Author Archive

Byadmin

Ayo Bangun Meunasah untuk Aceh

Kabar tentang gempa Aceh menyulut emosi hampir sebagian besar masyarakat Indonesia. Dari timur, tengah, sampai barat Indonesia berbondong-bondong menampilkan emosi untuk peduli, membantu memulihkan Aceh, membantu bangkit dari porak-poranda infrastruktur. Pagi itu, pekan pertama Bulan Desember tahun 2016, gempa 6,5 Skala Richter di waktu subuh mengagetkan Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya, sekian jam pasca gempa, diketahui seratusan lebih warga Aceh meninggal tertimbun runtuhan bangunan, sementara kerusakan infrastruktur menghampar, nyaris ambruk, retak, bahkan rata tanah.

Kepedulian untuk gempa Aceh itu pun masih terus mengalir. Setelah berbagai kelompok dan komunitas ramai-ramai menitipkan amanah donasi lewat Radar Banjar Peduli (RBP) dan Aksi Cepat Tanggap, Jumat (10/2) kemarin datang lagi kepedulian dari Alumni 85 SMP Negeri 1 Tarakan. Donasi sebesar Rp 4.150.000 diserahkan oleh Yudha Irhasyuarna, dosen di Pasca Sarjana Universitas Lambung Mangkurat (ULM). “Para alumni kami tersebar ke berbagai propinsi, jadi aksinya melalui rekening dan kebetulan teman-teman mempercayakan saya untuk penyaluran,” ujar Yudha yang mengaku sudah mengenal RBP sejak awal berdirinya. “RBP ini sudah terpercaya untuk pengelolaan dana kebencanaan,” tegasnya.

Untuk pemulihan gempa Aceh, Aksi Cepat Tanggap masih menjaga ritme untuk melanjutkan pemulihan atau pembangunan ulang Meunasah. Sebab bagi masyarakat Aceh, Meunasah adalah sentral peradaban. Ibadah dan segala urusan sosial masyarakat bermula dari Muenasah. Namun gempa kuat 6,5 SR Desember kemarin merubuhkan nyaris 100 bangunan Meunasah di Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Pidie, dan Kabupaten Bireuen. (act/en)

Byadmin

Parenting Desa, Sekolah Warga Desa

Sinergi Program Bank Kalsel Banjarbaru – RBP – Himpaudi Banjarbaru

Pagi itu, Selasa (31/1), mendung tebal menggantung di langit Banjarbaru. Tak pelak lagi, air hujan mengguyur dengan derasnya. Namun, tiga personil RBP yaitu Agung, Edo, dan Azizah tetap melaju menuju Paud Mustika di Kelurahan Sungai Ulin Kecamatan Cempaka. Hari itu akan dilaksanakan kegiatan edukasi rutin yaitu Parenting Desa.

Meski hujan sejak pagi, namun kegiatan tetap berjalan lancar. Sebanyak 43 orang tua mendapatkan edukasi tentang pengasuhan anak oleh Neni Nooryantini SPd selaku perwakilan Himpaudi Kota Banjarbaru. Anak-anak yang hadir juga mendapatkan nutrisi sehat berupa nugget persembahan dari Bank Kalsel Cabang Banjarbaru.

Semua terlihat bahagia dan ceria. Terima kasih kepada Himpaudi Banjarbaru, Bank Kalsel Cabang Banjarbaru, dan Puskesmas Cempaka yang telah memberi dukungan terhadap program ini. Semoga sinergi ini terus berkembang. (en)

Byadmin

Dinsos Bantu Pasien Homecare RBP

Demi tercapainya cita-cita pembangunan, pemerintah tak bisa berjalan sendiri. Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak untuk bersama-sama menangani permasalahan masyarakat. Seperti yang telah dilakukan RBP (Radar Banjar Peduli) sebagai sayap sosial Radar Banjarmasin, melalui program Homecare. Melayani pasien duafa yang tidak bisa mengakses layanan kesehatan terdekat dengan berbagai kendala. Layanan ini menjadi komplementer bagi kinerja pemerintah.

