Author Archive

Byadmin

Relawan Bersinergi, Bergerak Mewujudkan Solusi

Banyak kesan yang berarti dari sosok Mbah Suminem, terutama para relawan yang selama dua pekan menemani beliau di rumah sakit. Salah satunya Munajatunnisa, salah seorang anggota Relawan Nusantara. Bagi Muna, begitu Ia kerap disapa, Mbah Suminem merupakan pibadi yang supel dan senang bercerita.

“Saya sering mendapatkan nasehat dari Mbah untuk menjaga kesehatan, dapat pekerjaan hingga cepat dapat jodoh,” ucapnya mengenang Mbah Suminem.

Muna mengaku tergerak untuk ikut menjaga Mbah Suminem di rumah sakit karena mendapat kabar tentang beliau dari Sahabat Kalsel RBP. “Katanya ada orang tua yang sakit dan cuma ditemani suami yang juga mengalami keterbelakangan mental, jadi kami dari Relawan Nusantara berbagi tugas, bergantian menjaga beliau di RS,” terang Muna.

Pribadi Mbah Suminem yang begitu baik membuat para relawan selalu mengingat beliau. “Selamat Jalan Mbah Suminem, inshaAllah Mbah mendapatkan tempat yang pantas disisi Allah swt,” ucap Muna mewakili Relawan Nusantara.

Begitulah, betapa besar peran relawan bagi masyarakat. Mereka saling bergotong royong memikul beban pengabdian. Sahabat Kalsel berkolaborasi dengan Relawan Nusantara menjadi solusi bagi permasalahan di banua ini. Semoga sinergi seperti ini bisa ditiru siapa saja, karena dengan bersama-sama maka semua lebih ringan rasanya.

Mengenal Lebih Dekat Relawan Nusantara

Dari relawan, mengabdi kepada negeri untuk kebahagiaan umat dan masyarakat dunia khususnya Indonesia. Itulah misi dari Relawan Nusantara yang dibentuk sebagai wadah atau sarana bagi para pemuda Indonesia untuk membentuk pribadi-pribadi  yang tangguh, kreatif, inovatif dan berjiwa sosial tinggi. Relawan Nusantara juga ingin membentuk pribadi yang dapat berbagi kemanfaatan potensi diri di tengah-tengah masyarakat.

Munajatunnisa, salah satu relawan yang bergabung ke dalam Relawan Nusantara sejak empat tahun yang lalu mengaku banyak hal positif yang didapat. “Saya ingat sekali pada kegiatan pertama dapat amanah menjadi penanggung jawab kegiatan Relawan Cilik, acaranya itu membuat figura menggunakan stik ice cream. Dari sana saya belajar bagaimana menjadi pribadi yang bertanggungjawab dengan jiwa kepemimpinan,” tutur Muna.

Selain itu, Muna juga mengaku akhirnya memahami bagaimana menjadi pribadi yang berjiwa sosial tinggi. “Membantu menjaga Mbah Suminem menjadi kontribusi saya untuk itu,” imbuhnya.

Muna hanyalah satu contoh kisah relawan yang bisa menjadi cerminan tentang lingkungan banua kita saat ini. Tentu banua ini tak cukup hanya dengan satu Muna. Maka dukungan moril dan materiil dari kita lah yang bisa membantu gerakan kerelawanan ini semakin meluas.

Penulis : Eggy Akbar Pradana

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Bersabar Hingga Akhir Hayat, Lahirkan Kebaikan yang Bertunas

Mengenang Sosok Suminem, Lansia Duafa Penderita Gagal Ginjal

Selama dua pekan dirawat di rumah sakit, tak ada keluhan keluar dari mulutnya. Sosok Suminem atau biasa disapa Mbah Suminem itu seolah menjadi cambukan bagi kita dalam berbuat kebaikan. Kini, Mbah Suminem tidaklah benar-benar tiada, karena beliau masih tetap hidup dalam kebaikan-kebaikan dan kasih sayang yang telah Ia lakukan semasa hidupnya.

(Wahyu Aji Saputra, Banjarbaru)

Mbah Suminem mungkin hanyalah perempuan tua yang tinggal di rumah sederhananya di Jalan Parambaian Sungai Besar, Banjarbaru. Namun, bagi Radar Banjar Peduli (RBP) Mbah Suminem telah menjadi pejuang hebat yang memberi arti.

