Berita

Byadmin

Bangun Sikap Peduli

(Dari kegiatan Workshop dan Pelatihan Siaga Bencana untuk Kampus di Prodi Magister Keguruan IPA PPS ULM)

BANJARMASIN – Prodi Pendidikan IPA Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menggelar workshop. Gelaran bertajuk masyarakat kampus peduli bencana itu digelar kemarin (20/2) dan hari ini (21/2) di Gedung Pasca Sarjana ULM.Workshop bekerjasama dengan Radar Banjar Peduli (Sayap sosial Radar Banjarmasin). Diisi oleh tiga pemateri. Yakni Cipto Sugiarto dari Masyarakat Relawan Indonesia, Loli Hidayat dari BPBD Kota Banjarmasin serta Hasibah Eka Rosnelly dari perwakilan Kemensos RI.

Ada 25 peserta yang mengikuti gelaran tersebut. Terdiri 20 mahasiswa S1 jurusan Pendidikan IPA dan lima dari S2. Workshop juga dilengkapi dengan pelatihan siap siaga bencana. Kepala Prodi Magister Pendidikan IPA Pasca Sarjana ULM, Yudha Irhasyuarna menyebut jenjang pendidikan tak bisa jadi tolak ukur tingkat kepedulian terhadap sesama. Itulah alasan digelar workshop tersebut.

“Ya di sekolah atau di kampus tidak ada pelajaran peduli. Kami ingin membangkitkan peduli mahasiswa kami. Agar ilmu yang dimiliki bermanfaat,” tuturnya. Dari pengamatannya, saat ini kepedulian cenderung turun. Semakin tinggi ilmu seseorang, kepekaan justru makin memudar. “Ini yang ingin kami bangun lagi,” lanjutnya. Direktur Program Pasca Sarjana ULM, Udiansyah, menambahkan, pelatihan tersebut juga sebagai sarana menambah kompetensi bagi mahasiswa.  “Suana kepedulian tersebut merupakan atmosfer di lingkungan akademik.

Kami ingin karakter peduli tersebut ada. Apalagi di zaman sekarang, perlu adanya skil dan kompetensi,” bebernya. Salah seorang peserta bernama Selvia mengaku mendapat tambahan ilmu. Dari workshop dan pelatihan siaga bencana yang diikutinya itu.

“Pelatihan ini membuat kepekaan terhadap diri kami. Apalagi saya aktif dalam pramuka, sikap peduli itu penting,” ucap mahasiswi S1 jurusan Pendidikan IPA itu. Sementara itu, Direktur Radar Banjar Peduli, Diauddin berpesan agar relawan nantinya bekerja ikhlas. Tanpa mengharapkan imbalan. “Jadi relawan itu berkah,” pungkasnya.(eka/at/nur)

Sumber : Radar Banjarmasin edisi Rabu 21 Februari 2018 halaman 14

Byadmin

Di Kampung Per, Geni Lahap Sekali Makan Nasi

Kalau berjalan lebih cepat, suara tapak kaki jadi makin nyaring di kampung ini, Kampung Per. Kaki bocah-bocah Asmat yang berlarian mengeluarkan bunyi gemeretak. Seluruh jalan utama masih berupa papan-papan kayu yang dibikin dan disusun sekitar beberapa dekade lalu. Papan kayu dibuat menjadi jalan layang yang terpacak di atas tanah rawa berlumpur, tanah yang menjadi ciri khas Kabupaten Asmat.

Berjalan di beberapa ruas gang kampung, papan kayu sudah mulai reyot, retak, bahkan patah, menghilang, dan bolong. Papan bakal berbunyi nyaring kalau ditapaki, apalagi sembari diinjak oleh kaki-kaki anak Kampung Per yang berlarian.

Walau Kampung Per masih termasuk bagian dari Distrik Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, lokasinya terpisah cukup jauh. Sekira dua jam perjalanan laut dengan longboat sarat muatan. Kalau cuaca buruk, atau laut surut sudah bisa dipastikan akses ke Kampung Per tak bakal bisa ditempuh.

