Cukup Menjadi Manusia untuk Peduli terhadap Warga Ghouta

Byadmin

Cukup Menjadi Manusia untuk Peduli terhadap Warga Ghouta

Sudah tujuh tahun lamanya konflik di Suriah terjadi. Sejak konflik pecah pada 2011 silam, sudah ribuan rakyat sipil yang tewas, ratusan orang yang alami cacat permanen akibat bom, dan ribuan orang terkatung-katung di pengungsian. Hingga kini, tragedi kemanusiaan ini belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Tidak ada yang menyangka bahwa konflik yang berawal dari aksi unjuk rasa secara damai pada Arab Spring 2011 tersebut berujung tragedi kemanusiaan selama bertahun-tahun. Konflik semakin pelik karena sudah banyak yang ikut terlibat di dalamnya. Tidak hanya vis to vis antara rezim dengan kaum oposisi saja, namun juga berbagai kepentingan luar yang turut berintevensi.

Eskalasi konflik kembali memuncak pada dua pekan kemarin. Ahad (18/2), serangan bombardir dari pesawat jet tempur rezim terus menerus menggempur Ghouta Timur. Mereka menyasar rumah warga, hingga fasilitas umum lainnya seperti masjid, rumah sakit, sekolah, dan bangunan lainnya.  Sekitar 500 jiwa tewas, lebih dari 120 di antaranya adalah anak-anak. Serangan ini dinilai berbagai kalangan sebagai kondisi perang terburuk di Suriah, bahkan melebihi Aleppo pada 2016 lalu.

Masyarakat dunia pun mengecam pembantaian warga sipil di Ghouta Timur. Namun kecaman tersebut belum bisa menghentikan tragedi kemanusiaan di Bumi Syam itu.

Menurut N.Imam Akbari selaku Senior Vice President ACT, lembaga perdamaian dunia seperti PBB bahkan masih belum mampu menghentikan serangan terhadap warga sipil di sana.

“PBB hanya menghimbau, belum ada tindakan yang bisa mengkondisikan konflik berdarah ini berhenti. Bayangkan lembaga sekaliber PBB yang anggotanya terdiri dari ratusan negara dan merupakan representasi dari masyarakat dunia, yang sebenarnya bisa melakukan banyak hal, belum bisa berbuat banyak,” ungkap Imam.

Menanggapi fakta tragedi kemanusiaan tersebut, Imam menambahkan, sudah saatnya umat manusia bersatu memberikan solusi nyata untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Suriah. Tidak hanya umat Islam, namun seluruh umat. Sebab menurutnya, cukup menjadi manusia, untuk mempunyai empati dan peduli  terhadap warga Ghouta Timur, Suriah.

“Melalui tim kemanusiaan kami, yaitu Tim SOS for Syria XIV, ACT siap menjembatani kepedulian dari berbagai elemen untuk membantu warga Suriah, korban konflik berdarah,” pungkasnya. (act-rbp)

About the author

admin administrator

Leave a Reply