadi pendamping semua urusan pasien homecare di wilayah Cempaka. Ada lima pasien, salah satunya adalah Hanil yang paling sering saya kunjungi,” sambung Ramlah.

Hanil adalah lelaki 45 tahun yang mengalami patah tulang belakang akibat kecelakaan saat bekerja. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2016 yang lampau. Hanil tak bisa lagi bekerja sehingga untuk penghidupan sehari-hari bersama sang istri hanya mengharapkan uluran tangan anak dan sanak keluarga.

“Saya bersama relawan medis setiap dua minggu sekali ke rumah Hanil untuk mengganti kateter (selang untuk buang air kecil),” ujar Ramlah.

Dalam melakukan pendampingan tak jarang Ramlah harus siap siaga sewaktu-waktu jika ada kondisi darurat. Pernah satu waktu Ramlah harus mencari ambulan malam-malam karena mendadak kateter Hanil mampet. Kondisi Hanil turun drastis. Meski sempat kesulitan mencari sopir, akhirnya Hanil bisa dibawa ke RS Idaman Banjarbaru. “Saya ingat waktu itu hingga jam satu malam kami berkutat mengurus Hanil di rumah sakit, Saya terbantu dengan relawan-relawan Sahabat Kalsel yang juga turun tangan,” kenangnya.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani mengaku salut dengan dedikasi Ramlah. “Anaknya sangat supel dan entah punya kekuatan apa banyak pasien yang langsung bisa tertawa kalau dekat dia,” ujarnya. Padahal, menurut Retno, Ramlah sudah sejak kecil menjadi yatim piatu. Saat ini Ramlah sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya di STAI Darusalam. Semua itu dilakoninya ditengah-tengah tugasnya sebagai kepala sekolah TK Beruntung Jaya di Kecamatan Cempaka.

“Meski hidup dalam keterbatasan, namun semangat berbaginya sangat besar. Semoga dikuatkan dalam setiap langkahnya,” pungkas Retno.

“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan dia tetap akan terhormat sepanjang jalan, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuil pun. Namun umat manusia akan menghormati jasa-jasanya.” (Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan)

Siti Ramlah mungkin hanya segelintir gambaran jiwa relawan yang ada di sekitar kita. Secuil cerita dari besarnya empati yang masih ada. Ramlah hadir membawa kebahagiaan atas sebuah asa peduli yang hadir karena naluri. (nad/en)