Author Archive

Byadmin

Ukir Senyum Duafa, Kala Takbir Berkumandang

Penulis : Devi Putri Listyasari

“Nah cu aku tarimakasih bagian kam hakun mendatangi aku, mambawa akan daging kurban ha pulang. Barelaan kita mudahan kawa tatamu pulang tahun kaina, lancar barajaki nang bakurban”, ungkap Patimah seraya berlinangan air mata penuh rasa syukur.

Takbir masih berkumandang. Kamis lalu (23/8) kami kembali menyampaikan amanah dari para donatur untuk memperingati hari raya Idul Adha 1439 hijriah. Kurban bahagiakan banua adalah salah satu program khusus dari kami untuk mampu kembali berbagi. Pendistribusian daging kurban kali ini kami sampaikan di berbagai titik wilayah penerima manfaat Yayasan Radar Banjar Peduli. Mengukir senyuman ke dua puluh empat kepala keluarga dari wilayah Gambut, Liang Anggang, Guntung Manggis, Keliling Benteng, Cindai Alus, serta Cempaka. Berbagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih serta do’a kami terima. Bagaimana tidak, tak henti-hentinya kepedulian serta perhatian tertuju kepada mereka.

“Kami akan terus bergerak memberikan yang terbaik untuk mereka, demi masa yang akan datang”, ungkap Azizah (manajer administrasi RBP) selaku penanggungjawab program “Kurban Bahagiakan Banua” tahun ini. Ribuan bahkan jutaan harapan terlahir dari berbagai kebaikan. Memberi berarti peduli dan mau berbagi. “Semoga tahun depan kami bisa lebih maksimal lagi untuk membahagiakan banua, ke titik wilayah yang lebih luas”, tutur Devi selaku manajer program RBP. Tahun ini RBP akan menggerakkan program “Celengan Kurban” untuk para donatur yang ingin ikut berkurban. Satu kebaikan akan melahirkan jutaan kebaikan lainnya.

Byadmin

Jagoan Matematika, Menangkan LCC Museum Tingkat Nasional

Penulis : Nurhayah

Muhammad Alfianur, SMP Negeri 1 Banjarbaru, salah satu anak asuh Radar Banjar Peduli

“Alhamdulillah, rasa syukur yang tidak terkira saya panjatkan kepada Allah SWT. Bagaimana tidak, harapan kami dapat mewakili Propinsi Kalimantan Selatan terwujud”, ungkap remaja 14 tahun tersebut.

Tepatnya pada Senin (03/09) lalu, Alfi beserta dua teman perempuannya Safira dan Ara lolos ke tingkat nasional untuk mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) seputar Museum Nasional Indonesia. Ibu Ningsih selaku pendamping dari SMP Negeri 1 Banjarbaru mengaku bangga dengan prestasi yang mampu di peroleh anak didiknya tersebut. “Untuk bisa lolos ke tingkat nasional bagi saya tidaklah mudah, karena mata pelajaran yang diujikan adalah sejarah, jauh melenceng dari fokus ilmu yang saya kuasai yaitu matematika. Sehingga kesempatan ini benar-benar menjadi tantangan tersendiri bagi saya”, tutur Alfi siswa berprestasi yang jago matematika itu.

Selama tiga bulan ia mempersiapkan diri untuk menghadapi LCC di Jakarta. Mulai dari pembagian materi yang dilombakan hingga menghafal istilah-istilah asing. Materi yang menjadi fokus lomba meliputi sejarah, kebudayaan dan permuseuman. Alfi mendapat jatah untuk menguasai materi kebudayaan dan permuseuman. Yang paling sulit ketika harus menghafal istilah asing yang baru ia dengar dan ketahui serta membaca sesuai kaidah bahasa daerah. Walaupun demikian, Alfi tetap berusaha untuk mampu menguasai seluruh materi. Karena ia tidak sendiri, dua rekannya pun berjuang matian-matian untuk dapat memberikan hasil terbaik. Satu yang menjadi tujuan mereka yaitu mengharumkan nama sekolah serta tak luput dari menjadikan orang tua bangga.

Kalsel mendapat posisi di grup G bertanding dengan tim kontingen Sulawesi Tenggara dan Kepulauan Riau. Perasaan gugup mulai mereka rasakan pada saat itu. Usai makan malam serta ramah tamah dengan kontingen lain, kami kembali belajar hingga pukul 11 malam dan bangun di sepertiga malam untuk melakukan salat Tahajud. Mereka yakin, bekal tidak cukup hanya dengan belajar tapi juga beribadah mendekatkan diri kepada Dzat yang memegang takdir.

Perasaan campur aduk mendadak menghampiri ketika tiba waktunya tim kontingen Kalsel untuk bertanding, mereka menyempatkan diri untuk meminta doa restu kepada seluruh pihak Museum. Alhamdulillah, pada babak pertama Kalsel berhasil unggul dengan perolehan skor 2.350. Pertandingan kembali dilanjutkan pada sore hari, mereka beradu lagi dengan tim kontingen DI Yogyakarta dan Kalimantan Barat. Sekali lagi puji syukur tak henti-hentinya mereka ucapkan, Kalsel kembali berhasil unggul dengan perolehan nilai 1.400. Empat ratus lebih unggul dari DI Yogyakarta yang membuat kami berhasil melaju ke babak final.

Pada hari penentuan, seluruh peserta menggunakan baju adat daerah masing-masing. Di babak final Kalsel berhadapan dengan sang juara tahun lalu, yaitu tim kontigen Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Pertandingan ini merupakan penentuan terakhir, hingga akhirnya Kalsel menang sebagai juara 2. Takdir yang terbaik telah Allah tentukan, Kalsel berhasil mencetak sejarah dari salah satu anak asuh Radar Banjar Peduli.

