Artikel

Byadmin

Mengenal dan Mencegah Stroke


Oleh dr. Pagan Pambudi, Sp.S
Dokter spesialis saraf dan dosen di FK Unlam/RSUD Ulin
Bekerja di RSUD Ulin Banjarmasin

Stroke adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak, terjadi mendadak dan ditandai dengan kelumpuhan anggota gerak sebelah, wajah yang tidak simetris dan kesulitan bicara (dapat berupa bicara cadel sampai tidak memahami pembicaraan sama sekali). Agar mudah diingat, masyarakat cukup mengingat kata SEGERA yang merupakan singkatan dari senyum yang tidak simetris, sulit bergerak dan sulit bicara. Jika terjadi gejala seperti itu harus segera membawa penderita ke rumah sakit.

Departemen Kesehatan RI mencatat bahwa Stroke merupakan penyakit nomer 3 terbanyak menyebabkan kematian dan nomer 1 penyebab kecacatan di Indonesia. Salah paham sering terjadi di masyarakat yang menyebut dirinya atau keluarganya hanya terkena stroke ringan. Pada kenyataannya tidak ada istilah stroke ringan. Satu kelumpuhan yang bersifat singkatpun (15 menit – 24 jam) adalah keadaan gawat darurat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Semakin cepat pasien stroke mendapatkan pertolongan di rumah sakit semakin baik peluang untuk sehat kembali dan menurunkan kemungkinan menjadi fatal. Data menyebutkan bahwa pasien stroke iskemik yang mendapatkan terapi trombolisis dalam waktu 3 – 4,5 jam setelah kejadian mempunyai angka kecacatan pasca stroke yang lebih rendah dibandingkan pasien yang tidak mendapatkan terapi trombolisis sehingga tidak ada cara yang lebih tepat untuk membantu orang yang mengalami serangan stroke kecuali SEGERA membawanya ke rumah sakit.

Mencegah Stroke
Mencegah selalu lebih baik dan lebih mudah dibanding mengobati, hal ini terutama benar untuk penyakit Stroke. Pengobatan Stroke relatif sulit, lama dan mahal, belum lagi kecacatan yang disebabkan stroke dapat membuat pasien tidak lagi produktif bahkan menjadi beban bagi keluarga. Stroke dapat dicegah dengan cara-cara sederhana sebagai berikut:
• Makan makanan sehat dalam jumlah cukup tidak berlebihan, makanan tersebut hendaknya mengandung cukup sayuran, buah-buahan, mengurangi makanan berlemak dan berminyak. Pendapat awam bahwa sayuran dapat menyebabkan peningkatan asam urat dan menyebabkan nyeri sendi tidak benar untuk sebagian besar populasi. Penelitian di Cina pada tahun 2014 menyebutkan setiap 200 gram konsumsi sayuran perhari dapat menurunkan resiko Stroke sebanyak 32%, dan setiap konsumsi 200 gram buah-buah dapat menurunkan resiko stroke sebanyak 11%
• Tidak merokok. World Heart Federation menyatakan bahwa perokok mempunyai resiko empat kali lebih besar untuk menderita stroke dibanding yang bukan perokok. Sayangi keluarga anda dengan berhenti merokok mulai sekarang
• Tidak minum minuman beralkohol. Minum minuman beralkohol lebih dari 2 sloki perhari, memperpendek waktu anda untuk terkena stroke 5 tahun lebih cepat dibanding yang bukan peminum alkohol
• Olahraga teratur. Jurnal Asosiasi Stroke Amerika melaporkan individu yang aktif berolahraga mempunyai resiko terkena serangan stroke iskemik 34% dan stroke perdarahan 21% lebih rendah dibanding individu yang tidak aktif.
• Cukup tidur. Jumlah jam tidur ideal adalah 6 – 8 jam perhari. Orang yang tidur kurang jadi ini berisiko mendapat serangan stroke dua kali lipat. Beberapa penelitian menyebutkn bahwa kurang tidur sama atau lebih buruk daripada merokok.
• Mengendalikan hipertensi. Hipertensi tidak diragunakan lagi merupakan faktor resiko paling penting pada penyakit stroke. Mengendalikan tensi sangat penting dalam pencegahan stroke. Jurnal Stroke yang merangkum beberapa penelitian tentang stroke dan hipertensi di seluruh dunia menyebutkan bahwa setiap penurunan 10 mmHg dapat menurunkan resiko stroke sebanyak 40-50% pda pasien yang berusia < 60 tahun. Pasien tidak perlu ragu untuk mengkonsumsi obat antihipertensi secara teratur bila telah didiagnosis hipertensi. Obat antihipertensi baru tidak merusak ginjal pada penggunaan jangka panjang, bahkan justru menjaga ginjal dari kerusakan. • Mengendalikan kadar gula darah bila menderita diabetes. Diabetes melitus adalah faktor resiko serangan stroke kedua setelah hipertensi. Data epidemiology menunjukkan penderita diabetes mempunyai kemungkian 2,7 kali lebih tinggi untuk terkena stroke iskemik dibanding bukan penderita diabetes. Menurunkan kadar gula darah dapat menurunkan resiko ini sehingga pasien dengan diabetes diharapkan dapat mengndalikan diabetesnya dengan cara berobat, olah raga dan mengatur makanan secara baik Demikianlah hal-hal sederhana yang dapat kita mulai lakukan mulai sekarang, mulai saat peringatan hari stroke sedunia 29 Oktober 2017 agar terhindar dari penyakit stroke demi kesehatan pribadi dan masa depan keluarga tercinta.