Monthly ArchiveMei 2018

Byadmin

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

Oleh : Ibnu sina

Tidak terasa kita telah berada di tengah Bulan Sya’ban. Bulan ini seringkali dilalaikan oleh manusia. Hingga Rasulullah SAW bersabda: “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan”. (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Ternyata bulan Sya’ban adalah bulan yang istimewa. Karena pada bulan ini diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda dalam kelanjutan hadits di atas: “Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam”. (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Itulah keutama’an bulan Sya’ban yang pertama. Bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT.

Keutamaan kedua bulan Sya’ban adalah, pada pertengahannya. Inilah yang dikenal dengan istilah Nisfu Sya’ban. Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan nishfu Sya’ban : “Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya”. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al Albani).

Diantara amal di bulan Sya’ban yang dicontohkan Rasulullah SAW, yang pertama, adalah memperbanyak puasa sunnah. Dalam sebuah hadits dijelaskan : “Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di Bulan Sya’ban,” Rasulullah menjawab, “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan ini amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa.” (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Begitulah Rasulullah SAW banyak berpuasa di Bulan Sya’ban sekaligus menginginkan agar ketika amalnya diangkat, beliau dalam keadaan sedang berpuasa.

Ummul Mukmin ‘Aisyah juga meriwayatkan : “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada Bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari).

Tahulah kita bahwa berpuasa sunah di Bulan Sya’ban menjadi begitu istimewa karena pada bulan ini amal diangkat, dan sekaligus persiapan untuk puasa di Bulan Ramadhan.

Namun, yang perlu diperhatikan, tidak boleh mengkhususkan berpuasa pada satu atau dua hari terakhir kecuali puasa yang harus ditunaikan (karena nadzar, qadha’ atau kafarat) atau puasa sunah yang biasa dilakukan (puasa Daud, Senin Kamis). Rasulullah SAW bersabda :  “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang memang seharusnya/biasanya) melakukan puasa pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” (HR. Bukhari).

Amal kedua pada Bulan Sya’ban ialah melunasi hutang-hutang puasa, khususnya yang masih belum selesai meng-qadha’ puasa Ramadhan sebelumnya. ‘Aisyah berkata : “Aku punya hutang puasa Ramadhan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Nabi SAW.” (HR. Bukhari).

Amal ketiga pada bulan Sya’ban ialah memperbanyak ibadah dan amal kebajikan secara umum, seperti shalat Rawatib, Qiyamullail, Tilawah Al Quran, bershadaqah. Karena ketika amal kita diangkat, amal kita benar-benar bagus pada bulan itu, asal sesuai sunah.

Adapun malam nishfu Sya’ban, sebagaimana hadits di atas, memang memiliki keutamaan. Ibnu Taimiyah menegaskan :”Adapun malam nishfu Sya’ban, didalamnya terdapat keutamaan”.

Karena itu, sebagian ulama salaf dari kalngan tabi’in di Negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin Amir menghidupkan malam ini dengan berkumpul di Masjid untuk melakukan ibadah. Dari merekalah kaum muslimin mengmabil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini bukan bid’ah!”

Ulama Syam lain, diantaranya Al Auza’i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di Masjid. Tetapi beliau menyetujui keutamaan shalat, baca Al Qur’an pada nishfu Sya’ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al Hanbali dan Ibnu Taimiyah.

Adapun Ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, dan para pengikut Imam Malik menganggap Nishfu Sya’ban sebagai ­bid’ah. Namun, qiyamullail sebagaimana disunahkan dan puasa disiangnya sebab termasuk Ayyaumul bidh ialah baik.

Semoga perbedaan pendapat ini dipahami dengan baik dan tidak menghalangi kita untuk melaksanakan segala amal ibadah utaman pada bulan Sya’ban.

Wallahu a’lam bishshawab…..

Byadmin

Social Movement

Oleh : Yohandromeda Syamsu

 

Selama ini gerakan keagamaan identik dengan urusan-urusan ritual yang bersifat privat dan ada kecenderungan untuk menganggap agama hanya semata mengurus persoalan rohani. Bahkan, beragam masalah dalam hidup dan kehidupan selalu dikaitkan dengan soal spiritualitas (agama). Jika benar agama hanya mengurusi soal rohani, hal ini akan bertentangan dengan prinsip kunci dari semua agama di Bumi ini, yakni keadilan.