Tim ACT (Aksi Cepat Tanggap, lembaga mitra nasional RBP), sempat singgah sejenak di Kampung Per, Ahad (11/2) lalu. Menapaki tiap-tiap ruas jalan papan, menyapa bocah-bocah Kampung Per. Di satu sudut kampung, di depan rumah, seorang bocah kecil sedang lahap memegang sendok di depan piring hijau. Di atas piring hanya ada nasi putih, tanpa lauk, tanpa rasa.

“Namanya Geni Siso, umurnya 4 tahun. Anak ini kalau ada nasi pasti maunya hanya makan nasi saja. Tidak pakai lauk. Geni suka sekali nasi,” kata Laurensius, Paman Geni menyapa kami di depan rumah.

Paman Geni mengatakan, beras yang dimakan oleh keponakannya adalah beras yang baru saja dibagikan oleh ketua kampung di Rumah Bujang.

“Tadi siang, ada bantuan beras dari Agats 20 karung beras. Dibagikan langsung merata di Rumah Bujang. Mama Geni langsung menanak nasi ini untuk Geni makan,” kata si paman.

Rupanya betul tebakan kami, nasi putih yang sedang dimakan Geni adalah beras Kapal Kemanusiaan Papua yang memang baru saja dikirimkan untuk Kampung Per.

“Dari Agats, sebelum Tim ACT datang untuk singgah sejenak, satu kapal longboat sudah berjalan mengangkut 20 karung beras setara 500 kg untuk Kampung Per. Beras langsung dibagikan oleh Ketua Kampung di Rumah Bujang, rumah adat Asmat,” ujar Diding Fachruddin, Koordinator Tim ACT untuk distribusi bantuan beras Kapal Kemanusiaan Papua.

Setiap sendokan nasi yang dimakan Geni, betul-betul dinikmati oleh balita itu. Ia menyuap nasi hangat itu dengan lahap, tak peduli dengan kondisi tubuh mungilnya yang tidak berbusana. Kata pamannya, Geni memang suka tidak pakai pakaian. Geni juga lebih suka mandi di sungai lumpur. Mama Geni setiap sore selalu ke sungai untuk mencari ikan, sementara sang Ayah sudah tiada sejak Geni masih bayi.

“Baru seminggu lalu saya lari ke puskesmas bawa Geni. Badannya panas tinggi. Kata suster di Puskesmas, Geni kena Malaria,” ungkap Laurensius.

Sejak akhir Januari kemarin, krisis kesehatan berupa gizi buruk dan malaria juga merebak di Kampung Per. Bahkan, angka malaria melejit. Jumlah pasien anak positif malaria sampai puluhan hanya dalam dua pekan terakhir.

“Dua minggu ini ini kami tidak bisa tidur. Sepanjang malam, jam 1 dini hari, jam 4 subuh, jam berapapun di malam hari ada saja warga bawa anaknya panas tinggi ke puskesmas. Semua kena malaria,” cerita Hendrikus Hermin, perawat di Puskesmas Pembantu Kampung Per, Distrik Agats.

Hendrikus mencatat, sejak tanggal 27 Januari lalu tak kurang 36 anak di Kampung Per positif terkena malaria.

“Bahkan, seorang perawat perempuan kawan saya di Puskesmas Kampung Per ini sedang terbaring lemas, juga positif kena malaria. Selain itu ada 2 anak lain kena gizi buruk, dan puluhan anak-anak lain masuk kategori gizi kurang,” kata Hendrikus.

Dua pekan terakhir, malaria memang menjadi teror di Kampung Per. Geni menjadi salah satu bocah yang terpapar malaria. “Tapi, Geni kini perlahan sudah sembuh. Geni sempat dirujuk sementara ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats. Beberapa hari perawatan intensif, sampai akhirnya Geni dibolehkan pulang,” ujar Hendrikus.

Di ujung sore, Tim ACT duduk di teras rumah papan, menemani Geni yang masih lahap menghabiskan sepiring nasi putih. Bocah Asmat dari Kampung Per itu memang masih sedikit menyembunyikan senyumnya. Tapi, setelah sembuh dari malaria, Geni sudah mulai membaik. Gizi dari sepiring nasi, meski tak lengkap, tetap membantu Geni untuk pulih.

