Author Archive

Byadmin

Mampu Bertahan Karena Punya Tabungan Hasil Kerja Keras

Kisah Purwanti yang Berjuang Melawan Sakit Demi Empat Anaknya

Purwanti (38 tahun) sementara ini didiagnosa dokter mengidap tumor rahim. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar untuk terus menjalani hidup. Menjadi wanita lemah tidak ada dalam kamus Purwanti. Sembilan tahun hidup sebagai single parents sekaligus tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal, Ia jalani dengan tabah bersama keempat anaknya.

(Eggy Akbar Pradana, Banjarbaru)

Purwanti saat ditemui penulis dirumahnya di Kelurahan Sungai Besar Banjarbaru terlihat sedang terbaring di atas kasur, raut wajahnya pucat dan kelelahan. “Ini baru tadi siang terasa demam, setelah obatnya habis” tutur Purwanti.

Purwanti sendiri mengaku obatnya diperoleh sejak Kamis (22/3)  malam kemarin setelah melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Idaman, Banjarbaru. “Sebelum pemeriksaan saya sempat  mengalami nyeri di bagian perut, kalo kaget itu kadang keluar darahnya. Saya kira awalnya ini haid tapi kok durasi haidnya berkepanjangan,” tuturnya.

“Diagnosa awal katanya ada tumor, tapi perlu diperiksa lagi lebih lanjut,” imbuhnya.

Selanjutnya Purwanti memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, Selasa (27) kemarin. “Alhamdulillah, kemarin ada acil awal, tetangga saya yang menemani berobat ke Banjarmasin,” ucapnya.

Purwanti tidak memiliki BPJS sehingga untuk pemeriksaan ini Ia harus menggunakan tabungannya. “Selama pemeriksaan sudah habis 2jutaan,” akunya.

Kondisinya yang tidak stabil, membuat Purwanti terpaksa berhenti bekerja. Sebelumnya, Ia bekerja sebagai tukang pijat dan lulur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekarang, untuk bertahan hidup bersama empat anaknya, Ia harus menggunakan tabungan.

Ayu, anaknya yang sulung, terlihat khawatir melihat kondisi Purwanti. Ayu mengatakan kondisi ibunya lemas, kecapean dan pucat karena rendahnya kadar hemoglobin dalam darahnya akibat pendarahan yang dialami selama ini.

Ayu membenarkan ibunya lah selama ini yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia sendiri masih kuliah sambil membantu ibunya, adik keduanya terpaksa berhenti sekolah sejak lulus SMP, adik ketiga dan keempatnya masih sekolah dasar. Ayu bersama ketiga adiknya dengan sabar merawat ibunya setiap hari, untuk urusan masak-memasak dan membersihkan rumah mereka berbagi tugas.

Namun Ayu beruntung memiliki teman-teman kuliah di Himpunan Kimia (Himamia) Redoks yang peduli dengan kondisinya saat ini. Jumat (30/3) kemarin mereka menggelar aksi penggalangan dana untuk Purwanti.

“Keluarga Himamia Redoks menggalang dana sebagai wujud solidaritas untuk meringankan beban adik tingkat kami, yaitu Ayu. Semoga bisa membantu,” kata Dimas Aji Saputra sebagai penanggung jawab kegiatan. Aksi yang berlangsung sejak pukul 8 pagi itu berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 3.762.200 dan akan diserahkan langsung kepada Ayu.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Pekerja Sosial

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Adakah diantara anak-anak Anda yang bercita-cita menjadi pekerja sosial? Pernahkah mereka berteriak lantang, “Pekerja sosial” untuk menjawab pertanyaan guru di kelas tentang profesinya setelah dewasa nanti? atau adakah orangtua yang menyiapkan satu saja -diantara sekian anaknya- untuk menjadi pekerja sosial?

Pertanyaan lain, benarkah pekerja sosial (social workers) tidak pernah menjadi cita-cita yang dituliskan remaja-remaja yang menjelang dewasa dalam kertas mimpi mereka sepuluh tahun yang akan datang? Atau memang para orang tua tak memperkenankan dan mengarahkan anak-anaknya menjadi pekerja sosial, lantaran satu pandangan bahwa kegiatan sosial masih bisa dikerjakan sambil waktu, di paruh waktu dan sisa waktu. Misalnya hanya pada saat akhir pekan saja, atau disaat memasuki usia pensiun (produktif).