Dalam Islam, keadilan menduduki posisi sangat penting dan terkait dengan hampir semua urusan duniawi. Bagaimana manusia menakar keadilan jika agama semata mengurusi rohani dan spiritualitas. Salah satunya diwujudkan dalam praktek ibadah zakat. Zakat yang merupakan rukun Islam keempat, adalah wujud nyata dari pembelaan Islam terhadap prinsip keadilan. Zakat juga menawarkan pengelolaan uang negara sekaligus mengoreksi tradisi pengelolaan uang publik oleh kekuasaan yang hanya berpihak pada kepentingan elite.

Lembaga zakat dalam Islam memberikan kemungkinan upaya pemberdayaan bagi masyarakat lemah dan miskin. Kehadiran zakat secara tidak langsung menegaskan bahwa uang publik adalah uang Allah (haq Allah). Ini bermakna uang tersebut harus digunakan di jalan Allah SWT dan penguasa hanya berkedudukan sebagai amil (penyalur). Zakat juga memperkenalkan istilah tarif baku (miqdar), kekayaan yang jadi obyek pajak (maal zakawy), dan batas minimal terkena pajak (nisab) secara proporsional. Tidak berhenti di situ, zakat juga mengatur bagaimana membelanjakan uang yang terkumpul. Bahwa uang itu pertama-tama harus dibelanjakan untuk kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah dan fakir miskin, apa pun agamanya. Islam sebagai ajaran spiritual dan moral sesungguhnya melihat problem kemiskinan. Kalau hampir semua nabi memulai dakwahnya dengan upaya pemberdayaan masyarakat miskin, itu karena memang di situlah peran sentral agama diperlukan. Dan, tidak satu pun agama yang memberi penghargaan terhadap mereka yang serakah.

Masrcel Boisard seorang pengamat dunia Islam menyebutkan, zakat memberi kemenangan terhadap egoisme diri atau menumbuhkan kepuasan moral karena telah ikut mendirikan sebuah masyarakat Islam yang lebih adil. Ibadah zakat ikut menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat. Dalam bahasa Roger Garaudy, zakat adalah satu bentuk keadilan internal yang terlembaga sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu, orang dapat menaklukan egoisme dan kerakusan diri.

Dengan demikian, zakat tidak sekadar menjangkau hubungan teologis dengan Tuhan, tetapi juga merefleksikan kehidupan sosial. Parameternya adalah, orang yang memiliki kesadaran hidup yang transendental (dekat dengan Tuhan) seharusnya merefleksi ke dalam kesadaran horizontal, seperti peduli terhadap masyarakat sekitar. Memang zakat dalam Islam dimaksudkan sebagai ajaran sosial, selain sebagai ibadah ritual yang ditujukan untuk menyucikan jiwa atas harta yang diperolehnya. Yang jelas, efek sosial dari ajaran zakat amat mengena pada kepedulian terhadap masyarakat yang tidak mampu.

Saat ini, bukan persoalan zakat dikelola negara atau tidak, tetapi bagaimana zakat itu bisa bermakna transformatif; menjangkau seluruh kehidupan masyarakat fakir-miskin, bukan menjadi perebutan para pengelola. Sebab harus diingat, prioritas zakat diberikan kepada fakir-miskin bukan para pengelolanya. Inilah yang kita khawatirkan, dana zakat yang begitu besar hanya dimanfaatkan oleh mereka yang secara agama tidak berhak menerimanya.

Oleh karena itu, zakat harus bisa dijadikan sarana transformasi masyarakat menuju kehidupan yang berkeadilan dan seimbang secara ekonomi. Sebab, zakat dapat dijadikan modal untuk memperkuat civil service, yang salah satu cirinya adalah independensi. Artinya, suatu gerakan (institusi) yang tidak tergantung kepada negara/pemerintah. Maka amat relevan fungsi zakat sebagai media transformasi masyarakat, dalam mewujudkan apa yang disebut civil society. Tentu, dengan makna transformatif ini, zakat harus dikelola secara profesional untuk penguatan ekonomi masyarakat.

Di sinilah zakat tidak sekadar menjadi aspek kesucian jiwa dan harta, tetapi juga mempunyai efek terhadap pemberdayaan masyarakat.[]

Byadmin

Membuka Pandangan, Pembelajaran yang Mencerahkan

Oleh Wahyu Aji Saputra (Peserta Program Relawan Menulis Angkatan 3)

Pengalaman Mengikuti Program Relawan Menulis RBP

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia” – Seno Gumira Ajidarma.

Tiga bulan sudah Saya lalui dan menjalani masa penuh pengalaman. Dari awal Januari hingga akhir Maret. Bukannya hidup Saya datar tanpa pengalaman. Namun kali ini lebih kepada pengalaman sebagai jurnalis yang mengesankan.

