Catatan Pendampingan Erina Hafiza, Bocah 4 Tahun Penderita Stenosis Pumonal

Byadmin

Catatan Pendampingan Erina Hafiza, Bocah 4 Tahun Penderita Stenosis Pumonal

Bocah cantik. Begitu ucapan beberapa orang yang menyapa Erina Hafiza saat dibawa ke RS Idaman Banjarbaru Rabu (15/3) lalu oleh RBP. Ya, Erina adalah bocah yang cantik parasnya. Namun, selang yang terpasang di hidungnya menjadi tanda tanya bagi siapapun yang melihatnya. Sakit apa yang diderita Erina?

Hari itu adalah kunjungan rutin Erina ke RS untuk mendapatkan perawatan dokter spesialis. Ia terlihat gelisah di gendongan sang ibu, Fitriani (32). “Pengen rebahan anaknya nih,” ujar Fitriani dan segera meletakkan Erina di kursi ruang tunggu Poli Tumbuh Kembang. Seketika Erina kembali tenang. Fitriani bercerita kalau selang yang terpasang di hidung Erina adalah alat bantu untuk makan dan minum. “Waktu itu Erina tidak bisa makan jadi dipasangi selang, kalau sekarang sudah mulai dibiasakan lagi pakai mulut, tapi tidak bisa banyak-banyak,” ungkap Fitriani.

Bulan Juni nanti Erina genap 4 tahun. Namun jangankan berjalan, duduk saja tak bisa. Dokter Yanuar Nusca Permana spesialis anak yang menangani Erina menjelaskan bahwa Erina menderita penyempitan pembuluh dari jantung ke paru-paru. “Dalam dunia medis disebut dengan Stenosis Pumonal, yang biasanya dibawa sejak lahir. Kasus Erina saya perkirakan juga akibat adanya infeksi pada kehamilan trimester pertama,” terang dokter Yanuar kepada RBP.

Dengan kondisi kelainan jantung seperti itu, perkembangan Erina pun terhambat. Saat diperiksa di Poli Tumbuh Kembang, Erina terlihat mengalami gangguan mata dan telinga karena tidak ada respon pada rangsangan cahaya dan bunyi. “Ini langsung bawa ke poli mata dan THT ya biar diperiksa lebih lanjut,” kata dokter Yanuar sembari memberi rujukan.
“Saya minta orang tua tidak menuntut lebih pada anak, fokus pada perhatian saja dan latihlah dengan sabar,” pesan dokter Yanuar pada Fitriani dan suaminya, Ahmad Yani.

Lebih lanjut dokter Yanuar menjelaskan bahwa penyakit Stenosis Pumonal biasanya ditangani dengan cara operasi, namun dalam kasus Erina cukup dengan eco-evaluasi. “Kita lakukan pantauan secara rutin, lalu melakukan penanganan sesuai keluhan kondisional,” ucapnya.

Fitriani dan Ahmad Yani terlihat mendengarkan dengan seksama. Terlihat dari wajah mereka, apapun akan mereka lakukan demi sang anak. Namun terselip juga rona kebingungan. “Meski sudah dijamin SKTM tapi kami juga terkendala bolak balik ke RS dari rumah,” ujar Ahmad Yani.

Kebingungan Ahmad Yani tentu beralasan. Rumahnya yang berada di Desa Beruntung Jaya Kecamatan Cempaka berjarak sekitar 50 km dari RS. Bekerja sebagai buruh kebun tak menjamin penghasilan tetap yang mencukupi. Sementara, pengobatan Erina bisa dipastikan memakan waktu lama. Beruntung, saat ini harga karet sudah naik jadi Ahmad Yani bisa menyisihkan dana untuk ditabung. Namun, bagaimana nanti jika penghasilannya tak mencukupi?
Ahmad Yani mengaku senang dibantu RBP untuk menjemput dan mengantar mereka membawa Erina berobat ke RS. “Kami ucapkan terimakasih atas perhatian RBP,” ucapnya.

Ahmad Yani dan Fitriani hanyalah satu dari sekian orang tua di Kecamatan Cempaka yang mengalami kesulitan dari ketidaktahuan. Masih banyak orang tua lain yang perlu uluran tangan agar bisa menjangkau pengetahuan. RBP sebagai lembaga sosial kemanusiaan mengambil peran sebagai fasilitator agar keadilan akan pengetahuan di negeri ini terjadi. Dari kota hingga ke pelosok desa.

Dukung aksi-aksi kami dengan donasi terbaik Anda. Karena dengan uluran tangan Anda lah kebaikan tak akan pernah kehabisan nafasnya. Kunjungi website kami www.radarbanjarpeduli.org untuk menyalurkan donasi atau sms ke 0813 33272004. (en)

About the author

admin administrator

Leave a Reply