Monthly ArchiveFebruari 2018

Byadmin

Warga Banua Turut Layarkan Kapal Kemanusiaan Palestina

Keputusan sepihak terkait pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem atau Al-Quds pada akhir Desember lalu, meruncingkan kembali krisis kemanusiaan di Palestina. Ikhtiar bangsa Indonesia untuk membantu perjuangan rakyat Palestina pun berlanjut.

Melibatkan seluruh elemen bangsa Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali melayarkan Kapal Kemanusiaan. Kali ini, 10 ribu ton beras dikirim secara bertahap menuju Palestina. Kapal Kemanusiaan Palestina resmi lepas jangkar dari Terminal Petikemas Surabaya, Rabu (21/2).

Seremoni pelepasan Kapal Kemanusiaan untuk Palestina dihadiri oleh Presiden Aksi Cepat Tanggap Ahyudin, Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian Luar Negeri RI Salman Al Farisi SE. Pelepasan tersebut ditandai dengan penekanan tombol sirine sebagai simbolis pelayaran Kapal Kemanusiaan.

Berlayarnya Kapal Kemanusiaan menandakan besarnya kepedulian bangsa Indonesia dalam merespons krisis kemanusiaan yang menimpa masyarakat Palestina. Hal ini disampaikan oleh Ahyudin, disela seremoni pelepasan Kapal Kemanusiaan Palestina.

“Apa yang kita berikan untuk Palestina, memperlihatkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang baik. Kita tidak akan kekurangan narasi kebaikan. Bangsa ini tak boleh sepi dari ikhtiar-ikhtiar kebaikan untuk kehidupan,” ujar Ahyudin, Rabu (21/2).

Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina juga disampaikan oleh Salman Al Farisi. Salman menegaskan bahwa, Palestina adalah prioritas, Palestina adalah jantung dan napas politik luar negeri Indonesia.

“Di sini, di Surabaya tahun 1945, Arek Suroboyo berjuang menyelamatkan Kemerdekaan Indonesia. Saat ini, 73 tahun setelahnya, juga dari Surabaya, kolaborasi masyarakat penggerak kemananusiaan dan Pemerintah Indonesia mengirimkan 2.000 ton beras tahap pertama untuk membantu kemerdekaan Palestina,” kata Salman berbicara mewakili Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi.

Ribuan ton beras yang dilayarkan menuju Palestina dihimpun dari beberapa kabupaten yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejumlah kabupaten tersebut di antaranya Bojonegoro, Ponorogo, Ngawi, Sragen, Purwodadi, Rembang, dan Blora. Proses pengumpulan beras ini telah dimulai sejak panen raya Awal Februari silam.

RBP sebagai perwakilan ACT di banua juga telah menyalurkan amanah donasi kemanusiaan untuk Palestina, Senin (19/2) yang lalu. Secara simbolis diserahkan langsung oleh Pembina RBP yang juga Walikota Banjarmasin Ibnu Sina di kediaman pada Rabu (21/10) kepada perwakilan ACT, yaitu Ruli Renata dan Cipto Sugiarto.

Kapal Kemanusiaan Palestina yang mulai berlayar pada Rabu (21/2) akan menempuh perjalanan laut sejauh 9.270 kilometer atau sekitar 40 hari. Sama seperti Kapal Kemanusiaan Somalia dan Rohingya sebelumnya, pengiriman beras ke Palestina melalui kapal laut ini terlaksana atas kerja sama ACT dengan PT Samudera Indonesia.

Insya Allah, dalam kurun waktu 40 hari, Kapal Kemanusiaan akan tiba di Palestina. Ribuan ton beras akan menyapa pemiliknya, warga Palestina yang telah dirundung krisis kemanusiaan selama lebih dari lima dekade. Bantuan beras yang merupakan amanah rakyat Indonesia yang besar ini menjadi bukti nyata bagaimana empati bangsa akan selalu ada untuk Palestina.

