Author Archive

Byadmin

Masa Depan Anak Tergantung Orang Tua

Pada saat usia antara 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (Golden Age) (net).

Perkembangan anak di masa-masa emas itu sering menjadi permasalahan di kalangan keluarga menengah ke bawah. Pendidikan karakter pada anak kalah dengan kebutuhan primer yang lain. Tak bisa juga para orang tua itu kemudian disalahkan. Bagaimana mereka kemudian terkuras tenaganya untuk mencari uang makan, uang sekolah, sampai uang untuk menutup hutang-hutang.

Parenting Desa yang dihadirkan RBP ke tengah-tengah para orang tua menjadi salah satu solusi bagi permasalahan di atas. Tenaga pendidik dari Himpaudi Kota Banjarbaru tak kenal lelah memberikan motivasi kepada para ibu dalam menangani anak-anaknya.

Seperti yang terlihat Sabtu (18/3) lalu, Endang Puryani terlihat bersemangat menerangkan tentang usia pendakian dalam pengasuhan anak kepada ibu-ibu di Posyandu Ketutut Kampung Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka . “Jadi ibarat naik gunung, ada saat-saat kritis dimana seorang anak akan tumbuh menjadi dewasa. Itu yang disebut usia pendakian. Dan tugas orangtua lah untuk mengantarkan mereka akan menjadi manusia yang seperti apa kelak,” ujarnya. Endang juga menjelaskan bahwa masa-masa emas anak harus diarahkan dengan kesungguhan. “Ingin anak sukses, maka ajarkan caranya, jangan hanya diam,” terangnya lagi.

Selain memberi edukasi, melalui program parenting desa akan memudahkan RBP sebagai lembaga kemanusiaan dalam memantau permasalahan masyarakat. Terlebih program tersebut juga melibatkan kegiatan posyandu di tingkat kelurahan. Berdasarkan data posyandu didapatkan ada 4 anak di Kampung Pumpung yang mengalami gizi kurang. Nurfigiyati misalnya. Anak berusia 3 tahun itu memiliki berat 10,7 kg. Berkurang 0,3 kg dari bulan yang lalu. “Anaknya tidak mau makan nasi, bingung ulun bagaimana menyuruhnya,” ujar Wadadah (30), sang ibu.

Wadadah mengaku cukup kesulitan kalau harus membeli susu terus menerus, mengingat suaminya hanya seorang buruh pasir. “Sehari-hari penghasilan tidak menentu, paling banyak bawa uang 60ribu,” ujarnya lesu. Selain untuk makan, penghasilan itu juga untuk keperluan sekolah anak sulungnya yang berusia 12 tahun. (en)

Byadmin

Catatan Pendampingan Erina Hafiza, Bocah 4 Tahun Penderita Stenosis Pumonal

Bocah cantik. Begitu ucapan beberapa orang yang menyapa Erina Hafiza saat dibawa ke RS Idaman Banjarbaru Rabu (15/3) lalu oleh RBP. Ya, Erina adalah bocah yang cantik parasnya. Namun, selang yang terpasang di hidungnya menjadi tanda tanya bagi siapapun yang melihatnya. Sakit apa yang diderita Erina?

Hari itu adalah kunjungan rutin Erina ke RS untuk mendapatkan perawatan dokter spesialis. Ia terlihat gelisah di gendongan sang ibu, Fitriani (32). “Pengen rebahan anaknya nih,” ujar Fitriani dan segera meletakkan Erina di kursi ruang tunggu Poli Tumbuh Kembang. Seketika Erina kembali tenang. Fitriani bercerita kalau selang yang terpasang di hidung Erina adalah alat bantu untuk makan dan minum. “Waktu itu Erina tidak bisa makan jadi dipasangi selang, kalau sekarang sudah mulai dibiasakan lagi pakai mulut, tapi tidak bisa banyak-banyak,” ungkap Fitriani.

Bulan Juni nanti Erina genap 4 tahun. Namun jangankan berjalan, duduk saja tak bisa. Dokter Yanuar Nusca Permana spesialis anak yang menangani Erina menjelaskan bahwa Erina menderita penyempitan pembuluh dari jantung ke paru-paru. “Dalam dunia medis disebut dengan Stenosis Pumonal, yang biasanya dibawa sejak lahir. Kasus Erina saya perkirakan juga akibat adanya infeksi pada kehamilan trimester pertama,” terang dokter Yanuar kepada RBP.

