Artikel

Byadmin

Mudah Atas Izin Allah

Sebuah Refleksi Seorang Pejuang Pendidikan di Kota Kandangan

Oleh Ratu Nur Inayah (Founder Rumba Abata)

Setelah tahun-tahun sebelumnya yang begitu berat saya lalui, banyak duka dan airmata. Tapi janji Allah sudah pasti. Dibalik kesedihan pasti ada kebahagian. Tak perlulah saya menceritakan segala luka, karena itu semua tak akan berarti jika melihat kebahagiaan yang telah Allah berikan pada saya saat ini.

2017 sungguh, tahun yang sangat berkesan buat saya. Ah mungkin ini yang dinamakan disequilibrium, ketidakseimbangan dalam hidup. Yup tepat 10 tahun lalu juga (2007) saya mendirikan Butterfly grup (Sebuah Lembaga Peduli Pendidikan yang melayani pembelajaran untuk anak usia dini) bersama teman-teman seperjuangan saya. Tahun ini pula, tepatnya akhir tahun 2016 saya membuat akun facebook dengan nama Rumba Abata, tujuan awal adalah sebagai dokumentasi kegiatan anak-anak belajar dirumah saya. Dan jujur, saya tak mau berteman dengan orang yang mengenal saya. Cukup, cukup akun Rumba Abata dikenal sebagai Rumba Abata dan tak perlu orang tahu siapa dibalik layar ini semua! Semuanya berjalan begitu saja, Allah yang menggerakkan hati orang-orang baik berteman dengan akun Rumba Abata. Dari sana saya tergabung dalam Sahabat Kalsel, yang mewadahi orang-orang yang peduli, sebagai generasi solusi, berusaha saling bersinergi. Sungguh saya takjub dengan ini semua. Berbagai bantuan kami dapatkan dari sahabat Kalsel, untuk warga kami yang kurang beruntung. Dari sahabat kalsel pula, saya tergabung ke Jurnalisme Spirit. Belajar menulis, menuliskan hal-hal yang bersifat positif tentunya. Berkumpul dengan teman-teman yang luar biasa.

Disini pula saya mengenal S3 (Sedekah Seribu Sehari) Banjarbaru, dan saya terinspirasi untuk membuat ini juga di kota saya, harapannya semakin banyak yang terbantu, tidak hanya warga desa saya. Berawal dari saya upload uang 1000 dengan caption “Berat apa ringan? Kalau ditimbang si pasti ringan? Ya kan? Ya kaaan? Yup uang seribu itu sangat ringan, kadang seolah tak berarti, tergeletak begitu saja. Tapi seribu itu sangat berarti, jika kita kumpulkan bersama-sama. Seribu Sehari, sedekah yang sangat ringan, namun Insya Allah memberikan manfaat yang luar biasa” Alhamdulillah, awalnya satu orang, orangtua murid Rumba Abata yang ikut bergabung dan sekarang, Masyaa Allah, lumayan banyak yang tergabung, baik sebagai penderma maupun sebagai relawan. Dan kami bentuk kepengurusan, sehingga saya tak perlu memegang amanah terlalu banyak lagi. Cukup, ya cukup saya pegang keuangan Rumba Abata saja.

Tak berselang lama, dari segala cerita yang saya tuliskan, sungguh saya tak menyangka bahwa ternyata banyak yang membaca dan monitor status-status saya, saya bercerita tentang seorang pemuda dari kalangan dhuafa, pemuda berprestasi dan tidak neko-neko adanya. Kami ikut sertakan tes STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) tapi Allah berkehendak lain, dia tidak lulus. Tapi lulus di PGSD Universitas Lambung Mangkurat melalui jalur Undangan. Lagi-lagi biaya menjadi sebuah alasan, diapun terancam gagal! Saya tidak bisa diam, saya tak ingin dia bernasib seperti saya, sekolah putus nyambung. Saya meminta yang terbaik kepada sang maha kuasa. Sayapun update status bahwa rencana saya berangkat ke Jakarta untuk mengantarkan pemuda ini gagal karena dia tak lulus di STAN. Dan langsung dihubungi oleh seorang sahabat di Jakarta, Mbak Fanny Herdina, mempertanyakan nasib pemuda tersebut. Saya menceritakan semuanya, segala kendala yang dihadapi. Untuk daftar ulang ke unlam pun rasanya terlambat! Mbak Fanny terus Wa saya, pokoknya harus, anak ini harus tetap kuliah, apapun yang terjadi! Jujur saya melongo, saya tercenung dengan kegigihan mbak Fanny. Sayapun memberanikan diri ke Universitas Lambung Mangkurat, mempertanyakan apakah Rizal dan teman-temannya masih bisa diberi kesempatan untuk daftar ulang. Alhamdulillah, pihak rektorat mengizinkan. Pertentangan dari keluarga Rizal membuat anak ini maju mundur kuliah, jujur sebagai manusia biasa saya sangat sebal. Setelah perjuangan yang penuh airmata, mau mundur? Mbak Fanny terus menguatkan kami, dan melalui Sedekah Oksigen mereka terbantu biaya dengan perjanjian, jika nantinya lulus bidikmisi maka beasiswa dari sedekah oksigen akan kami alihkan kepada anak lain yang membutuhkan. Dan saya dipercaya sebagai penanggungjawab Beasiswa Kembali Sekolah (BKS). Mengelola keuangan beasiswa, mereminder para penderma dan juga mentransfer kepada penerima beasiswa tersebut. Sungguh, ini amanah yang cukup berat, karena berkaitan dengan uang orang. Sungguh kita harus percaya, dimana ada kemauan pasti ada jalan, dan tiap kebaikan akan selalu menemukan jalan_Nya.

