Ayo Bantu

Byadmin

Mampu Bertahan Karena Punya Tabungan Hasil Kerja Keras

Kisah Purwanti yang Berjuang Melawan Sakit Demi Empat Anaknya

Purwanti (38 tahun) sementara ini didiagnosa dokter mengidap tumor rahim. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar untuk terus menjalani hidup. Menjadi wanita lemah tidak ada dalam kamus Purwanti. Sembilan tahun hidup sebagai single parents sekaligus tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal, Ia jalani dengan tabah bersama keempat anaknya.

(Eggy Akbar Pradana, Banjarbaru)

Purwanti saat ditemui penulis dirumahnya di Kelurahan Sungai Besar Banjarbaru terlihat sedang terbaring di atas kasur, raut wajahnya pucat dan kelelahan. “Ini baru tadi siang terasa demam, setelah obatnya habis” tutur Purwanti.

Purwanti sendiri mengaku obatnya diperoleh sejak Kamis (22/3)  malam kemarin setelah melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Idaman, Banjarbaru. “Sebelum pemeriksaan saya sempat  mengalami nyeri di bagian perut, kalo kaget itu kadang keluar darahnya. Saya kira awalnya ini haid tapi kok durasi haidnya berkepanjangan,” tuturnya.

“Diagnosa awal katanya ada tumor, tapi perlu diperiksa lagi lebih lanjut,” imbuhnya.

Selanjutnya Purwanti memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, Selasa (27) kemarin. “Alhamdulillah, kemarin ada acil awal, tetangga saya yang menemani berobat ke Banjarmasin,” ucapnya.

Purwanti tidak memiliki BPJS sehingga untuk pemeriksaan ini Ia harus menggunakan tabungannya. “Selama pemeriksaan sudah habis 2jutaan,” akunya.

Kondisinya yang tidak stabil, membuat Purwanti terpaksa berhenti bekerja. Sebelumnya, Ia bekerja sebagai tukang pijat dan lulur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekarang, untuk bertahan hidup bersama empat anaknya, Ia harus menggunakan tabungan.

Ayu, anaknya yang sulung, terlihat khawatir melihat kondisi Purwanti. Ayu mengatakan kondisi ibunya lemas, kecapean dan pucat karena rendahnya kadar hemoglobin dalam darahnya akibat pendarahan yang dialami selama ini.

Ayu membenarkan ibunya lah selama ini yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia sendiri masih kuliah sambil membantu ibunya, adik keduanya terpaksa berhenti sekolah sejak lulus SMP, adik ketiga dan keempatnya masih sekolah dasar. Ayu bersama ketiga adiknya dengan sabar merawat ibunya setiap hari, untuk urusan masak-memasak dan membersihkan rumah mereka berbagi tugas.

Namun Ayu beruntung memiliki teman-teman kuliah di Himpunan Kimia (Himamia) Redoks yang peduli dengan kondisinya saat ini. Jumat (30/3) kemarin mereka menggelar aksi penggalangan dana untuk Purwanti.

“Keluarga Himamia Redoks menggalang dana sebagai wujud solidaritas untuk meringankan beban adik tingkat kami, yaitu Ayu. Semoga bisa membantu,” kata Dimas Aji Saputra sebagai penanggung jawab kegiatan. Aksi yang berlangsung sejak pukul 8 pagi itu berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 3.762.200 dan akan diserahkan langsung kepada Ayu.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Ayo Dukung RBP Galang Donasi untuk Nutrisi

Hanil. Lelaki 46 tahun itu tak bisa berbuat apa-apa. Kejadian satu setengah tahun silam membuat fisiknya cacat. Tragis. Di tengah kesehariannya mencari nafkah untuk keluarga, punggung itu kejatuhan bongkahan bangunan yang tak kokoh. Berbagai upaya telah di lakukan. Operasi pun sudah dijalani.

Namun apa daya, kelumpuhan belum jua pulih. Dari pinggang hingga kaki. Sebagai tulang punggung keluarga ia tak bisa berbuat banyak sekarang. Semenjak kejadian itu, hanya menantunya saja yang senantiasa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun penghasilannya kurang dari kata cukup.

