Yearly Archive2018

Byadmin

Dukung Program Pemerintah, Bina Kesehatan Desa Wisata

Mengikuti Pengabdian Masyarakat Mitra Peduli; Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Poltekkes Kemenkes Banjarmasin kembali menunjukkan peran sertanya dalam peningkatan pelayanan kesehatan. Tidak hanya mendidik calon tenaga kesehatan berkompeten saja, melaksanakan pangabdian masyarakat juga telah menjadi program yang setiap tahun dilaksanakan. Pengabdian masyarakat tahun ini dilaksanakan di Desa Biih, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Desa Biih sendiri terkenal dengan wisata duriannya. Selain untuk mengangkat wisata desa tersebut, kegiatan ini dimaksudkan untuk membina warga setempat untuk lebih sadar akan kesehatan. Baik itu kesehatan dari diri sendiri maupun lingkungan tempat mereka tinggal.

Ketua Pelaksana kegiatan Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd menyebutkan bahwa masalah yang mereka temukan di Desa Biih berhubungan dengan kesehatan lingkungan. “Masih kurangnya gorong-gorong sebagai saluran pembuangan limbah menjadi masalah di desa ini,” terangnya. Selain itu, imbuhnya, kesadaran warga yang masih kurang mengenai pentingnya kesehatan lingkungan menyebabkan beberapa faktor gangguan kesehatan lainnya.

“Akhirnya pendekatan yang kami lakukan adalah pendekatan keluarga. Jadi, kami membina mulai dari keluarga terlebih dahulu tentang masalah kesehatannya,” jelas staff pengajar Poltekkes Kemenkes Banjarmasin jurusan Kesehatan Gigi itu.

Waljuni, begitu sapaannya, lebih lanjut menerangkan bahwa masalah-masalah yang sudah diketahui akan menjadi prioritas untuk ditangani lebih lanjut. “Harapan kami bisa membangun desa dengan standar kesehatan yang baik dan benar, tentu dengan enam indicator sesuai jurusan yang ada di Poltekkes Banjarmasin,” ujarnya.

Waljuni menilai sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Desa Bi’ih sendiri sudah cukup baik. “Pelayanan masih terbatas untuk golongan lansia saja, sedangkan untuk bayi dan balita masih kurang,” ungkapnya.

Menurut Abdul Malik selaku Kepala Desa Biih, kegiatan pengabdian yang dilakukan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin bermanfaat sekali. “Kami berharap program terus berlanjut sehingga masalah kesehatan dapat dikurangi sekaligus dicegah untuk ke depannya,” ucapnya.

Pengabdian masyarakat yang bertajuk Praktek IPE IPC itu dilaksanakan sejak Sabtu (10/2) hingga Minggu (11/2) tadi. Para mahasiswa menginap di desa dan membentuk kelompok yang didalamnya terdapat enam jurusan yaitu keperawatan, gizi, analis, lingkungan, gigi, dan kebidanan. Pembinaan kesehatan komprehensif. Demikian kira-kira tujuan dari sebaran kelompok-kelompok tersebut.

Minggunya, dilaksanakan layanan kesehatan gratis massal dari enam jurusan. Mulai dari konsutasi gizi, pemeriksaan gigi, cek gula darah, konsultasi kesehatan lingkungan serta pemeriksaan tekanan darah. Kegiatan yang dilaksanakan tepat di area wisata durian terlihat begitu ramai oleh warga yang berbondong bondong ingin memeriksakan kesehatannya. Mulai dari kakek nenek hingga anak-anak begitu antusias untuk mendatangi stand-stand layanan yang telah disediakan.

“Terima kasih atas kepedulian Poltekkes Banjarmasin, semoga warga kami makin sadar akan pentingnya kesehatan,” ucap Abdul Malik mewakili para warga Desa Biih.

