Author Archive

Byadmin

23 Siswa Sekolah Islam di Kota Banjarbaru, terima beasiswa Cahaya Pintar

Oleh : Ginanjar Sutrisno (Lazismu Banjarbaru)

Siang yang cukup cerah, (12/04) Syifana sangat gembira dengan kedatangan Tim Yayasan Baitul maal (YBM) PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah dan Lazismu Banjarbaru. Siswa kelas 6 SD Alam Muhammadiyah Landasan Ulin, yang selalu mendapat juara kelas itu menjadi salah satu penerima manfaat dari program Beasiswa Cahaya Pintar PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah dari 23 siswa/siswi lainnya dari berbagai sekolah Islam berstatus swasta di Kota Banjarbaru.

“Saya sangat senang dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan melalui beasiswa ini”, ujarnya penuh suka cita. Hal yang sama juga disampaikan oleh Muhammad Ilmi, “Saya sangat terbantu adanya beasiswa ini, karena bisa meringankan beban keluarga, karena ibu saya bekerja sebagai penjahit saja,” ucap siswa kelas 6 MI Nurul Hikmah Palam dengan polosnya.

“Semoga program ini terus berlanjut dan semakin banyak siswa/siswi tidak mampu yang dapat terbantu”, ujar H Kastalani, kepala MI Miftahul Khairiyah.

Program ini merupakan pelaksanaan yang kedua kalinya di tahun ajaran 2017/2018, anggaran yang disiapkan YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah untuk program tersebut berasal dari zakat profesi pegawai PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah.

“Dalam program ini, kedua kalinya kami menggandeng Lazismu Banjarbaru sebagai pelaksananya,” ujar Ahmad Sudani, amil YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah. Lazismu Banjarbaru sendiri merupakan salah satu mitra dari Radar Banjar Peduli yang berpengalaman dalam menjalin sinergi dengan berbagai pihak.

Rasa bangga disampaikan oleh Divisi Pengembangan Program dan Fundraising Lazismu Banjarbaru, ” Kami sangat berterima kasih dan bangga telah dipercaya kembali untuk berkolaborasi dengan program tersebut,” ucap Ginanjar Sutrisno, amil yang memulai karir dari relawan.

Adapun sekolah yang menjadi penerima manfaat adalah SD Alam Muhammadiyah Landasan Ulin, MI Darul Islamiyah Banjarbaru Selatan, MI Miftahul Khairiyah Cempaka, MI Nurul Hikmah Palam, MTs Ihya Ulumuddin Banjarbaru Selatan, MTs Miftahul Khairiyah Cempaka, MTs Miftahul Aula Bangkal, MTs Nurul Hikmah Cempaka.

Editor :Dr Diauddin

Byadmin

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

Oleh : Ibnu sina

Tidak terasa kita telah berada di tengah Bulan Sya’ban. Bulan ini seringkali dilalaikan oleh manusia. Hingga Rasulullah SAW bersabda: “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan”. (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Ternyata bulan Sya’ban adalah bulan yang istimewa. Karena pada bulan ini diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda dalam kelanjutan hadits di atas: “Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam”. (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Itulah keutama’an bulan Sya’ban yang pertama. Bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT.

Keutamaan kedua bulan Sya’ban adalah, pada pertengahannya. Inilah yang dikenal dengan istilah Nisfu Sya’ban. Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan nishfu Sya’ban : “Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya”. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al Albani).

Diantara amal di bulan Sya’ban yang dicontohkan Rasulullah SAW, yang pertama, adalah memperbanyak puasa sunnah. Dalam sebuah hadits dijelaskan : “Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di Bulan Sya’ban,” Rasulullah menjawab, “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan ini amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa.” (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Begitulah Rasulullah SAW banyak berpuasa di Bulan Sya’ban sekaligus menginginkan agar ketika amalnya diangkat, beliau dalam keadaan sedang berpuasa.

Ummul Mukmin ‘Aisyah juga meriwayatkan : “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada Bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari).

Tahulah kita bahwa berpuasa sunah di Bulan Sya’ban menjadi begitu istimewa karena pada bulan ini amal diangkat, dan sekaligus persiapan untuk puasa di Bulan Ramadhan.

