Di Kampung Per, Geni Lahap Sekali Makan Nasi

Byadmin

Di Kampung Per, Geni Lahap Sekali Makan Nasi

Kalau berjalan lebih cepat, suara tapak kaki jadi makin nyaring di kampung ini, Kampung Per. Kaki bocah-bocah Asmat yang berlarian mengeluarkan bunyi gemeretak. Seluruh jalan utama masih berupa papan-papan kayu yang dibikin dan disusun sekitar beberapa dekade lalu. Papan kayu dibuat menjadi jalan layang yang terpacak di atas tanah rawa berlumpur, tanah yang menjadi ciri khas Kabupaten Asmat.

Berjalan di beberapa ruas gang kampung, papan kayu sudah mulai reyot, retak, bahkan patah, menghilang, dan bolong. Papan bakal berbunyi nyaring kalau ditapaki, apalagi sembari diinjak oleh kaki-kaki anak Kampung Per yang berlarian.

Walau Kampung Per masih termasuk bagian dari Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, lokasinya terpisah cukup jauh. Sekira dua jam perjalanan laut dengan longboat sarat muatan. Kalau cuaca buruk, atau laut surut sudah bisa dipastikan akses ke Kampung Per tak bakal bisa ditempuh.

Tim ACT (Aksi Cepat Tanggap, lembaga mitra nasional RBP), sempat singgah sejenak di Kampung Per, Ahad (11/2) lalu. Menapaki tiap-tiap ruas jalan papan, menyapa bocah-bocah Kampung Per. Di satu sudut kampung, di depan rumah, seorang bocah kecil sedang lahap memegang sendok di depan piring hijau. Di atas piring hanya ada nasi putih, tanpa lauk, tanpa rasa.

“Namanya Geni Siso, umurnya 4 tahun. Anak ini kalau ada nasi pasti maunya hanya makan nasi saja. Tidak pakai lauk. Geni suka sekali nasi,” kata Laurensius, Paman Geni menyapa kami di depan rumah.

Paman Geni mengatakan, beras yang dimakan oleh keponakannya adalah beras yang baru saja dibagikan oleh ketua kampung di Rumah Bujang.

“Tadi siang, ada bantuan beras dari Agats 20 karung beras. Dibagikan langsung merata di Rumah Bujang. Mama Geni langsung menanak nasi ini untuk Geni makan,” kata si paman.

Rupanya betul tebakan kami, nasi putih yang sedang dimakan Geni adalah beras Kapal Kemanusiaan Papua yang memang baru saja dikirimkan untuk Kampung Per.

“Dari Agats, sebelum Tim ACT datang untuk singgah sejenak, satu kapal longboat sudah berjalan mengangkut 20 karung beras setara 500 kg untuk Kampung Per. Beras langsung dibagikan oleh Ketua Kampung di Rumah Bujang, rumah adat Asmat,” ujar Diding Fachruddin, Koordinator Tim ACT untuk distribusi bantuan beras Kapal Kemanusiaan Papua.

Setiap sendokan nasi yang dimakan Geni, betul-betul dinikmati oleh balita itu. Ia menyuap nasi hangat itu dengan lahap, tak peduli dengan kondisi tubuh mungilnya yang tidak berbusana. Kata pamannya, Geni memang suka tidak pakai pakaian. Geni juga lebih suka mandi di sungai lumpur. Mama Geni setiap sore selalu ke sungai untuk mencari ikan, sementara sang Ayah sudah tiada sejak Geni masih bayi.

“Baru seminggu lalu saya lari ke puskesmas bawa Geni. Badannya panas tinggi. Kata suster di Puskesmas, Geni kena Malaria,” ungkap Laurensius.

Sejak akhir Januari kemarin, krisis kesehatan berupa gizi buruk dan malaria juga merebak di Kampung Per. Bahkan, angka malaria melejit. Jumlah pasien anak positif malaria sampai puluhan hanya dalam dua pekan terakhir.

“Dua minggu ini ini kami tidak bisa tidur. Sepanjang malam, jam 1 dini hari, jam 4 subuh, jam berapapun di malam hari ada saja warga bawa anaknya panas tinggi ke puskesmas. Semua kena malaria,” cerita Hendrikus Hermin, perawat di Puskesmas Pembantu Kampung Per, Distrik Agats.

Hendrikus mencatat, sejak tanggal 27 Januari lalu tak kurang 36 anak di Kampung Per positif terkena malaria.

“Bahkan, seorang perawat perempuan kawan saya di Puskesmas Kampung Per ini sedang terbaring lemas, juga positif kena malaria. Selain itu ada 2 anak lain kena gizi buruk, dan puluhan anak-anak lain masuk kategori gizi kurang,” kata Hendrikus.

Dua pekan terakhir, malaria memang menjadi teror di Kampung Per. Geni menjadi salah satu bocah yang terpapar malaria. “Tapi, Geni kini perlahan sudah sembuh. Geni sempat dirujuk sementara ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats. Beberapa hari perawatan intensif, sampai akhirnya Geni dibolehkan pulang,” ujar Hendrikus.

Di ujung sore, Tim ACT duduk di teras rumah papan, menemani Geni yang masih lahap menghabiskan sepiring nasi putih. Bocah Asmat dari Kampung Per itu memang masih sedikit menyembunyikan senyumnya. Tapi, setelah sembuh dari malaria, Geni sudah mulai membaik. Gizi dari sepiring nasi, meski tak lengkap, tetap membantu Geni untuk pulih.

“Alhamdulillah, setiap butir beras yang sudah kami mulai distribusikan ke tiap-tiap kampung di Asmat bisa sangat berguna di fase pemulihan. Perbaikan gizi dimulai bertahap. Insya Allah, beriringan dengan dikirimnya beras, akan ada juga distribusi biskuit dan air mineral sampai ke kampung-kampung lainnya di pedalaman Asmat,” papar Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap. (act/rbp)

About the author

admin administrator

Leave a Reply