Bermula dari sebuah pesan pengumuman di grup relawan Sahabat Kalsel. Pengumuman itu menghentak adrenalin saya. Ada pembukaan angkatan baru relawan menulis dari Radar Banjar Peduli (RBP). Sontak saya langsung berniat untuk mengajukan diri.

Awalnya saya sempat ragu dan berpikir ulang untuk ikut program tersebut. Beberapa malam saya habiskan untuk memikirkan konsekuensinya. Apalagi saya masih berstatus mahasiswa yang masih dipadati jadwal kuliah sana sini. Meski begitu saya tetap berpikir dampak positif yang akan Saya dapatkan bila akhirnya mengikuti program itu. Saya tentu akan mendapatkan pengalaman sebagai jurnalis dan tantangan sebagai penulis yang dikejar deadline.

Akhirnya Saya bulatkan tekad untuk mengikuti program tersebut. Singkat cerita Saya kirim CV ke email RBP. Beberapa hari Saya tunggu konfirmasi. Selama itu juga Saya merasakan ketegangan layaknya menunggu pengumuman hasil kelulusan ujian. Tetapi benar kata pepatah arab Man Jadda Wa Jadda yang artinya ‘siapa yang bersungguh sungguh, maka akan berhasil begitu kiranya’. Sebuah pesan masuk dari whatsapp pribadi yang mengatakan bahwa Saya ikut dalam program relawan menulis. Senyum kecil terpatri dibibir Saya, sedang di dalam diri senang luar biasa.

Tugas pertama Saya sebagai jurnalis adalah meliput seorang inspiratif yang hobi mendongeng untuk anak. Namanya Bunda Enik, sapaan akrab beliau. Sesuatu yang dimulai pertama kali memang tak mudah, itu juga yang Saya rasakan ketika mewawancarai beliau. Tak ada persiapan pertanyaan yang akhirnya membuat Saya terasa kaku ketika berbicara kepada beliau. Seolah mendatangi orang tua dari pasangan yang ingin dilamar, Saya gagap berbicara dan tak jarang terjadi keheningan karena tidak ada bahan. Dari situ Saya belajar untuk lebih memperhatikan kesiapan. Terutama bagian teknis seperti informasi tentang narasumber hingga apa saja pertanyaan yang penting untuk diajukan.

Satu minggu satu tugas liputan. Pada akhirnya Saya mulai terbiasa menulis berita straight news. Dan terbiasa dengan deadline yang mesti disetor tiap Jumat. Ternyata ujian kehidupan jurnalis tak sampai situ. Deadline yang sudah bersahabat dengan Saya, berubah menikam menyeramkan ketika meliput kegiatan di kantor Radar Banjarmasin. Saya diharuskan menyelesaikan beritanya hari itu juga. Pagi liputan, sore harus selesai tulisannya. Meski sudah banyak pengalaman mengerjakan tugas kuliah yang rentang waktu pengumpulannya hanya tersisa tiga jam, tetapi ini sangat berbeda. Kredibilitas Saya juga dipertaruhkan. Namun Saya sikapi dengan sabar dan Alhamdulillah tulisan itu selesai tepat waktu.

Masih teringat dibenak saya petuah Bapak Toto Fachrudin, Pemred Radar Banjarmasin yang mangatakan, “Kalau ada peristiwa langsung selesaikan beritanya, karena kita tidak tahu kapan akan ada lagi peristwa yang terjadi di depan”. Ternyata dunia jurnalis memang seperti itu, perlu kesigapan dan kesiapan untuk melaluinya.

Saya juga merasa beruntung dapat tugas liputan ke luar Kota Banjarbaru. Menyambangi wilayah pegunungan hingga perumahan di atas air. Ternyata dunia jurnalis juga menawarkan pandangan dan pemandangan baru. Membaur dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan juga menjadi sisi lain yang positif dari seorang jurnalis. Tak hanya menggali kehidupan seseorang, kadang kita juga merasakan apa yang dialaminya dengan berbincang bersamanya. Menulis tentang kemanusiaan terkadang menjadi pembelajaran bagi diri sendiri untuk menjadi manusia dengan makna sebenarnya. Ketika menulis tentang seseorang yang hebat dan inspiratif, terpikir bagaimana peran Saya untuk menyebarkannya dalam tulisan. Hingga akhirnya si pembaca berkata, “Aku ingin seperti ini juga”.

