Berita

Byadmin

Serunya PPGD 2018, Tambah Skill dan Teman

Mitra Peduli – Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

“Asyik! Rame banar latihannya. Bisa belajar tekniknya satu-satu,” begitu tutur Irwan Nasrudin, siswa kelas 10 IPS SMA Karang Intan kepada penulis di sela kegiatan Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD) yang digelar Poltekkes Kemenkes Banjarmasin, Selasa (10/4) dan Rabu (11/4) tadi. Selain kegiatan yang seru, Irwan juga mengaku mendapatkan banyak teman baru. Hal senada juga diserukan dua rekannya, Arya dan Aldi. Ketiganya terlihat bergembira bersama puluhan peserta lainnya.

PPGD 2018 itu juga diikuti oleh siswa-siswi dari SMAN 1 Martapura, SMAN 2 Martapura, SMKN 1 Martapura, MA Hidayatullah Martapura, SMAN 1 Banjarbaru, dan SMK Borneo Lestari.

Kepala Unit Pengabmas Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan itu bertujuan untuk melahirkan relawan-relawan yang mampu menangani kondisi gawat darurat. “Ini nantinya diharapkan bisa menekan angka kematian akibat kecelakaan,” ujar lelaki yang akrab disapa Awal itu.

Hari pertama, para peserta diberikan pemahaman tentang kondisi gawat darurat. Sedangkan hari kedua mereka diajari langsung praktek bagaimana membalut luka, mengangkat korban, hingga melakukan penyelamatan pada kasus orang pingsan atau tenggelam. Bertindak sebagai narasumber yaitu Dosen Keperawatan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Nasrullah dan Staf IGD RS Idaman Banjarbaru Hadri.

Di awal pemaparan, Nasrullah menyampaikan kritik sosial tentang fenomena masyarakat yang jika terjadi kecelakaan malah mengambil foto, bukannya menolong. “Ini jadi perhatian saya. Karena banyak orang sembarang ambil foto, sembarang juga menyebarkannya. Hal ini melanggar etika,” ucap Nasrullah. “Jika terjadi kecelakaan maka manusianya dulu yang ditolong,” imbuhnya.

“Kegiatan seperti ini bagus sekali, bisa membekali siswa dengan kemampuan teknik BHD (bantuan hidup dasar) dimana di luar negeri sudah masuk kurikulum sekolah. Semoga lebih banyak lagi instansi kesehatan yang mau memberikan pengabdian seperti ini,” ucap Hadri.

PPGD 2018 untuk siswa adalah yang perdana dilaksanakan oleh Poltekkes Kemenkes Banjarmasin dan diberikan secara gratis sebagai perwujudan tridarma perguruan tinggi. Hal ini disampaikan oleh Pudir I Bidang Akademik Abdul Khair SKM MSi. “Kami sebagai lembaga pendidikan professional tentu berkewajiban memberikan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya dengan membuat pelatihan-pelatihan seperti ini,” ungkap Abdul Khair. “Semoga para peserta nanti jika ada kejadian gawat darurat bisa membantu dalam pertolongan pertama,” imbuhnya,

Abdul Khair juga mengaku senang melihat antusias peserta. “Terima kasih atas partisipasi para peserta yang selalu semangat hingga akhir kegiatan, ini kebanggaan bagi kami,” pungkasnya.

Ke depan, Abdul Khair menyampaikan bahwa PPGD akan semakin dikembangkan kepesertaannya, bahkan mungkin hingga tingkat provinsi.

Penulis/editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Tujuh Tahun Bersinergi, Kuat Karena Asas Peduli

Mitra Peduli – Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Selain Layanan Kesehatan, Pelatihan dan Desa Binaan Jadi Program Unggulan

Direktur Poltekkes Kemenkes Banjarmasin H Mahpolah MKes menyampaikan bahwa dukungan RBP (Radar Banjar Peduli) yang telah terjalin sejak lama telah memberikan kontribusi positif bagi kemajuan kampusnya. “Alhamdulillah atas kerjasama yang terjalin selama ini Poltekkes Kemenkes Banjarmasin semakin dipercaya masyarakat,” ungkap Mahpolah disela penandatanganan nota kesepakatan di ruangannya, Kamis (5/4) kemarin. “Kami sangat terbantu dalam mengoptimalkan sumber daya manusia, baik para mahasiswa maupun dosen-dosen selama ini,” imbuhnya.