Namun, yang perlu diperhatikan, tidak boleh mengkhususkan berpuasa pada satu atau dua hari terakhir kecuali puasa yang harus ditunaikan (karena nadzar, qadha’ atau kafarat) atau puasa sunah yang biasa dilakukan (puasa Daud, Senin Kamis). Rasulullah SAW bersabda :  “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang memang seharusnya/biasanya) melakukan puasa pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” (HR. Bukhari).

Amal kedua pada Bulan Sya’ban ialah melunasi hutang-hutang puasa, khususnya yang masih belum selesai meng-qadha’ puasa Ramadhan sebelumnya. ‘Aisyah berkata : “Aku punya hutang puasa Ramadhan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Nabi SAW.” (HR. Bukhari).

Amal ketiga pada bulan Sya’ban ialah memperbanyak ibadah dan amal kebajikan secara umum, seperti shalat Rawatib, Qiyamullail, Tilawah Al Quran, bershadaqah. Karena ketika amal kita diangkat, amal kita benar-benar bagus pada bulan itu, asal sesuai sunah.

Adapun malam nishfu Sya’ban, sebagaimana hadits di atas, memang memiliki keutamaan. Ibnu Taimiyah menegaskan :”Adapun malam nishfu Sya’ban, didalamnya terdapat keutamaan”.

Karena itu, sebagian ulama salaf dari kalngan tabi’in di Negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin Amir menghidupkan malam ini dengan berkumpul di Masjid untuk melakukan ibadah. Dari merekalah kaum muslimin mengmabil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini bukan bid’ah!”

Ulama Syam lain, diantaranya Al Auza’i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di Masjid. Tetapi beliau menyetujui keutamaan shalat, baca Al Qur’an pada nishfu Sya’ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al Hanbali dan Ibnu Taimiyah.

Adapun Ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, dan para pengikut Imam Malik menganggap Nishfu Sya’ban sebagai ­bid’ah. Namun, qiyamullail sebagaimana disunahkan dan puasa disiangnya sebab termasuk Ayyaumul bidh ialah baik.

Semoga perbedaan pendapat ini dipahami dengan baik dan tidak menghalangi kita untuk melaksanakan segala amal ibadah utaman pada bulan Sya’ban.

Wallahu a’lam bishshawab…..

Byadmin

Social Movement

Oleh : Yohandromeda Syamsu

 

Selama ini gerakan keagamaan identik dengan urusan-urusan ritual yang bersifat privat dan ada kecenderungan untuk menganggap agama hanya semata mengurus persoalan rohani. Bahkan, beragam masalah dalam hidup dan kehidupan selalu dikaitkan dengan soal spiritualitas (agama). Jika benar agama hanya mengurusi soal rohani, hal ini akan bertentangan dengan prinsip kunci dari semua agama di Bumi ini, yakni keadilan.

Dalam Islam, keadilan menduduki posisi sangat penting dan terkait dengan hampir semua urusan duniawi. Bagaimana manusia menakar keadilan jika agama semata mengurusi rohani dan spiritualitas. Salah satunya diwujudkan dalam praktek ibadah zakat. Zakat yang merupakan rukun Islam keempat, adalah wujud nyata dari pembelaan Islam terhadap prinsip keadilan. Zakat juga menawarkan pengelolaan uang negara sekaligus mengoreksi tradisi pengelolaan uang publik oleh kekuasaan yang hanya berpihak pada kepentingan elite.

Lembaga zakat dalam Islam memberikan kemungkinan upaya pemberdayaan bagi masyarakat lemah dan miskin. Kehadiran zakat secara tidak langsung menegaskan bahwa uang publik adalah uang Allah (haq Allah). Ini bermakna uang tersebut harus digunakan di jalan Allah SWT dan penguasa hanya berkedudukan sebagai amil (penyalur). Zakat juga memperkenalkan istilah tarif baku (miqdar), kekayaan yang jadi obyek pajak (maal zakawy), dan batas minimal terkena pajak (nisab) secara proporsional. Tidak berhenti di situ, zakat juga mengatur bagaimana membelanjakan uang yang terkumpul. Bahwa uang itu pertama-tama harus dibelanjakan untuk kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah dan fakir miskin, apa pun agamanya. Islam sebagai ajaran spiritual dan moral sesungguhnya melihat problem kemiskinan. Kalau hampir semua nabi memulai dakwahnya dengan upaya pemberdayaan masyarakat miskin, itu karena memang di situlah peran sentral agama diperlukan. Dan, tidak satu pun agama yang memberi penghargaan terhadap mereka yang serakah.

