Yearly Archive2018

Byadmin

OBRAL KEBAIKAN DI BULAN RAMADHAN

Oleh : Ibnu Sina

Ibadah di Bulan Ramadhan ini tidak hanya puasa. Jamuan spesial lainnya yaitu :

Pertama, Jamuan jutaan Kebaikan Ramadhan

Adalah dengan kita membaca Al Qur’an minimal 1 juz perhari. Dari Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan : “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat….” (HR. At-Tirmidzi).

Sederhananya : 1 juz sekitar 7.000 huruf, dikalikan dengan 10 kebaikan x pahala 70 kewajiban = 4.900.000 kebaikan. Jika kita mampu mengkhatamkan 1 kali saja di Bulan Ramadhan, maka biidznillah kita meraih 147 juta kebaikan.

Kedua, Jamuan Terhindar dari Neraka dan Penyakit Nifaq

Jamuan ini akan kita raih jika kita menjaga shalat lima waktu di masjid berjamaah dengan mendapati takbiratul ihram. Rasul SAW bersabda : “Barangsiapa yang shalat karena Allah 40 hari secara berjamaah dengan mendapatkan takbiratul ihram, maka ia dipastikan akan terhindar dua hal : api neraka dan penyakit nifaq atau munafiq”

Ketiga, Jamuan 30 Kali Haji dan Umrah

Rasul SAW bersabda : “Barangsiapa shalat subuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidzi).

Keempat, Jamuan Doa Tak Tertolak

Dalam hadits Nabi SAW : “Tiga kelompok yang tidak akan ditolak doanya : Pemimpin yang adil, Orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan Orang yang teraniaya….” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Maka khususkan berdoa sebelum buka puasa. Allah SWT berfirman : “…. Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan.” (QS. Ghafir [40] : 60).

Kelima, Jamuan 90 Rumah di Surga

Nabi SAW bersabda : “Tidaklah seorang hamba muslim melaksanakan shalat karena Allah, setiap hari sejumlah 12 rakaat Sunnah selain wajib, kecuali Allah siapkan baginya Syurga.” (HR. Muslim)

Jika kita ingin mendapatkan 3 rumah di Syurga, maka kita melaksanakan shalat 36 rakaat selain wajib, seperti : Shalat Rawatib (14 rakaat), shalat tarawih dan witir (minimal 11 rakaat), Shalat Dhuha (4 rakaat), Shalat Tahiyatul Masjid (2 rakaat), Shalat sesudah Wudhu (2 rakaat). Jumlahnya 36 rakaat, sepadan dengan 3 rumah di surga setiap hari atau 90 rumah sebulan.

Keenam, Jamuan Penghapusan Dosa

Dengan cara menunaikan umrah. Rasul SAW bersabda : “Umrah di Bulan Ramadhan sebanding dengan haji.” Dalam riwayat lain: “sebanding haji bersamaku” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan balasan bagi haji yang mabrur adalah Syurga. Nabi SAW bersabda : “… Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali Syurga.” (HR. Ahmad).

Ketujuh, Jamuan Rumah Masa Depan

Dengan cara melakukan shalat malam di sepertiga malam terakhir. Allah SWT berfirman : “…. Maka shalat tahajud lah sebagai ibadah Nafilah kamu. Mudah-mudahan Allah membangunkan bagimu tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra [17] : 79).

Kedelapan, Jamuan Malam Sepanjang Umur

Dengan menghidupkan malam qadar. Allah SWT berfirman : “Malam itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr [97] : 3).

1.000 bulan = 83 tahun 3 bulan. Artinya beribadah pada lailatul qadar lebih hebat pahalanya dibanding dengan indah sepanjang umur.

Rasulullah SAW memberikan tuntunan agar lailatul qadar itu diburu pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Delapan jamuan istimewa ini bukan untuk mengajarkan kita menghitung-hitung pahala, tapi ini untuk memotivasi untuk meraih kebaikannya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Byadmin

Program Orang Tua Asuh RBP Bantu Rahmat Menggapai Cita

Rahmat Faisal, seorang remaja tanggung yang baru saja menyelesaikan studi di SMP Negeri 8 Banjarbaru tahun ini. Tidak seperti remaja kebanyakan yang dengan bebas selepas pulang sekolah bisa bermain bersama teman-temannya. Sepulang sekolah Rahmat harus mencari barang rongsokan untuk dijual demi memenuhi kebutuhannya dan neneknya sehari-hari. Hal ini dilakukannya sejak Ia duduk di kelas  2 SMP.

