Author Archive

Byadmin

Dinsos Bantu Pasien Homecare RBP

Demi tercapainya cita-cita pembangunan, pemerintah tak bisa berjalan sendiri. Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak untuk bersama-sama menangani permasalahan masyarakat. Seperti yang telah dilakukan RBP (Radar Banjar Peduli) sebagai sayap sosial Radar Banjarmasin, melalui program Homecare. Melayani pasien duafa yang tidak bisa mengakses layanan kesehatan terdekat dengan berbagai kendala. Layanan ini menjadi komplementer bagi kinerja pemerintah.

Demikian juga sebaliknya, pemerintah juga harus mendukung pihak swasta yang berkomitmen membantu masyrakat.
Keindahan sinergi itu terlihat dari aksi RBP dan Dinas Sosial Banjarbaru baru-baru ini. Dua pasien Homecare RBP yaitu Hanil (46) dan Samsuni (52) mendapatkan bantuan kursi roda dari Dinas Sosial Banjarbaru. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Sosial Banjarbaru H Masjudin Noor pada Jumat (10/2) kemarin.

“Terima kasih banyak atas bantuan ini. Alhamdulillah ulun bisa duduk sudah, jadi bisa pakai kursi roda kalau mau kemana-mana,” ujar Hanil sumringah demi melihat kursi roda di hadapannya.

“Kami juga berterima kasih atas kerja keras RBP selama ini. Apa yang telah dilakukan RBP untuk masyarakat kami sangatlah bagus. Semoga kebaikan ini dibalas oleh Allah SWT dengan balasan terbaik,” ucap Masjudin Noor. Ia juga berharap jalinan kerjasama bisa terus menerus dilakukan. Tentu hal tersebut disambut baik oleh RBP.

“Insya Allah RBP hadir memang untuk menjadi salah satu pendukung visi misi pembangunan pemerintah,” ujar Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani yang juga hadir.

Hingga saat ini RBP telah melayani 12 warga di Banjarbaru dalam program Homecare. Hanil adalah warga di Kecamatan Cempaka yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan di lokasi tambang. Sedangkan Samsuni merupakan warga di Kecamatan Liang Anggang yang menderita stroke. (en)

Byadmin

Bangun Gerakan Sosial Kemanusiaan Melalui Menulis

Banyak yang merasakan manfaat menulis itu sangat besar, baik bagi diri sendiri maupun buat lingkungan sekitar. Namun, masih sangat sedikit yang mau menulis dengan serius. Hal ini disepakati oleh para peserta kelas menulis Jurnalisme Spirit yang diselenggarakan oleh RBP (Radar Banjar Peduli), sayap sosial Radar Banjarmasin pada Kamis (26/1) kemarin.

“Menulis bagi saya merupakan terapi jiwa,” ungkap Ratu Nur Inayah, salah satu peserta yang berasal dari Kandangan.
Kesadaran ini juga dirasakan oleh Tini Elyn Herlina, seorang ibu rumah tangga yang juga berprofesi dosen. Namun, Ia merasa punya kendala besar dengan banyaknya aktivitas yang harus diselesaikan setiap harinya. “Padahal sering sekali ide-ide menulis itu muncul, entah lagi di dapur, nyetir, ataupun ngajar,” akunya.

Menanggapi hal tersebut, Pemred Radar Banjarmasin Toto Fachrudin yang bertindak sebagai fasilitator kelas memberikan salah satu tips bagaimana menangkap ide yang tiba-tiba muncul. “Anda bisa merekam dahulu ide tersebut, paling mudah ya di handphone kita. Uraikan ide tersebut secara runtun seperti menulis,” ujar pria lulusan Magister Media dan Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya itu kepada semua peserta.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani selaku Kordinator Program menyampaikan bahwa tujuan dari kelas tersebut salah satunya untuk membangun potensi kepenulisan di bidang sosial kemanusiaan. “Banyak sekali kisah inspiratif di sekitar kita, pasti ada yang bisa ditulis dan disebarluaskan agar terbangun gerakan perubahan sosial untuk kebaikan,” ujarnya.