Penulis : Wahyu Aji Saputra

Editor: Retno Sulisetiyani

Foto by Wahyu AS

Byadmin

Banua For Palestina; Krisis Listrik, Bencana Kemanusiaan yang Melanda Gaza

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) sempat memperingatkan, bencana kemanusiaan mengancam Gaza dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (6/2), setelah dampak krisis listrik kian meluas di Jalur Gaza. Namun demikian, bagi para pasien, dokter, dan staf medis di puluhan fasilitas kesehatan (rumah sakit dan klinik) di Gaza, “bencana kemanusiaan” itu benar-benar sedang terjadi.

Sejumlah dokter mengutarakan kekhawatiran mereka akan kondisi yang terus memburuk di rumah sakit tempat mereka bekerja. Kekhawatiran tersebut terekam dalam sebuah video yang dikirimkan oleh mitra Aksi Cepat Tanggap, Rabu (7/2).

Hingga pertengahan Februari ini, pasokan listrik yang mengaliri puluhan pusat layanan kesehatan di Gaza kian menurun. Hal ini menyulitkan tim dokter di rumah sakit besar untuk melakukan kegiatan medis vital seperti operasi terhadap pasien.

“Sebagian besar pasien tidak bisa kami operasi karena minimnya suplai listrik untuk menghidupkan alat-alat operasi. Karena penanganan yang lambat ini, kami kehilangan banyak jiwa. Gaza benar-benar sekarat,” ungkap salah satu dokter.

Salah satu dampak ini amat dirasakan pasien yang mengalami gagal ginjal. Organisasi Hak Asasi Manusia di Palestina, Al-Haq, menyebutkan, krisis listrik yang terus memburuk mengancam 400 pasien gagal ginjal di Jalur Gaza.

“Sejumlah rumah sakit di Gaza saat ini tidak mampu menjalankan 200 operasi per harinya. Hal ini karena rusaknya kualitas darah yang disimpan dalam ruangan penyimpanan darah hasil donor. Ini akibat minimnya pasokan listrik di Gaza,” terang Al-Haq dalam rilisnya, Senin (5/2).

Sementara itu, di RS Anak al-Nasr, nasib puluhan pasien anak di unit perawatan intensif rumah sakit tersebut juga kian krisis. Kepala Unit Perawatan Intensif dr. Raed Mahdi mengatakan, jumlah pasien anak di sana terus meningkat seiring banyaknya pemindahan pasien dari rumah sakit atau klinik yang telah kehabisan listrik. Kondisi ini berbanding terbalik dengan terbatasnya jumlah staf medis dan suplai obat-obatan di rumah sakit tersebut.

Rakyat Gaza bergerak, menyuarakan kekhawatiran mereka atas krisis listrik yang semakin memburuk. Dokter-dokter bersatu menyerukan “Selamatkan Gaza”. Awal pekan kedua Februari, seruan serupa juga datang dari puluhan pasien disabilitas di Gaza. Di depan gerbang RS Beit Hanoun yang kini telah tutup, puluhan penyandang disabilitas menyuarakan keresahannya tentang sulitnya mendapatkan perawatan medis akibat minimnya listrik.

“Ini seruan terakhir, Gaza benar-benar sekarat. Kami mengajak insan dunia, siapa saja, untuk membantu pasien-pasien di sini dari ancaman kematian,” ungkap seorang dokter di rumah sakit yang ada di Gaza.

Beberapa hari lalu, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan ancaman pemberhentian operasional melanda 19 fasilitas medis di Gaza. Generator darurat di 16 klinik dan 3 rumah sakit tersebut telah kehabisan bahan bakar seiring ketatnya blokade Israel di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan dalam pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa (6/2).

Sebelumnya, tujuh rumah sakit di Gaza tidak lagi mendapatkan suplai listrik pada akhir Januari lalu. Peralatan medis yang hanya bisa berfungsi dengan daya listrik itu pun mati total. Tak banyak yang dapat dilakukan oleh pengelola rumah sakit selain memindahkan pasiennya ke rumah sakit lain yang masih beroperasi. Baik dokter dan staf medis juga turut diberhentikan masa kerjanya. Akibatnya, ketujuh rumah sakit tersebut resmi tutup awal Februari silam. (act)

 

Byadmin

Puluhan Guru Serbu Kampung Dongeng Intan

Sabtu (17/2) kemarin, halaman markas Kampung Dongeng Intan Kalsel di Jl Kampung Baru Martapura dipadati oleh puluhan guru-guru paud. Sebanyak 65 orang guru yang tergabung dalam Gugus Paud Kemuning Kecamatan Banjarmasin Timur tampak riuh berkumpul.