Muhammad Alfianur seorang anak remaja yang ceria, tumbuh tanpa sosok kuat seorang ayah. Ayahnya telah lama berpulang sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Memiliki semangat belajar yang cukup tinggi, terutama pada mata pelajaran matematika. “Biasanya yang ulun pelajari tu bukunya anak SMA, sampai kawan-kawan sekelas bingung kenapa Alfi membacai buku itu”, ungkapnya. Ya, ia baru duduk di bangku SMP, namun kemampuan belajarnya terlampau jauh.

Pada hari terakhir, seluruh peserta dari berbagai pulau pergi ke Monas. Tiba pada detik-detik mereka harus berpisah, pulang ke daerah masing-masing. Rasa haru dan sedih bercampur aduk menyelimuti hati para peserta, meski baru beberapa hari bersama namun kedekatan mereka seakan sudah erat, linang air mata mengantarkan perpisahan di antara mereka. Setibanya di bandara masih terngiang-ngiang kenangan bersama kawan-kawan hebat dari seluruh Indonesia. Semoga kelak di lain kesempatan kami bisa kembali bertemu, Amin.

Editor : Achmad Ridho Indra/ Devi Putri Listyasari

Byadmin

Bangun Nasionalisme Anak-anak, Gelar Berbagai Lomba Sambut Hari Kemerdekaan

Penulis : Elma Apriliani

Meski cuaca agak panas, namun anak-anak Sekolah Alam Kampung Purun terlihat sangat antusias mengikuti berbagai lomba yang digelar oleh Sahabat Peduli Nusantara (SPN) bekerjasama dengan Radar Banjar Peduli (RBP) dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI yang ke 73 di Kampung Purun Palam, Banjarbaru, Minggu (2/9) yang lalu. Mereka saling berkompetisi untuk menjadi pemenang dalam setiap lomba yang diikutinya.

Ketua Pelaksana, Resyta Dewi Amina mengatakan, kegiatan Charity Day dengan menyelenggarakan berbagai perlombaan ini adalah rangkaian acara untuk saling mendekatkan anak-anak satu sama lain dan menumbuhkan jiwa nasionalisme di dalam diri anak-anak kampung purun sejak dini. “Charity Day 17-an ini memang baru pertama kali diadakan di Sekolah Alam Kampung Purun.  Tujuannya untuk menyemarakkan peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke 73, sekaligus mendidik dan membangun rasa nasionalisme dalam diri terutama pada anak-anak sebagai generasi masa depan,” ungkapnya.

Results mengaku bahwa menjadi relawan peduli anak adalah pengalaman yang penuh suka suka. “Kita harus bisa menjadi teman mereka namun juga harus tegas dalam berkomunikasi dengan anak-anak yang memiliki beragam sifat agar mereka terdidik tidak manja dan lebih mandiri,” imbuhnya.

Untuk mempersiapkan kegiatan ini, para relawan telah bekerja keras hingga ralut malam. Dalam pelaksanaannya, SPN bekerjasama dengan relawan-relawan dari Sahabat Kalsel (SAKA), Masyarakat Relawan Indonesia (MRI)-ACT, dan Asosiasi Pemuda Indonesia (API).

Adapun jenis lomba yang dimainkan yaitu lomba membawa kelereng, balap karung, makan kerupuk, memasukkan air, mencari koin, dongeng, fashion show, egrang, menyanyi, memasukkan bola, mewarnai, membaca puisi dan joget balon. Suana lomba sangat seru, karena setiap peserta menunjukkan kemampuannya untuk menjadi juara.

Salah satu peserta, Erni mengungkapkan dirinya sangat senang mengikuti lomba mewarnai dan berharap menjadi juara. Ia bahkan sudah pernah memenangkan perlombaan di sekolahnya ataupun yang diadakan di kampung purun sebelumnya. “Alhamdulillah Saya dapat juara satu lomba balap karung dan lomba bawa kelereng dengan sendok. Mudah-mudahan tahun depan diadakan lomba lagi, dan hadiahnya juga makin banyak,” harap Tiara, salah satu peserta lainnya.

“Keseluruhan lomba mengajarkan anak-anak mengenai perjuangan dan juga bersikap sportif. Selain itu, mereka juga menjadi semakin akrab satu sama lain serta terus menanamkan nilai nasionalisme dan perjuangan dalam menjalani keseharian. Diharapkan kegiatan yang melibatkan berbagai komunitas relawan ini dapat menjadi momen kebersamaan dan silaturahmi bagi para relawan,” ucap Direktur RBP dr. Diauddin.

Editor : Azizah/ Achmad Ridho Indra

Byadmin

Pekerja Sosial

Oleh : Yohandromeda Syamsu

Adakah diantara anak-anak Anda yang bercita-cita menjadi pekerja sosial? Pernahkah mereka berteriak lantang, “Pekerja sosial” untuk menjawab pertanyaan guru di kelas tentang profesinya setelah dewasa nanti? atau adakah orangtua yang memersiapkan satu saja -diantara sekian anaknya- untuk menjadi pekerja sosial?

Pertanyaan lain, benarkah pekerja sosial (social workers) tidak pernah menjadi cita-cita yang dituliskan remaja-remaja yang menjelang dewasa dalam kertas mimpi mereka sepuluh tahun yang akan datang? Atau memang para orang tua tak memperkenankan dan mengarahkan anak-anaknya menjadi pekerja sosial, lantaran satu pandangan bahwa kegiatan sosial masih bisa dikerjakan sambil waktu, di paruh waktu dan sisa waktu. Misalnya hanya pada saat akhir pekan saja, atau disaat memasuki usia pensiun (produktif).

