Berita

Byadmin

Outbond Bersama Keluarga Siswa SMART Ekselensia Indonesia

Pagi itu suasana di Danau Seran, salah satu objek wisata di Banjarbaru, tampak tak biasa. Riuh rendah tawa terdengar di pulau yang menjadi daya pikat danau tersebut. Betapa tidak? Puluhan anak dan orang tua terlihat sedang bermain berbagai permainan outbond. Ya, Kamis (12/1) kemarin RBP melaksanakan agenda rutin pertemuan atau silaturahmi antara RBP dengan keluarga siswa SMART Ekselensia Indonesia asal Kalsel yang sedang pulang kampung. Selain itu dua orang alumni, Farid dan Ade ada. Pengurus RBP yang hadir yaitu Wakil Ketua Saleh dan Bendahara Nurhayah.

“Tahun ini kegiatan dikemas berbeda dari tahun sebelumnya, jika biasanya di dalam ruangan kini di luar ruangan agar keakraban lebih terbangun,” ujar Nurhayah saat memberi sambutan. Nurhayah berharap jalinan kekeluargaan penerima beasiswa SMART EI bisa semakin erat. “Kita ini keluarga besar, jadi harus saling membantu satu sama lain. Yang senior bisa membimbing adik-adik juniornya,” tuturnya.

Nahdimah Laili selaku perwakilan orang tua mengucapkan terima kasih kepada RBP atas semua bantuan. “Kami bersyukur anak-anak kami bisa bersekolah gratis di Bogor. Semoga bisa menjadi generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa,” ucapnya.

Kegiatan outbond tersebut difasilitasi oleh Quantum Ispirasi yaitu lembaga training yang dimotori oleh Muhyidin, Ahmad Zaki, dan Trias Handojo. Berbagai permainan ringan yang mengasah otak dan keterampilan disajikan pada hari itu. “Anak-anak ini terlihat sekali berkarakter pemimpin, mampu memecahkan beberapa tantangan yang kami berikan,” kata Muhyidin.

SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah tingkat SMP-SMA bebas biaya, berakselerasi dan berasrama pertama di Indonesia. Sekolah ini di bawah Dompet Dhuafa Pendidikan yang bertujuan menjadi sekolah model untuk dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. “Dari Kalsel sudah ada 13 anak yang sekolah di sana dan 6 orang telah melanjutkan studi kuliah di berbagai Universitas Negeri,” ungkap Nurhayah. (en)

Byadmin

Peduli Tetangga, Peduli Sesama

Saat ini anak-anak dan dunia gadget seperti tak terpisahkan. Masih banyak orang tua tidak bijak dalam memberikan gadget kepada anak-anak sehingga generasi yang terlahir akhirnya tak terbiasa bergaul dengan orang lain. Individualis.

SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Rabbani melihat perlu adanya upaya konkrit untuk mengimbangi perkembangan zaman. Untuk itu dibuatlah sebuah program edukatif bertajuk “Peduli Tetangga”. Program ini bertujuan membangun kepedulian di kalangan anak didik dengan cara mengajak anak-anak menyisihkan uang jajan mereka. Donasi yang terkumpul kemudian dibelikan sembako. Lalu, anak-anak diajak langsung mengantarkan bantuan tersebut ke rumah duafa.

RBP sebagai lembaga sosial kemanusiaan sangat mengapresiasi program tersebut dan berterima kasih karena dipercaya menjadi salah satu mitra program. “Senang sekali ada sekolah yang punya program edukasi keratif begini, anak-anak langsung bisa merasakan kesulitan orang lain,” ujar Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani.

Jum’at (6/1) kemarin Retno turut mendampingi perwakilan anak-anak kelas 3A SDIT Rabbani mengunjungi rumah salah satu pemetik manfaat RBP yaitu Rahmat Faisal (15) yang tinggal bersama Salasiah (neneknya) di Kelurahan Guntung Manggis. Salasiah terlihat antusias dengan kedatangan 9 anak dan guru pendampingnya, Fadli Hasani. “Ayo silahkan masuk, maaf rumahnya sempit,” ucapnya menyambut rombongan. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.

