Program Orang Tua Asuh RBP Bantu Rahmat Menggapai Cita

Byadmin

Program Orang Tua Asuh RBP Bantu Rahmat Menggapai Cita

Rahmat Faisal, seorang remaja tanggung yang baru saja menyelesaikan studi di SMP Negeri 8 Banjarbaru tahun ini. Tidak seperti remaja kebanyakan yang dengan bebas selepas pulang sekolah bisa bermain bersama teman-temannya. Sepulang sekolah Rahmat harus mencari barang rongsokan untuk dijual demi memenuhi kebutuhannya dan neneknya sehari-hari. Hal ini dilakukannya sejak Ia duduk di kelas  2 SMP.

Setiap pulang sekolah, sering tanpa makan siang, Rahmat langsung mencari barang rongsokan seperti kardus, botol, dan kotak makan. Ia tidak pernah marah walau jam bermainnya harus ia relakan. Lelah pun ia terima karena harus memulung setiap harinya. “Marah sih gak pernah. Cuma cape aja. Ya kalo cape, biasanya habis mulung, bersihin diri, langsung istirahat, malemnya belajar sebentar,” ucapnya sambil tersenyum.

Tak jarang Rahmat juga mengalami pengalaman pahit saat memulung, seperti harus berebut tempat mulung dengan orang lain. Ketika naik ke kelas 3 SMP, ia harus mengikuti full day school sehingga kegiatan mulungnya hanya bisa dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu.

Meski harus memulung, Rahmat tetap berusaha maksimal dalam pendidikannya. Hal ini terbukti Ia tetap bisa mempertahankan prestasinya dengan selalu mendapat ranking sepuluh besar. Ia juga optimis dengan hasil ujiannya nanti. Kini, Rahmat tengah  menunggu pendaftaran sekolah menengah atas karena Ia ingin mendaftar di SMK 3 Banjarbaru.

Ia sekarang tengah berusaha menaikkan tinggi badannya demi cita-citanya untuk menjadi polisi. “Idola saya itu pemain film, namanya Barry Prima, soalnya dia kekar dan perkasa gitu. Saya pengen jadi dia, biar bisa jadi polisi,” jawabnya polos dengan mata yang berbinar.

Rahmat dan neneknya tinggal di sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu di pinggir jalan Trikora. Ada warung kecil untuk neneknya berjualan bensin dan jajanan ringan. Ibu dan Ayah Rahmat sudah lama berpisah, ketika ia masih kecil. Ibunya kini tinggal di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Rahmat mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan ibunya, karena ibunya selalu berganti nomor telepon. Begitu pula dengan Ayahnya, meskipun mereka tinggal berdekatan, ia mengaku bahwa  ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari Ayahnya tersebut.

“Ya kadang saya kasian juga, orangtuanya masih ada tapi gak pernah dapat kasih sayang dari mereka,” ucap sang Nenek. Rahmat selalu meneteskan airmata mana kala ia menceritakan tentang kedua orangtuanya.

Rahmat adalah salah satu penerima manfaat program orangtua asuh dari Radar Banjar Peduli sejak Agustus 2017 lalu. Berkat program ini lah, Rahmat akhirnya berani bermimpi. Meniti jalan hidup yang jauh lebih baik.

”Bentuk program ini berupa bantuan biaya sekolah, uang saku, dan kakak mentor untuk bimbingan belajar para anak asuh,” ucap Devi selaku Koordinator program ini.

“Harapan saya, supaya Rahmat ini bisa terus sekolah, jadi bisa membantu saya. Apalagi saya ga selamanya muda,” ucap Sang Nenek.

Bagi RBP sendiri, kedepannya semoga Rahmat tak hanya mampu membuat sang nenek tersenyum, lebih dari itu Ia juga bisa bermanfaat untuk orang lain menjadi sosok penerus bangsa. Sang penerus masa depan.

Penulis : Najmita Ismiawan

Editor : Azizah/Retno sulisetiyani

About the author

admin administrator

Leave a Reply