Hal itu lah yang menyebabkan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin dan RBP kembali bersepakat untuk memperpanjang kerjasama program. Mahpolah mengaku bahagia atas kerjasama yang telah terjalin sejak tahun 2010 itu, terlebih adanya pengembangan program yang telah disepakati.

Direktur RBP Dokter Diauddin MKes juga mengaku senang atas kerjasama yang kembali terjalin. Menurutnya, RBP sebenarnya banyak berhutang jasa karena melalui sumber daya Poltekkes lah, RBP bisa melakukan pencapaian hingga titik sekarang. “Awal sinergi adalah atas inisiasi pendahulu saya, Almarhum Yohandromeda Syamsu, yang juga merupakan dosen di kampus ini. Alhamdulillah banyak program yang berjalan sejak itu. Jadi secara tak langsung kami berhutang jasa,” ucapnya.

“Kepercayaan masyarakat makin besar, tentu kami juga memerlukan relawan yang banyak. Ini artinya sinergi itu meringankan dan semoga makin besar manfaat yang kita tebar di masyarakat,” pungkasnya.

Soal pengembangan program, Kepala Unit Pengabmas Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd mengatakan ada dua program tambahan yang akan dikerjakan bersama yaitu pelatihan kegawatdaruratan untuk pelajar dan desa binaan. “Kematian akibat kecelakaan lebih banyak dipicu akibat penanganan awal yang salah atau tidak benar, sehingga diperlukan masyarakat relawan yang terlatih agar bisa menangani kegawatdaruratan dengan harapan dapat mengurangi angka kematian akibat kecelakaan,” ujarnya. “Tahun kemarin, kami sudah melatih beberapa komunitas tukang becak, pemadam kebakaran dan juga dari kepolisian,” ucap lelaki yang biasa disapa Awal itu kepada RBP.

Dalam kesempatan itu hadir juga Kasubag Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Sukono SSos, Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra, dan Staf Pendayagunaan RBP Devi Putri Listyasari.

Penulis/editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Temukan Tiga Masalah Pengasuhan di Tegal Arum

Dari Program Parenting Desa, Pembiasaan Positif untuk Keluarga Bahagia

Sore itu, Sabtu (31/3) awan terlihat menghitam di langit Banjarbaru. Sesekali kilat menyala. Namun, para relawan Radar Banjar Peduli (RBP) tetap meluncur menghampiri warga di Tegal Arum, Kelurahan Syamsudin Noor. Hari itu mereka bersama Himpaudi Kota Banjarbaru telah berjanji kepada warga di sana untuk melakukan evaluasi bersama tentang pembiasaan positif untuk anak.

Niat baik akan diberi jalan yang baik. Rupanya awan hitam tak mewujud hujan. Bahkan cuaca cenderung cerah. Sore itu suasana menjadi lebih ceria.

Sekitar pukul tiga, kegiatan pun dimulai. Sebanyak 18 ibu-ibu dan 19 anak berkumpul. Para ibu terlihat membawa dua lembar kertas yang sudah diisi. Pertemuan sebelumnya, mereka memang diberi tugas untuk melakukan hal-hal dalam lembar kuisioner.

Endang Puryani dari Himpaudi Kota Banjarbaru menjelaskan bahwa ada 27 kebiasaan positif yang harus ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya. “Kemarin kan sudah kita kasih lembar kuisionernya, nah sekarang kita ingin tau bagaimana pencapaian orang tua di Tegal Arum ini terhadap pola asuh positif,” terangnya.

Endang Puryani mengajak ibu-ibu yang hadir untuk mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang dialami saat mengisi tugas tersebut. Diskusi terlihat santai dan menyenangkan. Beberapa diantara persoalan yang diungkapkan antara lain pembiasaan antri, penggunaan gadget, dan sikap manja yang berlebihan.

“Sebenarnya tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak yang tidak terpenuhi keperluannya,” ucap Endang Puryani menyikapi keluhan-keluhan para ibu. “Saya mengajak ibu-ibu semua untuk introspeksi. Mau anaknya antri, apakah ibu sudah membiasakan antri? Mau anak tidak tergantung gadget, apakah orang tua juga sudah memberikan contoh? Anak hanya meniru orang tuanya,” imbuhnya.

