Homecare : Jalan Panjang Hanil Jalani Pengobatan

Byadmin

Homecare : Jalan Panjang Hanil Jalani Pengobatan

Sinergi Program : RBP – Dinkes Kota Banjarbaru – IDI Kota Banjarbaru

Siapapun di dunia ini tentu tidak ada yang ingin hidup dalam kondisi cacat atau lumpuh. Namun terkadang keadaan tidak bisa diatur sesuai kehendak diri. Seperti yang dialami Hanil, lelaki 45 tahun asal Kecamatan Cempaka Banjarbaru, kini hanya bisa terbaring di atas kasur karena mengalami patah tulang belakang akibat kecelakaan saat bekerja. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2016 yang lampau. “Waktu itu saya tertimpa bongkahan bangunan dari atas saat sedang bekerja,” kenang Hanil saat ditanya kronologis kejadian.

Setelah itu Hanil sempat dirawat di rumah selama lima hari sebelum dibawa ke rumah sakit. “Kami sempat bolak balik ke rumah sakit sebanyak empat kali, tapi karena kondisi keuangan semakin menipis akhirnya dirawat di rumah saja,” ujar Sahni (44), istri Hanil. Sejak suaminya tak bekerja, Sahni memang hanya mengandalkan tabungan dan pemberian anak untuk kebutuhan sehari-hari.

Atas bantuan seorang dermawan, Hanil akhirnya mendapatkan BPJS dan melanjutkan pengobatan ke rumah sakit. Setiap dua minggu sekali Hanil harus mengganti kateter (alat buang air kecil). Hal ini membuat keluarga kerepotan dan akhirnya pada bulan November 2016 meminta bantuan kepada RBP. Sejak saat itulah RBP melakukan pendampingan pengobatan untuk Hanil.

Dokter Fatmawati Spesialis Syaraf yang menangani Hanil beberapa bulan terakhir menjelaskan bahwa yang bisa diupayakan untuk saat ini adalah terapi untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi. “Kemungkinan untuk pemulihan dari sisi kecacatan memang jelek, jadi sekarang yang ditangani adalah nyeri supaya dia bisa hidup lebih nyaman dan mencegah komplikasi akibat duduk atau tirah baring lama seperti decubitus,” ungkapnya.

Fatmawati menyayangkan penanganan yang cukup terlambat sejak awal kejadian. “Kalau saja sejak awal ditangani secara cepat dan optimal, mungkin kemungkinan pemulihan dari cacat bisa lebih baik,” imbuhnya.

RBP sendiri melakukan peran pendampingan untuk meringankan beban Hanil dan keluarga. “Hanil adalah kepala keluarga, sedangkan istrinya mau tidak mau harus melakukan perawatan harian dan menjaganya, sehingga tak bisa bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Kami lakukan pendampingan dalam bentuk bantuan kunjungan dokter dan berobat rutin,” terang Direktur RBP Dokter Diauddin.

Diauddin menyampaikan bahwa RBP tidak bekerja sendiri. Banyak mitra peduli yang bergandengan dalam upaya menuntaskan masalah sosial kemanusiaan tersebut. “Alhamdulillah ada para relawan medis dari Akper Intan Martapura yang secara sukarela membantu melakukan upaya perawatan rutin ke rumah Hanil. Selain itu untuk mengantar ke RS juga dibantu ambulan dari Masjid Agung Al Munawarah Banjarbaru,” paparnya.

Sinergi seperti itu, lanjut Diauddin, menjadi solusi yang tepat bagi kondisi Hanil. “Bagaimanapun nanti, yang jelas upaya terbaik yang akan kita lakukan demi kemanusiaan,” imbuhnya.

Ya. Tentu RBP tak bisa bergerak sendiri. RBP memerlukan dukungan semua pihak dalam mengemban amanah dan berupaya menyelesaikan masalah sosial kemanusiaan di sekitar kita. Dengan kedermawanan yang terulur maka kebaikan demi kebaikan akan terus terwujud di sekitar kita. Aamiin. (en)

 

 

About the author

admin administrator

Leave a Reply