Monthly ArchiveMei 2018

Byadmin

Membuka Pandangan, Pembelajaran yang Mencerahkan

Oleh Wahyu Aji Saputra (Peserta Program Relawan Menulis Angkatan 3)

Pengalaman Mengikuti Program Relawan Menulis RBP

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia” – Seno Gumira Ajidarma.

Tiga bulan sudah Saya lalui dan menjalani masa penuh pengalaman. Dari awal Januari hingga akhir Maret. Bukannya hidup Saya datar tanpa pengalaman. Namun kali ini lebih kepada pengalaman sebagai jurnalis yang mengesankan.

Bermula dari sebuah pesan pengumuman di grup relawan Sahabat Kalsel. Pengumuman itu menghentak adrenalin saya. Ada pembukaan angkatan baru relawan menulis dari Radar Banjar Peduli (RBP). Sontak saya langsung berniat untuk mengajukan diri.

Awalnya saya sempat ragu dan berpikir ulang untuk ikut program tersebut. Beberapa malam saya habiskan untuk memikirkan konsekuensinya. Apalagi saya masih berstatus mahasiswa yang masih dipadati jadwal kuliah sana sini. Meski begitu saya tetap berpikir dampak positif yang akan Saya dapatkan bila akhirnya mengikuti program itu. Saya tentu akan mendapatkan pengalaman sebagai jurnalis dan tantangan sebagai penulis yang dikejar deadline.

Akhirnya Saya bulatkan tekad untuk mengikuti program tersebut. Singkat cerita Saya kirim CV ke email RBP. Beberapa hari Saya tunggu konfirmasi. Selama itu juga Saya merasakan ketegangan layaknya menunggu pengumuman hasil kelulusan ujian. Tetapi benar kata pepatah arab Man Jadda Wa Jadda yang artinya ‘siapa yang bersungguh sungguh, maka akan berhasil begitu kiranya’. Sebuah pesan masuk dari whatsapp pribadi yang mengatakan bahwa Saya ikut dalam program relawan menulis. Senyum kecil terpatri dibibir Saya, sedang di dalam diri senang luar biasa.

Tugas pertama Saya sebagai jurnalis adalah meliput seorang inspiratif yang hobi mendongeng untuk anak. Namanya Bunda Enik, sapaan akrab beliau. Sesuatu yang dimulai pertama kali memang tak mudah, itu juga yang Saya rasakan ketika mewawancarai beliau. Tak ada persiapan pertanyaan yang akhirnya membuat Saya terasa kaku ketika berbicara kepada beliau. Seolah mendatangi orang tua dari pasangan yang ingin dilamar, Saya gagap berbicara dan tak jarang terjadi keheningan karena tidak ada bahan. Dari situ Saya belajar untuk lebih memperhatikan kesiapan. Terutama bagian teknis seperti informasi tentang narasumber hingga apa saja pertanyaan yang penting untuk diajukan.

Satu minggu satu tugas liputan. Pada akhirnya Saya mulai terbiasa menulis berita straight news. Dan terbiasa dengan deadline yang mesti disetor tiap Jumat. Ternyata ujian kehidupan jurnalis tak sampai situ. Deadline yang sudah bersahabat dengan Saya, berubah menikam menyeramkan ketika meliput kegiatan di kantor Radar Banjarmasin. Saya diharuskan menyelesaikan beritanya hari itu juga. Pagi liputan, sore harus selesai tulisannya. Meski sudah banyak pengalaman mengerjakan tugas kuliah yang rentang waktu pengumpulannya hanya tersisa tiga jam, tetapi ini sangat berbeda. Kredibilitas Saya juga dipertaruhkan. Namun Saya sikapi dengan sabar dan Alhamdulillah tulisan itu selesai tepat waktu.

Masih teringat dibenak saya petuah Bapak Toto Fachrudin, Pemred Radar Banjarmasin yang mangatakan, “Kalau ada peristiwa langsung selesaikan beritanya, karena kita tidak tahu kapan akan ada lagi peristwa yang terjadi di depan”. Ternyata dunia jurnalis memang seperti itu, perlu kesigapan dan kesiapan untuk melaluinya.

Saya juga merasa beruntung dapat tugas liputan ke luar Kota Banjarbaru. Menyambangi wilayah pegunungan hingga perumahan di atas air. Ternyata dunia jurnalis juga menawarkan pandangan dan pemandangan baru. Membaur dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan juga menjadi sisi lain yang positif dari seorang jurnalis. Tak hanya menggali kehidupan seseorang, kadang kita juga merasakan apa yang dialaminya dengan berbincang bersamanya. Menulis tentang kemanusiaan terkadang menjadi pembelajaran bagi diri sendiri untuk menjadi manusia dengan makna sebenarnya. Ketika menulis tentang seseorang yang hebat dan inspiratif, terpikir bagaimana peran Saya untuk menyebarkannya dalam tulisan. Hingga akhirnya si pembaca berkata, “Aku ingin seperti ini juga”.