Banyak pembelajaran kehidupan yang saya temui melalui S3 Kandangan dengan berbagai kasus di lapangan, maupun pelajaran di Sedekah Oksigen, Sahabat Kalsel, Radar Banjar Peduli, Gerakan Sedekah Bebarengan (GSB), sungguh sinergi lintas komunitas yang luar biasa. Disini saya banyak belajar bahwa melakukan kebaikan bukanlah saingan, siapa yang paling baik, siapa yang paling duluan atau apa, tapi ini adalah sinergi kebaikan, sehingga dengan cepat orang yang membutuhkan dapat tertolong dengan baik. Kita tak perlu menyalahkan siapa yang paling bertanggungjawab atas kasus dilapangan, melainkan apa yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi, untuk memberikan solusi.

Di akhir 2017, banyak hal yang perlu saya evaluasi. Terutama tentang diri ini, tentang niat untuk selalu diluruskan hanya mengharapkan Ridho Allah semata. Yup bulan November 2017, saya sempat berpikir membuka cabang Rumba Abata di Kota Kandangan. Akan tetapi setelah melewati liburan bersama anak-anak, banyak hal pelajaran yang saya petik. Saya tak boleh tergesa-gesa. Saya mempertanyakan lagi, apa tujuan saya membuka cabang? Apa tujuan orangtua “menitipkan” anaknya pada kami? “Apa harapan mereka?” dan saya menyadari bahwa SDM (sumber daya manusia) kami belumlah siap. Saya baru punya  satu guru, yang benar-benar loyal sama Rumba Abata, guru yang benar-benar mau saya bimbing. Dan saya tahu, ini adalah kesempatan emas, tapi saya tidak mau nekat. Tidak! Saya tidak akan pernah nekat membuka cabang tanpa menyiapkan SDM. Yup animo orangtua sungguh luar biasa, sehingga orang Rantau (Tapin) juga ingin sekali ada Rumba Abata disana. Saya memahami, banyak sarjana yang menganggur, saya ingin sekali menjembatani mereka berkarya. Saya ingin sekali membuka cabang pendidikan, agar memberikan lapangan pekerjaan bagi para sarjana pengangguran. Namun saya menyadari dengan segala keterbatasan yang saya punya.

Nilai akademik memang penting, tapi yang lebih penting adalah adab. Yup, adab. Ini adalah PR besar buat kita semua. Apalagi setelah liburan kali ini, yang dilalui bersama anak-anak yang notabene bersekolah di sekolah Islam. Maaf sungguh saya sedih melihat adab mereka! Memang tidak bisa instan, perlu proses dan saya berharap kedepannya para orangtua menyadari bahwa kita tidak bisa menyerahkan pendidikan seutuhnya kepada sekolah. Ini adalah PR bersama. Perlunya kerjasama antara sekolah dan orangtua yang merupakan madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya.

Impian saya selanjutnya adalah mengirim minimal 2 orang calon guru menempuh pendidikan di Kuttab Al Fatih, akademi guru selama 2 tahun dan magang mengajar di Kuttab Al Fatih selama satu tahun sebagai bentuk pengabdian. Yang nantinya harapan saya, kita bisa mendirikan sekolah seperti Kuttab Al fatih. “Iman Sebelum Qur’an, Adab sebelum Ilmu, dan Ilmu sebelum amal. Saya membutuhkan dana Rp. 2.000.000 perbulan untuk biaya pendidikan, akomodasi dan tempat tinggal calon guru selama menempuh pendidikan di Akademi Guru Kuttab Al Fatih. Saya meyakini, tidak ada yang tidak mungkin. Jika Allah menghendaki. Semoga sekolah peradaban akan segera terealisasi disini. Dan dari segala yang telah terjadi, saya menyadari bahwa Allah lah yang menggerakkan semuanya. Sungguh, tiada daya dan upaya  selain kekuatan Allah Subhanahu Wataala, dan hanya kepada Allah jualah kita memohon pertolongan. Dan semoga senantiasa diluruskan niat serta Istiqamah dalam kebaikan. Sesungguhnya kebaikan akan selalu menemukan jalannya.

