Masih Butuh Bantuan untuk Bertahan Hidup

Byadmin

Masih Butuh Bantuan untuk Bertahan Hidup

Mengunjungi Sumiati Pasca Operasi Kanker Payudara

Menderita kanker payudara sejak dua tahun yang lalu tidak menjadikan Sumiati perempuan yang lemah. Ditinggalkan begitu saja oleh suami kembali ke tanah Jawa dan akhirnya hanya hidup berdua dengan sang anak selama bertahun-tahun dalam keadaan ekonomi yang sulit menjadi jalan hidup yang tak mampu Ia tolak. Namun meski demikian, Ia tetap berjuang tanpa lelah sampai akhirnya bertemu Radar Banjar Peduli dan menemukan harapan baru dalam hidupnya.

(Nadia Susiyana, Banjarbaru)

“Mba Sum, kamu kan sekarang abis operasi, jadi kamu nggak usah kerja dulu setengah tahun. Kamu nggak usah kerja lagi di Kantin”

Ucapan itu ditiru Sumiati saat bercerita kepada penulis tentang majikannya yang tidak bisa mempekerjakannya lagi. “Kalau nggak kerja lagi selama setengah tahun, apa yang saya makan?” gumamnya dengan wajah sedih. Sumiati hanya bisa diam, memendam kekecewaan dan kesedihan yang mendalam lantaran diberhentikan bekerja untuk sementara waktu karena penyakit yang dideritanya.

“Dulu saya sempat bekerja di kantin Kantor Gubernur. Digaji empat puluh ribu per hari, dari jam enam pagi sampai setengah empat sore. Cukuplah memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya saat mengenang masa-masa ia bekerja dahulu.

Kini, tanpa pekerjaan beban Sumiati terasa sangat berat. Semua serba terbatas, mulai dari makanan hingga keuangan. Anaknya yang putus sekolah setelah lulus dari bangku sekolah dasar membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan. Hidup hanya berdua dengan anak dalam kondisi serba keterbatasan, tanpa suami dan dukungan keluarga membuat ia benar-benar merasa kesepian.

“Saya sudah lama ditinggalkan suami pulang ke Jawa, nggak tau lagi gimana beritanya. Nggak tau juga alasannya kenapa dia meninggalkan saya,” tutur Sumiati tentang suaminya.

Zailani (28), sang anak, juga memendam kesedihan sekaligus kekecewaan terhadap ayahnya. Namun, meski demikian, Zailani tetap berkeinginan mempertemukan kembali ayah dan ibunya. “Saya masih ingin mereka bersama lagi,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Dalam keterbatasan itu, Zailani ingin bisa membahagiakan Sumiati.

Sumiati mengaku tiap malam menangis memikirkan kanker yang dideritanya. “Kemarin itu payudara kiri sudah sampai bernanah. Saya ngomong minta bantu sama keluarga, tapi nggak bisa. Saya bingung,” sambungnya. Akhirnya Ia hanya bisa berpasrah dengan doa dan memperbanyak ibadah. Alhamdulillah doa-doa Sumiati terjawab pada bulan Oktober 2017 lalu. Sumiati mendapatkan bantuan dari RBP berupa pendampingan berobat.

Bersama RBP, Sumiati dibantu hingga menjalani operasi pada bulan November 2017 yang lalu. “Alhamdulillah saya senang sekali ketemu RBP dan bisa menjalani operasi, rasanya plong sekali ternyata masih ada yang peduli sama saya,” ucapnya.

Selama pengobatan, Sumiati ditangani oleh dr H M Yamsun SpB (K) Onk. “Kondisi kanker payudara Sumiati saat tiba di rumah sakit sudah stadium lanjut. Sebenarnya penanganan yang baik itu dilakukan kemoterapi dahulu baru kemudian operasi. Tapi karena sudah luka berbau dan ada pendarahan juga, jadi kita segera lakukan operasi pengambilan tumor beserta payudaranya,” ungkap Dokter Yamsun.

Dokter Yamsun mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan kanker ini. “Bisa dari faktor internal penderita sendiri misalnya seperti keturunan dan faktor eksternal misal penggunaan asupan obat, makanan atau paparan dari luar,” tutur beliau. “Tidak bisa dipastikan kapan Sumiati dapat benar-benar sembuh, karena sangat tergantung dengan hasil lab PA (Patologi Anatomi) dan IHK (Imuno Histo Kimia). Hasil ini akan menentukan baik tidaknya masa depan penyakit. Setelah ada hasil lab PA, baru nanti kita teruskan dengan obat kemoterapi kalau hasil PA-nya ganas,” tutur dokter yang praktek di RS Ratu Zaleha itu kepada penulis.

Begitulah, perjuangan Sumiati masih panjang. Atas kebaikan-kebaikan para donatur yang telah berdonasi melalui RBP lah, nasib duafa seperti Sumiati bisa lebih baik. “Saya dibantu bayar kontrakan, biaya hidup, dan dipinjami sepeda motor supaya anak bisa bekerja,” ucap Sumiati.

Direktur RBP Dokter Diauddin MKes mengucapkan terima kasih atas semua dukungan masyarakat. “Tanpa dukungan para dermawan tentu kami juga tak bisa berbuat banyak. Terima kasih karena telah ikut berperan dalam aksi-aksi kepedulian kami,” ujarnya.

Tentu masih banyak duafa yang juga memerlukan uluran tangan kita semua. RBP terus membuka donasi kepedulian terhadap orang sakit melalui nomer rekening Bank Syariah Mandiri 0260018953 atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli. Bagi yang berdonasi diharapkan konfirmasi via sms ke 081333272004.

Ayo terus berbagi kebaikan untuk menjalin persaudaraan. 

Editor : Retno Sulisetiyani

About the author

admin administrator

Leave a Reply