Demikian juga sebaliknya, pemerintah juga harus mendukung pihak swasta yang berkomitmen membantu masyrakat.
Keindahan sinergi itu terlihat dari aksi RBP dan Dinas Sosial Banjarbaru baru-baru ini. Dua pasien Homecare RBP yaitu Hanil (46) dan Samsuni (52) mendapatkan bantuan kursi roda dari Dinas Sosial Banjarbaru. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Sosial Banjarbaru H Masjudin Noor pada Jumat (10/2) kemarin.

“Terima kasih banyak atas bantuan ini. Alhamdulillah ulun bisa duduk sudah, jadi bisa pakai kursi roda kalau mau kemana-mana,” ujar Hanil sumringah demi melihat kursi roda di hadapannya.

“Kami juga berterima kasih atas kerja keras RBP selama ini. Apa yang telah dilakukan RBP untuk masyarakat kami sangatlah bagus. Semoga kebaikan ini dibalas oleh Allah SWT dengan balasan terbaik,” ucap Masjudin Noor. Ia juga berharap jalinan kerjasama bisa terus menerus dilakukan. Tentu hal tersebut disambut baik oleh RBP.

“Insya Allah RBP hadir memang untuk menjadi salah satu pendukung visi misi pembangunan pemerintah,” ujar Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani yang juga hadir.

Hingga saat ini RBP telah melayani 12 warga di Banjarbaru dalam program Homecare. Hanil adalah warga di Kecamatan Cempaka yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan di lokasi tambang. Sedangkan Samsuni merupakan warga di Kecamatan Liang Anggang yang menderita stroke. (en)

Byadmin

Bangun Gerakan Sosial Kemanusiaan Melalui Menulis

Banyak yang merasakan manfaat menulis itu sangat besar, baik bagi diri sendiri maupun buat lingkungan sekitar. Namun, masih sangat sedikit yang mau menulis dengan serius. Hal ini disepakati oleh para peserta kelas menulis Jurnalisme Spirit yang diselenggarakan oleh RBP (Radar Banjar Peduli), sayap sosial Radar Banjarmasin pada Kamis (26/1) kemarin.

“Menulis bagi saya merupakan terapi jiwa,” ungkap Ratu Nur Inayah, salah satu peserta yang berasal dari Kandangan.
Kesadaran ini juga dirasakan oleh Tini Elyn Herlina, seorang ibu rumah tangga yang juga berprofesi dosen. Namun, Ia merasa punya kendala besar dengan banyaknya aktivitas yang harus diselesaikan setiap harinya. “Padahal sering sekali ide-ide menulis itu muncul, entah lagi di dapur, nyetir, ataupun ngajar,” akunya.

Menanggapi hal tersebut, Pemred Radar Banjarmasin Toto Fachrudin yang bertindak sebagai fasilitator kelas memberikan salah satu tips bagaimana menangkap ide yang tiba-tiba muncul. “Anda bisa merekam dahulu ide tersebut, paling mudah ya di handphone kita. Uraikan ide tersebut secara runtun seperti menulis,” ujar pria lulusan Magister Media dan Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya itu kepada semua peserta.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani selaku Kordinator Program menyampaikan bahwa tujuan dari kelas tersebut salah satunya untuk membangun potensi kepenulisan di bidang sosial kemanusiaan. “Banyak sekali kisah inspiratif di sekitar kita, pasti ada yang bisa ditulis dan disebarluaskan agar terbangun gerakan perubahan sosial untuk kebaikan,” ujarnya.

Kelas menulis Jurnalisme Spirit itu sendiri merupakan program pelatihan menulis yang diarahkan kepada kerangka humanis sehingga tulisan itu nantinya mampu menggugah simpati dan empati pembacanya. Kelas ini dilaksanakan selama dua hari sampai hari ini (27/1) dan diikuti oleh 13 orang peserta dari Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Kandangan hingga Kotabaru. “Sebenarnya ada 17 orang yang mendaftar, tapi setelah melewati proses seleksi hanya 13 orang yang layak ikut,” ujar Retno. (en)

Byadmin

Belajar Nilai Hidup dari Sosok Renta Bersahaja

Oleh Retno Sulisetiyani (Manajer Marketing Komunikasi RBP)

Menjadi tua itu sebuah kepastian, namun menjadi dewasa merupakan sebuah pilihan. Pepatah tersebut seringkali diungkapkan untuk memotivasi seseorang dalam menjalani hidup, terlebih kepada para pemuda. Betapa tidak? Banyak kaum pemuda yang terkesan cepat menyerah dalam berjuang saat ini. Narkoba, pergaulan bebas, orientasi seks yang keliru, hingga tindak kriminal di luar batas kemanusiaan. Zaman sudah edan!. Demikian banyak orang menuding zaman, padahal kita sendirilah pelaku sejarah.

Baiklah. Izinkan kami bercerita tentang sosok-sosok renta bersahaja.

Namanya Patimah, seorang janda berusia 75 tahun yang tinggal di Kecamatan Liang Anggang Banjarbaru. Hidupnya sehari-hari dibantu oleh anaknya yang bekerja sebagai buruh. Selain itu, kadang-kadang ada rezeki dari hasil beliau mengajar ngaji anak-anak di lingkungan rumahnya. Ya! Meski sakit-sakitan, Patimah tetap memiliki semangat untuk hidup sekaligus berbagi ilmu. Sebenarnya, selain punya penyakit darah tinggi Patimah juga mengalami gangguan melihat dan mendengar. Lantas bagaimana Ia mengajar ngaji?

“Kalau anak-anak mengaji Alhamdulillah kadada halangan pang, jelas haja mendengar,” akunya kala ditanya. Begitulah Kuasa Ilahi. Bahwa dibalik kekurangan selalu ada kelebihan. Demikian juga sebaliknya. Setiap sore Patimah menerima anak-anak yang ingin belajar mengaji di rumah sederhana yang hampir puluhan tahun tak tersentuh renovasi. Kondisi fisiknya yang bahkan gemetar saat berjalan tak menyurutkan semangatnya demi sebuah harap : agar anak-anak dekat dengan Al Qur’an.

Tengok juga sepasang renta, Sabran (85) dan Siti Aisyah (80) yang tinggal tak jauh dari rumah Patimah. Kondisi rumahnya tak jauh beda dengan rumah Patimah. Dengan kisah berbeda, Sabran harus bersabar menghadapi istrinya. Di usia senja, Siti Aisyah mengalami sedikit gangguan psikis dimana Ia beranggapan dikejar-kejar oleh sosok yang tidak dikenal dan mengancam. Meski kadang lelah, Sabran tak pernah meninggalkan istrinya. Mungkin dengan menjadi teman di masa tua itulah, Sabran telah membuktikan diri menjadi pasangan yang hebat bagi istrinya.

Sosok Patimah maupun Sabran hanya segelintir dari 2,3 % jumlah lansia di Kalimantan Selatan. Bisa jadi mereka beruntung karena masih bisa menikmati tinggal di rumah (dekat dengan keluarga meskipun kekurangan), jika dibandingkan dengan kebanyakan lansia yang dititipkan di panti. Namun, perlu perjuangan sendiri saat nasib membawa mereka pada satu masa dimana mereka harus hidup di rumah sendirian. Terbatas secara fisik juga ekonomi. Namun, kenyataannya mereka bisa menemukan cara bagaimana menjalani hidup. Terlebih masih bisa berbagi untuk sesama.

Lantas bagaimana dengan kita hari ini? Berpasrah diri hingga menua atau memilih berjuang dalam kedewasaan?.