“Terima kasih kami diperbolehkan berkunjung, ini anak-anak ingin bersilaturahmi dan sedikit berbagi untuk ibu dan Rahmat,” ucap Fadli Hasani seraya menyerahkan bingkisan sembako.

Salasiah yang sehari-hari berjualan bensin di Jalan Trikora tak bisa menahan haru. Meski tak banyak kata terucap, bulir air yang tertahan di sudut matanya cukup mengungkapkan betapa bersyukurnya Ia mendapatkan rezeki hari itu.

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan Sabran, kakek berusia 87 tahun yang tinggal di Landasan Ulin Selatan, Banjarbaru. Sehari sebelumnya, sebanyak 11 anak kelas 3A juga berkunjung ke rumah rumahnya. Sabran bersama istrinya adalah pasien homecare RBP sejak bulan Nopember 2016 lalu. “Saya terharu ada anak-anak kecil yang peduli dengan kami,” ucapnya kala itu.

Selain anak-anak dan guru pendamping, dalam kegiatan itu juga turut serta perwakilan wali murid, salah satunya Muhyidin. Ia mengaku sangat terbantu dengan bantuan RBP. “Alhamdulillah ada RBP yang membantu kami menyampaikan amanah tepat sasaran,” ujarnya.

Sekecil apapun, kebaikan memang harus ditularkan. Semoga makin banyak anak-anak yang mau peduli dengan menyisihkan uang jajannya meskipun sedikit karena sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. (en)

Byadmin

RBP Salurkan Pinjaman Bergulir PKL

Selasa (3/1) kemarin RBP menyalurkan pinjaman bergulir kepada 10 PKL (Pedagang Kaki Lima) di Banjarbaru. Kesepuluh PKL tersebut menjadi penerima manfaat RBP setelah melalui proses seleksi. “Ada sebanyak 25 orang yang kami seleksi, kemudian setelah survei dan verifikasi terpilih 10 orang yang diprioritaskan tahun ini jadi penerima manfaat program pinjaman bergulir RBP,” terang Manajer Keuangan RBP Nurhayah.

Para penerima manfaat itu adalah Bahri, Muklis, Wijianto, Alex, Sarimah Hidayati, Samsul M, Subiyanto, Partini, Idrus, dan Bahran. Mereka adalah PKL yang biasa berjualan di Lapangan Murjani Banjarbaru. “PKL menjadi sasaran kami karena golongan pedagang kecil sangat sulit mengakses modal baik dari pemerintah maupun perusahaan,” terang Nurhayah.

Peluang permodalan di Indonesia sebenarnya cukup besar, namun masih sulit dijangkau oleh pedagang kecil yang tidak memiliki jaminan apapun. “Rumah saja masih ngontrak, sepeda motor juga banyak yang kredit. Lalu apa yang bisa dijaminkan, salah-salah banyak yang terjebak rentenir. Ini kan nambah masalah namanya,” ungkapnya lagi.

Dalam kesempatan itu, hadir pula founder BMT Ahsanul Amala Sayid Ali Al Habsy memberikan nasehat bagi para penerima manfaat. “Semua harus bersyukur karena masih ada yang peduli. Dengan tambahan modal ini harus lebih semangat, bangun kreatifitas agar bisa bersaing dengan kafe-kafe yang mulai marak,”pesan Sayid Ali Al Habsy di hadapan para penerima manfaat.

Menurut Sayid Ali Al Habsy, dalam situasi ekonomi seperti ini pelaku usaha harus mengurangi pengeluaran yang sifatnya konsumtif. “Kredit barang yang tidak penting bisa dihentikan saja, jual sebagai asset lalu buka peluang usaha baru, bisa berupa jasa,” ujarnya memberi tips.

Ke depan sepuluh penerima manfaat tersebut akan didampingi dalam pengelolaan keuangan bersama Sayid Ali Al Habsy. “Semoga ini menjadi pintu untuk kerjasama yang lebih baik ke depan,” harap Sayid Ali dan diaminkan para pengelola RBP yang hadir. (en)