Terima Kasih Ni

Byadmin

Terima Kasih Ni

(Sebuah Catatan Kenangan untuk Masliah)

Nini Masliah. Begitu kami biasa menyapanya. Sosoknya yang kecil dengan rambut memutih dipotong pendek. Kekinian banar Nini lah kaya Agnez Mo, satu kali pernah relawan bercanda begitu. Beliau hanya tertawa sembari menutup mulutnya.

Nini Masliah adalah sosok senja yang patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, meski rambutn kian memutih namun jiwa muda lah yang ditunjukkannya kepada kami. Wajahnya selalu menyuguhkan senyum yang merekah. Sorot matanya senantiasa memancarkan kebahagiaan. Suatu ketika, Masliah baru saja selesai mandi, kamipun mencoba membantu memapahnya. “Indah, aku indah. Kawa haja nah sorangan. Kawa haja aku, Ia berkeras menyeret sendiri badannya dengan tenaga tuanya. Ngesot. Satu cara yang hanya mampu beliau lakukan dengan kondisi rentanya. Tak jarang Ia tergores paku yang tak menempel sempurna di lantai rumahnya.

Bahkan, ketika kami berkunjung ke kediamannya Ramadhan tahun lalu, ia tetap menunaikan ibadah puasa sebulan penuh.

Diusianya yang ke 75 tahun, Masliah menutup mata. Senin (29/1) yang lalu. Menyisakan ketakjuban bagi kami, para relawan. Dua tahun membersamai, Masliah mengajarkan kepada kami tentang semangat yang luar biasa. Tentang optimisme terhadap hidup dan takdir. Kelumpuhan yang Ia alami tak pernah melemahkan jiwanya dalam menghadapi hidup dan juga beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Kekuatan. Kesabaran. Kesyukuran. Begitulah yang kami ingat tentang sosok Masliah.

Terima kasih Ni. Hanya itu yang bisa kami ucapkan sebagai salam perpisahan.

Penulis: Devi & Enok

About the author

admin administrator

Leave a Reply