Pertanyaan lain yang juga harus dijawab. Apakah masalah sosial hanya bisa ditangani oleh pejabat negara bersangkutan? Bukankah peran masyarakat begitu besar untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial, seperti kemiskinan, bencana alam, konflik sosial, dan berbagai bentuk patologi sosial yang terus menerus muncul dengan ragam dan bentuk terbarunya. Tak menjadi pentingkah keberadaan lembaga-lembaga sosial lengkap dengan para pekerja sosialnya? Dan, bukankah masalah kemiskinan, bencana alam, konflik dan lain sebagainya itu tak hanya datang di akhir pekan atau hari libur saja?

Bencana alam, kemiskinan dengan berbagai derivasinya, atau konflik bisa hadir kapan saja. Kadang menimpa orang-orang yang jauh dan sangat tidak kita kenal. Meski suatu saat dan sangat mungkin mendatangi orang-orang terdekat, sanak famili, kerabat, sahabat, bahkan diri kita sendiri. Dan yang pasti, butuh penanganan cepat, serius, tidak setengah-setengah, profesional, serta tidak menunggu akhir pekan. Mengingat begitu banyaknya masalah-masalah sosial yang terus terjadi, dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan lembaga sosial. Pemerintah sebagai penentu kebijakan, masyarakat sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar yang turut memberikan sumbangsihnya, dan lembaga sosial sebagai eksekutor di lapangan yang mendapat mandat dan kepercayaan penuh, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas. Idealnya seperti ini.

Lembaga kemanusiaan asal Cuba, Brigada Medicana Cubana, misalnya, bisa menjadi contoh ideal sinergi yang cantik antara pemerintah, masyarakat dan lembaga tersebut. Tanggal 5 September 2006, lembaga kemanusiaan tersebut meninggalkan Jogjakarta dan Klaten untuk kembali ke negaranya setelah sekitar 3 bulan mendedikasikan waktu, pikiran, tenaga, harta dan keterampilannya membantu para korban gempa Jogja dan Jawa Tengah. Lembaga tersebut membawa serta tim kemanusiaannya yang berjumlah sekitar 95 orang dan mendirikan 2 rumah sakit lapangan di Klaten. Sesungguhnya, apa yang dilakukan lembaga tersebut tak jauh berbeda dengan lembaga kemanusiaan lain dari negeri sendiri. Yang membedakan adalah, bahwa hampir setiap hari mereka mendapat telepon langsung dari Fidel Castro, pimpinan negara tersebut. “Bekerjalah sebaik-baiknya, kalian semua adalah kebanggaan kami karena datang mewakili negara,” begitu kira-kira yang dipesankan Castro.

Sungguh, iri rasanya mendengar kisah mereka tentang perhatian dan dukungan penuh yang didapat dari pemerintah dan masyarakatnya. Kerinduan yang teramat sangat untuk kebanyakan lembaga sosial non pemerintah, untuk mendapatkan sekadar “Apa kabar para relawan?” dari pimpinan atau pejabat negara ini.

Terlepas dari adanya oknum dan lembaga yang kurang dipercaya lantaran kasus tertentu yang kemudian menciptakan “negative image” bagi lembaga sosial/kemanusiaan secara keseluruhan, sesungguhnya kerja-kerja lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan akan lebih solid, profesional, cepat dan bertanggungjawab jika kepercayaan dan dukungan terus diberikan. Memang, butuh waktu dan perjuangan melelahkan untuk menghadirkan dukungan dan kepercayaan tersebut. Karena untuk mendapatkan satu orang yang percaya saja begitu sulitnya, terlebih sebuah komunitas masyarakat.

Tentu saja, masyarakat berhak untuk menentukan percaya kepada siapa dan lembaga apa. Masyarakat juga berhak untuk mengkritik, mempertanyakan, dan meminta pertanggungjawaban dari lembaga yang dipercayanya. Jelas, karena mereka telah mencoba menitipkan amanah donasinya untuk disampaikan langsung kepada para penerima manfaat. Namun, selain tuntutan dan kritikan tersebut, dukungan yang lebih dan peningkatan kepercayaan adalah hal lain yang juga diharapkan. []

Byadmin

Ibrahim as

Oleh : Yohandromeda Syamsu

Ibrahim as. Menemukan tauhid dengan perjalanan yang cukup panjang. Ibrahim lahir dari kalangan keluarga kufar. Ayahnya, Azar, adalah tokoh kufar, pembuat berhala. Namun fitrah Ibrahim menolak keyakinan bapaknya, menyembah sesuatu yang dibikinnya sendiri. Keyakinan yang begitu kontras membuat Ibrahim lugas dan tegas. Keyakinan yang menjadikan lingkungan sekitar sentimen membuat Ibrahim kaya argumen. Pengamatannya terhadap semua unsur yang menakjubkan di alam semesta ini membawa kesimpulan, bahwa hanya ada satu di alam raya ini yang patut dan berhak disembah. Dan itu bukan sesuatu yang selama ini diabdi kaumnya. Sampai akhirnya Allah SWT membimbingnya kepada tauhid murni.

Ujian terberat Ibrahim tatkala ia diperintah untuk menyembelih Isma’il, putranya yang selama seabad dirindukan kelahirannya. “Wahai brahim…Taruhlah pisau ke leher putramu, dan dengan tanganmu sendiri sembelihlah dia”, bunyi perintah Allah.