Masrcel Boisard seorang pengamat dunia Islam menyebutkan, zakat memberi kemenangan terhadap egoisme diri atau menumbuhkan kepuasan moral karena telah ikut mendirikan sebuah masyarakat Islam yang lebih adil. Ibadah zakat ikut menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat. Dalam bahasa Roger Garaudy, zakat adalah satu bentuk keadilan internal yang terlembaga sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu, orang dapat menaklukan egoisme dan kerakusan diri.

Dengan demikian, zakat tidak sekadar menjangkau hubungan teologis dengan Tuhan, tetapi juga merefleksikan kehidupan sosial. Parameternya adalah, orang yang memiliki kesadaran hidup yang transendental (dekat dengan Tuhan) seharusnya merefleksi ke dalam kesadaran horizontal, seperti peduli terhadap masyarakat sekitar. Memang zakat dalam Islam dimaksudkan sebagai ajaran sosial, selain sebagai ibadah ritual yang ditujukan untuk menyucikan jiwa atas harta yang diperolehnya. Yang jelas, efek sosial dari ajaran zakat amat mengena pada kepedulian terhadap masyarakat yang tidak mampu.

Saat ini, bukan persoalan zakat dikelola negara atau tidak, tetapi bagaimana zakat itu bisa bermakna transformatif; menjangkau seluruh kehidupan masyarakat fakir-miskin, bukan menjadi perebutan para pengelola. Sebab harus diingat, prioritas zakat diberikan kepada fakir-miskin bukan para pengelolanya. Inilah yang kita khawatirkan, dana zakat yang begitu besar hanya dimanfaatkan oleh mereka yang secara agama tidak berhak menerimanya.

Oleh karena itu, zakat harus bisa dijadikan sarana transformasi masyarakat menuju kehidupan yang berkeadilan dan seimbang secara ekonomi. Sebab, zakat dapat dijadikan modal untuk memperkuat civil service, yang salah satu cirinya adalah independensi. Artinya, suatu gerakan (institusi) yang tidak tergantung kepada negara/pemerintah. Maka amat relevan fungsi zakat sebagai media transformasi masyarakat, dalam mewujudkan apa yang disebut civil society. Tentu, dengan makna transformatif ini, zakat harus dikelola secara profesional untuk penguatan ekonomi masyarakat.

Di sinilah zakat tidak sekadar menjadi aspek kesucian jiwa dan harta, tetapi juga mempunyai efek terhadap pemberdayaan masyarakat.[]

Byadmin

Membuka Pandangan, Pembelajaran yang Mencerahkan

Oleh Wahyu Aji Saputra (Peserta Program Relawan Menulis Angkatan 3)

Pengalaman Mengikuti Program Relawan Menulis RBP

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia” – Seno Gumira Ajidarma.

Tiga bulan sudah Saya lalui dan menjalani masa penuh pengalaman. Dari awal Januari hingga akhir Maret. Bukannya hidup Saya datar tanpa pengalaman. Namun kali ini lebih kepada pengalaman sebagai jurnalis yang mengesankan.

Bermula dari sebuah pesan pengumuman di grup relawan Sahabat Kalsel. Pengumuman itu menghentak adrenalin saya. Ada pembukaan angkatan baru relawan menulis dari Radar Banjar Peduli (RBP). Sontak saya langsung berniat untuk mengajukan diri.

Awalnya saya sempat ragu dan berpikir ulang untuk ikut program tersebut. Beberapa malam saya habiskan untuk memikirkan konsekuensinya. Apalagi saya masih berstatus mahasiswa yang masih dipadati jadwal kuliah sana sini. Meski begitu saya tetap berpikir dampak positif yang akan Saya dapatkan bila akhirnya mengikuti program itu. Saya tentu akan mendapatkan pengalaman sebagai jurnalis dan tantangan sebagai penulis yang dikejar deadline.

Akhirnya Saya bulatkan tekad untuk mengikuti program tersebut. Singkat cerita Saya kirim CV ke email RBP. Beberapa hari Saya tunggu konfirmasi. Selama itu juga Saya merasakan ketegangan layaknya menunggu pengumuman hasil kelulusan ujian. Tetapi benar kata pepatah arab Man Jadda Wa Jadda yang artinya ‘siapa yang bersungguh sungguh, maka akan berhasil begitu kiranya’. Sebuah pesan masuk dari whatsapp pribadi yang mengatakan bahwa Saya ikut dalam program relawan menulis. Senyum kecil terpatri dibibir Saya, sedang di dalam diri senang luar biasa.