Setiap pulang sekolah, sering tanpa makan siang, Rahmat langsung mencari barang rongsokan seperti kardus, botol, dan kotak makan. Ia tidak pernah marah walau jam bermainnya harus ia relakan. Lelah pun ia terima karena harus memulung setiap harinya. “Marah sih gak pernah. Cuma cape aja. Ya kalo cape, biasanya habis mulung, bersihin diri, langsung istirahat, malemnya belajar sebentar,” ucapnya sambil tersenyum.

Tak jarang Rahmat juga mengalami pengalaman pahit saat memulung, seperti harus berebut tempat mulung dengan orang lain. Ketika naik ke kelas 3 SMP, ia harus mengikuti full day school sehingga kegiatan mulungnya hanya bisa dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu.

Meski harus memulung, Rahmat tetap berusaha maksimal dalam pendidikannya. Hal ini terbukti Ia tetap bisa mempertahankan prestasinya dengan selalu mendapat ranking sepuluh besar. Ia juga optimis dengan hasil ujiannya nanti. Kini, Rahmat tengah  menunggu pendaftaran sekolah menengah atas karena Ia ingin mendaftar di SMK 3 Banjarbaru.

Ia sekarang tengah berusaha menaikkan tinggi badannya demi cita-citanya untuk menjadi polisi. “Idola saya itu pemain film, namanya Barry Prima, soalnya dia kekar dan perkasa gitu. Saya pengen jadi dia, biar bisa jadi polisi,” jawabnya polos dengan mata yang berbinar.

Rahmat dan neneknya tinggal di sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu di pinggir jalan Trikora. Ada warung kecil untuk neneknya berjualan bensin dan jajanan ringan. Ibu dan Ayah Rahmat sudah lama berpisah, ketika ia masih kecil. Ibunya kini tinggal di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Rahmat mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan ibunya, karena ibunya selalu berganti nomor telepon. Begitu pula dengan Ayahnya, meskipun mereka tinggal berdekatan, ia mengaku bahwa  ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari Ayahnya tersebut.

“Ya kadang saya kasian juga, orangtuanya masih ada tapi gak pernah dapat kasih sayang dari mereka,” ucap sang Nenek. Rahmat selalu meneteskan airmata mana kala ia menceritakan tentang kedua orangtuanya.

Rahmat adalah salah satu penerima manfaat program orangtua asuh dari Radar Banjar Peduli sejak Agustus 2017 lalu. Berkat program ini lah, Rahmat akhirnya berani bermimpi. Meniti jalan hidup yang jauh lebih baik.

”Bentuk program ini berupa bantuan biaya sekolah, uang saku, dan kakak mentor untuk bimbingan belajar para anak asuh,” ucap Devi selaku Koordinator program ini.

“Harapan saya, supaya Rahmat ini bisa terus sekolah, jadi bisa membantu saya. Apalagi saya ga selamanya muda,” ucap Sang Nenek.

Bagi RBP sendiri, kedepannya semoga Rahmat tak hanya mampu membuat sang nenek tersenyum, lebih dari itu Ia juga bisa bermanfaat untuk orang lain menjadi sosok penerus bangsa. Sang penerus masa depan.

Penulis : Najmita Ismiawan

Editor : Azizah/Retno sulisetiyani

Byadmin

MENIKMATI JAMUAN RAMADAN

Oleh : Ibnu Sina

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Mendengar bulan suci Ramadan, layaknya kita bergembira, bukan merasa menjadi beban dan memberatkan. Karena Bulan Ramadan hadir membawa jamuan istimewa bagi fisik, akal dan rohani kita.

Puasa sebagai Perisai

Rasul SAW bersabda : “Puasa itu ada perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka”. (HR. Ahmad).

Puasa akan memelihara setiap hamba yang berpuasa agar tidak terjerumus pada perbuatan maksiat.

Puasa Memasukkan Seseorang ke Surga

Karena puasa dapat menjauhkan diri dari neraka, maka otomatis membawa pelakunya ke surga. Diriwayatkan dari Abu Umamah Ra, ia berkata : “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga. Maka Rasulullah SAW menjawab : Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)nya”. (HR. An-Nasa’i).

