Dalam Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Byadmin

Dalam Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Catatan Pendampingan Lilik Suryati, Penderita Kanker Kelenjar Tiroid
Oleh Devi Putri Listyasari (Staf Pendayagunaan RBP)

Ugh. Rasanya pinggang ini ingin sekali diluruskan. Gelisah memposisikan badan ketika mata sangat ingin terpejam. Ya Allah baru tiga jam perjalanan. Tak sabar menanti pagi. Begitu saya bergumam pada diri sendiri ketika dalam sebuah perjalanan dari Surabaya ke Bandung, Sabtu (25/11) lalu. Tepatnya saya berada di sebuah gerbong kereta api. Dari petugas Stasiun Gubeng yang saya dengar perjalanan akan memakan waktu sekitar 14 jam. Lebih dari setengah hari!.
Saya tak sendiri. Lilik Suryati dan anaknya tepat di samping Saya. Kami duduk berjejer. Sekilas Saya lihat mereka juga tak bisa tidur nyenyak.

Perjalanan ini adalah ikhtiar kami dalam membantu Lilik untuk sembuh dari sakit kankernya. Sejak 2016 yang lalu, RBP memang berkomitmen melakukan pendampingan untuk Lilik, penderita kanker kelenjar tiroid asal Cindai Alus Kabupaten Banjar. Setelah menjalani operasi di RS Ulin Banjarmasin, rupanya Lilik harus melanjutkan pengobatan di Pulau Jawa. Kami memutuskan ke Surabaya pada Selasa (31/10) lalu, namun setelah melewati diagnosa di RS Dokter Soetomo, perjuangan kami diuji. Pengobatan lanjutan hanya bisa dilakukan di Bandung.

“Senang kok bisa berobat sampai ke sini. Hanya saja tidak tenang, kepikiran sama adik-adik Rita yang ditinggalkan,” begitu Lilik berkata meskipun perjalanan kami ternyata di luar perkiraan.

Dan di sinilah kami. Melewati perjalanan panjang demi sebuah nafas kehidupan.

Saya terbangun dari lelap ketika matahari mulai nampak. Terbentang hamparan sawah yang menghijau serta segerombolan itik mencari makan. Indah sekali. Di kelilingi pegunungan dan hutan yang amat rindang. Allah, kuasa-Mu tiada batas. Saya lihat Lilik dan anaknya juga terkesima. Namun selepas itu kami tertegun. Tak mampu berkutik. Hanya memejamkan mata dan berdoa. Semoga Allah masih memberikan kesempatan hidup. Doa tak henti saya panjatkan dalam hati.

Jalur rel kereta yang kami tumpangi sangat curam. Masinis tiba tiba memperlambat kecepatan. Ada tanah longsor yang menutupi jalur kereta. Jalur menikung dan sangat tinggi, khawatir gerbong kereta akan terlepas dari jalurnya. Allahu akbar. Beberapa jalur sangat berbahaya kami lalui. Kami hanya bisa pasrah dan berdoa.

Ternyata jalur yang kami lewati itu banyak sekali longsoran tanah akibat hujan terus menerus. Sungguh, Saya merasa kerdil di hadapan kuasa Ilahi. Atas segala pertolonganNya jua lah kami bisa selamat sampai tujuan. Saya menyesal telah mengeluh, tak bisa tidur nyenyak.

Sekitar pukul 10 pagi, kami sampai di Stasiun Bandung. Letih tentu menyapa raga kami. Namun, demi melihat kebaikan yang menghampiri tak pantas rasanya jika ingin berkeluh kesah. Para relawan MRI ACT sudah menanti kedatangan kami. Bahkan, mereka pun sudah mencarikan kos-kosan yang bisa kami tempati.

Ucapan syukur berkali-kali saya panjatkan atas segala kebaikan.

Lilik dan anaknya pun sepertinya begitu. “Saya harus semangat karena ingin sembuh total,” ungkapnya kepada Saya. Tak lupa Lilik menyampaikan rasa terima kasih kepada para donatur yang telah membantunya. “Semoga di lancarkan apapun yg menjadi tujuan, dimurahkan rejekinya,” imbuhnya. Aamiin. Sahut Saya dalam hati. (en)

About the author

admin administrator

Leave a Reply