Endang Puryani juga memberikan tips-tips pengasuhan positif. Para orang tua yang hadir merasa senang dengan pembelajaran sore itu. “Alhamdulillah saya sudah berlatih mengajari si sulung komitmen dengan tugasnya menyapu rumah. Ternyata dengan tau ilmunya, prakteknya lebih gampang,” ujar salah satu ibu yang hadir.

Manajer Keuangan RBP Nurhayah yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi metode pembelajaran yang dilakukan Himpaudi Kota Banjarbaru. “Dengan begini semoga pemahaman warga terhadap pola asuh positif untuk anak jadi membaik, dan pembangunan anak berkarakter bisa tercapai,” ucapnya.

Kebahagiaan peserta Parenting Desa di Tegal Arum makin besar tatkala RBP membagikan Nuget sehat donasi dari Bank Kalsel Cabang Banjarbaru. Nuget tersebut merupakan makanan sehat karena dibuat tanpa MSG dan pengawet makanan. “Terima kasih Bank Kalsel,” ucap mereka.

Penulis/editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Mampu Bertahan Karena Punya Tabungan Hasil Kerja Keras

Kisah Purwanti yang Berjuang Melawan Sakit Demi Empat Anaknya

Purwanti (38 tahun) sementara ini didiagnosa dokter mengidap tumor rahim. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar untuk terus menjalani hidup. Menjadi wanita lemah tidak ada dalam kamus Purwanti. Sembilan tahun hidup sebagai single parents sekaligus tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal, Ia jalani dengan tabah bersama keempat anaknya.

(Eggy Akbar Pradana, Banjarbaru)

Purwanti saat ditemui penulis dirumahnya di Kelurahan Sungai Besar Banjarbaru terlihat sedang terbaring di atas kasur, raut wajahnya pucat dan kelelahan. “Ini baru tadi siang terasa demam, setelah obatnya habis” tutur Purwanti.

Purwanti sendiri mengaku obatnya diperoleh sejak Kamis (22/3)  malam kemarin setelah melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Idaman, Banjarbaru. “Sebelum pemeriksaan saya sempat  mengalami nyeri di bagian perut, kalo kaget itu kadang keluar darahnya. Saya kira awalnya ini haid tapi kok durasi haidnya berkepanjangan,” tuturnya.

“Diagnosa awal katanya ada tumor, tapi perlu diperiksa lagi lebih lanjut,” imbuhnya.

Selanjutnya Purwanti memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, Selasa (27) kemarin. “Alhamdulillah, kemarin ada acil awal, tetangga saya yang menemani berobat ke Banjarmasin,” ucapnya.

Purwanti tidak memiliki BPJS sehingga untuk pemeriksaan ini Ia harus menggunakan tabungannya. “Selama pemeriksaan sudah habis 2jutaan,” akunya.

Kondisinya yang tidak stabil, membuat Purwanti terpaksa berhenti bekerja. Sebelumnya, Ia bekerja sebagai tukang pijat dan lulur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sekarang, untuk bertahan hidup bersama empat anaknya, Ia harus menggunakan tabungan.

Ayu, anaknya yang sulung, terlihat khawatir melihat kondisi Purwanti. Ayu mengatakan kondisi ibunya lemas, kecapean dan pucat karena rendahnya kadar hemoglobin dalam darahnya akibat pendarahan yang dialami selama ini.

Ayu membenarkan ibunya lah selama ini yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia sendiri masih kuliah sambil membantu ibunya, adik keduanya terpaksa berhenti sekolah sejak lulus SMP, adik ketiga dan keempatnya masih sekolah dasar. Ayu bersama ketiga adiknya dengan sabar merawat ibunya setiap hari, untuk urusan masak-memasak dan membersihkan rumah mereka berbagi tugas.

Namun Ayu beruntung memiliki teman-teman kuliah di Himpunan Kimia (Himamia) Redoks yang peduli dengan kondisinya saat ini. Jumat (30/3) kemarin mereka menggelar aksi penggalangan dana untuk Purwanti.

