Berita

Byadmin

RBP Berbagi Ilmu Kehumasan Kepada Mahasiswa

Pagi itu, Minggu (12/11) bertempat di SDIT anic Banjarbaru, sekitar 15 mahasiswa dari berbagai kampus di Banjarbaru berkumpul. Duduk lesehan di salah satu ruangan, mereka asik berdiskusi bersama Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani. Mahasiswa-mahasiswa itu adalah pengurus dan anggota dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Idaman. 

Izza, salah satu pengurus KAMMI Komsat Idaman menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya peningkatan kapasitas organisasi. “Kebetulan banyak kader baru, sehingga perlu dibekali pengetahuan dan Alhamdulillah ada RBP yang mau memfasilitasi,” ujar Izza seraya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada RBP. Ia mengaku terbantu dengan bantuan yang telah diberikan. 

Dalam pemaparannya, Retno menjelaskan tentang apa saja peran penting dan tugas humas dalam organisasi. “Humas itu representasi lembaga. Komponen pentingnya ada pada kemampuan komunikasi,” ujarnya. 

Perempuan berkacamata itu juga memberikan tugas-tugas untuk dipraktekkan. “Salah satu cara menyampaikan pesan adalah dengan menulis, dan untuk bisa menulis harus sering berlatih,” himbaunya kepada semua peserta. 

Retno menilai kegiatan seperti ini harus didukung karena pemuda yang terlatih adalah generasi harapan. “Siapapun kita, harus memiliki perhatian kepada para pemuda. Bentuk mereka agar menjadi generasi berwawasan dan kreatif,” pungkasnya. (en) 

Byadmin

Bantu Mustadi, Bocah Penderita Kanker Asal Cempaka

Mustadi, bocah 11 tahun itu seperti tak terlihat sedang sakit. Ia asik bermain dengan adiknya, Edo, yang empat tahun lebih muda darinya. Namun, wajahnya yang pucat tak bisa membohongi keadaannya yang telah berjuang melawan kanker darah sejak empat tahun yang lalu.
Ruang anak kelas 3 RS Idaman Banjarbaru. Di sanalah Mustadi dirawat. Sang Ibu, Solatiah, tampak duduk bersender di salah satu dinding ruangan itu. “Saya sedih mengetahui anak saya kena kanker, saya ingin Ia sembuh kembali,” ungkapnya kepada penulis. Sejak 2013 yang lalu, perempuan berusia 35 tahun itu berjuang sekuat tenaga membawa Mustadi berobat. “Saya ikuti semua proses pengobatan. Alhamdulillah gratis,” kisahnya.
Namun, rupanya pengobatan kanker tidaklah sebentar. Menurut Dokter Harapan Parlindungan Spesialis Anak dan Hematologi, Mustadi sudah menjalani kemoterapi dan selama satu tahun awal berjalan baik. “Namun ketika hampir menyelesaikan proses kemoterapi, ternyata kambuh lagi sehingga program kemo pun diulang,” ujar dokter yang biasa disapa Dokter Parlin tersebut.
Di tahun kedua, kondisi serupa terjadi kembali sehingga menyebabkan Solatiah putus asa. Bagaimana tidak? Untuk pengobatan Mustadi, Solatiah terpaksa menjual rumahnya. “Semua harta benda sudah terjual, cuma tersisa punya rumah hasil kerja suami. Sementara saya pengen Mustadi sehat kembali, ya kami jual rumah tersebut,” akunya.
“Saya tak sanggup lagi. Tidak ada biaya untuk ke RS. Kerjaan suami sedang sepi,” ucapnya kala itu.
Ahmad (43), suami Solatiah, memang hanya mengandalkan hidup dari hasil mendulang. Sudah berbulan-bulan ini tidak mendapatkan hasil apapun.
Beruntung, kepedulian Dokter Parlin terhadap pasiennya menggugah salah satu rekan medisnya untuk menggalang dana. Dialah Dokter Siti Ningsih, yang juga adalah pengurus Radar Banjar Peduli (RBP).
“Saya bermaksud mengajak bapak ibu yang ingin membantu mama Mustadi supaya bisa tetap menjalankan program kemoterapi karena anak ini masih ada kemungkinan untuk baik dan beraktifitas normal,” tulisnya melalui pesan whatsapp.
Dana yang Ia kumpulkan kemudian dititipkan ke RBP untuk dikelola. “Mudahan dengan dikelola lembaga, kesinambungan pengobatan lebih terjaga karena dana benar-benar disalurkan sesuai peruntukannya,” ucapnya.
Direktur RBP Dokter Diauddin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas sinergi yang telah terjalin. “Alhamdulillah dengan sinergi seperti ini harapan Mustadi untuk sembuh dapat kembali bersinar. Semoga makin banyak tangan terulur, tidak hanya untuk Mustadi tapi juga penderita kanker lainnya,” ujar Dokter Diauddin.
Sahabat, banyak pejuang kanker di Kalimantan Selatan sedang berjuang keras. Bukan untuk melawan maut, melainkan untuk bertahan hidup dengan baik. Mereka berhak untuk bahagia. RBP hadir membersamai mereka bukan untuk menjadi pahlawan, namun ingin menjadi teman seperjuangan. Membersamai dalam setiap tangis bahkan tawa. (en)

Byadmin

Sumiati, Pejuang Kanker yang Kini Sendiri

Dua Tahun Tanpa Pengobatan karena Ketidaktahuan

Sumiati adalah janda berusia 45 tahun yang hidup bersama anak satu-satunya bernama Zailani (27). Perempuan yang tak tamat SD itu sebenarnya sudah merasakan benjolan di payudaranya sejak dua tahun yang lalu. Namun karena ketidaktahuan maka Ia hanya mendiamkannya. Ditambah saat itu suaminya tiba-tiba pergi tanpa pesan. Beban perpisahan itulah yang lebih menguras pikirannya kala itu.

Hingga, akhirnya benjolan itu pecah dan menimbulkan luka. Sumiati akhirnya berkeluh kesah dengan salah satu tetangganya. Melalui tetangganya itulah kabar tentang derita penyakit Sumiati sampai ke RBP.

“Saya tidak paham Bu, harus diapakan penyakit saya ini,” ucapnya kala ditanya kenapa tidak pernah berobat. “Alhamdulillah kalau ada yang bantu saya, saya mau kok berobat,” imbuhnya.

Jumat (27/10) lalu, RBP membawa Sumiati ke RS Idaman Banjarbaru menggunakan jaminan SKTM. Setelah bertemu dan diperiksa Dokter Eko Wahyu Pribadi Spesialis Bedah, Sumiati dirujuk ke RS Ratu Zaleha Martapura untuk mendapatkan tindakan operasi. “Ibu harus dioperasi karena kankernya sudah ganas,” ujar Dokter Eko kala itu.

Sumiati menjalani operasi pengambilan jaringan kanker pada hari Jumat (3/11) kemarin di RS Ratu Zaleha Martapura. “Alhamdulillah operasi berjalan lancar, dan sedang diproses pemeriksaan jaringan kankernya di laboratorium,” ujar Manajer Program RBP Nurhayah.

Sumiati memang perempuan tangguh. Hal ini terlihat saat RBP menjenguknya siang pasca operasi. Ia seperti tak merasakan sakit di tubuhnya. Ketika akan dipakaikan baju pun Ia secepat kilat bangun. “Pelan-pelan saja Bu, ini ada jahitan pasca operasi lo,” ucap salah seorang relawan yang mengaku heran dengan ketangguhan Sumiati. “Ibu ini kuat sekali,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.

Hal yang sama juga dikatakan Zailani, anak Sumiati. “Ibu memang jarang mengeluh,” akunya. Bahkan, kata Zailani, sang Ibu masih sempat mengambil upah nyuci baju beberapa hari sebelum operasi. “Untung saya ada di rumah waktu itu jadi bisa saya bantu, soalnya ibu nyucinya dikucek saja pakai tangan,” kisahnya kepada RBP.

Sumiati mungkin kini hidup sendiri tanpa suami, namun kami yakin tangan-tangan kebaikan banyak yang peduli pada perjuangannya. Perjuangan yang masih sangat panjang. Sahabat dermawan yang ingin membantu Sumiati bisa melalui rekening Yayasan Radar Banjar Peduli BSM 0260018953. Lakukan konfirmasi transfer melalui sms ke 081333272004. Uluran tangan Anda sangat berharga bagi mereka. (en)

Byadmin

Relawan Harus Bermental Tangguh

Dari Kegiatan Orientasi Relawan RBP sesi Sharing Bersama Wakil Walikota Banjarbaru

“Salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan memberi nilai atau arti untuk setiap aktivitas yang kita lakukan atas dasar nilai-nilai ketuhanan” (H Darmawan Jaya Setiawan, wakil walikota Banjarbaru)

“Saya ini banyak hobinya, bagaimana caranya saya menentukan minat yang sebenarnya Pak?” tanya Hikmah, salah seorang relawan RBP kepada Wakil Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan dalam acara orientasi relawan sesi sharing with figures yang dilaksanakan di Pendopo Kampung Purun, Minggu (29/10) lalu.

“Selagi muda cobalah semua hal, jangan pilih-pilih. Dan yang paling penting adalah gantungkan cita-citamu setinggi langit. Karena kalaupun gagal, kita akan jatuh diantara bintang-bintang,” jawab Jaya yang langsung disambut tepuk tangan meriah oleh 26 relawan yang hadir pagi itu.

Dalam sesi bincang dan diskusi bersama tokoh itu Jaya bercerita bagaimana jatuh bangun kehidupannya sebelum menjadi seperti sekarang. “Saya mengalami empat kali kegagalan saat mencoba berwirausaha, namun saya terus mencoba dan tak patah semangat. Selalu berbaik sangka saja dengan jalan yang diberikan Tuhan,” ujar lelaki yang baru saja menjalankan ibadah haji September yang lalu.

Jaya juga memberi pesan kepada para relawan untuk mengingat tiga kunci untuk mencapai kebahagiaan, yaitu kemampuan fisik, memiliki emosional yang baik meliputi sifat sabar, ketangguhan, kejujuran, dan keikhlasan, serta senantiasa mengingat Tuhan (spiritual).

Penanggungjawab program orientasi relawan Retno Sulisetiyani menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya RBP sebagai lembaga sosial kemanusiaan dalam menjaga semangat kerelawanan. Menurutnya, saat ini sangat diperlukan kontribusi relawan. “Tidak hanya dalam hal kebencanaan, namun semua aspek kehidupan. Terlebih di era digital seperti ini, warga tidak mampu banyak memerlukan uluran tangan generasi muda,” ujar perempuan berkacamata itu. “Insha Allah orientasi relawan akan kami laksanakan setiap bulan, karena semangat itu perlu diperbaharui setiap saat,” imbuhnya.

RBP mengajak kepada anak-anak muda di Banjarbaru dan sekitarnya untuk senantiasa mengukir karya dengan berbagi. Pikiran, tenaga, ataupun keahlian. Ingatlah pesan Presiden pertama RI, Ir Soekarno, yang berkata : “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (en)

Byadmin

Angkasa Pura Memberi Asa; Operasi Katarak Gratis untuk Duafa

Pagi itu, Kamis (18/10), RS Pelita Insani (RSPI) terlihat lebih ramai. Puluhan lansia memadati lorong lantai 2. Kebanyakan dari mereka ditemani oleh sanak keluarga. “Ulun ngantar mama ke sini mau operasi katarak,” ujar Ayu, salah seorang pengunjung yang terlihat menggandeng seorang ibu tua duduk di kursi tunggu.

Hari itu memang ada pelaksanaan operasi katarak gratis di RSPI. Kabag SDM RSPI Nanda Al Humaira menyampaikan operasi katarak gratis ini merupakan program dari PT Angkasa Pura Banjarmasin. “Tahun ini adalah tahun ke-2 operasi katarak gratis yang telah dikerjasamakan dengan RSPI,” ujar Nanda.

PTS GM Angkasa Pura Ruly Artha berkesempatan hadir langsung dalam mengawal pelaksanaan operasi. “Ini adalah bentuk kewajiban sosial kami kepada masyarakat. Alhamdulillah kami masih diberi kesempatan untuk memberikan sedikit pencerahan untuk bapak dan ibu sekalian,” ucap Ruly di hadapan para penerima manfaat yang berasal dari Banjarbaru dan Martapura.

Ruly menyampaikan bahwa jumlah penerima manfaat tahun ini sebanyak 20 orang. “Mudah-mudahan tahun depan bisa kembali dilaksanakan dan jumlah penerima manfaat bisa bertambah,” ujarnya.

“Kami mohon doa dari pian semua untuk kelancaran proses pembangunan bandara yang baru. Kami ingin memberikan yang terbaik dalam mewujudkan pintu gerbang sebagai kebanggaan kita semua,” imbuh Ruly.

Kegiatan amal yang bertajuk Angkasa Pura Memberi Asa itu mendatangkan langsung spesialis katarak dari Jakarta. Selain kesehatan, Angkasa Pura berkomitmen dalam turut serta mendukung pembangunan daerah dengan memberikan dukungan untuk bidang pendidikan, prasarana umum, dan pengentasan kemiskinan. Dana sosial yang dialokasikan untuk tahun 2017 sebesar Rp 850juta dan untuk operasi katarak gratis ini dana yang dialokasikan sebesar Rp 104juta. (en)

Byadmin

Sempat Ragu Karena Takut Buta

Kisah Salasiah, Penerima Manfaat Operasi Katarak Gratis

Salasiah langsung sumringah ketika keluar dari ruang operasi. Wanita 52 tahun yang berdomisili di Kelurahan Guntung Manggis Kota Banjarbaru itu mengaku lega karena apa yang ditakutkan selama ini tidak terjadi. “Alhamdulillah lancar operasinya, ramah-ramah petugasnya,” ujar wanita yang sering disapa Sala itu kepada penulis.

Sala memang sempat ragu. Beberapa waktu sebelumnya, Ia menyampaikan kepada RBP untuk tidak melakukan operasi. “Ujar ada yang buta abis operasi,” ungkapnya kala itu. Hampir setiap kali relawan RBP bersilaturahmi, beliau selalu ingin membatalkan rencana operasinya. Namun, dengan penuh kesabaran pula para relawan RBP selalu menyemangati beliau. “Ini ikhtiar Cil, kita serahkan hasilnya sama Allah lah. Yakin saja semua akan baik-baik saja,” ujar Retno, salah seorang relawan yang mendampingi Sala.

Salasiah merupakan nenek dari Rahmat Faisal, salah satu anak asuh RBP. Sala, meskipun seorang diri (janda), tak pantang menyerah memperjuangkan pendidikan cucunya tersebut. “Ulun handak Rahmat sekolah yang tinggi, jadi bisa punya masa depan cerah nanti,” ungkapnya. Ia bekerja keras mencari nafkah. Mulai dari berjualan bensin eceran hingga memulung sampah. Namun, penyakit katarak yang Ia derita menjadi kendala dalam berjuang hidup.
“Terpaksa Rahmat membantui ulun melansir bensin dan mencari rongsokan sepulang sekolah. Ulun yang jaga warung,” kisah wanita bertubuh agak gempal itu sendu.

Melihat itu, RBP pada September lalu membawa Sala periksa kesehatan ke RS Idaman Banjarbaru. Hasil yang diperoleh memang positif katarak dan diharuskan operasi. Alhamdulillah, selang beberapa hari pasca pemeriksaan tersebut, RBP mendapatkan kabar tentang adanya operasi katarak gratis di RSPI Martapura. Seketika RBP mendaftarkan Sala untuk menjadi salah satu penerima manfaat.

“Alhamdulillah, rezeki Acil Sala ada. Sidin kawa operasi gratis,” ujar Retno.
Kini, Sala dirawat sementara di rumah adiknya di Mandiangin Barat Kabupaten Banjar untuk menjalani pemulihan pasca operasi. “Terima kasih RBP sudah membantu ulun,” ucap Sala. Senyum tak pupus dari wajahnya yang mulai keriput. Senyum bahagia dan lega. (en)

Byadmin

Tingkatkan Kinerja dengan Bentuk Tim Verifikasi

Radar Banjar Peduli (RBP) sebagai lembaga sosial kemanusiaan di Kalimantan Selatan terus berupaya meningkatkan kapasitas diri melayani masyarakat, baik para dermawan yang menitipkan amanahnya ataupun kalangan duafa yang menjadi target penerima manfaat program. Salah satu bentuk peningkatan kapasitas yang dilakukan adalah pembentukan tim verifikasi program.

“Tim ini bertugas memberikan rekomendasi apakah calon penerima manfaat layak untuk dibantu atau tidak,” ujar Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani pada kegiatan Pembekalan Tim Verifikasi di Gedung Biru Radar Banjarmasin lantai 2, Selasa (17/10) lalu.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 8 (delapan) orang yang telah terdaftar sebagai tim verifikasi. Sebelum diberikan pembekalan, para peserta diberikan wawasan tentang kemiskinan dan permasalahannya yang disampaikan oleh Kabid Perlinsos Dinas Sosial Kota Banjarbaru H Mulyadi SSos. Menurut Mulyadi, kemiskinan dibanjarbaru mencapai angka 10.499 berdasarkan basis data terpadu dari pemerintah pusat atau sebanyak 4,8% dari total jumlah penduduk Kota Banjarbaru.
“Pendidikan yang rendah dan rendahnya kesadaran akan pentingnya kesehatan menjadi faktor penting penyebab kemiskinan,” terang Mulyadi. “Baru-baru ini kami menemukan 3 (tiga) anak terlantar di Mentaos. Ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya kurang waras akibat mengonsumsi obat terlarang,” lanjutnya lagi.

Mulyadi menilai hal tersebut sebagai permasalahan yang harus dituntaskan secara bersama. Kepala Dinas Sosial Kota Banjarbaru H Masjudin Noor yang juga hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan hal senada. “Kami mengapresiasi kinerja RBP yang selama ini sangat membantu pemerintah dalam mengentaskan permasalahan kemiskinan. Kerjasama yang luar biasa,” ujarnya. Masjudin Noor berharap RBP bisa menjadi mitra dalam menangani kondisi-kondisi darurat yang terjadi di Kota Banjarbaru.

Setelah membuka wawasan dan berdiskusi tentang permasalahan kemiskinan, peserta pembekalan diberikan pelatihan singkat mengenai teknik wawancara dan investigasi. Tidak tanggung-tanggung, pelatihan langsung diberikan oleh Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin Toto Fachruddin. Peserta juga diberikan pembekalan tentang tata laksana menjadi tim verifikasi RBP.

“Semoga ke depan RBP bisa menjadi lembaga yang lebih amanah dalam menjalankan tugasnya,” ucap Manajer Keuangan RBP Nurhayah.

Nurhikmah, salah satu peserta mengaku mendapatkan pencerahan setelah mengikuti pelatihan tersebut. “Saya senang bisa mengikuti pelatihan ini, bisa membuka wawasan saya dan cara berfikir tentang bagaimana melakukan komunikasi yang baik kepada orang lain,” ujarnya. (en)

Byadmin

Alif Wahyu Satryana : Saya Hanya Perantara

Mengenal Sosok Inspiratif Dibalik Engineer Bites Charity

Tubuhnya mungkin bisa dikatakan mungil untuk ukuran ibu-ibu dengan dua anak. Namun, semangat ibu muda ini ternyata luar biasa besar. Betapa tidak? Sendirian memasak setiap hari untuk menyampaikan amanah donatur mengisi makanan di Food Counter for Duafa pernah dilakoninya. Atau yang baru-baru saja, Sabtu (7/10) tadi. Sejak pagi Ia sudah berkutat dengan adonan kue, sembari menyiapkan paket untuk yatim dan duafa dalam aksi berbagi kebahagiaan 10 Muharram. Lalu siangnya mengantarkan paket-paket itu ke panti asuhan hingga sore menjelang magrib. Tak berhenti sampai di situ, aksinya berlanjut ke Banjarmasin.

“Takziah ke keluarga penderita kanker yang meninggal malam tadi,” ungkapnya.

Bersama empat perempuan sahabatnya dan anak-anaknya, mereka menyambangi sebuah rumah kecil di wilayah Kelayan A Banjarmasin. Meski diiringi hujan, tak menyurutkan semangatnya menyuntikkan motivasi kepada seorang ibu yang telah kehilangan anaknya. “Anak pian sudah tenang, rezeki yang datang ke pian adalah hadiah dari anak, syukuri dengan sungguh-sungguh menata masa depan,” ucapnya lembut kepada Ibu tersebut. Rupanya kalimat itu mampu menghadirkan senyuman dalam duka.

Alif Wahyu Satryana, perempuan muda yang tinggal di Banjarbaru itu bukanlah manusia super. Ia hanya seorang perempuan biasa. Hanya saja keyakinan terhadap Ilahi telah melahirkan komitmen terhadap jalan kebaikan. “Saya hanya bisa nyetatus, Alhamdulillah kalau bisa jadi jalan kebaikan bagi orang lain,” begitu setiap ditanya bagaimana Ia memulai aksi kebaikan tersebut.

Ya. Trya, begitu Ia sering disapa, memang memiliki daya tarik dalam menggalang kebaikan di media sosial. Namun semua itu selalu Ia kembalikan kepada Sang Pemilik Semesta, Allah swt. “Saya hanya perantara, Allah lah yang menggerakan kebaikan-kebaikan itu. Karena kebaikan selalu akan menemukan jalannya,” pungkas Trya. (en)

Byadmin

Bagikan 130 Paket untuk Anak Yatim Duafa

Aksi Gotong Royong EBC dan RBP

Bulan Muharram diyakini umat Islam sebagai hari mulia karena pada tanggal tersebut tercatat banyak peristiwa kenabian yang terjadi. Rasulullah saw juga menganjurkan berpuasa pada 9, 10 dan 11 Muharram. Di Indonesia, 10 Muharram dicanangkan sebagai Hari Anak Yatim. Maka, tak pelak hari itu berbondong-bondong kebaikan semarak dilakukan sebagai bentuk kepedulian bagi anak yatim.

Seperti yang dilakukan Engineer Bite Charity (EBC) beberapa waktu lalu yang menggandeng RBP berbagi kebahagiaan untuk 130 anak yatim dan duafa di Banjarbaru. Aksi sosial itu dilaksanakan dalam dua tahap penyaluran. Pertama sebanyak 60 paket disalurkan pada Sabtu (30/9) dan sisanya sebanyak 70 paket disalurkan pada Sabtu (7/10). Lokasi penyaluran terbagi ke empat lokasi yaitu Rumah Yatim, Asrama Yatim, Rumah Anak Yatim, dan Pondok Pesantren Al Fatih Wal Imdad. Keempatnya berada di wilayah Kota Banjarbaru.

Paket yang diberikan berupa aneka camilan, paket sembako, dan uang saku. “Kebetulan anak saya yang sulung ulang tahun bertepatan pada momen 10 Muharram, jadi selain menyampaikan amanah donatur juga bikin sedikit acara syukuran untuk anak saya,” ujar founder EBC Alif Wahyu Satryana.

Trya, begitu sapaannya, mengaku tak menyangka sama sekali acara yang Ia rancang hanya dalam waktu dua hari itu mendapat respon luar biasa dari para donatur. “Tadinya cuma mau syukuran kecil, trus iseng ngajakin sahabat-sahabat saya menyantuni anak yatim eh Alhamdulillah donasi masuk sampai 13juta,” kisahnya.

Trya juga mengaku kaget sekaligus bersyukur karena para relawan RBP yang membantu cukup banyak. “Terima kasih relawan RBP, nggak nyangka banyak yang bantu saya,” ucapnya terharu. Total sebanyak 15 relawan turut membantu persiapan aksi sosial tersebut. Mulai belanja barang, mengemas bingkisan, hingga mengantar ke panti-panti dan pondok pesantren.

Trya berkisah bahwa keajaiban terus menghampiri. “Owner Minimarket Pinus pun turut menyumbang 10 paket sembako ketika RBP dan EBC berbelanja di sana, barakallah saya takjub dengan gerakan kebaikan kali ini,” ujar wanita bertubuh mungil ini dengan mata berkaca-kaca.

Trya memang salah satu penggerak pilantropi di Kalimantan Selatan. Telah banyak aksi-aksi kebaikan yang Ia gagas, seperti sedekah nasi, food counter for duafa, dan hadiah anak kanker.

Kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah anak yatim yang kami sambangi. Gelak tawa kadang terdengar kala para relawan mengajak anak-anak bersenda gurau. Wajah-wajah para relawan yang hadir seakan berkata; bahwa mungkin hanya tawa yang bisa kami berikan, mungkin hanya sehari, namun dari kebaikan yang kami lihat hari itu kami yakin bahwa kebaikan para dermawan akan terus hadir untuk yatim dan duafa. (en)

Byadmin

Himamia Redoks ULM Galang Dana untuk Rohingya

Gelora kepedulian untuk untuk Rohingya masih mengalir melalui RBP. Selasa (10/10) tadi dua orang perwakilan Himpunan Mahasiswa Kimia (Himamia) Redoks ULM kembali menyambangi kantor RBP. Mereka adalah Ladya Ayu Puspasari dan Nada Oktaviana. Maksud kedatangan mereka adalah mengantarkan donasi untuk Rohingya hasil penggalangan di jalan.

“Aksi penggalangannya sudah seminggu yang lalu (3/10), tapi baru sempat hari ini mengantarkannya,” ucap Ladya seraya menyerahkan donasi sebesar Rp 4.723.400 kepada Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra. “Semoga sumbangan ini bisa membantu program kemanusiaan untuk warga Rohingya,” ucapnya lagi.

Aksi kepedulian Himamia Redoks itu bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya mereka juga menggalang kepedulian untuk penderita kanker. “Kami pikir mahasiwa sebagai pemuda generasi penerus bangsa memang harus bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan, salah satunya menggalang kepedulian untuk sesama,” ujar gadis yang merupakan staf bidang humas di Himamia Redoks itu.

Ladya juga menyampaikan bahwa aksi penggalangan dana sudah menjadi program rutin Himpunan yang akan digelar setiap bulan. (en)