Tugas pertama Saya sebagai jurnalis adalah meliput seorang inspiratif yang hobi mendongeng untuk anak. Namanya Bunda Enik, sapaan akrab beliau. Sesuatu yang dimulai pertama kali memang tak mudah, itu juga yang Saya rasakan ketika mewawancarai beliau. Tak ada persiapan pertanyaan yang akhirnya membuat Saya terasa kaku ketika berbicara kepada beliau. Seolah mendatangi orang tua dari pasangan yang ingin dilamar, Saya gagap berbicara dan tak jarang terjadi keheningan karena tidak ada bahan. Dari situ Saya belajar untuk lebih memperhatikan kesiapan. Terutama bagian teknis seperti informasi tentang narasumber hingga apa saja pertanyaan yang penting untuk diajukan.

Satu minggu satu tugas liputan. Pada akhirnya Saya mulai terbiasa menulis berita straight news. Dan terbiasa dengan deadline yang mesti disetor tiap Jumat. Ternyata ujian kehidupan jurnalis tak sampai situ. Deadline yang sudah bersahabat dengan Saya, berubah menikam menyeramkan ketika meliput kegiatan di kantor Radar Banjarmasin. Saya diharuskan menyelesaikan beritanya hari itu juga. Pagi liputan, sore harus selesai tulisannya. Meski sudah banyak pengalaman mengerjakan tugas kuliah yang rentang waktu pengumpulannya hanya tersisa tiga jam, tetapi ini sangat berbeda. Kredibilitas Saya juga dipertaruhkan. Namun Saya sikapi dengan sabar dan Alhamdulillah tulisan itu selesai tepat waktu.

Masih teringat dibenak saya petuah Bapak Toto Fachrudin, Pemred Radar Banjarmasin yang mangatakan, “Kalau ada peristiwa langsung selesaikan beritanya, karena kita tidak tahu kapan akan ada lagi peristwa yang terjadi di depan”. Ternyata dunia jurnalis memang seperti itu, perlu kesigapan dan kesiapan untuk melaluinya.

Saya juga merasa beruntung dapat tugas liputan ke luar Kota Banjarbaru. Menyambangi wilayah pegunungan hingga perumahan di atas air. Ternyata dunia jurnalis juga menawarkan pandangan dan pemandangan baru. Membaur dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan juga menjadi sisi lain yang positif dari seorang jurnalis. Tak hanya menggali kehidupan seseorang, kadang kita juga merasakan apa yang dialaminya dengan berbincang bersamanya. Menulis tentang kemanusiaan terkadang menjadi pembelajaran bagi diri sendiri untuk menjadi manusia dengan makna sebenarnya. Ketika menulis tentang seseorang yang hebat dan inspiratif, terpikir bagaimana peran Saya untuk menyebarkannya dalam tulisan. Hingga akhirnya si pembaca berkata, “Aku ingin seperti ini juga”.

Selama tiga bulan tadi banyak pengalaman yang didapatkan. Terutama bagaimana mengembangkan tulisan yang bisa ‘dirasakan’ oleh pembaca tak hanya sekedar tulisan semata. Menulis bisa dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja, tetapi esensi dari tulisan tersebut jauh lebih penting untuk dihadirkan.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Dua Pemuda Kreatif Ikut Galang Dana Melalui Pensi Amal

Oleh : Eggy Akbar Pradana, Banjarbaru

“Mari lukis kebahagiaan duafa lewat wajahmu,” begitu bunyi kampanye kemanusiaan yang diserukan oleh Radar Banjar Peduli (RBP) dalam beberapa pekan terakhir ini. Bukan tanpa sebab, ajakan berbagi kepedulian itu ternyata didukung oleh dua pelukis muda yaitu Antung Mika August (24 tahun) dan Nur Syifa (21 tahun). Keduanya turut melakukan penggalangan dana untuk anak-anak penderita kelainan jantung melalui penjualan lukisan sejak 1 April hingga 26 April 2018 nanti.

Antung Mika August atau kerap disapa Mika itu mengaku senang dilibatkan dalam kegiatan amal. “Berbagi itu merupakan hal yang indah dan tidak terbatas pada materi, kita bisa membantu dengan skill yang kita miliki,” ucapnya.