Byadmin

Inspirasi Pulang Kampung

Rutinitas pulang kampung anak-anak penerima beasiswa SMART Ekselensia Indonesia menjadi agenda yang ditunggu-tunggu tiap tahun oleh masing-masing keluarga. Betapa tidak? Mereka hanya bisa bertemu setahun sekali selama lima tahun berturut-turut. Alhasil, bunga-bunga kerinduan yang teramat sangat selalu terlihat saat penjemputan maupun pengantaran di Bandara Syamsudin Noor. Ada air mata dan juga canda.

Seperti yang terlihat Sabtu (14/1) kemarin, Noorliyana tak kuasa menahan air mata saat melepas anak sulungnya Alfian Nur kembali ke sekolahnya di Bogor. Melihat itu, Siti Muniroh, ibu dari Zikri Azmi mendekati seraya memberi memeluk Noorliyana. “Tidak apa-apa, nanti juga terbiasa. Lima tahun tak terasa kok,” hiburnya diiringi tawa.
Lain lagi yang dialami anak-anak mereka saat pulang kampung kali ini. Banyak cerita dan pengalaman yang inspiratif. Seperti yang dialami Zikri Azmi yang berasal dari Banjarbaru. Zikri tahun ini berkesempatan menjelajah salah satu situs sejarah di Kalsel yaitu Candi Agung. “Saya melihat peninggalan masa lalu seperti tembikar hingga lukisan dan sumur Putri Junjung Buih. Senang banget bisa belajar sejarah,” tuturnya. Lain lagi dengan Syahdianoor yang berasal dari Kandangan. Ia menjelajah ke kawasan hutan dan belajar tentang akar tanaman yang bisa dijadikan asesoris. “Asik sekali bisa belajar membuat gelang dan cincin,” ungkapnya.

Pengalaman berbeda dialami Misriannur yang berasal dari Cempaka. Mendapat nasehat dari wali kelasnya saat SD dulu menjadi inspirasi tersendiri baginya. “Saya diingatkan untuk tidak boros dan senantiasa ingat jerih payah orang tua,” ujarnya terharu.

Menjadi keluarga besar SMART Ekselensia Indonesia ternyata menyatukan hati para keluarga tersebut. Berangkat dari mimpi yang sama bahwa meskipun mereka tidak mampu namun harus optimis meraih cita-cita terbaik, kini mereka telah menjadi saudara. Saling meringankan, saling menguatkan.

RBP yang telah melihat bagaimana anak-anak itu berkembang berharap mereka bisa menjadi generasi pembaharu banua. Menjadi pemimpin harapan bangsa. (en)

Byadmin

RBP Terima Customer Award 2016

Menjaga hubungan kemitraan yang saling mendukung menjadi suatu keharusan bagi Hotel Roditha Banjarbaru. Komitmen tersebut telah terbukti selama empat tahun berturut-turut melalui ajang Customer Award yang menjadi bagian perayaan HUT mereka setiap tahun.

Seperti pada Jum’at (13/1) malam kemarin, Hotel Roditha Banjarbaru kembali menggelar Customer Award dalam rangka HUT ke-4 tahun. Berbagai penghargaan diberikan kepada para pelanggan. “Terima kasih kepada semua pihak yang telah percaya kepada kami. Penghargaan ini sebagai wujud rasa syukur manajemen hotel meskipun dalam keadaan ekonomi global yang buruk masih banyak kemitraan yang terjalin,” ujar Owner sekaligus Komisaris dan Direksi dokter Hj Rosally Gunawan di hadapan seluruh undangan malam itu.

RBP bersama Radar Banjarmasin menjadi penerima penghargaan dalam kategori paling tinggi, yaitu Best Support. “Semoga ini menjadi dorongan positif untuk terus saling berkarya dengan inovasi-inovasi terbaik,” ujar Manajer Marketing Komunikasi Retno Sulisetiyani.