Sumber : ACTNews

Byadmin

Terima Kasih RBP dan Patelki

MARTAPURA – Musibah puting beliung disertai hujan lebat menyisakan kerusakan bagi  Madrasah Bangun Jaya, Desa Pesayangan  Timur. Pasca bencana, sekolah ini sempat meliburkan santri selama 5 hari, dan memperbaiki kerusakan dengan material utangan.

Satu yang dipuji, kepekaan masyarakat, orang tua santri, relawan, serta alumni sangat besar. Sumbangan datang dari pihak yang tidak disangka-sangka. Target 10 hari libur sekolah langsung dipangkas setengahnya, sehingga pelajar kembali menuntut ilmu. Sekolah mengerahkan puluhan tukang dan material dipinjam dari toko bangunan.

Atap dan plafon madrasah berlantai 3 itu pun langsung diperbaiki dengan cepat, sedangkan 10 kelas yang sempat rusak kembali dipergunakan kendati masih darurat. Sisa-sisa musibah itu tetap terasa, ruang kelas berantakan dan berair, barang yang berhasil diselamatkan menumpuk di ruang kepala sekolah. Sedangkan karpet yang kotor dan basah harus laundry, ongkosnya sangat mahal.

“Alhamdulillah, ada yang menjamin jadi kami bisa berutang ke toko bangunan. Cuma tukang harus bayar kontan. Di awal perbaikan sampai 20-an tukang, sekarang sisa 5 orang,” kata Kepala Sekolah Madrasah Bangun Jaya KH Hamdani, baru-baru tadi.

Guru Hamdani mengucapkan terima kasih kepada relawan dan semua kalangan yang memberikan bantuan memperbaiki madrasah tersebut. Terutama kepada Radar Banjar Peduli (RBP) dan Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (Patelki) Kalsel, Banjar, dan Banjarbaru yang kemarin (19/2) siang bertandang sekaligus membawa sumbangan. Donasi-donasi tanpa syarat tersebut sangat dibutuhkan bagi kelangsungan perbaikan madrasah.

Ketua DPW Patelki Kalsel H Haitami menyatakan, penyaluran bantuan peduli puting beliung di Martapura tersebut berasal dari anggota Patelki dan RBP. Ia berharap, donasi sebesar Rp13 juta meringankan sekaligus membantu mempercepat perbaikan sarana dan prasarana Madrasah Bangun Jaya.(mam/by/ran)

Sumber : Radar Banjarmasin edisi 21 Februari 2018

Penulis : M.Amin/Radar Banjarmasin

Byadmin

Tiga Putra Banua Bersaing dalam Seleksi Beasiswa Nasional

Radar Banjar Peduli (RBP) kembali melaksanakan Seleksi Beasiswa Nasional (SNB) SMART Ekselensia Indonesia. SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah jenjang SMP dan SMA yang bebas biaya. Program ini diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi di seluruh Indonesia.

Pendaftaran untuk SMART Ekselensia Indonesia sendiri sudah dibuka sejak Oktober tahun lalu. “Dari seleksi administrasi telah terjaring tiga putra Kalimantan Selatan untuk mengikuti tes tertulis,” jelas Achmad Ridho Indra selaku penanggungjawab program.

Sabtu (17/2) kemarin bertempat di Gedung Biru Radar Banjarmasin, ketiga peserta mengikuti seleksi tes tertulis. Trio Bagus Mulyono, Sanjo dan Sandy Firdaus bersaing untuk mendapatkan kesempatan untuk meraih beasiswa bergengsi tersebut. Mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu dan berprestasi di sekolah masing masing.

“Sudah belajar sebelumnya, pertanyaannya ada yang gampang ada yang susah,” ucap Trio yang merupakan siswa SDN 2 Siayuh, Kabupaten Kotabaru tersebut.