“Saya bisanya melukis, ya Saya bantu dengan kemampuan ini,” tutur Mika yang sejak duduk dibangku TK sudah senang sekali melukis terutama melukis wajah. “Sebelumnya saya sudah sering ikut acara-acara amal namun karena banyak kesibukkan jadi agak berkurang. Kebetulan kemarin diajak sama Shaleh yang menjadi ketua pelaksana dalam pentas amal jadi bisa kembali terlibat,” imbuhnya.

Serupa, Nur Syifa atau kerap disapa Syifa mengaku diajak juga dengan teman dekatnya, Hikmah, untuk berbagi kebaikan. “Ini pengalaman pertama ikut acara amal terkait lukisan, biasanya saya sebatas ikut berpartipasi dalam penggalangan dana langsung,” kata Syifa.

Jika Mika senang melukis wajah, mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat itu senang melukis galaksi (space). “Kelas 3 SMK (2015) Saya mulai tertarik melukis galaksi. Tepatnya setelah ikut orang tua ke Pelaihari, kebetulan pulangnya malam menggunakan mobil pick up. Saya rebahan di belakang, nah saya melihat galaksi dilangit malam kala itu. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan galaksi” ungkapnya.

“Saya ingin berbagi keindahan galaksi yang telah membuat saya jatuh cinta, kepada orang-orang, terutama untuk anak-anak kelainan jantung agar lebih semangat dalam menjalani hidup dan bisa menikmati keindahan lautan galaksi,” harap Syifa penuh haru.

Mika dan Syifa adalah contoh pemuda harapan bangsa. Melalui potensinya dalam hal melukis, mereka berupaya melukiskan kebahagiaan di wajah anak-anak yang kurang beruntung. Direktur RBP Dokter Diauddin mengapresiasi kedua sosok pemuda itu. “Luar biasa. Kiprah yang hebat sekali, terlebih mereka masih sangat muda. Kerelawanan dan kepedulian adalah dua hal yang harusnya menjadi karakter dalam diri kita semua,” ucap Dokter Diauddin.

Rencananya, hasil penggalangan dana dari lukisan akan diserahkan pada Jumat (27/4) nanti dalam kegiatan Pentas Seni untuk Amal (Pensi Amal). Acara berlangsung di Panggung Bundar Mingguraya dari pukul 20.00 wita sampai selesai.

Kegiatan Pensi Amal sendiri merupakan kerjasama RBP dengan berbagai lembaga dan komunitas, yaitu Dewan Kesenian Daerah Kota Banjarbaru, Sahabat Kalsel, Sanggar Kamilau Intan, Purna Prakarya Muda Indonesia (PPMI), dan Nanang Galuh Kota Banjarbaru. Shaleh, ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa Pensi Amal kali ini merupakan yang kali kedua dilaksanakan. Sebelumnya telah dilaksanakan di bulan Januari.

“Kita perlu menumbuhkan rasa empati di kalangan pemuda karena kepedulian adalah solusi bagi permasalahan kemanusiaan,” ujar Shaleh. Selain itu, menurutnya, kegiatan Pensi Amal bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar komunitas seni, lembaga kemanusiaan, kepemudaan, dan para stake holder. “Dengan konsep pertunjukan seni, kami juga ingin mengembangkan bakat seni di kalangan generasi muda Kalimantan Selatan,” pungkasnya.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Serunya PPGD 2018, Tambah Skill dan Teman

Mitra Peduli – Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

“Asyik! Rame banar latihannya. Bisa belajar tekniknya satu-satu,” begitu tutur Irwan Nasrudin, siswa kelas 10 IPS SMA Karang Intan kepada penulis di sela kegiatan Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD) yang digelar Poltekkes Kemenkes Banjarmasin, Selasa (10/4) dan Rabu (11/4) tadi. Selain kegiatan yang seru, Irwan juga mengaku mendapatkan banyak teman baru. Hal senada juga diserukan dua rekannya, Arya dan Aldi. Ketiganya terlihat bergembira bersama puluhan peserta lainnya.

PPGD 2018 itu juga diikuti oleh siswa-siswi dari SMAN 1 Martapura, SMAN 2 Martapura, SMKN 1 Martapura, MA Hidayatullah Martapura, SMAN 1 Banjarbaru, dan SMK Borneo Lestari.

