Mudah Atas Izin Allah

Byadmin

Mudah Atas Izin Allah

Sebuah Refleksi Seorang Pejuang Pendidikan di Kota Kandangan

Oleh Ratu Nur Inayah (Founder Rumba Abata)

Setelah tahun-tahun sebelumnya yang begitu berat saya lalui, banyak duka dan airmata. Tapi janji Allah sudah pasti. Dibalik kesedihan pasti ada kebahagian. Tak perlulah saya menceritakan segala luka, karena itu semua tak akan berarti jika melihat kebahagiaan yang telah Allah berikan pada saya saat ini.

2017 sungguh, tahun yang sangat berkesan buat saya. Ah mungkin ini yang dinamakan disequilibrium, ketidakseimbangan dalam hidup. Yup tepat 10 tahun lalu juga (2007) saya mendirikan Butterfly grup (Sebuah Lembaga Peduli Pendidikan yang melayani pembelajaran untuk anak usia dini) bersama teman-teman seperjuangan saya. Tahun ini pula, tepatnya akhir tahun 2016 saya membuat akun facebook dengan nama Rumba Abata, tujuan awal adalah sebagai dokumentasi kegiatan anak-anak belajar dirumah saya. Dan jujur, saya tak mau berteman dengan orang yang mengenal saya. Cukup, cukup akun Rumba Abata dikenal sebagai Rumba Abata dan tak perlu orang tahu siapa dibalik layar ini semua! Semuanya berjalan begitu saja, Allah yang menggerakkan hati orang-orang baik berteman dengan akun Rumba Abata. Dari sana saya tergabung dalam Sahabat Kalsel, yang mewadahi orang-orang yang peduli, sebagai generasi solusi, berusaha saling bersinergi. Sungguh saya takjub dengan ini semua. Berbagai bantuan kami dapatkan dari sahabat Kalsel, untuk warga kami yang kurang beruntung. Dari sahabat kalsel pula, saya tergabung ke Jurnalisme Spirit. Belajar menulis, menuliskan hal-hal yang bersifat positif tentunya. Berkumpul dengan teman-teman yang luar biasa.

Disini pula saya mengenal S3 (Sedekah Seribu Sehari) Banjarbaru, dan saya terinspirasi untuk membuat ini juga di kota saya, harapannya semakin banyak yang terbantu, tidak hanya warga desa saya. Berawal dari saya upload uang 1000 dengan caption “Berat apa ringan? Kalau ditimbang si pasti ringan? Ya kan? Ya kaaan? Yup uang seribu itu sangat ringan, kadang seolah tak berarti, tergeletak begitu saja. Tapi seribu itu sangat berarti, jika kita kumpulkan bersama-sama. Seribu Sehari, sedekah yang sangat ringan, namun Insya Allah memberikan manfaat yang luar biasa” Alhamdulillah, awalnya satu orang, orangtua murid Rumba Abata yang ikut bergabung dan sekarang, Masyaa Allah, lumayan banyak yang tergabung, baik sebagai penderma maupun sebagai relawan. Dan kami bentuk kepengurusan, sehingga saya tak perlu memegang amanah terlalu banyak lagi. Cukup, ya cukup saya pegang keuangan Rumba Abata saja.

Tak berselang lama, dari segala cerita yang saya tuliskan, sungguh saya tak menyangka bahwa ternyata banyak yang membaca dan monitor status-status saya, saya bercerita tentang seorang pemuda dari kalangan dhuafa, pemuda berprestasi dan tidak neko-neko adanya. Kami ikut sertakan tes STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) tapi Allah berkehendak lain, dia tidak lulus. Tapi lulus di PGSD Universitas Lambung Mangkurat melalui jalur Undangan. Lagi-lagi biaya menjadi sebuah alasan, diapun terancam gagal! Saya tidak bisa diam, saya tak ingin dia bernasib seperti saya, sekolah putus nyambung. Saya meminta yang terbaik kepada sang maha kuasa. Sayapun update status bahwa rencana saya berangkat ke Jakarta untuk mengantarkan pemuda ini gagal karena dia tak lulus di STAN. Dan langsung dihubungi oleh seorang sahabat di Jakarta, Mbak Fanny Herdina, mempertanyakan nasib pemuda tersebut. Saya menceritakan semuanya, segala kendala yang dihadapi. Untuk daftar ulang ke unlam pun rasanya terlambat! Mbak Fanny terus Wa saya, pokoknya harus, anak ini harus tetap kuliah, apapun yang terjadi! Jujur saya melongo, saya tercenung dengan kegigihan mbak Fanny. Sayapun memberanikan diri ke Universitas Lambung Mangkurat, mempertanyakan apakah Rizal dan teman-temannya masih bisa diberi kesempatan untuk daftar ulang. Alhamdulillah, pihak rektorat mengizinkan. Pertentangan dari keluarga Rizal membuat anak ini maju mundur kuliah, jujur sebagai manusia biasa saya sangat sebal. Setelah perjuangan yang penuh airmata, mau mundur? Mbak Fanny terus menguatkan kami, dan melalui Sedekah Oksigen mereka terbantu biaya dengan perjanjian, jika nantinya lulus bidikmisi maka beasiswa dari sedekah oksigen akan kami alihkan kepada anak lain yang membutuhkan. Dan saya dipercaya sebagai penanggungjawab Beasiswa Kembali Sekolah (BKS). Mengelola keuangan beasiswa, mereminder para penderma dan juga mentransfer kepada penerima beasiswa tersebut. Sungguh, ini amanah yang cukup berat, karena berkaitan dengan uang orang. Sungguh kita harus percaya, dimana ada kemauan pasti ada jalan, dan tiap kebaikan akan selalu menemukan jalan_Nya.

Banyak pembelajaran kehidupan yang saya temui melalui S3 Kandangan dengan berbagai kasus di lapangan, maupun pelajaran di Sedekah Oksigen, Sahabat Kalsel, Radar Banjar Peduli, Gerakan Sedekah Bebarengan (GSB), sungguh sinergi lintas komunitas yang luar biasa. Disini saya banyak belajar bahwa melakukan kebaikan bukanlah saingan, siapa yang paling baik, siapa yang paling duluan atau apa, tapi ini adalah sinergi kebaikan, sehingga dengan cepat orang yang membutuhkan dapat tertolong dengan baik. Kita tak perlu menyalahkan siapa yang paling bertanggungjawab atas kasus dilapangan, melainkan apa yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi, untuk memberikan solusi.

Di akhir 2017, banyak hal yang perlu saya evaluasi. Terutama tentang diri ini, tentang niat untuk selalu diluruskan hanya mengharapkan Ridho Allah semata. Yup bulan November 2017, saya sempat berpikir membuka cabang Rumba Abata di Kota Kandangan. Akan tetapi setelah melewati liburan bersama anak-anak, banyak hal pelajaran yang saya petik. Saya tak boleh tergesa-gesa. Saya mempertanyakan lagi, apa tujuan saya membuka cabang? Apa tujuan orangtua “menitipkan” anaknya pada kami? “Apa harapan mereka?” dan saya menyadari bahwa SDM (sumber daya manusia) kami belumlah siap. Saya baru punya  satu guru, yang benar-benar loyal sama Rumba Abata, guru yang benar-benar mau saya bimbing. Dan saya tahu, ini adalah kesempatan emas, tapi saya tidak mau nekat. Tidak! Saya tidak akan pernah nekat membuka cabang tanpa menyiapkan SDM. Yup animo orangtua sungguh luar biasa, sehingga orang Rantau (Tapin) juga ingin sekali ada Rumba Abata disana. Saya memahami, banyak sarjana yang menganggur, saya ingin sekali menjembatani mereka berkarya. Saya ingin sekali membuka cabang pendidikan, agar memberikan lapangan pekerjaan bagi para sarjana pengangguran. Namun saya menyadari dengan segala keterbatasan yang saya punya.

Nilai akademik memang penting, tapi yang lebih penting adalah adab. Yup, adab. Ini adalah PR besar buat kita semua. Apalagi setelah liburan kali ini, yang dilalui bersama anak-anak yang notabene bersekolah di sekolah Islam. Maaf sungguh saya sedih melihat adab mereka! Memang tidak bisa instan, perlu proses dan saya berharap kedepannya para orangtua menyadari bahwa kita tidak bisa menyerahkan pendidikan seutuhnya kepada sekolah. Ini adalah PR bersama. Perlunya kerjasama antara sekolah dan orangtua yang merupakan madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya.

Impian saya selanjutnya adalah mengirim minimal 2 orang calon guru menempuh pendidikan di Kuttab Al Fatih, akademi guru selama 2 tahun dan magang mengajar di Kuttab Al Fatih selama satu tahun sebagai bentuk pengabdian. Yang nantinya harapan saya, kita bisa mendirikan sekolah seperti Kuttab Al fatih. “Iman Sebelum Qur’an, Adab sebelum Ilmu, dan Ilmu sebelum amal. Saya membutuhkan dana Rp. 2.000.000 perbulan untuk biaya pendidikan, akomodasi dan tempat tinggal calon guru selama menempuh pendidikan di Akademi Guru Kuttab Al Fatih. Saya meyakini, tidak ada yang tidak mungkin. Jika Allah menghendaki. Semoga sekolah peradaban akan segera terealisasi disini. Dan dari segala yang telah terjadi, saya menyadari bahwa Allah lah yang menggerakkan semuanya. Sungguh, tiada daya dan upaya  selain kekuatan Allah Subhanahu Wataala, dan hanya kepada Allah jualah kita memohon pertolongan. Dan semoga senantiasa diluruskan niat serta Istiqamah dalam kebaikan. Sesungguhnya kebaikan akan selalu menemukan jalannya.

Masih banyak keajaiban-keajaiban yang belum tertuliskan, namun semoga tulisan ini menjadikan inspirasi maupun pembelajaran dalam kehidupan.

“Lakukanlah kebaikan, sekecil apapun itu! Karena kita tak pernah tahu kebaikan mana yang menyelamatkan kita dari Api Neraka”

About the author

admin administrator

Leave a Reply