Relawan Harus Bisa Berpikir Sekaligus Bergerak Cepat

Byadmin

Relawan Harus Bisa Berpikir Sekaligus Bergerak Cepat

Berbincang dengan Relawan Senior RBP, Dokter Siti Ningsih

Bagi wanita kelahiran Magetan 35 tahun yang lalu ini, menjadi relawan adalah investasi kebaikan seumur hidup, bukan hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat. Maka, tak heran jika bahkan setelah menikah dan memiliki tiga orang anak, Ia tak melepaskan diri dari dunia kemanusiaan. Padahal bejibun aktivitas medis selain pekerjaan juga dilakoninya.

(Retno Sulisetiyani, Banjarbaru)


Wanita ini bernama Siti Ningsih. Seorang dokter di Rumah Sakit Idaman Kota Banjarbaru. Dokter Siti, demikian Ia akrab disapa, juga menjadi seorang dokter Homecare di salah satu BUMN di Banjarbaru. Setiap bulan Ia melayani para pensiunan yang kebanyakan sudah lansia. Ia juga menjadi dokter di Klinik Darul Hijrah Putri.

Bersama Radar Banjar Peduli, Dokter Siti juga menjadi dokter bagi para duafa dalam program Homecare Duafa. Sebanyak 12 warga di Kecamatan Cempaka dan Liang Anggang menjadi pasiennya. Mulai dari anak-anak sampai lansia. Program ini sudah berjalan selama setahun lebih lamanya.

“Waktu yang kita miliki sama-sama 24 jam, jika tidak diisi dengan kebaikan pasti akan diisi dengan hal-hal sebaliknya. Maka lebih baik jangan melewatkan sedetikpun tanpa kebaikan,” begitu akunya ketika ditanya tentang aktivitasnya tersebut.

Wanita berkacamata ini ternyata juga memiliki motivasi kuat soal pengabdian. Ia ingin memberi manfaat untuk sebanyak-banyak orang supaya menjadi manusia terbaik. “Karena dalam agama Saya, Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Dan bagi Saya, inilah jalan jihad Saya,” ungkapnya kepada penulis.

Meski demikian, sebagai manusia biasa, Ia tak luput juga dari masa sulit. Kiprahnya di dunia relawan bersama RBP ternyata banyak menyisakan kisah heroik yang tak terlupakan. Tahun awal RBP terbentuk, tepatnya 2005 yang silam, terjadi kebakaran besar di Kotabaru. Dokter Siti yang kala itu masih duduk di bangku kuliah tengah menjalani ujian akhir semester. Namun, karena panggilan kemanusiaan, di tengah ujian Ia harus berjibaku untuk mengatur relawan yang harus berangkat ke lapangan.

“Yang paling Saya ingat, tahun 2006 pas Saya baru saja menikah, ternyata ada kebakaran di Banjarmasin. Tengah malam Saya harus koordinasi dengan relawan, Alhamdulillah suami memberi dukungan,” ujarnya.

Dokter Siti memang beruntung. Suami dan keluarga besarnya telah menjadi pendukungnya dalam mengarungi dunia kemanusiaan. Basuni, lelaki yang selama 11 tahun ini setia mendampinginya, mengaku melihat sang Istri adalah sosok wanita super. “Istri saya itu tiada duanya, anak menantu kebanggaan Ibu saya, meskipun kadang ketus dan cuek,” Basuni berseloroh tentang Dokter Siti. “Saya mendukung dan akan terus memberi dukungan apapun asalkan itu adalah kebaikan,” imbuhnya.

Dalam mengatasi keseimbangan antara waktu untuk keluarga dan aktivitas di luar rumah, Dokter Siti mengaku terinspirasi oleh sosok aktivis perempuan Indonesia, yaitu Ustazah Yoyoh Yusroh. “Kata beliau, berdayakan semua orang yang ada di sekitar kita untuk mendukung aktivitas kita,” ujar Dokter Siti.

Untuk anak-anak sendiri, biasanya Ia mengoptimalkan waktu libur untuk rekreasi bersama. “Kalau saya mengajarkan ke anak-anak untuk hidup sederhana, jadi biasanya dibawa ke tempat-tempat gratisan pun mereka senang,” ucapnya seraya tertawa.

Demikian lah sosok Dokter Siti hadir di dunia kemanusiaan Banua. Ia telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya mengabdi pada mereka yang membutuhkan. Betapa indahnya dunia ini jika banyak diisi oleh orang-orang dengan komitmen seperti beliau. Ia berpesan kepada generasi muda untuk jangan berhenti berbuat baik dan jadilah pribadi yang bermanfaat.

Nah, para sahabat ayo isi hari-hari kita dengan empati dan kepedulian, sehingga banyak tawa bahagia yang tercipta. (*)

About the author

admin administrator

Leave a Reply