Sedangkan dua teman Trio dalam seleksi ini, masing-masing berasal dari Kandangan dan Tambarangan (Tapin). Mereka memiliki peluang yang sama dalam seleksi ini. Bahkan bisa jadi ketiga-tiganya bisa lolos. Karena secara nasional akan dipilih 40 anak dalam satu angkatan.

Anak anak yang lolos seleksi nantinya akan bersekolah di Bogor. Meski jauh dari kampung halaman tetapi tidak membuat para wali yang mendampingi mereka menjadi takut untuk melepas anaknya jika lolos seleksi nantinya.

“Sepanjang melepas anak dengan tujuan yang baik tidak ada masalah. Sekarang zaman sudah canggih, kirim duit bisa dari tempat jauh, tanya kabar juga sudah lebih mudah,” tutur Sulistiono, ayah dari Trio.

Bagi Sulis, begitu sapaannya, ajang beasiswa ini sudah dinanti sejak setahun yang lalu. Baginya, selain akan mendapat pendidikan yang baik, beban keluarga juga akan berkurang karena tak ada biaya sekolah yang akan ditanggung kedepannya.

“Anak saya yang lain sekarang sudah kelas 9, mau masuk sekolah baru juga nantinya, semoga si bungsu ini (Trio) dapat beasiswa,” harapnya.

Achmad Ridho Indra berharap tahun ini Kalsel dapat kembali mengirim putra terbaiknya. “Hingga tahun kemarin total saat ini sudah 14 anak asal Kalsel yang sudah mengenyam pendidikan di Bogor dan yang masih bersekolah ada 5 anak,” ucapnya.

Penulis : Wahyu Aji Saputra

Editor : Retno/Budian Noor

Byadmin

Yuk Bergembira Bersama Kado Ceria

Pagi itu, Minggu (18/2), langit tampak gelap. Kota Martapura sempat diguyur hujan. Namun ternyata hal itu tidak menyurutkan semangat 52 anak untuk mengikuti program Kampung Dongeng (Kado) Ceria. Anak-anak itu tidak hanya berasal dari Martapura dan Banjarbaru, tapi juga ada yang dari Banjarmasin. Mulai anak usia 5 tahun hingga 10 tahun. Semua berkumpul di satu tempat, markas Kado Intan Kalsel.

Founder Kado Intan Enik Mintarsih yang biasa disapa Bunda Enik menjelaskan jika kegiatan Kado Ceria ini dilaksanakan sekali dalam sebulan. “Alhamdullilah anak-anak selalu ramai berdatangan dan mengalami peningkatan setiap bulannya” ungkapnya.

Dalam setiap kegiatannya, sebelum acara dimulai, Bunda Enik selalu mengajarkan kerapian diri. Bunda Enik menyuruh anak-anak untuk merapikan alas kakinya sebelum kegiatan mendongeng dimulai. Anak-anak begitu antusias mengikuti perintah dari Bunda Enik tersebut.

“Nilai karakter paling utama yang harus kita tanamkan sejak dini contohnya dengan menyuruh anak-anak untuk merapikan alas kakinya tersebut, secara tidak sadar anak-anak akan mulai terbiasa untuk disiplin,” kata Bunda Enik.
Setelah itu Bunda Enik mengajak satu anak untuk memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil berdiri. Dengan lantang dan semangatnya mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Sebelum kegiatan utama yaitu mendongeng, Bunda Enik dengan pembawaan yang ceria juga mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu baby shark. Dengan antusiasime yang tinggi anak-anak menari dan menyanyi mengikuti alunan masik.

Dongeng sendiri saat itu dibawakan oleh relawan dari Banjarmasin yang bernama Nia. Dengan wajah saksama anak-anak mendengarkan dongeng, sesekali mereka ketawa karena lucunya cerita Cika (boneka tangan milik Nia).

Melalui dongeng, Nia mengajarkan untuk menjadi pendengar yang baik dan berbakti kepada orang tua.

“Kami ingin menanamkan budaya membaca sejak dini, kreativitas, kekompakkan tim, bekerja sama dan yang paling penting ayo anak-anak Indonesia kita bergembira bersama,” seru bunda Enik.

Bunda Enik pun menjelaskan terdapat manfaat psikologis yang diterima oleh anak. Anak-anak yang awalnya di rumah merasa tidak mood dapat bersenang-senang sehingga melupakan masalahnya. Kegiatan ini juga dapat digunakan untuk “Trauma Healing”.

Salah seorang anak, Defa, mengaku merasa senang, seru dan dapat teman baru dengan hadir di kegiatan kampung dongeng ceria.

Selain itu, Alwi selaku orang tua salah satu anak merasa anaknya antusias sekali. Alwi menjelaskan anaknya yang bernama Nia kelas 2 SD termasuk tipe anak yang malu-malu namun setelah mengikuti acara serupa di Museum Lambung Mangkurat, anaknya mulai percaya diri. Nia sendiri pada kegiatan itu berani tampil ke depan teman-temannya untuk membaca doa makan.

Penulis: Eggy

editor: Retno Sulisetiyani

foto: Eggy

Byadmin

Dukung Program Pemerintah, Bina Kesehatan Desa Wisata

Mengikuti Pengabdian Masyarakat Mitra Peduli; Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Poltekkes Kemenkes Banjarmasin kembali menunjukkan peran sertanya dalam peningkatan pelayanan kesehatan. Tidak hanya mendidik calon tenaga kesehatan berkompeten saja, melaksanakan pangabdian masyarakat juga telah menjadi program yang setiap tahun dilaksanakan. Pengabdian masyarakat tahun ini dilaksanakan di Desa Biih, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Desa Biih sendiri terkenal dengan wisata duriannya. Selain untuk mengangkat wisata desa tersebut, kegiatan ini dimaksudkan untuk membina warga setempat untuk lebih sadar akan kesehatan. Baik itu kesehatan dari diri sendiri maupun lingkungan tempat mereka tinggal.

Ketua Pelaksana kegiatan Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd menyebutkan bahwa masalah yang mereka temukan di Desa Biih berhubungan dengan kesehatan lingkungan. “Masih kurangnya gorong-gorong sebagai saluran pembuangan limbah menjadi masalah di desa ini,” terangnya. Selain itu, imbuhnya, kesadaran warga yang masih kurang mengenai pentingnya kesehatan lingkungan menyebabkan beberapa faktor gangguan kesehatan lainnya.

“Akhirnya pendekatan yang kami lakukan adalah pendekatan keluarga. Jadi, kami membina mulai dari keluarga terlebih dahulu tentang masalah kesehatannya,” jelas staff pengajar Poltekkes Kemenkes Banjarmasin jurusan Kesehatan Gigi itu.

Waljuni, begitu sapaannya, lebih lanjut menerangkan bahwa masalah-masalah yang sudah diketahui akan menjadi prioritas untuk ditangani lebih lanjut. “Harapan kami bisa membangun desa dengan standar kesehatan yang baik dan benar, tentu dengan enam indicator sesuai jurusan yang ada di Poltekkes Banjarmasin,” ujarnya.

Waljuni menilai sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Desa Bi’ih sendiri sudah cukup baik. “Pelayanan masih terbatas untuk golongan lansia saja, sedangkan untuk bayi dan balita masih kurang,” ungkapnya.

Menurut Abdul Malik selaku Kepala Desa Biih, kegiatan pengabdian yang dilakukan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin bermanfaat sekali. “Kami berharap program terus berlanjut sehingga masalah kesehatan dapat dikurangi sekaligus dicegah untuk ke depannya,” ucapnya.

Pengabdian masyarakat yang bertajuk Praktek IPE IPC itu dilaksanakan sejak Sabtu (10/2) hingga Minggu (11/2) tadi. Para mahasiswa menginap di desa dan membentuk kelompok yang didalamnya terdapat enam jurusan yaitu keperawatan, gizi, analis, lingkungan, gigi, dan kebidanan. Pembinaan kesehatan komprehensif. Demikian kira-kira tujuan dari sebaran kelompok-kelompok tersebut.

Minggunya, dilaksanakan layanan kesehatan gratis massal dari enam jurusan. Mulai dari konsutasi gizi, pemeriksaan gigi, cek gula darah, konsultasi kesehatan lingkungan serta pemeriksaan tekanan darah. Kegiatan yang dilaksanakan tepat di area wisata durian terlihat begitu ramai oleh warga yang berbondong bondong ingin memeriksakan kesehatannya. Mulai dari kakek nenek hingga anak-anak begitu antusias untuk mendatangi stand-stand layanan yang telah disediakan.

“Terima kasih atas kepedulian Poltekkes Banjarmasin, semoga warga kami makin sadar akan pentingnya kesehatan,” ucap Abdul Malik mewakili para warga Desa Biih.

Penulis : Wahyu Aji Saputra

Editor: Retno Sulisetiyani

Foto by Wahyu AS

Byadmin

Banua For Palestina; Krisis Listrik, Bencana Kemanusiaan yang Melanda Gaza

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) sempat memperingatkan, bencana kemanusiaan mengancam Gaza dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (6/2), setelah dampak krisis listrik kian meluas di Jalur Gaza. Namun demikian, bagi para pasien, dokter, dan staf medis di puluhan fasilitas kesehatan (rumah sakit dan klinik) di Gaza, “bencana kemanusiaan” itu benar-benar sedang terjadi.

Sejumlah dokter mengutarakan kekhawatiran mereka akan kondisi yang terus memburuk di rumah sakit tempat mereka bekerja. Kekhawatiran tersebut terekam dalam sebuah video yang dikirimkan oleh mitra Aksi Cepat Tanggap, Rabu (7/2).

Hingga pertengahan Februari ini, pasokan listrik yang mengaliri puluhan pusat layanan kesehatan di Gaza kian menurun. Hal ini menyulitkan tim dokter di rumah sakit besar untuk melakukan kegiatan medis vital seperti operasi terhadap pasien.

“Sebagian besar pasien tidak bisa kami operasi karena minimnya suplai listrik untuk menghidupkan alat-alat operasi. Karena penanganan yang lambat ini, kami kehilangan banyak jiwa. Gaza benar-benar sekarat,” ungkap salah satu dokter.

Salah satu dampak ini amat dirasakan pasien yang mengalami gagal ginjal. Organisasi Hak Asasi Manusia di Palestina, Al-Haq, menyebutkan, krisis listrik yang terus memburuk mengancam 400 pasien gagal ginjal di Jalur Gaza.

“Sejumlah rumah sakit di Gaza saat ini tidak mampu menjalankan 200 operasi per harinya. Hal ini karena rusaknya kualitas darah yang disimpan dalam ruangan penyimpanan darah hasil donor. Ini akibat minimnya pasokan listrik di Gaza,” terang Al-Haq dalam rilisnya, Senin (5/2).

Sementara itu, di RS Anak al-Nasr, nasib puluhan pasien anak di unit perawatan intensif rumah sakit tersebut juga kian krisis. Kepala Unit Perawatan Intensif dr. Raed Mahdi mengatakan, jumlah pasien anak di sana terus meningkat seiring banyaknya pemindahan pasien dari rumah sakit atau klinik yang telah kehabisan listrik. Kondisi ini berbanding terbalik dengan terbatasnya jumlah staf medis dan suplai obat-obatan di rumah sakit tersebut.

Rakyat Gaza bergerak, menyuarakan kekhawatiran mereka atas krisis listrik yang semakin memburuk. Dokter-dokter bersatu menyerukan “Selamatkan Gaza”. Awal pekan kedua Februari, seruan serupa juga datang dari puluhan pasien disabilitas di Gaza. Di depan gerbang RS Beit Hanoun yang kini telah tutup, puluhan penyandang disabilitas menyuarakan keresahannya tentang sulitnya mendapatkan perawatan medis akibat minimnya listrik.

“Ini seruan terakhir, Gaza benar-benar sekarat. Kami mengajak insan dunia, siapa saja, untuk membantu pasien-pasien di sini dari ancaman kematian,” ungkap seorang dokter di rumah sakit yang ada di Gaza.

Beberapa hari lalu, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan ancaman pemberhentian operasional melanda 19 fasilitas medis di Gaza. Generator darurat di 16 klinik dan 3 rumah sakit tersebut telah kehabisan bahan bakar seiring ketatnya blokade Israel di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan dalam pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa (6/2).

Sebelumnya, tujuh rumah sakit di Gaza tidak lagi mendapatkan suplai listrik pada akhir Januari lalu. Peralatan medis yang hanya bisa berfungsi dengan daya listrik itu pun mati total. Tak banyak yang dapat dilakukan oleh pengelola rumah sakit selain memindahkan pasiennya ke rumah sakit lain yang masih beroperasi. Baik dokter dan staf medis juga turut diberhentikan masa kerjanya. Akibatnya, ketujuh rumah sakit tersebut resmi tutup awal Februari silam. (act)

 

Byadmin

Puluhan Guru Serbu Kampung Dongeng Intan

Sabtu (17/2) kemarin, halaman markas Kampung Dongeng Intan Kalsel di Jl Kampung Baru Martapura dipadati oleh puluhan guru-guru paud. Sebanyak 65 orang guru yang tergabung dalam Gugus Paud Kemuning Kecamatan Banjarmasin Timur tampak riuh berkumpul.

Enik Mintarsih selaku tuan rumah tampak kaget sekaligus senang. “Nggak nyangka serame ini. Senang sekali dikunjungi,” ujarnya.

Kedatangan Gugus Paud Kemuning bukan tanpa alasan. Mereka berkunjung untuk menambah wawasan tentang dongeng dan membuat alat peraga dongeng yg mudah dan menarik agar anak anak menjadi lebih tertarik.

Enik Mintarsih yang lebih dikenal dengan panggilan Bunda Enik memberikan motivasi kepada para guru tersebut agar lebih kreatif agar pembelajaran berjalan maksimal.

“Saya mengajari mereka membuat alat peraga dongeng yang menyenangkan, lagu-lagu penambah semangat, senam anak, dan sulap,” ucap Bunda Enik.

Menjadikan Kampung Dongeng Intan Kalsel sebagai tempat belajar menunjukan bahwa gerakan mendongeng sudah diterima oleh banyak kalangan di Kalsel. Padahal, menurut Bunda Enik, empat tahun lalu saat merintis komunitas Ia mengalami hambatan besar dari lingkungan.

“Alhamdulillah kini dongeng kembali jadi aktivitas yang diminati. Semoga para orang tua mau membiasakan mendongeng di rumah untuk anak-anaknya,” pungkas Enik.

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor: Retno Sulisetiyani

Foto : koleksi Kampung Dongeng Intan Kalsel

Byadmin

Mitra Peduli – Paud Mutiara, 12 Tahun Berkiprah Mendidik Generasi

Kepala Sekolah Paud Mutiara Nurhayati SPd AUD menilai bahwa perilaku tak lazim yang ditunjukkan oleh anak-anak merupakan akibat dari tidak adanya penanaman pembiasaan positif sejak usia dini. Seperti yang baru-baru ini ramai diberitakan, yaitu seorang murid yang tega memukul gurunya hingga meninggal dunia. Atau seorang murid yang berani memaki gurunya, bahkan menantang untuk berduel. “Sungguh miris rasanya. Namun semua itu bukan kesalahan si anak tentunya. Keluarga, masyarakat dan lingkungan punya andil besar dalam membangun karakter anak,”ujar Nurhayati yang ditemui di tengah-tengah acara milad Paud Mutiara.

Sabtu (10/2) kemarin Paud Mutiara memang sedang merayakan miladnya yang ke 12. Nurhayati menyampaikan bahwa dalam momentum 12 tahun Paud Mutiara ini ingin kembali mengingatkan betapa pentingnya pembiasaan positif sejak usia dini. “Peran pengasuhan adalah tanggungjawab keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Maka marilah kita bergandengan tangan menyelaraskan pola asuh untuk anak-anak kita,” ujarnya.

Menurut Nurhayati yang juga merupakan Ketua Himpaudi Kota Banjarbaru itu, terjadi salah kaprah pengasuhan anak-anak usia dini. “Banyak yang berpikiran bahwa budaya pola asuh zaman dulu masih relevan digunakan zaman sekarang. Namun coba kita lihat, bangsa ini masih membutuhkan KPK untuk memberantas korupsi. Itu satu contoh saja,” ucap Ibu dari dua anak itu yang kerap disapa Bunda Nur.

Bunda Nur menekankan bahwa jika bisa kita tumbuhkan karakter positif sejak dini, maka Ia yakin bangsa ini akan menjadi Negara beradab yang maju. “Kalau bisa dicegah kan lebih baik,” imbuhnya.

Dalam membuktikan komitmennya terhadap dunia pendidikan anak usia dini, Paud Mutiara secara rutin menggelar kegiatan seminar parenting untuk para orang tua dan masyarakat. Khusus milad ke 12 kemarin, dihadirkan Widyawati SPd sebagai narasumber.

Widyawati yang juga telah lama berkiprah di dunia Paud menyampaikan tentang pola asuh yang penting diketahui para orang tua. “Biasakan pagi hari memberikan senyuman pada anak, datarkan suara saat bicara, tidak perlu marah, dan bicaralah yang santun,” ujarnya di hadapan puluhan guru dan orang tua yang hadir.

Menurut Widyawati, orang tua itu bukan hanya ayah dan ibu. Namun ada kakek, nenek, kakak, adik, dan lingkungan masyarakat. “Kita harus bekerjasama dalam memfasilitasi anak-anak usia dini melewati usia kritis, yaitu usia nol sampai lima tahun atau golden age,” ucapnya.

Para orang tua yang hadir terlihat antusias menyimak paparan Widyawati. Salah satunya Endang, warga Jalan Golf Landasan Ulin, yang duduk bersama putrinya, Nanas (4,5 tahun). “Kegiatan seperti ini sangat membantu saya dalam mendidik anak-anak di rumah. Meski kadang-kadang saya masih kurang sabar,” akunya seraya tertawa malu. “Nanas di rumah sering bantu saya cuci piring. Pembiasaan ini lah yang saya lihat sangat ditanamkan di Paud Mutiara,” ucap guru SMPN 4 Banjarbaru itu. Kepercayaan Endang dibuktikan dengan menyekolahkan kedua anaknya di Paud Mutiara.

Sebelumnya, perayaan milad ke 12 Paud Mutiara juga diramaikan dengan lomba-lomba yaitu lomba microteaching untuk guru-guru dan lomba fashion show pakaian daur ulang untuk para murid. Keseruan dan kebersamaan terasa dari suasana kekeluargaan yang dihadirkan. Mewakili Paud Mutiara, Bunda Nur menyampaikan ucapan terima kasih kepada komite sekolah, stakeholder, pemerintah, dan masyarakat atas semua dukungan yang telah diberikan selama ini. “Seperti manusia, kami sedang menginjak usia remaja, maka masih butuh motivasi dan dorongan agar bisa lebih baik dalam memberikan kontribusi positif untuk bangsa,” pungkasnya.

Seperti harapan Bunda Nur, sekiranya begitulah harapan kita semua.

penulis: retno sulisetiyani

editor: retno sulisetiyani