Kelas menulis Jurnalisme Spirit itu sendiri merupakan program pelatihan menulis yang diarahkan kepada kerangka humanis sehingga tulisan itu nantinya mampu menggugah simpati dan empati pembacanya. Kelas ini dilaksanakan selama dua hari sampai hari ini (27/1) dan diikuti oleh 13 orang peserta dari Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Kandangan hingga Kotabaru. “Sebenarnya ada 17 orang yang mendaftar, tapi setelah melewati proses seleksi hanya 13 orang yang layak ikut,” ujar Retno. (en)

Byadmin

Belajar Nilai Hidup dari Sosok Renta Bersahaja

Oleh Retno Sulisetiyani (Manajer Marketing Komunikasi RBP)

Menjadi tua itu sebuah kepastian, namun menjadi dewasa merupakan sebuah pilihan. Pepatah tersebut seringkali diungkapkan untuk memotivasi seseorang dalam menjalani hidup, terlebih kepada para pemuda. Betapa tidak? Banyak kaum pemuda yang terkesan cepat menyerah dalam berjuang saat ini. Narkoba, pergaulan bebas, orientasi seks yang keliru, hingga tindak kriminal di luar batas kemanusiaan. Zaman sudah edan!. Demikian banyak orang menuding zaman, padahal kita sendirilah pelaku sejarah.

Baiklah. Izinkan kami bercerita tentang sosok-sosok renta bersahaja.

Namanya Patimah, seorang janda berusia 75 tahun yang tinggal di Kecamatan Liang Anggang Banjarbaru. Hidupnya sehari-hari dibantu oleh anaknya yang bekerja sebagai buruh. Selain itu, kadang-kadang ada rezeki dari hasil beliau mengajar ngaji anak-anak di lingkungan rumahnya. Ya! Meski sakit-sakitan, Patimah tetap memiliki semangat untuk hidup sekaligus berbagi ilmu. Sebenarnya, selain punya penyakit darah tinggi Patimah juga mengalami gangguan melihat dan mendengar. Lantas bagaimana Ia mengajar ngaji?

“Kalau anak-anak mengaji Alhamdulillah kadada halangan pang, jelas haja mendengar,” akunya kala ditanya. Begitulah Kuasa Ilahi. Bahwa dibalik kekurangan selalu ada kelebihan. Demikian juga sebaliknya. Setiap sore Patimah menerima anak-anak yang ingin belajar mengaji di rumah sederhana yang hampir puluhan tahun tak tersentuh renovasi. Kondisi fisiknya yang bahkan gemetar saat berjalan tak menyurutkan semangatnya demi sebuah harap : agar anak-anak dekat dengan Al Qur’an.

Tengok juga sepasang renta, Sabran (85) dan Siti Aisyah (80) yang tinggal tak jauh dari rumah Patimah. Kondisi rumahnya tak jauh beda dengan rumah Patimah. Dengan kisah berbeda, Sabran harus bersabar menghadapi istrinya. Di usia senja, Siti Aisyah mengalami sedikit gangguan psikis dimana Ia beranggapan dikejar-kejar oleh sosok yang tidak dikenal dan mengancam. Meski kadang lelah, Sabran tak pernah meninggalkan istrinya. Mungkin dengan menjadi teman di masa tua itulah, Sabran telah membuktikan diri menjadi pasangan yang hebat bagi istrinya.

Sosok Patimah maupun Sabran hanya segelintir dari 2,3 % jumlah lansia di Kalimantan Selatan. Bisa jadi mereka beruntung karena masih bisa menikmati tinggal di rumah (dekat dengan keluarga meskipun kekurangan), jika dibandingkan dengan kebanyakan lansia yang dititipkan di panti. Namun, perlu perjuangan sendiri saat nasib membawa mereka pada satu masa dimana mereka harus hidup di rumah sendirian. Terbatas secara fisik juga ekonomi. Namun, kenyataannya mereka bisa menemukan cara bagaimana menjalani hidup. Terlebih masih bisa berbagi untuk sesama.

Lantas bagaimana dengan kita hari ini? Berpasrah diri hingga menua atau memilih berjuang dalam kedewasaan?.

Byadmin

Inspirasi Pulang Kampung

Rutinitas pulang kampung anak-anak penerima beasiswa SMART Ekselensia Indonesia menjadi agenda yang ditunggu-tunggu tiap tahun oleh masing-masing keluarga. Betapa tidak? Mereka hanya bisa bertemu setahun sekali selama lima tahun berturut-turut. Alhasil, bunga-bunga kerinduan yang teramat sangat selalu terlihat saat penjemputan maupun pengantaran di Bandara Syamsudin Noor. Ada air mata dan juga canda.