Setiap perempuan pasti bermimpi memiliki suami yang dapat diandalkan dan mampu memberi nafkah yang cukup. Namun rupanya tidak bagi Mbah Suminem. Ia menikah dengan seorang lelaki yang memiliki kekurangan secara mental. Kasim, demikian lelaki itu biasa disapa. Meski begitu, Mbah Suminem tak pernah ragu memberikan kasih sayang untuk suaminya.

Sehari-hari Mbah Suminem berjualan nasi kuning dan lontong untuk menghidupi keluarga. Di mata para tetangga Mbah Suminem dikenal sebagai orang yang begitu baik, disenangi dan dihormati. “Mbah itu nggak segan untuk berbagi rezeki, padahal keadaan beliau serba kekurangan,” ujar Ratna, salah seorang tetangganya.

Apalagi, lanjut Ratna, tepat sekitar lima bulan yang lalu, Mbah Suminem menderita sakit. “Hampir seluruh badan Mbah Suminem bengkak. Jadi nggak bisa jualan. Untuk sekedar menghidupi sehari-hari saja cukup susah, apalagi untuk pengobatan,” ujarnya lagi.

Namun Tuhan ternyata sangat menyayangi Mbah Suminem. Uluran tangan para tetangga senantiasa ada untuknya. Dari makanan hingga membantu memperbaiki peralatan rumah tangga yang rusak.

Hingga pada Jumat (9/2) lalu, RBP akhirnya dipertemukan dengan Mbah Suminem melalui seorang dermawan yang telah lebih dulu membantu. Dengan semangat kemanusiaan, relawan Sahabat Kalsel menyambangi Mbah Suminem untuk dibawa ke rumah sakit agar dapat perawatan yang lebih layak. “Mbah sempat tidak mau, tapi saya dibantu beberapa tetangga membujuknya hingga berhasil,” terang Devi Putri Listyasari, relawan Sahabat Kalsel.

Ditemani oleh suami beliau, Mbah Suminem akhirnya dirawat di RSUD Ulin, Banjarmasin. “Menurut dokter, beliau menderita gagal ginjal jadi diharuskan perawatan yang intensif,” ucap Devi.

Selama di Banjarmasin pendampingan Mbah Suminem dibantu oleh para relawan dari Relawan Nusantara. Tak ada kesedihan yang diperlihatkan oleh Mbah Suminem selama dirawat. Ia malah bersikap sabar dan bahkan kebaikan hatinya masih dapat dirasakan oleh para relawan. “Nanti kalau sudah sembuh, saya bikinkan peyek ya,” ucapnya satu kali kepada para relawan disertai sebuah senyuman. Tak pelak ucapan itu membuat para relawan terharu.

Kasim, sang suami juga tak henti-hentinya memberikan curahan perhatian kepada Mbah Suminem. Tak jarang Kasim menyuapi dan memijat badan Mbah Suminem.

“Rasanya masih banyak yang ingin dilakukan bersama Mbah Suminem, ingin belajar hidup dari beliau. Namun, ternyata Allah lebih ingin bertemu dengan Mbah,” ungkap Devi.

Tepat hari Jumat (23/2), hari yang sama saat beliau masuk RS, Mbah Suminem menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 73 tahun. “Padahal saat itu Mbah mau proses cuci darah yang kedua,” pungkas Devi.

Tak ada cara yang paling indah dalam belajar berbagi kebaikan selain menjadi saksi dari kebaikan itu sendiri. Mungkin ini jua lah maksud dari takdir Tuhan untuk saling mempertemukan para insan kebaikan.

Kematian Mbah Suminem menuai nilai hidup yang luar biasa bagi para relawan. Mbah Suminem dengan waktunya telah membuktikan bahwa kebaikan yang tulus akan selalu mendapat tempat yang tepat. Dalam sisa hidupnya, masih ada benih kebaikan yang siap untuk bertunas kembali. Jadi, bagaimana dengan kita? Yang sudah menjalani masa hidupnya hingga sekarang? Adakah kebaikan yang bisa untuk ditinggalkan dan dikenang?.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Momentum untuk Berbuat Nyata

(Dari kegiatan Workshop dan Pelatihan Siaga Bencana untuk Kampus di Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM hari Ke-2)