Pertanyaan lain yang juga harus dijawab. Apakah masalah sosial hanya bisa ditangani oleh pejabat negara bersangkutan? bukankah peran masyarakat begitu besar untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial, seperti kemiskinan, bencana alam, konflik sosial, dan berbagai bentuk patologi sosial yang terus menerus muncul dengan ragam dan bentuk terbarunya. Tak menjadi pentingkah keberadaan lembaga-lembaga sosial lengkap dengan para pekerja sosialnya? Dan, bukankah masalah kemiskinan, bencana alam, konflik dan lain sebagainya itu tak hanya datang di akhir pekan atau hari libur saja?

Bencana alam, kemiskinan dengan berbagai derivasinya, atau konflik bisa hadir kapan saja. Kadang menimpa orang-orang yang jauh dan sangat tidak kita kenal. Meski suatu saat dan sangat mungkin mendatangi orang-orang terdekat, sanak famili, kerabat, sahabat, bahkan diri kita sendiri. Dan yang pasti, butuh penanganan cepat, serius, tidak setengah-setengah, profesional, serta tidak menunggu akhir pekan. Mengingat begitu banyaknya masalah-masalah sosial yang terus terjadi, dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan lembaga sosial. Pemerintah sebagai penentu kebijakan, masyarakat sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar yang turut memberikan sumbangsihnya, dan lembaga sosial sebagai eksekutor di lapangan yang mendapat mandat dan kepercayaan penuh, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas. Idealnya seperti ini.

Lembaga kemanusiaan asal Cuba, Brigada Medicana Cubana, misalnya, bisa menjadi contoh ideal sinergi yang cantik antara pemerintah, masyarakat dan lembaga tersebut. Tanggal 5 September 2006, lembaga kemanusiaan tersebut meninggalkan Jogjakarta dan Klaten untuk kembali ke negaranya setelah sekitar 3 bulan mendedikasikan waktu, pikiran, tenaga, harta dan keterampilannya membantu para korban gempa Jogja dan Jawa Tengah. Lembaga tersebut membawa serta tim kemanusiaannya yang berjumlah sekitar 95 orang dan mendirikan 2 rumah sakit lapangan di Klaten. Sesungguhnya, apa yang dilakukan lembaga tersebut tak jauh berbeda dengan lembaga kemanusiaan lain dari negeri sendiri. Yang membedakan adalah, bahwa hampir setiap hari mereka mendapat telepon langsung dari Fidel Castro, pimpinan negara tersebut. “Bekerjalah sebaik-baiknya, kalian semua adalah kebanggaan kami karena datang mewakili negara,” begitu kira-kira yang dipesankan Castro.

Sungguh, iri rasanya mendengar kisah mereka tentang perhatian dan dukungan penuh yang didapat dari pemerintah dan masyarakatnya. Kerinduan yang teramat sangat untuk kebanyakan lembaga sosial non pemerintah, untuk mendapatkan sekadar “Apa kabar para relawan?” dari pimpinan atau pejabat negara ini.

Terlepas dari adanya oknum dan lembaga yang kurang dipercaya lantaran kasus tertentu yang kemudian menciptakan “negative image” bagi lembaga sosial/kemanusiaan secara keseluruhan, sesungguhnya kerja-kerja lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan akan lebih solid, profesional, cepat dan bertanggungjawab jika kepercayaan dan dukungan terus diberikan. Memang, butuh waktu dan perjuangan melelahkan untuk menghadirkan dukungan dan kepercayaan tersebut. Karena untuk mendapatkan satu orang yang percaya saja begitu sulitnya, terlebih sebuah komunitas masyarakat.

Tentu saja, masyarakat berhak untuk menentukan percaya kepada siapa dan lembaga apa. Masyarakat juga berhak untuk mengkritik, mempertanyakan, dan meminta pertanggungjawaban dari lembaga yang dipercayanya. Jelas, karena mereka telah mencoba menitipkan amanah donasinya untuk disampaikan langsung kepada para penerima manfaat. Namun, selain tuntutan dan kritikan tersebut, dukungan yang lebih dan peningkatan kepercayaan adalah hal lain yang juga diharapkan. []

Byadmin

Gelora Cinta Ulama Jadi Pemersatu Umat

Catatan Relawan Haul Akbar Abah Sekumpul 2018

Oleh Wahyu Aji Saputra

Menjadi relawan dalam peringatan Haul ke-13 Abah Guru Sekumpul tahun ini adalah yang pertama kalinya bagi Saya. Seperti kebanyakan orang, kesan mendalam juga Saya rasakan ketika berada di tengah-tengah ribuan Jemaah.

Menurut Saya, Haul Abah Guru Sekumpul memberikan berkat tersendiri bagi setiap orang. Dimana haul ini merupakan cara untuk para Jemaah untuk saling bersilaturahmi, bertemu satu sama lain, yang mungkin belum saling kenal sebelumnya. Selain itu, haulan ini juga telah menjadi momen berkumpulnya anggota keluarga yang lama tak berjumpa.

