Berita

Byadmin

Program Orang Tua Asuh RBP Bantu Rahmat Menggapai Cita

Rahmat Faisal, seorang remaja tanggung yang baru saja menyelesaikan studi di SMP Negeri 8 Banjarbaru tahun ini. Tidak seperti remaja kebanyakan yang dengan bebas selepas pulang sekolah bisa bermain bersama teman-temannya. Sepulang sekolah Rahmat harus mencari barang rongsokan untuk dijual demi memenuhi kebutuhannya dan neneknya sehari-hari. Hal ini dilakukannya sejak Ia duduk di kelas  2 SMP.

Setiap pulang sekolah, sering tanpa makan siang, Rahmat langsung mencari barang rongsokan seperti kardus, botol, dan kotak makan. Ia tidak pernah marah walau jam bermainnya harus ia relakan. Lelah pun ia terima karena harus memulung setiap harinya. “Marah sih gak pernah. Cuma cape aja. Ya kalo cape, biasanya habis mulung, bersihin diri, langsung istirahat, malemnya belajar sebentar,” ucapnya sambil tersenyum.

Tak jarang Rahmat juga mengalami pengalaman pahit saat memulung, seperti harus berebut tempat mulung dengan orang lain. Ketika naik ke kelas 3 SMP, ia harus mengikuti full day school sehingga kegiatan mulungnya hanya bisa dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu.

Meski harus memulung, Rahmat tetap berusaha maksimal dalam pendidikannya. Hal ini terbukti Ia tetap bisa mempertahankan prestasinya dengan selalu mendapat ranking sepuluh besar. Ia juga optimis dengan hasil ujiannya nanti. Kini, Rahmat tengah  menunggu pendaftaran sekolah menengah atas karena Ia ingin mendaftar di SMK 3 Banjarbaru.

Ia sekarang tengah berusaha menaikkan tinggi badannya demi cita-citanya untuk menjadi polisi. “Idola saya itu pemain film, namanya Barry Prima, soalnya dia kekar dan perkasa gitu. Saya pengen jadi dia, biar bisa jadi polisi,” jawabnya polos dengan mata yang berbinar.

Rahmat dan neneknya tinggal di sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu di pinggir jalan Trikora. Ada warung kecil untuk neneknya berjualan bensin dan jajanan ringan. Ibu dan Ayah Rahmat sudah lama berpisah, ketika ia masih kecil. Ibunya kini tinggal di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Rahmat mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan ibunya, karena ibunya selalu berganti nomor telepon. Begitu pula dengan Ayahnya, meskipun mereka tinggal berdekatan, ia mengaku bahwa  ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari Ayahnya tersebut.

“Ya kadang saya kasian juga, orangtuanya masih ada tapi gak pernah dapat kasih sayang dari mereka,” ucap sang Nenek. Rahmat selalu meneteskan airmata mana kala ia menceritakan tentang kedua orangtuanya.

Rahmat adalah salah satu penerima manfaat program orangtua asuh dari Radar Banjar Peduli sejak Agustus 2017 lalu. Berkat program ini lah, Rahmat akhirnya berani bermimpi. Meniti jalan hidup yang jauh lebih baik.

”Bentuk program ini berupa bantuan biaya sekolah, uang saku, dan kakak mentor untuk bimbingan belajar para anak asuh,” ucap Devi selaku Koordinator program ini.

“Harapan saya, supaya Rahmat ini bisa terus sekolah, jadi bisa membantu saya. Apalagi saya ga selamanya muda,” ucap Sang Nenek.

Bagi RBP sendiri, kedepannya semoga Rahmat tak hanya mampu membuat sang nenek tersenyum, lebih dari itu Ia juga bisa bermanfaat untuk orang lain menjadi sosok penerus bangsa. Sang penerus masa depan.

Penulis : Najmita Ismiawan

Editor : Azizah/Retno sulisetiyani

Byadmin

Khitan Zaman Now, Hadirkan Karakter Super Hero

(Ginanjar Sutrisno, Lazismu Banjarbaru)

Takut dan gugup. Demikian perasaan yang dialami Muhammad Supian (7 th), saat mengikuti Khitanan Barokah 1439 H khusus Dhuafa Selasa (8/5) lalu bertempat di halaman kantor PT PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Tengah, Jalan Mistar Cokrokusumo, Sungai Besar, Banjarbaru. Syukur, perasaan tersebut berangsur mencair. Abid Mujadid selaku pembawa acara kegiatan tersebut memberikan motivasi melalui games education kepada Supian dan ratusan peserta lainnya. “Awalnya ulun takut, tapi Alhamdulillah sekarang siap disunat,” ungkap Supian mantap.