Seperti yang terlihat Sabtu (14/1) kemarin, Noorliyana tak kuasa menahan air mata saat melepas anak sulungnya Alfian Nur kembali ke sekolahnya di Bogor. Melihat itu, Siti Muniroh, ibu dari Zikri Azmi mendekati seraya memberi memeluk Noorliyana. “Tidak apa-apa, nanti juga terbiasa. Lima tahun tak terasa kok,” hiburnya diiringi tawa.
Lain lagi yang dialami anak-anak mereka saat pulang kampung kali ini. Banyak cerita dan pengalaman yang inspiratif. Seperti yang dialami Zikri Azmi yang berasal dari Banjarbaru. Zikri tahun ini berkesempatan menjelajah salah satu situs sejarah di Kalsel yaitu Candi Agung. “Saya melihat peninggalan masa lalu seperti tembikar hingga lukisan dan sumur Putri Junjung Buih. Senang banget bisa belajar sejarah,” tuturnya. Lain lagi dengan Syahdianoor yang berasal dari Kandangan. Ia menjelajah ke kawasan hutan dan belajar tentang akar tanaman yang bisa dijadikan asesoris. “Asik sekali bisa belajar membuat gelang dan cincin,” ungkapnya.

Pengalaman berbeda dialami Misriannur yang berasal dari Cempaka. Mendapat nasehat dari wali kelasnya saat SD dulu menjadi inspirasi tersendiri baginya. “Saya diingatkan untuk tidak boros dan senantiasa ingat jerih payah orang tua,” ujarnya terharu.

Menjadi keluarga besar SMART Ekselensia Indonesia ternyata menyatukan hati para keluarga tersebut. Berangkat dari mimpi yang sama bahwa meskipun mereka tidak mampu namun harus optimis meraih cita-cita terbaik, kini mereka telah menjadi saudara. Saling meringankan, saling menguatkan.

RBP yang telah melihat bagaimana anak-anak itu berkembang berharap mereka bisa menjadi generasi pembaharu banua. Menjadi pemimpin harapan bangsa. (en)

Byadmin

RBP Terima Customer Award 2016

Menjaga hubungan kemitraan yang saling mendukung menjadi suatu keharusan bagi Hotel Roditha Banjarbaru. Komitmen tersebut telah terbukti selama empat tahun berturut-turut melalui ajang Customer Award yang menjadi bagian perayaan HUT mereka setiap tahun.

Seperti pada Jum’at (13/1) malam kemarin, Hotel Roditha Banjarbaru kembali menggelar Customer Award dalam rangka HUT ke-4 tahun. Berbagai penghargaan diberikan kepada para pelanggan. “Terima kasih kepada semua pihak yang telah percaya kepada kami. Penghargaan ini sebagai wujud rasa syukur manajemen hotel meskipun dalam keadaan ekonomi global yang buruk masih banyak kemitraan yang terjalin,” ujar Owner sekaligus Komisaris dan Direksi dokter Hj Rosally Gunawan di hadapan seluruh undangan malam itu.

RBP bersama Radar Banjarmasin menjadi penerima penghargaan dalam kategori paling tinggi, yaitu Best Support. “Semoga ini menjadi dorongan positif untuk terus saling berkarya dengan inovasi-inovasi terbaik,” ujar Manajer Marketing Komunikasi Retno Sulisetiyani.

Hotel Roditha Banjarbaru telah menjadi mitra peduli RBP dalam program beasiswa pendidikan yaitu Bunda (Tabungan Duafa). Melalui program infak di bulan Ramadan tahun 2016 lalu, Hotel Roditha Banjarbaru telah turut serta menjaga anak-anak duafa untuk bisa terus sekolah. (en)

Byadmin

Merajut Kepedulian dalam Kebersamaan

Catatan Perjalanan RBP Bersama Radar Banjarmasin
Oleh : dr. Diaudin (Direktur Radar Banjar Peduli)

Tahun 2016 menjadi tahun lompatan besar bagi Radar Banjar Peduli (RBP). Tak dipungkiri, Radar Banjarmasin (RB) sebagai perusahaan yang selama ini menaungi RBP juga menjadi salah satu barometer untuk semakin berbenah. Ibarat adik dalam sebuah keluarga, kami selalu tidak ingin terlihat jomplang dari kakaknya. Banyak program inovatif yang lahir dari kebersamaan yang semakin erat bersama RB.

RB semakin menguatkan dirinya sebagai Koran lokal yang terdepan. RBP pun tak ingin kalah langkah mencoba bergandengan dengan RB membuat inovasi program sosial, salah satunya Food for Charity. Sebuah program penggalangan dana sosial melalui kerjasama dengan berbagai restoran hotel di Banjarmasin dan Banjarbaru. Dukungan yang besar dari RB membawa hasil yang luar biasa. Rantai kebaikan yang terjalin ibarat efek domino tak berkesudahan. Langkah RBP sebagai lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan semakin besar.
Hingga akhirnya aksi sosial tersebut berhasil menggalang dana mencapai Rp 18juta selama sekitar dua bulan saja. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui program pendidikan untuk anak-anak duafa. Sampai sekarang pun Food for Charity telah menjadi warna khas dalam aksi-aksi sosial yang RBP lakukan.

Seperti yang dikatakan salah satu pendiri RBP, Ersis Warmansyah Abas tahun 2016 lalu dalam catatan memoar 12 tahun RBP, RB merupakan garansi bagi keberadaan RBP. Apapun analisisnya, tanpa RB, RBP itu tidak ada apa-apanya. Keduanya telah hadir di Banua sebagai satu kesatuan meski dengan wajah yang berbeda. RB telah mendedikasikan diri sebagai media yang menghadirkan konten-konten berita terbaik. Sedangkan RBP bergerak melalui aksi-aksi sosial demi mengangkat harkat kaum duafa.

Sejarah telah mencatat ketika di usia belasan tahun Hamka, Mohammad Natsir dan Bung Karno telah menjadi pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa, maka harapan besar juga tersemat untuk 16 tahun kehadiran RB di Kalimantan Selatan. Secara tak langsung pun menjadi harapan tersendiri bagi RBP yang 3 tahun lebih muda.
Selamat hari jadi ke-16 Radar Banjarmasin. Semoga semakin melaju menjadi lokomotif peradaban Banua.

Byadmin

Sukses Bukan Sekedar Takdir

Pencapaian kesuksesan seseorang seringkali harus melalui banyak upaya dan tak jarang berkali-kali kegagalan. Jangan hanya mengandalkan jalan hidup tanpa usaha. Begitulah pesan yang disampaikan oleh Tini Elyn Herlina, seorang dosen di Jurusan Analis Poltekkes Kemenkes Banjarmasin saat mengisi kegiatan sharing motivasi di Gedung Biru Radar Banjarmasin, Senin (16/1) yang lalu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh RBP (Radar Banjar Peduli) itu diperuntukan kepada anak-anak penerima beasiswa Bunda (Tabungan Duafa). Sebanyak 12 anak bersama orang tua dan wali hadir dalam kegiatan tersebut.

“Kalau mau sukses harus siap melewati rintangan, tidak mudah menyerah, dan berani menuliskan mimpi,” ucap Ibu dari 4 anak yang biasa disapa Elyn itu. Elyn lalu mengajak anak-anak yang hadir untuk menuliskan cita-cita di selembar kertas dan bersama-sama berikrar untuk sekuat tenaga dan pantang menyerah untuk meraihnya. Suasana terasa lebih bersemangat. Ada yang mau menjadi dokter, guru, dosen, tentara, hingga desainer.

Selain itu, Elyn juga mengingatkan tentang rasa syukur dari rezeki yang telah diberikan. “Allah swt telah menitipkan rezeki melalui program Bunda ini, jangan lupa bersyukur,” ucapnya.

Salasiah, Nenek dari Rahmat Faisal salah seorang penerima beasiswa mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Alhamdulillah uangnya sebagian bisa untuk modal usaha, jadi sekarang saya berjualan bensin dan makanan ringan. Insyaallah ada tabungan untuk Faisal,” ungkap Salasiah kepada RBP.

Setelah sharing motivasi selesai, dilaksanakan pembagian beasiswa tahap ke-2. “Tahap pertama sudah kami serahkan pada tahun 2016 lalu, sehingga untuk beasiswa tahun ini sudah tersalurkan semua,” ujar Coorporate Secretary RBP Nurhayah yang juga hadir dalam acara tersebut. Nurhayah mengajak masyarakat Kalsel untuk mau menyisihkan hartanya demi keberlangsungan pendidikan anak-anak duafa. “Semoga program ini bisa berlanjut pada tahun berikutnya,” harapnya.(en)

Byadmin

Outbond Bersama Keluarga Siswa SMART Ekselensia Indonesia

Pagi itu suasana di Danau Seran, salah satu objek wisata di Banjarbaru, tampak tak biasa. Riuh rendah tawa terdengar di pulau yang menjadi daya pikat danau tersebut. Betapa tidak? Puluhan anak dan orang tua terlihat sedang bermain berbagai permainan outbond. Ya, Kamis (12/1) kemarin RBP melaksanakan agenda rutin pertemuan atau silaturahmi antara RBP dengan keluarga siswa SMART Ekselensia Indonesia asal Kalsel yang sedang pulang kampung. Selain itu dua orang alumni, Farid dan Ade ada. Pengurus RBP yang hadir yaitu Wakil Ketua Saleh dan Bendahara Nurhayah.

“Tahun ini kegiatan dikemas berbeda dari tahun sebelumnya, jika biasanya di dalam ruangan kini di luar ruangan agar keakraban lebih terbangun,” ujar Nurhayah saat memberi sambutan. Nurhayah berharap jalinan kekeluargaan penerima beasiswa SMART EI bisa semakin erat. “Kita ini keluarga besar, jadi harus saling membantu satu sama lain. Yang senior bisa membimbing adik-adik juniornya,” tuturnya.

Nahdimah Laili selaku perwakilan orang tua mengucapkan terima kasih kepada RBP atas semua bantuan. “Kami bersyukur anak-anak kami bisa bersekolah gratis di Bogor. Semoga bisa menjadi generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa,” ucapnya.

Kegiatan outbond tersebut difasilitasi oleh Quantum Ispirasi yaitu lembaga training yang dimotori oleh Muhyidin, Ahmad Zaki, dan Trias Handojo. Berbagai permainan ringan yang mengasah otak dan keterampilan disajikan pada hari itu. “Anak-anak ini terlihat sekali berkarakter pemimpin, mampu memecahkan beberapa tantangan yang kami berikan,” kata Muhyidin.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah tingkat SMP-SMA bebas biaya, berakselerasi dan berasrama pertama di Indonesia. Sekolah ini di bawah Dompet Dhuafa Pendidikan yang bertujuan menjadi sekolah model untuk dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. “Dari Kalsel sudah ada 13 anak yang sekolah di sana dan 6 orang telah melanjutkan studi kuliah di berbagai Universitas Negeri,” ungkap Nurhayah. (en)

Byadmin

Peduli Tetangga, Peduli Sesama

Saat ini anak-anak dan dunia gadget seperti tak terpisahkan. Masih banyak orang tua tidak bijak dalam memberikan gadget kepada anak-anak sehingga generasi yang terlahir akhirnya tak terbiasa bergaul dengan orang lain. Individualis.

SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Rabbani melihat perlu adanya upaya konkrit untuk mengimbangi perkembangan zaman. Untuk itu dibuatlah sebuah program edukatif bertajuk “Peduli Tetangga”. Program ini bertujuan membangun kepedulian di kalangan anak didik dengan cara mengajak anak-anak menyisihkan uang jajan mereka. Donasi yang terkumpul kemudian dibelikan sembako. Lalu, anak-anak diajak langsung mengantarkan bantuan tersebut ke rumah duafa.

RBP sebagai lembaga sosial kemanusiaan sangat mengapresiasi program tersebut dan berterima kasih karena dipercaya menjadi salah satu mitra program. “Senang sekali ada sekolah yang punya program edukasi keratif begini, anak-anak langsung bisa merasakan kesulitan orang lain,” ujar Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani.

Jum’at (6/1) kemarin Retno turut mendampingi perwakilan anak-anak kelas 3A SDIT Rabbani mengunjungi rumah salah satu pemetik manfaat RBP yaitu Rahmat Faisal (15) yang tinggal bersama Salasiah (neneknya) di Kelurahan Guntung Manggis. Salasiah terlihat antusias dengan kedatangan 9 anak dan guru pendampingnya, Fadli Hasani. “Ayo silahkan masuk, maaf rumahnya sempit,” ucapnya menyambut rombongan. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Terima kasih kami diperbolehkan berkunjung, ini anak-anak ingin bersilaturahmi dan sedikit berbagi untuk ibu dan Rahmat,” ucap Fadli Hasani seraya menyerahkan bingkisan sembako.

Salasiah yang sehari-hari berjualan bensin di Jalan Trikora tak bisa menahan haru. Meski tak banyak kata terucap, bulir air yang tertahan di sudut matanya cukup mengungkapkan betapa bersyukurnya Ia mendapatkan rezeki hari itu.

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan Sabran, kakek berusia 87 tahun yang tinggal di Landasan Ulin Selatan, Banjarbaru. Sehari sebelumnya, sebanyak 11 anak kelas 3A juga berkunjung ke rumah rumahnya. Sabran bersama istrinya adalah pasien homecare RBP sejak bulan Nopember 2016 lalu. “Saya terharu ada anak-anak kecil yang peduli dengan kami,” ucapnya kala itu.

Selain anak-anak dan guru pendamping, dalam kegiatan itu juga turut serta perwakilan wali murid, salah satunya Muhyidin. Ia mengaku sangat terbantu dengan bantuan RBP. “Alhamdulillah ada RBP yang membantu kami menyampaikan amanah tepat sasaran,” ujarnya.

Sekecil apapun, kebaikan memang harus ditularkan. Semoga makin banyak anak-anak yang mau peduli dengan menyisihkan uang jajannya meskipun sedikit karena sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. (en)

Byadmin

RBP Salurkan Pinjaman Bergulir PKL

Selasa (3/1) kemarin RBP menyalurkan pinjaman bergulir kepada 10 PKL (Pedagang Kaki Lima) di Banjarbaru. Kesepuluh PKL tersebut menjadi penerima manfaat RBP setelah melalui proses seleksi. “Ada sebanyak 25 orang yang kami seleksi, kemudian setelah survei dan verifikasi terpilih 10 orang yang diprioritaskan tahun ini jadi penerima manfaat program pinjaman bergulir RBP,” terang Manajer Keuangan RBP Nurhayah.

Para penerima manfaat itu adalah Bahri, Muklis, Wijianto, Alex, Sarimah Hidayati, Samsul M, Subiyanto, Partini, Idrus, dan Bahran. Mereka adalah PKL yang biasa berjualan di Lapangan Murjani Banjarbaru. “PKL menjadi sasaran kami karena golongan pedagang kecil sangat sulit mengakses modal baik dari pemerintah maupun perusahaan,” terang Nurhayah.

Peluang permodalan di Indonesia sebenarnya cukup besar, namun masih sulit dijangkau oleh pedagang kecil yang tidak memiliki jaminan apapun. “Rumah saja masih ngontrak, sepeda motor juga banyak yang kredit. Lalu apa yang bisa dijaminkan, salah-salah banyak yang terjebak rentenir. Ini kan nambah masalah namanya,” ungkapnya lagi.

Dalam kesempatan itu, hadir pula founder BMT Ahsanul Amala Sayid Ali Al Habsy memberikan nasehat bagi para penerima manfaat. “Semua harus bersyukur karena masih ada yang peduli. Dengan tambahan modal ini harus lebih semangat, bangun kreatifitas agar bisa bersaing dengan kafe-kafe yang mulai marak,”pesan Sayid Ali Al Habsy di hadapan para penerima manfaat.

Menurut Sayid Ali Al Habsy, dalam situasi ekonomi seperti ini pelaku usaha harus mengurangi pengeluaran yang sifatnya konsumtif. “Kredit barang yang tidak penting bisa dihentikan saja, jual sebagai asset lalu buka peluang usaha baru, bisa berupa jasa,” ujarnya memberi tips.

Ke depan sepuluh penerima manfaat tersebut akan didampingi dalam pengelolaan keuangan bersama Sayid Ali Al Habsy. “Semoga ini menjadi pintu untuk kerjasama yang lebih baik ke depan,” harap Sayid Ali dan diaminkan para pengelola RBP yang hadir. (en)