Kisah Dua Putera Banua Raih Beasiswa SMART Ekselensia Indonesia

Byadmin

Kisah Dua Putera Banua Raih Beasiswa SMART Ekselensia Indonesia

Penulis : Nadia Susiyana

Perjuangan dan Pengorbanan Senantiasa Mengiringi Keberhasilan

Keterbatasan sering malah membuat seseorang mampu melejitkan diri dalam prestasi. Demikian kiranya yang dialami oleh Trio Bagus Mulyono dan Sandy Firdaus. Dua putra daerah Kalimantan Selatan yang berhasil meraih Beasiswa Nasional di SMART Ekselensia Indonesia tahun ajaran 2018/2019 ini. Keduanya kini menempuh pendidikan SMP SMA di Kota Bogor.

Trio Bagus Mulyono (12) atau yang lebih akrab disapa Trio ini merupakan anak dari pasangan Sulistiono (43) dan Kartini (41). Sulistiono sehari-hari bekerja sebagai petani dengan penghasilan tak menentu. Sedangkan Kartini, hanyalah seorang ibu rumah tangga yang kadang juga ikut turun ke kebun untuk membantu sang suami.

Siapa sangka, meski tinggal di tempat terpencil yaitu di Unit Permukiman Transmigrasi Siayuh, Kecamatan Kelumpang Barat, Kabupaten Kotabaru, Trio mampu bersaing melawan ratusan anak yang lain dari penjuru negeri ini. Padahal, kondisi tempat tinggalnya cukup memprihatinkan. Rumah kayu dengan penerangan seadanya, masih menggunakan lampu sumbu dengan bahan bakar minyak tanah.

Keberhasilan Trio tak lepas dari semangat juang sang Ayah. Ia dan ayahnya harus menumpang truk sawit yang biasa melewati rumahnya untuk memperjuangkan beasiswa ini. Empat kali bolak balik Kotabaru-Banjarbaru dengan jarak hampir 358 km untuk mengikuti serangkaian seleksi.

“Untuk ke rumah Trio harus menempuh perjalanan sekitar 8 sampai 10 jam. Setelah melewati Batulicin medannya juga tidak kalah sulit. Naik turun gunung, jalan berkelok dan rusak. Mulai memasuki kampungnya masih harus menempuh jarak 7 km, disana tidak ada fasilitas listrik selain mesin disel. Sinyal selular sulit dan air bersih mengandalkan sumur,” ujar Achmad Ridho Indra, koordinator program SMART-EI wilayah Kalimantan Selatan.

“Semua orang tua ingin anaknya mendapatkan pendidikan berkualitas, ya pasti diperjuangkan,” ujar Sulistiono dengan mata berbinar. “Gak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada hanya anak yang malas dan rajin. Sepintar apapun kita, kalau kita malas ya jadi bodoh. Sebodoh apapun, kalau kita rajin, kita mau, ya apa sih yang tidak mungkin. Itu motivasi yang saya tularkan kepada anak-anak,” sambung ayah tiga anak tersebut.

Kondisi yang hampir sama juga didapati dari sosok Sandy Firdaus (12) yang berasal dari Tambarangan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin. Sandy, begitu ia kerap disapa, merupakan anak dari pasangan Arbain (52) dan Rusmiati (51). Arbain sehari-hari bekerja sebagi buruh pabrik karet. Sedangkan Rusmiati hanyalah ibu rumah tangga yang juga berjualan es batu di rumah untuk ikut membantu penghasilan suaminya yang sebentar lagi menjalani masa pensiun.

Arbain sempat ragu untuk mengikutsertakan Sandy dalam seleksi beasiswa mengingat perpisahan yang akan terjadi nanti jika anaknya lulus. Namun, mengingat prestasi Sandy di sekolah maka akhirnya Ia dan istrinya merelakan anaknya pergi. “Mungkin memang lebih baik dia di sana, lagi pula kesempatan kan tidak datang dua kali. Kalau memang Sandy mau, kami sebagai orang tua mendukung saja, yang terbaik pokoknya untuk dia disana, semoga berhasil,” ucap Arbain sambil tersenyum.

Sandy memang bukan lah siswa biasa. Siswa lulusan SDN Tambarangan 2, Kabupaten Tapin ini telah menorehkan berbagai prestasi sebagai perwakilan sekolah. Ia pernah meraih juara 2 dalam lomba bulu tangkis dan juara 3 melukis tingkat kecamatan.

Menjadi perwakilan Kalsel tahun ini di sekolah favorit tingkat nasional tentu impian banyak anak-anak. Trio dan Sandy kini telah berhasil menjadi kebanggaan orang tua dan banua. Selamat kepada keduanya dan doa kita semua lah yang mengiringi mereka untuk menjadi generasi emas bagi bangsa.

Program ini termasuk salah satu program pendidikan dari Radar Banjar Peduli untuk anak duafa yang berprestasi. Bekerjasama dengan Dompet Duafa, Radar Banjar Peduli ingin membantu para putra daerah untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain berprestasi siswa juga mendapatkan pendidikan agama yang tak kalah dengan sekolah islam unggulan lainnya.

Editor : Tiny Elyn Herlina/ Achmad Ridho Indra

About the author

admin administrator

Leave a Reply