Satu hal yang paling berkesan adalah gelora kerelawanan dari berbagai penjuru tempat. Dari berbagai kalangan. Tanpa sekat. Semua membaur, bahkan tanpa undangan sekalipun.

Para relawan saling bahu-membahu untuk kelancaran acara besar tersebut. Berbagai posko kesehatan dan istirahat bagi jemaah banyak tersebar, tidak hanya di Sekumpul tapi juga sampai di Banjarbaru. Saya terlibat sebagai pasukan relawan di Gang Taufik bersama Sahabat Kalsel, Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (Himatekin), dan Mahasiswa Akper Pandan Harum. Kami, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan daerah disatukan dengan semangat yang sama, kemanusiaan. Meski hanya sebagai tukang bagi nasi, tetapi hal tersebut sudah membuat Saya merasa bahagia karena dapat memberikan manfaat kepada para jemaah.

Jika kita lihat lebih luas, maka banyak amalan kebaikan yang terjadi kala itu. Kebaikan yang diberikan oleh relawan kesehatan kepada jemaah yang sakit, kebaikan yang dilakukan oleh pengatur arus lalu lintas agar tak ada kecelakaan ataupun kebaikan yang hanya dihantarkan oleh sebungkus nasi. Kebaikan tetaplah kebaikan, sekecil apapun itu.

Kegiatan keagaman yang terjadi setahun sekali ini menjadi implementasi dari berbagai aspek kehidupan umat. Selain faktor religi yang terkandung di dalamnya, rasa kemanusiaan dan sosial juga ikut melambung karenanya. Di sini kita bisa melihat rombongan jemaah yang begitu banyaknya dalam satu salawat yang sama, yang mungkin hanya terjadi di tanah Borneo setahun sekali. Di sini pula kita melihat setiap orang bisa saling membantu tanpa perlu kenal sebelumnya.

Haul Abah Guru Sekumpul seolah menjadi media pemersatu umat. Dimana saat ini umat sering kali diadu domba dengan berita-berita tak jelas (hoax). Tapi pada acara itu mereka menjadi lebih dari sekedar saudara. Ketika kita melihat berbagai ujaran kebencian berdatangan, kali ini satu sama lain saling bergandengan.

Banyak hal yang dapat kita ambil hikmah dan berkatnya dari kegiatan tahunan ini. Bahkan ada dampak yang menyebar luas kepada seluruh insan yang terlibat, salah satunya rasa kemanusiaan dalam bingkai kebaikan. Semoga kesan kebaikan juga dirasakan Presiden Joko Widodo yang turut hadir di tengah para Jemaah. Aamiin.

Editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Sahabat Kalsel: Bentuk Karakter Peduli Melalui Kelas Relawan

Semangat yang ditunjukkan relawan Sahabat Kalsel ternyata bukan hanya soal berbagi, namun mereka juga senantiasa semangat menimba ilmu. Hal ini dibuktikan dengan program-program peningkatan kapasitas dan wawasan, salah satunya Kelas Relawan.

Seperti yang terlihat pada Minggu (11/3) kemarin di Perpustakaan Daerah Banjarbaru para relawan Sahabat Kalsel berkumpul menimba ilmu bersama pakar, Hasibah Eka Rosnelly yang kerap disapa para relawan dengan sebutan Bunda Lily.

Bunda Lily adalah seorang psikolog yang rupanya telah begitu akrab dengan para relawan. “Kemarin kita sudah belajar tentang trauma healing kan ya? Jadi hari ini kita akan belajar bagaimana menjadi seorang konselor,” ujar Bunda Lily.  Sebanyak 10 relawan yang hadir saat itu terlihat antusias mengikuti kelas. Diskusi pun diselingi dengan candaan membuat proses belajar menjadi asyik diikuti.

“Kelas relawan bertujuan untuk membentuk karakter, skill dan pengetahuan bagi relawan Sahabat Kalsel karena kami yakin bahwa menjadi relawan adalah bagian dari solusi. Bagaimana menjadi solusi jika relawan tak punya kapasitas?” kata Hermawan selaku Koordinator Strategi Program Sahabat Kalsel.

“Kami juga memiliki program lain yaitu Gemass (Gerakan Masyarakat Sadar Sampah), charity area, story telling kampung purun, orientasi relawan, sedekah nasi bungkus, serojah (Sedekah Roti Jumat Berkah). Dalam waktu dekat ini bersama dengan MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) kami juga akan mengadakan volunteer camp” pungkasnya.