Hari kedua pelatihan siaga bencana untuk kampus berlangsung makin seru. Trainer pertama, Ruli Renata dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), memberikan wawasan baru dan menarik tentang kerelawanan. “Relawan itu berat, kamu nggak bisa sendiri, mari sama-sama,” ucapnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Ruli yang telah berkiprah selama puluhan tahun di dunia relawan menjelaskan bahwa relawan itu adalah passion. “Kerja kemanusiaan itu memang harus dengan kecerdasan, tapi untuk menjadi relawan harus dengan panggilan hati juga,” pungkasnya. Setelah belajar manajemen relawan, para peserta kemudian diarahkan untuk berdiskusi tentang potensi, wilayah pengabdian, dan organisasi relawan. Semangat begitu terlihat dari serunya diskusi yang terbangun.

Keseruan semakin terasa saat memasuki sesi simulasi. Peserta belajar memadamkan api bersama tim Damkar Kota Banjarmasin. “Wah seru sekali, ternyata memadamkan api itu mudah kalau kita tau caranya,” ujar Najmi, salah satu peserta yang pertama kali mencoba simulasi.

Terakhir, para peserta diajak melakukan kampanye peduli lingkungan dengan melakukan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Bertindak sebagai fasilitator adalah Ketua Sahabat Kalsel Ahmad Khairil dan Bidang Humas Sahabat Kalsel Achmad Ridho Indra.

Ketua Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM Yudha Irhasyuarna SPd MPd menyampaikan ucapan terima kasih kepada RBP atas partisipasinya membangun semangat kerelawanan di kalangan mahasiswa. “Saya berharap ini jadi momentum bagi kami untuk bisa berbuat nyata untuk masyarakat,” ucapnya.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani mengapresiasi gebrakan yang dilakukan Yudha Irhasyuarna. “Semangat kepedulian ini harus kita jaga, kita apresiasi setinggi-tingginya karena kampus adalah wadah untuk mencetak pemimpin bangsa. Maka diperlukan SDM dengan karakter kepedulian yang tinggi,” harapnya.

Penulis dan Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Bangun Sikap Peduli

(Dari kegiatan Workshop dan Pelatihan Siaga Bencana untuk Kampus di Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM)

BANJARMASIN – Prodi Pendidikan IPA Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar workshop. Gelaran bertajuk masyarakat kampus peduli bencana itu digelar kemarin (20/2) dan hari ini (21/2) di Gedung Pasca Sarjana ULM.Workshop bekerjasama dengan Radar Banjar Peduli (Sayap sosial Radar Banjarmasin). Diisi oleh tiga pemateri. Yakni Cipto Sugiarto dari Masyarakat Relawan Indonesia, Loli Hidayat dari BPBD Kota Banjarmasin serta Hasibah Eka Rosnelly dari perwakilan Kemensos RI.

Ada 25 peserta yang mengikuti gelaran tersebut. Terdiri 20 mahasiswa S1 jurusan Pendidikan IPA dan lima dari S2. Workshop juga dilengkapi dengan pelatihan siap siaga bencana. Kepala Prodi Magister Pendidikan IPA Pasca Sarjana ULM, Yudha Irhasyuarna menyebut jenjang pendidikan tak bisa jadi tolak ukur tingkat kepedulian terhadap sesama. Itulah alasan digelar workshop tersebut.

“Ya di sekolah atau di kampus tidak ada pelajaran peduli. Kami ingin membangkitkan peduli mahasiswa kami. Agar ilmu yang dimiliki bermanfaat,” tuturnya. Dari pengamatannya, saat ini kepedulian cenderung turun. Semakin tinggi ilmu seseorang, kepekaan justru makin memudar. “Ini yang ingin kami bangun lagi,” lanjutnya. Direktur Program Pasca Sarjana ULM, Udiansyah, menambahkan, pelatihan tersebut juga sebagai sarana menambah kompetensi bagi mahasiswa.  “Suana kepedulian tersebut merupakan atmosfer di lingkungan akademik.

Kami ingin karakter peduli tersebut ada. Apalagi di zaman sekarang, perlu adanya skil dan kompetensi,” bebernya. Salah seorang peserta bernama Selvia mengaku mendapat tambahan ilmu. Dari workshop dan pelatihan siaga bencana yang diikutinya itu.