Puasa Mendapatkan Pahala Tak Terhitung

Allah SWT berfirman : “Laki-laki dan perempuan yang berpuasa, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Ahzab [33] : 35).

Orang yang Puasa Mendapatkan Dua Kebahagiaan

Nabi SAW bersabda : “Ada dua kebahagiaan yang diperuntukkan bagi orang yang berpuasa, kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bau Mulut Orang yang Puasa Harum di Hadapan Allah

Rasul SAW bersabda : “Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum bagi Allah daripada aroma minyak misk.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Puasa dan Alquran Memberi Syafaat bagi Pelakunya

Rasul SAW bersabda : “Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata : “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di waktu siang, karenanya perkenankan lah aku untuk memberikan syafaat kepada nya”. (HR. Ahmad)

Puasa sebagai Kafarat atau Penebus Dosa

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa berpuasa pada Bulan Ramadan dengan iman dan berharap ridha Allah maka dosa-dosa yang lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari).

 Ar-Rayyan Disediakan bagi Orang yang Berpuasa

Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyan. Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorangpun yang masuk ke pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah jamuan Ramadan yang dapat memberikan kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Karena secara garis besar tujuan dari ibadah puasa adalah membersihkan jiwa, menahan nafsu dan menjaga kesehatan diri.[]

Allahu a’lam bishshawab

Byadmin

Khitan Zaman Now, Hadirkan Karakter Super Hero

(Ginanjar Sutrisno, Lazismu Banjarbaru)

Takut dan gugup. Demikian perasaan yang dialami Muhammad Supian (7 th), saat mengikuti Khitanan Barokah 1439 H khusus Dhuafa Selasa (8/5) lalu bertempat di halaman kantor PT PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Tengah, Jalan Mistar Cokrokusumo, Sungai Besar, Banjarbaru. Syukur, perasaan tersebut berangsur mencair. Abid Mujadid selaku pembawa acara kegiatan tersebut memberikan motivasi melalui games education kepada Supian dan ratusan peserta lainnya. “Awalnya ulun takut, tapi Alhamdulillah sekarang siap disunat,” ungkap Supian mantap.

Suasana makin meriah tatkala muncul sosok super hero, Kamen Raider dan Spiderman. Para peserta bersorak gembira. Kehadiran super hero tersebut bukan hanya sekedar melengkapi acara pembukaan, namun memberikan motivasi dan keceriaan kepada peserta khitan.

“Luar biasa. Ada 145 anak se Kota Banjarbaru dan sebagian dari Kabupaten Banjar yang hari ini dikhitan,” ucap Saparin selaku Ketua Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah dalam sambutannya. “Alhamdulillah melalui program yang bagus ini, dapat meringankan beban sekaligus berbagi kebahagiaan bagi keluarga prasejahtera. Terima kasih Lazismu Banjarbaru yang selalu menawarkan program kreatif, aktif dan responsif serta mampu kooperatif dalam kerjasama selama ini,” imbuhnya.

Hadir pula, General Manager (GM) PT PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah Dendi Kusumawardana, Manager Bidang sekaligus Pengawas YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah, Camat Cempaka, PD Muhammadiyah Kota Banjarbaru, Baznas Kota Banjarbaru, dan Persatuan Istri Karyawan/i (PIKK) PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah.

Dalam pelaksanaan, Lazismu Banjarbaru meggandeng tim tenaga medis dari RS Islam Banjarmasin, Majelis Pelayanan Kesehatan Umum (MPKU) PW Muhammadiyah Kalimantan Selatan serta dibantu tenaga pendukung dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. “Secara keseluruhan tim medis yang berpartisipasi berjumlah 40 orang. Terima kasih atas partisipasi dan kerjasama yang diberikan,” ungkap Andri Wibowo selaku perwakilan Lazismu Banjarbaru.

Program Khitanan Barokah 1439 H khusus Dhuafa itu terlaksana atas kerjasama YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah dan Lazismu Banjarbaru. Kolaborasi kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya. Selain itu, ada beberapa kolaborasi program seperti Beasiswa Cahaya Pintar dan Save Our School yang menjadi fokus kedua lembaga zakat tersebut. Adapun anggaran untuk kegiatan ini berasal dari zakat profesi pegawai PT PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah.

“Terima kasih atas kepercayaan YBM PLN selama ini kepada kami. Semoga sinergi ini terus berlanjut dan berbuah manfaat yang makin besar,” pungkas Andri.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Pahala-wan

Oleh Erwin D. Nugroho

 Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan pahlawan sebagai “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.” Pahlawan dalam bahasa kita seolah “dipersempit” dalam urusan perang, perjuangan, bela negara — sesuatu yang sangat beraroma keprajuritan, meskipun tetap dibatasi hanya untuk yang “membela kebenaran”. Artinya, biar gagah, berani, dan rela berkorban, belum tentu mati jadi pahlawan kalau yang dibela adalah kesesatan.

Ini berbeda dengan hero, padanan kata pahlawan dalam bahasa Inggris, yang relatif lebih luas dan menabrak batas antara peran sipil dan militer. Siapa pun bisa digelari hero, meskipun sebatas, misalnya, menolong seorang bocah yang hampir mati terserempet mobil di jalan raya. “He (or she) is my hero.”

Kepada para “pembela negara”, orang Barat punya kosakata patriot, yang memang lebih spesifik diterjemahkan sebagai “pencinta tanah air”, yang karena cintanya itu lantas rela mati demi negara. Itu sebabnya tokoh fiksi seperti Batman atau Superman bisa digolongkan sebagai hero, sementara para anumerta yang pulang ke Amerika dalam peti mati dari Irak disebut patriot.

Tetapi bukan Indonesia namanya kalau tak banyak akal. Pahlawan kemudian kerap juga dipermaklumkan sebagai bentukan dua kata; pahala dan wan. Artinya, pahala-wan adalah orang-orang yang membuat pahala (kebaikan-kebaikan) dengan membela negara. Mirip-mirip warta-wan untuk pembuat warta, atau juga sastra-wan bagi para penyastra. Jangan tanya kenapa untuk seni harus disebut seni-man, bukan seni-wan — meskipun secara bahasa saya termasuk menganjurkan sebaiknya kita sebut pekerja seni sebagai penyeni saja.

Lepas dari perdebatan soal-soal harfiah itu, pahlawan dalam peradaban kita hari ini juga sepertinya sudah harus diredefinisi. Ini bermula dari sebuah pertanyaan; kalau untuk menjadi pahlawan harus berlaga di medan perang, atau setidak-tidaknya mati karena suatu perjuangan, seperti predikat “pahlawan reformasi” bagi beberapa mahasiswa yang ditembak mati tentara saat unjuk rasa tahun 1998, bagaimana generasi tanpa pertumpahan darah seperti kita-kita sekarang bisa tercatat dalam sejarah sebagai pahlawan?

Maka, ada yang mengusulkan agar pahlawan perlu dilekatkan kepada siapa pun yang dalam hidupnya melakukan kebaikan bagi orang lain. Ia tak harus seorang pemimpin pasukan atau komandan gerilya, seperti kebanyakan “pahlawan resmi” yang ditetapkan pemerintah kita saat ini. Ia bisa saja seorang yang tak dikenal, tapi berkat perbuatannya ada orang lain yang hidupnya menjadi lebih bermakna — dan saat matinya kelak tak harus dikubur di sebuah lapangan sepi bernama Taman Makam Pahlawan, yang sering hanya jadi tempat kunjungan seremoni setahun sekali.

Sayangnya, karena sejumlah kelatahan dan sikap gagap, banyak di antara kita yang kemudian dengan mudah mengira seseorang pahlawan, hanya karena dia berlelaku seolah-olah sebagai penolong di masyarakat. Dengan cara semacam ini, penjahat paling kejam pun bisa tampil dalam balutan topeng kepahlawanan dengan gayanya yang sok baik.

Pahlawan-pahlawan palsu itu mungkin ada di sekitar kita, boleh jadi sedang nongkrong di kursi-kursi terhormat yang selama ini keberadaannya kita puja-puja, yang dalam setiap pidatonya sering menyebut rakyat sebagai segala-galanya, tujuan nomor satu dalam hidup mereka. Itu diucapkan di saat di mana duit rakyat mereka keruk untuk kepentingan pribadi, memperkaya diri, membeli prestise, dan kemudian membelanjakan sebagian kecilnya saja untuk apa yang mereka sebut-sebut sebagai sikap kepahlawanan — sesuatu yang membuat kita terbuai lantas percaya.

Betapa makna kepahlawanan itu belakangan tak lagi sejalan dengan konsep pahala-wan — lepas dari benar-tidaknya asal kata pahlawan ini —  di mana seseorang dengan kreasi dan sikapnya melahirkan pahala-pahala, kebaikan-kebaikan bagi orang lain. Pahlawan hari ini, yang harus selalu dipastikan apakah asli atau tipu-tipu, memang seringkali justru bukan orang yang berpahala.

Mungkin karena konsep pahlawan terlalu mudah dijadikan dagangan politik, untuk pencitraan dan tebar pesona, sehingga seseorang bisa dielu-elukan sebagai pembela rakyat kecil hanya dengan sekali berbagi sembako, padahal barang yang dibagi-bagi itu ternyata dari uang rakyat juga. Bisa pula dipuja sebagai dewa penolong meski hanya mengumbar janji kata-kata, yang sejatinya tak pernah dituntaskan dalam sesuatu yang nyata.

Kita mencatat banyak nama, baik dalam konteks bernegara di mana pemerintah menetapkan orang-orang, yang biasanya telah mendiang, sebagai tokoh bangsa dan karenanya patut ditahbiskan sebagai pahlawan, maupun dalam diri kita sendiri; di saat hati kita mencatat deretan nama mereka yang menjadi pahlawan dalam hidup kita. Dalam pengertian yang kedua inilah, mestinya, pahlawan bangsa diakui sebagai pahlawan sebenar-benarnya.

Seorang jenderal memanggil tiga prajurit berprestasi, yang dinilai patut ditetapkan sebagai pahlawan, setelah lebih tiga tahun berjuang di Aceh. Selain mengalungkan medali tanda jasa, sang jenderal juga memberi hadiah uang.

“Yang harus kalian lakukan adalah menentukan dua titik di tubuh kalian, dan saya akan memberikan 100 ribu rupiah untuk setiap sentinya. Kita mulai dari kamu,” jenderal menunjuk prajurit pertama.

“Dari ujung kepala ke ujung kaki, jenderal.”

“Bagus, 180 senti, kamu mendapat 18 juta, lumayan kan…”

“Dari ujung jari kiri ke ujung jari kanan, jenderal,” sambar prajurit kedua.

Jenderal langsung mengukurnya. “Bagus sekali, 185 senti, total 18,5 juta.”

Giliran prajurit ketiga, agak terlambat dan baru bicara setelah dibentak. “Hei, kamu, gimana?!”

“Hmm… emm, dari pundak ke kelingking, jenderal.”

Sang jenderal terkejut. “Apa tidak salah? Pundak ke kelingking? Aneh, tapi ya sudahlah…”

Jenderal jadi tambah terkejut saat mulai mengukur, “Mana kelingkingmu, prajurit?”

Prajurit ketiga tersipu malu. “Di Aceh, jenderal!” ***

Byadmin

Siaga Bencana, Relawan Sahabat Kalsel Adakan Kelas Dapur Umum

Beberapa pekan lalu, Sahabat Kalsel kembali mengadakan kelas relawan. 10 orang relawan hadir bersama para warga sekitar. Kelas kali ini bertemakan dapur umum untuk bencana alam. Para relawan belajar mengenai kandungan gizi yang terdapat di dalam makanan serta memasak bersama para ibu penduduk sekitar desa. Mereka dilibatkan mengingat di dalam dapur umum yang lebih berperan aktif adalah warga sekitar terutama para ibu.

Kelas relawan yang berlangsung berbeda dari biasanya. Suasana pedesaan dengan pemandangan alam memanjakan siapapun yang datang. Bertempat di Kampung Purun para relawan dan warga setempat belajar mengenai kualitas makanan serta gizi yang seimbang.

Masalah gizi memang penting bagi anak anak. Pada masa pertumbuhan anak perlu asupan nutrisi dan gizi yang terpenuhi. Oleh karena itu, wajib menghidangkan makanan yang tak hanya mengenyangkan namun juga menyehatkan.

Pemaparan materi kali ini dibawakan oleh Nadia Susiyana, seorang mahasiswi Politeknik Kesehatan Banjarmasin. “Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas gizi yang terkandung dalam makanan adalah cara memasaknya” ungkap gadis manis berkacamata itu. Nadia juga memberikan tips bagaimana memadu padankan makanan yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Setelah pemaparan mengenai kandungan gizi makanan, para relawan membuat simulasi dapur umum dalam bencana. Ketika musibah menimpa suatu daerah, otomatis ketersediaan pasokan makanan terhambat. Meski terkendala dalam konsumsi, masyarakat tetap harus menerima makanan untuk kelangsungan hidup mereka.

Dapur umum menjadi tempat utama sebagai pemasok makanan sementara ketika terjadi bencana. Relawan maupun warga setempat harus mampu dalam menyediakan bahan makanan yang mencukupi kebutuhan tubuh bagi masyarakat yang terdampak bencana. Agar kondisi masyarakat akibat bencana tetap terjaga kesehatannya, harus ditunjang dengan makanan yang tepat dan sehat.

“Luar biasa, ternyata makanan itu tidak harus mewah yang penting kandungan gizi yang terkandung di dalamnya”, ungkap Hayah salah satu relawan yang hadir di kelas itu. Usai belajar dan memasak, para relawan dan warga khususnya para ibu, makan siang dan berbincang bersama. Dengan pengetahuan kandungan gizi makanan ini, para relawan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penyediaan makanan yang sehat, aman dan bergizi dimanapun mereka berada.

Penulis : Wahyu Aji Saputra

Editor  : Devi Putri Listyasari

Byadmin

Anak Cerdas, Sehat Jasmani dan Rohani

Mengingat pentingnya pola asuh yang benar demi masa depan generasi muda, Radar Banjar Peduli (RBP) untuk ke sekian kalinya mengadakan kegiatan parenting desa. Kali ini di laksanakan di TK Kenanga pada Sabtu (5/5) lalu. Kegiatan ini berisikan penyuluhan bertemakan “Pengasuhan Positif” dengan melibatkan pemateri dari Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kota Banjarbaru yaitu Neni Nooryatini SPd. Kegiatan ini dihadiri oleh 35 orang tua murid TK Kenanga, baik ayah ataupun ibu.

“Alhamdulillah, Jalannya pemberian materi diterima dengan baik oleh orang tua murid, tanggapan masyarakat juga positif,” ucap Neni Nooryatini SPd dengan lega sesaat setelah acara selesai. Ibu dari dua anak ini juga menambahkan bahwa tujuan dari pemberian materi ini adalah agar masyarakat mengetahui bagaimana cara pola pengasuhan yang baik, mengembangkan kecerdasan anak  sehingga bisa sehat jasmani dan rohani, dan memberikan contoh yang baik dalam bersikap atau berperilaku sehingga menjadi pembiasaan dan menjadi karakter.

Budi Lestari SPd,  selaku Kepala Sekolah TK Kenanga, menyambut dengan antusias terhadap program parenting desa yang diselenggarakan oleh RBP,  “Acara ini bagus, tertib dan sesuai harapan, kami sangat antusias dan berterimakasih karena adanya acara ini. Kapan lagi kan ada acara seperti ini. Para orang tua juga jadi dapat ilmu,” ujarnya. Dalam program parenting desa ini selain diberikan materi, para orang tua juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi seputar permasalahan-permasalahan yang dihadapi para orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka. Terakhir, pihak penyelenggara membagikan form untuk di isi oleh orang tua sebagai bahan evaluasi yang akan dibahas untuk kegiatan selanjutnya. Kegiatan berlangsung sekitar satu jam setengah, mulai dari pukul 10.30 pagi. Kegiatan ini berjalan lancar dan tidak cuman orang tua yang mendapatkan oleh-oleh berupa ilmu untuk dibawa pulang, anak-anak merekapun mendapatkan oleh-oleh berupa nutrisi satu kotak susu bubuk yang dibagikan secara gratis.

Melalui kegiatan parenting desa ini, harapanya dapat mendukung terciptanya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani, serta masyarakat yang memiliki pola hidup bersih, jujur dan karakter positif lainnya. Sehingga akan tercipta masyarakat dengan wawasan luas serta memahami dengan utuh pentingnya pendidikan dimasa depan. “Dengan adanya kegiatan ini kami memberikan kesempatan pada para orang tua untuk belajar memahami anak di pola asuh yang seharusnya. Nantinya diharapkan masyarakat bisa meimplementasikan pembiasaan baik tersebut, kapanpun dan dimanapun.” ujar Devi, selaku Koordinator dari Radar Banjar Peduli. “Kami juga mengucapkan terimakasih kepada Bank Kalsel Banjarbaru dan Himpaudi Banjarbaru, atas dukungannya sehingga kegiatan ini bisa terus berlanjut.” Tambahnya.

Penulis : Najmita Ismiawan

Editor  : Nurhayah/Dr Diauddin

Byadmin

Berbuatlah yang Terbaik

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Sebagai orang beriman, selayaknya kita kembalikan ke Allah Swt dan Rasulnya segala permasalahan yang kita hadapi. Dari petunjuk-Nya pulalah kita berharap bisa memperoleh solusi dari berbagai deraan kesulitan. Nampaknya, kunci jawaban dari permasalahan sebenarnya juga telah disiapkan oleh Allah swt. Yang maha tahu atas segala sesuatu, sebelum permasalahannya sendiripun ada. Kunci tersebut terdiri dari tiga hal antara lain kunci pertama, pertolongan hanya datang dari Allah. Dalam Al-Quran surat Ali-Imran ayat 160 Allah Swt berfirman bahwa, “Apabila Allah menolong kamu sekalian? maka tidak akan ada yang mengalahkanmu, dan apabila Dia meninggalkanmu siapa yang akan menolongmu kemudian. Hanya kepada Allahlah orang beriman berserah diri”. Ayat yang begitu jelas tersebut mengingatkan kita bahwa pertolongan tidaka akan datang dari manapun/siapapun selain Allah. Hanya dari Allah-lah pertolongan akan datang.

Kunci kedua, Allah hanya akan menolong yang menolong-Nya. “Hai orang-orang beriman, Apabila kamu menolong Allah, Dia akan menolongmu dan teguhkanlah langkah kakimu” (QS. Al-Hajj: 40). Allah yang maha kuasa tidak membutuhkan pertolongan dari makhluknya, tetapi orang-orang yang menolong agama-Nya, menegakkan kalimatNya, menerapkan syari’ah adalah orang-orang yang disebut sebagai menolong Allah dan yang berhak atas pertolongan-Nya.

Kunci ketiga, pertolongan Allah hanya datang kepada orang-orang yang beriman. “Dialah yang membantu kamu melalui pertolongan-Nya dan melalui orang-orang beriman” (QS. Al-Anfal: 62). Berbagai peristiwa disebutkan Allah dalam Al-Quran untuk mendemonstrasikan pertolongan-Nya bagi kaun mukminin. Misalnya dalam perang Badr, Al-Khandaq dan Hunain Allah menurunkan malaikat-Nya untuk menolong kaum mukminin (QS. Al-anfal: 12). Pada kesempatan lain Allah mengirimkan pertolongan-Nya berupa angin dan tentara-tentara yang tidak terlihat, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni’mat Allah  kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya . Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ahzab: 9)

Dari ketiga kunci tersebut nampak bahwa hukum sebab akibat bahwa pertolongan Allah hanya untuk orang beriman, oleh orang beriman (yang menolong agama-Nya, kemudian ditolong oleh-Nya). Jadi tidak serta merta turun dari langit, tetapi memerlukan upaya tangan-tangan orang beriman di bumi. Cara yang lain untuk melihat tiga kunci tersebut adalah dengan mengurutkannya dari bawah yaitu kita menguatkan Iman kita, kemudian kita mau mulai menolong Agama-Nya, baru kemudian bisa berharap pertongan Allah akan datang.

Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Abdullah bin Humaid, Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa’y, Ibnu Majah, Ad-Daruquthny, Al-Baihaqy, dan Abu Ya’la mentakhrijkan dari Qais bin Abu Hazim, dia berkata, “Setelah Abu Bakar menjadi khalifah, dia naik ke atas mimbar, lalu menyampaikan pidato. Setelah menyampaikan pujian kepada Allah, Abu Bakar berkata, “Wahai semua manusia, tentunya kalian juga membaca ayat ini, ‘Hai orang orang yang beriman, jagalah diri kalian”.

Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk, (QS Al-Maidah : 105), namun kalian meletakkan ayat ini bukan pada tempatnya. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran dan mereka tidak mau merubahnya, maka Allah akan menyegerakan siksa yang menyelingkupi mereka semua”.