Hotel Roditha Banjarbaru telah menjadi mitra peduli RBP dalam program beasiswa pendidikan yaitu Bunda (Tabungan Duafa). Melalui program infak di bulan Ramadan tahun 2016 lalu, Hotel Roditha Banjarbaru telah turut serta menjaga anak-anak duafa untuk bisa terus sekolah. (en)

Byadmin

Merajut Kepedulian dalam Kebersamaan

Catatan Perjalanan RBP Bersama Radar Banjarmasin
Oleh : dr. Diaudin (Direktur Radar Banjar Peduli)

Tahun 2016 menjadi tahun lompatan besar bagi Radar Banjar Peduli (RBP). Tak dipungkiri, Radar Banjarmasin (RB) sebagai perusahaan yang selama ini menaungi RBP juga menjadi salah satu barometer untuk semakin berbenah. Ibarat adik dalam sebuah keluarga, kami selalu tidak ingin terlihat jomplang dari kakaknya. Banyak program inovatif yang lahir dari kebersamaan yang semakin erat bersama RB.

RB semakin menguatkan dirinya sebagai Koran lokal yang terdepan. RBP pun tak ingin kalah langkah mencoba bergandengan dengan RB membuat inovasi program sosial, salah satunya Food for Charity. Sebuah program penggalangan dana sosial melalui kerjasama dengan berbagai restoran hotel di Banjarmasin dan Banjarbaru. Dukungan yang besar dari RB membawa hasil yang luar biasa. Rantai kebaikan yang terjalin ibarat efek domino tak berkesudahan. Langkah RBP sebagai lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan semakin besar.
Hingga akhirnya aksi sosial tersebut berhasil menggalang dana mencapai Rp 18juta selama sekitar dua bulan saja. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui program pendidikan untuk anak-anak duafa. Sampai sekarang pun Food for Charity telah menjadi warna khas dalam aksi-aksi sosial yang RBP lakukan.

Seperti yang dikatakan salah satu pendiri RBP, Ersis Warmansyah Abas tahun 2016 lalu dalam catatan memoar 12 tahun RBP, RB merupakan garansi bagi keberadaan RBP. Apapun analisisnya, tanpa RB, RBP itu tidak ada apa-apanya. Keduanya telah hadir di Banua sebagai satu kesatuan meski dengan wajah yang berbeda. RB telah mendedikasikan diri sebagai media yang menghadirkan konten-konten berita terbaik. Sedangkan RBP bergerak melalui aksi-aksi sosial demi mengangkat harkat kaum duafa.

Sejarah telah mencatat ketika di usia belasan tahun Hamka, Mohammad Natsir dan Bung Karno telah menjadi pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa, maka harapan besar juga tersemat untuk 16 tahun kehadiran RB di Kalimantan Selatan. Secara tak langsung pun menjadi harapan tersendiri bagi RBP yang 3 tahun lebih muda.
Selamat hari jadi ke-16 Radar Banjarmasin. Semoga semakin melaju menjadi lokomotif peradaban Banua.

Byadmin

Sukses Bukan Sekedar Takdir

Pencapaian kesuksesan seseorang seringkali harus melalui banyak upaya dan tak jarang berkali-kali kegagalan. Jangan hanya mengandalkan jalan hidup tanpa usaha. Begitulah pesan yang disampaikan oleh Tini Elyn Herlina, seorang dosen di Jurusan Analis Poltekkes Kemenkes Banjarmasin saat mengisi kegiatan sharing motivasi di Gedung Biru Radar Banjarmasin, Senin (16/1) yang lalu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh RBP (Radar Banjar Peduli) itu diperuntukan kepada anak-anak penerima beasiswa Bunda (Tabungan Duafa). Sebanyak 12 anak bersama orang tua dan wali hadir dalam kegiatan tersebut.