“Keluarga Himamia Redoks menggalang dana sebagai wujud solidaritas untuk meringankan beban adik tingkat kami, yaitu Ayu. Semoga bisa membantu,” kata Dimas Aji Saputra sebagai penanggung jawab kegiatan. Aksi yang berlangsung sejak pukul 8 pagi itu berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 3.762.200 dan akan diserahkan langsung kepada Ayu.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Gelora Cinta Ulama Jadi Pemersatu Umat

Catatan Relawan Haul Akbar Abah Sekumpul 2018

Oleh Wahyu Aji Saputra

Menjadi relawan dalam peringatan Haul ke-13 Abah Guru Sekumpul tahun ini adalah yang pertama kalinya bagi Saya. Seperti kebanyakan orang, kesan mendalam juga Saya rasakan ketika berada di tengah-tengah ribuan Jemaah.

Menurut Saya, Haul Abah Guru Sekumpul memberikan berkat tersendiri bagi setiap orang. Dimana haul ini merupakan cara untuk para Jemaah untuk saling bersilaturahmi, bertemu satu sama lain, yang mungkin belum saling kenal sebelumnya. Selain itu, haulan ini juga telah menjadi momen berkumpulnya anggota keluarga yang lama tak berjumpa.

Satu hal yang paling berkesan adalah gelora kerelawanan dari berbagai penjuru tempat. Dari berbagai kalangan. Tanpa sekat. Semua membaur, bahkan tanpa undangan sekalipun.

Para relawan saling bahu-membahu untuk kelancaran acara besar tersebut. Berbagai posko kesehatan dan istirahat bagi jemaah banyak tersebar, tidak hanya di Sekumpul tapi juga sampai di Banjarbaru. Saya terlibat sebagai pasukan relawan di Gang Taufik bersama Sahabat Kalsel, Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (Himatekin), dan Mahasiswa Akper Pandan Harum. Kami, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan daerah disatukan dengan semangat yang sama, kemanusiaan. Meski hanya sebagai tukang bagi nasi, tetapi hal tersebut sudah membuat Saya merasa bahagia karena dapat memberikan manfaat kepada para jemaah.

Jika kita lihat lebih luas, maka banyak amalan kebaikan yang terjadi kala itu. Kebaikan yang diberikan oleh relawan kesehatan kepada jemaah yang sakit, kebaikan yang dilakukan oleh pengatur arus lalu lintas agar tak ada kecelakaan ataupun kebaikan yang hanya dihantarkan oleh sebungkus nasi. Kebaikan tetaplah kebaikan, sekecil apapun itu.

Kegiatan keagaman yang terjadi setahun sekali ini menjadi implementasi dari berbagai aspek kehidupan umat. Selain faktor religi yang terkandung di dalamnya, rasa kemanusiaan dan sosial juga ikut melambung karenanya. Di sini kita bisa melihat rombongan jemaah yang begitu banyaknya dalam satu salawat yang sama, yang mungkin hanya terjadi di tanah Borneo setahun sekali. Di sini pula kita melihat setiap orang bisa saling membantu tanpa perlu kenal sebelumnya.

Haul Abah Guru Sekumpul seolah menjadi media pemersatu umat. Dimana saat ini umat sering kali diadu domba dengan berita-berita tak jelas (hoax). Tapi pada acara itu mereka menjadi lebih dari sekedar saudara. Ketika kita melihat berbagai ujaran kebencian berdatangan, kali ini satu sama lain saling bergandengan.

Banyak hal yang dapat kita ambil hikmah dan berkatnya dari kegiatan tahunan ini. Bahkan ada dampak yang menyebar luas kepada seluruh insan yang terlibat, salah satunya rasa kemanusiaan dalam bingkai kebaikan. Semoga kesan kebaikan juga dirasakan Presiden Joko Widodo yang turut hadir di tengah para Jemaah. Aamiin.

Editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Sahabat Kalsel: Bentuk Karakter Peduli Melalui Kelas Relawan

Semangat yang ditunjukkan relawan Sahabat Kalsel ternyata bukan hanya soal berbagi, namun mereka juga senantiasa semangat menimba ilmu. Hal ini dibuktikan dengan program-program peningkatan kapasitas dan wawasan, salah satunya Kelas Relawan.

Seperti yang terlihat pada Minggu (11/3) kemarin di Perpustakaan Daerah Banjarbaru para relawan Sahabat Kalsel berkumpul menimba ilmu bersama pakar, Hasibah Eka Rosnelly yang kerap disapa para relawan dengan sebutan Bunda Lily.