“Pelatihan ini membuat kepekaan terhadap diri kami. Apalagi saya aktif dalam pramuka, sikap peduli itu penting,” ucap mahasiswi S1 jurusan Pendidikan IPA itu. Sementara itu, Direktur Radar Banjar Peduli, Diauddin berpesan agar relawan nantinya bekerja ikhlas. Tanpa mengharapkan imbalan. “Jadi relawan itu berkah,” pungkasnya.(eka/at/nur)

Sumber : Radar Banjarmasin edisi Rabu 21 Februari 2018 halaman 14

Byadmin

Menakar Kemiskinan

Oleh: Yohandromeda Syamsu (Alm)

Sering orang miskin dipandang rendah, dianggap gagal dalam menjalani hidup, tidak pintar, minim pendidikan, dan sebagainya. Karenanya, orang miskin  kurang dihormati, jarang dilibatkan, kecuali dalam peran yang memang cocok bagi mereka. Faktanya, orang miskin tidak selalu merasa menderita. Meski miskin, mereka bisa tertawa, gembira, dan juga bersyukur sebagaimana orang kaya, bahkan hidupnya jauh lebih tenang.

Ya, kemiskinan memang bisa karena banyak hal, pertama karena keadaan yang memaksa.  tidak mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, jatuh pailit, atau tertimpa banyak hutang. Usaha yang selalu gagal, menjadi orang yang tersisih, atau tertinggal karena tidak memiliki kecakapan hidup, dan sebagainya. Kedua, mereka yang memang sengaja menjalani hidup dengan keadaan miskin. Orang-orang ini tidak merasa menderita dengan keadaannya itu. Mereka tidak mau tinggal di rumah mewah, berpakaian yang serba wah, juga tidak kepingin memiliki uang banyak, tabungan atau harta yang melimpah. Mereka hanya ingin hidup secukupnya atau sederhana, tidak ingin terbebani atau terbelenggu hidupnya oleh harta, atau disebut sebagai menjadi abdi harta benda.

Orang yang menyukai atau mencintai harta, tatkala melihat orang yang sengaja hidup sederhana menganggapnya aneh. Tunggu dulu, jangan dikira, mereka yang menjalani hidup sederhana itu selalu bodoh. Bisa jadi mereka lebih pintar. Mereka memilih jalan hidup seperti itu, didasari oleh logika dan keyakinannya tersendiri. Walau, umumnya, orang menyukai harta. Tetapi, ada juga yang sebaliknya, tidak menyukainya. Artinya, tidak semua orang miskin selalu identik dengan kerendahan. Lihat saja misalnya, para kyai atau ulama yang mengambil sikap hidup sederhana. Mereka sengaja memilih cara hidup sederhana, tidak menganggap bahwa harta selalu bisa menyelamatkan dirinya.

Mereka yang berpotensi kaya, namun tidak memanfaatkannya, ternyata ada di mana-mana, dalam khazanah Islam disebut kaum shufi. Dikalangan pesantren dikenal istilah kyai waro’. Kaum shufi atau kyai waro’, biasanya lebih dihormati. Ada sebagian pemahaman, kalau ulama’atau kyai yang menjalani hidup sederhana justru dipandang sebagai ulama’atau kyai yang sebenarnya.

Sementara, orang kaya memandang kemiskinan identik dengan penderitaan, kaum shufi atau kyai waro’ melihat justru sebaliknya. Orang kaya, apalagi mereka tidak memanfaatkan kekayaannya secara benar, dipandang sebagai penyandang derajad rendah. Sebaliknya, secara umum orang miskin dianggap menderita, harus ditolong, istilah populernya dientaskan, diangkat dari lembah penderitaannya.

Memahami orang lain ternyata tidak mudah, sering terjadi salah paham. Perasaan bahagia dan derita bisa ada pada mereka yang berharta ataupun yang papa. Lihatlah, banyak orang kaya, berpangkat tinggi, sehari-hari hidup diliputi oleh suasana gelisah. Mungkin karena korupsi atau sebab lain, akhirnya dimasukkan penjara. Orang-orang seperti itu tidak akan bisa merasakan kenikmatan dari kekayaannya. Tragis lagi, justru kekayaannya itu yang menjadikan sebab, mereka masuk bui.