Masih banyak keajaiban-keajaiban yang belum tertuliskan, namun semoga tulisan ini menjadikan inspirasi maupun pembelajaran dalam kehidupan.

“Lakukanlah kebaikan, sekecil apapun itu! Karena kita tak pernah tahu kebaikan mana yang menyelamatkan kita dari Api Neraka”

Byadmin

Relawan Harus Bisa Berpikir Sekaligus Bergerak Cepat

Berbincang dengan Relawan Senior RBP, Dokter Siti Ningsih

Bagi wanita kelahiran Magetan 35 tahun yang lalu ini, menjadi relawan adalah investasi kebaikan seumur hidup, bukan hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat. Maka, tak heran jika bahkan setelah menikah dan memiliki tiga orang anak, Ia tak melepaskan diri dari dunia kemanusiaan. Padahal bejibun aktivitas medis selain pekerjaan juga dilakoninya.

(Retno Sulisetiyani, Banjarbaru)


Wanita ini bernama Siti Ningsih. Seorang dokter di Rumah Sakit Idaman Kota Banjarbaru. Dokter Siti, demikian Ia akrab disapa, juga menjadi seorang dokter Homecare di salah satu BUMN di Banjarbaru. Setiap bulan Ia melayani para pensiunan yang kebanyakan sudah lansia. Ia juga menjadi dokter di Klinik Darul Hijrah Putri.

Bersama Radar Banjar Peduli, Dokter Siti juga menjadi dokter bagi para duafa dalam program Homecare Duafa. Sebanyak 12 warga di Kecamatan Cempaka dan Liang Anggang menjadi pasiennya. Mulai dari anak-anak sampai lansia. Program ini sudah berjalan selama setahun lebih lamanya.

“Waktu yang kita miliki sama-sama 24 jam, jika tidak diisi dengan kebaikan pasti akan diisi dengan hal-hal sebaliknya. Maka lebih baik jangan melewatkan sedetikpun tanpa kebaikan,” begitu akunya ketika ditanya tentang aktivitasnya tersebut.

Wanita berkacamata ini ternyata juga memiliki motivasi kuat soal pengabdian. Ia ingin memberi manfaat untuk sebanyak-banyak orang supaya menjadi manusia terbaik. “Karena dalam agama Saya, Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Dan bagi Saya, inilah jalan jihad Saya,” ungkapnya kepada penulis.

Meski demikian, sebagai manusia biasa, Ia tak luput juga dari masa sulit. Kiprahnya di dunia relawan bersama RBP ternyata banyak menyisakan kisah heroik yang tak terlupakan. Tahun awal RBP terbentuk, tepatnya 2005 yang silam, terjadi kebakaran besar di Kotabaru. Dokter Siti yang kala itu masih duduk di bangku kuliah tengah menjalani ujian akhir semester. Namun, karena panggilan kemanusiaan, di tengah ujian Ia harus berjibaku untuk mengatur relawan yang harus berangkat ke lapangan.

“Yang paling Saya ingat, tahun 2006 pas Saya baru saja menikah, ternyata ada kebakaran di Banjarmasin. Tengah malam Saya harus koordinasi dengan relawan, Alhamdulillah suami memberi dukungan,” ujarnya.

Dokter Siti memang beruntung. Suami dan keluarga besarnya telah menjadi pendukungnya dalam mengarungi dunia kemanusiaan. Basuni, lelaki yang selama 11 tahun ini setia mendampinginya, mengaku melihat sang Istri adalah sosok wanita super. “Istri saya itu tiada duanya, anak menantu kebanggaan Ibu saya, meskipun kadang ketus dan cuek,” Basuni berseloroh tentang Dokter Siti. “Saya mendukung dan akan terus memberi dukungan apapun asalkan itu adalah kebaikan,” imbuhnya.

Dalam mengatasi keseimbangan antara waktu untuk keluarga dan aktivitas di luar rumah, Dokter Siti mengaku terinspirasi oleh sosok aktivis perempuan Indonesia, yaitu Ustazah Yoyoh Yusroh. “Kata beliau, berdayakan semua orang yang ada di sekitar kita untuk mendukung aktivitas kita,” ujar Dokter Siti.