Bagi orang tua, anak adalah segala-galanya, dan tidak bisa dinilai dengan apapun. Lebih-lebih jika ia anak tunggal seperti Isma’il. Tak bisa dibayangkan betapa goncangnya jiwa Ibrahim kala menerima perintah itu. Betapa tidak, Ibrahim sebagai Nabiyullah yang terkenal ketundukan dan kepasrahannya itu di tuntut untuk memilih. Antara cinta Allah atau cinta anak. Menjadi seorang ayah ataukah Nabi Allah. Mementingkan syari’at kebenaran ataukah bisikan hawa nafsu. Allah… ataukah Isma’il?

Seandainya yang diperintahkan Allah adalah untuk mengorbankan dirinya sendiri, tentu tidak ada masalah dan tidak sulit untuk menentukan pilihan, karena Ibrahim telah mempertaruhkan jiwa raganya demi Allah. Tetapi bukan itu yang diminta Allah, Allah hanya meminta Isma’il putra yang amat dicintai Ibrahim. Pergulatan yang muncul kian kuat tatkala Allah mempertegas perintah itu hingga tiga kali.

Akhirnya Ibrahim mengambil sikap tegas. Perintah Allah itu dilaksanakan dengan ikhlas dan tawakal. Dan Ibrahim lulus dalam ujian berat ini. Sebuah ketulusan dan ketundukan yang luar biasa, refleksi ketinggian iman.

Kisah Ibrahim patut diteladani, paling tidak menjadi bahan renungan ulang pada setiap Idul Adha, untuk menimbang sejauh mana ketundukan dan kepasrahan kita kepada Allah?

Dari cerita itu terlihat bahwa sebuah keyakinan menjadikan manusia mau untuk “berqurban” walaupun pengorbanan tersebut harus memakan korban seorang manusia. Dan sekarang kita sudah mendekati sebuah bulan yang di dalamnya di sunnahkan bagi kita untuk melakukan “Qurban”. Syariah Qurban di dalam agama Islam merupakan suatu hal yang syarat dengan nilai-nilai karena ibadah ini menunjukan kebaikan pada pribadi yang melaksanakannya, di antaranya: Pertama, Bukti Keimanan. Keimanan bukanlah suatu khayalan dan angan-angan, namun iman adalah sebuah realita yang harus membumi dalam tataran prilaku. karena keimanan terdiri dari tiga unsur, keyakinan dalam hati, di ucapkan dengan lisan, dan di realisasikan dengan amal perbuatan. Tanpa ketiga dimensi ini iman tidak akan pernah sempurna.

Kedua, Bukti Penyerahan diri kepada Alloh Swt. Hal ini terbukti ketika Allah Swt mensyariatkan Qurban pertama kali kepada Nabi Ibrahim as, sebagaimana Allah Swt beritakan dalam Qur’an Surah Ash-Shoffat ayat 103, “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis” Apa yang tersisa setelah itu?…mereka telah pasrah, dengan melaksanakan perintah robb mereka, Ismail telah tertelungkup di atas tanah, sedang ayahnya Nabi Ibrahim as. sudah siap dengan genggaman pisaunya tanpa ada keraguan sama sekali di dalam hatinya…tidak ada yang tersisa kecuali penyembelihan…! Apakah penyembelihan tersebut yang Allah inginkan ?…tidak ! sama sekali tidak! yang Allah SWT inginkan adalah kepasrahan yang haqiqi dari mereka kepada khaliknya.

Ketiga, Bukti Kepedulian kepada sesama. Kedermawanan merupakan salah satu sifat yang menonjol pada pribadi Nabi Ibrahim as, hal itu sebagaimana tertulis di sejarah bahwa ia tiap kali hendak makan selalu mencari orang untuk di ajak makan bersamanya. Begitu pula dengan syariah Qurban yang merupakan sunnah bapak para Nabi ini, sangat sarat dengan nilai nuansa ‘sosial’. Karena dalam ilmu Fiqih di katakan bahwa sebagian besar daging tersebut harus di berikan kepada fakir miskin, bahkan Hujjatul Islam Al-Imam Al Ghozali berpendapat agar semua daging tersebut di sedekahkan kepada yang berhak.

Namun ketiga hal itu tidak akan terealisir apabila tidak di bingkai dengan dua hal, Pertama, Ketaqwaan. sesuai dengan firman Allah Swt “Daging-daging unta dan darahnya tersebut tidak akan sampai kepda Alloh SWT, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang akan sampai” (QS: Al Haj: 37)

Kedua, Kesucian Hati. Inilah rahasia keberhasilan Nabi Ibrahim sehinggga ia mampu dan mau untuk pasrah mengorbankan apa saja demi melaksanakan perintah rabbnya.”Ingatlah ketika ia datang kepada robnya dengan hati yang suci” (QS. Ash Shoffat: 85).

Idul Adha bukanlah hari raya biasa. Untuk merayakannya, tidak sekedar bertakbir, tahmid, tahlil serta bertasbih. Yang dilanjutkan dengan shalat ied dan menyembelih hewan qurban. Tapi lebih dari itu, Idul Adha melalui syari’at qurban mengingatkan kita untuk merenung, berpijak dari keagungan sejarah yang melatar-belakanginya : pengorbanan nabiyullah Ibrahim dan putra tercintanya Isma’il. ***

Byadmin

Haji dan Kesalehan Sosial

Oleh : Yohandromeda Syamsu

Haji adalah salah satu kewajiban umat Islam selama dia mampu melakukannya. Dalam deretan arkan (fondasi) agama, haji berada pada urutan kelima setelah syahadat, salat, puasa, dan zakat. Seperti juga bentuk peribadatan yang lain, haji diwajibkan bukan semata-mata berorientasi pada aspek keimanan kepada Tuhan secara personal, namun yang lebih penting juga bagaimana keimanan pada Tuhan itu kemudian ditindaklanjuti dengan amal kebajikan yang berdimensi sosial. Dimensi sosial haji, antara lain terlihat jelas ketika para hujjaj (orang-orang yang tengah melakukan ibadah haji) melakukan wukuf (bermalam) di Arafah. Di mana satu sama lain saling berinteraksi dengan niat yang utuh untuk semata-mata melakukan kebajikan.

