Monthly ArchiveMaret 2018

Byadmin

Di Kampung Per, Geni Lahap Sekali Makan Nasi

Kalau berjalan lebih cepat, suara tapak kaki jadi makin nyaring di kampung ini, Kampung Per. Kaki bocah-bocah Asmat yang berlarian mengeluarkan bunyi gemeretak. Seluruh jalan utama masih berupa papan-papan kayu yang dibikin dan disusun sekitar beberapa dekade lalu. Papan kayu dibuat menjadi jalan layang yang terpacak di atas tanah rawa berlumpur, tanah yang menjadi ciri khas Kabupaten Asmat.

Berjalan di beberapa ruas gang kampung, papan kayu sudah mulai reyot, retak, bahkan patah, menghilang, dan bolong. Papan bakal berbunyi nyaring kalau ditapaki, apalagi sembari diinjak oleh kaki-kaki anak Kampung Per yang berlarian.

Walau Kampung Per masih termasuk bagian dari Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, lokasinya terpisah cukup jauh. Sekira dua jam perjalanan laut dengan longboat sarat muatan. Kalau cuaca buruk, atau laut surut sudah bisa dipastikan akses ke Kampung Per tak bakal bisa ditempuh.

Tim ACT (Aksi Cepat Tanggap, lembaga mitra nasional RBP), sempat singgah sejenak di Kampung Per, Ahad (11/2) lalu. Menapaki tiap-tiap ruas jalan papan, menyapa bocah-bocah Kampung Per. Di satu sudut kampung, di depan rumah, seorang bocah kecil sedang lahap memegang sendok di depan piring hijau. Di atas piring hanya ada nasi putih, tanpa lauk, tanpa rasa.

“Namanya Geni Siso, umurnya 4 tahun. Anak ini kalau ada nasi pasti maunya hanya makan nasi saja. Tidak pakai lauk. Geni suka sekali nasi,” kata Laurensius, Paman Geni menyapa kami di depan rumah.

Paman Geni mengatakan, beras yang dimakan oleh keponakannya adalah beras yang baru saja dibagikan oleh ketua kampung di Rumah Bujang.

“Tadi siang, ada bantuan beras dari Agats 20 karung beras. Dibagikan langsung merata di Rumah Bujang. Mama Geni langsung menanak nasi ini untuk Geni makan,” kata si paman.

Rupanya betul tebakan kami, nasi putih yang sedang dimakan Geni adalah beras Kapal Kemanusiaan Papua yang memang baru saja dikirimkan untuk Kampung Per.

“Dari Agats, sebelum Tim ACT datang untuk singgah sejenak, satu kapal longboat sudah berjalan mengangkut 20 karung beras setara 500 kg untuk Kampung Per. Beras langsung dibagikan oleh Ketua Kampung di Rumah Bujang, rumah adat Asmat,” ujar Diding Fachruddin, Koordinator Tim ACT untuk distribusi bantuan beras Kapal Kemanusiaan Papua.

Setiap sendokan nasi yang dimakan Geni, betul-betul dinikmati oleh balita itu. Ia menyuap nasi hangat itu dengan lahap, tak peduli dengan kondisi tubuh mungilnya yang tidak berbusana. Kata pamannya, Geni memang suka tidak pakai pakaian. Geni juga lebih suka mandi di sungai lumpur. Mama Geni setiap sore selalu ke sungai untuk mencari ikan, sementara sang Ayah sudah tiada sejak Geni masih bayi.

“Baru seminggu lalu saya lari ke puskesmas bawa Geni. Badannya panas tinggi. Kata suster di Puskesmas, Geni kena Malaria,” ungkap Laurensius.

Sejak akhir Januari kemarin, krisis kesehatan berupa gizi buruk dan malaria juga merebak di Kampung Per. Bahkan, angka malaria melejit. Jumlah pasien anak positif malaria sampai puluhan hanya dalam dua pekan terakhir.

