Ratu Pendidikan

Byadmin

Ratu Pendidikan

Semangatnya untuk mendidik anak-anak usia dini tak pernah padam. Pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa sebuah kegagalan hanyalah pengingat bahwa masih banyak jalan untuk meraih kesuksesan.

Ditengah sibuknya menjadi ibu rumah tangga, Ratu Nur Inayah masih sempat berbagi ilmu. Tinggal bersama suami dan dua putri kecilnya, wanita kelahiran 32 tahun silam ini begitu menikmati kegiatannya mengajar di Rumba Abata, sebuah bimbingan belajar yang didirikannya untuk anak-anak di sekitar rumahnya di Desa Tawia, Kandangan.
Meski rumah yang ditempatinya sekarang belum seratus persen selesai, namun tidak mengurangi keinginannya untuk mengajari anak-anak yang kurang mampu. “Seharusnya rumah ini sudah selesai tahun lalu. Tapi saya ditipu kontraktor yang membangunnya,” kenangnya dengan nada lesu.

Kecintaannya kepada pendidikan usia dini memang bukan seumur jagung. Ibunda dari Nabila dan Kania ini sudah bergelut dengan dunia pendidikan sejak 13 tahun silam. Berawal dari kegagalannya lulus SPMB 2004 untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Ratu akhirnya bekerja menjadi pengajar di sebuah TK dengan penghasilan jauh di bawah cukup. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, Ratu harus mengambil dua kerja tambahan sekaligus : mengajar kursus komputer dan jasa ketik skripsi.

Dengan ketekunannya mengajar anak-anak, Ratu mendapat durian runtuh. Pada tahun 2005 bersama dua guru lainnya, Ratu mendapat beasiswa dari yayasan tempat Ia bekerja untuk menempuh pendidikan di Depok. Dari situlah rasa cintanya kepada pendidikan anak-anak semakin terasah.

Sekembalinya dari Depok, Ratu bersama kawan-kawannya membentuk lembaga Pendidikan Usia Dini (PAUD) dengan nama Butterfly Group. Tujuannya adalah agar anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu juga bisa mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak lain. “Sistem pembiayaannya subsidi silang. Anak yang mampu bayar SPP, sedangan yang tidak mampu digratiskan,” terang wanita berhijab ini.

Ujian pertama pengabdiannya di Kandangan terjadi pada tahun 2008. Konflik internal di TK tempat dia bekerja mengharuskan Ratu mengambil keputusan besar, hijrah dari Kandangan. Akhirnya wanita kelahiran 25 Agustus ini memilih kembali ke Depok, mengambil beberapa pekerjaan sekaligus untuk biaya hidup, sambil melanjutkan studinya di Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Kesempatannya untuk kembali berbakti ke banua akhirnya datang. Pada tahun 2009, Ratu menikah dengan seorang pria asal Banjarmasin. Setelah lulus dari UNJ tahun 2013, Ratu mengikuti suami bertugas di Banjarmasin. Sehari-hari Ratu menyibukkan dirinya dengan membuka bimbingan belajar di rumahnya sambil merawat anak keduanya yang baru lahir.

Ujian kedua datang ketika sang suami harus pindah tugas ke Barabai pada tahun 2015. Kedua putrinya yang pada saat itu berusia 4 tahun dan 2 tahun mengalami sakit sehingga Ratu harus tinggal di rumah orang tuanya di Kandangan. Selama tinggal di sana, Ratu merasa tertekan batinnya. Orang tua Ratu menginginkan anaknya bekerja di luar rumah layaknya wanita karir dengan modal ijazah strata satu yang dimilikinya. Sementara Ratu berpendapat, keluarganya masih berkecukupan dengan gaji yang diterima oleh suaminya sehingga dia bisa fokus mengurus anak dan rumah, sambil menjalankan bimbingan belajar di rumah. “Makanya saya berinisiatif untuk segera membangun rumah sendiri, eh tapi malah kena tipu,” ujarnya sedih.

Kini, Ratu memiliki Butterfly Group dan Rumba Abata sebagai tempatnya berbagi ilmu. Mendidik anak-anak di sekitarnya sekaligus mendidik dua putrinya. Komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan semakin mulus tanpa harus mengorbankan statusnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Ibarat dalam sebuah kontes kecantikan, titel Ratu kecantikan akan diberikan kepada orang yang dianggap paling cantik dari sekian banyak peserta. Nah, kalau di dunia pendidikan, tidak salah rasanya jika titel Ratu Pendidikan disematkan kepada wanita ini. The Real Ratu.

Ditulis oleh Muhammad Rezki Oktavianor (Dosen, Kotabaru)
Penulis merupakan salah satu peserta kelas menulis Jurnalisme Spirit RBP Angkatan 1

About the author

admin administrator

Leave a Reply