Bunda Lily adalah seorang psikolog yang rupanya telah begitu akrab dengan para relawan. “Kemarin kita sudah belajar tentang trauma healing kan ya? Jadi hari ini kita akan belajar bagaimana menjadi seorang konselor,” ujar Bunda Lily.  Sebanyak 10 relawan yang hadir saat itu terlihat antusias mengikuti kelas. Diskusi pun diselingi dengan candaan membuat proses belajar menjadi asyik diikuti.

“Kelas relawan bertujuan untuk membentuk karakter, skill dan pengetahuan bagi relawan Sahabat Kalsel karena kami yakin bahwa menjadi relawan adalah bagian dari solusi. Bagaimana menjadi solusi jika relawan tak punya kapasitas?” kata Hermawan selaku Koordinator Strategi Program Sahabat Kalsel.

“Kami juga memiliki program lain yaitu Gemass (Gerakan Masyarakat Sadar Sampah), charity area, story telling kampung purun, orientasi relawan, sedekah nasi bungkus, serojah (Sedekah Roti Jumat Berkah). Dalam waktu dekat ini bersama dengan MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) kami juga akan mengadakan volunteer camp” pungkasnya.

Namun, siapa sangka sebelum mencapai titik semangat relawan tanpa pamrih untuk warga banua ternyata Sahabat Kalsel sempat mengalami masa vakum. “Kami dibentuk tanggal 28 Februari 2016. Kelahiran Sahabat Kalsel tidak lepas dari peran dan inisiasi RBP (Radar Banjar Peduli). Namun Sahabat Kalsel sempat mengalami vakum selama lima bulan lamanya. Namun, tepat tanggal 16 November 2017 kembali aktif dan sampai sekarang sudah 64 orang bergabung,” cerita Ahmad Khairil selaku Ketua Sahabat Kalsel.

Ahmad Khairil berharap keberadaan Sahabat Kalsel lebih berarti lagi untuk masyarakat. “Dengan dukungan para relawan lah Sahabat Kalsel bisa sampai dititik ini. Semoga kedepannya bisa lebih berarti keberadaannya bukan hanya bagi warga banua namun juga bagi masyarakat Indonesia,” tegasnya.

“Berilah kekuatan sekuat baja, untuk menghadapi dunia ini, untuk melayani dunia ini. Berilah kesabaran seluas angkasa, untuk mengatasi siksaan ini, untuk melupakan derita ini. Berilah kemauan sekuat garuda, untuk melawan kekejaman ini, untuk menolak penindasan ini. Berilah perasaan selembut sutera, untuk mempertahankan kemanusiaan ini, hidup relawan!” (Subagio Sastrowardoyo). 

Penulis: Eggy Akbar Pradana

Editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Parenting Desa, Ketua PW Himpaudi Kalsel Buka Kelas Perdana

Dedey Rusyadi Abd: “Ayo Jadi Orang Tua Raja”

Komitmen Himpaudi Kota Banjarbaru dan RBP untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui program pendidikan keluarga telah dibuktikan dengan menggelar kelas parenting desa pada Sabtu (10/3) lalu di Tegal Arum, Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru. Menurut penanggungjawab program Devi Putri Listyasari, kelas tersebut merupakan yang perdana dilakukan dari enam kelas yang direncanakan. “Akan ada enam kelas di enam lokasi berbeda, tapi masih di wilayah Landasan Ulin,” terangnya. “Program ini juga masih didukung oleh Bank Kalsel Banjarbaru, tentu hal ini menjadi semangat tersendiri bagi kami. Terima kasih Himpaudi dan Bank Kalsel,” imbuhnya.

Semangat menggebu juga ditunjukkan oleh Himpaudi Kota Banjarbaru. Tak tanggung-tanggung, dalam ajang perdana itu narasumber yang dihadirkan adalah Ketua Pengurus Wilayah (PW) Himpaudi Kalsel yaitu Dedey Rusyadi Abd. “Alhamdulillah saya senang sekali bisa hadir di sini dan bertemu ibu-ibu hebat semua,” ucap Dedey Rusyadi di hadapan puluhan ibu-ibu dari PKK Tegal Arum.

Lelaki yang kerap disapa Dede itu menjelaskan tentang tiga tahap perkembangan anak dalam rentang usia tujuh tahun. “Tujuh tahun pertama, anak seperti raja. Tujuh tahun kedua seperti tawanan, sedangkan tujuh tahun ketiga seperti presiden,” terangnya. Dede menghimbau saat anak seperti raja, maka fokus pembelajaran ada pada karakter anak. “Kalau raja berbuat salah, cara memarahinya tentu tidak sembarangan bukan?” ucap Dede. Beberapa ibu menyahut mengiyakan pernyataan Dede.

Saat anak seperti tawanan, lanjut Dede, orang tua harus mengenalkan anak terhadap konsekuensi, tanggungjawab, dan kewajiban. “Tapi juga harus ada aturannya, berikan anak kesempatan untuk menjelaskan terlebih dahulu,” pesannya.

Sementara, tahap ketiga perkembangan anak menurut Dede adalah yang paling sulit dimana tahap ini berada pada rentang usia 14 – 21 tahun. “Pada usia ini lah anak diajarkan tentang kewibawaan berfikir. Bagaimana orang tua melibatkannya dalam memecahkan masalah,” ucapnya.

Setelah pemaparan tersebut beberapa ibu antusias mengajukan pertanyaan. “Kendala pengasuhan biasanya kalau sudah beda sama suami, saya tegas tapi suami suka memanjakan anak,” tanya salah seorang ibu. Beberapa peserta mengaku memiliki kendala yang sama. Menanggapi hal tersebut, Dede menimpali bahwa memang seharusnya kelas parenting diikuti oleh kedua orang tua, bukan hanya salah satunya. “Mungkin nanti suami juga diajak untuk ikut kelas seperti ini, sehingga pemahamannya selaras,” ucap Dede.

Sebanyak 25 anak di Tegal Arum mendapatkan nutrisi gratis dari Bank Kalsel Cabang Banjarbaru

Meski begitu, Noormila Sari, salah seorang peserta mengaku senang setelah mengikuti kelas parenting. “Banyak ilmu yang bermanfaat yang bisa didapatkan, saya jadi tahu banyak hal. Insha Allah ingin menerapkan di keluarga saya,” ucap perempuan 34 tahun yang telah dikaruniai dua orang anak itu kepada RBP.

Menanamkan pemahaman bahwa pengasuhan bukan hanya tugas ibu tentu menjadi PR yang harus diselesaikan karena masih banyak yang salah kaprah. RBP dengan program parenting desa berupaya mengubah cara pikir masyarakat.

Penulis&editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Relawan Bersinergi, Bergerak Mewujudkan Solusi

Banyak kesan yang berarti dari sosok Mbah Suminem, terutama para relawan yang selama dua pekan menemani beliau di rumah sakit. Salah satunya Munajatunnisa, salah seorang anggota Relawan Nusantara. Bagi Muna, begitu Ia kerap disapa, Mbah Suminem merupakan pibadi yang supel dan senang bercerita.

“Saya sering mendapatkan nasehat dari Mbah untuk menjaga kesehatan, dapat pekerjaan hingga cepat dapat jodoh,” ucapnya mengenang Mbah Suminem.

Muna mengaku tergerak untuk ikut menjaga Mbah Suminem di rumah sakit karena mendapat kabar tentang beliau dari Sahabat Kalsel RBP. “Katanya ada orang tua yang sakit dan cuma ditemani suami yang juga mengalami keterbelakangan mental, jadi kami dari Relawan Nusantara berbagi tugas, bergantian menjaga beliau di RS,” terang Muna.

Pribadi Mbah Suminem yang begitu baik membuat para relawan selalu mengingat beliau. “Selamat Jalan Mbah Suminem, inshaAllah Mbah mendapatkan tempat yang pantas disisi Allah swt,” ucap Muna mewakili Relawan Nusantara.

Begitulah, betapa besar peran relawan bagi masyarakat. Mereka saling bergotong royong memikul beban pengabdian. Sahabat Kalsel berkolaborasi dengan Relawan Nusantara menjadi solusi bagi permasalahan di banua ini. Semoga sinergi seperti ini bisa ditiru siapa saja, karena dengan bersama-sama maka semua lebih ringan rasanya.

Mengenal Lebih Dekat Relawan Nusantara

Dari relawan, mengabdi kepada negeri untuk kebahagiaan umat dan masyarakat dunia khususnya Indonesia. Itulah misi dari Relawan Nusantara yang dibentuk sebagai wadah atau sarana bagi para pemuda Indonesia untuk membentuk pribadi-pribadi  yang tangguh, kreatif, inovatif dan berjiwa sosial tinggi. Relawan Nusantara juga ingin membentuk pribadi yang dapat berbagi kemanfaatan potensi diri di tengah-tengah masyarakat.

Munajatunnisa, salah satu relawan yang bergabung ke dalam Relawan Nusantara sejak empat tahun yang lalu mengaku banyak hal positif yang didapat. “Saya ingat sekali pada kegiatan pertama dapat amanah menjadi penanggung jawab kegiatan Relawan Cilik, acaranya itu membuat figura menggunakan stik ice cream. Dari sana saya belajar bagaimana menjadi pribadi yang bertanggungjawab dengan jiwa kepemimpinan,” tutur Muna.

Selain itu, Muna juga mengaku akhirnya memahami bagaimana menjadi pribadi yang berjiwa sosial tinggi. “Membantu menjaga Mbah Suminem menjadi kontribusi saya untuk itu,” imbuhnya.

Muna hanyalah satu contoh kisah relawan yang bisa menjadi cerminan tentang lingkungan banua kita saat ini. Tentu banua ini tak cukup hanya dengan satu Muna. Maka dukungan moril dan materiil dari kita lah yang bisa membantu gerakan kerelawanan ini semakin meluas.

Penulis : Eggy Akbar Pradana

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Bersabar Hingga Akhir Hayat, Lahirkan Kebaikan yang Bertunas

Mengenang Sosok Suminem, Lansia Duafa Penderita Gagal Ginjal

Selama dua pekan dirawat di rumah sakit, tak ada keluhan keluar dari mulutnya. Sosok Suminem atau biasa disapa Mbah Suminem itu seolah menjadi cambukan bagi kita dalam berbuat kebaikan. Kini, Mbah Suminem tidaklah benar-benar tiada, karena beliau masih tetap hidup dalam kebaikan-kebaikan dan kasih sayang yang telah Ia lakukan semasa hidupnya.

(Wahyu Aji Saputra, Banjarbaru)

Mbah Suminem mungkin hanyalah perempuan tua yang tinggal di rumah sederhananya di Jalan Parambaian Sungai Besar, Banjarbaru. Namun, bagi Radar Banjar Peduli (RBP) Mbah Suminem telah menjadi pejuang hebat yang memberi arti.

Setiap perempuan pasti bermimpi memiliki suami yang dapat diandalkan dan mampu memberi nafkah yang cukup. Namun rupanya tidak bagi Mbah Suminem. Ia menikah dengan seorang lelaki yang memiliki kekurangan secara mental. Kasim, demikian lelaki itu biasa disapa. Meski begitu, Mbah Suminem tak pernah ragu memberikan kasih sayang untuk suaminya.

Sehari-hari Mbah Suminem berjualan nasi kuning dan lontong untuk menghidupi keluarga. Di mata para tetangga Mbah Suminem dikenal sebagai orang yang begitu baik, disenangi dan dihormati. “Mbah itu nggak segan untuk berbagi rezeki, padahal keadaan beliau serba kekurangan,” ujar Ratna, salah seorang tetangganya.

Apalagi, lanjut Ratna, tepat sekitar lima bulan yang lalu, Mbah Suminem menderita sakit. “Hampir seluruh badan Mbah Suminem bengkak. Jadi nggak bisa jualan. Untuk sekedar menghidupi sehari-hari saja cukup susah, apalagi untuk pengobatan,” ujarnya lagi.

Namun Tuhan ternyata sangat menyayangi Mbah Suminem. Uluran tangan para tetangga senantiasa ada untuknya. Dari makanan hingga membantu memperbaiki peralatan rumah tangga yang rusak.

Hingga pada Jumat (9/2) lalu, RBP akhirnya dipertemukan dengan Mbah Suminem melalui seorang dermawan yang telah lebih dulu membantu. Dengan semangat kemanusiaan, relawan Sahabat Kalsel menyambangi Mbah Suminem untuk dibawa ke rumah sakit agar dapat perawatan yang lebih layak. “Mbah sempat tidak mau, tapi saya dibantu beberapa tetangga membujuknya hingga berhasil,” terang Devi Putri Listyasari, relawan Sahabat Kalsel.