Ath-Thabrany mentakhrijkan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, “Itris bin Urqub Asy-Syaibany menemui Abdullah ra. seraya berkata, “binasalah orang yang tidak menyuruh kepada yang ma’ruf dan tidak mencegah dari yang mungkar”. Abdullah ra. meralat ucapannya dengan, “Bahkan binasalah orang yang tidak memperlihatkan yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar”.

Pesan yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash Shidiq merupakan pesan relevan sepanjang zaman. Sebagai pemimpin, Khalifah Abu Bakar sangat tahu kondisi rakyatnya. Besarnya amanah yang diberikan rakyatnya, membuat Abu Bakar berhati-hati dengan apa yang dipimpinnya. Dalam pesan itu, menandakan timbal balik nasehat dari pemimpin dengan mereka yang dipimpin merupakan hal yang penting. Ini untuk menjaga agar penyelewengan yang terjadi di masyarakat, bisa segera diatasi. Bahkan segera dibersihkan agar tidak mencapai pada tahap bahaya laten. Sehingga kebiasaan saling menasehati antara pemimpin dan rakyatnya menjadi satu budaya yang baik. []

Byadmin

BANJIR PELAYANAN DAN KONSULTASI KESEHATAN GRATIS

(Anisa Fitri, Banjarbaru)

Sejak dibuka pada hari Minggu (22/4) lalu, even tahunan Banjarbaru Fair sudah langsung ramai pengunjung walaupun rintik hujan mewarnai langit sore itu. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka hari jadi Kota Banjarbaru ke-19 tersebut berlangsung di Lapangan Murjani Banjarbaru selama satu minggu penuh.

Poltekkes Kemenkes Banjarmasin sebagai salah satu kampus kesehatan terbesar di Kalimantan Selatan menggandeng RBP turut andil dengan menyediakan berbagai pelayanan dan konsultasi kesehatan secara gratis. “Kami sudah sering ikut memeriahkan Banjarbaru Fair sejak empat tahun yang lalu,” tutur Dr Waljuni Astur Rahman SKM MPd selaku Kepala Unit Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.

“Sesuai dengan salah satu misi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin, yaitu memberikan pengabdian kepada masyarakat. Kami berharap pelayanan yang kami berikan ini menjadi salah satu perwujudan dari misi tersebut,” kata lelaki yang biasa disapa Awal itu dengan wajah tersenyum.

Terlihat respon positif dari masyarakat, bahkan pada malam terakhir acara tersebut stand pelayanan masih penuh. “Ada sekitar 500 obat yang habis untuk diberikan kepada masyarakat langsung,” tutur Awal.

Hery yang merupakan salah satu pengunjung pada hari terakhir mengaku terbantu dengan layanan kesehatan tersebut. “Hasilnya cukup membantu untuk mengetahui kondisi kesehatan saya, mulai gigi, gizi, sampai tekanan darah. Tentunya saya juga merasa senang, karena pelayanan yang diberikan secara gratis. Sangat bagus dan berjiwa sosial. Semoga setiap tahun terus diadakan agar membantu masyarakat, terutama masyarakat yang kurang mampu” pungkasnya.

Pelayanan dan konsultasi kesehatan yang diberikan berhubungan langsung dengan semua jurusan yang ada di kampus tersebut. Mulai dari jurusan keperawatan yang memberikan pelayanan tensi darah, kebidanan berupa tensi darah dan konsultasi kehamilan, ahli gizi berupa pengukuran tinggi dan berat badan serta konsultasi gizi, keperawatan gigi berupa pembersihan karang gigi juga konsultasi keluhan gigi, gusi, dan mulut, kesehatan lingkungan berupa konsultasi lingkungan dan pembagian ABAT (insektisida pembasmi larva nyamuk di kamar mandi), serta analis kesehatan yang merupakan inti dari pelayanan yang diberikan berupa pemeriksaan kolesterol dan gula darah.

“Kami secara bergiliran bertugas melayani masyarakat. Meski banyak sekali layanan yang kami berikan, kami tetap menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter karena tugas kami lebih diperuntukkan untuk deteksi dini penyakit,” ujar salah satu mahasiswa Poltekkes Tommy Juliannor.

Editor : Retno Sulisetiyani