Dengan berhaji, manusia harus meninggalkan keluarga, handai-tolan, tanah air, dan seluruh hartanya untuk menuju satu tujuan, Allah. Pasrah total kepada-Nya, seperti kepasrahan Ibrahim as. Dan, karena totalitas inilah kiranya mengapa di antara parahujjaj ada yang mengharapkan tidak kembali ke tanah air (meninggal di Tanah Suci). Ada keyakinan meninggal di Tanah Suci ketika berhaji merupakan puncak syahadah yakni perjumpaan dengan Allah pada saat pasrah secara total kepada-Nya.

Untuk meningkatkan iman, seseorang calon haji hendaknya menjauhkan dirinya dari syirik. Karena, syirik menyebabkan rusak pekerjaan ibadahnya yang konkret maupun yang abstrak, sesuai firman Allah: ”Dan, jika mereka musyrik niscaya rusaklah pekerjaan-pekerjaan mereka yang pernah mereka lakukan.” (QS.  Al-An’am: 88).

Melakukan tobat dari segala perbuatan maksiat dan larangan-larangan agama, adalah dengan total menyesali langsung perbuatan tersebut (tidak ditunda-tunda) serta bertekad tidak mengulangi kembali. Selain itu harus mengembalikan hak-hak orang lain yang dia pergunakan tanpa izin, melunasi utang-utangnya, minta maaf atau minta dihalalkan segala urusan dan sangkut paut dengan orang lain mengenai urusan dunia dalam masa pergaulan terdahulu.

Para calon haji dianjurkan untuk berwasiat kepada keluarga yang akan ditinggalkan pergi haji, dengan menyertakan saksi dan mewakilkan kepada orang lain yang akan mengurusi atas namanya selama ia tidak dapat menyelesaikan karena menunaikan ibadah haji. Calon haji sangat dituntut untuk memperluas wawasan keagamaannya dengan cara giat menghadiri majelis-majelis taklim, mencari guru pembimbing yang berpengalaman. Diutamakan pembimbing itu adalah ulama yang dapat membantunya tentang ilmu manasik haji serta akhlak yang mulia, mencegahnya apabila calon haji melakukan perbuatan tercela.

Calon haji wajib mempelajari ilmu manasik haji karena ibadah tidak sah bagi yang tidak paham makna ibadah itu. Bahkan mempelajari manasik haji bagi jemaah haji merupkan fardu ain. Calon haji seharusnya menghindari kesalahan dalam melaksanakan yang disyariatkan. Perlu diingat bahwa ibadah haji itu baru dapat diterima apabila mempunyai dua syarat yaitu ikhlas dan menurut tuntunan Nabi Muhammad saw.

Haji merupakan latihan bagi manusia untuk kesalehan sosial, seperti meredam kesombongan, kediktatoran, gila hormat, dan keinginan menindas sesamanya. Sebab, dalam haji, manusia harus mencopot pakaian kebesarannya. Pakaian sehari-hari yang menciptakan ke-‘aku’-an berdasarkan ras, suku, warna kulit, eselon kepangkatan, dan lain-lain harus ditanggalkan dan diganti dengan pakaian ‘ihram’ yang sederhana, tidak membedakan kaya-miskin, ningrat-jelata, penguasa-rakyat, dan status sosial lainnya. Egoisme ke-‘aku’-an lebur dalam ke-‘kita’-an, kebersamaan, kesamaan sebagai manusia yang hadir, berada dan menuju hanya kepada-Nya. Ditegaskan dalam Alquran:”Tunaikanlah ibadah haji dan umrah (hanya) karena Allah.” (QS, Al-Baqarah: 196).”Dan, Allah adalah tujuan perjalanan….” (QS, An-Nur: 42)

Haji juga melatih manusia melepaskan diri dari selera konsumtif, cinta harta. Dalam berhaji manusia dilarang mengenakan perhiasan atau parfum. Bahkan sebaliknya (sangat) dianjurkan untuk rela berkorban apa saja miliknya termasuk yang paling dicintainya, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim as yang rela mengorbankan Ismail, putra yang amat dicintainya (QS, 37:99-113).

Dalam rangkaian ibadah haji, selain wukuf di Arafah yang menjadi inti haji (al-hajju ‘arafah), yang menjadi perlambang kebersamaan, dan miniatur sejati hakikat perjalanan umat manusia. Juga diharuskan melontar tiga jumrah (berhala) yakni Ula, Wustha, dan Aqabah, yang menjadi isyarat menurut istilah Shariati, ‘trinitas’. Dalam tataran teologis, ‘trinitas’ berarti keyakinan dan penghambaan manusia terhadap tiga eksistensi Tuhan (musyrik, politeisme), dan dalam tataran sosiologis berarti penghambaan menusia pada tiga jenis nafsu yang dimilikinya: totalisme dalam kekuasaan, kapitalisme dalam kepemilikan, dan hedonisme (free sex) dalam pergaulan sesama atau antarjenis. []

Byadmin

Hubungan Anak Dan Orangtua

Oleh Ibnu Sina

Kita bersyukur Kota Banjarmasin pada Hari Keluarga Nasional 2018 mendapat penghargaan Manggala Karya Kencana, penghargaan tertinggi bidang keluarga berencana dan pembangunan keluarga dari pemerintah pusat melalui BKKBN.