Kepala Unit Pengabmas Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan itu bertujuan untuk melahirkan relawan-relawan yang mampu menangani kondisi gawat darurat. “Ini nantinya diharapkan bisa menekan angka kematian akibat kecelakaan,” ujar lelaki yang akrab disapa Awal itu.

Hari pertama, para peserta diberikan pemahaman tentang kondisi gawat darurat. Sedangkan hari kedua mereka diajari langsung praktek bagaimana membalut luka, mengangkat korban, hingga melakukan penyelamatan pada kasus orang pingsan atau tenggelam. Bertindak sebagai narasumber yaitu Dosen Keperawatan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Nasrullah dan Staf IGD RS Idaman Banjarbaru Hadri.

Di awal pemaparan, Nasrullah menyampaikan kritik sosial tentang fenomena masyarakat yang jika terjadi kecelakaan malah mengambil foto, bukannya menolong. “Ini jadi perhatian saya. Karena banyak orang sembarang ambil foto, sembarang juga menyebarkannya. Hal ini melanggar etika,” ucap Nasrullah. “Jika terjadi kecelakaan maka manusianya dulu yang ditolong,” imbuhnya.

“Kegiatan seperti ini bagus sekali, bisa membekali siswa dengan kemampuan teknik BHD (bantuan hidup dasar) dimana di luar negeri sudah masuk kurikulum sekolah. Semoga lebih banyak lagi instansi kesehatan yang mau memberikan pengabdian seperti ini,” ucap Hadri.

PPGD 2018 untuk siswa adalah yang perdana dilaksanakan oleh Poltekkes Kemenkes Banjarmasin dan diberikan secara gratis sebagai perwujudan tridarma perguruan tinggi. Hal ini disampaikan oleh Pudir I Bidang Akademik Abdul Khair SKM MSi. “Kami sebagai lembaga pendidikan professional tentu berkewajiban memberikan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya dengan membuat pelatihan-pelatihan seperti ini,” ungkap Abdul Khair. “Semoga para peserta nanti jika ada kejadian gawat darurat bisa membantu dalam pertolongan pertama,” imbuhnya,

Abdul Khair juga mengaku senang melihat antusias peserta. “Terima kasih atas partisipasi para peserta yang selalu semangat hingga akhir kegiatan, ini kebanggaan bagi kami,” pungkasnya.

Ke depan, Abdul Khair menyampaikan bahwa PPGD akan semakin dikembangkan kepesertaannya, bahkan mungkin hingga tingkat provinsi.

Penulis/editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Tujuh Tahun Bersinergi, Kuat Karena Asas Peduli

Mitra Peduli – Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Selain Layanan Kesehatan, Pelatihan dan Desa Binaan Jadi Program Unggulan

Direktur Poltekkes Kemenkes Banjarmasin H Mahpolah MKes menyampaikan bahwa dukungan RBP (Radar Banjar Peduli) yang telah terjalin sejak lama telah memberikan kontribusi positif bagi kemajuan kampusnya. “Alhamdulillah atas kerjasama yang terjalin selama ini Poltekkes Kemenkes Banjarmasin semakin dipercaya masyarakat,” ungkap Mahpolah disela penandatanganan nota kesepakatan di ruangannya, Kamis (5/4) kemarin. “Kami sangat terbantu dalam mengoptimalkan sumber daya manusia, baik para mahasiswa maupun dosen-dosen selama ini,” imbuhnya.

Hal itu lah yang menyebabkan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin dan RBP kembali bersepakat untuk memperpanjang kerjasama program. Mahpolah mengaku bahagia atas kerjasama yang telah terjalin sejak tahun 2010 itu, terlebih adanya pengembangan program yang telah disepakati.

Direktur RBP Dokter Diauddin MKes juga mengaku senang atas kerjasama yang kembali terjalin. Menurutnya, RBP sebenarnya banyak berhutang jasa karena melalui sumber daya Poltekkes lah, RBP bisa melakukan pencapaian hingga titik sekarang. “Awal sinergi adalah atas inisiasi pendahulu saya, Almarhum Yohandromeda Syamsu, yang juga merupakan dosen di kampus ini. Alhamdulillah banyak program yang berjalan sejak itu. Jadi secara tak langsung kami berhutang jasa,” ucapnya.

“Kepercayaan masyarakat makin besar, tentu kami juga memerlukan relawan yang banyak. Ini artinya sinergi itu meringankan dan semoga makin besar manfaat yang kita tebar di masyarakat,” pungkasnya.

Soal pengembangan program, Kepala Unit Pengabmas Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd mengatakan ada dua program tambahan yang akan dikerjakan bersama yaitu pelatihan kegawatdaruratan untuk pelajar dan desa binaan. “Kematian akibat kecelakaan lebih banyak dipicu akibat penanganan awal yang salah atau tidak benar, sehingga diperlukan masyarakat relawan yang terlatih agar bisa menangani kegawatdaruratan dengan harapan dapat mengurangi angka kematian akibat kecelakaan,” ujarnya. “Tahun kemarin, kami sudah melatih beberapa komunitas tukang becak, pemadam kebakaran dan juga dari kepolisian,” ucap lelaki yang biasa disapa Awal itu kepada RBP.

Dalam kesempatan itu hadir juga Kasubag Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Sukono SSos, Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra, dan Staf Pendayagunaan RBP Devi Putri Listyasari.

Penulis/editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Temukan Tiga Masalah Pengasuhan di Tegal Arum

Dari Program Parenting Desa, Pembiasaan Positif untuk Keluarga Bahagia

Sore itu, Sabtu (31/3) awan terlihat menghitam di langit Banjarbaru. Sesekali kilat menyala. Namun, para relawan Radar Banjar Peduli (RBP) tetap meluncur menghampiri warga di Tegal Arum, Kelurahan Syamsudin Noor. Hari itu mereka bersama Himpaudi Kota Banjarbaru telah berjanji kepada warga di sana untuk melakukan evaluasi bersama tentang pembiasaan positif untuk anak.

Niat baik akan diberi jalan yang baik. Rupanya awan hitam tak mewujud hujan. Bahkan cuaca cenderung cerah. Sore itu suasana menjadi lebih ceria.

Sekitar pukul tiga, kegiatan pun dimulai. Sebanyak 18 ibu-ibu dan 19 anak berkumpul. Para ibu terlihat membawa dua lembar kertas yang sudah diisi. Pertemuan sebelumnya, mereka memang diberi tugas untuk melakukan hal-hal dalam lembar kuisioner.

Endang Puryani dari Himpaudi Kota Banjarbaru menjelaskan bahwa ada 27 kebiasaan positif yang harus ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya. “Kemarin kan sudah kita kasih lembar kuisionernya, nah sekarang kita ingin tau bagaimana pencapaian orang tua di Tegal Arum ini terhadap pola asuh positif,” terangnya.

Endang Puryani mengajak ibu-ibu yang hadir untuk mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dialami saat mengisi tugas tersebut. Diskusi terlihat santai dan menyenangkan. Beberapa diantara persoalan yang diungkapkan antara lain pembiasaan antri, penggunaan gadget, dan sikap manja yang berlebihan.

“Sebenarnya tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak yang tidak terpenuhi keperluannya,” ucap Endang Puryani menyikapi keluhan-keluhan para ibu. “Saya mengajak ibu-ibu semua untuk introspeksi. Mau anaknya antri, apakah ibu sudah membiasakan antri? Mau anak tidak tergantung gadget, apakah orang tua juga sudah memberikan contoh? Anak hanya meniru orang tuanya,” imbuhnya.

Endang Puryani juga memberikan tips-tips pengasuhan positif. Para orang tua yang hadir merasa senang dengan pembelajaran sore itu. “Alhamdulillah saya sudah berlatih mengajari si sulung komitmen dengan tugasnya menyapu rumah. Ternyata dengan tau ilmunya, prakteknya lebih gampang,” ujar salah satu ibu yang hadir.

Manajer Keuangan RBP Nurhayah yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi metode pembelajaran yang dilakukan Himpaudi Kota Banjarbaru. “Dengan begini semoga pemahaman warga terhadap pola asuh positif untuk anak jadi membaik, dan pembangunan anak berkarakter bisa tercapai,” ucapnya.

Kebahagiaan peserta Parenting Desa di Tegal Arum makin besar tatkala RBP membagikan Nuget sehat donasi dari Bank Kalsel Cabang Banjarbaru. Nuget tersebut merupakan makanan sehat karena dibuat tanpa MSG dan pengawet makanan. “Terima kasih Bank Kalsel,” ucap mereka.

Penulis/editor: Retno Sulisetiyani