Namun, siapa sangka sebelum mencapai titik semangat relawan tanpa pamrih untuk warga banua ternyata Sahabat Kalsel sempat mengalami masa vakum. “Kami dibentuk tanggal 28 Februari 2016. Kelahiran Sahabat Kalsel tidak lepas dari peran dan inisiasi RBP (Radar Banjar Peduli). Namun Sahabat Kalsel sempat mengalami vakum selama lima bulan lamanya. Namun, tepat tanggal 16 November 2017 kembali aktif dan sampai sekarang sudah 64 orang bergabung,” cerita Ahmad Khairil selaku Ketua Sahabat Kalsel.

Ahmad Khairil berharap keberadaan Sahabat Kalsel lebih berarti lagi untuk masyarakat. “Dengan dukungan para relawan lah Sahabat Kalsel bisa sampai dititik ini. Semoga kedepannya bisa lebih berarti keberadaannya bukan hanya bagi warga banua namun juga bagi masyarakat Indonesia,” tegasnya.

“Berilah kekuatan sekuat baja, untuk menghadapi dunia ini, untuk melayani dunia ini. Berilah kesabaran seluas angkasa, untuk mengatasi siksaan ini, untuk melupakan derita ini. Berilah kemauan sekuat garuda, untuk melawan kekejaman ini, untuk menolak penindasan ini. Berilah perasaan selembut sutera, untuk mempertahankan kemanusiaan ini, hidup relawan!” (Subagio Sastrowardoyo). 

Penulis: Eggy Akbar Pradana

Editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Parenting Desa, Ketua PW Himpaudi Kalsel Buka Kelas Perdana

Dedey Rusyadi Abd: “Ayo Jadi Orang Tua Raja”

Komitmen Himpaudi Kota Banjarbaru dan RBP untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui program pendidikan keluarga telah dibuktikan dengan menggelar kelas parenting desa pada Sabtu (10/3) lalu di Tegal Arum, Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru. Menurut penanggungjawab program Devi Putri Listyasari, kelas tersebut merupakan yang perdana dilakukan dari enam kelas yang direncanakan. “Akan ada enam kelas di enam lokasi berbeda, tapi masih di wilayah Landasan Ulin,” terangnya. “Program ini juga masih didukung oleh Bank Kalsel Banjarbaru, tentu hal ini menjadi semangat tersendiri bagi kami. Terima kasih Himpaudi dan Bank Kalsel,” imbuhnya.

Semangat menggebu juga ditunjukkan oleh Himpaudi Kota Banjarbaru. Tak tanggung-tanggung, dalam ajang perdana itu narasumber yang dihadirkan adalah Ketua Pengurus Wilayah (PW) Himpaudi Kalsel yaitu Dedey Rusyadi Abd. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa hadir di sini dan bertemu ibu-ibu hebat semua,” ucap Dedey Rusyadi di hadapan puluhan ibu-ibu dari PKK Tegal Arum.

Lelaki yang kerap disapa Dede itu menjelaskan tentang tiga tahap perkembangan anak dalam rentang usia tujuh tahun. “Tujuh tahun pertama, anak seperti raja. Tujuh tahun kedua seperti tawanan, sedangkan tujuh tahun ketiga seperti presiden,” terangnya. Dede menghimbau saat anak seperti raja, maka fokus pembelajaran ada pada karakter anak. “Kalau raja berbuat salah, cara memarahinya tentu tidak sembarangan bukan?” ucap Dede. Beberapa ibu menyahut mengiyakan pernyataan Dede.

Saat anak seperti tawanan, lanjut Dede, orang tua harus mengenalkan anak terhadap konsekuensi, tanggungjawab, dan kewajiban. “Tapi juga harus ada aturannya, berikan anak kesempatan untuk menjelaskan terlebih dahulu,” pesannya.

Sementara, tahap ketiga perkembangan anak menurut Dede adalah yang paling sulit dimana tahap ini berada pada rentang usia 14 – 21 tahun. “Pada usia ini lah anak diajarkan tentang kewibawaan berfikir. Bagaimana orang tua melibatkannya dalam memecahkan masalah,” ucapnya.

Setelah pemaparan tersebut beberapa ibu antusias mengajukan pertanyaan. “Kendala pengasuhan biasanya kalau sudah beda sama suami, saya tegas tapi suami suka memanjakan anak,” tanya salah seorang ibu. Beberapa peserta mengaku memiliki kendala yang sama. Menanggapi hal tersebut, Dede menimpali bahwa memang seharusnya kelas parenting diikuti oleh kedua orang tua, bukan hanya salah satunya. “Mungkin nanti suami juga diajak untuk ikut kelas seperti ini, sehingga pemahamannya selaras,” ucap Dede.