Ditemani oleh suami beliau, Mbah Suminem akhirnya dirawat di RSUD Ulin, Banjarmasin. “Menurut dokter, beliau menderita gagal ginjal jadi diharuskan perawatan yang intensif,” ucap Devi.

Selama di Banjarmasin pendampingan Mbah Suminem dibantu oleh para relawan dari Relawan Nusantara. Tak ada kesedihan yang diperlihatkan oleh Mbah Suminem selama dirawat. Ia malah bersikap sabar dan bahkan kebaikan hatinya masih dapat dirasakan oleh para relawan. “Nanti kalau sudah sembuh, saya bikinkan peyek ya,” ucapnya satu kali kepada para relawan disertai sebuah senyuman. Tak pelak ucapan itu membuat para relawan terharu.

Kasim, sang suami juga tak henti-hentinya memberikan curahan perhatian kepada Mbah Suminem. Tak jarang Kasim menyuapi dan memijat badan Mbah Suminem.

“Rasanya masih banyak yang ingin dilakukan bersama Mbah Suminem, ingin belajar hidup dari beliau. Namun, ternyata Allah lebih ingin bertemu dengan Mbah,” ungkap Devi.

Tepat hari Jumat (23/2), hari yang sama saat beliau masuk RS, Mbah Suminem menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 73 tahun. “Padahal saat itu Mbah mau proses cuci darah yang kedua,” pungkas Devi.

Tak ada cara yang paling indah dalam belajar berbagi kebaikan selain menjadi saksi dari kebaikan itu sendiri. Mungkin ini jua lah maksud dari takdir Tuhan untuk saling mempertemukan para insan kebaikan.

Kematian Mbah Suminem menuai nilai hidup yang luar biasa bagi para relawan. Mbah Suminem dengan waktunya telah membuktikan bahwa kebaikan yang tulus akan selalu mendapat tempat yang tepat. Dalam sisa hidupnya, masih ada benih kebaikan yang siap untuk bertunas kembali. Jadi, bagaimana dengan kita? Yang sudah menjalani masa hidupnya hingga sekarang? Adakah kebaikan yang bisa untuk ditinggalkan dan dikenang?.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Momentum untuk Berbuat Nyata

(Dari kegiatan Workshop dan Pelatihan Siaga Bencana untuk Kampus di Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM hari Ke-2)

Hari kedua pelatihan siaga bencana untuk kampus berlangsung makin seru. Trainer pertama, Ruli Renata dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), memberikan wawasan baru dan menarik tentang kerelawanan. “Relawan itu berat, kamu nggak bisa sendiri, mari sama-sama,” ucapnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta.

Ruli yang telah berkiprah selama puluhan tahun di dunia relawan menjelaskan bahwa relawan itu adalah passion. “Kerja kemanusiaan itu memang harus dengan kecerdasan, tapi untuk menjadi relawan harus dengan panggilan hati juga,” pungkasnya. Setelah belajar manajemen relawan, para peserta kemudian diarahkan untuk berdiskusi tentang potensi, wilayah pengabdian, dan organisasi relawan. Semangat begitu terlihat dari serunya diskusi yang terbangun.

Keseruan semakin terasa saat memasuki sesi simulasi. Peserta belajar memadamkan api bersama tim Damkar Kota Banjarmasin. “Wah seru sekali, ternyata memadamkan api itu mudah kalau kita tau caranya,” ujar Najmi, salah satu peserta yang pertama kali mencoba simulasi.

Terakhir, para peserta diajak melakukan kampanye peduli lingkungan dengan melakukan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Bertindak sebagai fasilitator adalah Ketua Sahabat Kalsel Ahmad Khairil dan Bidang Humas Sahabat Kalsel Achmad Ridho Indra.

Ketua Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM Yudha Irhasyuarna SPd MPd menyampaikan ucapan terima kasih kepada RBP atas partisipasinya membangun semangat kerelawanan di kalangan mahasiswa. “Saya berharap ini jadi momentum bagi kami untuk bisa berbuat nyata untuk masyarakat,” ucapnya.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani mengapresiasi gebrakan yang dilakukan Yudha Irhasyuarna. “Semangat kepedulian ini harus kita jaga, kita apresiasi setinggi-tingginya karena kampus adalah wadah untuk mencetak pemimpin bangsa. Maka diperlukan SDM dengan karakter kepedulian yang tinggi,” harapnya.

Penulis dan Editor : Retno Sulisetiyani