“Kalau mau sukses harus siap melewati rintangan, tidak mudah menyerah, dan berani menuliskan mimpi,” ucap Ibu dari 4 anak yang biasa disapa Elyn itu. Elyn lalu mengajak anak-anak yang hadir untuk menuliskan cita-cita di selembar kertas dan bersama-sama berikrar untuk sekuat tenaga dan pantang menyerah untuk meraihnya. Suasana terasa lebih bersemangat. Ada yang mau menjadi dokter, guru, dosen, tentara, hingga desainer.

Selain itu, Elyn juga mengingatkan tentang rasa syukur dari rezeki yang telah diberikan. “Allah swt telah menitipkan rezeki melalui program Bunda ini, jangan lupa bersyukur,” ucapnya.

Salasiah, Nenek dari Rahmat Faisal salah seorang penerima beasiswa mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Alhamdulillah uangnya sebagian bisa untuk modal usaha, jadi sekarang saya berjualan bensin dan makanan ringan. Insyaallah ada tabungan untuk Faisal,” ungkap Salasiah kepada RBP.

Setelah sharing motivasi selesai, dilaksanakan pembagian beasiswa tahap ke-2. “Tahap pertama sudah kami serahkan pada tahun 2016 lalu, sehingga untuk beasiswa tahun ini sudah tersalurkan semua,” ujar Coorporate Secretary RBP Nurhayah yang juga hadir dalam acara tersebut. Nurhayah mengajak masyarakat Kalsel untuk mau menyisihkan hartanya demi keberlangsungan pendidikan anak-anak duafa. “Semoga program ini bisa berlanjut pada tahun berikutnya,” harapnya.(en)

Byadmin

Outbond Bersama Keluarga Siswa SMART Ekselensia Indonesia

Pagi itu suasana di Danau Seran, salah satu objek wisata di Banjarbaru, tampak tak biasa. Riuh rendah tawa terdengar di pulau yang menjadi daya pikat danau tersebut. Betapa tidak? Puluhan anak dan orang tua terlihat sedang bermain berbagai permainan outbond. Ya, Kamis (12/1) kemarin RBP melaksanakan agenda rutin pertemuan atau silaturahmi antara RBP dengan keluarga siswa SMART Ekselensia Indonesia asal Kalsel yang sedang pulang kampung. Selain itu dua orang alumni, Farid dan Ade ada. Pengurus RBP yang hadir yaitu Wakil Ketua Saleh dan Bendahara Nurhayah.

“Tahun ini kegiatan dikemas berbeda dari tahun sebelumnya, jika biasanya di dalam ruangan kini di luar ruangan agar keakraban lebih terbangun,” ujar Nurhayah saat memberi sambutan. Nurhayah berharap jalinan kekeluargaan penerima beasiswa SMART EI bisa semakin erat. “Kita ini keluarga besar, jadi harus saling membantu satu sama lain. Yang senior bisa membimbing adik-adik juniornya,” tuturnya.

Nahdimah Laili selaku perwakilan orang tua mengucapkan terima kasih kepada RBP atas semua bantuan. “Kami bersyukur anak-anak kami bisa bersekolah gratis di Bogor. Semoga bisa menjadi generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa,” ucapnya.

Kegiatan outbond tersebut difasilitasi oleh Quantum Ispirasi yaitu lembaga training yang dimotori oleh Muhyidin, Ahmad Zaki, dan Trias Handojo. Berbagai permainan ringan yang mengasah otak dan keterampilan disajikan pada hari itu. “Anak-anak ini terlihat sekali berkarakter pemimpin, mampu memecahkan beberapa tantangan yang kami berikan,” kata Muhyidin.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah tingkat SMP-SMA bebas biaya, berakselerasi dan berasrama pertama di Indonesia. Sekolah ini di bawah Dompet Dhuafa Pendidikan yang bertujuan menjadi sekolah model untuk dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. “Dari Kalsel sudah ada 13 anak yang sekolah di sana dan 6 orang telah melanjutkan studi kuliah di berbagai Universitas Negeri,” ungkap Nurhayah. (en)