Untuk anak-anak sendiri, biasanya Ia mengoptimalkan waktu libur untuk rekreasi bersama. “Kalau saya mengajarkan ke anak-anak untuk hidup sederhana, jadi biasanya dibawa ke tempat-tempat gratisan pun mereka senang,” ucapnya seraya tertawa.

Demikian lah sosok Dokter Siti hadir di dunia kemanusiaan Banua. Ia telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya mengabdi pada mereka yang membutuhkan. Betapa indahnya dunia ini jika banyak diisi oleh orang-orang dengan komitmen seperti beliau. Ia berpesan kepada generasi muda untuk jangan berhenti berbuat baik dan jadilah pribadi yang bermanfaat.

Nah, para sahabat ayo isi hari-hari kita dengan empati dan kepedulian, sehingga banyak tawa bahagia yang tercipta. (*)

Byadmin

Mengesankan, Uji Nyali untuk Diri Sendiri

Oleh Elma Apriliani (Peserta Program Relawan Menulis Angkatan ke 2)

Catatan Pengalaman Mengikuti Program Relawan Menulis RBP

Tak terasa masa magang Saya di Radar Banjar peduli dalam program Relawan Menulis sudah berakhir. Sedih rasanya menyadarinya. Masa magang yang Saya lalui kurang lebih 2 bulan terhitung sejak bulan November 2017 hingga 9 Januari 2018 kemarin. Sebuah pengalaman yang membuat Saya bisa berinteraksi dengan orang lain dan juga dapat menambah wawasan untuk berkenalan dengan para professional. Tentu akan selalu membekas di hati Saya.

Berawal dari keikutsertaan Saya di komunitas relawan sahabat kalsel. Lalu tepat hari jumat, saya mengikuti kajian rutin yang dilaksanakan di Gedung Biru Radar Banjarmasin. Hari yang berkah sekali untuk Saya.  Di sana saya bertemu dengan seorang editor Radar Banjar Peduli, Retno Sulisetiyani. Di akhir kajian tersebut, beliau bercerita tentang diadakannya program Relawan Menulis dan sedang membuka rekrutmen untuk angkatan kedua. “Relawan menulis itu adalah kesempatan yang kami buka untuk magang sebagai reporter dan belajar jurnalistik humanis,” ucap Kak Eno, begitu sapaan saya ke beliau. Saya yang mendengarkan dengan seksama langsung tertarik dan ingin segera mendaftar.

“Kalau tertarik langsung saja kita mulai programnya minggu depan ya. Dan ini diberlakukan untuk 2 orang saja setiap angkatan. Nanti kamu dapat sertifikat bahwa pernah magang disini sebagai bukti dan penghargaan dari kami,” ungkapnya kala itu.

Program yang diadakan oleh Radar Banjar Peduli ini menurut Saya sangat bermanfaat sekali untuk para anak muda yang ingin mengembangkan skill komunikasinya dengan baik. Khususnya untuk para mahasiwa. Mencari aktifitas dan belajar tidak hanya dilakukan di dalam kampus,  di luar kampus pun juga harus dilakukan. Dengan begitu, kita tidak cuman hanya berstatus mahasiswa yang biasa saja, namun mahasiswa yang bisa menjadi pelopor perubahan untuk bangsa ini.

Pengalaman magang menjadi reporter ini sungguh tidak terduga sebelumnya. Saya tidak menyangka bisa terjun langsung ke lapangan berstatus sebagai reporter dari Radar Banjar Peduli. Hal ini sangat membanggakan bagi diri Saya sendiri.

Alhamdulillah, Saya sangat bersyukur  bisa dipertemukan dengan orang-orang hebat di Radar Banjar Peduli sehingga lebih memotivasi Saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan belajar bekerja sama dengan tim dalam membuat berita.

Banyak suka duka yang Saya dapatkan selama meliput berita di lapangan, sukanya adalah Saya bisa bertemu dengan orang orang hebat dari berbagai kalangan, dari anak sekolah yang mendapatkan beasiswa hingga para profesional yang dapat menginspirasi. Walaupun, banyak pula hambatan – hambatan yang sering membuat kesal. Tapi, disitu lah Saya merasa dilatih untuk lebih sabar menghadapi berbagai karakter narasumber. Akhirnya saya menjadi lebih percaya diri dengan kemampuan diri sendiri. Bahwa Saya bisa meskipun dengan tantangan-tantangan yang berada di depan mata.

Awal tahun 2018 sangat mengesankan sekali bagi saya dan berharap bisa bergabung lagi menjadi bagian tim reporter Radar Banjar Peduli untuk proyek kebaikan-kebaikan selanjutnya. 