Enik Mintarsih selaku tuan rumah tampak kaget sekaligus senang. “Nggak nyangka serame ini. Senang sekali dikunjungi,” ujarnya.

Kedatangan Gugus Paud Kemuning bukan tanpa alasan. Mereka berkunjung untuk menambah wawasan tentang dongeng dan membuat alat peraga dongeng yg mudah dan menarik agar anak anak menjadi lebih tertarik.

Enik Mintarsih yang lebih dikenal dengan panggilan Bunda Enik memberikan motivasi kepada para guru tersebut agar lebih kreatif agar pembelajaran berjalan maksimal.

“Saya mengajari mereka membuat alat peraga dongeng yang menyenangkan, lagu-lagu penambah semangat, senam anak, dan sulap,” ucap Bunda Enik.

Menjadikan Kampung Dongeng Intan Kalsel sebagai tempat belajar menunjukan bahwa gerakan mendongeng sudah diterima oleh banyak kalangan di Kalsel. Padahal, menurut Bunda Enik, empat tahun lalu saat merintis komunitas Ia mengalami hambatan besar dari lingkungan.

“Alhamdulillah kini dongeng kembali jadi aktivitas yang diminati. Semoga para orang tua mau membiasakan mendongeng di rumah untuk anak-anaknya,” pungkas Enik.

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor: Retno Sulisetiyani

Foto : koleksi Kampung Dongeng Intan Kalsel

Byadmin

Mitra Peduli – Paud Mutiara, 12 Tahun Berkiprah Mendidik Generasi

Kepala Sekolah Paud Mutiara Nurhayati SPd AUD menilai bahwa perilaku tak lazim yang ditunjukkan oleh anak-anak merupakan akibat dari tidak adanya penanaman pembiasaan positif sejak usia dini. Seperti yang baru-baru ini ramai diberitakan, yaitu seorang murid yang tega memukul gurunya hingga meninggal dunia. Atau seorang murid yang berani memaki gurunya, bahkan menantang untuk berduel. “Sungguh miris rasanya. Namun semua itu bukan kesalahan si anak tentunya. Keluarga, masyarakat dan lingkungan punya andil besar dalam membangun karakter anak,”ujar Nurhayati yang ditemui di tengah-tengah acara milad Paud Mutiara.

Sabtu (10/2) kemarin Paud Mutiara memang sedang merayakan miladnya yang ke 12. Nurhayati menyampaikan bahwa dalam momentum 12 tahun Paud Mutiara ini ingin kembali mengingatkan betapa pentingnya pembiasaan positif sejak usia dini. “Peran pengasuhan adalah tanggungjawab keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Maka marilah kita bergandengan tangan menyelaraskan pola asuh untuk anak-anak kita,” ujarnya.

Menurut Nurhayati yang juga merupakan Ketua Himpaudi Kota Banjarbaru itu, terjadi salah kaprah pengasuhan anak-anak usia dini. “Banyak yang berpikiran bahwa budaya pola asuh zaman dulu masih relevan digunakan zaman sekarang. Namun coba kita lihat, bangsa ini masih membutuhkan KPK untuk memberantas korupsi. Itu satu contoh saja,” ucap Ibu dari dua anak itu yang kerap disapa Bunda Nur.

Bunda Nur menekankan bahwa jika bisa kita tumbuhkan karakter positif sejak dini, maka Ia yakin bangsa ini akan menjadi Negara beradab yang maju. “Kalau bisa dicegah kan lebih baik,” imbuhnya.

Dalam membuktikan komitmennya terhadap dunia pendidikan anak usia dini, Paud Mutiara secara rutin menggelar kegiatan seminar parenting untuk para orang tua dan masyarakat. Khusus milad ke 12 kemarin, dihadirkan Widyawati SPd sebagai narasumber.