Sebanyak 25 anak di Tegal Arum mendapatkan nutrisi gratis dari Bank Kalsel Cabang Banjarbaru

Meski begitu, Noormila Sari, salah seorang peserta mengaku senang setelah mengikuti kelas parenting. “Banyak ilmu yang bermanfaat yang bisa didapatkan, saya jadi tahu banyak hal. Insha Allah ingin menerapkan di keluarga saya,” ucap perempuan 34 tahun yang telah dikaruniai dua orang anak itu kepada RBP.

Menanamkan pemahaman bahwa pengasuhan bukan hanya tugas ibu tentu menjadi PR yang harus diselesaikan karena masih banyak yang salah kaprah. RBP dengan program parenting desa berupaya mengubah cara pikir masyarakat.

Penulis&editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Relawan Bersinergi, Bergerak Mewujudkan Solusi

Banyak kesan yang berarti dari sosok Mbah Suminem, terutama para relawan yang selama dua pekan menemani beliau di rumah sakit. Salah satunya Munajatunnisa, salah seorang anggota Relawan Nusantara. Bagi Muna, begitu Ia kerap disapa, Mbah Suminem merupakan pibadi yang supel dan senang bercerita.

“Saya sering mendapatkan nasehat dari Mbah untuk menjaga kesehatan, dapat pekerjaan hingga cepat dapat jodoh,” ucapnya mengenang Mbah Suminem.

Muna mengaku tergerak untuk ikut menjaga Mbah Suminem di rumah sakit karena mendapat kabar tentang beliau dari Sahabat Kalsel RBP. “Katanya ada orang tua yang sakit dan cuma ditemani suami yang juga mengalami keterbelakangan mental, jadi kami dari Relawan Nusantara berbagi tugas, bergantian menjaga beliau di RS,” terang Muna.

Pribadi Mbah Suminem yang begitu baik membuat para relawan selalu mengingat beliau. “Selamat Jalan Mbah Suminem, inshaAllah Mbah mendapatkan tempat yang pantas disisi Allah swt,” ucap Muna mewakili Relawan Nusantara.

Begitulah, betapa besar peran relawan bagi masyarakat. Mereka saling bergotong royong memikul beban pengabdian. Sahabat Kalsel berkolaborasi dengan Relawan Nusantara menjadi solusi bagi permasalahan di banua ini. Semoga sinergi seperti ini bisa ditiru siapa saja, karena dengan bersama-sama maka semua lebih ringan rasanya.

Mengenal Lebih Dekat Relawan Nusantara

Dari relawan, mengabdi kepada negeri untuk kebahagiaan umat dan masyarakat dunia khususnya Indonesia. Itulah misi dari Relawan Nusantara yang dibentuk sebagai wadah atau sarana bagi para pemuda Indonesia untuk membentuk pribadi-pribadi  yang tangguh, kreatif, inovatif dan berjiwa sosial tinggi. Relawan Nusantara juga ingin membentuk pribadi yang dapat berbagi kemanfaatan potensi diri di tengah-tengah masyarakat.

Munajatunnisa, salah satu relawan yang bergabung ke dalam Relawan Nusantara sejak empat tahun yang lalu mengaku banyak hal positif yang didapat. “Saya ingat sekali pada kegiatan pertama dapat amanah menjadi penanggung jawab kegiatan Relawan Cilik, acaranya itu membuat figura menggunakan stik ice cream. Dari sana saya belajar bagaimana menjadi pribadi yang bertanggungjawab dengan jiwa kepemimpinan,” tutur Muna.

Selain itu, Muna juga mengaku akhirnya memahami bagaimana menjadi pribadi yang berjiwa sosial tinggi. “Membantu menjaga Mbah Suminem menjadi kontribusi saya untuk itu,” imbuhnya.

Muna hanyalah satu contoh kisah relawan yang bisa menjadi cerminan tentang lingkungan banua kita saat ini. Tentu banua ini tak cukup hanya dengan satu Muna. Maka dukungan moril dan materiil dari kita lah yang bisa membantu gerakan kerelawanan ini semakin meluas.

Penulis : Eggy Akbar Pradana

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Bersabar Hingga Akhir Hayat, Lahirkan Kebaikan yang Bertunas

Mengenang Sosok Suminem, Lansia Duafa Penderita Gagal Ginjal

Selama dua pekan dirawat di rumah sakit, tak ada keluhan keluar dari mulutnya. Sosok Suminem atau biasa disapa Mbah Suminem itu seolah menjadi cambukan bagi kita dalam berbuat kebaikan. Kini, Mbah Suminem tidaklah benar-benar tiada, karena beliau masih tetap hidup dalam kebaikan-kebaikan dan kasih sayang yang telah Ia lakukan semasa hidupnya.

