Enam Bulan Beradaptasi, Sempat Nangis Dua Hari

Byadmin

Enam Bulan Beradaptasi, Sempat Nangis Dua Hari

Mengunjungi Wildan, Penerima Beasiswa SMART Ekselensia Indonesia Asal Banua

Muhammad Wildan (12) yang sering disapa sebagai Wildan itu adalah salah satu anak yang beruntung mendapatkan beasiswa SMART Ekselensia Indonesia. Betapa tidak, karena seleksi masuk dengan persaingan ketat, maka pelajar yang benar-benar berprestasi dan siap secara psikis lah yang mampu bersekolah disana. Setiap tahunnya, sekolah itu hanya menerima 40 siswa se-Indonesia. Sabtu (16/12) yang lalu Wildan dan 4 siswa lain asal Kalsel telah dipulangkan dalam rangka liburan sekolah.

SMART Ekselensia Indonesia termasuk sekolah yang menyediakan beasiswa bagi kaum duafa yang memiliki keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Sekolah ini disajikan khusus untuk para anak laki-laki yang berprestasi dan mampu bersaing dengan anak-anak lain saat lulus sekolah nanti. Sekolah yang terletak di Kemang, Bogor, Jawa Barat itu memang patut disandingkan dengan sekolah-sekolah bergengsi lain di tingkat nasional.

Awal menjadi siswa SMART Ekselensia Indonesia, Wildan harus mengalami masa-masa sulit. Ia sempat kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan teman-temannya. Hal itu disebabkan karena perbedaan budaya dan bahasa daerah masing-masing. Menurutnya butuh waktu sebulan untuk bisa beradaptasi lebih dekat lagi dengan mereka. Wildan juga sempat menangis dua hari dua malam karena rindu akan keluarganya di Kalimantan.

“Syukur saja bisa berkomunikasi dengan sanak keluarga meski hanya melalui telepon genggam hari sabtu dan minggu,” tutur Wildan.

Namun, ketika kini memasuki musim liburan semester, Wildan malah ingin sekali cepat-cepat masuk sekolah. “Kangen sama temen-temen,” ucapnya sembari tersenyum simpul. Ia mengaku sangat senang sekali bisa kenal dengan teman-teman dari berbagai daerah.

“Mereka ramah, seru, dan jujur. Ditambah keseruan diajak out bond saat weekend tiba,” akunya lagi. Wildan merasa sangat dihargai dan diakui keberadaannya tanpa ada perbedaan derajat dan status sosial masing-masing.

Orang Tua Mendukung Penuh

Keberhasilan dan kebahagiaan yang diraih Wildan tentu ada peran orang tua di sana. Wildan mulanya tak menyangka bisa lolos ke sana. “Seleksinya banyak dan ketat, saingannya banyak sekali,” kenangnya. Wildan memang harus bersaing melawan ratusan anak se nusantara.

Namun dukungan orang tua berhasil membuatnya melewati tahapan demi tahapan seleksi. Awalnya, ia direkomendasikan oleh gurunya karena prestasinya yang cukup membanggakan sekolah. Prestasi yang ia raih juga tak main-main. Menurut ibunda wildan, Lili Hariyanti (29) Wildan mulai dari kelas 1 SD hingga kelas 6 SD selalu ranking 1 dan memenangkan banyak perlombaan khususnya yang berkategori islami.

Wildan juga pernah menjadi juara lomba meayat (menghapal ayat al qur’an), tilawah, dan lain-lain. Tak heran jika ia termasuk siswa favorit dan disukai oleh guru-gurunya di SDN Sungai Tiung 3 Cempaka Banjarbaru.

Lili Hariyanti menceritakan bahwa Wildan kecil tidak suka keluar rumah. Ia selalu fokus belajar dan serius tanpa ada gangguan dari teman-teman sebayanya yang sering keluar rumah untuk bermain-main. “Wildan suka belajar dan bersemangat untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru-gurunya dengan tekun dan baik,” imbuhnya.

Rupanya kecintaannya terhadap ilmu, membuat Wildan tumbuh menjadi pembelajar. Buktinya, keinginan bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia muncul atas inisiatifnya sendiri. “Kami kadada memaksa, murni niatan Wildan sendiri,” ujar Sairoji (36), ayahnya. Melihat semangatnya itulah, Sairoji sebagai orang tua mendukung sepenuhnya niat Wildan dan mendoakan Wildan agar bisa sukses disana.

Meski berjauhan, Sairoji yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pasir itu mengaku cukup tenang melepas anaknya. Apalagi dibolehkan menelpon pada hari sabtu dan minggu. Hanya mendengar suara Wildan saja cukup menenangkan hati Sairoji dan Istrinya.

“Sebenarnya pengen bisa menengok ke sana (Bogor) tapi nggak punya biaya, Istri saya tidak bekerja jadi uang sehari-hari cukup untuk makan saja,” ucap Sairoji.

Kondisi tersebut sangat dimengerti oleh Wildan yang merupakan anak pertama sekaligus anak laki-laki satu-satunya di keluarga Sairoji. Maka Ia tak pernah menuntut untuk dijenguk ke Bogor.

Keluarga Wildan menaruh harapan agar Wildan bisa meneruskan pendidikannya hingga ke jenjang kuliah. Wildan pun berharap seperti itu juga. “Saya harus semangat dan focus menggapai mimpi untuk membanggakan orang tua dan orang-orang yang ia sayangi. Tanpa terpengaruh apapun yang bisa menghambat impiannya,” ucapnya bersungguh-sungguh.
Ah, mimpi yang indah ya Wildan. Semoga banyak tangan kebaikan yang menghampiri Wildan dan keluarganya, sehingga mimpi itu dapat mewujud nyata. 

Penulis : Elma Apriliani

Editor : Retno Sulisetiyani

About the author

admin administrator

Leave a Reply