“Dua minggu ini ini kami tidak bisa tidur. Sepanjang malam, jam 1 dini hari, jam 4 subuh, jam berapapun di malam hari ada saja warga bawa anaknya panas tinggi ke puskesmas. Semua kena malaria,” cerita Hendrikus Hermin, perawat di Puskesmas Pembantu Kampung Per, Distrik Agats.

Hendrikus mencatat, sejak tanggal 27 Januari lalu tak kurang 36 anak di Kampung Per positif terkena malaria.

“Bahkan, seorang perawat perempuan kawan saya di Puskesmas Kampung Per ini sedang terbaring lemas, juga positif kena malaria. Selain itu ada 2 anak lain kena gizi buruk, dan puluhan anak-anak lain masuk kategori gizi kurang,” kata Hendrikus.

Dua pekan terakhir, malaria memang menjadi teror di Kampung Per. Geni menjadi salah satu bocah yang terpapar malaria. “Tapi, Geni kini perlahan sudah sembuh. Geni sempat dirujuk sementara ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats. Beberapa hari perawatan intensif, sampai akhirnya Geni dibolehkan pulang,” ujar Hendrikus.

Di ujung sore, Tim ACT duduk di teras rumah papan, menemani Geni yang masih lahap menghabiskan sepiring nasi putih. Bocah Asmat dari Kampung Per itu memang masih sedikit menyembunyikan senyumnya. Tapi, setelah sembuh dari malaria, Geni sudah mulai membaik. Gizi dari sepiring nasi, meski tak lengkap, tetap membantu Geni untuk pulih.

“Alhamdulillah, setiap butir beras yang sudah kami mulai distribusikan ke tiap-tiap kampung di Asmat bisa sangat berguna di fase pemulihan. Perbaikan gizi dimulai bertahap. Insya Allah, beriringan dengan dikirimnya beras, akan ada juga distribusi biskuit dan air mineral sampai ke kampung-kampung lainnya di pedalaman Asmat,” papar Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap. (act/rbp)

Byadmin

Cukup Menjadi Manusia untuk Peduli terhadap Warga Ghouta

Sudah tujuh tahun lamanya konflik di Suriah terjadi. Sejak konflik pecah pada 2011 silam, sudah ribuan rakyat sipil yang tewas, ratusan orang yang alami cacat permanen akibat bom, dan ribuan orang terkatung-katung di pengungsian. Hingga kini, tragedi kemanusiaan ini belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Tidak ada yang menyangka bahwa konflik yang berawal dari aksi unjuk rasa secara damai pada Arab Spring 2011 tersebut berujung tragedi kemanusiaan selama bertahun-tahun. Konflik semakin pelik karena sudah banyak yang ikut terlibat di dalamnya. Tidak hanya vis to vis antara rezim dengan kaum oposisi saja, namun juga berbagai kepentingan luar yang turut berintevensi.

Eskalasi konflik kembali memuncak pada dua pekan kemarin. Ahad (18/2), serangan bombardir dari pesawat jet tempur rezim terus menerus menggempur Ghouta Timur. Mereka menyasar rumah warga, hingga fasilitas umum lainnya seperti masjid, rumah sakit, sekolah, dan bangunan lainnya.  Sekitar 500 jiwa tewas, lebih dari 120 di antaranya adalah anak-anak. Serangan ini dinilai berbagai kalangan sebagai kondisi perang terburuk di Suriah, bahkan melebihi Aleppo pada 2016 lalu.

Masyarakat dunia pun mengecam pembantaian warga sipil di Ghouta Timur. Namun kecaman tersebut belum bisa menghentikan tragedi kemanusiaan di Bumi Syam itu.

Menurut N.Imam Akbari selaku Senior Vice President ACT, lembaga perdamaian dunia seperti PBB bahkan masih belum mampu menghentikan serangan terhadap warga sipil di sana.

“PBB hanya menghimbau, belum ada tindakan yang bisa mengkondisikan konflik berdarah ini berhenti. Bayangkan lembaga sekaliber PBB yang anggotanya terdiri dari ratusan negara dan merupakan representasi dari masyarakat dunia, yang sebenarnya bisa melakukan banyak hal, belum bisa berbuat banyak,” ungkap Imam.

Menanggapi fakta tragedi kemanusiaan tersebut, Imam menambahkan, sudah saatnya umat manusia bersatu memberikan solusi nyata untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Suriah. Tidak hanya umat Islam, namun seluruh umat. Sebab menurutnya, cukup menjadi manusia, untuk mempunyai empati dan peduli  terhadap warga Ghouta Timur, Suriah.

“Melalui tim kemanusiaan kami, yaitu Tim SOS for Syria XIV, ACT siap menjembatani kepedulian dari berbagai elemen untuk membantu warga Suriah, korban konflik berdarah,” pungkasnya. (act-rbp)

Byadmin

Responsif

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh. Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.

Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.

Bagaimana dengan mereka yang tidak terkena musibah atau bencana? Kecepatan yang diimbangi profesionalisme dalam merespon segala sesuatu merupakan investasi terbaik untuk meraih segalanya. Sebutlah, tindakan penyelamatan dan mengatasi dampak buruk bencana, meraih kepercayaan (tsiqoh) masyarakat dan donor, bahkan kecintaan (mahabbah) dari Allah Swt.

Sekaligus membuktikan bahwa sedekah terbaik adalah sedekah yang diberikan saat hati terbetik untuk memberikan sedekah. Amal terbaik adalah amal yang disegerakan, maknanya adalah “kecepatan”.

Dalam hal lain, shalat terbaik adalah shalat yang disegerakan saat tiba waktunya. Mu’amalah terbaik adalah ketika seseorang menyegerakan membayar hutangnya. Berlomba lebih cepat memberi salam kepada saudaranya merupakan sebuah keutamaan. Bangun malam lebih cepat (awal) untuk bersujud bermunajat kepada Allah Swt lebih baik. Membuat masyarakat korban bencana lebih cepat bahagia itu juga lebih baik.

Karenanya, lebih cepat beramal, lebih cepat bekerja, lebih cepat menjalankan program berarti lebih cepat mengatasi masalah, lebih cepat menuai keberhasilan, lebih cepat sampai di tujuan, lebih cepat meraih kecintaan Allah Swt, lebih cepat meraih ke-taqwaan, dan  bahkan bisa lebih cepat meraih syurga.

Bekal ruhiyah yang tinggi akan tetap menjaga semangat, komitmen, dan mujahadah. Siap dan terus pelihara niat dan keikhlasan, supaya amal berbuah kemanisan bukan kepahitan. Bekal pikiran yang jernih, cerdas, dan totalitas. Tunjukkan kemampuan menyelesaikan masalah. Siapkan bekal kecerdasan sosial yang prima : empati, simpati, peduli, saling menyemangati, meneguhkan kebersamaan, tak menahan racun dalam hati, tak berprasangka buruk dengan sesama tim, mencemooh, menggunjing, merasa lebih hebat dan merasa lebih berjasa. Jangan ada sensasi pribadi, ujub, berbangga diri. Merusak hati karena menyukai apresiasi orang, dan buang perasaan merasa telah beramal lebih baik.

Bekal profesionalisme manajemen yang baik, bayangkan bahwa kita sedang merancang bangunan amal yang lebih indah dari istana, bekerjalah bagai seorang visioner agar tak cepat bosan, jangan terjebak dengan rutinitas, statis, dan stag.

Bersiap dengan dinamika yang tinggi, jangan apriori dengan perubahan yang cepat. Bekerja dalam tim yang solid. Pahami dan laksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai kewajiban amal masing-masing. Berlombalah karena Allah Swt untuk menjadi yang terbaik. Bekerja dengan rencana, buat target dan berusaha untuk mencapainya. Bicara dengan data dan fakta. Menyelaraskan kehebatan berkata-kata dengan kehebatan meraih hasil kerja. Jangan sekedar membawa angin surga tetapi bawalah surga itu sebagai realita. Pro-aktif, jangan pelit untuk berkomunikasi, jangan pelit berbagi informasi, lakukan supervisi dan evaluasi, dan belajarlah terus tanpa henti guna menyempurnakan amal.

Apa yang menjadi target? Bagi korban bencana, menjadi masyarakat model yang tegar, sabar, mampu mandiri. Masyarakat yang memiliki budaya hidup terhormat dan maju, disipilin, kerja-keras, belajar tanpa henti, gotong-royong, dan peduli. Bagi lembaga, mempunyai basis dukungan publik, mempunyai donor society sebagai modal untuk memperkuat pendanaan program lembaga, menjadi lembaga model di dunia kemanusiaan, khususnya dalam penanganan bencana. Bagi masyarakat dan negara, menghidupkan budaya peduli masyarakat. Donatur mempunyai sarana wisata sosial, masyarakat akan  menjadi subjek kerelawanan. Negara memiliki asset, lembaga sosial dan masyarakat relawan.

Byadmin

Ajak RBP Wujudkan Wakaf Desa

Catatan dari Kunjungan ACT, Lembaga Mitra Radar Banjar Peduli

 

Perwakilan Lembaga kemanusiaan global Aksi Cepat Tanggap (ACT), Branch Network Management Director, Awal Purnama, Jumat (2/3) kemarin berkunjung ke Gedung Biru Radar Banjarmasin untuk bertemu dengan pengurus Radar Banjar Peduli (RBP).
——————————
Dalam kesempatan itu, Awal Purnama, menyampaikan keinginan mereka untuk menghadirkan wakaf desa sebagai solusi permasalahan bangsa. Pihaknya mengajak RBP untuk berkolaborasi. “Sebagai awalan, ACT tengah menggarap program wakaf desa di tanah Papua. Masalah di Papua bukan hanya persoalan gizi buruk, namun ada masalah pendidikan dan budaya yang perlu kita bantu,” ujarnya.
Konsep program wakaf desa, menurutnya akan menjadi program pemberdayaan ekonomi berbasis desa. “Secara bertahap, kami akan mengirim para ahli untuk melatih warga asli Papua,” terangnya.

ACT memang sudah memiliki beberapa program yang akan dibangun di dalam wakaf desa. Diantaranya, lumbung pangan masyarakat, lumbung ternak masyarakat, pendidikan, klinik, pesantren dan masjid. “Kami ingin menunjukkan hebatnya wakaf. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, sudah sepatutnya kita meyakini bahwa wakaf inilah yang dimaksud sebagai amal jariyah. Amalnya akan mengalir terus menerus,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua RBP Saleh mengaku tertarik dengan ide program ACT. Dia menilai pembangunan berbasis desa memang bisa menjadi kunci bagi masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini, termasuk di Banua.

“Warga Kalsel juga banyak berempati untuk tragedi di Asmat. Kita akan menggalang bantuan juga untuk mereka. Dengan harapan ke depan kita bisa membangun juga wakaf desa di Kalimantan Selatan,” ucap Saleh.

Kolaborasi ACT dengan RBP memang sudah lama berjalan. Tentu bukan tanpa alasan. ACT telah membuktikan dedikasinya di dunia kemanusiaan. Serupa dengan kiprah RBP di Banua. Untuk kasus Asmat, ACT telah menurunkan tim medis, mengajarkan warga lokal tentang pola hidup, dan menyediakan stok pangan berupa beras sebanyak 100 ton. “Kemitraan menjadi semangat kami untuk bekerja sama. Karena gaung kemanusiaan akan lebih terdengar dengan semangat persaudaraan,” pungkas Saleh.

RBP kembali membuka dompet kepedulian untuk Asmat di nomor rekening BSM 0262042000 atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli. Konfirmasi silakan sms ke nomor 081333272004. (ris/al/bin)

Terbit di Radar Banjarmasin edisi 3 Maret 2018 Halaman 10