Kapal Kemanusiaan Palestina, Ekspresi Diplomasi Beras Bangsa Indonesia

Byadmin

Kapal Kemanusiaan Palestina, Ekspresi Diplomasi Beras Bangsa Indonesia

Muhajir Arif Rahmani

Media Network Development – ACT

Sukses melabuhkan “Kapal Kemanusiaan” pembawa beras dari Indonesia di Somalia (seribu ton) dan di Bangladesh (dua ribu ton) tahun 2017 lalu, memicu syukur, tapi bukan puas. Kapal Kemanusiaan harus selalu hadir selama krisis kemanusiaan menggayuti umat manusia. Salah satunya adalah Palestina, negeri yang masih dijajah hingga kini, namun tetap bertahan dengan segala cobaan beratnya.

Setahun setelah Indonesia merdeka, pemerintah unjuk eksistesi dengan mengirim bantuan beras ke India saat negeri itu dilanda kesulitan pangan. Peristiwa tersebut dinilai fenomenal buat negara yang baru menata pemerintahannya. Kini, setelah absen cukup lama tidak menyapa dunia dengan aksi bantuan kemanusiaan serupa, ACT melanjutkannya. 

ACT hanyalah lembaga kemanusiaan yang diinisiasi dan disokong rakyat Indonesia. Sehingga, krisis seberat apapun, wujud dukungan rakyat tentu saja sebatas bantuan kemanusiaan people to people. Rakyat Indonesia berbagi peran dengan pemerintah yang lebih memiliki kewenangan dan akses dalam hubungan antarbangsa dan mewakili negara, dari bantuan sosial hingga bantuan diplomasi. Tidak menutup kemungkinan pula untuk bantuan militer jika nyawa manusia sudah sangat kritis dan mengusik peri-kemanusiaan.

Beberapa waktu lalu, ACT mengumumkan, Kapal Kemanusiaan Palestina (KKP) yang membawa 10.000 ton beras dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina akan berangkat pada 21 Februari 2018. Yang dibawa bukan beras biasa, tapi beras pembawa misi perdamaian, peranti perlawanan antipenjajahan.

KKP mengemban amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 sekaligus membawa misi edukasi kemanusiaan global. ACT melanjutkan sikap konsisten Pemerintah Indonesia untuk menjaga ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. KKP juga menyambung teladan para pemimpin bangsa.

Usai rencana keberangkatan KKP diumumkan ke publik, tim ACT berjibaku menyiapkan beras, kapal, proses perizinan dan segala sesuatu demi suksesnya pengiriman bantuan. Empat belas cabang ACT se-Indonesia dan Turki bergerak mengedukasi publik dan menggalang kepedulian. Sejak Senin (15/1), Presiden ACT Ahyudin hadir di Blora, memantau persiapan pengadaan beras untuk Palestina.

Mengikuti persiapan beras dan sesi briefing dengan Presiden ACT, terasa keseriusan prosesnya. Saya menyerap energi tersendiri selama proses itu. Menerjuni dunia kemanusiaan tak boleh berpikir tunggal, namun harus menyiapkan mental, fisik dan pikiran untuk berpikir berbagai isu. Menyiapkan beras saja sudah menjadi sebuah tantangan besar. 

Tantangan pertama, keberhasilan menghimpun dan mengirim 1.000 ton beras ke Somalia dan 2000 ton beras ke Bangladesh (untuk pengungsi Rohingya) memacu ACT untuk meningkatkan jumlah tonase beras hingga 500 persen pada tahun 2018 ini. Kedua, wilayah tujuannya pun kawasan konflik kelas dunia: Palestina.

Spirit dan semangat Tim ACT baik di pusat maupun di daerah, terutama tim KKP di Blora dan beberapa kabupaten dan kota sekitarnya, terus dipompa. Mengapa harus memiliki spirit hebat? Karena tingginya nilai ideologis dan filosofis program ini. Misi kemanusiaan ini akan menentukan posisi bangsa Indonesia, bukan hanya posisi Lembaga ACT atau masyarakat Blora dan sekitarnya saja. Presiden ACT Ahyudin mengungkapkan, ”Kerja kita, menunaikan kepercayaan dari bumi dan langit (ilahiah) untuk bangsa Indonesia.”

Mendengar untaian pesan selanjutnya yang disampaikan Presiden ACT, hilang sudah keraguan saya untuk memenuhi tantangan bersama ini. 

“Saya yakin Kabupaten Blora dan sekitarnya akan menjadi proyek kemanusiaan yang besar yang levelnya tidak hanya nasional namun internasional. Seperti saat momen Kapal Kemanusiaan untuk Afrika dan Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya. Kapal Kemanusiaan untuk Palestina ini akan lebih besar, lebih fenomenal dan lebih ideolgis,” ungkap Ahyudin, saat meninjau persiapan pengepakan beras di gudang Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) ACT di Kecamatan Cepu, Blora, Selasa (15/1).

Saya memahami, betapa wujud dukungan doa dan aksi turun ke jalan menyuarakan kepedulian terhadap warga Palestina dari masyarakat Indonesia amat penting. Namun, doa dan dukungan saja tidaklah cukup kalau masyarakat Indonesia  tidak memberikan kontribusi konkret. “Sukses menyiapkan 10.000 ton beras melalui KKP, salah satu momentum masyarakat untuk ikut berkontribusi secara nyata untuk membantu warga Palestina,” ujar Ahyudin.

Kapal Kemanusiaan untuk Palestina ini, imbuh Ahyudin, merupakan peristiwa sejarah bagi bangsa Indonesia. Program ini lebih besar target sasarannya ke dalam negeri sendiri. Program KKP mengedukasi rakyat Indonesia untuk memiliki kepedulian terhadap rakyat Palestina, memiliki perasaan keumatan dan spirit ukhuwah yang kuat.

KKP juga menjadi ekspresi “diplomasi beras” bangsa Indonesia. Dahulu, pengiriman bantuan beras ke India berbuah pemberian perlengkapan pertanian dan obat-obatan dari India (saat Indonesia belum memproduksi barang-barang itu) untuk Indonesia. Kini, KKP insya Allah akan berbuah sesuatu yang lebih besar, yakni doa tulus bangsa Palestina serta kepercayaan dan penghormatan dunia untuk bangsa Indonesia. Maka, di hari-hari persiapan pelepasan KKP ini, kami mohon doa dan dukungan konkret bangsa Indonesia.

Seremoni pelepasan KKP yang berupa konvoi kontainer beras akan dilepas dari Kecamatan Cepu, Blora, menuju Terminal Petikemas Surabaya. Pelepasan tersebut akan dibarengi dengan peluncuran Program Desa Wakaf, di mana Kabupaten Blora menjadi salah satu percontohan Program Desa Wakaf-ACT. 

“Bantuan beras untuk Palestina melalui Program KKP ini menunjukkan hebatnya bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tak sekadar mengejar swasembada pangan. Lebih dari itu, bangsa ini pun mampu berbagi,” ungkap Presiden ACT Ahyudin. 

Ya, Indonesia besar bukan untuk dirinya, melainkan untuk berbagi kepedulian kepada bangsa-bangsa lainnya. Doakan dan dukung Kapal Kemanusiaan Palestina. Bersama, kita songsong kejayaan bangsa Indonesia. []

Foto: Rudi Purnomo

Sumber: ACT

About the author

admin administrator

Leave a Reply