Ditemani sang istri yang setia merawatnya, semangat untuk sembuh itu tetap ada. Ke kediamannya yang beralamat di Jalan Pirdaus Cempaka Kertak Baru Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru, sebulan sekali tim relawan Homecare Duafa rutin mengunjungi.

Setidaknya kondisi kesehatan beliau terkontrol. Obat-obatan pun rutin diberikan walau sekedar mengurangi rasa sakit. Begitulah itikad kami sejak November 2016 silam.

Berangkat dari kondisi ini, RBP tetap berupaya memberikan yang terbaik. Tak hanya ingin mewujudkan kesembuhan, pemenuhan nutrisi pasien pun ingin RBP penuhi.

Kembali mengajak Sahabat Dermawan di Kalimantan Selatan untuk mewujudkan empati. Selain Hanil, masih ada beberapa lansia yang membutuhkan uluran tangan kita semua. Rencananya setiap bulan RBP ingin membagikan paket nutrisi berupa makanan sehat dan sembako untuk mereka senilai Rp 150ribu per kepala keluarga.

Bergabunglah dalam gerakan kebaikan ini. Donasi untuk nutrisi duafa bisa disalurkan melalui rekening berikut :

Bank Syariah Mandiri 0260018953

BNI Syariah 11 999 33 555

Mohon konfirmasi via sms ke 081333272004

Info program silahkan hubungi 081317238310 (Devi)

Donasi sekecil apapun tentu sangatlah berarti. Terima kasih telah berbagi!

#bahagiakanbanua

 

Byadmin

Masih Butuh Bantuan untuk Bertahan Hidup

Mengunjungi Sumiati Pasca Operasi Kanker Payudara

Menderita kanker payudara sejak dua tahun yang lalu tidak menjadikan Sumiati perempuan yang lemah. Ditinggalkan begitu saja oleh suami kembali ke tanah Jawa dan akhirnya hanya hidup berdua dengan sang anak selama bertahun-tahun dalam keadaan ekonomi yang sulit menjadi jalan hidup yang tak mampu Ia tolak. Namun meski demikian, Ia tetap berjuang tanpa lelah sampai akhirnya bertemu Radar Banjar Peduli dan menemukan harapan baru dalam hidupnya.

(Nadia Susiyana, Banjarbaru)

“Mba Sum, kamu kan sekarang abis operasi, jadi kamu nggak usah kerja dulu setengah tahun. Kamu nggak usah kerja lagi di Kantin”

Ucapan itu ditiru Sumiati saat bercerita kepada penulis tentang majikannya yang tidak bisa mempekerjakannya lagi. “Kalau nggak kerja lagi selama setengah tahun, apa yang saya makan?” gumamnya dengan wajah sedih. Sumiati hanya bisa diam, memendam kekecewaan dan kesedihan yang mendalam lantaran diberhentikan bekerja untuk sementara waktu karena penyakit yang dideritanya.

“Dulu saya sempat bekerja di kantin Kantor Gubernur. Digaji empat puluh ribu per hari, dari jam enam pagi sampai setengah empat sore. Cukuplah memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya saat mengenang masa-masa ia bekerja dahulu.

Kini, tanpa pekerjaan beban Sumiati terasa sangat berat. Semua serba terbatas, mulai dari makanan hingga keuangan. Anaknya yang putus sekolah setelah lulus dari bangku sekolah dasar membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan. Hidup hanya berdua dengan anak dalam kondisi serba keterbatasan, tanpa suami dan dukungan keluarga membuat ia benar-benar merasa kesepian.

“Saya sudah lama ditinggalkan suami pulang ke Jawa, nggak tau lagi gimana beritanya. Nggak tau juga alasannya kenapa dia meninggalkan saya,” tutur Sumiati tentang suaminya.

Zailani (28), sang anak, juga memendam kesedihan sekaligus kekecewaan terhadap ayahnya. Namun, meski demikian, Zailani tetap berkeinginan mempertemukan kembali ayah dan ibunya. “Saya masih ingin mereka bersama lagi,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Dalam keterbatasan itu, Zailani ingin bisa membahagiakan Sumiati.

Sumiati mengaku tiap malam menangis memikirkan kanker yang dideritanya. “Kemarin itu payudara kiri sudah sampai bernanah. Saya ngomong minta bantu sama keluarga, tapi nggak bisa. Saya bingung,” sambungnya. Akhirnya Ia hanya bisa berpasrah dengan doa dan memperbanyak ibadah. Alhamdulillah doa-doa Sumiati terjawab pada bulan Oktober 2017 lalu. Sumiati mendapatkan bantuan dari RBP berupa pendampingan berobat.

Bersama RBP, Sumiati dibantu hingga menjalani operasi pada bulan November 2017 yang lalu. “Alhamdulillah saya senang sekali ketemu RBP dan bisa menjalani operasi, rasanya plong sekali ternyata masih ada yang peduli sama saya,” ucapnya.

Selama pengobatan, Sumiati ditangani oleh dr H M Yamsun SpB (K) Onk. “Kondisi kanker payudara Sumiati saat tiba di rumah sakit sudah stadium lanjut. Sebenarnya penanganan yang baik itu dilakukan kemoterapi dahulu baru kemudian operasi. Tapi karena sudah luka berbau dan ada pendarahan juga, jadi kita segera lakukan operasi pengambilan tumor beserta payudaranya,” ungkap Dokter Yamsun.

Dokter Yamsun mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan kanker ini. “Bisa dari faktor internal penderita sendiri misalnya seperti keturunan dan faktor eksternal misal penggunaan asupan obat, makanan atau paparan dari luar,” tutur beliau. “Tidak bisa dipastikan kapan Sumiati dapat benar-benar sembuh, karena sangat tergantung dengan hasil lab PA (Patologi Anatomi) dan IHK (Imuno Histo Kimia). Hasil ini akan menentukan baik tidaknya masa depan penyakit. Setelah ada hasil lab PA, baru nanti kita teruskan dengan obat kemoterapi kalau hasil PA-nya ganas,” tutur dokter yang praktek di RS Ratu Zaleha itu kepada penulis.

Begitulah, perjuangan Sumiati masih panjang. Atas kebaikan-kebaikan para donatur yang telah berdonasi melalui RBP lah, nasib duafa seperti Sumiati bisa lebih baik. “Saya dibantu bayar kontrakan, biaya hidup, dan dipinjami sepeda motor supaya anak bisa bekerja,” ucap Sumiati.

Direktur RBP Dokter Diauddin MKes mengucapkan terima kasih atas semua dukungan masyarakat. “Tanpa dukungan para dermawan tentu kami juga tak bisa berbuat banyak. Terima kasih karena telah ikut berperan dalam aksi-aksi kepedulian kami,” ujarnya.

Tentu masih banyak duafa yang juga memerlukan uluran tangan kita semua. RBP terus membuka donasi kepedulian terhadap orang sakit melalui nomer rekening Bank Syariah Mandiri 0260018953 atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli. Bagi yang berdonasi diharapkan konfirmasi via sms ke 081333272004.

Ayo terus berbagi kebaikan untuk menjalin persaudaraan. 

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Butuh Dana untuk Operasi

Kisah Muhammad Ilham, Balita 21 Bulan Penderita Jantung Bocor

Wajah Muhammad Ilham yang rupawan rupanya tak seindah nasibnya. Bagaimana tidak, di usia yang masih kecil itu sudah mengalami kelainan jantung, tepatnya jantung bocor. Ayah dan ibunya tak tinggal bersama lagi. Ayahnya tinggal di Kelurahan Bangkal bersama kedua kakaknya. Sedangkan Ia tinggal bersama ibunya di Kelurahan Sungai Tiung. Ibunya tidak bekerja sehingga untuk kebutuhan sehari-hari tergolong tidak mampu.

Halidah (32), sang ibu, mengatakan bahwa mereka sekarang hanya menumpang di rumah keluarga. Meskipun begitu, Halidah bersyukur Ilham tak gampang rewel saat menjalani pemeriksaan. “Alhamdulillah Ilham ini anaknya kuat, saya pun harus kuat dan sabar menjalaninya,” akunya.

Diungkap oleh Halidah bahwa Ilham mengalami kelainan jantung sejak berumur 6 bulan. Lalu pada umur 11 bulan, keadaannya mulai membaik. Namun selama masa pemulihan cobaan lain datang menghampiri. “Penyakit-penyakit lain satu persatu menggerogoti di dalam tubuhnya. Mulai dari tifus, ambien, hingga radang paru-paru (TBC),” ujar Halidah.
Perjuangan Halidah tak sampai di situ. Ilham juga mengalami kesulitan menelan makanan. “Dia sering muntah kalau disuapi, jadi saya tidak berani untuk menyuapi makanan selain susu,” kisahnya kelu. Beruntung, lanjut Halidah, Ilham tidak rewel saat diminumi obat dan selalu tepat waktu dalam meminumnya sehingga perlahan keadaannya membaik kembali.

Yayuk selaku petugas gizi di Puskesmas Cempaka yang menangani Ilham menerangkan bahwa kondisi Ilham memang naik turun. “Kesulitan menelan makanan menyebabkan Ilham hanya mendapatkan asupan gizi dari selang NGT, sementara semakin besar usia anak harusnya bisa mendapatkan gizi seimbang dari berbagai makanan,” tutur Yayuk mengingat pertambahan berat badan Ilham cukup signifikan. Memang awal ditemukan, Ilham hanya memiliki berat 5,2kg dan sekarang sudah mencapai 8,8kg.

“Ilham masih perlu pemeriksaan rutin agar ia semakin pulih. Pengobatan pun juga sangat diperlukan dalam menunjang kesehatannya,” ujar Dokter Yanuar Nusca Permana spesialis anak yang selama ini menangani Ilham. “Upaya pengobatan yang bisa dilakukan saat ini adalah mencegah infeksi saluran nafas yang berulang, gangguan pertumbuhan dengan pemberian nutrisi yang adekuat, vaksinasi, dan edukasi kepada orang tuanya mengenai penyakit jantung bawaan,” lanjutnya. Melihat kondisi jantungnya, Dokter Yanuar menyatakan jika tidak terjadi penutupan spontan maka harus dilakukan upaya tindakan operasi bedah.

Namun, kendala dana menjadi beban utama bagi Halidah. Tentu tak sedikit biaya yang diperlukan untuk melakukan operasi. “Saya dan keluarganya selalu berdoa kepada Allah agar penyakit Ilham segera diangkat. Ingin sekali melihatnya bermain seperti anak-anak lain yang normal,” ungkapnya penuh harap.

Masih ada harapan untuk Ilham. Harapan itu ada pada uluran tangan para dermawan. Mari bersama-sama bantu Ilham sembuh dari sakitnya. Donasi Anda bisa disalurkan melalui rekening Bank Syariah Mandiri 0260018953 atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli. Silahkan lakukan konfirmasi via sms ke 081333272004. Atau Anda bisa langsung datang ke kantor Radar Banjar Peduli di Jalan A Yani Km 26,9 Landasan Ulin Kota Banjarbaru. (el/en)

Byadmin

Bantu Mustadi, Bocah Penderita Kanker Asal Cempaka

Mustadi, bocah 11 tahun itu seperti tak terlihat sedang sakit. Ia asik bermain dengan adiknya, Edo, yang empat tahun lebih muda darinya. Namun, wajahnya yang pucat tak bisa membohongi keadaannya yang telah berjuang melawan kanker darah sejak empat tahun yang lalu.
Ruang anak kelas 3 RS Idaman Banjarbaru. Di sanalah Mustadi dirawat. Sang Ibu, Solatiah, tampak duduk bersender di salah satu dinding ruangan itu. “Saya sedih mengetahui anak saya kena kanker, saya ingin Ia sembuh kembali,” ungkapnya kepada penulis. Sejak 2013 yang lalu, perempuan berusia 35 tahun itu berjuang sekuat tenaga membawa Mustadi berobat. “Saya ikuti semua proses pengobatan. Alhamdulillah gratis,” kisahnya.
Namun, rupanya pengobatan kanker tidaklah sebentar. Menurut Dokter Harapan Parlindungan Spesialis Anak dan Hematologi, Mustadi sudah menjalani kemoterapi dan selama satu tahun awal berjalan baik. “Namun ketika hampir menyelesaikan proses kemoterapi, ternyata kambuh lagi sehingga program kemo pun diulang,” ujar dokter yang biasa disapa Dokter Parlin tersebut.
Di tahun kedua, kondisi serupa terjadi kembali sehingga menyebabkan Solatiah putus asa. Bagaimana tidak? Untuk pengobatan Mustadi, Solatiah terpaksa menjual rumahnya. “Semua harta benda sudah terjual, cuma tersisa punya rumah hasil kerja suami. Sementara saya pengen Mustadi sehat kembali, ya kami jual rumah tersebut,” akunya.
“Saya tak sanggup lagi. Tidak ada biaya untuk ke RS. Kerjaan suami sedang sepi,” ucapnya kala itu.
Ahmad (43), suami Solatiah, memang hanya mengandalkan hidup dari hasil mendulang. Sudah berbulan-bulan ini tidak mendapatkan hasil apapun.
Beruntung, kepedulian Dokter Parlin terhadap pasiennya menggugah salah satu rekan medisnya untuk menggalang dana. Dialah Dokter Siti Ningsih, yang juga adalah pengurus Radar Banjar Peduli (RBP).
“Saya bermaksud mengajak bapak ibu yang ingin membantu mama Mustadi supaya bisa tetap menjalankan program kemoterapi karena anak ini masih ada kemungkinan untuk baik dan beraktifitas normal,” tulisnya melalui pesan whatsapp.
Dana yang Ia kumpulkan kemudian dititipkan ke RBP untuk dikelola. “Mudahan dengan dikelola lembaga, kesinambungan pengobatan lebih terjaga karena dana benar-benar disalurkan sesuai peruntukannya,” ucapnya.
Direktur RBP Dokter Diauddin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas sinergi yang telah terjalin. “Alhamdulillah dengan sinergi seperti ini harapan Mustadi untuk sembuh dapat kembali bersinar. Semoga makin banyak tangan terulur, tidak hanya untuk Mustadi tapi juga penderita kanker lainnya,” ujar Dokter Diauddin.
Sahabat, banyak pejuang kanker di Kalimantan Selatan sedang berjuang keras. Bukan untuk melawan maut, melainkan untuk bertahan hidup dengan baik. Mereka berhak untuk bahagia. RBP hadir membersamai mereka bukan untuk menjadi pahlawan, namun ingin menjadi teman seperjuangan. Membersamai dalam setiap tangis bahkan tawa. (en)

Byadmin

Homecare : Jalan Panjang Hanil Jalani Pengobatan

Sinergi Program : RBP – Dinkes Kota Banjarbaru – IDI Kota Banjarbaru

Siapapun di dunia ini tentu tidak ada yang ingin hidup dalam kondisi cacat atau lumpuh. Namun terkadang keadaan tidak bisa diatur sesuai kehendak diri. Seperti yang dialami Hanil, lelaki 45 tahun asal Kecamatan Cempaka Banjarbaru, kini hanya bisa terbaring di atas kasur karena mengalami patah tulang belakang akibat kecelakaan saat bekerja. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2016 yang lampau. “Waktu itu saya tertimpa bongkahan bangunan dari atas saat sedang bekerja,” kenang Hanil saat ditanya kronologis kejadian.

Setelah itu Hanil sempat dirawat di rumah selama lima hari sebelum dibawa ke rumah sakit. “Kami sempat bolak balik ke rumah sakit sebanyak empat kali, tapi karena kondisi keuangan semakin menipis akhirnya dirawat di rumah saja,” ujar Sahni (44), istri Hanil. Sejak suaminya tak bekerja, Sahni memang hanya mengandalkan tabungan dan pemberian anak untuk kebutuhan sehari-hari.

Atas bantuan seorang dermawan, Hanil akhirnya mendapatkan BPJS dan melanjutkan pengobatan ke rumah sakit. Setiap dua minggu sekali Hanil harus mengganti kateter (alat buang air kecil). Hal ini membuat keluarga kerepotan dan akhirnya pada bulan November 2016 meminta bantuan kepada RBP. Sejak saat itulah RBP melakukan pendampingan pengobatan untuk Hanil.

Dokter Fatmawati Spesialis Syaraf yang menangani Hanil beberapa bulan terakhir menjelaskan bahwa yang bisa diupayakan untuk saat ini adalah terapi untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi. “Kemungkinan untuk pemulihan dari sisi kecacatan memang jelek, jadi sekarang yang ditangani adalah nyeri supaya dia bisa hidup lebih nyaman dan mencegah komplikasi akibat duduk atau tirah baring lama seperti decubitus,” ungkapnya.

Fatmawati menyayangkan penanganan yang cukup terlambat sejak awal kejadian. “Kalau saja sejak awal ditangani secara cepat dan optimal, mungkin kemungkinan pemulihan dari cacat bisa lebih baik,” imbuhnya.

RBP sendiri melakukan peran pendampingan untuk meringankan beban Hanil dan keluarga. “Hanil adalah kepala keluarga, sedangkan istrinya mau tidak mau harus melakukan perawatan harian dan menjaganya, sehingga tak bisa bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Kami lakukan pendampingan dalam bentuk bantuan kunjungan dokter dan berobat rutin,” terang Direktur RBP Dokter Diauddin.

Diauddin menyampaikan bahwa RBP tidak bekerja sendiri. Banyak mitra peduli yang bergandengan dalam upaya menuntaskan masalah sosial kemanusiaan tersebut. “Alhamdulillah ada para relawan medis dari Akper Intan Martapura yang secara sukarela membantu melakukan upaya perawatan rutin ke rumah Hanil. Selain itu untuk mengantar ke RS juga dibantu ambulan dari Masjid Agung Al Munawarah Banjarbaru,” paparnya.

Sinergi seperti itu, lanjut Diauddin, menjadi solusi yang tepat bagi kondisi Hanil. “Bagaimanapun nanti, yang jelas upaya terbaik yang akan kita lakukan demi kemanusiaan,” imbuhnya.

Ya. Tentu RBP tak bisa bergerak sendiri. RBP memerlukan dukungan semua pihak dalam mengemban amanah dan berupaya menyelesaikan masalah sosial kemanusiaan di sekitar kita. Dengan kedermawanan yang terulur maka kebaikan demi kebaikan akan terus terwujud di sekitar kita. Aamiin. (en)

 

 

Byadmin

Ayo Bantu Erina, Bocah Penderita Stenosis Pumonal

Perjuangan Erina dan Sang Ibu Masih Panjang

Masih ingat Erina Hafiza? Bocah cantik yang mengalami penyempitan pembuluh jantung atau yang di dunia medis dikenal dengan penyakit Stenosis Pumonal. Rabu (31/5) yang lalu RBP berkesempatan menengok gadis cilik itu di rumahnya di Desa Beruntung Jaya, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Siang yang cukup terik saat itu, Erina berbaring di ruang tengah tepat di depan pintu kamar yang merupakan kamar satu-satunya di rumah itu. Erina bersuara sembari memperlihatkan wajah sumringah. Segera penulis raih jemarinya dan seketika itu Erina merespon lemah. Ia pun tertawa girang saat penulis menepuk-nepuk telapak tangannya.

Memang, sejak didampingi RBP pada bulan Maret yang lalu, Erina telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. “Alhamdulillah sudah bisa merespon genggaman meski belum terlalu kuat,” ucap Fitriani, sang ibu. “Terima kasih kepada RBP yang selalu siap mendampingi kami mengantar Erina terapi,” imbuhnya.

Selain harus menjalani terapi tumbuh kembang Erina juga menjalani perawatan mata dan telinga. Selama hampir dua bulan Erina mendapatkan pengobatan. “Sekarang sudah dinyatakan dokter sehat untuk mata dan telinga, namun masih harus terapi tumbuh kembang,” ujar Penanggungjawab Program Devi Putri Listyasari.

Anak yang telah mencapai usia 4 tahun biasanya akan suka bertanya dan juga memperlihatkan apa yang dilakukan atau sesuatu yang ditemukannya. Namun, bagi Fitriani suara teriakan dan tawa Erina telah memiliki banyak makna. Mengikuti tumbuh kembang anak memang adalah hal yang sangat menyenangkan sekaligus juga cukup membuat lelah.

RBP mengajak siapa saja untuk membantu Erina dan Fitriani sang bunda yang tak lelah menjaga buah hatinya yang “berbeda”. Erina harus menjalani perawatan yang panjang. Fitriani telah menjadi malaikat bagi Erina sejak lahir, namun alangkah indahnya jika kita membantu meringankan tugasnya. Karena berbagi itu tak pernah rugi.

Ayo bantu Erina untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan dengan donasi terbaik Anda melalui RBP. Hubungi sms center 081333272004 jika ingin turut membantu Erina atau bisa juga langsung transfer donasi ke rekening BSM 0260018953 atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli. Sekecil apapun, bantuan Anda sangat berarti. (en)