Membangun keluarga tidak terlepas dari hubungan yang baik antara orangtua dan anak. Banyak hal/dalil yang memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orangtua, diantaranya :

Pertama, Allah menyandingkan perintah untuk beribadah kepadaNya dengan keharusan berbakti kepada orangtua.

Kewajiban paling besar yang harus ditunaikan oleh hamba setelah kewajibannya kepada Allah dan RasulNya adalah kewajiban dalam memenuhi hak orangtua. Allah SWT berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu.” (QS. Al Isra` [17] : 23).

Kedua, Allah memerintahkan kita untuk selalu berbuat baik dalam berinteraksi dengan orangtua. Sekalipun mereka memaksamu, untuk menyekutukan Allah.

Allah SWT berfirman : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergauilah keduanya dengan baik”. (QS. Luqman [31] : 15).

Nabi Ibrahim mendakwahi ayahnya agar beribadah kepada Allah, justru ayahnya  mendakwahi supaya beliau menyembah berhala-berhala. Sang bapak marah dan mengancam, namun Nabi Ibrahim meresponnya secara lemah-lembut dengan berkata : “Semoga keselamatan bersamamu. Aku akan memohonkan ampun kepada Rabb-ku untukmu”. (QS. Maryam [19] : 47).

Ketiga, Nabi mengutamakan bakti kepada orangtua atas jihad fii sabilillah.

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Mendirikan shalat pada waktunya.” Aku bertanya kembali, “Kemudian apa?” Jawab Beliau, “Berbakti kepada ke orangtua,” lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, “Kemudian?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari).

Dikisahkan dari Mua’wiyah bin Jahimah, ia bercerita: Aku bersama Nabi untuk meminta pertimbangan dalam berjihad. Maka Beliau bertanya, ”Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” Aku jawab,”Ya (masih hidup)!” Beliau berkata,”Temanilah mereka berdua. Sesungguhnya surga berada di bawah telapak kaki keduanya.”.

Keempat, Perintah berbakti kepada orangtua merupakan titah ilahi yang sudah berlaku pada umat sebelumnya.

Firman Allah SWT : “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin…” (QS. Al Baqarah [2] : 83).

Kelima, Allah menyanjung para nabi karena telah berbuat baik dengan baktinya kepada orangtua.

Secara khusus, Allah menyebut nama Nabi Yahya atas baktinya kepada kedua orangtuanya yang telah tua renta. Allah SWT berfirman : “Dan banyak berbakti kepada kedua orangtuanya dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam [19] : 14).

Begitu pula Allah memuji Nabi Isa, lantaran beliau telah melayani sang ibu dengan sepenuh hati, dan bahkan merasa mendapat kehormatan dengan sikapnya itu. Allah SWT berfirman : “Dan berbakti kepada ibuku dan Dia (Allah) tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32).

Keenam, Berbakti kepada orangtua, akan melahirkan banyak kebaikan, terangkatnya musibah, lenyapnya masalah dan kesedihan.

Sebagai mana kisah tiga orang yang terperangkap di sebuah goa karena tertutup sebongkah batu besar. Mereka berdoa dan bertawasul dengan amal shalih yang pernah mereka kerjakan. Salah seorang di antaranya, bertawassul dengan baktinya pada orangtua.

Ketujuh, Bakti kepada orangtua tidak berhenti, meskipun kematian telah menjemput mereka.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasul SAW bersabda: “Ada seorang lelaki yang kedudukannya terangkat di surga kelak.” Ia pun bertanya,”Bagaimana ini?” Maka dijawab: “Lantaran istighfar anakmu”.

Kedelapan, Rasulullah menghubungkan kedurhakaan kepada kedua orangtua dengan berbuat syirik kepada Allah.

Rasul SAW bersabda : “Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Nabi bersabda, “(Yaitu) berbuat syirik, durhaka kepada orangtua.” (HR Bukhari).

Rasul memberi peringatan: “Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orangtua. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat).” (HR Bukhari)

Membuat menangis orangtua juga terhitung sebagai perbuatan durhaka. Hadits Rasul SAW : “Tangisan kedua orangtua termasuk kedurhakaan dan dosa besar”. (HR Bukhari).

Allah SWT berfirman : “Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ahh” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Isra` [17] : 23).

Allahu a’lam bish-shawab

Byadmin

8 Hal Tentang Qurban

Oleh Ibnu Sina

Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Alhamdulillah, kita telah berada di pertengahan bulan Dzulqaidah dan sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, di mana keutamaannya seperti yang dikatakan oleh Nabi SAW sebagai waktu terbaik untuk beramal shalih.

Disebutkan dalam hadits : “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun darinya.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727 dan Ahmad no. 1968)

Juga disebutkan dalam riwayat Abu Daud bahwa Nabi SAW pernah melakukan puasa sembilan hari di awal Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa hari Arafah yang menghapuskan dosa selama dua tahun.

Ada suatu ibadah yang mulia yang diperintahkan pada bulan Dzulhijjah yaitu ibadah Qurban.

Berikut 8 hal terkait masalah qurban. Moga dengan mengetahuinya qurban kita bisa sesuai dengan tuntunan.

Pertama, Hendaklah qurban tetap dilakukan bagi yang mampu melakukannya. Qurban adalah ibadah yang disunnahkan, dikatakan sunnah muakkad oleh para ulama dan ditujukan bagi yang mampu berqurban. Imam Syafi’i sendiri yang menganggap hukum berqurban itu sunnah dalam hal ini menyatakan bahwa yang mampu jangan sampai meninggalkannya.

Qurban dilakukan setiap tahunnya, bukan sekali seumur hidup. Jadi, bagi yang memiliki kelebihan rezeki setiap tahunnya, hendaklah berqurban.

Kedua, qurban adalah suatu bentuk sedekah. Bahkan berqurban itu lebih utama dari sedekah yang senilai. Kita pun tahu bahwa dengan bersedekah harta kita semakin berkah. Bersedekah tidaklah pernah mengurangi harta. Rasul SAW bersabda : “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558).

Ketiga Allah akan mengganti harta yang kita gunakan untuk berkurban. Allah SWT berfirman : “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ [34] : 39).

Keempat, Qurban dilakukan dengan ikhlas untuk mencapai takwa. Hendaklah qurban dilakukan dengan ikhlas untuk menggapai ridha Allah, bukan untuk mengejar strata sosial, bukan ingin mencari pujian manusia, bukan ingin sum’ah dan riya’. Allah SWT berfirman : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj [22] : 37).

Kelima, Hati-hati melakukan amalan yang tidak ada tuntunan dalam qurban. Dalam ibadah qurban mesti dilakukan sesuai tuntunan. Jika tidak, akan membuat qurban tersebut menjadi tidak diterima.

Keenam, dalam aturan qurban sapi bisa dengan patungan tujuh orang. Adapun kambing hanya boleh dari satu orang. Status yang ada jika melebihi dari aturan adalah daging biasa, bukan daging qurban.

Ketujuh, Qurban disembelih pada waktunya. Qurban mulai disembelih setelah shalat Idul Adha dan dua khutbah, lalu berakhir ketika hari tasyriq yang terakhir (13 Dzulhijjah) saat tenggelamnya matahari.

Kedelapan, Yang biasanya dilanggar adalah sebagian dari hasil qurban diperjualbelikan. Seperti jual beli kulit yang terjadi di tengah-tengah aktivitas qurban di negeri kita. Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.” (HR. Al-Hakim. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adz Dzahabi mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Ibnu ‘Ayas yang didha’ifkan oleh Abu Daud. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1088)

Maka hendaklah berqurban bagi yang punya kelapangan rezeki. Kemudian dilakukan ikhlas, untuk menggapai ridha Allah. Lalu hendaklah qurban dilakukan sesuai dengan tuntunan yang berlaku sehingga qurban tersebut memperoleh pahala yang besar. Kalau tidak demikian, statusnya hanya menjadi daging biasa.

Semoga Allah menerima setiap amalan yang berqurban di tahun ini. Bagi yang belum berqurban, moga di tahun berikutnya Allah beri taufik untuk berqurban.

Allahu a’lam bish-shawab

Byadmin

Haji dan dan Kurban: Kesatuan Akidah dan Tujuan Hidup

Oleh: Yohandromeda Syamsu

Ibadah haji adalah merupakan lambang dan pemaduan jiwa dan semangat tauhid, yang menggalang kesatuan akidah dan tujuan hidup kaum muslimin.Dalam bahasa yang satu dan sama, ratusan ribu jamaah haji waktu wukuf di Arafah memakai pakaian yang sama, seragam putih, mengumandangkan ucapan yang sama yang keluar dari lubuk hati yang suci (yang artinya): “Aku sambut panggilanMu, Ya Allah. Aku sambut perintahMu. Aku sambut panggilanMu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan seluruh kekuasaan adalah milikMu sendiri. Tiada sekutu bagiMu.”

Perilaku dan ucapan itu melambangkan dan meningkatkan semangat Tauhid, mempertebal keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa, yang tunggal dalam iradat dan qudrat-Nya. Perjuangan dan pengorbanan dalam melaksanakan ibadah haji itu, bergumul dengan kesulitan demi kesulitan, kekurangan demi kekurangan, semua itu semakin memantapkan jiwa manusia untuk mewujudkan kesatuan tujuan hidup, yaitu berbakti kepada Yang Maha Esa dan berjuang untuk mencapai mardhatillah, ridha Ilahi.

Kurban, dalam rangkaian ibadah haji tersedia pula sarana amaliah yang bukan saja mengandung nilai-nilai ubudiyah, tapi juga mempunyai aspek-aspek sosiologis, kemasyarakatan (ijtima’iyah), yaitu menyembelih hewan, dimana daging-dagingnya itu disediakan untuk menyantuni dan menggembirakan orang-orang fakir dan miskin, umumnya kaum yang tidak berpunya.

Para jama’ah yang sedang melakukan ibadah haji melaksanakan penyembelihan hewan itu di kota Mina pada tanggal 10 Zulhijjah. Berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus ribu hewan (kambing) yang disembelih pada hari itu. Daging-dagingnya diserahkan kepada kaum fakir-miskin yang datang mengambilnya, malah dalam prakteknya, persediaan daging melimpah-limpah, sedang yang membutuhkan (konsumen) sedikit, sehingga daging-daging yang tersisa banyak yang menjadi busuk (dahulu), tapi untunglah sekarang, pemerintah Arab Saudi sudah melakukan usaha pengawetan daging-daging itu, yaitu dengan mengalengkannya menjadi daging kalengan (seperti misalnya kornet, dan sebagainya), yang dikoordinir dan diproduksi dengan bantuan beberapa negara tetangga terdekat, agar penyembelihan hewan kurban tidak menjadi mubazzir atau sia-sia. Dan bahkan konon kabarnya daging-daging itu juga dikirim ke berbagai negara miskin yang penduduknya sangat membutuhkan bahan makanan. Subhanallah!
Penyembelihan hewan oleh para jamaah haji di Mina itu dinamakan ‘had-yu’.

Adapun penyembelihan hewan bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji dinamakan Kurban, yang dianjurkan untuk dilakukan sesudah shalat Idul Adha sampai akhir hari tasyrik, tiga hari kemudian.

Ada dua macam nilai-nilai atau keuntungan yang dapat dicapai oleh orang-orang yang melakukan (penyembelihan) kurban itu. Pertama, dengan jalan menyembelih kurban itu ia mendekatkan diri (berbakti) kepada Allah SWT dan dalam kehidupan di akhirat kelak akan menerima pahala yang berlipat ganda. Begitu besar pahalanya, sampai-sampai dalam satu hadist dilukiskan, bahwa darah hewan yang disembelih itu, tanduknya dan bulunya semuanya merupakan amal kebajikan yang akan ditimbang pada hari kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa di akhirat kelak, seorang yang rajin melakukan kurban, akan dipertemukan kembali dengan hewan-hewan (kambing) yang dikurbankan (hewan-hewan itu akan dibangkitkan kembali dan dihidupkan kembali oleh Allah secara utuh), sehingga hewan-hewan itu akan menjadi hewan peliharaannya (yang disayanginya) di akhirat kelak. Bahkan seseorang yang mengurbankan unta, sapi, dan sebagainya akan dipertemukan kembali dengan hewan-hewan tersebut, sehingga ia akan mempunyai hewan tunggangan (unta, sapi, dsb) di akhirat kelak.

Kedua, dengan menyembelih hewan kurban itu, maka dapatlah dipupuk dan dikembangkan pembinaan masyarakat yang berjiwa keadilan sosial, karena kaum fakir miskin dengan menerima daging-daging kurban itu merasa mendapat santunan dan perhatian.Seorang muslim yang berkurban berarti telah membuat sebuah investasi untuk kehidupan di akhirat, selain ia juga membuktikan keberadaannya sebagai manusia yang berjiwa sosial di mata masyarakat dan juga memperoleh kemuliaan di sisi Tuhan.Selain dari itu, dengan tindakan amaliahnya itu, ia mengembangkan pula nilai-nilai rohaniah dalam kehidupan pribadinya, yaitu meningkatkan semangat berkorban, memberikan sesuatu dari karunia Ilahi yang diterimanya, kepada orang lain yang membutuhkannya, suatu hal yang merupakan sikap jiwa dan mental yang diperlukan dalam kehidupan ini, terutama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Hendaknya kesempatan berkurban ini tidak saja dilakukan pada saat hari raya Idul Adha, namun juga disemangati dalam kehidupan sehari-hari dan juga hendaknya tidak diabaikan oleh kaum muslim, sebagai ungkapan rasa syukur atas kelapangan rezeki yang telah diberikah Allah SWT.Dalam berkurban sebaiknya tidak ditunda-tunda, karena siapa yang tahu apakah tahun depan kita masih diberikan umur panjang oleh Allah. Maka berkurbanlah hari ini demi kehidupanmu di akhirat kelak! []

Byadmin

Hikmah Di Balik Kurban

Oleh Ibnu Sina

Sungguh selalu ada hikmah di setiap perintah yang Allah SWT serukan kepada kita umatnya, meskipun jika dipandang berat menjalaninya. Begitulah perintah berqurban yang didasari kepada kisah sepasang ayah dan anak nan sholeh, nabiyullah Ibrahim dan putranya Ismail AS.

Pada hakekatnya berqurban adalah wajib bagi yang mampu. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW : “Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir di lapangan kami (untuk shalat Ied).” [HR Ahmad, Daru qutni, Baihaqi dan al Hakim].

Berikut delapan hikmah dibalik menyembelih hewan kurban :

Pertama, Qurban Pintu Mendekatkan Diri Kepada Allah

Sungguh ibadah qurban adalah salah satu pintu terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia juga menjadi media taqwa seorang hamba. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Maidah [5] : 27)

Kedua, Berqurban menjadi bukti ketaqwaan seorang hamba.

Allah SWT berfirman : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj [22] : 37)

Ketiga, Berkurban tanda syukur kepada Allah atas nikmat kehidupan yang diberikan

Keempat, Sebagai sikap Kepatuhan dan Ketaaan pada Allah

Allah SWT berfirman : “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al Hajj [22] : 34).

Kelima, Sebagai Saksi Amal di Hadapan dari Allah

Ibadah qurban mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allah SWT, dalam sebuah hadits disebutkan, “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Juga kelak pada hari akhir nanti, hewan yang kita qurbankan akan menjadi saksi. Rasul SAW bersabda : “Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” (HR. Ibnu Majah No. 3117).

Keenam, Membedakan dengan Orang Kafir

Sejatinya qurban (penyembelihan hewan ternak) tidak saja dilakukan oleh umat Islam setiap hari raya adha tiba, tetapi juga oleh umat lainnya. Sebagai contoh, pada zaman dahulu orang-orang Jahiliyah juga melakukan qurban. Hanya saja yang menyembelih hewan qurban untuk dijadikan sebagai sesembahan kepada selain Allah.

Firman Allah SWT : “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al – An’am [6] : 162-163)

Ketujuh, Ajaran Nabi Ibrahim AS

Berkurban juga menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim AS yang ketika itu Allah memerintahkan untuk menyembelih anak sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).

Rasul SAW Bersabda : “Berkata para sahabat Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.” (HR. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127)

Kedelapan, Berdimensi Sosial Ekonomi

Ibadah qurban juga memiliki sisi positif pada aspek sosial. Sebagaimana diketahui distribusi daging qurban mencakup seluruh kaum muslimin, dari kalangan manapun ia, fakir miskin hingga mampu sekalipun.

Sehingga hal ini akan memupuk rasa solidaritas umat. Jika mungkin bagi si fakir dan miskin, makan daging adalah suatu yang sangat jarang. Tapi pada saat hari raya Idul Adha, semua akan merasakan konsumsi makanan yang sama.

Hadits dari Ali bin Abu Thalib : ”Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya.”

Allahu a’lam bisshawab.