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Dalam Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Catatan Pendampingan Lilik Suryati, Penderita Kanker Kelenjar Tiroid
Oleh Devi Putri Listyasari (Staf Pendayagunaan RBP)

Ugh. Rasanya pinggang ini ingin sekali diluruskan. Gelisah memposisikan badan ketika mata sangat ingin terpejam. Ya Allah baru tiga jam perjalanan. Tak sabar menanti pagi. Begitu saya bergumam pada diri sendiri ketika dalam sebuah perjalanan dari Surabaya ke Bandung, Sabtu (25/11) lalu. Tepatnya saya berada di sebuah gerbong kereta api. Dari petugas Stasiun Gubeng yang saya dengar perjalanan akan memakan waktu sekitar 14 jam. Lebih dari setengah hari!.
Saya tak sendiri. Lilik Suryati dan anaknya tepat di samping Saya. Kami duduk berjejer. Sekilas Saya lihat mereka juga tak bisa tidur nyenyak.

Perjalanan ini adalah ikhtiar kami dalam membantu Lilik untuk sembuh dari sakit kankernya. Sejak 2016 yang lalu, RBP memang berkomitmen melakukan pendampingan untuk Lilik, penderita kanker kelenjar tiroid asal Cindai Alus Kabupaten Banjar. Setelah menjalani operasi di RS Ulin Banjarmasin, rupanya Lilik harus melanjutkan pengobatan di Pulau Jawa. Kami memutuskan ke Surabaya pada Selasa (31/10) lalu, namun setelah melewati diagnosa di RS Dokter Soetomo, perjuangan kami diuji. Pengobatan lanjutan hanya bisa dilakukan di Bandung.

“Senang kok bisa berobat sampai ke sini. Hanya saja tidak tenang, kepikiran sama adik-adik Rita yang ditinggalkan,” begitu Lilik berkata meskipun perjalanan kami ternyata di luar perkiraan.

Dan di sinilah kami. Melewati perjalanan panjang demi sebuah nafas kehidupan.

Saya terbangun dari lelap ketika matahari mulai nampak. Terbentang hamparan sawah yang menghijau serta segerombolan itik mencari makan. Indah sekali. Di kelilingi pegunungan dan hutan yang amat rindang. Allah, kuasa-Mu tiada batas. Saya lihat Lilik dan anaknya juga terkesima. Namun selepas itu kami tertegun. Tak mampu berkutik. Hanya memejamkan mata dan berdoa. Semoga Allah masih memberikan kesempatan hidup. Doa tak henti saya panjatkan dalam hati.

Jalur rel kereta yang kami tumpangi sangat curam. Masinis tiba tiba memperlambat kecepatan. Ada tanah longsor yang menutupi jalur kereta. Jalur menikung dan sangat tinggi, khawatir gerbong kereta akan terlepas dari jalurnya. Allahu akbar. Beberapa jalur sangat berbahaya kami lalui. Kami hanya bisa pasrah dan berdoa.

Ternyata jalur yang kami lewati itu banyak sekali longsoran tanah akibat hujan terus menerus. Sungguh, Saya merasa kerdil di hadapan kuasa Ilahi. Atas segala pertolonganNya jua lah kami bisa selamat sampai tujuan. Saya menyesal telah mengeluh, tak bisa tidur nyenyak.

Sekitar pukul 10 pagi, kami sampai di Stasiun Bandung. Letih tentu menyapa raga kami. Namun, demi melihat kebaikan yang menghampiri tak pantas rasanya jika ingin berkeluh kesah. Para relawan MRI ACT sudah menanti kedatangan kami. Bahkan, mereka pun sudah mencarikan kos-kosan yang bisa kami tempati.

Ucapan syukur berkali-kali saya panjatkan atas segala kebaikan.

Lilik dan anaknya pun sepertinya begitu. “Saya harus semangat karena ingin sembuh total,” ungkapnya kepada Saya. Tak lupa Lilik menyampaikan rasa terima kasih kepada para donatur yang telah membantunya. “Semoga di lancarkan apapun yg menjadi tujuan, dimurahkan rejekinya,” imbuhnya. Aamiin. Sahut Saya dalam hati. (en)

Byadmin

Mengenal dan Mencegah Stroke


Oleh dr. Pagan Pambudi, Sp.S
Dokter spesialis saraf dan dosen di FK Unlam/RSUD Ulin
Bekerja di RSUD Ulin Banjarmasin

Stroke adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak, terjadi mendadak dan ditandai dengan kelumpuhan anggota gerak sebelah, wajah yang tidak simetris dan kesulitan bicara (dapat berupa bicara cadel sampai tidak memahami pembicaraan sama sekali). Agar mudah diingat, masyarakat cukup mengingat kata SEGERA yang merupakan singkatan dari senyum yang tidak simetris, sulit bergerak dan sulit bicara. Jika terjadi gejala seperti itu harus segera membawa penderita ke rumah sakit.

