Monthly ArchiveJanuari 2018

Byadmin

Charity Area, Kawasan Bebas Sedekah di Murjani

Semangat kepedulian bisa diwujudkan dalam bentuk apa saja. Hal itulah yang sepertinya ingin ditunjukkan oleh Paguyuban Pedagang Minggu Pagi Ceria (PPMPC) Minggu (14/1) yang lalu. Menggandeng Radar Banjar Peduli (RBP), PPMPC yang dikomandoi oleh Abdul Azis SH menggelar bazar amal di salah satu sudut lapak. RBP dipercaya untuk mengelola penjualan dan penyaluran dana yang terkumpul nantinya. Bazar amal tersebut oleh RBP disulap dengan nama Charity Area.

Barang yang dijual hari itu adalah pakaian-pakaian. “Ini adalah pakaian lama tapi kondisinya 90% masih bagus, disumbangkan untuk dijual dan hasil penjualannya nanti seluruhnya untuk kegiatan sosial bersama RBP,” ujar Abdul Azis.

Abdul Azis menghimbau kepada  masyarakat untuk berpartisipasi dalam Charity Area tersebut. “Silahkan yang ingin mendonasikan barang-barang amal bisa langsung ke lapak ini,” ujarnya. “Ini adalah wujud kepedulian kami dan sesuai arahan dari Wakil Walikota Banjarbaru, kami juga ingin mendukung Murjani untuk punya nilai tambah,” imbuhnya.

RBP sebagai lembaga kemanusiaan memberi dukungan penuh dengan kerjasama program ini. “Charity Area adalah kawasan bebas sedekah untuk mengakomodir bentuk kepedulian dari seluruh warga Banjarbaru dan sekitarnya. Alhamdulillah para relawan Sahabat Kalsel juga siap,” ujar Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra.

Bagi warga yang ingin bertanya lebih jelas tentang program ini silahkan menghubungi 082250379647 (edo) atau 081250567117 (khairil).

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Asyiknya Mengikuti Program Relawan Menulis RBP

“Sebuah Pembelajaran Sekaligus Penggali Potensi Diri”

Bergabung di Komatik (Komunitas Mahasiswa Jurnalistik) Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Banjarmasin sebagai reporter rupanya tidak cukup memenuhi hasrat Nadia Susiyana di bidang jurnalistik. Berawal dari informasi dari seorang teman bahwa RBP membuka Program Menulis yang secara tidak langsung akan memberikan pengalaman dalam penulisan berita humanis membuatnya tertarik untuk ikut serta.

Nadia mengaku banyak pembelajaran yang didapatkan selama mengikuti program ini. Mulai dari menambah kecakapan menulis, mendorongnya mengeksplorasi dunia luar kampus hingga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama yang kemudian menuntunnya mengikuti segala bentuk kegiatan kerelawanan. Dunia relawan inilah yang akhirnya memberi kesan mendalam baginya.

Sebelum mengikuti program ini, Nadia beranggapan bahwa kepedulian kaum muda terhadap masyarakat kurang beruntung masihlah kecil. Namun ternyata anggapannya itu dilihatnya salah. “Cukup banyak kaum muda Banjarbaru yang peduli terhadap masalah-masalah masyarakat di sekitarnya,” ucap gadis berkacamata itu.

Persepsi Nadia mulai berubah sejak diberi tugas meliput kegiatan Sahabat Kalsel di Kampung Purun, Kelurahan Palam, Banjarbaru Minggu (24/12) tahun lalu. Nadia menyaksikan langsung bahwa cukup banyak mahasiswa bahkan pegawai kantoran yang ikut menunjukkan kepedulian mereka dengan cara berbagi kebahagiaan hingga bingkisan untuk anak-anak kurang beruntung di daerah Kampung Purun tersebut.

Tak terasa sudah hampir dua bulan Nadia menjajal kemampuannya sebagai tenaga reporter dalam program relawan menulis RBP, artinya sudah hampir berakhir. Program yang dilaksanakan oleh Divisi Marketing Komunikasi RBP itu memang hanya bergulir per dua bulan. “Tujuan saya ingin mencetak jurnalis-jurnalis humanis di Banua ini, agar makin banyak informasi positif di sekitar kita,” ujar Retno Sulisetiyani selaku Manajer Divisi.