“Alhamdulillah, setiap butir beras yang sudah kami mulai distribusikan ke tiap-tiap kampung di Asmat bisa sangat berguna di fase pemulihan. Perbaikan gizi dimulai bertahap. Insya Allah, beriringan dengan dikirimnya beras, akan ada juga distribusi biskuit dan air mineral sampai ke kampung-kampung lainnya di pedalaman Asmat,” papar Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap. (act/rbp)

Byadmin

Cukup Menjadi Manusia untuk Peduli terhadap Warga Ghouta

Sudah tujuh tahun lamanya konflik di Suriah terjadi. Sejak konflik pecah pada 2011 silam, sudah ribuan rakyat sipil yang tewas, ratusan orang yang alami cacat permanen akibat bom, dan ribuan orang terkatung-katung di pengungsian. Hingga kini, tragedi kemanusiaan ini belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Tidak ada yang menyangka bahwa konflik yang berawal dari aksi unjuk rasa secara damai pada Arab Spring 2011 tersebut berujung tragedi kemanusiaan selama bertahun-tahun. Konflik semakin pelik karena sudah banyak yang ikut terlibat di dalamnya. Tidak hanya vis to vis antara rezim dengan kaum oposisi saja, namun juga berbagai kepentingan luar yang turut berintevensi.

Eskalasi konflik kembali memuncak pada dua pekan kemarin. Ahad (18/2), serangan bombardir dari pesawat jet tempur rezim terus menerus menggempur Ghouta Timur. Mereka menyasar rumah warga, hingga fasilitas umum lainnya seperti masjid, rumah sakit, sekolah, dan bangunan lainnya.  Sekitar 500 jiwa tewas, lebih dari 120 di antaranya adalah anak-anak. Serangan ini dinilai berbagai kalangan sebagai kondisi perang terburuk di Suriah, bahkan melebihi Aleppo pada 2016 lalu.

Masyarakat dunia pun mengecam pembantaian warga sipil di Ghouta Timur. Namun kecaman tersebut belum bisa menghentikan tragedi kemanusiaan di Bumi Syam itu.

Menurut N.Imam Akbari selaku Senior Vice President ACT, lembaga perdamaian dunia seperti PBB bahkan masih belum mampu menghentikan serangan terhadap warga sipil di sana.

“PBB hanya menghimbau, belum ada tindakan yang bisa mengkondisikan konflik berdarah ini berhenti. Bayangkan lembaga sekaliber PBB yang anggotanya terdiri dari ratusan negara dan merupakan representasi dari masyarakat dunia, yang sebenarnya bisa melakukan banyak hal, belum bisa berbuat banyak,” ungkap Imam.

Menanggapi fakta tragedi kemanusiaan tersebut, Imam menambahkan, sudah saatnya umat manusia bersatu memberikan solusi nyata untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Suriah. Tidak hanya umat Islam, namun seluruh umat. Sebab menurutnya, cukup menjadi manusia, untuk mempunyai empati dan peduli  terhadap warga Ghouta Timur, Suriah.

“Melalui tim kemanusiaan kami, yaitu Tim SOS for Syria XIV, ACT siap menjembatani kepedulian dari berbagai elemen untuk membantu warga Suriah, korban konflik berdarah,” pungkasnya. (act-rbp)

Byadmin

Ajak RBP Wujudkan Wakaf Desa

Catatan dari Kunjungan ACT, Lembaga Mitra Radar Banjar Peduli

 

Perwakilan Lembaga kemanusiaan global Aksi Cepat Tanggap (ACT), Branch Network Management Director, Awal Purnama, Jumat (2/3) kemarin berkunjung ke Gedung Biru Radar Banjarmasin untuk bertemu dengan pengurus Radar Banjar Peduli (RBP).
——————————
Dalam kesempatan itu, Awal Purnama, menyampaikan keinginan mereka untuk menghadirkan wakaf desa sebagai solusi permasalahan bangsa. Pihaknya mengajak RBP untuk berkolaborasi. “Sebagai awalan, ACT tengah menggarap program wakaf desa di tanah Papua. Masalah di Papua bukan hanya persoalan gizi buruk, namun ada masalah pendidikan dan budaya yang perlu kita bantu,” ujarnya.
Konsep program wakaf desa, menurutnya akan menjadi program pemberdayaan ekonomi berbasis desa. “Secara bertahap, kami akan mengirim para ahli untuk melatih warga asli Papua,” terangnya.

