Orientasi Relawan; Trauma Healing Pada Anak itu Perlu Teknik Khusus

Byadmin

Orientasi Relawan; Trauma Healing Pada Anak itu Perlu Teknik Khusus

“Dalam kondisi normal, orang mempunyai mekanisme pertahanan diri jika menghadapi sebuah masalah, namun pada situasi traumatis pertahanan diri tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi sehingga terjadi disosiasi atau dengan kata lain, integritas diri orang tersebut menjadi pecah,” demikian ungkap Hasibah Eka Rosnelly, seorang Psikolog di Program Pelayanan Psikososial Humanity BBPPKS Regional IV Kementerian Sosial RI, saat mengisi kegiatan orientasi relawan RBP (Radar Banjar Peduli), Minggu (28/1) yang lalu. Hal tersebut Ia ungkapkan mengingat munculnya fakta-fakta kejadian tentang tindak kekerasan dan pelecehan terhadap anak yang makin marak.

“Yang tidak  normal sesungguhnya adalah situasi traumatisnya. Hanya saja jika disosiasi terus berlanjut dan terus menerus dalam waktu yang lama dan mengganggu kehidupan seseorang, maka orang tersebut dikatakan mengalami trauma,” ujar perempuan yang kerap disapa Lily.

Pada kesempatan itu, Lily mengajak para relawan untuk mengenali kondisi trauma dan bagaimana menanganinya melalui teknik trauma healing. Mulai dari memahami arti trauma, bagaimana terjadinya, hingga teknik-teknik penanganannya.

Sebanyak 19 relawan yang hadir hari itu terlihat antusias mengikuti kegiatan. Hal ini terlihat dari diskusi yang terjadi setelah Lily memaparkan materi. Salah satu relawan, Wahyu Aji, mengajukan banyak pertanyaan tentang penanganan kekerasan pada anak. “Apakah hipnoterapi bisa digunakan untuk menangani anak-anak korban kekerasan?” tanyanya kepada Lily.

Menanggapi pertanyaan itu, Lily menjelaskan bahwa anak mempunyai karakteristik khusus sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan yang khusus pula. “Menurut saya hipnoterapi tidak cocok untuk dilakukan pada anak-anak,” tegasnya.

Perempuan yang pernah menjadi relawan pasca bencana tsunami di Aceh itu juga menjelaskan tiga hal penting dalam membantu memulihkan trauma untuk anak-anak. “Kita perlu membangun perasaan aman dalam lingkungannya, mendorong proses penerimaan terhadap kondisi yang menimpanya, juga memperbaiki kembali hubungan sosial dan membangun kembali kepercayaan, harapan, serta saling pengertian,” tandasnya.

RBP kali ini memang ingin mengajak para relawan untuk membuka wawasan terhadap bencana sosial yang terjadi di sekitar. “Kami melihat ini sebagai sebuah bencana sosial yang memerlukan uluran tangan para relawan. Apalagi sesungguhnya tidak diperlukan studi keahlian khusus untuk menjadi relawan trauma healing. Asal mau bergerak dan berkreasi,” ucap Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani. “Komitmen juga kami tunjukkan melalui program story telling yang telah diinisiasi sejak Desember 2017 lalu dan rutin berjalan setiap minggu hingga sekarang,” pungkasnya.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pustarda Kota Banjarbaru itu ditutup dengan diskusi kelompok. Beberapa relawan akhirnya terkumpul dan mendedikasikan dirinya sebagai Relawan Peduli Anak. Mereka berkumpul dan bergerak dengan satu tekad: selamatkan anak untuk bangsa beradab!.

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

About the author

admin administrator

Leave a Reply