“Sebenarnya saya ingin membuka kesempatan bagi banyak relawan untuk mengikuti program ini. Tapi saya khawatir tidak optimal membina. Meski begitu saya merasa bangga, Alhamdulillah program ini sudah punya dua angkatan dengan tiga alumni yang luar biasa,” ujar Retno saat pertemuan penutupan Angkatan ke dua, Kamis (18/1) kemarin di Kafe Montana Syariah Banjarbaru.

Bagi Nadia sendiri, dengan berakhirnya program tersebut tak lantas membuatnya berhenti untuk terus bergerak dibidang kerelawanan. Hal ini dibuktikannya dengan langsung bergabung dengan Forum Relawan Sahabat Kalsel. “Mumpung masih sebatas jadi mahasiswa, harus mengambil kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berguna bagi masyarakat. Dengan menulis saya punya kesempatan untuk mempengaruhi apa yang orang lain pikirkan atau lakukan. Terima kasih atas kesempatan besar ini,” pungkasnya. (nd)

editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Parenting Desa, Berinovasi Demi Perbaikan Banua

Lemahnya pengasuhan anak ternyata bukan lagi persoalan bagi keluarga duafa atau tidak mampu, namun juga terjadi di keluarga mampu yang bahkan berpendidikan tinggi. Hal ini disampaikan oleh Ketua Himpaudi Kota Banjarbaru Hj Nurhayati SPd kepada RBP disela silaturahminya ke kantor RBP di Gedung Biru Radar Banjarmasin Rabu (17/1) kemarin.

Menurut Nurhayati ada saja persoalan pengasuhan anak yang dihadapi di sekolahnya, padahal rata-rata orang tuanya berpendidikan. “Artinya persoalan ini sudah menjadi persoalan kita semua, sehingga diperlukan perhatian dan kerja dari semua pihak,” ujarnya.

Melihat tersebut, lanjutnya, program Parenting Desa yang digagas RBP harus dilanjutkan. “Ini ide yang sangat bagus, agar pendidikan bukan hanya berada di lingkungan khusus, namun bisa dibangun bahkan di rumah-rumah warga,” ucap Ibu dua anak itu.

Keseriusan Himpaudi dengan upaya penanaman pola asuh anak yang benar terlihat dari inovasi yang diberikan terhadap program ini. Rencananya, konsep baru program bertujuan pada penanaman pembiasaan. Pertemuan tidak lagi bersifat berkeliling, tapi fokus untuk enam titik saja dimana masing-masing titik dilaksanakan dua kali pertemuan. “Harapannya dalam setahun ada enam kelompok masyarakat yang terbina, nanti ada nilai ukur yang kami siapkan sebagai indikator keberhasilan,” imbuh Nurhayati.

Sekretaris Himpaudi Kota Banjarbaru Endang Puryani yang juga hadir menambahkan bahwa penanaman pembiasaan menjadi penting karena hal tersebut adalah dasar dari pembentukan karakter. “Kita miris dengan tata krama dan kesopanan anak-anak zaman sekarang, jadi memang harus dimulai dari keluarga. Ayah ibu sebagai teladan bagi anak-anaknya,” ungkapnya.

Direktur RBP Dokter Diauddin MKes melalui Manajer Keuangan Nurhayah menilai konsep baru yang ditawarkan Himpaudi adalah inovasi yang sangat bagus. “Dukungan Himpaudi Kota Banjarbaru menjadi motivasi dan semangat bagi kami, karena tanpa dukungan berbagai pihak tentu kami bukanlah apa-apa,” ujar Nurhayah yang saat itu menerima kunjungan Himpaudi di ruang rapat Radar Banjarmasin lantai 2.

“Kami berharap tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, dapat memberi manfaat yang lebih besar untuk masyarakat,” pungkasnya.

Parenting Desa sebagai wujud kepedulian RBP pada permasalahan bangsa tentu tak bisa berjalan sendiri. Hakikatnya manusia itu sendiri adalah makhluk sosial, maka RBP perlu berbagai pihak termasuk masyarakat untuk bisa terus bergerak menggaungkan kepedulian. Terima kasih kepada Himpaudi Kota Banjarbaru atas sinergi yang saling menguatkan ini.

Kami juga meminta dukungan dari para dermawan di banua untuk bisa menyisihkan sebagian hartanya untuk program-program sosial seperti ini. Donasi terbaik Anda menjadi kebahagiaan kita semua. Ayo bergotong-royong membangun banua.

penulis: Retno Sulisetiyani

editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Kapal Kemanusiaan Palestina, Ekspresi Diplomasi Beras Bangsa Indonesia

Muhajir Arif Rahmani

Media Network Development – ACT

Sukses melabuhkan “Kapal Kemanusiaan” pembawa beras dari Indonesia di Somalia (seribu ton) dan di Bangladesh (dua ribu ton) tahun 2017 lalu, memicu syukur, tapi bukan puas. Kapal Kemanusiaan harus selalu hadir selama krisis kemanusiaan menggayuti umat manusia. Salah satunya adalah Palestina, negeri yang masih dijajah hingga kini, namun tetap bertahan dengan segala cobaan beratnya.

Setahun setelah Indonesia merdeka, pemerintah unjuk eksistesi dengan mengirim bantuan beras ke India saat negeri itu dilanda kesulitan pangan. Peristiwa tersebut dinilai fenomenal buat negara yang baru menata pemerintahannya. Kini, setelah absen cukup lama tidak menyapa dunia dengan aksi bantuan kemanusiaan serupa, ACT melanjutkannya. 

ACT hanyalah lembaga kemanusiaan yang diinisiasi dan disokong rakyat Indonesia. Sehingga, krisis seberat apapun, wujud dukungan rakyat tentu saja sebatas bantuan kemanusiaan people to people. Rakyat Indonesia berbagi peran dengan pemerintah yang lebih memiliki kewenangan dan akses dalam hubungan antarbangsa dan mewakili negara, dari bantuan sosial hingga bantuan diplomasi. Tidak menutup kemungkinan pula untuk bantuan militer jika nyawa manusia sudah sangat kritis dan mengusik peri-kemanusiaan.

Beberapa waktu lalu, ACT mengumumkan, Kapal Kemanusiaan Palestina (KKP) yang membawa 10.000 ton beras dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina akan berangkat pada 21 Februari 2018. Yang dibawa bukan beras biasa, tapi beras pembawa misi perdamaian, peranti perlawanan antipenjajahan.

KKP mengemban amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 sekaligus membawa misi edukasi kemanusiaan global. ACT melanjutkan sikap konsisten Pemerintah Indonesia untuk menjaga ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. KKP juga menyambung teladan para pemimpin bangsa.

Usai rencana keberangkatan KKP diumumkan ke publik, tim ACT berjibaku menyiapkan beras, kapal, proses perizinan dan segala sesuatu demi suksesnya pengiriman bantuan. Empat belas cabang ACT se-Indonesia dan Turki bergerak mengedukasi publik dan menggalang kepedulian. Sejak Senin (15/1), Presiden ACT Ahyudin hadir di Blora, memantau persiapan pengadaan beras untuk Palestina.

Mengikuti persiapan beras dan sesi briefing dengan Presiden ACT, terasa keseriusan prosesnya. Saya menyerap energi tersendiri selama proses itu. Menerjuni dunia kemanusiaan tak boleh berpikir tunggal, namun harus menyiapkan mental, fisik dan pikiran untuk berpikir berbagai isu. Menyiapkan beras saja sudah menjadi sebuah tantangan besar. 

Tantangan pertama, keberhasilan menghimpun dan mengirim 1.000 ton beras ke Somalia dan 2000 ton beras ke Bangladesh (untuk pengungsi Rohingya) memacu ACT untuk meningkatkan jumlah tonase beras hingga 500 persen pada tahun 2018 ini. Kedua, wilayah tujuannya pun kawasan konflik kelas dunia: Palestina.

Spirit dan semangat Tim ACT baik di pusat maupun di daerah, terutama tim KKP di Blora dan beberapa kabupaten dan kota sekitarnya, terus dipompa. Mengapa harus memiliki spirit hebat? Karena tingginya nilai ideologis dan filosofis program ini. Misi kemanusiaan ini akan menentukan posisi bangsa Indonesia, bukan hanya posisi Lembaga ACT atau masyarakat Blora dan sekitarnya saja. Presiden ACT Ahyudin mengungkapkan, ”Kerja kita, menunaikan kepercayaan dari bumi dan langit (ilahiah) untuk bangsa Indonesia.”

Mendengar untaian pesan selanjutnya yang disampaikan Presiden ACT, hilang sudah keraguan saya untuk memenuhi tantangan bersama ini. 

“Saya yakin Kabupaten Blora dan sekitarnya akan menjadi proyek kemanusiaan yang besar yang levelnya tidak hanya nasional namun internasional. Seperti saat momen Kapal Kemanusiaan untuk Afrika dan Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya. Kapal Kemanusiaan untuk Palestina ini akan lebih besar, lebih fenomenal dan lebih ideolgis,” ungkap Ahyudin, saat meninjau persiapan pengepakan beras di gudang Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) ACT di Kecamatan Cepu, Blora, Selasa (15/1).

Saya memahami, betapa wujud dukungan doa dan aksi turun ke jalan menyuarakan kepedulian terhadap warga Palestina dari masyarakat Indonesia amat penting. Namun, doa dan dukungan saja tidaklah cukup kalau masyarakat Indonesia  tidak memberikan kontribusi konkret. “Sukses menyiapkan 10.000 ton beras melalui KKP, salah satu momentum masyarakat untuk ikut berkontribusi secara nyata untuk membantu warga Palestina,” ujar Ahyudin.

Kapal Kemanusiaan untuk Palestina ini, imbuh Ahyudin, merupakan peristiwa sejarah bagi bangsa Indonesia. Program ini lebih besar target sasarannya ke dalam negeri sendiri. Program KKP mengedukasi rakyat Indonesia untuk memiliki kepedulian terhadap rakyat Palestina, memiliki perasaan keumatan dan spirit ukhuwah yang kuat.

KKP juga menjadi ekspresi “diplomasi beras” bangsa Indonesia. Dahulu, pengiriman bantuan beras ke India berbuah pemberian perlengkapan pertanian dan obat-obatan dari India (saat Indonesia belum memproduksi barang-barang itu) untuk Indonesia. Kini, KKP insya Allah akan berbuah sesuatu yang lebih besar, yakni doa tulus bangsa Palestina serta kepercayaan dan penghormatan dunia untuk bangsa Indonesia. Maka, di hari-hari persiapan pelepasan KKP ini, kami mohon doa dan dukungan konkret bangsa Indonesia.

Seremoni pelepasan KKP yang berupa konvoi kontainer beras akan dilepas dari Kecamatan Cepu, Blora, menuju Terminal Petikemas Surabaya. Pelepasan tersebut akan dibarengi dengan peluncuran Program Desa Wakaf, di mana Kabupaten Blora menjadi salah satu percontohan Program Desa Wakaf-ACT. 

“Bantuan beras untuk Palestina melalui Program KKP ini menunjukkan hebatnya bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tak sekadar mengejar swasembada pangan. Lebih dari itu, bangsa ini pun mampu berbagi,” ungkap Presiden ACT Ahyudin. 

Ya, Indonesia besar bukan untuk dirinya, melainkan untuk berbagi kepedulian kepada bangsa-bangsa lainnya. Doakan dan dukung Kapal Kemanusiaan Palestina. Bersama, kita songsong kejayaan bangsa Indonesia. []

Foto: Rudi Purnomo

Sumber: ACT

Byadmin

Rekening Donasi Kami

Bantuan sosial dan kemanusiaan Anda bisa melalui transfer ke rekening-rekening berikut:

Atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli

Bank Syariah Mandiri 0260018940

Bank Syariah Mandiri 0260018953

Bank Syariah Mandiri 0262042000

BNI Syariah 1199922555

BNI Syariah 1199933555

Mohon konfirmasi setelah transfer ke sms center 081333272004 agar bisa dilakukan pencatatan dan pelaporan.

Terima kasih.

Byadmin

Bank Kalsel Siap Bersinergi Memajukan Banua

Bank Kalsel Cabang Banjarbaru menyatakan siap bersinergi bersama Radar Banjar Peduli (RBP) dalam menggaungkan kepedulian di Kalimantan Selatan, khususnya di Banjarbaru. Hal ini disampaikan oleh Hambali selaku Pemimpin Cabang kepada RBP melalui Manajer Operasional Haris Santana, Selasa (16/1) kemarin.

“Kami salut dengan upaya yang dilakukan RBP dalam bidang sosial kemanusiaan, tentu kami juga ingin mendukung,” ujar Hambali. 

Menurutnya, ada kesamaan antara Bank Kalsel dan RBP yaitu ingin memajukan banua. “Jadi mari kita sama-sama bergandengan tangan mewujudkannya,” ucapnya lagi.

Dukungan itu tentu menjadi semangat sendiri bagi RBP. Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra mengaku senang dengan apa yang telah disampaikan Bank Kalsel Banjarbaru. 

“Ini jadi penyemangat untuk kami karena dukungan positif adalah sumber energi kami. Terima kasih kepada Bank Kalsel Banjarbaru yang telah berkomitmen kepada RBP sejak 2017 lalu,” ungkapnya. 

Memang, sejak 2017 Bank Kalsel Banjarbaru menjadi mitra peduli RBP dalam program Nutrisi Duafa. Selama setahun Bank Kalsel Banjarbaru telah menyalurkan donasi lebih dari Rp 8juta dengan menjangkau lebih dari 400 penerima manfaat. 

RBP berharap tahun 2018 ini akan lebih banyak lagi penerima manfaat yang bisa terbahagiakan. 

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Mengesankan, Uji Nyali untuk Diri Sendiri

Oleh Elma Apriliani (Peserta Program Relawan Menulis Angkatan ke 2)

Catatan Pengalaman Mengikuti Program Relawan Menulis RBP

Tak terasa masa magang Saya di Radar Banjar peduli dalam program Relawan Menulis sudah berakhir. Sedih rasanya menyadarinya. Masa magang yang Saya lalui kurang lebih 2 bulan terhitung sejak bulan November 2017 hingga 9 Januari 2018 kemarin. Sebuah pengalaman yang membuat Saya bisa berinteraksi dengan orang lain dan juga dapat menambah wawasan untuk berkenalan dengan para professional. Tentu akan selalu membekas di hati Saya.

Berawal dari keikutsertaan Saya di komunitas relawan sahabat kalsel. Lalu tepat hari jumat, saya mengikuti kajian rutin yang dilaksanakan di Gedung Biru Radar Banjarmasin. Hari yang berkah sekali untuk Saya.  Di sana saya bertemu dengan seorang editor Radar Banjar Peduli, Retno Sulisetiyani. Di akhir kajian tersebut, beliau bercerita tentang diadakannya program Relawan Menulis dan sedang membuka rekrutmen untuk angkatan kedua. “Relawan menulis itu adalah kesempatan yang kami buka untuk magang sebagai reporter dan belajar jurnalistik humanis,” ucap Kak Eno, begitu sapaan saya ke beliau. Saya yang mendengarkan dengan seksama langsung tertarik dan ingin segera mendaftar.

“Kalau tertarik langsung saja kita mulai programnya minggu depan ya. Dan ini diberlakukan untuk 2 orang saja setiap angkatan. Nanti kamu dapat sertifikat bahwa pernah magang disini sebagai bukti dan penghargaan dari kami,” ungkapnya kala itu.

Program yang diadakan oleh Radar Banjar Peduli ini menurut Saya sangat bermanfaat sekali untuk para anak muda yang ingin mengembangkan skill komunikasinya dengan baik. Khususnya untuk para mahasiwa. Mencari aktifitas dan belajar tidak hanya dilakukan di dalam kampus,  di luar kampus pun juga harus dilakukan. Dengan begitu, kita tidak cuman hanya berstatus mahasiswa yang biasa saja, namun mahasiswa yang bisa menjadi pelopor perubahan untuk bangsa ini.

Pengalaman magang menjadi reporter ini sungguh tidak terduga sebelumnya. Saya tidak menyangka bisa terjun langsung ke lapangan berstatus sebagai reporter dari Radar Banjar Peduli. Hal ini sangat membanggakan bagi diri Saya sendiri.

Alhamdulillah, Saya sangat bersyukur  bisa dipertemukan dengan orang-orang hebat di Radar Banjar Peduli sehingga lebih memotivasi Saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan belajar bekerja sama dengan tim dalam membuat berita.

Banyak suka duka yang Saya dapatkan selama meliput berita di lapangan, sukanya adalah Saya bisa bertemu dengan orang orang hebat dari berbagai kalangan, dari anak sekolah yang mendapatkan beasiswa hingga para profesional yang dapat menginspirasi. Walaupun, banyak pula hambatan – hambatan yang sering membuat kesal. Tapi, disitu lah Saya merasa dilatih untuk lebih sabar menghadapi berbagai karakter narasumber. Akhirnya saya menjadi lebih percaya diri dengan kemampuan diri sendiri. Bahwa Saya bisa meskipun dengan tantangan-tantangan yang berada di depan mata.

Awal tahun 2018 sangat mengesankan sekali bagi saya dan berharap bisa bergabung lagi menjadi bagian tim reporter Radar Banjar Peduli untuk proyek kebaikan-kebaikan selanjutnya. 

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Story Telling, Komitmen Membangun Banua

Kekerasan terhadap anak baik secara fisik maupun psikis semakin hari semakin memprihatinkan. Kepada JawaPos.com, Komisioner KPAI Jasra Putra pernah mengungkapkan data yang menunjukkan bahwa pihaknya menemukan 116 kasus kekerasan seksual anak pada 2017. Di Kota Banjarbaru sendiri ada 9 kasus pelecehan anak yang sedang ditangani pemerintah (P2TP2A).

Anak-anak itu adalah masa depan banua. Juga bangsa. Sepuluh atau duapuluh tahun nanti, di tangan mereka lah nasib bangsa ini ditentukan.

Atas dasar kepedulian terhadap persoalan tersebut, maka RBP bersama Sahabat Kalsel menggalang sebuah gerakan peduli anak. “Tujuan gerakan ini adalah ingin menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak,” ungkap Direktur RBP Dokter Diauddin MKes. “Alhamdulillah ada beberapa komunitas dan professional yang mendukung gerakan ini, yang sudah bergabung ada Kampung Dongeng Intan Kalsel yang dikomandoi Bunda Enik, beberapa mahasiswa, dan seorang psikolog,” ungkapnya.

Kepedulian tersebut diwujudkan dengan kegiatan Story Telling di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. “Kelurahan Palam menjadi sasaran saat ini karena kami melihat area bermain di sana belum banyak sedangkan anak-anak sangat membutuhkannya. Ini juga menjadi bentuk dukungan kami untuk Kota Banjarbaru yang sedang mencanangkan Kelurahan Ramah Anak,” ucap Diauddin.

Retno Sulisetiyani selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa Story Telling adalah wujud nyata dari tekad relawan yang tidak ingin berhenti pada level simpati. “Kami ingin bergerak menjadi solusi bagi banua dan bangsa,” ucapnya. “Setiap Minggu Sore kami mengumpulkan puluhan anak-anak untuk bermain bersama dan menikmati story telling dari para relawan,” imbuh perempuan yang akrab disapa Eno itu.

Komitmen itu rupanya tidak main-main. Buktinya, hingga Minggu (7/1) yang lalu, sudah kali ketiga kegiatan berlangsung. Bahkan, kini sudah ada Story Telling edisi spesial. Rencananya, Senin (15/1)  besok Bunda Enik akan menghibur 84 anak di TK Nurul Hikmah Kelurahan Palam. “Harapan kami langkah-langkah kecil itu bisa mewujudkan asa kita semua terhadap anak-anak bangsa. Asa bahwa mereka masih punya banyak cinta. Sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang menjadi pemimpin harapan yang berakhlak mulia,” pungkas Eno. 

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani