Berita

Byadmin

Yuk Bergembira Bersama Kado Ceria

Pagi itu, Minggu (18/2), langit tampak gelap. Kota Martapura sempat diguyur hujan. Namun ternyata hal itu tidak menyurutkan semangat 52 anak untuk mengikuti program Kampung Dongeng (Kado) Ceria. Anak-anak itu tidak hanya berasal dari Martapura dan Banjarbaru, tapi juga ada yang dari Banjarmasin. Mulai anak usia 5 tahun hingga 10 tahun. Semua berkumpul di satu tempat, markas Kado Intan Kalsel.

Founder Kado Intan Enik Mintarsih yang biasa disapa Bunda Enik menjelaskan jika kegiatan Kado Ceria ini dilaksanakan sekali dalam sebulan. “Alhamdullilah anak-anak selalu ramai berdatangan dan mengalami peningkatan setiap bulannya” ungkapnya.

Dalam setiap kegiatannya, sebelum acara dimulai, Bunda Enik selalu mengajarkan kerapian diri. Bunda Enik menyuruh anak-anak untuk merapikan alas kakinya sebelum kegiatan mendongeng dimulai. Anak-anak begitu antusias mengikuti perintah dari Bunda Enik tersebut.

“Nilai karakter paling utama yang harus kita tanamkan sejak dini contohnya dengan menyuruh anak-anak untuk merapikan alas kakinya tersebut, secara tidak sadar anak-anak akan mulai terbiasa untuk disiplin,” kata Bunda Enik.
Setelah itu Bunda Enik mengajak satu anak untuk memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil berdiri. Dengan lantang dan semangatnya mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Sebelum kegiatan utama yaitu mendongeng, Bunda Enik dengan pembawaan yang ceria juga mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu baby shark. Dengan antusiasime yang tinggi anak-anak menari dan menyanyi mengikuti alunan masik.

Dongeng sendiri saat itu dibawakan oleh relawan dari Banjarmasin yang bernama Nia. Dengan wajah saksama anak-anak mendengarkan dongeng, sesekali mereka ketawa karena lucunya cerita Cika (boneka tangan milik Nia).

Melalui dongeng, Nia mengajarkan untuk menjadi pendengar yang baik dan berbakti kepada orang tua.

“Kami ingin menanamkan budaya membaca sejak dini, kreativitas, kekompakkan tim, bekerja sama dan yang paling penting ayo anak-anak Indonesia kita bergembira bersama,” seru bunda Enik.

Bunda Enik pun menjelaskan terdapat manfaat psikologis yang diterima oleh anak. Anak-anak yang awalnya di rumah merasa tidak mood dapat bersenang-senang sehingga melupakan masalahnya. Kegiatan ini juga dapat digunakan untuk “Trauma Healing”.

Salah seorang anak, Defa, mengaku merasa senang, seru dan dapat teman baru dengan hadir di kegiatan kampung dongeng ceria.

Selain itu, Alwi selaku orang tua salah satu anak merasa anaknya antusias sekali. Alwi menjelaskan anaknya yang bernama Nia kelas 2 SD termasuk tipe anak yang malu-malu namun setelah mengikuti acara serupa di Museum Lambung Mangkurat, anaknya mulai percaya diri. Nia sendiri pada kegiatan itu berani tampil ke depan teman-temannya untuk membaca doa makan.

Penulis: Eggy

editor: Retno Sulisetiyani

foto: Eggy

Byadmin

Dukung Program Pemerintah, Bina Kesehatan Desa Wisata

Mengikuti Pengabdian Masyarakat Mitra Peduli; Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Poltekkes Kemenkes Banjarmasin kembali menunjukkan peran sertanya dalam peningkatan pelayanan kesehatan. Tidak hanya mendidik calon tenaga kesehatan berkompeten saja, melaksanakan pangabdian masyarakat juga telah menjadi program yang setiap tahun dilaksanakan. Pengabdian masyarakat tahun ini dilaksanakan di Desa Biih, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Desa Biih sendiri terkenal dengan wisata duriannya. Selain untuk mengangkat wisata desa tersebut, kegiatan ini dimaksudkan untuk membina warga setempat untuk lebih sadar akan kesehatan. Baik itu kesehatan dari diri sendiri maupun lingkungan tempat mereka tinggal.

Ketua Pelaksana kegiatan Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd menyebutkan bahwa masalah yang mereka temukan di Desa Biih berhubungan dengan kesehatan lingkungan. “Masih kurangnya gorong-gorong sebagai saluran pembuangan limbah menjadi masalah di desa ini,” terangnya. Selain itu, imbuhnya, kesadaran warga yang masih kurang mengenai pentingnya kesehatan lingkungan menyebabkan beberapa faktor gangguan kesehatan lainnya.

“Akhirnya pendekatan yang kami lakukan adalah pendekatan keluarga. Jadi, kami membina mulai dari keluarga terlebih dahulu tentang masalah kesehatannya,” jelas staff pengajar Poltekkes Kemenkes Banjarmasin jurusan Kesehatan Gigi itu.

Waljuni, begitu sapaannya, lebih lanjut menerangkan bahwa masalah-masalah yang sudah diketahui akan menjadi prioritas untuk ditangani lebih lanjut. “Harapan kami bisa membangun desa dengan standar kesehatan yang baik dan benar, tentu dengan enam indicator sesuai jurusan yang ada di Poltekkes Banjarmasin,” ujarnya.

Waljuni menilai sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Desa Bi’ih sendiri sudah cukup baik. “Pelayanan masih terbatas untuk golongan lansia saja, sedangkan untuk bayi dan balita masih kurang,” ungkapnya.

Menurut Abdul Malik selaku Kepala Desa Biih, kegiatan pengabdian yang dilakukan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin bermanfaat sekali. “Kami berharap program terus berlanjut sehingga masalah kesehatan dapat dikurangi sekaligus dicegah untuk ke depannya,” ucapnya.

Pengabdian masyarakat yang bertajuk Praktek IPE IPC itu dilaksanakan sejak Sabtu (10/2) hingga Minggu (11/2) tadi. Para mahasiswa menginap di desa dan membentuk kelompok yang didalamnya terdapat enam jurusan yaitu keperawatan, gizi, analis, lingkungan, gigi, dan kebidanan. Pembinaan kesehatan komprehensif. Demikian kira-kira tujuan dari sebaran kelompok-kelompok tersebut.

Minggunya, dilaksanakan layanan kesehatan gratis massal dari enam jurusan. Mulai dari konsutasi gizi, pemeriksaan gigi, cek gula darah, konsultasi kesehatan lingkungan serta pemeriksaan tekanan darah. Kegiatan yang dilaksanakan tepat di area wisata durian terlihat begitu ramai oleh warga yang berbondong bondong ingin memeriksakan kesehatannya. Mulai dari kakek nenek hingga anak-anak begitu antusias untuk mendatangi stand-stand layanan yang telah disediakan.

“Terima kasih atas kepedulian Poltekkes Banjarmasin, semoga warga kami makin sadar akan pentingnya kesehatan,” ucap Abdul Malik mewakili para warga Desa Biih.

Penulis : Wahyu Aji Saputra

Editor: Retno Sulisetiyani

Foto by Wahyu AS

Byadmin

Banua For Palestina; Krisis Listrik, Bencana Kemanusiaan yang Melanda Gaza

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA) sempat memperingatkan, bencana kemanusiaan mengancam Gaza dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (6/2), setelah dampak krisis listrik kian meluas di Jalur Gaza. Namun demikian, bagi para pasien, dokter, dan staf medis di puluhan fasilitas kesehatan (rumah sakit dan klinik) di Gaza, “bencana kemanusiaan” itu benar-benar sedang terjadi.

Sejumlah dokter mengutarakan kekhawatiran mereka akan kondisi yang terus memburuk di rumah sakit tempat mereka bekerja. Kekhawatiran tersebut terekam dalam sebuah video yang dikirimkan oleh mitra Aksi Cepat Tanggap, Rabu (7/2).

Hingga pertengahan Februari ini, pasokan listrik yang mengaliri puluhan pusat layanan kesehatan di Gaza kian menurun. Hal ini menyulitkan tim dokter di rumah sakit besar untuk melakukan kegiatan medis vital seperti operasi terhadap pasien.

“Sebagian besar pasien tidak bisa kami operasi karena minimnya suplai listrik untuk menghidupkan alat-alat operasi. Karena penanganan yang lambat ini, kami kehilangan banyak jiwa. Gaza benar-benar sekarat,” ungkap salah satu dokter.

Salah satu dampak ini amat dirasakan pasien yang mengalami gagal ginjal. Organisasi Hak Asasi Manusia di Palestina, Al-Haq, menyebutkan, krisis listrik yang terus memburuk mengancam 400 pasien gagal ginjal di Jalur Gaza.

“Sejumlah rumah sakit di Gaza saat ini tidak mampu menjalankan 200 operasi per harinya. Hal ini karena rusaknya kualitas darah yang disimpan dalam ruangan penyimpanan darah hasil donor. Ini akibat minimnya pasokan listrik di Gaza,” terang Al-Haq dalam rilisnya, Senin (5/2).

Sementara itu, di RS Anak al-Nasr, nasib puluhan pasien anak di unit perawatan intensif rumah sakit tersebut juga kian krisis. Kepala Unit Perawatan Intensif dr. Raed Mahdi mengatakan, jumlah pasien anak di sana terus meningkat seiring banyaknya pemindahan pasien dari rumah sakit atau klinik yang telah kehabisan listrik. Kondisi ini berbanding terbalik dengan terbatasnya jumlah staf medis dan suplai obat-obatan di rumah sakit tersebut.

Rakyat Gaza bergerak, menyuarakan kekhawatiran mereka atas krisis listrik yang semakin memburuk. Dokter-dokter bersatu menyerukan “Selamatkan Gaza”. Awal pekan kedua Februari, seruan serupa juga datang dari puluhan pasien disabilitas di Gaza. Di depan gerbang RS Beit Hanoun yang kini telah tutup, puluhan penyandang disabilitas menyuarakan keresahannya tentang sulitnya mendapatkan perawatan medis akibat minimnya listrik.

“Ini seruan terakhir, Gaza benar-benar sekarat. Kami mengajak insan dunia, siapa saja, untuk membantu pasien-pasien di sini dari ancaman kematian,” ungkap seorang dokter di rumah sakit yang ada di Gaza.

Beberapa hari lalu, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan ancaman pemberhentian operasional melanda 19 fasilitas medis di Gaza. Generator darurat di 16 klinik dan 3 rumah sakit tersebut telah kehabisan bahan bakar seiring ketatnya blokade Israel di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan dalam pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina pada Selasa (6/2).

Sebelumnya, tujuh rumah sakit di Gaza tidak lagi mendapatkan suplai listrik pada akhir Januari lalu. Peralatan medis yang hanya bisa berfungsi dengan daya listrik itu pun mati total. Tak banyak yang dapat dilakukan oleh pengelola rumah sakit selain memindahkan pasiennya ke rumah sakit lain yang masih beroperasi. Baik dokter dan staf medis juga turut diberhentikan masa kerjanya. Akibatnya, ketujuh rumah sakit tersebut resmi tutup awal Februari silam. (act)

 

Byadmin

Puluhan Guru Serbu Kampung Dongeng Intan

Sabtu (17/2) kemarin, halaman markas Kampung Dongeng Intan Kalsel di Jl Kampung Baru Martapura dipadati oleh puluhan guru-guru paud. Sebanyak 65 orang guru yang tergabung dalam Gugus Paud Kemuning Kecamatan Banjarmasin Timur tampak riuh berkumpul.

Enik Mintarsih selaku tuan rumah tampak kaget sekaligus senang. “Nggak nyangka serame ini. Senang sekali dikunjungi,” ujarnya.

Kedatangan Gugus Paud Kemuning bukan tanpa alasan. Mereka berkunjung untuk menambah wawasan tentang dongeng dan membuat alat peraga dongeng yg mudah dan menarik agar anak anak menjadi lebih tertarik.

Enik Mintarsih yang lebih dikenal dengan panggilan Bunda Enik memberikan motivasi kepada para guru tersebut agar lebih kreatif agar pembelajaran berjalan maksimal.

“Saya mengajari mereka membuat alat peraga dongeng yang menyenangkan, lagu-lagu penambah semangat, senam anak, dan sulap,” ucap Bunda Enik.

Menjadikan Kampung Dongeng Intan Kalsel sebagai tempat belajar menunjukan bahwa gerakan mendongeng sudah diterima oleh banyak kalangan di Kalsel. Padahal, menurut Bunda Enik, empat tahun lalu saat merintis komunitas Ia mengalami hambatan besar dari lingkungan.

“Alhamdulillah kini dongeng kembali jadi aktivitas yang diminati. Semoga para orang tua mau membiasakan mendongeng di rumah untuk anak-anaknya,” pungkas Enik.

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor: Retno Sulisetiyani

Foto : koleksi Kampung Dongeng Intan Kalsel

Byadmin

Mitra Peduli – Paud Mutiara, 12 Tahun Berkiprah Mendidik Generasi

Kepala Sekolah Paud Mutiara Nurhayati SPd AUD menilai bahwa perilaku tak lazim yang ditunjukkan oleh anak-anak merupakan akibat dari tidak adanya penanaman pembiasaan positif sejak usia dini. Seperti yang baru-baru ini ramai diberitakan, yaitu seorang murid yang tega memukul gurunya hingga meninggal dunia. Atau seorang murid yang berani memaki gurunya, bahkan menantang untuk berduel. “Sungguh miris rasanya. Namun semua itu bukan kesalahan si anak tentunya. Keluarga, masyarakat dan lingkungan punya andil besar dalam membangun karakter anak,”ujar Nurhayati yang ditemui di tengah-tengah acara milad Paud Mutiara.

Sabtu (10/2) kemarin Paud Mutiara memang sedang merayakan miladnya yang ke 12. Nurhayati menyampaikan bahwa dalam momentum 12 tahun Paud Mutiara ini ingin kembali mengingatkan betapa pentingnya pembiasaan positif sejak usia dini. “Peran pengasuhan adalah tanggungjawab keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Maka marilah kita bergandengan tangan menyelaraskan pola asuh untuk anak-anak kita,” ujarnya.

Menurut Nurhayati yang juga merupakan Ketua Himpaudi Kota Banjarbaru itu, terjadi salah kaprah pengasuhan anak-anak usia dini. “Banyak yang berpikiran bahwa budaya pola asuh zaman dulu masih relevan digunakan zaman sekarang. Namun coba kita lihat, bangsa ini masih membutuhkan KPK untuk memberantas korupsi. Itu satu contoh saja,” ucap Ibu dari dua anak itu yang kerap disapa Bunda Nur.

Bunda Nur menekankan bahwa jika bisa kita tumbuhkan karakter positif sejak dini, maka Ia yakin bangsa ini akan menjadi Negara beradab yang maju. “Kalau bisa dicegah kan lebih baik,” imbuhnya.

Dalam membuktikan komitmennya terhadap dunia pendidikan anak usia dini, Paud Mutiara secara rutin menggelar kegiatan seminar parenting untuk para orang tua dan masyarakat. Khusus milad ke 12 kemarin, dihadirkan Widyawati SPd sebagai narasumber.

Widyawati yang juga telah lama berkiprah di dunia Paud menyampaikan tentang pola asuh yang penting diketahui para orang tua. “Biasakan pagi hari memberikan senyuman pada anak, datarkan suara saat bicara, tidak perlu marah, dan bicaralah yang santun,” ujarnya di hadapan puluhan guru dan orang tua yang hadir.

Menurut Widyawati, orang tua itu bukan hanya ayah dan ibu. Namun ada kakek, nenek, kakak, adik, dan lingkungan masyarakat. “Kita harus bekerjasama dalam memfasilitasi anak-anak usia dini melewati usia kritis, yaitu usia nol sampai lima tahun atau golden age,” ucapnya.

Para orang tua yang hadir terlihat antusias menyimak paparan Widyawati. Salah satunya Endang, warga Jalan Golf Landasan Ulin, yang duduk bersama putrinya, Nanas (4,5 tahun). “Kegiatan seperti ini sangat membantu saya dalam mendidik anak-anak di rumah. Meski kadang-kadang saya masih kurang sabar,” akunya seraya tertawa malu. “Nanas di rumah sering bantu saya cuci piring. Pembiasaan ini lah yang saya lihat sangat ditanamkan di Paud Mutiara,” ucap guru SMPN 4 Banjarbaru itu. Kepercayaan Endang dibuktikan dengan menyekolahkan kedua anaknya di Paud Mutiara.

Sebelumnya, perayaan milad ke 12 Paud Mutiara juga diramaikan dengan lomba-lomba yaitu lomba microteaching untuk guru-guru dan lomba fashion show pakaian daur ulang untuk para murid. Keseruan dan kebersamaan terasa dari suasana kekeluargaan yang dihadirkan. Mewakili Paud Mutiara, Bunda Nur menyampaikan ucapan terima kasih kepada komite sekolah, stakeholder, pemerintah, dan masyarakat atas semua dukungan yang telah diberikan selama ini. “Seperti manusia, kami sedang menginjak usia remaja, maka masih butuh motivasi dan dorongan agar bisa lebih baik dalam memberikan kontribusi positif untuk bangsa,” pungkasnya.

Seperti harapan Bunda Nur, sekiranya begitulah harapan kita semua.

penulis: retno sulisetiyani

editor: retno sulisetiyani

Byadmin

Terima Kasih Ni

(Sebuah Catatan Kenangan untuk Masliah)

Nini Masliah. Begitu kami biasa menyapanya. Sosoknya yang kecil dengan rambut memutih dipotong pendek. Kekinian banar Nini lah kaya Agnez Mo, satu kali pernah relawan bercanda begitu. Beliau hanya tertawa sembari menutup mulutnya.

Nini Masliah adalah sosok senja yang patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, meski rambutn kian memutih namun jiwa muda lah yang ditunjukkannya kepada kami. Wajahnya selalu menyuguhkan senyum yang merekah. Sorot matanya senantiasa memancarkan kebahagiaan. Suatu ketika, Masliah baru saja selesai mandi, kamipun mencoba membantu memapahnya. “Indah, aku indah. Kawa haja nah sorangan. Kawa haja aku, Ia berkeras menyeret sendiri badannya dengan tenaga tuanya. Ngesot. Satu cara yang hanya mampu beliau lakukan dengan kondisi rentanya. Tak jarang Ia tergores paku yang tak menempel sempurna di lantai rumahnya.

Bahkan, ketika kami berkunjung ke kediamannya Ramadhan tahun lalu, ia tetap menunaikan ibadah puasa sebulan penuh.

Diusianya yang ke 75 tahun, Masliah menutup mata. Senin (29/1) yang lalu. Menyisakan ketakjuban bagi kami, para relawan. Dua tahun membersamai, Masliah mengajarkan kepada kami tentang semangat yang luar biasa. Tentang optimisme terhadap hidup dan takdir. Kelumpuhan yang Ia alami tak pernah melemahkan jiwanya dalam menghadapi hidup dan juga beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Kekuatan. Kesabaran. Kesyukuran. Begitulah yang kami ingat tentang sosok Masliah.

Terima kasih Ni. Hanya itu yang bisa kami ucapkan sebagai salam perpisahan.

Penulis: Devi & Enok

Byadmin

Ayo Dukung RBP Galang Donasi untuk Nutrisi

Hanil. Lelaki 46 tahun itu tak bisa berbuat apa-apa. Kejadian satu setengah tahun silam membuat fisiknya cacat. Tragis. Di tengah kesehariannya mencari nafkah untuk keluarga, punggung itu kejatuhan bongkahan bangunan yang tak kokoh. Berbagai upaya telah di lakukan. Operasi pun sudah dijalani.

Namun apa daya, kelumpuhan belum jua pulih. Dari pinggang hingga kaki. Sebagai tulang punggung keluarga ia tak bisa berbuat banyak sekarang. Semenjak kejadian itu, hanya menantunya saja yang senantiasa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun penghasilannya kurang dari kata cukup.

Ditemani sang istri yang setia merawatnya, semangat untuk sembuh itu tetap ada. Ke kediamannya yang beralamat di Jalan Pirdaus Cempaka Kertak Baru Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru, sebulan sekali tim relawan Homecare Duafa rutin mengunjungi.

Setidaknya kondisi kesehatan beliau terkontrol. Obat-obatan pun rutin diberikan walau sekedar mengurangi rasa sakit. Begitulah itikad kami sejak November 2016 silam.

Berangkat dari kondisi ini, RBP tetap berupaya memberikan yang terbaik. Tak hanya ingin mewujudkan kesembuhan, pemenuhan nutrisi pasien pun ingin RBP penuhi.

Kembali mengajak Sahabat Dermawan di Kalimantan Selatan untuk mewujudkan empati. Selain Hanil, masih ada beberapa lansia yang membutuhkan uluran tangan kita semua. Rencananya setiap bulan RBP ingin membagikan paket nutrisi berupa makanan sehat dan sembako untuk mereka senilai Rp 150ribu per kepala keluarga.

Bergabunglah dalam gerakan kebaikan ini. Donasi untuk nutrisi duafa bisa disalurkan melalui rekening berikut :

Bank Syariah Mandiri 0260018953

BNI Syariah 11 999 33 555

Mohon konfirmasi via sms ke 081333272004

Info program silahkan hubungi 081317238310 (Devi)

Donasi sekecil apapun tentu sangatlah berarti. Terima kasih telah berbagi!

#bahagiakanbanua

 

Byadmin

Orientasi Relawan; Trauma Healing Pada Anak itu Perlu Teknik Khusus

“Dalam kondisi normal, orang mempunyai mekanisme pertahanan diri jika menghadapi sebuah masalah, namun pada situasi traumatis pertahanan diri tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi sehingga terjadi disosiasi atau dengan kata lain, integritas diri orang tersebut menjadi pecah,” demikian ungkap Hasibah Eka Rosnelly, seorang Psikolog di Program Pelayanan Psikososial Humanity BBPPKS Regional IV Kementerian Sosial RI, saat mengisi kegiatan orientasi relawan RBP (Radar Banjar Peduli), Minggu (28/1) yang lalu. Hal tersebut Ia ungkapkan mengingat munculnya fakta-fakta kejadian tentang tindak kekerasan dan pelecehan terhadap anak yang makin marak.

“Yang tidak  normal sesungguhnya adalah situasi traumatisnya. Hanya saja jika disosiasi terus berlanjut dan terus menerus dalam waktu yang lama dan mengganggu kehidupan seseorang, maka orang tersebut dikatakan mengalami trauma,” ujar perempuan yang kerap disapa Lily.

Pada kesempatan itu, Lily mengajak para relawan untuk mengenali kondisi trauma dan bagaimana menanganinya melalui teknik trauma healing. Mulai dari memahami arti trauma, bagaimana terjadinya, hingga teknik-teknik penanganannya.

Sebanyak 19 relawan yang hadir hari itu terlihat antusias mengikuti kegiatan. Hal ini terlihat dari diskusi yang terjadi setelah Lily memaparkan materi. Salah satu relawan, Wahyu Aji, mengajukan banyak pertanyaan tentang penanganan kekerasan pada anak. “Apakah hipnoterapi bisa digunakan untuk menangani anak-anak korban kekerasan?” tanyanya kepada Lily.

Menanggapi pertanyaan itu, Lily menjelaskan bahwa anak mempunyai karakteristik khusus sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan yang khusus pula. “Menurut saya hipnoterapi tidak cocok untuk dilakukan pada anak-anak,” tegasnya.

Perempuan yang pernah menjadi relawan pasca bencana tsunami di Aceh itu juga menjelaskan tiga hal penting dalam membantu memulihkan trauma untuk anak-anak. “Kita perlu membangun perasaan aman dalam lingkungannya, mendorong proses penerimaan terhadap kondisi yang menimpanya, juga memperbaiki kembali hubungan sosial dan membangun kembali kepercayaan, harapan, serta saling pengertian,” tandasnya.

RBP kali ini memang ingin mengajak para relawan untuk membuka wawasan terhadap bencana sosial yang terjadi di sekitar. “Kami melihat ini sebagai sebuah bencana sosial yang memerlukan uluran tangan para relawan. Apalagi sesungguhnya tidak diperlukan studi keahlian khusus untuk menjadi relawan trauma healing. Asal mau bergerak dan berkreasi,” ucap Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani. “Komitmen juga kami tunjukkan melalui program story telling yang telah diinisiasi sejak Desember 2017 lalu dan rutin berjalan setiap minggu hingga sekarang,” pungkasnya.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pustarda Kota Banjarbaru itu ditutup dengan diskusi kelompok. Beberapa relawan akhirnya terkumpul dan mendedikasikan dirinya sebagai Relawan Peduli Anak. Mereka berkumpul dan bergerak dengan satu tekad: selamatkan anak untuk bangsa beradab!.

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Relawan Harus Bisa Berpikir Sekaligus Bergerak Cepat

Berbincang dengan Relawan Senior RBP, Dokter Siti Ningsih

Bagi wanita kelahiran Magetan 35 tahun yang lalu ini, menjadi relawan adalah investasi kebaikan seumur hidup, bukan hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat. Maka, tak heran jika bahkan setelah menikah dan memiliki tiga orang anak, Ia tak melepaskan diri dari dunia kemanusiaan. Padahal bejibun aktivitas medis selain pekerjaan juga dilakoninya.

(Retno Sulisetiyani, Banjarbaru)


Wanita ini bernama Siti Ningsih. Seorang dokter di Rumah Sakit Idaman Kota Banjarbaru. Dokter Siti, demikian Ia akrab disapa, juga menjadi seorang dokter Homecare di salah satu BUMN di Banjarbaru. Setiap bulan Ia melayani para pensiunan yang kebanyakan sudah lansia. Ia juga menjadi dokter di Klinik Darul Hijrah Putri.

Bersama Radar Banjar Peduli, Dokter Siti juga menjadi dokter bagi para duafa dalam program Homecare Duafa. Sebanyak 12 warga di Kecamatan Cempaka dan Liang Anggang menjadi pasiennya. Mulai dari anak-anak sampai lansia. Program ini sudah berjalan selama setahun lebih lamanya.

“Waktu yang kita miliki sama-sama 24 jam, jika tidak diisi dengan kebaikan pasti akan diisi dengan hal-hal sebaliknya. Maka lebih baik jangan melewatkan sedetikpun tanpa kebaikan,” begitu akunya ketika ditanya tentang aktivitasnya tersebut.

Wanita berkacamata ini ternyata juga memiliki motivasi kuat soal pengabdian. Ia ingin memberi manfaat untuk sebanyak-banyak orang supaya menjadi manusia terbaik. “Karena dalam agama Saya, Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Dan bagi Saya, inilah jalan jihad Saya,” ungkapnya kepada penulis.

Meski demikian, sebagai manusia biasa, Ia tak luput juga dari masa sulit. Kiprahnya di dunia relawan bersama RBP ternyata banyak menyisakan kisah heroik yang tak terlupakan. Tahun awal RBP terbentuk, tepatnya 2005 yang silam, terjadi kebakaran besar di Kotabaru. Dokter Siti yang kala itu masih duduk di bangku kuliah tengah menjalani ujian akhir semester. Namun, karena panggilan kemanusiaan, di tengah ujian Ia harus berjibaku untuk mengatur relawan yang harus berangkat ke lapangan.

“Yang paling Saya ingat, tahun 2006 pas Saya baru saja menikah, ternyata ada kebakaran di Banjarmasin. Tengah malam Saya harus koordinasi dengan relawan, Alhamdulillah suami memberi dukungan,” ujarnya.

Dokter Siti memang beruntung. Suami dan keluarga besarnya telah menjadi pendukungnya dalam mengarungi dunia kemanusiaan. Basuni, lelaki yang selama 11 tahun ini setia mendampinginya, mengaku melihat sang Istri adalah sosok wanita super. “Istri saya itu tiada duanya, anak menantu kebanggaan Ibu saya, meskipun kadang ketus dan cuek,” Basuni berseloroh tentang Dokter Siti. “Saya mendukung dan akan terus memberi dukungan apapun asalkan itu adalah kebaikan,” imbuhnya.

Dalam mengatasi keseimbangan antara waktu untuk keluarga dan aktivitas di luar rumah, Dokter Siti mengaku terinspirasi oleh sosok aktivis perempuan Indonesia, yaitu Ustazah Yoyoh Yusroh. “Kata beliau, berdayakan semua orang yang ada di sekitar kita untuk mendukung aktivitas kita,” ujar Dokter Siti.

Untuk anak-anak sendiri, biasanya Ia mengoptimalkan waktu libur untuk rekreasi bersama. “Kalau saya mengajarkan ke anak-anak untuk hidup sederhana, jadi biasanya dibawa ke tempat-tempat gratisan pun mereka senang,” ucapnya seraya tertawa.

Demikian lah sosok Dokter Siti hadir di dunia kemanusiaan Banua. Ia telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya mengabdi pada mereka yang membutuhkan. Betapa indahnya dunia ini jika banyak diisi oleh orang-orang dengan komitmen seperti beliau. Ia berpesan kepada generasi muda untuk jangan berhenti berbuat baik dan jadilah pribadi yang bermanfaat.

Nah, para sahabat ayo isi hari-hari kita dengan empati dan kepedulian, sehingga banyak tawa bahagia yang tercipta. (*)

Byadmin

Buka Dompet Kemanusiaan Palestina di CFD Murjani

Tragedi kemanusiaan di Palestina menyulut empati yang besar, termasuk warga banua di Kalimantan Selatan. Sejak dibuka dompet kemanusiaan awal bulan yang lalu, donasi melalui rekening kemanusiaan terus mengalir.

Melihat antusiasme warga tersebut, maka RBP membuka dompet kemanusiaan di area CFD (Car Free Day) Lapangan Murjani, Kota Banjarbaru. Booth donasi tersebut bersamaan dengan lokasi Charity Area, kawasan bebas sedekah yang merupakan program bazar amal hasil kerjasama dengan PPMPC (Paguyuban Pedagang Minggu Pagi Ceria).

“Hal ini untuk memudahkan warga yang ingin berdonasi langsung, sembari bersantai bisa langsung menyalurkan donasinya ke booth,” ujar Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra.

Lelaki yang akrab dipanggil Edo itu berharap gerakan kecil tersebut bisa mengumpulkan bantuan yang berarti bagi rakyat Palestina. “Masing-masing diri kita jika menyisihkan sebagian kecil saja dari harta, maka akan besar manfaat yang dirasakan rakyat Palestina. Inilah yang bisa kita lakukan selain doa,” ujarnya.

Edo menjelaskan bahwa dalam hal penyaluran donasi kemanusiaan internasional, RBP telah bersinergi dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT), sebuah lembaga kemanusiaan internasional yang sudah terpercaya. Terbukti pada akhir tahun 2017 lalu, RBP dengan menggandeng ACT, berhasil membangun hunian dan pangan untuk etnis Rohingya di Bangladesh.

“Kami berharap rakyat Palestina pun bisa merasakan kepedulian warga banua,” pungkas Edo.

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani