Author Archive

Byadmin

Peduli Karena Naluri

Relawan Dibalik Program Homecare Duafa RBP


Siti Ramlah. Perempuan kurus yang selalu bisa menghadirkan tawa itu sudah menjalankan tugasnya selama sembilan bulan. Banyak kisah dan kesan yang Ia rasakan selama menjadi relawan. Memperingati hari relawan internasional, RBP berkesempatan mewawancarainya dan menggali pengalamannya selama mengemban tugas tersebut.

Semenjak duduk di bangku sekolah, Siti Ramlah sudah mencintai dunia kerelawanan. Namun, kecintaannya ini tidak tersalurkan lantaran belum menemukan “wadah” yang tepat. Memasuki bangku kuliah, akhirnya perempuan 29 tahun itu bergabung dalam organisasi KSR-PMI (Korps Sukarela-Palang Merah Indonesia) di kampusnya. Saat itulah menjadi jejak awalnya dalam dunia kerelawanan.

Tahun 2016 Siti Ramlah bertemu dengan komunitas relawan Sahabat Kalsel. Perempuan yang akrab disapa Ramlah itu aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kerelawanan Sahabat Kalsel. Hingga suatu hari Ia diajak mendampingi program homecare duafa RBP.

“Awalnya saya tidak paham apa itu homecare, namun setelah terjun langsung ke dalam setiap kegiatan, saya jadi tau dan tertarik untuk terlibat secara terus menerus,” tuturnya.

Ramlah mengaku sangat bahagia karena dapat membantu orang lain sekaligus hasrat kerelawanannya juga dapat tersalurkan. “Saat ini saya menjadi pendamping semua urusan pasien homecare di wilayah Cempaka. Ada lima pasien, salah satunya adalah Hanil yang paling sering saya kunjungi,” sambung Ramlah.

Hanil adalah lelaki 45 tahun yang mengalami patah tulang belakang akibat kecelakaan saat bekerja. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2016 yang lampau. Hanil tak bisa lagi bekerja sehingga untuk penghidupan sehari-hari bersama sang istri hanya mengharapkan uluran tangan anak dan sanak keluarga.

“Saya bersama relawan medis setiap dua minggu sekali ke rumah Hanil untuk mengganti kateter (selang untuk buang air kecil),” ujar Ramlah.

Dalam melakukan pendampingan tak jarang Ramlah harus siap siaga sewaktu-waktu jika ada kondisi darurat. Pernah satu waktu Ramlah harus mencari ambulan malam-malam karena mendadak kateter Hanil mampet. Kondisi Hanil turun drastis. Meski sempat kesulitan mencari sopir, akhirnya Hanil bisa dibawa ke RS Idaman Banjarbaru. “Saya ingat waktu itu hingga jam satu malam kami berkutat mengurus Hanil di rumah sakit, Saya terbantu dengan relawan-relawan Sahabat Kalsel yang juga turun tangan,” kenangnya.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani mengaku salut dengan dedikasi Ramlah. “Anaknya sangat supel dan entah punya kekuatan apa banyak pasien yang langsung bisa tertawa kalau dekat dia,” ujarnya. Padahal, menurut Retno, Ramlah sudah sejak kecil menjadi yatim piatu. Saat ini Ramlah sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya di STAI Darusalam. Semua itu dilakoninya ditengah-tengah tugasnya sebagai kepala sekolah TK Beruntung Jaya di Kecamatan Cempaka.

“Meski hidup dalam keterbatasan, namun semangat berbaginya sangat besar. Semoga dikuatkan dalam setiap langkahnya,” pungkas Retno.

“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan dia tetap akan terhormat sepanjang jalan, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuil pun. Namun umat manusia akan menghormati jasa-jasanya.” (Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan)

Siti Ramlah mungkin hanya segelintir gambaran jiwa relawan yang ada di sekitar kita. Secuil cerita dari besarnya empati yang masih ada. Ramlah hadir membawa kebahagiaan atas sebuah asa peduli yang hadir karena naluri. (nad/en)

Byadmin

Ramaikan HKN ke 53, Bantu Masyarakat di Pinggiran Sungai

Sinergi Program RBP dengan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Poltekkes Kemenkes Banjarmasin memilih untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 53 kali ini bersinergi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Berbasis wilayah sungai, serangkaian layanan kesehatan gratis diberikan kepada warga di Desa Teluk Selong, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar pada Selasa (21/11) lalu.

“Poltekkes bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar sama-sama memiliki visi untuk membantu warga di pinggiran sungai, terutama dalam hal pengolahan air,” ujar salah satu dosen Poltekkes Arifin SKM MKes yang bertugas sebagai pembimbing dalam bakti sosial tersebut.

Arifin yang merupakan dosen pengampu mata kuliah pengolahan limbah cair itu menuturkan bahwa permasalahan air di Kabupaten Banjar kebanyakan adalah soal air yang kotor. “Sumber air kita itu besar namun tidak layak konsumsi, salah satu penyebabnya karena tipe sungainya adalah berlumpur,” ujarnya. “Oleh sebab itu kami memberikan sumbangsih kepada warga dalam hal penjernihan air sehingga layak konsumsi,” imbuhnya.

Rupanya kegiatan pengolahan air bersih itu mendapat antusias yang luar biasa dari warga. Terlihat mereka secara spontan langsung berteriak dan bertepuk tangan begitu melihat perubahan air dari yang sebelumnya kotor menjadi bersih. “Alhamdulillah senang sekali bisa berbagi bersama warga di sini. Banyak yang bertanya-tanya tentang alat yang kami gunakan,” ujar Rizki Aulia, gadis cantik dari jurusan kesehatan lingkungan yang ikut bertugas.

Selain pengolahan air, juga diberikan penyuluhan mengenai jajanan sehat, pelepasan alat kontrasepsi seperti IUD (KB spiral) dan implan, penyuluhan kesehatan, pemeriksaan tekanan darah pasien, dan gosok gigi massal oleh siswa sekolah setempat. Semua jurusan di Poltekkes Kemenkes Banjarmasin turun terlibat memberikan pengabdian ke rumah-rumah warga.

“Kami juga dibantu puskesmas setempat dalam menjalankan tugas, sehingga pendekatan ke masyarakat lebih mudah dilakukan,” ujar Ahmad Ridani, mahasiswa jurusan keperawatan prodi D-IV. Ahmad Ridani mengaku sempat mengalami hambatan dalam melakukan layanan kesehatan. “Kebetulan saya menemui pasien yang terkena diabetes. Awalnya beliau hanya setengah hati menerima kehadiran tim kami, tapi dengan bantuan dari puskesmas, akhirnya pasien dan keluarga bisa menerima kedatangan kami dengan baik,” sambung laki-laki bersenyum manis tersebut.

Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan pembacaan ikrar Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) oleh perwakilan pelajar di Desa Teluk Selong, dongeng tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), dan senam bersama. (nad/en)

Byadmin

Ingin Tingkatkan Minat Baca Mading, Kopma Latihan Bersama RBP

Pagi itu, Minggu (26/11), suasana di Ruang Kalangkala Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Lambung Mangkurat terdengar riuh, padahal tak ada jadwal perkuliahan yang tengah berlangsung. Rupanya ada belasan pengurus Koperasi Mahasiswa (KOPMA) Faperta yang terlihat asik mengikuti pelatihan jurnalistik dan fotografi bersama Radar Banjar Peduli (RBP). Bertindak sebagai pembicara yaitu  Manajer Marketing Komunikasi Retno Sulisetiyani dan Manajer Fundraising Achmad Ridho Indra.

Hendri Sri Lestari selaku ketua pelaksana yang juga Pengurus Bidang Administrasi Kopma menuturkan bahwa pelatihan jurnalistik dan fotografi ini baru pertama kali diselenggarakan. “Kami merasa perlu meningkatkan kemampuan menulis dan fotografi agar bisa meningkatkan minat baca mahasiswa terhadap mading kami,” ujar wanita yang sering disapa Sista itu.

Sista melihat, mading sebagai media komunikasi lembaga kini mulai kurang diminati. RBP selaku lembaga sosial yang juga peduli dengan generasi penerus melihat perlu untuk turut berkontribusi. “Persoalan ini menjadi kerja kita bersama. Peran sekecil apapun harus diambil, termasuk berbagi ilmu dan pengalaman,” ujar Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani yang kala itu memaparkan teknik dan dasar jurnalistik.

Retno menerangkan tentang bagaimana membuat tulisan di mading menjadi lebih menarik. “Libatkan publik kampus dalam menilai mading kalian, ajak mereka akrab dulu dengan mading,” ucapnya. Retno juga mengajak para peserta untuk praktek wawancara dan menulis secara singkat.

Keasikan semakin terlihat kala memasuki pengenalan terhadap teknik fotografi yang dibawakan oleh Achmad Ridho Indra. Lelaki yang biasa disapa Edo itu mengajak para peserta memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sarana untuk pengambilan objek foto. “Kuncinya kita harus mengenal apa itu komposisi,” ujar Edo.

Salah satu peserta, Ica Katisa Maharani yang merupakan mahasiswi Jurusan Agribisnis Faperta mengapresiasi kegiatan tersebut. “ Menurut saya pelatihan ini sangat menarik dan saya mendapatkan banyak pengetahuan jurnalistik yaitu proses, teknik, dan ilmu. Saya juga mengetahui apa saja cakupan berita secara rinci dan jelas,” ujar Ica.

Sista mewakili pengurus Kopma menyampaikan ucapan terima kasih kepada RBP atas kerjasama dalam membangun kapasitas lembaga. “Hal ini bisa meningkatkan kepercayaan kami dalam berperan aktif mengelola mading. Kami berharap melalui mading nantinya bisa menjaga kekompakan, rasa kekeluargaan, dan kepedulian satu sama lain,” tuturnya. (el/en)

Byadmin

Sahabat Kalsel Re-born

Setelah vakum selama lima bulan lamanya, kini komunitas relawan Sahabat Kalsel kembali lagi dengan wajah baru. Ahmad Khairil didaulat sebagai ketua yang baru. Mahasiswa semester akhir di Fakultas Pertanian ULM itu ditunjuk secara mufakat oleh para relawan dalam rapat pada Kamis (16/11) lalu.

Meski baru aktif kembali, rupanya gairah kerelawanan tak bisa dibendung. Dalam sepekan sudah berbagai aktivitas kerelawanan dikerjakan mereka. Senin (20/11) yang lalu, relawan Sahabat Kalsel melakukan pendampingan untuk Salasiah (52), seorang janda yang sedang sakit. Sahabat Kalsel membawa Salasiah ke IGD RS Idaman Banjarbaru dan Alhamdulillah Salasiah segera mendapatkan pengobatan.

Minggu (19/11) lalu, Sahabat Kalsel bersama Engineer Bites Charity menyalurkan bantuan berupa sembako, roti dan pakaian layak pakai untuk warga di Desa Kitano, Kabupaten Banjar. Dan kepedulian itu tak jua berhenti. Hal ini terlihat pada Jumat (24/11) dan Sabtu (25/11), dengan aksi Sahabat Kalsel membagikan sedekah nasi titipan amanah dari para donatur Engineer Bites Charity.

“Ini amanah yang berat, tapi dengan dukungan kawan-kawan, semoga ke depan Sahabat Kalsel bisa lebih berarti keberadaannya,” ucap Khairil kepada RBP. Dalam menjalankan amanahnya, Khairil dibantu relawan lain yang menjadi pengurus. Ada Andy yang ditunjuk sebagai sekretaris bendahara, Edo memegang bidang humas, dan Hermawan mengurus bidang program.

Byadmin

Ubah Cubitan Jadi Elusan Sayang

Dari kegiatan Parenting Desa kerjasama Himpaudi Kota Banjarbaru dan Bank Kalsel Cabang Banjarbaru

Amun ngalih ditagur, ulun kibit ae (kalau susah ditegur, saya cubit saja),” demikian tutur seorang ibu di Kelurahan Bangkal ketika ditanya Retno – salah seorang relawan RBP – tentang bagaimana kebiasaannya menangani anaknya saat rewel. Alhasil, puluhan ibu dan anak di Raudhatul Athfal Al Aman yang mengikuti kegiatan parenting desa itu pun tergelak. Suasana menjadi riuh.

Begitulah suasana jalannya program parenting desa di RT 6 Kelurahan Bangkal, Cempaka, Kota Banjarbaru yang dilaksanakan Kamis (23/11) tadi.

Ketua Himpaudi Kota Banjarbaru Nurhayati yang bertindak langsung sebagai narasumber memberikan jawaban bijak bagi ibu tersebut. “Berhenti mencubit ya Bunda, karena anak-anak sepenuhnya belum mengerti. Orang tua lah yang harus banyak bersabar,” himbaunya. Nurhayati pun memberikan contoh bagaimana bersikap kepada anak-anak. “Ubah cubitan itu jadi elusan sayang. Anak itu dipeluk Bunda, sehingga Ia bisa belajar apa itu kasih sayang,” pungkasnya.

Keceriaan semakin terasa begitu RBP membagikan makanan sehat berupa nugget gratis persembahan Bank Kalsel Cabang Banjarbaru. “Terima kasiiih…,” ucap siswa siswi RA Al Aman serempak membuat suasana bertambah ramai.

Parenting desa kali ini menjadi penutup dari program selama setahun pertama. Namun, baik RBP maupun Himpaudi Kota Banjarbaru sama-sama masih punya komitmen untuk kembali melaksanakan program ini. “Kegiatan ini sangat positif karena bisa membangun pemahaman tentang parenting hingga ke pelosok,” ujar Nurhayati.

Senada, Direktur RBP Dokter Diauddin juga berharap program ini terus berlangsung. “Jika ada dukungan dari banyak pihak mungkin wilayah program bisa diperluas,” ucapnya. (en)

Byadmin

Kebaikan Selalu Menemukan Jalannya

Oleh Retno Sulisetiyani
(Manajer Marketing Komunikasi RBP)

“Saya kepikiran biaya kontrakan, bulan Desember harus bayar 700rb,” Bu Sum akhirnya bersuara tentang gundah yang Ia rasakan pagi itu, Jumat (17/11). “Ibu ingat Allah yaa, tenangkan pikiran, perbanyak doa. InsyaAllah rezeki ibu sudah ada yg ngatur,” Saya berusaha menguatkan.

Malam itu saya coba membagi kisah tentang Sumiati kepada para sahabat dermawan.

Sumiati adalah janda berusia 45 tahun yang hidup bersama anak satu-satunya bernama Zailani. Ia dan anaknya tak punya pekerjaan tetap. Sehari-hari Sumiati kerja menjadi asisten di kantin kantor Gubernur. Tapi sudah dua bulan libur karena kantin sedang direnovasi. Akhirnya Sumiati mengambil upah nyuci baju tetangga beliau. Namun, kondisinya yang sakit membuatnya kesulitan. “Biasanya dibantu Zailani,” ucapnya kala itu.

Zailani, yang kini berusia 28 tahun juga sedang tak punya pekerjaan. Dulunya, Ia bekerja di sebuah bengkel di Liang Anggang. Namun, karena ada pelebaran bengkel tersebut kena gusur dan akhirnya tutup. Ia tak bisa ikut kerja bangunan karena tak punya sepeda motor. “Kalau harus naik angkutan umum malah habis upahnya untuk ongkos transport,” keluhnya siang itu kepada Saya.

Saya tentu tak bisa membantu Sumiati dan anaknya secara langsung. Namun ikhtiar Saya maksimalkan untuk membaginya kepada teman-teman. Rupanya Allah swt mendengar doa-doa Sumiati. Selang beberapa jam kemudian beberapa pesan masuk ke handphone Saya.

Saya bantu satu juta
Kontrakan beliau biar saya yang tanggung
Ada sepeda motor silahkan dipakai

Allahuakbar. Segalanya mudah bagi Allah swt. Benar janjiNya, bahwa kebaikan pasti akan menemukan jalannya. Banyak tangan terulur untuk Sumiati. Bahkan ada yang hanya mengirimkan bukti transfer donasi dengan nominal yang lumayan. Ah, semua memang sangat mudah bagiNya.

Terima kasih sahabat dermawan. Semoga kebaikan dari segala arah kembali kepada kalian.

Byadmin

Eny Apriyati : Ayo Bantu Sumiati Berjuang!

Sumiati, janda 45 tahun yang sedang berjuang melawan kanker payudara itu tersenyum lebar. Betapa tidak, seperti mimpi di siang bolong, Ia tak menyangka Ketua GOW Kota Banjarbaru yang juga istri Wakil Walikota Banjarbaru Eny Apriyati Darmawan Jaya mengunjunginya di RS Idaman Banjarbaru, Sabtu (18/11) kemarin. “Nggak nyangka sidin mau nengok saya,” ucapnya.

“Ibu harus kuat, jalani hidup dengan semangat,” ujar Eny seraya mengelus lembut lengan Sumiati. Eny juga menyapa Zailani, anak Sumiati. “Jaga ibu ya, temani ibu menjalani pengobatan,” ujarnya kepada lelaki berusia 28 tahun itu. Zailani mengangguk seraya berjanji.

Eny juga berbagi kisah tentang komunitas penderita kanker payudara di Kota Banjarbaru. “Nanti ibu gabung saja dengan komunitas itu, jadi bisa saling berbagi cerita. Beban pikiran kan bisa lebih ringan kalau berbagi,” tutur wanita berparas cantik itu. Senyum dikulum kembali menghiasi wajah Sumiati. Rupanya, Eny yang juga seorang perawat itu memberi perhatian khusus untuk para pejuang kanker payudara. “Banyak para penderita kanker payudara di Kota Banjarbaru, mereka perlu dukungan dari kita semua,” ucapnya kepada RBP.

Kamis (16/11) malam yang lalu, Sumiati terpaksa dilarikan ke RS Idaman Banjarbaru karena kondisinya yang mengkhawatirkan. “Mama sesak nafas dan sakit kepala hebat,” terang Zailani berkabar kepada RBP. Relawan RBP pun sigap membawa Sumiati ke rumah sakit.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani yang turut mendampingi malam itu menuturkan bahwa kondisi Sumiati cukup mengkhawatirkan. “Bu Sum sering mengaduh sakit kepala dan nafsu makan menurun,” ujarnya. Setelah dua hari dirawat, Sumiati mengaku sakit kepalanya sudah berkurang. Kini Ia sudah terlihat bisa tertawa. (en)

Byadmin

RBP Berbagi Ilmu Kehumasan Kepada Mahasiswa

Pagi itu, Minggu (12/11) bertempat di SDIT anic Banjarbaru, sekitar 15 mahasiswa dari berbagai kampus di Banjarbaru berkumpul. Duduk lesehan di salah satu ruangan, mereka asik berdiskusi bersama Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani. Mahasiswa-mahasiswa itu adalah pengurus dan anggota dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Idaman. 

Izza, salah satu pengurus KAMMI Komsat Idaman menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya peningkatan kapasitas organisasi. “Kebetulan banyak kader baru, sehingga perlu dibekali pengetahuan dan Alhamdulillah ada RBP yang mau memfasilitasi,” ujar Izza seraya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada RBP. Ia mengaku terbantu dengan bantuan yang telah diberikan. 

Dalam pemaparannya, Retno menjelaskan tentang apa saja peran penting dan tugas humas dalam organisasi. “Humas itu representasi lembaga. Komponen pentingnya ada pada kemampuan komunikasi,” ujarnya. 

Perempuan berkacamata itu juga memberikan tugas-tugas untuk dipraktekkan. “Salah satu cara menyampaikan pesan adalah dengan menulis, dan untuk bisa menulis harus sering berlatih,” himbaunya kepada semua peserta. 

Retno menilai kegiatan seperti ini harus didukung karena pemuda yang terlatih adalah generasi harapan. “Siapapun kita, harus memiliki perhatian kepada para pemuda. Bentuk mereka agar menjadi generasi berwawasan dan kreatif,” pungkasnya. (en) 

Byadmin

Bantu Mustadi, Bocah Penderita Kanker Asal Cempaka

Mustadi, bocah 11 tahun itu seperti tak terlihat sedang sakit. Ia asik bermain dengan adiknya, Edo, yang empat tahun lebih muda darinya. Namun, wajahnya yang pucat tak bisa membohongi keadaannya yang telah berjuang melawan kanker darah sejak empat tahun yang lalu.
Ruang anak kelas 3 RS Idaman Banjarbaru. Di sanalah Mustadi dirawat. Sang Ibu, Solatiah, tampak duduk bersender di salah satu dinding ruangan itu. “Saya sedih mengetahui anak saya kena kanker, saya ingin Ia sembuh kembali,” ungkapnya kepada penulis. Sejak 2013 yang lalu, perempuan berusia 35 tahun itu berjuang sekuat tenaga membawa Mustadi berobat. “Saya ikuti semua proses pengobatan. Alhamdulillah gratis,” kisahnya.
Namun, rupanya pengobatan kanker tidaklah sebentar. Menurut Dokter Harapan Parlindungan Spesialis Anak dan Hematologi, Mustadi sudah menjalani kemoterapi dan selama satu tahun awal berjalan baik. “Namun ketika hampir menyelesaikan proses kemoterapi, ternyata kambuh lagi sehingga program kemo pun diulang,” ujar dokter yang biasa disapa Dokter Parlin tersebut.
Di tahun kedua, kondisi serupa terjadi kembali sehingga menyebabkan Solatiah putus asa. Bagaimana tidak? Untuk pengobatan Mustadi, Solatiah terpaksa menjual rumahnya. “Semua harta benda sudah terjual, cuma tersisa punya rumah hasil kerja suami. Sementara saya pengen Mustadi sehat kembali, ya kami jual rumah tersebut,” akunya.
“Saya tak sanggup lagi. Tidak ada biaya untuk ke RS. Kerjaan suami sedang sepi,” ucapnya kala itu.
Ahmad (43), suami Solatiah, memang hanya mengandalkan hidup dari hasil mendulang. Sudah berbulan-bulan ini tidak mendapatkan hasil apapun.
Beruntung, kepedulian Dokter Parlin terhadap pasiennya menggugah salah satu rekan medisnya untuk menggalang dana. Dialah Dokter Siti Ningsih, yang juga adalah pengurus Radar Banjar Peduli (RBP).
“Saya bermaksud mengajak bapak ibu yang ingin membantu mama Mustadi supaya bisa tetap menjalankan program kemoterapi karena anak ini masih ada kemungkinan untuk baik dan beraktifitas normal,” tulisnya melalui pesan whatsapp.
Dana yang Ia kumpulkan kemudian dititipkan ke RBP untuk dikelola. “Mudahan dengan dikelola lembaga, kesinambungan pengobatan lebih terjaga karena dana benar-benar disalurkan sesuai peruntukannya,” ucapnya.
Direktur RBP Dokter Diauddin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas sinergi yang telah terjalin. “Alhamdulillah dengan sinergi seperti ini harapan Mustadi untuk sembuh dapat kembali bersinar. Semoga makin banyak tangan terulur, tidak hanya untuk Mustadi tapi juga penderita kanker lainnya,” ujar Dokter Diauddin.
Sahabat, banyak pejuang kanker di Kalimantan Selatan sedang berjuang keras. Bukan untuk melawan maut, melainkan untuk bertahan hidup dengan baik. Mereka berhak untuk bahagia. RBP hadir membersamai mereka bukan untuk menjadi pahlawan, namun ingin menjadi teman seperjuangan. Membersamai dalam setiap tangis bahkan tawa. (en)

Byadmin

Sumiati, Pejuang Kanker yang Kini Sendiri

Dua Tahun Tanpa Pengobatan karena Ketidaktahuan

Sumiati adalah janda berusia 45 tahun yang hidup bersama anak satu-satunya bernama Zailani (27). Perempuan yang tak tamat SD itu sebenarnya sudah merasakan benjolan di payudaranya sejak dua tahun yang lalu. Namun karena ketidaktahuan maka Ia hanya mendiamkannya. Ditambah saat itu suaminya tiba-tiba pergi tanpa pesan. Beban perpisahan itulah yang lebih menguras pikirannya kala itu.

Hingga, akhirnya benjolan itu pecah dan menimbulkan luka. Sumiati akhirnya berkeluh kesah dengan salah satu tetangganya. Melalui tetangganya itulah kabar tentang derita penyakit Sumiati sampai ke RBP.

“Saya tidak paham Bu, harus diapakan penyakit saya ini,” ucapnya kala ditanya kenapa tidak pernah berobat. “Alhamdulillah kalau ada yang bantu saya, saya mau kok berobat,” imbuhnya.

Jumat (27/10) lalu, RBP membawa Sumiati ke RS Idaman Banjarbaru menggunakan jaminan SKTM. Setelah bertemu dan diperiksa Dokter Eko Wahyu Pribadi Spesialis Bedah, Sumiati dirujuk ke RS Ratu Zaleha Martapura untuk mendapatkan tindakan operasi. “Ibu harus dioperasi karena kankernya sudah ganas,” ujar Dokter Eko kala itu.

Sumiati menjalani operasi pengambilan jaringan kanker pada hari Jumat (3/11) kemarin di RS Ratu Zaleha Martapura. “Alhamdulillah operasi berjalan lancar, dan sedang diproses pemeriksaan jaringan kankernya di laboratorium,” ujar Manajer Program RBP Nurhayah.

Sumiati memang perempuan tangguh. Hal ini terlihat saat RBP menjenguknya siang pasca operasi. Ia seperti tak merasakan sakit di tubuhnya. Ketika akan dipakaikan baju pun Ia secepat kilat bangun. “Pelan-pelan saja Bu, ini ada jahitan pasca operasi lo,” ucap salah seorang relawan yang mengaku heran dengan ketangguhan Sumiati. “Ibu ini kuat sekali,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.

Hal yang sama juga dikatakan Zailani, anak Sumiati. “Ibu memang jarang mengeluh,” akunya. Bahkan, kata Zailani, sang Ibu masih sempat mengambil upah nyuci baju beberapa hari sebelum operasi. “Untung saya ada di rumah waktu itu jadi bisa saya bantu, soalnya ibu nyucinya dikucek saja pakai tangan,” kisahnya kepada RBP.

Sumiati mungkin kini hidup sendiri tanpa suami, namun kami yakin tangan-tangan kebaikan banyak yang peduli pada perjuangannya. Perjuangan yang masih sangat panjang. Sahabat dermawan yang ingin membantu Sumiati bisa melalui rekening Yayasan Radar Banjar Peduli BSM 0260018953. Lakukan konfirmasi transfer melalui sms ke 081333272004. Uluran tangan Anda sangat berharga bagi mereka. (en)