(Wahyu Aji Saputra, Banjarbaru)

Mbah Suminem mungkin hanyalah perempuan tua yang tinggal di rumah sederhananya di Jalan Parambaian Sungai Besar, Banjarbaru. Namun, bagi Radar Banjar Peduli (RBP) Mbah Suminem telah menjadi pejuang hebat yang memberi arti.

Setiap perempuan pasti bermimpi memiliki suami yang dapat diandalkan dan mampu memberi nafkah yang cukup. Namun rupanya tidak bagi Mbah Suminem. Ia menikah dengan seorang lelaki yang memiliki kekurangan secara mental. Kasim, demikian lelaki itu biasa disapa. Meski begitu, Mbah Suminem tak pernah ragu memberikan kasih sayang untuk suaminya.

Sehari-hari Mbah Suminem berjualan nasi kuning dan lontong untuk menghidupi keluarga. Di mata para tetangga Mbah Suminem dikenal sebagai orang yang begitu baik, disenangi dan dihormati. “Mbah itu nggak segan untuk berbagi rezeki, padahal keadaan beliau serba kekurangan,” ujar Ratna, salah seorang tetangganya.

Apalagi, lanjut Ratna, tepat sekitar lima bulan yang lalu, Mbah Suminem menderita sakit. “Hampir seluruh badan Mbah Suminem bengkak. Jadi nggak bisa jualan. Untuk sekedar menghidupi sehari-hari saja cukup susah, apalagi untuk pengobatan,” ujarnya lagi.

Namun Tuhan ternyata sangat menyayangi Mbah Suminem. Uluran tangan para tetangga senantiasa ada untuknya. Dari makanan hingga membantu memperbaiki peralatan rumah tangga yang rusak.

Hingga pada Jumat (9/2) lalu, RBP akhirnya dipertemukan dengan Mbah Suminem melalui seorang dermawan yang telah lebih dulu membantu. Dengan semangat kemanusiaan, relawan Sahabat Kalsel menyambangi Mbah Suminem untuk dibawa ke rumah sakit agar dapat perawatan yang lebih layak. “Mbah sempat tidak mau, tapi saya dibantu beberapa tetangga membujuknya hingga berhasil,” terang Devi Putri Listyasari, relawan Sahabat Kalsel.

Ditemani oleh suami beliau, Mbah Suminem akhirnya dirawat di RSUD Ulin, Banjarmasin. “Menurut dokter, beliau menderita gagal ginjal jadi diharuskan perawatan yang intensif,” ucap Devi.

Selama di Banjarmasin pendampingan Mbah Suminem dibantu oleh para relawan dari Relawan Nusantara. Tak ada kesedihan yang diperlihatkan oleh Mbah Suminem selama dirawat. Ia malah bersikap sabar dan bahkan kebaikan hatinya masih dapat dirasakan oleh para relawan. “Nanti kalau sudah sembuh, saya bikinkan peyek ya,” ucapnya satu kali kepada para relawan disertai sebuah senyuman. Tak pelak ucapan itu membuat para relawan terharu.

Kasim, sang suami juga tak henti-hentinya memberikan curahan perhatian kepada Mbah Suminem. Tak jarang Kasim menyuapi dan memijat badan Mbah Suminem.

“Rasanya masih banyak yang ingin dilakukan bersama Mbah Suminem, ingin belajar hidup dari beliau. Namun, ternyata Allah lebih ingin bertemu dengan Mbah,” ungkap Devi.

Tepat hari Jumat (23/2), hari yang sama saat beliau masuk RS, Mbah Suminem menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 73 tahun. “Padahal saat itu Mbah mau proses cuci darah yang kedua,” pungkas Devi.

Tak ada cara yang paling indah dalam belajar berbagi kebaikan selain menjadi saksi dari kebaikan itu sendiri. Mungkin ini jua lah maksud dari takdir Tuhan untuk saling mempertemukan para insan kebaikan.

Kematian Mbah Suminem menuai nilai hidup yang luar biasa bagi para relawan. Mbah Suminem dengan waktunya telah membuktikan bahwa kebaikan yang tulus akan selalu mendapat tempat yang tepat. Dalam sisa hidupnya, masih ada benih kebaikan yang siap untuk bertunas kembali. Jadi, bagaimana dengan kita? Yang sudah menjalani masa hidupnya hingga sekarang? Adakah kebaikan yang bisa untuk ditinggalkan dan dikenang?.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Momentum untuk Berbuat Nyata

(Dari kegiatan Workshop dan Pelatihan Siaga Bencana untuk Kampus di Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM hari Ke-2)

Hari kedua pelatihan siaga bencana untuk kampus berlangsung makin seru. Trainer pertama, Ruli Renata dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), memberikan wawasan baru dan menarik tentang kerelawanan. “Relawan itu berat, kamu nggak bisa sendiri, mari sama-sama,” ucapnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Ruli yang telah berkiprah selama puluhan tahun di dunia relawan menjelaskan bahwa relawan itu adalah passion. “Kerja kemanusiaan itu memang harus dengan kecerdasan, tapi untuk menjadi relawan harus dengan panggilan hati juga,” pungkasnya. Setelah belajar manajemen relawan, para peserta kemudian diarahkan untuk berdiskusi tentang potensi, wilayah pengabdian, dan organisasi relawan. Semangat begitu terlihat dari serunya diskusi yang terbangun.

Keseruan semakin terasa saat memasuki sesi simulasi. Peserta belajar memadamkan api bersama tim Damkar Kota Banjarmasin. “Wah seru sekali, ternyata memadamkan api itu mudah kalau kita tau caranya,” ujar Najmi, salah satu peserta yang pertama kali mencoba simulasi.

Terakhir, para peserta diajak melakukan kampanye peduli lingkungan dengan melakukan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Bertindak sebagai fasilitator adalah Ketua Sahabat Kalsel Ahmad Khairil dan Bidang Humas Sahabat Kalsel Achmad Ridho Indra.

Ketua Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM Yudha Irhasyuarna SPd MPd menyampaikan ucapan terima kasih kepada RBP atas partisipasinya membangun semangat kerelawanan di kalangan mahasiswa. “Saya berharap ini jadi momentum bagi kami untuk bisa berbuat nyata untuk masyarakat,” ucapnya.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani mengapresiasi gebrakan yang dilakukan Yudha Irhasyuarna. “Semangat kepedulian ini harus kita jaga, kita apresiasi setinggi-tingginya karena kampus adalah wadah untuk mencetak pemimpin bangsa. Maka diperlukan SDM dengan karakter kepedulian yang tinggi,” harapnya.

Penulis dan Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Bangun Sikap Peduli

(Dari kegiatan Workshop dan Pelatihan Siaga Bencana untuk Kampus di Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM)

BANJARMASIN – Prodi Pendidikan IPA Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar workshop. Gelaran bertajuk masyarakat kampus peduli bencana itu digelar kemarin (20/2) dan hari ini (21/2) di Gedung Pasca Sarjana ULM.Workshop bekerjasama dengan Radar Banjar Peduli (Sayap sosial Radar Banjarmasin). Diisi oleh tiga pemateri. Yakni Cipto Sugiarto dari Masyarakat Relawan Indonesia, Loli Hidayat dari BPBD Kota Banjarmasin serta Hasibah Eka Rosnelly dari perwakilan Kemensos RI.

Ada 25 peserta yang mengikuti gelaran tersebut. Terdiri 20 mahasiswa S1 jurusan Pendidikan IPA dan lima dari S2. Workshop juga dilengkapi dengan pelatihan siap siaga bencana. Kepala Prodi Magister Pendidikan IPA Pasca Sarjana ULM, Yudha Irhasyuarna menyebut jenjang pendidikan tak bisa jadi tolak ukur tingkat kepedulian terhadap sesama. Itulah alasan digelar workshop tersebut.

“Ya di sekolah atau di kampus tidak ada pelajaran peduli. Kami ingin membangkitkan peduli mahasiswa kami. Agar ilmu yang dimiliki bermanfaat,” tuturnya. Dari pengamatannya, saat ini kepedulian cenderung turun. Semakin tinggi ilmu seseorang, kepekaan justru makin memudar. “Ini yang ingin kami bangun lagi,” lanjutnya. Direktur Program Pasca Sarjana ULM, Udiansyah, menambahkan, pelatihan tersebut juga sebagai sarana menambah kompetensi bagi mahasiswa.  “Suana kepedulian tersebut merupakan atmosfer di lingkungan akademik.

Kami ingin karakter peduli tersebut ada. Apalagi di zaman sekarang, perlu adanya skil dan kompetensi,” bebernya. Salah seorang peserta bernama Selvia mengaku mendapat tambahan ilmu. Dari workshop dan pelatihan siaga bencana yang diikutinya itu.

“Pelatihan ini membuat kepekaan terhadap diri kami. Apalagi saya aktif dalam pramuka, sikap peduli itu penting,” ucap mahasiswi S1 jurusan Pendidikan IPA itu. Sementara itu, Direktur Radar Banjar Peduli, Diauddin berpesan agar relawan nantinya bekerja ikhlas. Tanpa mengharapkan imbalan. “Jadi relawan itu berkah,” pungkasnya.(eka/at/nur)

Sumber : Radar Banjarmasin edisi Rabu 21 Februari 2018 halaman 14

Byadmin

Menakar Kemiskinan

Oleh: Yohandromeda Syamsu (Alm)

Sering orang miskin dipandang rendah, dianggap gagal dalam menjalani hidup, tidak pintar, minim pendidikan, dan sebagainya. Karenanya, orang miskin  kurang dihormati, jarang dilibatkan, kecuali dalam peran yang memang cocok bagi mereka. Faktanya, orang miskin tidak selalu merasa menderita. Meski miskin, mereka bisa tertawa, gembira, dan juga bersyukur sebagaimana orang kaya, bahkan hidupnya jauh lebih tenang.

Ya, kemiskinan memang bisa karena banyak hal, pertama karena keadaan yang memaksa.  tidak mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, jatuh pailit, atau tertimpa banyak hutang. Usaha yang selalu gagal, menjadi orang yang tersisih, atau tertinggal karena tidak memiliki kecakapan hidup, dan sebagainya. Kedua, mereka yang memang sengaja menjalani hidup dengan keadaan miskin. Orang-orang ini tidak merasa menderita dengan keadaannya itu. Mereka tidak mau tinggal di rumah mewah, berpakaian yang serba wah, juga tidak kepingin memiliki uang banyak, tabungan atau harta yang melimpah. Mereka hanya ingin hidup secukupnya atau sederhana, tidak ingin terbebani atau terbelenggu hidupnya oleh harta, atau disebut sebagai menjadi abdi harta benda.

Orang yang menyukai atau mencintai harta, tatkala melihat orang yang sengaja hidup sederhana menganggapnya aneh. Tunggu dulu, jangan dikira, mereka yang menjalani hidup sederhana itu selalu bodoh. Bisa jadi mereka lebih pintar. Mereka memilih jalan hidup seperti itu, didasari oleh logika dan keyakinannya tersendiri. Walau, umumnya, orang menyukai harta. Tetapi, ada juga yang sebaliknya, tidak menyukainya. Artinya, tidak semua orang miskin selalu identik dengan kerendahan. Lihat saja misalnya, para kyai atau ulama yang mengambil sikap hidup sederhana. Mereka sengaja memilih cara hidup sederhana, tidak menganggap bahwa harta selalu bisa menyelamatkan dirinya.

Mereka yang berpotensi kaya, namun tidak memanfaatkannya, ternyata ada di mana-mana, dalam khazanah Islam disebut kaum shufi. Dikalangan pesantren dikenal istilah kyai waro’. Kaum shufi atau kyai waro’, biasanya lebih dihormati. Ada sebagian pemahaman, kalau ulama’atau kyai yang menjalani hidup sederhana justru dipandang sebagai ulama’atau kyai yang sebenarnya.

Sementara, orang kaya memandang kemiskinan identik dengan penderitaan, kaum shufi atau kyai waro’ melihat justru sebaliknya. Orang kaya, apalagi mereka tidak memanfaatkan kekayaannya secara benar, dipandang sebagai penyandang derajad rendah. Sebaliknya, secara umum orang miskin dianggap menderita, harus ditolong, istilah populernya dientaskan, diangkat dari lembah penderitaannya.

Memahami orang lain ternyata tidak mudah, sering terjadi salah paham. Perasaan bahagia dan derita bisa ada pada mereka yang berharta ataupun yang papa. Lihatlah, banyak orang kaya, berpangkat tinggi, sehari-hari hidup diliputi oleh suasana gelisah. Mungkin karena korupsi atau sebab lain, akhirnya dimasukkan penjara. Orang-orang seperti itu tidak akan bisa merasakan kenikmatan dari kekayaannya. Tragis lagi, justru kekayaannya itu yang menjadikan sebab, mereka masuk bui.

Boleh-boleh saja menjadi kaya, tetapi tidak perlu merendahkan yang miskin. Kaya dan miskin adalah biasa. Orang kaya, tidak identik dengan hidup sukses. Sukses dalam hidup tidak selalu diukur dari jumlah hartanya. Keberhasilan hidup dalam Islam diukur dari tingkat keimanannya, amal sholeh, dan kemuliaan akhlaknya. Orang yang memenuhi ukuran itu, bisa saja berasal dari orang miskin atau juga orang kaya. Begitulah semestinya berakhlak terhadap orang miskin, tidak merendahkan dan atau menganggap hina.

Berangkat dari pandangan itulah, sesungguhnya ada perspektif lain dari pengertian kemiskinan. Yaitu, miskin keimanan, miskin amal sholeh, dan juga miskin akhlak. Mereka itu juga perlu ditolong, dientaskan, dan diajak ke jalan yang benar. Kemiskinan iman, amal sholeh, dan miskin akhlak bisa lebih berbahaya dari sebatas miskin harta. Inilah akhlak yang seharusnya dibangun bersama, Namun, menolong mereka yang miskin harta pun, tidak boleh berhenti.[]