Dengan kondisi kelainan jantung seperti itu, perkembangan Erina pun terhambat. Saat diperiksa di Poli Tumbuh Kembang, Erina terlihat mengalami gangguan mata dan telinga karena tidak ada respon pada rangsangan cahaya dan bunyi. “Ini langsung bawa ke poli mata dan THT ya biar diperiksa lebih lanjut,” kata dokter Yanuar sembari memberi rujukan.
“Saya minta orang tua tidak menuntut lebih pada anak, fokus pada perhatian saja dan latihlah dengan sabar,” pesan dokter Yanuar pada Fitriani dan suaminya, Ahmad Yani.

Lebih lanjut dokter Yanuar menjelaskan bahwa penyakit Stenosis Pumonal biasanya ditangani dengan cara operasi, namun dalam kasus Erina cukup dengan eco-evaluasi. “Kita lakukan pantauan secara rutin, lalu melakukan penanganan sesuai keluhan kondisional,” ucapnya.

Fitriani dan Ahmad Yani terlihat mendengarkan dengan seksama. Terlihat dari wajah mereka, apapun akan mereka lakukan demi sang anak. Namun terselip juga rona kebingungan. “Meski sudah dijamin SKTM tapi kami juga terkendala bolak balik ke RS dari rumah,” ujar Ahmad Yani.

Kebingungan Ahmad Yani tentu beralasan. Rumahnya yang berada di Desa Beruntung Jaya Kecamatan Cempaka berjarak sekitar 50 km dari RS. Bekerja sebagai buruh kebun tak menjamin penghasilan tetap yang mencukupi. Sementara, pengobatan Erina bisa dipastikan memakan waktu lama. Beruntung, saat ini harga karet sudah naik jadi Ahmad Yani bisa menyisihkan dana untuk ditabung. Namun, bagaimana nanti jika penghasilannya tak mencukupi?
Ahmad Yani mengaku senang dibantu RBP untuk menjemput dan mengantar mereka membawa Erina berobat ke RS. “Kami ucapkan terimakasih atas perhatian RBP,” ucapnya.

Ahmad Yani dan Fitriani hanyalah satu dari sekian orang tua di Kecamatan Cempaka yang mengalami kesulitan dari ketidaktahuan. Masih banyak orang tua lain yang perlu uluran tangan agar bisa menjangkau pengetahuan. RBP sebagai lembaga sosial kemanusiaan mengambil peran sebagai fasilitator agar keadilan akan pengetahuan di negeri ini terjadi. Dari kota hingga ke pelosok desa.

Dukung aksi-aksi kami dengan donasi terbaik Anda. Karena dengan uluran tangan Anda lah kebaikan tak akan pernah kehabisan nafasnya. Kunjungi website kami www.radarbanjarpeduli.org untuk menyalurkan donasi atau sms ke 0813 33272004. (en)

Byadmin

Keroyokan Ringankan Beban

Jumri tersenyum sumringah begitu menerima amplop berisi uang pemberian dari komunitas Dapur Amanah dan Sahabat Kalsel. “Insha Allah akan saya pergunakan untuk modal usaha berjualan sayur,” ucapnya girang. Binar kebahagiaan begitu terlihat dari senyum lebarnya.

Pagi itu, Selasa (7/3), menjadi hari yang tak pernah diduga oleh Jumri. Kedatangan Nadia Susanti, Eko Subiyantoro, dan Ida Widarsih ternyata mengantarkan rezeki untuknya dan keluarga. “Kami tahu dari RBP dan akhirnya bersepakat keroyokan bantu Pak Jumri,” ujar Nadia Susanti.

Lelaki yang punya nama lengkap Jumri Densaba itu adalah warga Desa Cindai Alus. Ia merupakan suami dari Lilik Suryati, penderita tumor leher yang telah dibantu RBP menjalani pengobatan sejak September 2016 silam. Sehari-hari Jumri berjualan sayur keliling. RBP merasa terpanggil untuk menyampaikan kondisi Jumri pada khalayak karena semangatnya untuk berjuang hidup meski kendala kekurangan pada fisiknya. Ya, sejak lahir tangan dan kaki kiri Jumri tidak berkembang (kecil). Hal ini membuatnya memiliki keterbatasan dalam beraktivitas. Namun, ternyata itu tidak pernah menghambatnya dalam mencari nafkah. Tidak hanya berjualan sayur keliling menggunakan sepeda motor, namun Jumri juga menjadi buruh bangunan. “Saya ingin istri sembuh jadi harus bekerja keras. Apapun saya lakukan yang penting halal,” ucapnya.

Keteguhan hati dan semangat hidup yang dimiliki Jumri menggugah Eko Subiyantoro. “Saya merasa ditampar berkali-kali, beliau meski terbatas tapi semangat menafkahi keluarga. Sedangkan saya masih bisa jalan normal meski pernah kecelakaan, kadang masih mengeluh,” akunya. Eko semakin tergugah begitu tahu bahwa Jumri punya kebiasaan bersedekah sayur dan lauk pauknya untuk rekan-rekannya yang lain.

“Kami tidak bisa memberi uang, jadi ya beri saja yang saya punya,” ucap Jumri masih dengan senyuman. “Saya dan keluarga serba kekurangan, tapi ternyata masih ada keluarga dan orang yg lebih susah lagi. Saya membantu sebisa yang saya mampu,” lanjutnya yang membuat Eko berdecak dan menggelengkan kepalanya.

Jumri, mungkin hanya donasi tak seberapa juga yang bisa kami berikan. Namun, harapan kami besar agar keluargamu bisa hidup layak dan berkecukupan. Terima kasih telah berbagi semangat dan menginspirasi kami. (en)

Byadmin

RBP dan SO Bagi Tas di Desa Puntik

RBP kembali menggandeng Sedekah Oksigen berbagi kebahagiaan. Kali ini 20 anak-anak di Desa Sungai Puntik Tengah, Kabupaten Barito Kuala yang menjadi sasaran program. Sebanyak 20 tas gratis dibagikan kepada mereka. Semua terlihat bahagia. “Wah senang sekali dapat tas gratis!” ucap mereka berbarengan.

Camat Mandastana Suyud Sugiono Sip MA yang menyerahkan bantuan turut bahagia. “Semoga ini bisa menjadi semangat bagi anak-anak untuk terus sekolah,” ucapnya. Tak lupa Suyud mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan kepada warganya. “Desa kami memang masih perlu perhatian dari semua pihak, terima kasih banyak,” pungkasnya.

Bagi-bagi tas gratis adalah sinergi program antara RBP dan Sedekah Oksigen sebagai bentuk kepedulian kepada dunia pendidikan Indonesia saat ini. Data dari BPS Kalimantan Selatan menunjukkan sebanyak 2,6% penduduk Kalsel buta huruf. Bahkan masih ada usia 12 tahun yang belum bisa baca tulis.

Berkenalan dengan Sedekah Oksigen

Berawal dari sebuah gerakan kepedulian untuk masyarakat yang terkena dampak kabut asap di Sumatera dan Kalimantan pada tahun 2015 lalu, Sedekah Oksigen lahir dengan geliat baru di dunia sosial kemanusiaan. Dimotori oleh Fanny Hardina dan Rinny Ermiyanti, Sedekah Oksigen telah berhasil menghimpun potensi dana yang berasal dari masyarakat se-Indonesia yang peduli dengan korban asap. Dalam kurun waktu singkat terkumpul dana sebesar Rp 850juta dari masyarakat se-nusantara. Dengan dana tersebut didistribusikanlah 6000 kaleng oxycan selama rentang waktu September hingga Desember tahun 2015. Selain itu, Sedekah Oksigen menjadi pionir dalam membuat program rumah singgah oksigen di Palangka Raya dan Palembang yang kemudian diduplikasi pemerintah sebagai terobosan dalam program tanggap bencana kabut asap.

Dalam perjalanannya, penggerak Sedekah Oksigen bertambah tiga orang yaitu Ninit, Zillah, dan Asti. Ninit yang berada di Palangka Raya ditunjuk sebagai relawan lokal dalam mengeksekusi program di Kalimantan. Sedangkan Asti yang tinggal di Surabaya berperan dalam mengatur pengiriman bantuan.
Bulan Desember 2015 kabut asap sudah tidak ada, namun dana terus mengalir ke rekening Sedekah Oksigen. Akhirnya disepakati bahwa dana akan di kembalikan ke masyarakat dalam bentuk aksi sosial yaitu pengobatan gratis, pembagian lampu emergency, dan proyek pendidikan dengan target 5000 tas. Hingga sekarang sudah 1.100 lebih tas terkirim dari sabang hingga merauke.

Sejak saat itulah, Sedekah Oksigen bermetamorfosis menjadi sebuah komunitas yang konsisten bergerak dalam aksi-aksi kepedulian sosial. Berbagai program sosial digulirkan untuk mereka yang membutuhkan dengan menggandeng berbagai elemen baik perorangan maupun kelompok. (en)

Byadmin

Tebar Senyum di Puskesmas Pembantu Cempaka

Parenting Desa, Sekolahnya Warga Desa

Meski hujan mengguyur di Kota Banjarbaru dengan derasnya Sabtu (25/2) pagi yang lalu, tak menyurutkan langkah empat personil RBP yaitu Nurhayah, Edo, Azizah, dan Devi untuk tetap meluncur ke Cempaka. Begitu tiba di lokasi tujuan, mereka disambut puluhan ibu-ibu yang sedang menggendong anak. Di sana juga ada petugas dari Puskesmas Cempaka. Ya, hari itu adalah kegiatan rutin posyandu untuk anak-anak yang berstatus BGM (Bawah Garis Merah).

RBP bersama Himpaudi Kota Banjarbaru kali ini menggelar Parenting Desa di Puskesmas Pembantu Kecamatan Cempaka. Bertindak sebagai narasumber yaitu Ana Marlina. Sebanyak 35 ibu mendapatkan edukasi tentang bagaimana menyiasati ketertarikan anak terhadap makanan yang diolah dalam memberikan asupan gizi yang tepat untuk buah hati. Ana juga didampingi Endang Puryani dan Maya Astuti sebagai perwakilan pengurus Himpaudi Kota Banjarbaru.

Terlihat sekali kebahagiaan di wajah para ibu dan anak yang hadir karena selain mendapatkan makanan sehat dari Puskesmas Cempaka, juga dibagikan nutrisi gratis berupa susu formula. Bantuan nutrisi itu adalah donasi dari Bank Kalsel Cabang Banjarbaru. (en)

Byadmin

Mahasiswa Harus Berkontribusi Langsung di Tengah Masyarakat

Edukasi Relawan bersama Hima Teknologi Industri Pertanian ULM

“Mahasiswa seharusnya tidak hanya belajar di bangku kuliah namun harus lebih peka lagi dan bisa melihat persoalan – persoalan yang ada di lingkungan sekitar untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai mahasiswa yang merupakan sebagai agen tonggak perubahan” (Susi, Dosen Fakultas Pertanian ULM)

Kesadaran untuk senantiasa memacu jiwa muda dalam diri mahasiswa itulah yang membuat Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Pertanian (Himatekin) menggelar sebuah acara silaturahmi bersama Sahabat Kalsel dan RBP pada Sabtu (4/3) kemarin. Kegiatan yang bertajuk pengembangan motivasi dan semangat kerelawanan itu memang bermula dari keinginan Himatekin untuk lebih mengenal Sahabat Kalsel dan RBP. Sejak Nopember 2016 yang lalu Himatekin telah menjadi bagian dari GPS (Gerakan Pungut Sampah) yang digelar setiap minggu di Lapangan Murjani, Banjarbaru.

Eko Subiyantoro selaku Ketua Sahabat Kalsel hadir memberikan edukasi kerelawanan dalam acara tersebut. “Apa yang dilakukan Himatekin ini adalah langkah hebat karena menjadi relawan itu kuncinya cuma satu yaitu harus siap membagi waktu untuk orang lain,” sanjung Eko di depan puluhan mahasiswa. Selain Eko juga hadir Adi Royyan, Hafiludin, Aminullah, Enik Mintarsih dan personil RBP yaitu Nurhayah dan Azizah.

Adi Royan juga memberikan semangat bahwa dalam hidup itu jangan pernah membatasi pola pikir. “Sebenarnya peran mahasiswa itu sangat penting, terus asah kemampuan itu di tengah-tengah masyarakat bukan hanya di bangku kuliah,” imbuhnya.

Ketua Himatekin Heriyanto (21) mengucapkan terimakasih kepada Sahabat Kalsel dan RBP yang telah berkenan hadir. “Kami berharap ke depan bisa berkontribusi dan menjadi bagian dari Sahabat Kalsel untuk saling bersinergi, sehingga kami punya kesempatan untuk menerapkan ilmu yang didapat selama ini,” ungkapnya.

Salah satu staf dosen Teknologi Industri Pertanian ULM Susi juga menyampaikan dukungan atas terjalinnya sinergi tersebut. “Saya berharap mahasiswa-mahasiswa ini nanti bukan hanya pintar dalam akademik namun harus cerdas secara emosional,” tutur Susi.

Suasana semakin meriah kala Enik Mintarsih yang lebih dikenal sebagai Bunda Kampung Dongeng diberi kesempatan unjuk gigi di tengah para mahasiswa. Berbagai yel-yel dan permainan ditampilkannya dengan semangat membara, membuat suasana di ruangan menjadi riuh dipenuhi kegembiraan.

Begitulah Sahabat Kalsel. Hadir seperti pelangi, banyaknya warna-lah yang membuatnya indah untuk dinikmati. (khairil/en)

Byadmin

Dapur Amanah, Dapurnya Ibu-ibu Penebar Berkah

Sedih melihat kekurangan orang lain sudah menjadi naluri manusia kebanyakan. Namun, berapa banyak yang kemudian tergugah dan mampu berempati? Komunitas Dapur Amanah menjadi salah satu contoh konkrit wujud empati kepada kaum duafa. Komunitas yang dimotori oleh Nadia Susanti, warga Banjarbaru, selama lebih dari tiga tahun secara rutin membagikan nasi bungkus gratis untuk warga tidak mampu.

“Awalnya saya dan keluarga saja dan jumlahnya juga sedikit, kami bagikan kepada buruh-buruh di Pasar Martapura. Lama-lama banyak yang ikut bergabung,” cerita Ibu berusia 45 tahun itu menggebu.

Nadia tak pernah menyangka, apa yang telah dimulainya menjadi aksi yang terus mengalir. Niat iseng berbagi foto di sosial media ternyata ditanggapi antusias jejaring teman-temannya. Satu-satu menghubunginya untuk bisa terlibat dalam aksi berbagi nasi bungkus gratis itu. “Ada yang nitip sebungkus, 2 bungkus sampai 5 bungkus. Alhamdulillah makin banyak yang bisa kami bantu,” ujarnya. Sebungkus dihargai nominal sebesar Rp 10ribu saja.

Bukan tak ada rintangan, Nadia tak jarang mendapatkan kritikan tentang aksinya tersebut. Kalau berbuat baik itu tidak usah pamer. Kalau dipamerin bukannya malah riya?.

“Niat saya cuma ngajak orang lain berbuat baik, kalau dikritik diamkan saja. Yang penting saya sudah berbuat,” jawabnya masih dengan senyuman di wajahnya.

Nadia memang hanya ibu rumah tangga biasa, namun kreatifitasnya telah terasah zaman. Makin banyak donasi yang dititipkan, membuatnya makin berkreasi. Nasi bungkus yang awalnya Ia beli akhirnya dimasak sendiri dengan memberdayakan warga tak mampu. “Saya cari tukang masak, beli bahan-bahan sendiri, ternyata lebih irit. Sisa donasi saya bikin program sosial yang lain,” terang Nadia. Maka, terbantulah Ani, seorang ibu rumah tangga beranak 7 yang tinggal di Martapura. Suami Ani bekerja serabutan, jadi sebelum menjadi tukang masak di Dapur Amanah, Ani banting tulang bekerja apa saja sampai ke Banjarmasin. “Alhamdulillah ketemu Bu Nadia dan diberi pekerjaan yang penuh berkah ini,” ungkap Ani syahdu. Ani juga mendapatkan pinjaman tanpa bunga untuk modal usaha warung kelontong di rumahnya. Kini Ani tak perlu kesana kemari mencari nafkah membantu suami.

Selain Ani, Nadia juga dibantu Mita, Ulfa, dan asisten rumah tangganya Eva. Setiap jumat pagi mereka bergelut dengan waktu demi mengisi perut-perut warga tak mampu.

Lelah kah? Nadia hanya tersenyum. “Alhamdulillah setiap mau ketemu jumat kami malah semakin semangat. Menjemput berkah sedekah,” ucapnya sumringah. Mita yang juga sepupunya bertutur tentang hikmah sedekah yang Ia saksikan. “Ada teman saya rutin donasi dua bungkus tiap minggu dengan nazar supaya bisa hamil lagi. Alhamdulillah tiga bulan kemudian Ia positif hamil,” kenang Mita.

Ya. Ternyata kebaikan sedekah melahirkan banyak kebaikan lainnya. Tak hanya duafa yang tersenyum karena bisa menyisihkan uang makannya hari itu, tapi juga buah yang tak terkira bagi yang memberi.
Tak ingin merasakan indahnya kebaikan itu sendiri, Nadia juga menebar bagi nasi bungkus gratis ke daerah lain yaitu Malang, Yogya, Solo, dan Blitar. “Saya senang makin banyak yang mengikuti jejak, tapi kalau numpuk kan jadi mubazir. Makanya saya bagi-bagi ke daerah lain,” terang wanita lulusan STIE Banjarmasin itu.

Aksi-aksi kece lainnya pun bertebaran. Sembako gratis untuk warga tak mampu, pompa untuk langgar atau masjid, air minum gratis untuk musola atau masjid, sampai bantuan modal usaha untuk duafa.

Dapur Amanah pun bersinergi dengan Sahabat Kalsel. Nadia yang hobi bercocok tanam itu mengaku sangat senang ketemu dengan forum relawan tersebut. “Kami bersinergi membantu rumah singgah anak kanker di Banjarmasin. Wah ternyata makin menyenangkan ya kalau bersama-sama,” ucapnya.

Dapur Amanah hanya satu contoh begitu hebatnya kebaikan sedekah. Donasi 10ribu bisa melahirkan puluhan kebaikan. Melahirkan ratusan senyuman. Yang perlu kita lakukan hanyalah berbuat sekarang juga dan jangan pernah berhenti. Biarkan semua menjadi investasi abadi. Biar Allah Sang Maha Kaya yang memberi nilai akhir nanti. (en)

Byadmin

Komitmen Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Dari Program BUMN Hadir untuk Negeri

Kegembiraan terlihat di wajah warga Desa Puntik Tengah Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan. Betapa tidak, kini mereka tak perlu lagi bersusah payah untuk mendapatkan air bersih. Instalasi air bersih persembahan program “BUMN Hadir untuk Negeri” telah bisa mereka nikmati sejak November 2016 yang lalu.

Ketersediaan air bersih di Desa Puntik Tengah memang termasuk langka meskipun terdapat anak Sungai Barito di sana, namun tingkat keasaman sumber air tersebut tidak layak konsumsi. Selain itu, secara umum kualitas air baku sebagai sumber air olahan PDAM Barito Kuala kualitasnya lebih jelek dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan Selatan. Maka tak heran meskipun musim hujan, air layak konsumsi masih sulit dinikmati warga.

Adanya program “BUMN Hadir untuk Negeri” dengan membangun instalasi air bersih menjadi kebahagiaan bagi warga. Hal ini disampaikan oleh Camat Mandastana Suyud Sugiono Sip MA saat melakukan serah terima bangunan dari Kementerian BUMN Selasa (21/2) yang lalu.

“Bantuan ini menjadi solusi atas masalah kebutuhan dasar di Desa kami yaitu air bersih. Semoga fasilitas ini bisa optimal termanfaatkan dan ke depan program seperti ini bisa menyentuh desa-desa yang lain,” ujar Suyud.

Kepala Bidang PKBL Kementerian BUMN Eko Setiawan menghimbau agar fasilitas tidak dikomersilkan. “Beban cukup untuk perawatan saja, sehingga sarana bisa terawat dan terjaga,” pesan Eko kepada semua warga.

Direktur PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Solihah selaku panitia program BUMN untuk Negeri wilayah Kalsel mengungkapkan harapan yang sama sekaligus meminta untuk menjaga dan merawat fasilitas yang diberikan. “Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat sehingga program ini bisa berjalan sesuai yang telah direncanakan,” ungkap Solihah kepada RBP.

Selain instalasi air bersih di Desa Puntik Tengah, program BUMN Hadir untuk Negeri di Kalsel juga melaksanakan kegiatan lain yaitu pembersihan aliran sungai sekaligus bantuan 20 unit kotak sampah di Loksado, bedah rumah veteran sebanyak 39 unit, pembangunan 1 unit tempat penitipan anak, pembinaan untuk 40 mantan narapidana berupa pelatihan membuat martabak dan mie ayam, serta pembinaan mantan atlet dengan pemberian bantuan warung sembako dan modal usaha.

Komitmen 2017 Lebih Awal

Program “BUMN Hadir untuk Negeri” yang telah dicanangkan Menteri BUMN Rini M Soemarno pada 2015 yang lalu menjadi komitmen BUMN untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran program ini telah dirasakan di berbagai wilayah di negeri ini.

Melihat kebermanfaatan dan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat, Kementerian BUMN makin berbenah. Perintah realisasi program untuk tahun 2017 telah diturunkan Rini M Soemarno sejak Januari lalu. Perintah tidak hanya kepada BUMN di 34 provinsi, namun juga sampai pada 514 kota/kabupaten se-Indonesia.

“Selain meningkatkan kesejahteraan, kami berharap melalui program ini bisa meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dengan memupuk rasa kebanggaan berbangsa dan bertanah air,” ungkap Rini melalui Kepala Bidang PKBL Kementerian BUMN Eko Setiawan. “Tahun ini ada 14 kegiatan yang tersebar di tingkat Provinsi dan Kota/Kabupaten. Semua koordinasi berada di BUMN koordinator di tingkat Provinsi,” terang Eko. (en)

Byadmin

Ratu Pendidikan

Semangatnya untuk mendidik anak-anak usia dini tak pernah padam. Pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa sebuah kegagalan hanyalah pengingat bahwa masih banyak jalan untuk meraih kesuksesan.

Ditengah sibuknya menjadi ibu rumah tangga, Ratu Nur Inayah masih sempat berbagi ilmu. Tinggal bersama suami dan dua putri kecilnya, wanita kelahiran 32 tahun silam ini begitu menikmati kegiatannya mengajar di Rumba Abata, sebuah bimbingan belajar yang didirikannya untuk anak-anak di sekitar rumahnya di Desa Tawia, Kandangan.
Meski rumah yang ditempatinya sekarang belum seratus persen selesai, namun tidak mengurangi keinginannya untuk mengajari anak-anak yang kurang mampu. “Seharusnya rumah ini sudah selesai tahun lalu. Tapi saya ditipu kontraktor yang membangunnya,” kenangnya dengan nada lesu.

Kecintaannya kepada pendidikan usia dini memang bukan seumur jagung. Ibunda dari Nabila dan Kania ini sudah bergelut dengan dunia pendidikan sejak 13 tahun silam. Berawal dari kegagalannya lulus SPMB 2004 untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Ratu akhirnya bekerja menjadi pengajar di sebuah TK dengan penghasilan jauh di bawah cukup. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, Ratu harus mengambil dua kerja tambahan sekaligus : mengajar kursus komputer dan jasa ketik skripsi.

Dengan ketekunannya mengajar anak-anak, Ratu mendapat durian runtuh. Pada tahun 2005 bersama dua guru lainnya, Ratu mendapat beasiswa dari yayasan tempat Ia bekerja untuk menempuh pendidikan di Depok. Dari situlah rasa cintanya kepada pendidikan anak-anak semakin terasah.

Sekembalinya dari Depok, Ratu bersama kawan-kawannya membentuk lembaga Pendidikan Usia Dini (PAUD) dengan nama Butterfly Group. Tujuannya adalah agar anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu juga bisa mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak lain. “Sistem pembiayaannya subsidi silang. Anak yang mampu bayar SPP, sedangan yang tidak mampu digratiskan,” terang wanita berhijab ini.

Ujian pertama pengabdiannya di Kandangan terjadi pada tahun 2008. Konflik internal di TK tempat dia bekerja mengharuskan Ratu mengambil keputusan besar, hijrah dari Kandangan. Akhirnya wanita kelahiran 25 Agustus ini memilih kembali ke Depok, mengambil beberapa pekerjaan sekaligus untuk biaya hidup, sambil melanjutkan studinya di Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Kesempatannya untuk kembali berbakti ke banua akhirnya datang. Pada tahun 2009, Ratu menikah dengan seorang pria asal Banjarmasin. Setelah lulus dari UNJ tahun 2013, Ratu mengikuti suami bertugas di Banjarmasin. Sehari-hari Ratu menyibukkan dirinya dengan membuka bimbingan belajar di rumahnya sambil merawat anak keduanya yang baru lahir.

Ujian kedua datang ketika sang suami harus pindah tugas ke Barabai pada tahun 2015. Kedua putrinya yang pada saat itu berusia 4 tahun dan 2 tahun mengalami sakit sehingga Ratu harus tinggal di rumah orang tuanya di Kandangan. Selama tinggal di sana, Ratu merasa tertekan batinnya. Orang tua Ratu menginginkan anaknya bekerja di luar rumah layaknya wanita karir dengan modal ijazah strata satu yang dimilikinya. Sementara Ratu berpendapat, keluarganya masih berkecukupan dengan gaji yang diterima oleh suaminya sehingga dia bisa fokus mengurus anak dan rumah, sambil menjalankan bimbingan belajar di rumah. “Makanya saya berinisiatif untuk segera membangun rumah sendiri, eh tapi malah kena tipu,” ujarnya sedih.

Kini, Ratu memiliki Butterfly Group dan Rumba Abata sebagai tempatnya berbagi ilmu. Mendidik anak-anak di sekitarnya sekaligus mendidik dua putrinya. Komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan semakin mulus tanpa harus mengorbankan statusnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Ibarat dalam sebuah kontes kecantikan, titel Ratu kecantikan akan diberikan kepada orang yang dianggap paling cantik dari sekian banyak peserta. Nah, kalau di dunia pendidikan, tidak salah rasanya jika titel Ratu Pendidikan disematkan kepada wanita ini. The Real Ratu.

Ditulis oleh Muhammad Rezki Oktavianor (Dosen, Kotabaru)
Penulis merupakan salah satu peserta kelas menulis Jurnalisme Spirit RBP Angkatan 1

Byadmin

Ayo Bangun Meunasah untuk Aceh

Kabar tentang gempa Aceh menyulut emosi hampir sebagian besar masyarakat Indonesia. Dari timur, tengah, sampai barat Indonesia berbondong-bondong menampilkan emosi untuk peduli, membantu memulihkan Aceh, membantu bangkit dari porak-poranda infrastruktur. Pagi itu, pekan pertama Bulan Desember tahun 2016, gempa 6,5 Skala Richter di waktu subuh mengagetkan Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya, sekian jam pasca gempa, diketahui seratusan lebih warga Aceh meninggal tertimbun runtuhan bangunan, sementara kerusakan infrastruktur menghampar, nyaris ambruk, retak, bahkan rata tanah.

Kepedulian untuk gempa Aceh itu pun masih terus mengalir. Setelah berbagai kelompok dan komunitas ramai-ramai menitipkan amanah donasi lewat Radar Banjar Peduli (RBP) dan Aksi Cepat Tanggap, Jumat (10/2) kemarin datang lagi kepedulian dari Alumni 85 SMP Negeri 1 Tarakan. Donasi sebesar Rp 4.150.000 diserahkan oleh Yudha Irhasyuarna, dosen di Pasca Sarjana Universitas Lambung Mangkurat (ULM). “Para alumni kami tersebar ke berbagai propinsi, jadi aksinya melalui rekening dan kebetulan teman-teman mempercayakan saya untuk penyaluran,” ujar Yudha yang mengaku sudah mengenal RBP sejak awal berdirinya. “RBP ini sudah terpercaya untuk pengelolaan dana kebencanaan,” tegasnya.

Untuk pemulihan gempa Aceh, Aksi Cepat Tanggap masih menjaga ritme untuk melanjutkan pemulihan atau pembangunan ulang Meunasah. Sebab bagi masyarakat Aceh, Meunasah adalah sentral peradaban. Ibadah dan segala urusan sosial masyarakat bermula dari Muenasah. Namun gempa kuat 6,5 SR Desember kemarin merubuhkan nyaris 100 bangunan Meunasah di Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Pidie, dan Kabupaten Bireuen. (act/en)