Boleh-boleh saja menjadi kaya, tetapi tidak perlu merendahkan yang miskin. Kaya dan miskin adalah biasa. Orang kaya, tidak identik dengan hidup sukses. Sukses dalam hidup tidak selalu diukur dari jumlah hartanya. Keberhasilan hidup dalam Islam diukur dari tingkat keimanannya, amal sholeh, dan kemuliaan akhlaknya. Orang yang memenuhi ukuran itu, bisa saja berasal dari orang miskin atau juga orang kaya. Begitulah semestinya berakhlak terhadap orang miskin, tidak merendahkan dan atau menganggap hina.

Berangkat dari pandangan itulah, sesungguhnya ada perspektif lain dari pengertian kemiskinan. Yaitu, miskin keimanan, miskin amal sholeh, dan juga miskin akhlak. Mereka itu juga perlu ditolong, dientaskan, dan diajak ke jalan yang benar. Kemiskinan iman, amal sholeh, dan miskin akhlak bisa lebih berbahaya dari sebatas miskin harta. Inilah akhlak yang seharusnya dibangun bersama, Namun, menolong mereka yang miskin harta pun, tidak boleh berhenti.[]

Byadmin

Pemberdayaan

Oleh: Yohandromeda Syamsu (Alm)

Kadang kita mempunyai persepsi dan anggapan keliru tentang Islam. Kita beranggapan bahwa seolah-olah Islam hanya berkaitan dengan ibadah ritual saja, seperti syahadat, mendirikan salat, menjalankan puasa, membayarkan zakat, dan menunaikan ibadah haji serta hal-hal yang lain yang bersifat vertikal semata. Sedangkan hal-hal yang bersifat horizontal, apalagi di bidang pembangunan ekonomi, tidak ada kaitannya, bahkan seringkali Islam dicurigai sebagai factor penghambat pembangunan ekonomi.

Namun jika kita mau menelaah lebih lanjut, maka kita akan paham, bahwa Islam adalah agama yang mempunyai ajaran yang komprehensif dan universal. Kegiatan sosial ekonomi (muamalah) dalam Islam mempunyai cakupan yang luas dan fleksibel, serta tidak membeda-bedakan antara Muslim dan non Muslim. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali, yaitu dalam bidang muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita.

Dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi, dunia Islam mempunyai sistem perekonomian yang berbasiskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Syariah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis serta dilengkapi dengan Al-Ijma dan Al-Qiyas. Sistem perekonomian Islam yang dikenal dengan istilah Sistem Ekonomi Syariah, dengan tujuan, kesejahteraan ekonomi dalam kerangka norma moral Islam. Membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid, berdasarkan keadilan dan persaudaraan yang universal. Mencapai distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil dan merata. Menciptakan kebebasan individu dalam konteks kesejahteraan sosial.

Sistem ekonomi syariah mempunyai konsep yang lengkap dan seimbang dalam segala hal kehidupan, namun kita umat Islam di Indonesia, tidak menyadari hal itu. Kita masih berpikir dengan kerangka ekonomi kapitalis, karena berabad-abad dijajah oleh bangsa barat, dan juga bahwa pandangan dari barat selalu lebih hebat. Padahal tanpa kita sadari ternyata di dunia barat sendiri telah banyak negara mulai mendalam system perekonomian yang berbasiskan Syariah.

Sistem Ekonomi Syariah mengakui adanya perbedaan pendapatan dan kekayaan pada setiap orang dengan syarat bahwa perbedaan tersebut diakibatkan karena setiap orang mempunyai perbedaan keterampilan, inisiatif, usaha dan resiko. Namun perbedaan itu tidak boleh menimbulkan kesenjangan yang terlalu jauh antara yang kaya dengan yang miskin karena kesenjangan yang terlalu dalam tidak sesuai dengan syariah Islam yang menekankan bahwa sumber-sumber daya bukan saja karunia dari Allah bagi semua manusia, melainkan juga merupakan suatu amanah. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk mengkonsentrasikan sumber-sumber daya di tangan segelintir orang.

Kurangnya program-program yang efektif untuk mereduksi kesenjangan sosial yang terjadi selama ini dapat mengakibatkan kehancuran, bukan penguatan perasan persaudaraan yang hendak diciptakan Islam. Syariah Islam sangat menekankan adanya suatu distribusi kekayaan dan pendapatan yang merata. Syariah Islam mewajibkan setiap individu untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, dan juga menetapkan kewajiban kolektif bagi masyarakat Muslim untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang tidak mampu karena kekurangannya. Salah satu cara yang dituntut oleh Islam atas kewajiban kolektif tersebut adalah ”lembaga zakat” yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rukun Islam. Secara teknik, zakat adalah kewajiban finansial seorang muslim untuk membayar sebagian kekayaan bersihnya atau hasil usaha-usahanya jika kekayaan tersebut telah melebihi nisab (kadar tertentu yang telah ditetapkan).

Penciptaan lingkungan yang kondusif perlu digalang dengan kerjasama antara pihak pemerintah, ulama, cendikia, akademisis, pengusaha, asosiasi pengusaha, perbankan, media massa, LSM dan pihak-pihak lain yang menginginkan kemajuan sosio ekonomi yang positif, sehingga terbentuk sebuah jaringan sosio-ekonomi yang diciptakan dengan konsep yang matang dan dikelola secara profesional, effektif dan efisien.

Pembagian dana zakat harus memberikan preferensi dengan tujuan memungkinkan si miskin untuk dapat berdikari, karena merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk dapat menghidupi dirinya sendiri. Bagi yang lain, zakat harus dipergunakan hanya untuk bantuan keringanan temporer disamping sumber-sumber daya esensial untuk memperoleh pelatihan, peralatan, dan materil sehingga memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan yang mencukupi.

Zakat juga akan meningkatkan ketersediaan dana bagi investasi. Pembayaran zakat pada kekayaan termasuk emas, perak dan harta yang tersimpan akan mendorong para pembayar zakat untuk mencari pendapatan dari kekayaan mereka, sehingga mereka mampu membayar zakat tanpa mengurangi kekayaannya. Dengan demikian, dalam sebuah masyarakat dengan nilai Islam yang telah terinternalisasi, simpanan emas dan perak serta kekayaan yang tidak produktif akan cenderung berkurang sehingga meningkatkan investasi dan menimbulkan kemakmuran yang lebih besar. []

Byadmin

Belanja Seperlunya

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Tentu pernah ada perasan dalam diri, begitu besar rezeki yang Allah limpahkan, hingga hampir semua kebutuhan hidup, bahkan yang selama ini tidak bisa kita miliki, dengan limpahan karunia-Nya dapat kita penuhi. Yah, sungguh itu merupakan suatu kenikmatan terbesar yang kita rasakan. Namun pernahkan kita berfikir kebelakang sejanak, apakah semua barang kebutuhan yang kita penuhi tersebut betul-betul merupakan kebutuhan pokok ataukah hanya sebagai kebutuhan penunjang (barang-barang komplementer) belaka.

Seandainya semua itu adalah kebutuhan dasar, tentu sesuatu yang seharusnya dilakukan. Namun kalau itu hanya kebutuhan komplementer semata, tentu masih ada hal-hal lain yang harus kita fikirkan sebelum memenuhinya.

Islam tentu tidak melarang ummatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan utama ataupun kebutuhan sekunder bahkan kebutuhan tersier sekalipun. Hanya saja islam melarang umatnya dalam memenuhi kebutuhan tersebut bermewah-mewahan (baca: berlebih-lebihan). Islam senantiasa mengajarkan kesederhanaan dalam hidup.

Ya, kesederhanaan. Kalimat itu tentu saja sangat mudah diucapkan, namun dalam melaksanakannnya amatlah sulit. Bagaimana biar tidak sulit? Dimana kita bisa bercermin dan memperoleh teladan? Jawabnya, semua ada dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an bagi kaum Muslimin diyakini bukan hanya kitab suci ’ansich’ yang bersifat pasif, tapi merupakan wahyu Allah kepada ummat manusia lewat perantaraan Nabi Muhammad Saw dan utusan ’ruh suci’ Jibril yang berisi kebenaran-kebenaran absolut dari Rabb al-Alamin Azza wa Jalla. Dengan demikian al-Qur’an dijadikan sebagai pedoman hidup bagi ummat Islam dalam melakukan ibadah, muamalah dan pembinaan akhlaq.

Aspek yang menarik untuk dikaji lebih mendalam ialah bagaimana nilai-nilai Islami (syari’ah) dilaksanakan dalam berbagai sendi kehidupan, salah satunya ialah mengenai pembelanjaan harta.

Harta sebagai salah satu amanah yang diberikan oleh Allah kepada ummat manusia harus disyukuri dalam parameter nilai-nilai Islami. Pertanyaan yang segera muncul ialah jika berkaitan dengan masalah pembagian harta, bagaimana mekanismenya? Kalau sasarannya ialah ’optimalisasi pembelanjaan harta’ sementara secara realitas timbul kesenjangan sosial, salah satunya di Indonesia dengan kondisi masyarakat mayoritas Islam.

Fenomena distribusi harta merupakan suatu makna yang sangat menarik untuk dikaji sebagai upaya untuk mengarahkan pada solusi dari permasalahan kesenjangan sosial terutama dalam struktur sosial masyarakat Indonesia.

Prinsip utama yang menentukan dalam distribusi harta ialah keadilan dan kasih sayang. Tujuan pendistribusian meliputi: Pertama, agar kekayaan tidak menumpuk pada sebagian kecil masyarakat, tetapi selalu beredar dalam masyarakat.

Kedua, berbagai faktor produksi yang perlu mempunyai pembagian yang adil dalam kemakmuran negara. Pengertian dari pembersihan jiwa dalam dataran doktrin diimbangi dengan pertimbangan keadilan untuk mewujudkan suatu sistem kehidupan yang sejahtera. Islam menghendaki kesamaan di kalangan manusia di dalam perjuangannya untuk mendapatkan harta tanpa memandang perbedaan kelas, kepercayaan atau warna kulit.

Tujuan utama Islam ialah memberikan peluang yang sama kepada semua orang dalam perjuangan ekonomi tanpa membedakan status sosialnya, di samping itu Islam tidak membenarkan perbedaan kehidupan lahiriah yang melampaui batas dan berusaha mempertahankannya dalam batasan-batasan yang wajar dan seksama. Dalam rangka mengontrol pertumbuhan dan penimbunan harta kekayaan, Islam mencegah terjadinya penimbunan dan menolong setiap orang untuk membelanjakannya demi kebaikan masyarakat.

Pesan al-Qur’an di dalam surat al-Isra ayat 16: “Dan jika Kami hendaki membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Israa:16)

Firman Allah di atas merupakan hukum Allah terhadap orang-orang yang bermewah-mewahan tanpa memberikan kewajiban kepada yang berhak menerimanya. Pola hidup yang dijalankan atas dasar bermewah-mewahan dalam tataran mencapai tujuannya tidak segan-segan menindas golongan miskin dan lemah untuk maksudnya yang individualistis, oleh karena itu orang yang kaya bertambah kaya dan orang miskin akan semakin miskin, alur dari problematika tersebut akan memporak-porandakan keutuhan masyarakat. ***

Byadmin

Di Kampung Per, Geni Lahap Sekali Makan Nasi

Kalau berjalan lebih cepat, suara tapak kaki jadi makin nyaring di kampung ini, Kampung Per. Kaki bocah-bocah Asmat yang berlarian mengeluarkan bunyi gemeretak. Seluruh jalan utama masih berupa papan-papan kayu yang dibikin dan disusun sekitar beberapa dekade lalu. Papan kayu dibuat menjadi jalan layang yang terpacak di atas tanah rawa berlumpur, tanah yang menjadi ciri khas Kabupaten Asmat.

Berjalan di beberapa ruas gang kampung, papan kayu sudah mulai reyot, retak, bahkan patah, menghilang, dan bolong. Papan bakal berbunyi nyaring kalau ditapaki, apalagi sembari diinjak oleh kaki-kaki anak Kampung Per yang berlarian.

Walau Kampung Per masih termasuk bagian dari Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, lokasinya terpisah cukup jauh. Sekira dua jam perjalanan laut dengan longboat sarat muatan. Kalau cuaca buruk, atau laut surut sudah bisa dipastikan akses ke Kampung Per tak bakal bisa ditempuh.

Tim ACT (Aksi Cepat Tanggap, lembaga mitra nasional RBP), sempat singgah sejenak di Kampung Per, Ahad (11/2) lalu. Menapaki tiap-tiap ruas jalan papan, menyapa bocah-bocah Kampung Per. Di satu sudut kampung, di depan rumah, seorang bocah kecil sedang lahap memegang sendok di depan piring hijau. Di atas piring hanya ada nasi putih, tanpa lauk, tanpa rasa.

“Namanya Geni Siso, umurnya 4 tahun. Anak ini kalau ada nasi pasti maunya hanya makan nasi saja. Tidak pakai lauk. Geni suka sekali nasi,” kata Laurensius, Paman Geni menyapa kami di depan rumah.

Paman Geni mengatakan, beras yang dimakan oleh keponakannya adalah beras yang baru saja dibagikan oleh ketua kampung di Rumah Bujang.

“Tadi siang, ada bantuan beras dari Agats 20 karung beras. Dibagikan langsung merata di Rumah Bujang. Mama Geni langsung menanak nasi ini untuk Geni makan,” kata si paman.

Rupanya betul tebakan kami, nasi putih yang sedang dimakan Geni adalah beras Kapal Kemanusiaan Papua yang memang baru saja dikirimkan untuk Kampung Per.

“Dari Agats, sebelum Tim ACT datang untuk singgah sejenak, satu kapal longboat sudah berjalan mengangkut 20 karung beras setara 500 kg untuk Kampung Per. Beras langsung dibagikan oleh Ketua Kampung di Rumah Bujang, rumah adat Asmat,” ujar Diding Fachruddin, Koordinator Tim ACT untuk distribusi bantuan beras Kapal Kemanusiaan Papua.

Setiap sendokan nasi yang dimakan Geni, betul-betul dinikmati oleh balita itu. Ia menyuap nasi hangat itu dengan lahap, tak peduli dengan kondisi tubuh mungilnya yang tidak berbusana. Kata pamannya, Geni memang suka tidak pakai pakaian. Geni juga lebih suka mandi di sungai lumpur. Mama Geni setiap sore selalu ke sungai untuk mencari ikan, sementara sang Ayah sudah tiada sejak Geni masih bayi.

“Baru seminggu lalu saya lari ke puskesmas bawa Geni. Badannya panas tinggi. Kata suster di Puskesmas, Geni kena Malaria,” ungkap Laurensius.

Sejak akhir Januari kemarin, krisis kesehatan berupa gizi buruk dan malaria juga merebak di Kampung Per. Bahkan, angka malaria melejit. Jumlah pasien anak positif malaria sampai puluhan hanya dalam dua pekan terakhir.

“Dua minggu ini ini kami tidak bisa tidur. Sepanjang malam, jam 1 dini hari, jam 4 subuh, jam berapapun di malam hari ada saja warga bawa anaknya panas tinggi ke puskesmas. Semua kena malaria,” cerita Hendrikus Hermin, perawat di Puskesmas Pembantu Kampung Per, Distrik Agats.

Hendrikus mencatat, sejak tanggal 27 Januari lalu tak kurang 36 anak di Kampung Per positif terkena malaria.

“Bahkan, seorang perawat perempuan kawan saya di Puskesmas Kampung Per ini sedang terbaring lemas, juga positif kena malaria. Selain itu ada 2 anak lain kena gizi buruk, dan puluhan anak-anak lain masuk kategori gizi kurang,” kata Hendrikus.

Dua pekan terakhir, malaria memang menjadi teror di Kampung Per. Geni menjadi salah satu bocah yang terpapar malaria. “Tapi, Geni kini perlahan sudah sembuh. Geni sempat dirujuk sementara ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats. Beberapa hari perawatan intensif, sampai akhirnya Geni dibolehkan pulang,” ujar Hendrikus.

Di ujung sore, Tim ACT duduk di teras rumah papan, menemani Geni yang masih lahap menghabiskan sepiring nasi putih. Bocah Asmat dari Kampung Per itu memang masih sedikit menyembunyikan senyumnya. Tapi, setelah sembuh dari malaria, Geni sudah mulai membaik. Gizi dari sepiring nasi, meski tak lengkap, tetap membantu Geni untuk pulih.

“Alhamdulillah, setiap butir beras yang sudah kami mulai distribusikan ke tiap-tiap kampung di Asmat bisa sangat berguna di fase pemulihan. Perbaikan gizi dimulai bertahap. Insya Allah, beriringan dengan dikirimnya beras, akan ada juga distribusi biskuit dan air mineral sampai ke kampung-kampung lainnya di pedalaman Asmat,” papar Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap. (act/rbp)