Suasana makin meriah tatkala muncul sosok super hero, Kamen Raider dan Spiderman. Para peserta bersorak gembira. Kehadiran super hero tersebut bukan hanya sekedar melengkapi acara pembukaan, namun memberikan motivasi dan keceriaan kepada peserta khitan.

“Luar biasa. Ada 145 anak se Kota Banjarbaru dan sebagian dari Kabupaten Banjar yang hari ini dikhitan,” ucap Saparin selaku Ketua Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah dalam sambutannya. “Alhamdulillah melalui program yang bagus ini, dapat meringankan beban sekaligus berbagi kebahagiaan bagi keluarga prasejahtera. Terima kasih Lazismu Banjarbaru yang selalu menawarkan program kreatif, aktif dan responsif serta mampu kooperatif dalam kerjasama selama ini,” imbuhnya.

Hadir pula, General Manager (GM) PT PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah Dendi Kusumawardana, Manager Bidang sekaligus Pengawas YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah, Camat Cempaka, PD Muhammadiyah Kota Banjarbaru, Baznas Kota Banjarbaru, dan Persatuan Istri Karyawan/i (PIKK) PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah.

Dalam pelaksanaan, Lazismu Banjarbaru meggandeng tim tenaga medis dari RS Islam Banjarmasin, Majelis Pelayanan Kesehatan Umum (MPKU) PW Muhammadiyah Kalimantan Selatan serta dibantu tenaga pendukung dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. “Secara keseluruhan tim medis yang berpartisipasi berjumlah 40 orang. Terima kasih atas partisipasi dan kerjasama yang diberikan,” ungkap Andri Wibowo selaku perwakilan Lazismu Banjarbaru.

Program Khitanan Barokah 1439 H khusus Dhuafa itu terlaksana atas kerjasama YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah dan Lazismu Banjarbaru. Kolaborasi kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya. Selain itu, ada beberapa kolaborasi program seperti Beasiswa Cahaya Pintar dan Save Our School yang menjadi fokus kedua lembaga zakat tersebut. Adapun anggaran untuk kegiatan ini berasal dari zakat profesi pegawai PT PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah.

“Terima kasih atas kepercayaan YBM PLN selama ini kepada kami. Semoga sinergi ini terus berlanjut dan berbuah manfaat yang makin besar,” pungkas Andri.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Siaga Bencana, Relawan Sahabat Kalsel Adakan Kelas Dapur Umum

Beberapa pekan lalu, Sahabat Kalsel kembali mengadakan kelas relawan. 10 orang relawan hadir bersama para warga sekitar. Kelas kali ini bertemakan dapur umum untuk bencana alam. Para relawan belajar mengenai kandungan gizi yang terdapat di dalam makanan serta memasak bersama para ibu penduduk sekitar desa. Mereka dilibatkan mengingat di dalam dapur umum yang lebih berperan aktif adalah warga sekitar terutama para ibu.

Kelas relawan yang berlangsung berbeda dari biasanya. Suasana pedesaan dengan pemandangan alam memanjakan siapapun yang datang. Bertempat di Kampung Purun para relawan dan warga setempat belajar mengenai kualitas makanan serta gizi yang seimbang.

Masalah gizi memang penting bagi anak anak. Pada masa pertumbuhan anak perlu asupan nutrisi dan gizi yang terpenuhi. Oleh karena itu, wajib menghidangkan makanan yang tak hanya mengenyangkan namun juga menyehatkan.

Pemaparan materi kali ini dibawakan oleh Nadia Susiyana, seorang mahasiswi Politeknik Kesehatan Banjarmasin. “Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas gizi yang terkandung dalam makanan adalah cara memasaknya” ungkap gadis manis berkacamata itu. Nadia juga memberikan tips bagaimana memadu padankan makanan yang sesuai dengan kebutuhan kita.

Setelah pemaparan mengenai kandungan gizi makanan, para relawan membuat simulasi dapur umum dalam bencana. Ketika musibah menimpa suatu daerah, otomatis ketersediaan pasokan makanan terhambat. Meski terkendala dalam konsumsi, masyarakat tetap harus menerima makanan untuk kelangsungan hidup mereka.

