Parenting Desa, Ketua PW Himpaudi Kalsel Buka Kelas Perdana

Byadmin

Parenting Desa, Ketua PW Himpaudi Kalsel Buka Kelas Perdana

Dedey Rusyadi Abd: “Ayo Jadi Orang Tua Raja”

Komitmen Himpaudi Kota Banjarbaru dan RBP untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui program pendidikan keluarga telah dibuktikan dengan menggelar kelas parenting desa pada Sabtu (10/3) lalu di Tegal Arum, Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru. Menurut penanggungjawab program Devi Putri Listyasari, kelas tersebut merupakan yang perdana dilakukan dari enam kelas yang direncanakan. “Akan ada enam kelas di enam lokasi berbeda, tapi masih di wilayah Landasan Ulin,” terangnya. “Program ini juga masih didukung oleh Bank Kalsel Banjarbaru, tentu hal ini menjadi semangat tersendiri bagi kami. Terima kasih Himpaudi dan Bank Kalsel,” imbuhnya.

Semangat menggebu juga ditunjukkan oleh Himpaudi Kota Banjarbaru. Tak tanggung-tanggung, dalam ajang perdana itu narasumber yang dihadirkan adalah Ketua Pengurus Wilayah (PW) Himpaudi Kalsel yaitu Dedey Rusyadi Abd. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa hadir di sini dan bertemu ibu-ibu hebat semua,” ucap Dedey Rusyadi di hadapan puluhan ibu-ibu dari PKK Tegal Arum.

Lelaki yang kerap disapa Dede itu menjelaskan tentang tiga tahap perkembangan anak dalam rentang usia tujuh tahun. “Tujuh tahun pertama, anak seperti raja. Tujuh tahun kedua seperti tawanan, sedangkan tujuh tahun ketiga seperti presiden,” terangnya. Dede menghimbau saat anak seperti raja, maka fokus pembelajaran ada pada karakter anak. “Kalau raja berbuat salah, cara memarahinya tentu tidak sembarangan bukan?” ucap Dede. Beberapa ibu menyahut mengiyakan pernyataan Dede.

Saat anak seperti tawanan, lanjut Dede, orang tua harus mengenalkan anak terhadap konsekuensi, tanggungjawab, dan kewajiban. “Tapi juga harus ada aturannya, berikan anak kesempatan untuk menjelaskan terlebih dahulu,” pesannya.

Sementara, tahap ketiga perkembangan anak menurut Dede adalah yang paling sulit dimana tahap ini berada pada rentang usia 14 – 21 tahun. “Pada usia ini lah anak diajarkan tentang kewibawaan berfikir. Bagaimana orang tua melibatkannya dalam memecahkan masalah,” ucapnya.

Setelah pemaparan tersebut beberapa ibu antusias mengajukan pertanyaan. “Kendala pengasuhan biasanya kalau sudah beda sama suami, saya tegas tapi suami suka memanjakan anak,” tanya salah seorang ibu. Beberapa peserta mengaku memiliki kendala yang sama. Menanggapi hal tersebut, Dede menimpali bahwa memang seharusnya kelas parenting diikuti oleh kedua orang tua, bukan hanya salah satunya. “Mungkin nanti suami juga diajak untuk ikut kelas seperti ini, sehingga pemahamannya selaras,” ucap Dede.

Sebanyak 25 anak di Tegal Arum mendapatkan nutrisi gratis dari Bank Kalsel Cabang Banjarbaru

Meski begitu, Noormila Sari, salah seorang peserta mengaku senang setelah mengikuti kelas parenting. “Banyak ilmu yang bermanfaat yang bisa didapatkan, saya jadi tahu banyak hal. Insha Allah ingin menerapkan di keluarga saya,” ucap perempuan 34 tahun yang telah dikaruniai dua orang anak itu kepada RBP.

Menanamkan pemahaman bahwa pengasuhan bukan hanya tugas ibu tentu menjadi PR yang harus diselesaikan karena masih banyak yang salah kaprah. RBP dengan program parenting desa berupaya mengubah cara pikir masyarakat.

Penulis&editor: Retno Sulisetiyani

About the author

admin administrator

Leave a Reply