Widyawati yang juga telah lama berkiprah di dunia Paud menyampaikan tentang pola asuh yang penting diketahui para orang tua. “Biasakan pagi hari memberikan senyuman pada anak, datarkan suara saat bicara, tidak perlu marah, dan bicaralah yang santun,” ujarnya di hadapan puluhan guru dan orang tua yang hadir.

Menurut Widyawati, orang tua itu bukan hanya ayah dan ibu. Namun ada kakek, nenek, kakak, adik, dan lingkungan masyarakat. “Kita harus bekerjasama dalam memfasilitasi anak-anak usia dini melewati usia kritis, yaitu usia nol sampai lima tahun atau golden age,” ucapnya.

Para orang tua yang hadir terlihat antusias menyimak paparan Widyawati. Salah satunya Endang, warga Jalan Golf Landasan Ulin, yang duduk bersama putrinya, Nanas (4,5 tahun). “Kegiatan seperti ini sangat membantu saya dalam mendidik anak-anak di rumah. Meski kadang-kadang saya masih kurang sabar,” akunya seraya tertawa malu. “Nanas di rumah sering bantu saya cuci piring. Pembiasaan ini lah yang saya lihat sangat ditanamkan di Paud Mutiara,” ucap guru SMPN 4 Banjarbaru itu. Kepercayaan Endang dibuktikan dengan menyekolahkan kedua anaknya di Paud Mutiara.

Sebelumnya, perayaan milad ke 12 Paud Mutiara juga diramaikan dengan lomba-lomba yaitu lomba microteaching untuk guru-guru dan lomba fashion show pakaian daur ulang untuk para murid. Keseruan dan kebersamaan terasa dari suasana kekeluargaan yang dihadirkan. Mewakili Paud Mutiara, Bunda Nur menyampaikan ucapan terima kasih kepada komite sekolah, stakeholder, pemerintah, dan masyarakat atas semua dukungan yang telah diberikan selama ini. “Seperti manusia, kami sedang menginjak usia remaja, maka masih butuh motivasi dan dorongan agar bisa lebih baik dalam memberikan kontribusi positif untuk bangsa,” pungkasnya.

Seperti harapan Bunda Nur, sekiranya begitulah harapan kita semua.

penulis: retno sulisetiyani

editor: retno sulisetiyani

Byadmin

Terima Kasih Ni

(Sebuah Catatan Kenangan untuk Masliah)

Nini Masliah. Begitu kami biasa menyapanya. Sosoknya yang kecil dengan rambut memutih dipotong pendek. Kekinian banar Nini lah kaya Agnez Mo, satu kali pernah relawan bercanda begitu. Beliau hanya tertawa sembari menutup mulutnya.

Nini Masliah adalah sosok senja yang patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, meski rambutn kian memutih namun jiwa muda lah yang ditunjukkannya kepada kami. Wajahnya selalu menyuguhkan senyum yang merekah. Sorot matanya senantiasa memancarkan kebahagiaan. Suatu ketika, Masliah baru saja selesai mandi, kamipun mencoba membantu memapahnya. “Indah, aku indah. Kawa haja nah sorangan. Kawa haja aku, Ia berkeras menyeret sendiri badannya dengan tenaga tuanya. Ngesot. Satu cara yang hanya mampu beliau lakukan dengan kondisi rentanya. Tak jarang Ia tergores paku yang tak menempel sempurna di lantai rumahnya.

Bahkan, ketika kami berkunjung ke kediamannya Ramadhan tahun lalu, ia tetap menunaikan ibadah puasa sebulan penuh.

Diusianya yang ke 75 tahun, Masliah menutup mata. Senin (29/1) yang lalu. Menyisakan ketakjuban bagi kami, para relawan. Dua tahun membersamai, Masliah mengajarkan kepada kami tentang semangat yang luar biasa. Tentang optimisme terhadap hidup dan takdir. Kelumpuhan yang Ia alami tak pernah melemahkan jiwanya dalam menghadapi hidup dan juga beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Kekuatan. Kesabaran. Kesyukuran. Begitulah yang kami ingat tentang sosok Masliah.