Selama tiga bulan tadi banyak pengalaman yang didapatkan. Terutama bagaimana mengembangkan tulisan yang bisa ‘dirasakan’ oleh pembaca tak hanya sekedar tulisan semata. Menulis bisa dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja, tetapi esensi dari tulisan tersebut jauh lebih penting untuk dihadirkan.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Dua Pemuda Kreatif Ikut Galang Dana Melalui Pensi Amal

Oleh : Eggy Akbar Pradana, Banjarbaru

“Mari lukis kebahagiaan duafa lewat wajahmu,” begitu bunyi kampanye kemanusiaan yang diserukan oleh Radar Banjar Peduli (RBP) dalam beberapa pekan terakhir ini. Bukan tanpa sebab, ajakan berbagi kepedulian itu ternyata didukung oleh dua pelukis muda yaitu Antung Mika August (24 tahun) dan Nur Syifa (21 tahun). Keduanya turut melakukan penggalangan dana untuk anak-anak penderita kelainan jantung melalui penjualan lukisan sejak 1 April hingga 26 April 2018 nanti.

Antung Mika August atau kerap disapa Mika itu mengaku senang dilibatkan dalam kegiatan amal. “Berbagi itu merupakan hal yang indah dan tidak terbatas pada materi, kita bisa membantu dengan skill yang kita miliki,” ucapnya.

“Saya bisanya melukis, ya Saya bantu dengan kemampuan ini,” tutur Mika yang sejak duduk dibangku TK sudah senang sekali melukis terutama melukis wajah. “Sebelumnya saya sudah sering ikut acara-acara amal namun karena banyak kesibukkan jadi agak berkurang. Kebetulan kemarin diajak sama Shaleh yang menjadi ketua pelaksana dalam pentas amal jadi bisa kembali terlibat,” imbuhnya.

Serupa, Nur Syifa atau kerap disapa Syifa mengaku diajak juga dengan teman dekatnya, Hikmah, untuk berbagi kebaikan. “Ini pengalaman pertama ikut acara amal terkait lukisan, biasanya saya sebatas ikut berpartipasi dalam penggalangan dana langsung,” kata Syifa.

Jika Mika senang melukis wajah, mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat itu senang melukis galaksi (space). “Kelas 3 SMK (2015) Saya mulai tertarik melukis galaksi. Tepatnya setelah ikut orang tua ke Pelaihari, kebetulan pulangnya malam menggunakan mobil pick up. Saya rebahan di belakang, nah saya melihat galaksi dilangit malam kala itu. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan galaksi” ungkapnya.

“Saya ingin berbagi keindahan galaksi yang telah membuat saya jatuh cinta, kepada orang-orang, terutama untuk anak-anak kelainan jantung agar lebih semangat dalam menjalani hidup dan bisa menikmati keindahan lautan galaksi,” harap Syifa penuh haru.

Mika dan Syifa adalah contoh pemuda harapan bangsa. Melalui potensinya dalam hal melukis, mereka berupaya melukiskan kebahagiaan di wajah anak-anak yang kurang beruntung. Direktur RBP Dokter Diauddin mengapresiasi kedua sosok pemuda itu. “Luar biasa. Kiprah yang hebat sekali, terlebih mereka masih sangat muda. Kerelawanan dan kepedulian adalah dua hal yang harusnya menjadi karakter dalam diri kita semua,” ucap Dokter Diauddin.

Rencananya, hasil penggalangan dana dari lukisan akan diserahkan pada Jumat (27/4) nanti dalam kegiatan Pentas Seni untuk Amal (Pensi Amal). Acara berlangsung di Panggung Bundar Mingguraya dari pukul 20.00 wita sampai selesai.

Kegiatan Pensi Amal sendiri merupakan kerjasama RBP dengan berbagai lembaga dan komunitas, yaitu Dewan Kesenian Daerah Kota Banjarbaru, Sahabat Kalsel, Sanggar Kamilau Intan, Purna Prakarya Muda Indonesia (PPMI), dan Nanang Galuh Kota Banjarbaru. Shaleh, ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa Pensi Amal kali ini merupakan yang kali kedua dilaksanakan. Sebelumnya telah dilaksanakan di bulan Januari.

“Kita perlu menumbuhkan rasa empati di kalangan pemuda karena kepedulian adalah solusi bagi permasalahan kemanusiaan,” ujar Shaleh. Selain itu, menurutnya, kegiatan Pensi Amal bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar komunitas seni, lembaga kemanusiaan, kepemudaan, dan para stake holder. “Dengan konsep pertunjukan seni, kami juga ingin mengembangkan bakat seni di kalangan generasi muda Kalimantan Selatan,” pungkasnya.

Editor : Retno Sulisetiyani