Selama tiga bulan tadi banyak pengalaman yang didapatkan. Terutama bagaimana mengembangkan tulisan yang bisa ‘dirasakan’ oleh pembaca tak hanya sekedar tulisan semata. Menulis bisa dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja, tetapi esensi dari tulisan tersebut jauh lebih penting untuk dihadirkan.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Dua Pemuda Kreatif Ikut Galang Dana Melalui Pensi Amal

Oleh : Eggy Akbar Pradana, Banjarbaru

“Mari lukis kebahagiaan duafa lewat wajahmu,” begitu bunyi kampanye kemanusiaan yang diserukan oleh Radar Banjar Peduli (RBP) dalam beberapa pekan terakhir ini. Bukan tanpa sebab, ajakan berbagi kepedulian itu ternyata didukung oleh dua pelukis muda yaitu Antung Mika August (24 tahun) dan Nur Syifa (21 tahun). Keduanya turut melakukan penggalangan dana untuk anak-anak penderita kelainan jantung melalui penjualan lukisan sejak 1 April hingga 26 April 2018 nanti.

Antung Mika August atau kerap disapa Mika itu mengaku senang dilibatkan dalam kegiatan amal. “Berbagi itu merupakan hal yang indah dan tidak terbatas pada materi, kita bisa membantu dengan skill yang kita miliki,” ucapnya.

“Saya bisanya melukis, ya Saya bantu dengan kemampuan ini,” tutur Mika yang sejak duduk dibangku TK sudah senang sekali melukis terutama melukis wajah. “Sebelumnya saya sudah sering ikut acara-acara amal namun karena banyak kesibukkan jadi agak berkurang. Kebetulan kemarin diajak sama Shaleh yang menjadi ketua pelaksana dalam pentas amal jadi bisa kembali terlibat,” imbuhnya.

Serupa, Nur Syifa atau kerap disapa Syifa mengaku diajak juga dengan teman dekatnya, Hikmah, untuk berbagi kebaikan. “Ini pengalaman pertama ikut acara amal terkait lukisan, biasanya saya sebatas ikut berpartipasi dalam penggalangan dana langsung,” kata Syifa.

Jika Mika senang melukis wajah, mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat itu senang melukis galaksi (space). “Kelas 3 SMK (2015) Saya mulai tertarik melukis galaksi. Tepatnya setelah ikut orang tua ke Pelaihari, kebetulan pulangnya malam menggunakan mobil pick up. Saya rebahan di belakang, nah saya melihat galaksi dilangit malam kala itu. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan galaksi” ungkapnya.

“Saya ingin berbagi keindahan galaksi yang telah membuat saya jatuh cinta, kepada orang-orang, terutama untuk anak-anak kelainan jantung agar lebih semangat dalam menjalani hidup dan bisa menikmati keindahan lautan galaksi,” harap Syifa penuh haru.

Mika dan Syifa adalah contoh pemuda harapan bangsa. Melalui potensinya dalam hal melukis, mereka berupaya melukiskan kebahagiaan di wajah anak-anak yang kurang beruntung. Direktur RBP Dokter Diauddin mengapresiasi kedua sosok pemuda itu. “Luar biasa. Kiprah yang hebat sekali, terlebih mereka masih sangat muda. Kerelawanan dan kepedulian adalah dua hal yang harusnya menjadi karakter dalam diri kita semua,” ucap Dokter Diauddin.

Rencananya, hasil penggalangan dana dari lukisan akan diserahkan pada Jumat (27/4) nanti dalam kegiatan Pentas Seni untuk Amal (Pensi Amal). Acara berlangsung di Panggung Bundar Mingguraya dari pukul 20.00 wita sampai selesai.

Kegiatan Pensi Amal sendiri merupakan kerjasama RBP dengan berbagai lembaga dan komunitas, yaitu Dewan Kesenian Daerah Kota Banjarbaru, Sahabat Kalsel, Sanggar Kamilau Intan, Purna Prakarya Muda Indonesia (PPMI), dan Nanang Galuh Kota Banjarbaru. Shaleh, ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa Pensi Amal kali ini merupakan yang kali kedua dilaksanakan. Sebelumnya telah dilaksanakan di bulan Januari.

“Kita perlu menumbuhkan rasa empati di kalangan pemuda karena kepedulian adalah solusi bagi permasalahan kemanusiaan,” ujar Shaleh. Selain itu, menurutnya, kegiatan Pensi Amal bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar komunitas seni, lembaga kemanusiaan, kepemudaan, dan para stake holder. “Dengan konsep pertunjukan seni, kami juga ingin mengembangkan bakat seni di kalangan generasi muda Kalimantan Selatan,” pungkasnya.

Editor : Retno Sulisetiyani