Terima kasih Ni. Hanya itu yang bisa kami ucapkan sebagai salam perpisahan.

Penulis: Devi & Enok

Byadmin

Ayo Dukung RBP Galang Donasi untuk Nutrisi

Hanil. Lelaki 46 tahun itu tak bisa berbuat apa-apa. Kejadian satu setengah tahun silam membuat fisiknya cacat. Tragis. Di tengah kesehariannya mencari nafkah untuk keluarga, punggung itu kejatuhan bongkahan bangunan yang tak kokoh. Berbagai upaya telah di lakukan. Operasi pun sudah dijalani.

Namun apa daya, kelumpuhan belum jua pulih. Dari pinggang hingga kaki. Sebagai tulang punggung keluarga ia tak bisa berbuat banyak sekarang. Semenjak kejadian itu, hanya menantunya saja yang senantiasa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun penghasilannya kurang dari kata cukup.

Ditemani sang istri yang setia merawatnya, semangat untuk sembuh itu tetap ada. Ke kediamannya yang beralamat di Jalan Pirdaus Cempaka Kertak Baru Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru, sebulan sekali tim relawan Homecare Duafa rutin mengunjungi.

Setidaknya kondisi kesehatan beliau terkontrol. Obat-obatan pun rutin diberikan walau sekedar mengurangi rasa sakit. Begitulah itikad kami sejak November 2016 silam.

Berangkat dari kondisi ini, RBP tetap berupaya memberikan yang terbaik. Tak hanya ingin mewujudkan kesembuhan, pemenuhan nutrisi pasien pun ingin RBP penuhi.

Kembali mengajak Sahabat Dermawan di Kalimantan Selatan untuk mewujudkan empati. Selain Hanil, masih ada beberapa lansia yang membutuhkan uluran tangan kita semua. Rencananya setiap bulan RBP ingin membagikan paket nutrisi berupa makanan sehat dan sembako untuk mereka senilai Rp 150ribu per kepala keluarga.

Bergabunglah dalam gerakan kebaikan ini. Donasi untuk nutrisi duafa bisa disalurkan melalui rekening berikut :

Bank Syariah Mandiri 0260018953

BNI Syariah 11 999 33 555

Mohon konfirmasi via sms ke 081333272004

Info program silahkan hubungi 081317238310 (Devi)

Donasi sekecil apapun tentu sangatlah berarti. Terima kasih telah berbagi!

#bahagiakanbanua

 

Byadmin

Orientasi Relawan; Trauma Healing Pada Anak itu Perlu Teknik Khusus

“Dalam kondisi normal, orang mempunyai mekanisme pertahanan diri jika menghadapi sebuah masalah, namun pada situasi traumatis pertahanan diri tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi sehingga terjadi disosiasi atau dengan kata lain, integritas diri orang tersebut menjadi pecah,” demikian ungkap Hasibah Eka Rosnelly, seorang Psikolog di Program Pelayanan Psikososial Humanity BBPPKS Regional IV Kementerian Sosial RI, saat mengisi kegiatan orientasi relawan RBP (Radar Banjar Peduli), Minggu (28/1) yang lalu. Hal tersebut Ia ungkapkan mengingat munculnya fakta-fakta kejadian tentang tindak kekerasan dan pelecehan terhadap anak yang makin marak.

“Yang tidak  normal sesungguhnya adalah situasi traumatisnya. Hanya saja jika disosiasi terus berlanjut dan terus menerus dalam waktu yang lama dan mengganggu kehidupan seseorang, maka orang tersebut dikatakan mengalami trauma,” ujar perempuan yang kerap disapa Lily.

Pada kesempatan itu, Lily mengajak para relawan untuk mengenali kondisi trauma dan bagaimana menanganinya melalui teknik trauma healing. Mulai dari memahami arti trauma, bagaimana terjadinya, hingga teknik-teknik penanganannya.

Sebanyak 19 relawan yang hadir hari itu terlihat antusias mengikuti kegiatan. Hal ini terlihat dari diskusi yang terjadi setelah Lily memaparkan materi. Salah satu relawan, Wahyu Aji, mengajukan banyak pertanyaan tentang penanganan kekerasan pada anak. “Apakah hipnoterapi bisa digunakan untuk menangani anak-anak korban kekerasan?” tanyanya kepada Lily.

Menanggapi pertanyaan itu, Lily menjelaskan bahwa anak mempunyai karakteristik khusus sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan yang khusus pula. “Menurut saya hipnoterapi tidak cocok untuk dilakukan pada anak-anak,” tegasnya.

Perempuan yang pernah menjadi relawan pasca bencana tsunami di Aceh itu juga menjelaskan tiga hal penting dalam membantu memulihkan trauma untuk anak-anak. “Kita perlu membangun perasaan aman dalam lingkungannya, mendorong proses penerimaan terhadap kondisi yang menimpanya, juga memperbaiki kembali hubungan sosial dan membangun kembali kepercayaan, harapan, serta saling pengertian,” tandasnya.

RBP kali ini memang ingin mengajak para relawan untuk membuka wawasan terhadap bencana sosial yang terjadi di sekitar. “Kami melihat ini sebagai sebuah bencana sosial yang memerlukan uluran tangan para relawan. Apalagi sesungguhnya tidak diperlukan studi keahlian khusus untuk menjadi relawan trauma healing. Asal mau bergerak dan berkreasi,” ucap Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani. “Komitmen juga kami tunjukkan melalui program story telling yang telah diinisiasi sejak Desember 2017 lalu dan rutin berjalan setiap minggu hingga sekarang,” pungkasnya.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pustarda Kota Banjarbaru itu ditutup dengan diskusi kelompok. Beberapa relawan akhirnya terkumpul dan mendedikasikan dirinya sebagai Relawan Peduli Anak. Mereka berkumpul dan bergerak dengan satu tekad: selamatkan anak untuk bangsa beradab!.

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Mudah Atas Izin Allah

Sebuah Refleksi Seorang Pejuang Pendidikan di Kota Kandangan

Oleh Ratu Nur Inayah (Founder Rumba Abata)

Setelah tahun-tahun sebelumnya yang begitu berat saya lalui, banyak duka dan airmata. Tapi janji Allah sudah pasti. Dibalik kesedihan pasti ada kebahagian. Tak perlulah saya menceritakan segala luka, karena itu semua tak akan berarti jika melihat kebahagiaan yang telah Allah berikan pada saya saat ini.

2017 sungguh, tahun yang sangat berkesan buat saya. Ah mungkin ini yang dinamakan disequilibrium, ketidakseimbangan dalam hidup. Yup tepat 10 tahun lalu juga (2007) saya mendirikan Butterfly grup (Sebuah Lembaga Peduli Pendidikan yang melayani pembelajaran untuk anak usia dini) bersama teman-teman seperjuangan saya. Tahun ini pula, tepatnya akhir tahun 2016 saya membuat akun facebook dengan nama Rumba Abata, tujuan awal adalah sebagai dokumentasi kegiatan anak-anak belajar dirumah saya. Dan jujur, saya tak mau berteman dengan orang yang mengenal saya. Cukup, cukup akun Rumba Abata dikenal sebagai Rumba Abata dan tak perlu orang tahu siapa dibalik layar ini semua! Semuanya berjalan begitu saja, Allah yang menggerakkan hati orang-orang baik berteman dengan akun Rumba Abata. Dari sana saya tergabung dalam Sahabat Kalsel, yang mewadahi orang-orang yang peduli, sebagai generasi solusi, berusaha saling bersinergi. Sungguh saya takjub dengan ini semua. Berbagai bantuan kami dapatkan dari sahabat Kalsel, untuk warga kami yang kurang beruntung. Dari sahabat kalsel pula, saya tergabung ke Jurnalisme Spirit. Belajar menulis, menuliskan hal-hal yang bersifat positif tentunya. Berkumpul dengan teman-teman yang luar biasa.

Disini pula saya mengenal S3 (Sedekah Seribu Sehari) Banjarbaru, dan saya terinspirasi untuk membuat ini juga di kota saya, harapannya semakin banyak yang terbantu, tidak hanya warga desa saya. Berawal dari saya upload uang 1000 dengan caption “Berat apa ringan? Kalau ditimbang si pasti ringan? Ya kan? Ya kaaan? Yup uang seribu itu sangat ringan, kadang seolah tak berarti, tergeletak begitu saja. Tapi seribu itu sangat berarti, jika kita kumpulkan bersama-sama. Seribu Sehari, sedekah yang sangat ringan, namun Insya Allah memberikan manfaat yang luar biasa” Alhamdulillah, awalnya satu orang, orangtua murid Rumba Abata yang ikut bergabung dan sekarang, Masyaa Allah, lumayan banyak yang tergabung, baik sebagai penderma maupun sebagai relawan. Dan kami bentuk kepengurusan, sehingga saya tak perlu memegang amanah terlalu banyak lagi. Cukup, ya cukup saya pegang keuangan Rumba Abata saja.

Tak berselang lama, dari segala cerita yang saya tuliskan, sungguh saya tak menyangka bahwa ternyata banyak yang membaca dan monitor status-status saya, saya bercerita tentang seorang pemuda dari kalangan dhuafa, pemuda berprestasi dan tidak neko-neko adanya. Kami ikut sertakan tes STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) tapi Allah berkehendak lain, dia tidak lulus. Tapi lulus di PGSD Universitas Lambung Mangkurat melalui jalur Undangan. Lagi-lagi biaya menjadi sebuah alasan, diapun terancam gagal! Saya tidak bisa diam, saya tak ingin dia bernasib seperti saya, sekolah putus nyambung. Saya meminta yang terbaik kepada sang maha kuasa. Sayapun update status bahwa rencana saya berangkat ke Jakarta untuk mengantarkan pemuda ini gagal karena dia tak lulus di STAN. Dan langsung dihubungi oleh seorang sahabat di Jakarta, Mbak Fanny Herdina, mempertanyakan nasib pemuda tersebut. Saya menceritakan semuanya, segala kendala yang dihadapi. Untuk daftar ulang ke unlam pun rasanya terlambat! Mbak Fanny terus Wa saya, pokoknya harus, anak ini harus tetap kuliah, apapun yang terjadi! Jujur saya melongo, saya tercenung dengan kegigihan mbak Fanny. Sayapun memberanikan diri ke Universitas Lambung Mangkurat, mempertanyakan apakah Rizal dan teman-temannya masih bisa diberi kesempatan untuk daftar ulang. Alhamdulillah, pihak rektorat mengizinkan. Pertentangan dari keluarga Rizal membuat anak ini maju mundur kuliah, jujur sebagai manusia biasa saya sangat sebal. Setelah perjuangan yang penuh airmata, mau mundur? Mbak Fanny terus menguatkan kami, dan melalui Sedekah Oksigen mereka terbantu biaya dengan perjanjian, jika nantinya lulus bidikmisi maka beasiswa dari sedekah oksigen akan kami alihkan kepada anak lain yang membutuhkan. Dan saya dipercaya sebagai penanggungjawab Beasiswa Kembali Sekolah (BKS). Mengelola keuangan beasiswa, mereminder para penderma dan juga mentransfer kepada penerima beasiswa tersebut. Sungguh, ini amanah yang cukup berat, karena berkaitan dengan uang orang. Sungguh kita harus percaya, dimana ada kemauan pasti ada jalan, dan tiap kebaikan akan selalu menemukan jalan_Nya.

Banyak pembelajaran kehidupan yang saya temui melalui S3 Kandangan dengan berbagai kasus di lapangan, maupun pelajaran di Sedekah Oksigen, Sahabat Kalsel, Radar Banjar Peduli, Gerakan Sedekah Bebarengan (GSB), sungguh sinergi lintas komunitas yang luar biasa. Disini saya banyak belajar bahwa melakukan kebaikan bukanlah saingan, siapa yang paling baik, siapa yang paling duluan atau apa, tapi ini adalah sinergi kebaikan, sehingga dengan cepat orang yang membutuhkan dapat tertolong dengan baik. Kita tak perlu menyalahkan siapa yang paling bertanggungjawab atas kasus dilapangan, melainkan apa yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi, untuk memberikan solusi.

Di akhir 2017, banyak hal yang perlu saya evaluasi. Terutama tentang diri ini, tentang niat untuk selalu diluruskan hanya mengharapkan Ridho Allah semata. Yup bulan November 2017, saya sempat berpikir membuka cabang Rumba Abata di Kota Kandangan. Akan tetapi setelah melewati liburan bersama anak-anak, banyak hal pelajaran yang saya petik. Saya tak boleh tergesa-gesa. Saya mempertanyakan lagi, apa tujuan saya membuka cabang? Apa tujuan orangtua “menitipkan” anaknya pada kami? “Apa harapan mereka?” dan saya menyadari bahwa SDM (sumber daya manusia) kami belumlah siap. Saya baru punya  satu guru, yang benar-benar loyal sama Rumba Abata, guru yang benar-benar mau saya bimbing. Dan saya tahu, ini adalah kesempatan emas, tapi saya tidak mau nekat. Tidak! Saya tidak akan pernah nekat membuka cabang tanpa menyiapkan SDM. Yup animo orangtua sungguh luar biasa, sehingga orang Rantau (Tapin) juga ingin sekali ada Rumba Abata disana. Saya memahami, banyak sarjana yang menganggur, saya ingin sekali menjembatani mereka berkarya. Saya ingin sekali membuka cabang pendidikan, agar memberikan lapangan pekerjaan bagi para sarjana pengangguran. Namun saya menyadari dengan segala keterbatasan yang saya punya.

Nilai akademik memang penting, tapi yang lebih penting adalah adab. Yup, adab. Ini adalah PR besar buat kita semua. Apalagi setelah liburan kali ini, yang dilalui bersama anak-anak yang notabene bersekolah di sekolah Islam. Maaf sungguh saya sedih melihat adab mereka! Memang tidak bisa instan, perlu proses dan saya berharap kedepannya para orangtua menyadari bahwa kita tidak bisa menyerahkan pendidikan seutuhnya kepada sekolah. Ini adalah PR bersama. Perlunya kerjasama antara sekolah dan orangtua yang merupakan madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya.

Impian saya selanjutnya adalah mengirim minimal 2 orang calon guru menempuh pendidikan di Kuttab Al Fatih, akademi guru selama 2 tahun dan magang mengajar di Kuttab Al Fatih selama satu tahun sebagai bentuk pengabdian. Yang nantinya harapan saya, kita bisa mendirikan sekolah seperti Kuttab Al fatih. “Iman Sebelum Qur’an, Adab sebelum Ilmu, dan Ilmu sebelum amal. Saya membutuhkan dana Rp. 2.000.000 perbulan untuk biaya pendidikan, akomodasi dan tempat tinggal calon guru selama menempuh pendidikan di Akademi Guru Kuttab Al Fatih. Saya meyakini, tidak ada yang tidak mungkin. Jika Allah menghendaki. Semoga sekolah peradaban akan segera terealisasi disini. Dan dari segala yang telah terjadi, saya menyadari bahwa Allah lah yang menggerakkan semuanya. Sungguh, tiada daya dan upaya  selain kekuatan Allah Subhanahu Wataala, dan hanya kepada Allah jualah kita memohon pertolongan. Dan semoga senantiasa diluruskan niat serta Istiqamah dalam kebaikan. Sesungguhnya kebaikan akan selalu menemukan jalannya.

Masih banyak keajaiban-keajaiban yang belum tertuliskan, namun semoga tulisan ini menjadikan inspirasi maupun pembelajaran dalam kehidupan.

“Lakukanlah kebaikan, sekecil apapun itu! Karena kita tak pernah tahu kebaikan mana yang menyelamatkan kita dari Api Neraka”