Bantu Mustadi, Bocah Penderita Kanker Asal Cempaka

Byadmin

Bantu Mustadi, Bocah Penderita Kanker Asal Cempaka

Mustadi, bocah 11 tahun itu seperti tak terlihat sedang sakit. Ia asik bermain dengan adiknya, Edo, yang empat tahun lebih muda darinya. Namun, wajahnya yang pucat tak bisa membohongi keadaannya yang telah berjuang melawan kanker darah sejak empat tahun yang lalu.
Ruang anak kelas 3 RS Idaman Banjarbaru. Di sanalah Mustadi dirawat. Sang Ibu, Solatiah, tampak duduk bersender di salah satu dinding ruangan itu. “Saya sedih mengetahui anak saya kena kanker, saya ingin Ia sembuh kembali,” ungkapnya kepada penulis. Sejak 2013 yang lalu, perempuan berusia 35 tahun itu berjuang sekuat tenaga membawa Mustadi berobat. “Saya ikuti semua proses pengobatan. Alhamdulillah gratis,” kisahnya.
Namun, rupanya pengobatan kanker tidaklah sebentar. Menurut Dokter Harapan Parlindungan Spesialis Anak dan Hematologi, Mustadi sudah menjalani kemoterapi dan selama satu tahun awal berjalan baik. “Namun ketika hampir menyelesaikan proses kemoterapi, ternyata kambuh lagi sehingga program kemo pun diulang,” ujar dokter yang biasa disapa Dokter Parlin tersebut.
Di tahun kedua, kondisi serupa terjadi kembali sehingga menyebabkan Solatiah putus asa. Bagaimana tidak? Untuk pengobatan Mustadi, Solatiah terpaksa menjual rumahnya. “Semua harta benda sudah terjual, cuma tersisa punya rumah hasil kerja suami. Sementara saya pengen Mustadi sehat kembali, ya kami jual rumah tersebut,” akunya.
“Saya tak sanggup lagi. Tidak ada biaya untuk ke RS. Kerjaan suami sedang sepi,” ucapnya kala itu.
Ahmad (43), suami Solatiah, memang hanya mengandalkan hidup dari hasil mendulang. Sudah berbulan-bulan ini tidak mendapatkan hasil apapun.
Beruntung, kepedulian Dokter Parlin terhadap pasiennya menggugah salah satu rekan medisnya untuk menggalang dana. Dialah Dokter Siti Ningsih, yang juga adalah pengurus Radar Banjar Peduli (RBP).
“Saya bermaksud mengajak bapak ibu yang ingin membantu mama Mustadi supaya bisa tetap menjalankan program kemoterapi karena anak ini masih ada kemungkinan untuk baik dan beraktifitas normal,” tulisnya melalui pesan whatsapp.
Dana yang Ia kumpulkan kemudian dititipkan ke RBP untuk dikelola. “Mudahan dengan dikelola lembaga, kesinambungan pengobatan lebih terjaga karena dana benar-benar disalurkan sesuai peruntukannya,” ucapnya.
Direktur RBP Dokter Diauddin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas sinergi yang telah terjalin. “Alhamdulillah dengan sinergi seperti ini harapan Mustadi untuk sembuh dapat kembali bersinar. Semoga makin banyak tangan terulur, tidak hanya untuk Mustadi tapi juga penderita kanker lainnya,” ujar Dokter Diauddin.
Sahabat, banyak pejuang kanker di Kalimantan Selatan sedang berjuang keras. Bukan untuk melawan maut, melainkan untuk bertahan hidup dengan baik. Mereka berhak untuk bahagia. RBP hadir membersamai mereka bukan untuk menjadi pahlawan, namun ingin menjadi teman seperjuangan. Membersamai dalam setiap tangis bahkan tawa. (en)

About the author

admin administrator

Leave a Reply