Author Archive

Byadmin

Mahasiswa Prodi Kimia ULM Peduli Kanker

Bantu Kumpulkan Donasi untuk Rio dan Maida

Kepedulian terhadap penderita kanker khususnya Leukimia hadir dari Mahasiswa Program Studi S1 Kimia Universitas Lambung Mangkurat. Hal ini dibuktikan dengan aksi penggalangan dana yang mereka lakukan untuk penderita kanker darah (leukemia) yaitu Muhammad Rio Ramadan (16) dan Maida (17). Keduanya sedang dirawat di RSUD Banjarbaru.

Aksi sosial yang dilaksanakan pada Senin (18/9) lalu itu berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 1.559.500. Dana tersebut kemudian diserahkan kepada RBP pada Selasa (19/9). “Kami percayakan kepada RBP untuk dikelolakan bagi Rio dan Maida,” ujar Ladya salah satu pengurus Himpunan Mahasiswa Kimia (Himamia) Redoks. Ladya ditemani Nadya menyambangi kantor RBP Di Landasan Ulin dan diterima langsung oleh Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani.

Retno mengapresiasi apa yang telah dilakukan para mahasiswa tersebut. “Saya salut dengan para pemuda yang memiliki empati besar. Empati itu lah yang mampu membawa perubahan bangsa ini menjadi lebih baik. Kerelawanan adalah solusi masalah kemanusiaan,” ujarnya.

Rio dan Maida merupakan penderita leukemia yang cukup parah. Terlebih Rio, karena selain leukemia juga menderita penumpukan cairan pada otak yang sering dikenal dengan nama Hidrocepalus. Rio seharusnya menjalani operasi di RSUD Ulin Banjarmasin, namun karena kondisinya sangat parah para dokter belum berani mengambil tindakan. Sehingga sementara ini Rio akan dikembalikan ke RSUD Banjarbaru untuk mendapatkan perawatan lanjutan terkait kankernya.

Sedangkan Maida terdeteksi kanker darah sejak usia 14 tahun dan sudah menjalani 2 kali operasi tulang sumsum serta 12 kali kemoterapi. Saat ini kondisi mata kiri Maida sudah tidak bisa melihat dan kedua kakinya mengalami kelumpuhan. Maida hanya didampingi pamannya Johansyah yang sehari-hari bekerja sebagai perias di salah satu salon di Banjarbaru. “Jika ada panggilan kerja, saya terpaksa meninggalkan Maida sendirian di rumah sakit,” kisahnya.

Rio dan Maida kini harus berjuang keras. Bukan untuk melawan maut, melainkan untuk bertahan hidup dengan baik. Siapapun mereka. Mereka berhak untuk bahagia. RBP hadir membersamai mereka bukan untuk menjadi pahlawan, namun ingin menjadi teman seperjuangan. Membersamai dalam setiap tangis bahkan tawa.

Ayo siapa lagi yang mau membersamai mereka bareng RBP?. (en)

Byadmin

Pengasuhan Positif Penting untuk Membentuk Anak Berkarakter

Program Parenting Desa, Sekolahnya Warga Desa (Sinergi RBP, Himpaudi Kota Banjarbaru, dan Bank Kalsel Cabang Banjarbaru )

 

Ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang paling sulit, namun sayangnya menjadi profesi yang paling tidak dipersiapkan. Hal ini disampaikan oleh Sri Muliyani MPd selaku pengurus Himpaudi Provinsi Kalimantan Selatan saat menjadi narasumber kegiatan Parenting Desa di Kecamatan Cempaka, Sabtu (23/9) kemarin. Sri Muliyani menyayangkan tidak adanya pembelajaran pengasuhan anak sebelum menikah. “Inilah kenapa akhirnya banyak kasus pengasuhan anak yang salah sehingga anak sebagai generasi masa depan tidak tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang seharusnya,” ujarnya. Menurutnya, pengasuhan positif harus dibangun bersama antara Ayah, Ibu, lingkungan keluarga besar, lingkungan masyarakat, juga lingkungan sekolah. “Pengasuhan positif dapat mecegah perilaku-perilaku menyimpang karena apa yang dilakukan anak sebenarnya hanya meniru perilaku orang tuanya,” imbuhnya lagi.

Ternyata hal ini senada dengan harapan dari Kepala Puskesmas Cempaka Muhammad Saukani SKM MMKes agar warga di Kecamatan Cempaka mempunyai kesadaran yang tinggi akan pentingnya pengasuhan anak yang benar, termasuk untuk memeriksakan anak secara rutin ke posyandu. “Kebanyakan kasus gizi buruk yang kami temukan adalah karena ada penyakit penyerta yang muncul, sehingga orang tua baru memeriksakan anaknya ke puskesmas, bukan karena temuan saat pemeriksaan di posyandu,” ujarnya.

Wakil walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan, yang juga hadir sebagai Pembina RBP menanggapi hal tersebut dengan apresiasi terhadap apa yang dikerjakan RBP bersama Himpaudi Kota Banjarbaru dalam bentuk program Parenting Desa. “Program ini adalah terobosan yang bermanfaat karena hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan dan menjadi daya dukung terhadap pemerintah. Semoga kegiatan ini membawa berkah untuk kita semua,” ucapnya disela sambutan.

Darmawan Jaya juga berpesan kepada para orang tua agar secara serius membangun karakter anak melalui perilaku. “Orang sukses itu tidak hanya karena otak, tapi juga karena perilakunya. Maka tanamkan ke dalam anak-anak kita bagaimana sikap sopan, menjaga kebersihan kerapian ketertiban, disiplin, dan kejujuran,” pungkasnya.

Suksesnya program Parenting Desa tak lepas dari dukungan Bank Kalsel cabang Banjarbaru melalui donasi Nutrisi untuk Duafa yang setiap bulan disalurkan melalui RBP. Sebagai bentuk apresiasi, maka dalam kegiatan itu juga dilaksanakan penyerahan secara simbolis donasi sebesar Rp 8juta dari Bank Kalsel Banjarbaru yang diwakili Haris Santana kepada Pembina RBP H Darmawan Jaya Setiawan.

Direktur RBP Dokter Diauddin MKes mengucapkan terima kasih atas kerjasama berbagai pihak khususnya Himpaudi Kota Banjarbaru dan Bank Kalsel Cabang Banjarbaru. “Program ini kami inisiasi sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat dan dalam rangka berpartisipasi dalam mencapai visi Banjarbaru berkarakter,” ujar lelaki yang biasa disapa Diauddin itu.

Diauddin menjelaskan bahwa program Parenting Desa telah berjalan sejak November 2016 dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 460 anak dan orang tua. “Ada 10 lokasi sudah kami datangi, meliputi 6 posyandu dan 3 PAUD/TK di Kecamatan Cempaka,” imbuhnya.

Dalam kegiatan yang berlangsung di halaman Masjid Jami Nurul Hasanah Kelurahan Sungai Tiung itu juga hadir Ketua Himpaudi Nurhayati beserta rombongan, Guru Anang Zarkasi selaku pengurus Masjid Jami Nurul Hasanah, Camat dan Lurah Cempaka, Ibu-ibu PKK Kecamatan Cempaka, tim medis Puskesmas Cempaka, serta perwakilan TNI dan Polri. (en)

Byadmin

Posko Layanan Kesehatan SMPC : Mudah Diakses Warga

 

Hari Minggu tentunya menjadi waktu yang paling ditunggu oleh banyak orang, dimana kita bisa mengisi hari bersama keluarga atau bisa juga berolahraga. Sekedar berjalan di taman kota pun bisa menjadi alternatif mengisi waktu. Namun bagi RBP, menghadirkan posko layanan kesehatan untuk warga Banjarbaru dan Martapura menjadi pilihan tepat.

Posko yang berada di dua titik yakni Lapangan Murjadi Banjarbaru dan Alun-alun Ratu Zalecha Martapura itu bekerjasama dengan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Banjarmasin dan Akademi Perawat (Akper) Intan Martapura. Warga bisa melakukan pemeriksaan kesehatan dasar seperti gula darah, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah. Hadir sejak tahun 2010, posko layanan kesehatan RBP selalu berhasil menyedot puluhan warga setelah selesai mengikuti senam pagi.

Warga mengaku senang dengan adanya layanan tersebut, contohnya seperti Hj Rusmadah yang sangat terlihat antusias ketika menyambangi posko di Martapura. “Disamping semangat untuk mengikuti senam pagi, saya juga semangat untuk memeriksakan kesehatan di posko yang diadakan RBP,” ujar wanita berusia 43 tahun ini. Hj Rusmadah juga mengungkapkan dengan adanya kegiatan ini, ia dapat mengontrol kesehatan serta pola makannya.

Tak hanya Hj Rusmadah, Sulaiman (61) salah satu warga Banjarbaru juga merasa terbantu dengan adanya posko layanan kesehatan RBP. Ia juga merasa cukup puas dengan pelayanan yang diberikan. “Terima kasih RBP,” ungkapnya.

Program posko layanan kesehatan ternyata tak hanya memberi manfaat bagi warga masyarakat, namun juga bagi para relawan medis yang terlibat. Ni Made Ayu Komang Dewi dan Riza Reswadi contohnya. Mahasiswa Akper Intan Martapura yang kala itu dapat giliran bertugas bercerita tentang manfaat yang dirasakan setelah menjadi relawan medis RBP.

Menurut Ni Made Ayu Komang Dewi atau yang akrab disapa Made, ia dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya saat kuliah. “Kegiatan ini jadi bagian dari pengabdian kami selaku mahasiswa,” ucap mahasiswi semester 2 itu. Senada dengan Made, Riza Reswadi atau Reza pun menuturkan Ia bisa melihat langsung bagaimana perilaku dan kondisi pasien di lapangan yang berbeda-beda. “Seru karena bisa berinteraksi langsung dengan pasien yang bermacam-macam, kadang ada yang tidak sabaran dan lain-lain,” tuturnya seraya tersenyum. (hwf/en)

Byadmin

Akhirnya Ada Kurban Setelah 3 Tahun Penantian

Cerita dari Program Global Kurban ACT – RBP

“Tiga tahun sudah kami kadada kurban, Alhamdulillah tahun ini ada nang bakurban di sini. Tarima kasih banyak lah” – Juhransyah, Ketua RT 01 Desa Balau Kabupaten Banjar, Kalsel

Demikian ungkapan rasa senang warga penerima manfaat Global Kurban ACT dan RBP di Kalimantan Selatan, tepatnya Desa Balau Kabupaten Banjar. Implementasi program dilakukan pada Minggu (3/9) yang lalu oleh lima orang relawan.

Desa Balau merupakan salah satu desa di Kabupaten Banjar. Jarak desa ke Kota Martapura (ibukota Kabupaten Banjar) sekitar 30 km. Meskipun tidak terlalu jauh, namun akses jalan yang ditempuh cukup sulit, karena begitu mau memasuki desa jalanan berbatu yang harus dilewati. Sinyal selular pun akan hilang. “Kalau ke Desa Balau jangan dicari deh, susah sinyalnya,” ucap Koordinator Relawan Achmad Ridho Indra seraya terkekeh.

Mayoritas warga Balau mengandalkan ladang karet sebagai mata pencaharian.  Wajar jika selama 3 tahun terakhir tak ada kurban di desa tersebut. Harga karet yang tak tentu membuat kehidupan ekonomi warga desa menjadi sulit. “Jangankan untuk berkurban, untuk makan sehari-hari saja susah,” begitu mereka bercerita.

Dalam situs resminya, global kurban ACT telah menjaring sebanyak 16.522 pekurban dengan total donasi mencapai Rp 16M. Selain menjangkau 34 provinsi di Indonesia, program global kurban juga dirasakan oleh puluhan Negara, diantaranya Palestina, Suriah, Rohingya, dan Negara-negara lain yang sedang mengalami krisis kemanusiaan dan kemiskinan.

Banyak asa bahagia sekaligus harapan yang kami lihat dari para penerima manfaat. Alhamdulillah senang sekali. Mudah-mudahan tahun depan ada lagi. Semoga lancar rezeki para donatur. Sehat terus para relawan.

Terima kasih. Tak banyak yang bisa kami ucap. (en)

 

Byadmin

Parenting Desa : Belajar Menghargai Proses Pendidikan

Sinergi Program : RBP – Himpaudi Kota Banjarbaru – Bank Kalsel Cabang Banjarbaru

Anak seperti apa yang Ayah Bunda inginkan? Demikian pertanyaan yang diajukan oleh Aty Mustika Ratnasari, pengurus Himpaudi Kota Banjarbaru, saat menyampaikan materi dalam kegiatan Parenting Desa yang digelar RBP pada Senin (31/7) yang lalu di TK Mutiara Intan Kecamatan Cempaka. Puluhan ibu-ibu yang hadir saat itu hanya tersenyum simpul begitu mendengar pertanyaan tersebut. Beberapa hanya berani menjawab sambil nyeletuk dan berbisik-bisik. Pintar, soleh, cerdas, berani. Demikian celetukan yang hampir tak terdengar oleh panitia.

Guru Paud yang biasa disapa Bunda Aty itu pun tersenyum maklum melihat ibu-ibu yang malu-malu. Ia kemudian menjelaskan bahwa tentu semua orang tua ingin anaknya tumbuh berprestasi, baik dari sisi akademik, non akademik, maupun agama. “Namun semua itu sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis, jasmani, dan juga lingkungan,” ungkap lajang asal Jawa Barat itu tegas.

Menurut Bunda Aty, orang tua tidak boleh kalah dengan kemajuan zaman, terlebih perkembangan teknologi yang semakin memberi kemudahan. “Pengaruh negatifnya adalah menjadikan kita menjadi suka cara instan. Kaya, sukses, ataupun pintar dengan cara instan. Ini yang harus dikelola dalam mendidik anak-anak,” ungkapnya.

Yang paling penting, lanjutnya, adalah proses. “Dengan menghargai proses, kita akan bersungguh-sungguh dalam menggapai hasil, sedangkan mementingkan hasil membuat kita menghalalkan segala cara bahkan jika cara tersebut tidak baik,” ucapnya. “Caranya sangat mudah, yaitu dengan menjadi teladan dan panutan bagi anak-anak kita,” pungkasnya.

Apa yang disampaikan Bunda Aty tentu menjadi renungan untuk kita semua. Bahwa bersabar dalam menjalani proses lebih utama daripada mendapatkan hasil instan namun berakibat buruk bagi masa depan anak-anak kita.

Selain pemberian edukasi, juga dibagikan 50 susu formula untuk anak-anak usia 2 (dua) hingga 6 (enam) tahun. “Bantuan nutrisi tambahan ini persembahan dari Bank Kalsel Cabang Banjarbaru. Alhamdulillah dengan bantuan ini lebih banyak senyum anak-anak yang kami temui. Terima kasih Bank Kalsel Cabang Banjarbaru,” ujar Pelaksana Program Devi Putri Listyasari. (en)

Byadmin

Berbagi Tak Melulu Soal Materi

Berbagi bukan hanya tentang uang, harta benda, atau materi. Membantu orang lain dengan kemampuan atau skill yang kita miliki juga salah satu bentuk berbagi dan pastinya punya keuntungan tersendiri.

Seperti yang dilakukan Muhammad Tasyrifin, pemuda 21 tahun asal Martapura ini berbagi dengan caranya sendiri. Ia baru saja menyelesaikan studinya di Akademi Perawat (Akper) Intan Martapura. Dengan latar belakang pendidikannya itulah ia berbagi. Ia menjadi salah satu relawan medis yang membantu program Homecare RBP yaitu menjadi perawat bagi Hanil. Hanil yang kini dalam keadaan lumpuh harus mendapatkan perawatan secara rutin.

“Saya biasanya membantu membersihkan luka dan mengganti kateter (alat bantu buang air kecil) beliau secara rutin,” ujar pemuda yang akrab disapa Tasyrifin itu.

Bagi Tasyrifin menjadi relawan itu memberikan banyak keuntungan. Ia bisa mendapatkan kesempatan belajar dan pengalaman yang pastinya akan ia temui lagi dalam dunia kerja. “Tak ada ruginya menjadi relawan itu, bahkan bagi saya adalah pekerjaan yang paling menguntungkan,” tuturnya.

Tak hanya itu, ia pun mengaku mendapatkan keluarga baru setelah menjadi relawan. Rutinitas membersamai keluarga Hanil rupanya menumbuhkan keakraban di antara mereka. Hal itu membuat Tasrifin tak ingin berhenti membantu walau kini ia sudah menyelesaikan studinya di Akper Intan Martapura.

“Saya ingin terus membantu, apalagi sudah akrab dengan keluarga Pak Hanil,” ujarnya yang kini sudah memakai gelar Ahli Madya di belakang namanya.

Tasyrifin mengungkapkan, awalnya ia diminta oleh Ketua IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa) untuk menjadi relawan program homecare RBP. Meski ragu, akhirnya tawaran tersebut Ia terima.

Pertama kali melakukan perawatan Tasyrifin merasa gugup karena belum tahu kondisi pasien yang akan ditangani, namun kekuatan tekadnya berbuah manis. “Kalau di kampus kan biasanya yang jadi pasien teman sendiri jadi biasa aja. Kalau pasien betulan pasti tekanan mentalnya beda,” tuturnya.

Keberhasilan pertamanya membantu pasien membuatnya lebih percaya diri dan dengan senang hati menjalani pekerjaannya itu. “Alhamdulillah senang rasanya. Dengan terlibat langsung saya jadi merasa lebih percaya diri. Terima kasih kepada RBP atas kesempatan yang diberikan,” ungkapnya lagi.

Tasyrifin yang tinggal bersama orang tuanya di Karang Intan Martapura harus menempuh jarak lebih dari 10 km untuk sampai ke rumah Hanil. Bahkan jika aktivitas di kampus cukup padat, Ia rela pergi ke rumah Hanil pada malam hari. Keputusannya untuk menjadi relawanpun didukung oleh orang tuanya sehingga semua Ia lakukan dengan ringan hati.

Tak ingin merasakan kebahagiaan menjadi relawan itu sendiri, ia juga sering mengajak teman-teman kuliahnya untuk membantu di lapangan. Bergantian menjadi tenaga sukarela pagi pasien duafa.

Sosok Tasyrifin hanya satu dari sekian banyak relawan yang telah bermitra dengan RBP. Mereka mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk membantu sesama. Tak ada imbalan yang mereka terima, bahkan bisa jadi harus berkorban materi saat beraksi. Namun, tak ada gurat lelah di wajah mereka. Yang ada hanya senyum ketulusan hati. Karena berbagi tak melulu soal materi. (hwf/en)

Byadmin

Homecare : Jalan Panjang Hanil Jalani Pengobatan

Sinergi Program : RBP – Dinkes Kota Banjarbaru – IDI Kota Banjarbaru

Siapapun di dunia ini tentu tidak ada yang ingin hidup dalam kondisi cacat atau lumpuh. Namun terkadang keadaan tidak bisa diatur sesuai kehendak diri. Seperti yang dialami Hanil, lelaki 45 tahun asal Kecamatan Cempaka Banjarbaru, kini hanya bisa terbaring di atas kasur karena mengalami patah tulang belakang akibat kecelakaan saat bekerja. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2016 yang lampau. “Waktu itu saya tertimpa bongkahan bangunan dari atas saat sedang bekerja,” kenang Hanil saat ditanya kronologis kejadian.

Setelah itu Hanil sempat dirawat di rumah selama lima hari sebelum dibawa ke rumah sakit. “Kami sempat bolak balik ke rumah sakit sebanyak empat kali, tapi karena kondisi keuangan semakin menipis akhirnya dirawat di rumah saja,” ujar Sahni (44), istri Hanil. Sejak suaminya tak bekerja, Sahni memang hanya mengandalkan tabungan dan pemberian anak untuk kebutuhan sehari-hari.

Atas bantuan seorang dermawan, Hanil akhirnya mendapatkan BPJS dan melanjutkan pengobatan ke rumah sakit. Setiap dua minggu sekali Hanil harus mengganti kateter (alat buang air kecil). Hal ini membuat keluarga kerepotan dan akhirnya pada bulan November 2016 meminta bantuan kepada RBP. Sejak saat itulah RBP melakukan pendampingan pengobatan untuk Hanil.

Dokter Fatmawati Spesialis Syaraf yang menangani Hanil beberapa bulan terakhir menjelaskan bahwa yang bisa diupayakan untuk saat ini adalah terapi untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi. “Kemungkinan untuk pemulihan dari sisi kecacatan memang jelek, jadi sekarang yang ditangani adalah nyeri supaya dia bisa hidup lebih nyaman dan mencegah komplikasi akibat duduk atau tirah baring lama seperti decubitus,” ungkapnya.

Fatmawati menyayangkan penanganan yang cukup terlambat sejak awal kejadian. “Kalau saja sejak awal ditangani secara cepat dan optimal, mungkin kemungkinan pemulihan dari cacat bisa lebih baik,” imbuhnya.

RBP sendiri melakukan peran pendampingan untuk meringankan beban Hanil dan keluarga. “Hanil adalah kepala keluarga, sedangkan istrinya mau tidak mau harus melakukan perawatan harian dan menjaganya, sehingga tak bisa bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Kami lakukan pendampingan dalam bentuk bantuan kunjungan dokter dan berobat rutin,” terang Direktur RBP Dokter Diauddin.

Diauddin menyampaikan bahwa RBP tidak bekerja sendiri. Banyak mitra peduli yang bergandengan dalam upaya menuntaskan masalah sosial kemanusiaan tersebut. “Alhamdulillah ada para relawan medis dari Akper Intan Martapura yang secara sukarela membantu melakukan upaya perawatan rutin ke rumah Hanil. Selain itu untuk mengantar ke RS juga dibantu ambulan dari Masjid Agung Al Munawarah Banjarbaru,” paparnya.

Sinergi seperti itu, lanjut Diauddin, menjadi solusi yang tepat bagi kondisi Hanil. “Bagaimanapun nanti, yang jelas upaya terbaik yang akan kita lakukan demi kemanusiaan,” imbuhnya.

Ya. Tentu RBP tak bisa bergerak sendiri. RBP memerlukan dukungan semua pihak dalam mengemban amanah dan berupaya menyelesaikan masalah sosial kemanusiaan di sekitar kita. Dengan kedermawanan yang terulur maka kebaikan demi kebaikan akan terus terwujud di sekitar kita. Aamiin. (en)

 

 

Byadmin

Infak Sebulan Saja, Manfaat Selamanya

Infak Ramadan bersama Hotel Roditha Banjarmasin

Program infak bulan Ramadan yang dilaksanakan oleh Hotel Roditha Banjarmasin bersama RBP membawa berkah, baik bagi penerima manfaat nantinya juga bagi hotel Roditha sendiri. Hal ini disampaikan oleh Chief Accounting Hotel Roditha Banjarmasin Husin Alkatiri saat menyerahkan donasi kepada RBP, Rabu (26/7) lalu. Husin mengaku program tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. “Alhamdulillah ada peningkatan, semoga bisa lebih memberi manfaat,” ungkapnya.

Penyerahan dilakukan di coffee shop Hotel Roditha Banjarmasin dan dari RBP hadir Wakil Ketua Yayasan RBP Saleh, Staf Fundraising Achmad Ridho Indra dan Staf Pendayagunaan Devi Putri Listyasari.

Infak yang dikumpulkan Hotel Roditha Banjarmasin selama bulan Ramadan yang lalu merupakan kali kedua kerjasama bersama RBP. Infak dihitung dari setiap penjualan menu makanan ataupun kamar. Infak yang diperoleh akan disalurkan ke program-program sosial kemanusiaan yang dikelola RBP.

Salah satu program RBP yang sedang dibangun adalah Bunda (Tabungan Duafa) dalam bentuk orang tua asuh. Dimana donasi para dermawan digunakan untuk membantu anak-anak duafa yang terancam putus sekolah. Selain itu juga ada program Homecare, yaitu pendampingan kesehatan bagi duafa yang tidak bisa mengakses layanan kesehatan terdekat dengan berbagai kendala, domisili terpencil, lumpuh, ataupun karena usia sudah tua.

“Nilai infak yang mungkin dianggap kecil, jika dikumpulkan terus menerus tentu menjadi besar, sehingga kebermanfaatannya pun menjadi besar juga,” ucap Saleh. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Hotel Roditha Banjarmasin yang selalu mendukung gerakan kemanusiaan di Kalimantan Selatan.

Berbagi itu tak pernah rugi. Seperti yang telah dilakukan Hotel Roditha Banjarmasin, dengan menyisihkan sedikit keuntungan selama satu bulan saja, selamanya manfaat kebaikan itu bisa terus digaungkan. Terima kasih telah berbagi. (en)

Byadmin

Bukan Sekedar Silaturahmi, Beda dengan Berbagi

Reuni ala SMPN 1 Banjarbaru Angkatan 1996

Bagaimana rasanya bisa berkumpul dengan teman satu sekolah yang mungkin selama 20 tahun tak pernah ketemu? Mungkin ada yang pernah ketemu namun karena kesibukan hanya sempat melempar sapa kemudian kembali ke aktivitas masing-masing. Tentu bisa dibayangkan betapa meriahnya suasana tersebut. Dan itulah yang terjadi pada Sabtu (22/7) lalu di Restoran Grand Dafam Q Hotel Banjarbaru. Puluhan orang dengan pakaian bernuansa putih biru memenuhi ruang makan out door tersebut. Keceriaan terlihat dari senyuman yang tak pernah lepas dari wajah-wajah mereka. Di satu sisi dinding utama tampak sebuah tulisan besar : Memori Putih Biru, SMPN 1 Banjarbaru Angkatan 1996.

Ya. Hari itu sedang berlangsung reuni alumni SMP Negeri 1 Banjarbaru angkatan 1996. “Ini perdana kami selenggarakan dan insha Allah akan rutin setiap tahun,” terang Mulyono Tasman selaku ketua pelaksana.

Mulyono menceritakan bahwa keinginan untuk reuni berawal dari obrolan ringan saja. Namun, Ia beryukur meski dengan persiapan yang hanya dua minggu saja itu kegiatan bisa terlaksana dengan lancar. “Kami tidak ingin hanya kumpul-kumpul tapi harus ada kegiatan yang bermanfaat, sehingga semua bersepakat untuk menggalang donasi dan mempercayakan kebermanfaatannya kepada RBP,” ungkapnya. Selain berbagi dengan donasi, beberapa alumni SMPN 1 Banjarbaru itu juga sempat menjenguk guru-guru mereka yang sudah pensiun.

Achmad Ridho Indra yang mewakili RBP saat itu menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. “Donasi ini akan kami salurkan ke program-program untuk duafa yang sudah kami kelola,” ujarnya.

Hadir juga dalam kegiatan itu Kepala Sekolah SMPN 1 Banjarbaru Fakhriati MPd bersama beberapa guru yaitu Ika Rukiah SPd, Eka Rahmawati SPd, Noor Aida SPd, Zuraida SPd, Ratni Farial SPd, dan Gusti Zubaidah SPd.

Fakhriati mengapresiasi pelaksanaan reuni yang digandeng dengan kegiatan sosial itu. “Kami bangga dan berterima kasih karena turut dihadirkan di momen bahagia ini. Semoga alumni 1996 ini semakin sukses dan kedepan bisa membuat acara seperti ini lagi yang lebih besar,” ucapnya.

Acara reuni juga diisi dengan pemutaran video kompilasi para alumni. Gelak tawa dan canda selalu terdengar sepanjang sesi tersebut. Memori putih biru bertahun-tahun silam seperti terjadi kembali di hadapan mereka.

Ingin Melanjutkan Sinergi

Pelaksanaan reuni alumni SMPN 1 Banjarbaru angkatan 1996 sepertinya memicu semangat berbagi bagi para alumni. Hal ini disampaikan oleh Mulyono Tasman selaku ketua pelaksana. “Kami ingin membaktikan diri sesuai keahlian yang dimiliki sekarang,” terangnya.

Alumni 1996 berjumlah 200an siswa dengan profesi yang berbeda-beda dan tersebar ke seluruh penjuru nusantara. Guru, pegawai, dokter, hingga pengusaha.

“Ke depan bisa kembali bersama RBP menggelar kegiatan sosial, tidak harus setahun sekali tapi kalau perlu beberapa kali setahun. Insha Allah kami siap,” ungkapnya penuh semangat.

Tentu hal ini disambut baik oleh RBP. Dokter Diauddin MKes selaku Direktur RBP menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan dan menyambut hangat keinginan tersebut. “Kami dengan tangan terbuka menyambut sinergi kebaikan dalam bentuk apapun, nanti akan kita realisasikan,” tuturnya. (en)