Dapur umum menjadi tempat utama sebagai pemasok makanan sementara ketika terjadi bencana. Relawan maupun warga setempat harus mampu dalam menyediakan bahan makanan yang mencukupi kebutuhan tubuh bagi masyarakat yang terdampak bencana. Agar kondisi masyarakat akibat bencana tetap terjaga kesehatannya, harus ditunjang dengan makanan yang tepat dan sehat.

“Luar biasa, ternyata makanan itu tidak harus mewah yang penting kandungan gizi yang terkandung di dalamnya”, ungkap Hayah salah satu relawan yang hadir di kelas itu. Usai belajar dan memasak, para relawan dan warga khususnya para ibu, makan siang dan berbincang bersama. Dengan pengetahuan kandungan gizi makanan ini, para relawan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penyediaan makanan yang sehat, aman dan bergizi dimanapun mereka berada.

Penulis : Wahyu Aji Saputra

Editor  : Devi Putri Listyasari

Byadmin

Anak Cerdas, Sehat Jasmani dan Rohani

Mengingat pentingnya pola asuh yang benar demi masa depan generasi muda, Radar Banjar Peduli (RBP) untuk ke sekian kalinya mengadakan kegiatan parenting desa. Kali ini di laksanakan di TK Kenanga pada Sabtu (5/5) lalu. Kegiatan ini berisikan penyuluhan bertemakan “Pengasuhan Positif” dengan melibatkan pemateri dari Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kota Banjarbaru yaitu Neni Nooryatini SPd. Kegiatan ini dihadiri oleh 35 orang tua murid TK Kenanga, baik ayah ataupun ibu.

“Alhamdulillah, Jalannya pemberian materi diterima dengan baik oleh orang tua murid, tanggapan masyarakat juga positif,” ucap Neni Nooryatini SPd dengan lega sesaat setelah acara selesai. Ibu dari dua anak ini juga menambahkan bahwa tujuan dari pemberian materi ini adalah agar masyarakat mengetahui bagaimana cara pola pengasuhan yang baik, mengembangkan kecerdasan anak  sehingga bisa sehat jasmani dan rohani, dan memberikan contoh yang baik dalam bersikap atau berperilaku sehingga menjadi pembiasaan dan menjadi karakter.

Budi Lestari SPd,  selaku Kepala Sekolah TK Kenanga, menyambut dengan antusias terhadap program parenting desa yang diselenggarakan oleh RBP,  “Acara ini bagus, tertib dan sesuai harapan, kami sangat antusias dan berterimakasih karena adanya acara ini. Kapan lagi kan ada acara seperti ini. Para orang tua juga jadi dapat ilmu,” ujarnya. Dalam program parenting desa ini selain diberikan materi, para orang tua juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi seputar permasalahan-permasalahan yang dihadapi para orang tua dalam mengasuh anak-anak mereka. Terakhir, pihak penyelenggara membagikan form untuk di isi oleh orang tua sebagai bahan evaluasi yang akan dibahas untuk kegiatan selanjutnya. Kegiatan berlangsung sekitar satu jam setengah, mulai dari pukul 10.30 pagi. Kegiatan ini berjalan lancar dan tidak cuman orang tua yang mendapatkan oleh-oleh berupa ilmu untuk dibawa pulang, anak-anak merekapun mendapatkan oleh-oleh berupa nutrisi satu kotak susu bubuk yang dibagikan secara gratis.

Melalui kegiatan parenting desa ini, harapanya dapat mendukung terciptanya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani, serta masyarakat yang memiliki pola hidup bersih, jujur dan karakter positif lainnya. Sehingga akan tercipta masyarakat dengan wawasan luas serta memahami dengan utuh pentingnya pendidikan dimasa depan. “Dengan adanya kegiatan ini kami memberikan kesempatan pada para orang tua untuk belajar memahami anak di pola asuh yang seharusnya. Nantinya diharapkan masyarakat bisa meimplementasikan pembiasaan baik tersebut, kapanpun dan dimanapun.” ujar Devi, selaku Koordinator dari Radar Banjar Peduli. “Kami juga mengucapkan terimakasih kepada Bank Kalsel Banjarbaru dan Himpaudi Banjarbaru, atas dukungannya sehingga kegiatan ini bisa terus berlanjut.” Tambahnya.

Penulis : Najmita Ismiawan

Editor  : Nurhayah/Dr Diauddin

Byadmin

BANJIR PELAYANAN DAN KONSULTASI KESEHATAN GRATIS

(Anisa Fitri, Banjarbaru)

Sejak dibuka pada hari Minggu (22/4) lalu, even tahunan Banjarbaru Fair sudah langsung ramai pengunjung walaupun rintik hujan mewarnai langit sore itu. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka hari jadi Kota Banjarbaru ke-19 tersebut berlangsung di Lapangan Murjani Banjarbaru selama satu minggu penuh.

Poltekkes Kemenkes Banjarmasin sebagai salah satu kampus kesehatan terbesar di Kalimantan Selatan menggandeng RBP turut andil dengan menyediakan berbagai pelayanan dan konsultasi kesehatan secara gratis. “Kami sudah sering ikut memeriahkan Banjarbaru Fair sejak empat tahun yang lalu,” tutur Dr Waljuni Astur Rahman SKM MPd selaku Kepala Unit Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Banjarmasin.

“Sesuai dengan salah satu misi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin, yaitu memberikan pengabdian kepada masyarakat. Kami berharap pelayanan yang kami berikan ini menjadi salah satu perwujudan dari misi tersebut,” kata lelaki yang biasa disapa Awal itu dengan wajah tersenyum.

Terlihat respon positif dari masyarakat, bahkan pada malam terakhir acara tersebut stand pelayanan masih penuh. “Ada sekitar 500 obat yang habis untuk diberikan kepada masyarakat langsung,” tutur Awal.

Hery yang merupakan salah satu pengunjung pada hari terakhir mengaku terbantu dengan layanan kesehatan tersebut. “Hasilnya cukup membantu untuk mengetahui kondisi kesehatan saya, mulai gigi, gizi, sampai tekanan darah. Tentunya saya juga merasa senang, karena pelayanan yang diberikan secara gratis. Sangat bagus dan berjiwa sosial. Semoga setiap tahun terus diadakan agar membantu masyarakat, terutama masyarakat yang kurang mampu” pungkasnya.

Pelayanan dan konsultasi kesehatan yang diberikan berhubungan langsung dengan semua jurusan yang ada di kampus tersebut. Mulai dari jurusan keperawatan yang memberikan pelayanan tensi darah, kebidanan berupa tensi darah dan konsultasi kehamilan, ahli gizi berupa pengukuran tinggi dan berat badan serta konsultasi gizi, keperawatan gigi berupa pembersihan karang gigi juga konsultasi keluhan gigi, gusi, dan mulut, kesehatan lingkungan berupa konsultasi lingkungan dan pembagian ABAT (insektisida pembasmi larva nyamuk di kamar mandi), serta analis kesehatan yang merupakan inti dari pelayanan yang diberikan berupa pemeriksaan kolesterol dan gula darah.

“Kami secara bergiliran bertugas melayani masyarakat. Meski banyak sekali layanan yang kami berikan, kami tetap menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter karena tugas kami lebih diperuntukkan untuk deteksi dini penyakit,” ujar salah satu mahasiswa Poltekkes Tommy Juliannor.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Berhasil Kumpulkan Rp 6,3 Juta Dalam Tiga Jam

Jumat (27/4) kawasan Minggu Raya Banjarbaru terlihat lebih ramai dari biasanya. Kerumunan orang memadati area panggung bundar yang kerap menjadi pusat kegiatan budaya di Kota Banjarbaru. Terlihat juga dua pemuda yang asyik menggoreskan kuas di atas kanvas masing-masing. Di sekitarnya telah terpampang lukisan-lukisan bertema galaksi dan wajah. Mereka adalah Syifa si pelukis galaksi dan Mika August si pelukis wajah. Malam itu memang menjadi puncak acara penggalangan dana yang diadakan oleh Radar Banjar Peduli (RBP) untuk membantu seorang anak duafa bernama Ilham. Balita berusia dua tahun yang menderita kelainan jantung.

Puncak acara dikemas dalam sebuah kegiatan pentas seni (pensi) untuk amal yang dimeriahkan oleh para relawan dari berbagai komunitas dan para pencinta seni daerah seperti, Pentas Musik Ennos Karli, Nurhikmah (Dongeng Anak), Tari klasik Sanggar Kamilau Intan, Roman Akbar Magician (pesulap), Poetry in action (puisi), Musik akustik art pedia, demo lukis wajah, NSA Project Movement, dan banyak lagi yang lainnya.

Wakil Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan yang hadir mengikuti acara tersebut mengapresiasi aksi para kaum muda itu. “Kegiatan seperti ini bisa disebut dengan amal jariyah yang memiliki banyak manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Dengan bersedekah pada hakikatnya seseorang menyadari kalau dia bukanlah pemilik sesuatu, namun hanya penerima titipan Allah SWT yang mesti dia bagikan kepada orang lain yang merupakan hak mereka,” ujar Jaya yang juga merupakan pendiri dan pembina RBP. Hadir juga dalam kegiatan itu Pembina RBP Ogi Fajar Nuzuli dan Direktur RBP dr Diauddin MKes.