Departemen Kesehatan RI mencatat bahwa Stroke merupakan penyakit nomer 3 terbanyak menyebabkan kematian dan nomer 1 penyebab kecacatan di Indonesia. Salah paham sering terjadi di masyarakat yang menyebut dirinya atau keluarganya hanya terkena stroke ringan. Pada kenyataannya tidak ada istilah stroke ringan. Satu kelumpuhan yang bersifat singkatpun (15 menit – 24 jam) adalah keadaan gawat darurat yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Semakin cepat pasien stroke mendapatkan pertolongan di rumah sakit semakin baik peluang untuk sehat kembali dan menurunkan kemungkinan menjadi fatal. Data menyebutkan bahwa pasien stroke iskemik yang mendapatkan terapi trombolisis dalam waktu 3 – 4,5 jam setelah kejadian mempunyai angka kecacatan pasca stroke yang lebih rendah dibandingkan pasien yang tidak mendapatkan terapi trombolisis sehingga tidak ada cara yang lebih tepat untuk membantu orang yang mengalami serangan stroke kecuali SEGERA membawanya ke rumah sakit.

Mencegah Stroke
Mencegah selalu lebih baik dan lebih mudah dibanding mengobati, hal ini terutama benar untuk penyakit Stroke. Pengobatan Stroke relatif sulit, lama dan mahal, belum lagi kecacatan yang disebabkan stroke dapat membuat pasien tidak lagi produktif bahkan menjadi beban bagi keluarga. Stroke dapat dicegah dengan cara-cara sederhana sebagai berikut:
• Makan makanan sehat dalam jumlah cukup tidak berlebihan, makanan tersebut hendaknya mengandung cukup sayuran, buah-buahan, mengurangi makanan berlemak dan berminyak. Pendapat awam bahwa sayuran dapat menyebabkan peningkatan asam urat dan menyebabkan nyeri sendi tidak benar untuk sebagian besar populasi. Penelitian di Cina pada tahun 2014 menyebutkan setiap 200 gram konsumsi sayuran perhari dapat menurunkan resiko Stroke sebanyak 32%, dan setiap konsumsi 200 gram buah-buah dapat menurunkan resiko stroke sebanyak 11%
• Tidak merokok. World Heart Federation menyatakan bahwa perokok mempunyai resiko empat kali lebih besar untuk menderita stroke dibanding yang bukan perokok. Sayangi keluarga anda dengan berhenti merokok mulai sekarang
• Tidak minum minuman beralkohol. Minum minuman beralkohol lebih dari 2 sloki perhari, memperpendek waktu anda untuk terkena stroke 5 tahun lebih cepat dibanding yang bukan peminum alkohol
• Olahraga teratur. Jurnal Asosiasi Stroke Amerika melaporkan individu yang aktif berolahraga mempunyai resiko terkena serangan stroke iskemik 34% dan stroke perdarahan 21% lebih rendah dibanding individu yang tidak aktif.
• Cukup tidur. Jumlah jam tidur ideal adalah 6 – 8 jam perhari. Orang yang tidur kurang jadi ini berisiko mendapat serangan stroke dua kali lipat. Beberapa penelitian menyebutkn bahwa kurang tidur sama atau lebih buruk daripada merokok.
• Mengendalikan hipertensi. Hipertensi tidak diragunakan lagi merupakan faktor resiko paling penting pada penyakit stroke. Mengendalikan tensi sangat penting dalam pencegahan stroke. Jurnal Stroke yang merangkum beberapa penelitian tentang stroke dan hipertensi di seluruh dunia menyebutkan bahwa setiap penurunan 10 mmHg dapat menurunkan resiko stroke sebanyak 40-50% pda pasien yang berusia < 60 tahun. Pasien tidak perlu ragu untuk mengkonsumsi obat antihipertensi secara teratur bila telah didiagnosis hipertensi. Obat antihipertensi baru tidak merusak ginjal pada penggunaan jangka panjang, bahkan justru menjaga ginjal dari kerusakan. • Mengendalikan kadar gula darah bila menderita diabetes. Diabetes melitus adalah faktor resiko serangan stroke kedua setelah hipertensi. Data epidemiology menunjukkan penderita diabetes mempunyai kemungkian 2,7 kali lebih tinggi untuk terkena stroke iskemik dibanding bukan penderita diabetes. Menurunkan kadar gula darah dapat menurunkan resiko ini sehingga pasien dengan diabetes diharapkan dapat mengndalikan diabetesnya dengan cara berobat, olah raga dan mengatur makanan secara baik Demikianlah hal-hal sederhana yang dapat kita mulai lakukan mulai sekarang, mulai saat peringatan hari stroke sedunia 29 Oktober 2017 agar terhindar dari penyakit stroke demi kesehatan pribadi dan masa depan keluarga tercinta.

Byadmin

Catatan Pendampingan Erina Hafiza, Bocah 4 Tahun Penderita Stenosis Pumonal

Bocah cantik. Begitu ucapan beberapa orang yang menyapa Erina Hafiza saat dibawa ke RS Idaman Banjarbaru Rabu (15/3) lalu oleh RBP. Ya, Erina adalah bocah yang cantik parasnya. Namun, selang yang terpasang di hidungnya menjadi tanda tanya bagi siapapun yang melihatnya. Sakit apa yang diderita Erina?

Hari itu adalah kunjungan rutin Erina ke RS untuk mendapatkan perawatan dokter spesialis. Ia terlihat gelisah di gendongan sang ibu, Fitriani (32). “Pengen rebahan anaknya nih,” ujar Fitriani dan segera meletakkan Erina di kursi ruang tunggu Poli Tumbuh Kembang. Seketika Erina kembali tenang. Fitriani bercerita kalau selang yang terpasang di hidung Erina adalah alat bantu untuk makan dan minum. “Waktu itu Erina tidak bisa makan jadi dipasangi selang, kalau sekarang sudah mulai dibiasakan lagi pakai mulut, tapi tidak bisa banyak-banyak,” ungkap Fitriani.

Bulan Juni nanti Erina genap 4 tahun. Namun jangankan berjalan, duduk saja tak bisa. Dokter Yanuar Nusca Permana spesialis anak yang menangani Erina menjelaskan bahwa Erina menderita penyempitan pembuluh dari jantung ke paru-paru. “Dalam dunia medis disebut dengan Stenosis Pumonal, yang biasanya dibawa sejak lahir. Kasus Erina saya perkirakan juga akibat adanya infeksi pada kehamilan trimester pertama,” terang dokter Yanuar kepada RBP.

Dengan kondisi kelainan jantung seperti itu, perkembangan Erina pun terhambat. Saat diperiksa di Poli Tumbuh Kembang, Erina terlihat mengalami gangguan mata dan telinga karena tidak ada respon pada rangsangan cahaya dan bunyi. “Ini langsung bawa ke poli mata dan THT ya biar diperiksa lebih lanjut,” kata dokter Yanuar sembari memberi rujukan.
“Saya minta orang tua tidak menuntut lebih pada anak, fokus pada perhatian saja dan latihlah dengan sabar,” pesan dokter Yanuar pada Fitriani dan suaminya, Ahmad Yani.

Lebih lanjut dokter Yanuar menjelaskan bahwa penyakit Stenosis Pumonal biasanya ditangani dengan cara operasi, namun dalam kasus Erina cukup dengan eco-evaluasi. “Kita lakukan pantauan secara rutin, lalu melakukan penanganan sesuai keluhan kondisional,” ucapnya.

Fitriani dan Ahmad Yani terlihat mendengarkan dengan seksama. Terlihat dari wajah mereka, apapun akan mereka lakukan demi sang anak. Namun terselip juga rona kebingungan. “Meski sudah dijamin SKTM tapi kami juga terkendala bolak balik ke RS dari rumah,” ujar Ahmad Yani.

Kebingungan Ahmad Yani tentu beralasan. Rumahnya yang berada di Desa Beruntung Jaya Kecamatan Cempaka berjarak sekitar 50 km dari RS. Bekerja sebagai buruh kebun tak menjamin penghasilan tetap yang mencukupi. Sementara, pengobatan Erina bisa dipastikan memakan waktu lama. Beruntung, saat ini harga karet sudah naik jadi Ahmad Yani bisa menyisihkan dana untuk ditabung. Namun, bagaimana nanti jika penghasilannya tak mencukupi?
Ahmad Yani mengaku senang dibantu RBP untuk menjemput dan mengantar mereka membawa Erina berobat ke RS. “Kami ucapkan terimakasih atas perhatian RBP,” ucapnya.

Ahmad Yani dan Fitriani hanyalah satu dari sekian orang tua di Kecamatan Cempaka yang mengalami kesulitan dari ketidaktahuan. Masih banyak orang tua lain yang perlu uluran tangan agar bisa menjangkau pengetahuan. RBP sebagai lembaga sosial kemanusiaan mengambil peran sebagai fasilitator agar keadilan akan pengetahuan di negeri ini terjadi. Dari kota hingga ke pelosok desa.

Dukung aksi-aksi kami dengan donasi terbaik Anda. Karena dengan uluran tangan Anda lah kebaikan tak akan pernah kehabisan nafasnya. Kunjungi website kami www.radarbanjarpeduli.org untuk menyalurkan donasi atau sms ke 0813 33272004. (en)

Byadmin

Ratu Pendidikan

Semangatnya untuk mendidik anak-anak usia dini tak pernah padam. Pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa sebuah kegagalan hanyalah pengingat bahwa masih banyak jalan untuk meraih kesuksesan.

Ditengah sibuknya menjadi ibu rumah tangga, Ratu Nur Inayah masih sempat berbagi ilmu. Tinggal bersama suami dan dua putri kecilnya, wanita kelahiran 32 tahun silam ini begitu menikmati kegiatannya mengajar di Rumba Abata, sebuah bimbingan belajar yang didirikannya untuk anak-anak di sekitar rumahnya di Desa Tawia, Kandangan.
Meski rumah yang ditempatinya sekarang belum seratus persen selesai, namun tidak mengurangi keinginannya untuk mengajari anak-anak yang kurang mampu. “Seharusnya rumah ini sudah selesai tahun lalu. Tapi saya ditipu kontraktor yang membangunnya,” kenangnya dengan nada lesu.

Kecintaannya kepada pendidikan usia dini memang bukan seumur jagung. Ibunda dari Nabila dan Kania ini sudah bergelut dengan dunia pendidikan sejak 13 tahun silam. Berawal dari kegagalannya lulus SPMB 2004 untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Ratu akhirnya bekerja menjadi pengajar di sebuah TK dengan penghasilan jauh di bawah cukup. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, Ratu harus mengambil dua kerja tambahan sekaligus : mengajar kursus komputer dan jasa ketik skripsi.

Dengan ketekunannya mengajar anak-anak, Ratu mendapat durian runtuh. Pada tahun 2005 bersama dua guru lainnya, Ratu mendapat beasiswa dari yayasan tempat Ia bekerja untuk menempuh pendidikan di Depok. Dari situlah rasa cintanya kepada pendidikan anak-anak semakin terasah.

Sekembalinya dari Depok, Ratu bersama kawan-kawannya membentuk lembaga Pendidikan Usia Dini (PAUD) dengan nama Butterfly Group. Tujuannya adalah agar anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu juga bisa mendapatkan pendidikan layaknya anak-anak lain. “Sistem pembiayaannya subsidi silang. Anak yang mampu bayar SPP, sedangan yang tidak mampu digratiskan,” terang wanita berhijab ini.

Ujian pertama pengabdiannya di Kandangan terjadi pada tahun 2008. Konflik internal di TK tempat dia bekerja mengharuskan Ratu mengambil keputusan besar, hijrah dari Kandangan. Akhirnya wanita kelahiran 25 Agustus ini memilih kembali ke Depok, mengambil beberapa pekerjaan sekaligus untuk biaya hidup, sambil melanjutkan studinya di Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Kesempatannya untuk kembali berbakti ke banua akhirnya datang. Pada tahun 2009, Ratu menikah dengan seorang pria asal Banjarmasin. Setelah lulus dari UNJ tahun 2013, Ratu mengikuti suami bertugas di Banjarmasin. Sehari-hari Ratu menyibukkan dirinya dengan membuka bimbingan belajar di rumahnya sambil merawat anak keduanya yang baru lahir.

Ujian kedua datang ketika sang suami harus pindah tugas ke Barabai pada tahun 2015. Kedua putrinya yang pada saat itu berusia 4 tahun dan 2 tahun mengalami sakit sehingga Ratu harus tinggal di rumah orang tuanya di Kandangan. Selama tinggal di sana, Ratu merasa tertekan batinnya. Orang tua Ratu menginginkan anaknya bekerja di luar rumah layaknya wanita karir dengan modal ijazah strata satu yang dimilikinya. Sementara Ratu berpendapat, keluarganya masih berkecukupan dengan gaji yang diterima oleh suaminya sehingga dia bisa fokus mengurus anak dan rumah, sambil menjalankan bimbingan belajar di rumah. “Makanya saya berinisiatif untuk segera membangun rumah sendiri, eh tapi malah kena tipu,” ujarnya sedih.

Kini, Ratu memiliki Butterfly Group dan Rumba Abata sebagai tempatnya berbagi ilmu. Mendidik anak-anak di sekitarnya sekaligus mendidik dua putrinya. Komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan semakin mulus tanpa harus mengorbankan statusnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Ibarat dalam sebuah kontes kecantikan, titel Ratu kecantikan akan diberikan kepada orang yang dianggap paling cantik dari sekian banyak peserta. Nah, kalau di dunia pendidikan, tidak salah rasanya jika titel Ratu Pendidikan disematkan kepada wanita ini. The Real Ratu.

Ditulis oleh Muhammad Rezki Oktavianor (Dosen, Kotabaru)
Penulis merupakan salah satu peserta kelas menulis Jurnalisme Spirit RBP Angkatan 1