Ketua pelaksana Saleh Alkatiri mengatakan bahwa kegiatan pensi amal yang kedua ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa para pemuda pemudi Kalsel juga peduli terhadap bencana sosial seperti anak-anak duafa penderita kelainan jantung. “Selain itu, bisa mengembangkan bakat seni dan menjalin silaturahmi para komunitas seni, lembaga kemanusiaan,  pemerintah daerah,  kepemudaan dan para pihak lainnya,” ujarnya. Saleh berharap pentas seni untuk amal dapat terus berkelanjutan dan lebih baik lagi dalam menebar kebaikan pada sesama.

Hal senada juga disampaikan oleh Roni Arifin SPd selaku ketua PPMI (Purna Prakarya Muda Indonesia) Kalsel. “Kegiatan ini harus terus dilaksanakan supaya pemuda pemudi Kalsel terus semangat dalam berbuat kebaikan khususnya seperti kegiatan penggalangan dana untuk mereka yang membutuhkan,” ucap Roni.

Rupanya apa yang dilakukan RBP dan para komunitas seni itu mengundang empati dari undangan dan masyarakat yang hadir. Buktinya lima buah kaos dari NSA Project Movement, yang dijual di bazar amal habis terjual. “Semua hasil penjualan seratus persen diserahkan ke RBP untuk Ilham,” ujar Novyandi Saputra selaku owner NSA Project Movement. “Menjadi kebahagiaan tersendiri bisa berpartisipasi dan ikut membantu dalam kegiatan ini,” imbuhnya.

Selama hampir tiga jam menggelar pentas seni untuk amal, panitia berhasil menggalang dana sebesar Rp 6,3 Juta. Sebuah upaya yang luar biasa untuk para pemuda. Generasi hebat harapan banua.

Penulis :Elma Afriliani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

23 Siswa Sekolah Islam di Kota Banjarbaru, terima beasiswa Cahaya Pintar

Oleh : Ginanjar Sutrisno (Lazismu Banjarbaru)

Siang yang cukup cerah, (12/04) Syifana sangat gembira dengan kedatangan Tim Yayasan Baitul maal (YBM) PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah dan Lazismu Banjarbaru. Siswa kelas 6 SD Alam Muhammadiyah Landasan Ulin, yang selalu mendapat juara kelas itu menjadi salah satu penerima manfaat dari program Beasiswa Cahaya Pintar PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah dari 23 siswa/siswi lainnya dari berbagai sekolah Islam berstatus swasta di Kota Banjarbaru.

“Saya sangat senang dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan melalui beasiswa ini”, ujarnya penuh suka cita. Hal yang sama juga disampaikan oleh Muhammad Ilmi, “Saya sangat terbantu adanya beasiswa ini, karena bisa meringankan beban keluarga, karena ibu saya bekerja sebagai penjahit saja,” ucap siswa kelas 6 MI Nurul Hikmah Palam dengan polosnya.

“Semoga program ini terus berlanjut dan semakin banyak siswa/siswi tidak mampu yang dapat terbantu”, ujar H Kastalani, kepala MI Miftahul Khairiyah.

Program ini merupakan pelaksanaan yang kedua kalinya di tahun ajaran 2017/2018, anggaran yang disiapkan YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah untuk program tersebut berasal dari zakat profesi pegawai PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah.

“Dalam program ini, kedua kalinya kami menggandeng Lazismu Banjarbaru sebagai pelaksananya,” ujar Ahmad Sudani, amil YBM PLN UIP Kalimantan Bagian Tengah. Lazismu Banjarbaru sendiri merupakan salah satu mitra dari Radar Banjar Peduli yang berpengalaman dalam menjalin sinergi dengan berbagai pihak.

Rasa bangga disampaikan oleh Divisi Pengembangan Program dan Fundraising Lazismu Banjarbaru, ” Kami sangat berterima kasih dan bangga telah dipercaya kembali untuk berkolaborasi dengan program tersebut,” ucap Ginanjar Sutrisno, amil yang memulai karir dari relawan.

Adapun sekolah yang menjadi penerima manfaat adalah SD Alam Muhammadiyah Landasan Ulin, MI Darul Islamiyah Banjarbaru Selatan, MI Miftahul Khairiyah Cempaka, MI Nurul Hikmah Palam, MTs Ihya Ulumuddin Banjarbaru Selatan, MTs Miftahul Khairiyah Cempaka, MTs Miftahul Aula Bangkal, MTs Nurul Hikmah Cempaka.

Editor :Dr Diauddin

Byadmin

Membuka Pandangan, Pembelajaran yang Mencerahkan

Oleh Wahyu Aji Saputra (Peserta Program Relawan Menulis Angkatan 3)

Pengalaman Mengikuti Program Relawan Menulis RBP

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia” – Seno Gumira Ajidarma.

Tiga bulan sudah Saya lalui dan menjalani masa penuh pengalaman. Dari awal Januari hingga akhir Maret. Bukannya hidup Saya datar tanpa pengalaman. Namun kali ini lebih kepada pengalaman sebagai jurnalis yang mengesankan.

Bermula dari sebuah pesan pengumuman di grup relawan Sahabat Kalsel. Pengumuman itu menghentak adrenalin saya. Ada pembukaan angkatan baru relawan menulis dari Radar Banjar Peduli (RBP). Sontak saya langsung berniat untuk mengajukan diri.

Awalnya saya sempat ragu dan berpikir ulang untuk ikut program tersebut. Beberapa malam saya habiskan untuk memikirkan konsekuensinya. Apalagi saya masih berstatus mahasiswa yang masih dipadati jadwal kuliah sana sini. Meski begitu saya tetap berpikir dampak positif yang akan Saya dapatkan bila akhirnya mengikuti program itu. Saya tentu akan mendapatkan pengalaman sebagai jurnalis dan tantangan sebagai penulis yang dikejar deadline.

Akhirnya Saya bulatkan tekad untuk mengikuti program tersebut. Singkat cerita Saya kirim CV ke email RBP. Beberapa hari Saya tunggu konfirmasi. Selama itu juga Saya merasakan ketegangan layaknya menunggu pengumuman hasil kelulusan ujian. Tetapi benar kata pepatah arab Man Jadda Wa Jadda yang artinya ‘siapa yang bersungguh sungguh, maka akan berhasil begitu kiranya’. Sebuah pesan masuk dari whatsapp pribadi yang mengatakan bahwa Saya ikut dalam program relawan menulis. Senyum kecil terpatri dibibir Saya, sedang di dalam diri senang luar biasa.

Tugas pertama Saya sebagai jurnalis adalah meliput seorang inspiratif yang hobi mendongeng untuk anak. Namanya Bunda Enik, sapaan akrab beliau. Sesuatu yang dimulai pertama kali memang tak mudah, itu juga yang Saya rasakan ketika mewawancarai beliau. Tak ada persiapan pertanyaan yang akhirnya membuat Saya terasa kaku ketika berbicara kepada beliau. Seolah mendatangi orang tua dari pasangan yang ingin dilamar, Saya gagap berbicara dan tak jarang terjadi keheningan karena tidak ada bahan. Dari situ Saya belajar untuk lebih memperhatikan kesiapan. Terutama bagian teknis seperti informasi tentang narasumber hingga apa saja pertanyaan yang penting untuk diajukan.

Satu minggu satu tugas liputan. Pada akhirnya Saya mulai terbiasa menulis berita straight news. Dan terbiasa dengan deadline yang mesti disetor tiap Jumat. Ternyata ujian kehidupan jurnalis tak sampai situ. Deadline yang sudah bersahabat dengan Saya, berubah menikam menyeramkan ketika meliput kegiatan di kantor Radar Banjarmasin. Saya diharuskan menyelesaikan beritanya hari itu juga. Pagi liputan, sore harus selesai tulisannya. Meski sudah banyak pengalaman mengerjakan tugas kuliah yang rentang waktu pengumpulannya hanya tersisa tiga jam, tetapi ini sangat berbeda. Kredibilitas Saya juga dipertaruhkan. Namun Saya sikapi dengan sabar dan Alhamdulillah tulisan itu selesai tepat waktu.

Masih teringat dibenak saya petuah Bapak Toto Fachrudin, Pemred Radar Banjarmasin yang mangatakan, “Kalau ada peristiwa langsung selesaikan beritanya, karena kita tidak tahu kapan akan ada lagi peristwa yang terjadi di depan”. Ternyata dunia jurnalis memang seperti itu, perlu kesigapan dan kesiapan untuk melaluinya.

Saya juga merasa beruntung dapat tugas liputan ke luar Kota Banjarbaru. Menyambangi wilayah pegunungan hingga perumahan di atas air. Ternyata dunia jurnalis juga menawarkan pandangan dan pemandangan baru. Membaur dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan juga menjadi sisi lain yang positif dari seorang jurnalis. Tak hanya menggali kehidupan seseorang, kadang kita juga merasakan apa yang dialaminya dengan berbincang bersamanya. Menulis tentang kemanusiaan terkadang menjadi pembelajaran bagi diri sendiri untuk menjadi manusia dengan makna sebenarnya. Ketika menulis tentang seseorang yang hebat dan inspiratif, terpikir bagaimana peran Saya untuk menyebarkannya dalam tulisan. Hingga akhirnya si pembaca berkata, “Aku ingin seperti ini juga”.

Selama tiga bulan tadi banyak pengalaman yang didapatkan. Terutama bagaimana mengembangkan tulisan yang bisa ‘dirasakan’ oleh pembaca tak hanya sekedar tulisan semata. Menulis bisa dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja, tetapi esensi dari tulisan tersebut jauh lebih penting untuk dihadirkan.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Dua Pemuda Kreatif Ikut Galang Dana Melalui Pensi Amal

Oleh : Eggy Akbar Pradana, Banjarbaru

“Mari lukis kebahagiaan duafa lewat wajahmu,” begitu bunyi kampanye kemanusiaan yang diserukan oleh Radar Banjar Peduli (RBP) dalam beberapa pekan terakhir ini. Bukan tanpa sebab, ajakan berbagi kepedulian itu ternyata didukung oleh dua pelukis muda yaitu Antung Mika August (24 tahun) dan Nur Syifa (21 tahun). Keduanya turut melakukan penggalangan dana untuk anak-anak penderita kelainan jantung melalui penjualan lukisan sejak 1 April hingga 26 April 2018 nanti.

Antung Mika August atau kerap disapa Mika itu mengaku senang dilibatkan dalam kegiatan amal. “Berbagi itu merupakan hal yang indah dan tidak terbatas pada materi, kita bisa membantu dengan skill yang kita miliki,” ucapnya.

“Saya bisanya melukis, ya Saya bantu dengan kemampuan ini,” tutur Mika yang sejak duduk dibangku TK sudah senang sekali melukis terutama melukis wajah. “Sebelumnya saya sudah sering ikut acara-acara amal namun karena banyak kesibukkan jadi agak berkurang. Kebetulan kemarin diajak sama Shaleh yang menjadi ketua pelaksana dalam pentas amal jadi bisa kembali terlibat,” imbuhnya.

Serupa, Nur Syifa atau kerap disapa Syifa mengaku diajak juga dengan teman dekatnya, Hikmah, untuk berbagi kebaikan. “Ini pengalaman pertama ikut acara amal terkait lukisan, biasanya saya sebatas ikut berpartipasi dalam penggalangan dana langsung,” kata Syifa.

Jika Mika senang melukis wajah, mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat itu senang melukis galaksi (space). “Kelas 3 SMK (2015) Saya mulai tertarik melukis galaksi. Tepatnya setelah ikut orang tua ke Pelaihari, kebetulan pulangnya malam menggunakan mobil pick up. Saya rebahan di belakang, nah saya melihat galaksi dilangit malam kala itu. Sejak saat itu saya jatuh cinta dengan galaksi” ungkapnya.

“Saya ingin berbagi keindahan galaksi yang telah membuat saya jatuh cinta, kepada orang-orang, terutama untuk anak-anak kelainan jantung agar lebih semangat dalam menjalani hidup dan bisa menikmati keindahan lautan galaksi,” harap Syifa penuh haru.

Mika dan Syifa adalah contoh pemuda harapan bangsa. Melalui potensinya dalam hal melukis, mereka berupaya melukiskan kebahagiaan di wajah anak-anak yang kurang beruntung. Direktur RBP Dokter Diauddin mengapresiasi kedua sosok pemuda itu. “Luar biasa. Kiprah yang hebat sekali, terlebih mereka masih sangat muda. Kerelawanan dan kepedulian adalah dua hal yang harusnya menjadi karakter dalam diri kita semua,” ucap Dokter Diauddin.

Rencananya, hasil penggalangan dana dari lukisan akan diserahkan pada Jumat (27/4) nanti dalam kegiatan Pentas Seni untuk Amal (Pensi Amal). Acara berlangsung di Panggung Bundar Mingguraya dari pukul 20.00 wita sampai selesai.

Kegiatan Pensi Amal sendiri merupakan kerjasama RBP dengan berbagai lembaga dan komunitas, yaitu Dewan Kesenian Daerah Kota Banjarbaru, Sahabat Kalsel, Sanggar Kamilau Intan, Purna Prakarya Muda Indonesia (PPMI), dan Nanang Galuh Kota Banjarbaru. Shaleh, ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa Pensi Amal kali ini merupakan yang kali kedua dilaksanakan. Sebelumnya telah dilaksanakan di bulan Januari.

“Kita perlu menumbuhkan rasa empati di kalangan pemuda karena kepedulian adalah solusi bagi permasalahan kemanusiaan,” ujar Shaleh. Selain itu, menurutnya, kegiatan Pensi Amal bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar komunitas seni, lembaga kemanusiaan, kepemudaan, dan para stake holder. “Dengan konsep pertunjukan seni, kami juga ingin mengembangkan bakat seni di kalangan generasi muda Kalimantan Selatan,” pungkasnya.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Serunya PPGD 2018, Tambah Skill dan Teman

Mitra Peduli – Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

“Asyik! Rame banar latihannya. Bisa belajar tekniknya satu-satu,” begitu tutur Irwan Nasrudin, siswa kelas 10 IPS SMA Karang Intan kepada penulis di sela kegiatan Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD) yang digelar Poltekkes Kemenkes Banjarmasin, Selasa (10/4) dan Rabu (11/4) tadi. Selain kegiatan yang seru, Irwan juga mengaku mendapatkan banyak teman baru. Hal senada juga diserukan dua rekannya, Arya dan Aldi. Ketiganya terlihat bergembira bersama puluhan peserta lainnya.

PPGD 2018 itu juga diikuti oleh siswa-siswi dari SMAN 1 Martapura, SMAN 2 Martapura, SMKN 1 Martapura, MA Hidayatullah Martapura, SMAN 1 Banjarbaru, dan SMK Borneo Lestari.

Kepala Unit Pengabmas Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan itu bertujuan untuk melahirkan relawan-relawan yang mampu menangani kondisi gawat darurat. “Ini nantinya diharapkan bisa menekan angka kematian akibat kecelakaan,” ujar lelaki yang akrab disapa Awal itu.

Hari pertama, para peserta diberikan pemahaman tentang kondisi gawat darurat. Sedangkan hari kedua mereka diajari langsung praktek bagaimana membalut luka, mengangkat korban, hingga melakukan penyelamatan pada kasus orang pingsan atau tenggelam. Bertindak sebagai narasumber yaitu Dosen Keperawatan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Nasrullah dan Staf IGD RS Idaman Banjarbaru Hadri.

Di awal pemaparan, Nasrullah menyampaikan kritik sosial tentang fenomena masyarakat yang jika terjadi kecelakaan malah mengambil foto, bukannya menolong. “Ini jadi perhatian saya. Karena banyak orang sembarang ambil foto, sembarang juga menyebarkannya. Hal ini melanggar etika,” ucap Nasrullah. “Jika terjadi kecelakaan maka manusianya dulu yang ditolong,” imbuhnya.

“Kegiatan seperti ini bagus sekali, bisa membekali siswa dengan kemampuan teknik BHD (bantuan hidup dasar) dimana di luar negeri sudah masuk kurikulum sekolah. Semoga lebih banyak lagi instansi kesehatan yang mau memberikan pengabdian seperti ini,” ucap Hadri.

PPGD 2018 untuk siswa adalah yang perdana dilaksanakan oleh Poltekkes Kemenkes Banjarmasin dan diberikan secara gratis sebagai perwujudan tridarma perguruan tinggi. Hal ini disampaikan oleh Pudir I Bidang Akademik Abdul Khair SKM MSi. “Kami sebagai lembaga pendidikan professional tentu berkewajiban memberikan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya dengan membuat pelatihan-pelatihan seperti ini,” ungkap Abdul Khair. “Semoga para peserta nanti jika ada kejadian gawat darurat bisa membantu dalam pertolongan pertama,” imbuhnya,

Abdul Khair juga mengaku senang melihat antusias peserta. “Terima kasih atas partisipasi para peserta yang selalu semangat hingga akhir kegiatan, ini kebanggaan bagi kami,” pungkasnya.

Ke depan, Abdul Khair menyampaikan bahwa PPGD akan semakin dikembangkan kepesertaannya, bahkan mungkin hingga tingkat provinsi.

Penulis/editor: Retno Sulisetiyani