ACT memang sudah memiliki beberapa program yang akan dibangun di dalam wakaf desa. Diantaranya, lumbung pangan masyarakat, lumbung ternak masyarakat, pendidikan, klinik, pesantren dan masjid. “Kami ingin menunjukkan hebatnya wakaf. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, sudah sepatutnya kita meyakini bahwa wakaf inilah yang dimaksud sebagai amal jariyah. Amalnya akan mengalir terus menerus,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua RBP Saleh mengaku tertarik dengan ide program ACT. Dia menilai pembangunan berbasis desa memang bisa menjadi kunci bagi masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini, termasuk di Banua.

“Warga Kalsel juga banyak berempati untuk tragedi di Asmat. Kita akan menggalang bantuan juga untuk mereka. Dengan harapan ke depan kita bisa membangun juga wakaf desa di Kalimantan Selatan,” ucap Saleh.

Kolaborasi ACT dengan RBP memang sudah lama berjalan. Tentu bukan tanpa alasan. ACT telah membuktikan dedikasinya di dunia kemanusiaan. Serupa dengan kiprah RBP di Banua. Untuk kasus Asmat, ACT telah menurunkan tim medis, mengajarkan warga lokal tentang pola hidup, dan menyediakan stok pangan berupa beras sebanyak 100 ton. “Kemitraan menjadi semangat kami untuk bekerja sama. Karena gaung kemanusiaan akan lebih terdengar dengan semangat persaudaraan,” pungkas Saleh.

RBP kembali membuka dompet kepedulian untuk Asmat di nomor rekening BSM 0262042000 atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli. Konfirmasi silakan sms ke nomor 081333272004. (ris/al/bin)

Terbit di Radar Banjarmasin edisi 3 Maret 2018 Halaman 10

Byadmin

Komunitas: Menolak Diam untuk Korupsi dan Penjajahan

Sabtu (24/02) kemarin RBP (Radar Banjar Peduli) berkolabrasi LPPAMS (Lembaga Pusat Penelitian dan Advokasi Masyarakat Sipil) melakukan gerakan solidaritas untuk Palestina. Aksi ini digelar seusai nonton bareng dan diskusi film anti korupsi di Aula Fakultas Teknik ULM, Banjarbaru.

Aksi solidaritas ditunjukkan dengan menyaksikan bersama film pendek tentang kabar terbaru Palestina. “Saat ini Gaza telah mengalami lumpuh energy, dimana sebagian wilayahnya krisis listrik, bahkan ada ratusan penderita gagal ginjal yang tak bisa diberikan layanan operasi,” ucap Achmad Ridho Indra selaku Manajer Fundraising RBP memberikan narasi.

Rupanya tema film anti korupsi yang ditayangkan sebelumnya, yaitu Menolak Diam juga menjadi semangat bagi RBP dalam menggugah siapa saja soal Palestina. “Kegiatan ini bukan sekedar menolak diam untuk korupsi namun menolak diam juga terhadap saudara-saudara kita di Palestina,” imbuh lelaki yang kerap disapa Edo itu di hadapan para peserta.

Edo menambahkan bahwa ibarat sapu lidi, jika hanya satu yang beraksi maka tidak akan bermakna sama sekali namun beda halnya jika kita bersama-sama. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Alhasil banyak tangan yang terulur. Meski hanya sebentar, ternyata kepedulian generasi muda Banua patut diacungi jempol. Dana yang berhasil dikumpulkan sebanyak Rp 1.068.500.

Terima kasih Banua.

Penulis : Eggy Akbar Pradana

Editor : Retno

Byadmin

Warga Banua Turut Layarkan Kapal Kemanusiaan Palestina

Keputusan sepihak terkait pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem atau Al-Quds pada akhir Desember lalu, meruncingkan kembali krisis kemanusiaan di Palestina. Ikhtiar bangsa Indonesia untuk membantu perjuangan rakyat Palestina pun berlanjut.

Melibatkan seluruh elemen bangsa Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali melayarkan Kapal Kemanusiaan. Kali ini, 10 ribu ton beras dikirim secara bertahap menuju Palestina. Kapal Kemanusiaan Palestina resmi lepas jangkar dari Terminal Petikemas Surabaya, Rabu (21/2).

Seremoni pelepasan Kapal Kemanusiaan untuk Palestina dihadiri oleh Presiden Aksi Cepat Tanggap Ahyudin, Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian Luar Negeri RI Salman Al Farisi SE. Pelepasan tersebut ditandai dengan penekanan tombol sirine sebagai simbolis pelayaran Kapal Kemanusiaan.

Berlayarnya Kapal Kemanusiaan menandakan besarnya kepedulian bangsa Indonesia dalam merespons krisis kemanusiaan yang menimpa masyarakat Palestina. Hal ini disampaikan oleh Ahyudin, disela seremoni pelepasan Kapal Kemanusiaan Palestina.

“Apa yang kita berikan untuk Palestina, memperlihatkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang baik. Kita tidak akan kekurangan narasi kebaikan. Bangsa ini tak boleh sepi dari ikhtiar-ikhtiar kebaikan untuk kehidupan,” ujar Ahyudin, Rabu (21/2).

Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina juga disampaikan oleh Salman Al Farisi. Salman menegaskan bahwa, Palestina adalah prioritas, Palestina adalah jantung dan napas politik luar negeri Indonesia.

“Di sini, di Surabaya tahun 1945, Arek Suroboyo berjuang menyelamatkan Kemerdekaan Indonesia. Saat ini, 73 tahun setelahnya, juga dari Surabaya, kolaborasi masyarakat penggerak kemananusiaan dan Pemerintah Indonesia mengirimkan 2.000 ton beras tahap pertama untuk membantu kemerdekaan Palestina,” kata Salman berbicara mewakili Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi.

Ribuan ton beras yang dilayarkan menuju Palestina dihimpun dari beberapa kabupaten yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejumlah kabupaten tersebut di antaranya Bojonegoro, Ponorogo, Ngawi, Sragen, Purwodadi, Rembang, dan Blora. Proses pengumpulan beras ini telah dimulai sejak panen raya Awal Februari silam.

RBP sebagai perwakilan ACT di banua juga telah menyalurkan amanah donasi kemanusiaan untuk Palestina, Senin (19/2) yang lalu. Secara simbolis diserahkan langsung oleh Pembina RBP yang juga Walikota Banjarmasin Ibnu Sina di kediaman pada Rabu (21/10) kepada perwakilan ACT, yaitu Ruli Renata dan Cipto Sugiarto.

Kapal Kemanusiaan Palestina yang mulai berlayar pada Rabu (21/2) akan menempuh perjalanan laut sejauh 9.270 kilometer atau sekitar 40 hari. Sama seperti Kapal Kemanusiaan Somalia dan Rohingya sebelumnya, pengiriman beras ke Palestina melalui kapal laut ini terlaksana atas kerja sama ACT dengan PT Samudera Indonesia.

Insya Allah, dalam kurun waktu 40 hari, Kapal Kemanusiaan akan tiba di Palestina. Ribuan ton beras akan menyapa pemiliknya, warga Palestina yang telah dirundung krisis kemanusiaan selama lebih dari lima dekade. Bantuan beras yang merupakan amanah rakyat Indonesia yang besar ini menjadi bukti nyata bagaimana empati bangsa akan selalu ada untuk Palestina.

Sumber : ACTNews

Byadmin

Terima Kasih RBP dan Patelki

MARTAPURA – Musibah puting beliung disertai hujan lebat menyisakan kerusakan bagi  Madrasah Bangun Jaya, Desa Pesayangan  Timur. Pasca bencana, sekolah ini sempat meliburkan santri selama 5 hari, dan memperbaiki kerusakan dengan material utangan.

Satu yang dipuji, kepekaan masyarakat, orang tua santri, relawan, serta alumni sangat besar. Sumbangan datang dari pihak yang tidak disangka-sangka. Target 10 hari libur sekolah langsung dipangkas setengahnya, sehingga pelajar kembali menuntut ilmu. Sekolah mengerahkan puluhan tukang dan material dipinjam dari toko bangunan.

Atap dan plafon madrasah berlantai 3 itu pun langsung diperbaiki dengan cepat, sedangkan 10 kelas yang sempat rusak kembali dipergunakan kendati masih darurat. Sisa-sisa musibah itu tetap terasa, ruang kelas berantakan dan berair, barang yang berhasil diselamatkan menumpuk di ruang kepala sekolah. Sedangkan karpet yang kotor dan basah harus laundry, ongkosnya sangat mahal.

“Alhamdulillah, ada yang menjamin jadi kami bisa berutang ke toko bangunan. Cuma tukang harus bayar kontan. Di awal perbaikan sampai 20-an tukang, sekarang sisa 5 orang,” kata Kepala Sekolah Madrasah Bangun Jaya KH Hamdani, baru-baru tadi.

Guru Hamdani mengucapkan terima kasih kepada relawan dan semua kalangan yang memberikan bantuan memperbaiki madrasah tersebut. Terutama kepada Radar Banjar Peduli (RBP) dan Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (Patelki) Kalsel, Banjar, dan Banjarbaru yang kemarin (19/2) siang bertandang sekaligus membawa sumbangan. Donasi-donasi tanpa syarat tersebut sangat dibutuhkan bagi kelangsungan perbaikan madrasah.

Ketua DPW Patelki Kalsel H Haitami menyatakan, penyaluran bantuan peduli puting beliung di Martapura tersebut berasal dari anggota Patelki dan RBP. Ia berharap, donasi sebesar Rp13 juta meringankan sekaligus membantu mempercepat perbaikan sarana dan prasarana Madrasah Bangun Jaya.(mam/by/ran)

Sumber : Radar Banjarmasin edisi 21 Februari 2018

Penulis : M.Amin/Radar Banjarmasin

Byadmin

Tiga Putra Banua Bersaing dalam Seleksi Beasiswa Nasional

Radar Banjar Peduli (RBP) kembali melaksanakan Seleksi Beasiswa Nasional (SNB) SMART Ekselensia Indonesia. SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah menengah jenjang SMP dan SMA yang bebas biaya. Program ini diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi di seluruh Indonesia.

Pendaftaran untuk SMART Ekselensia Indonesia sendiri sudah dibuka sejak Oktober tahun lalu. “Dari seleksi administrasi telah terjaring tiga putra Kalimantan Selatan untuk mengikuti tes tertulis,” jelas Achmad Ridho Indra selaku penanggungjawab program.

Sabtu (17/2) kemarin bertempat di Gedung Biru Radar Banjarmasin, ketiga peserta mengikuti seleksi tes tertulis. Trio Bagus Mulyono, Sanjo dan Sandy Firdaus bersaing untuk mendapatkan kesempatan untuk meraih beasiswa bergengsi tersebut. Mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu dan berprestasi di sekolah masing masing.

“Sudah belajar sebelumnya, pertanyaannya ada yang gampang ada yang susah,” ucap Trio yang merupakan siswa SDN 2 Siayuh, Kabupaten Kotabaru tersebut.

Sedangkan dua teman Trio dalam seleksi ini, masing-masing berasal dari Kandangan dan Tambarangan (Tapin). Mereka memiliki peluang yang sama dalam seleksi ini. Bahkan bisa jadi ketiga-tiganya bisa lolos. Karena secara nasional akan dipilih 40 anak dalam satu angkatan.

Anak anak yang lolos seleksi nantinya akan bersekolah di Bogor. Meski jauh dari kampung halaman tetapi tidak membuat para wali yang mendampingi mereka menjadi takut untuk melepas anaknya jika lolos seleksi nantinya.

“Sepanjang melepas anak dengan tujuan yang baik tidak ada masalah. Sekarang zaman sudah canggih, kirim duit bisa dari tempat jauh, tanya kabar juga sudah lebih mudah,” tutur Sulistiono, ayah dari Trio.

Bagi Sulis, begitu sapaannya, ajang beasiswa ini sudah dinanti sejak setahun yang lalu. Baginya, selain akan mendapat pendidikan yang baik, beban keluarga juga akan berkurang karena tak ada biaya sekolah yang akan ditanggung kedepannya.

“Anak saya yang lain sekarang sudah kelas 9, mau masuk sekolah baru juga nantinya, semoga si bungsu ini (Trio) dapat beasiswa,” harapnya.

Achmad Ridho Indra berharap tahun ini Kalsel dapat kembali mengirim putra terbaiknya. “Hingga tahun kemarin total saat ini sudah 14 anak asal Kalsel yang sudah mengenyam pendidikan di Bogor dan yang masih bersekolah ada 5 anak,” ucapnya.

Penulis : Wahyu Aji Saputra

Editor : Retno/Budian Noor

Byadmin

Yuk Bergembira Bersama Kado Ceria

Pagi itu, Minggu (18/2), langit tampak gelap. Kota Martapura sempat diguyur hujan. Namun ternyata hal itu tidak menyurutkan semangat 52 anak untuk mengikuti program Kampung Dongeng (Kado) Ceria. Anak-anak itu tidak hanya berasal dari Martapura dan Banjarbaru, tapi juga ada yang dari Banjarmasin. Mulai anak usia 5 tahun hingga 10 tahun. Semua berkumpul di satu tempat, markas Kado Intan Kalsel.

Founder Kado Intan Enik Mintarsih yang biasa disapa Bunda Enik menjelaskan jika kegiatan Kado Ceria ini dilaksanakan sekali dalam sebulan. “Alhamdullilah anak-anak selalu ramai berdatangan dan mengalami peningkatan setiap bulannya” ungkapnya.

Dalam setiap kegiatannya, sebelum acara dimulai, Bunda Enik selalu mengajarkan kerapian diri. Bunda Enik menyuruh anak-anak untuk merapikan alas kakinya sebelum kegiatan mendongeng dimulai. Anak-anak begitu antusias mengikuti perintah dari Bunda Enik tersebut.

“Nilai karakter paling utama yang harus kita tanamkan sejak dini contohnya dengan menyuruh anak-anak untuk merapikan alas kakinya tersebut, secara tidak sadar anak-anak akan mulai terbiasa untuk disiplin,” kata Bunda Enik.
Setelah itu Bunda Enik mengajak satu anak untuk memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil berdiri. Dengan lantang dan semangatnya mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Sebelum kegiatan utama yaitu mendongeng, Bunda Enik dengan pembawaan yang ceria juga mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu baby shark. Dengan antusiasime yang tinggi anak-anak menari dan menyanyi mengikuti alunan masik.

Dongeng sendiri saat itu dibawakan oleh relawan dari Banjarmasin yang bernama Nia. Dengan wajah saksama anak-anak mendengarkan dongeng, sesekali mereka ketawa karena lucunya cerita Cika (boneka tangan milik Nia).

Melalui dongeng, Nia mengajarkan untuk menjadi pendengar yang baik dan berbakti kepada orang tua.

“Kami ingin menanamkan budaya membaca sejak dini, kreativitas, kekompakkan tim, bekerja sama dan yang paling penting ayo anak-anak Indonesia kita bergembira bersama,” seru bunda Enik.

Bunda Enik pun menjelaskan terdapat manfaat psikologis yang diterima oleh anak. Anak-anak yang awalnya di rumah merasa tidak mood dapat bersenang-senang sehingga melupakan masalahnya. Kegiatan ini juga dapat digunakan untuk “Trauma Healing”.

Salah seorang anak, Defa, mengaku merasa senang, seru dan dapat teman baru dengan hadir di kegiatan kampung dongeng ceria.

Selain itu, Alwi selaku orang tua salah satu anak merasa anaknya antusias sekali. Alwi menjelaskan anaknya yang bernama Nia kelas 2 SD termasuk tipe anak yang malu-malu namun setelah mengikuti acara serupa di Museum Lambung Mangkurat, anaknya mulai percaya diri. Nia sendiri pada kegiatan itu berani tampil ke depan teman-temannya untuk membaca doa makan.

Penulis: Eggy

editor: Retno Sulisetiyani

foto: Eggy

Byadmin

Dukung Program Pemerintah, Bina Kesehatan Desa Wisata

Mengikuti Pengabdian Masyarakat Mitra Peduli; Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Poltekkes Kemenkes Banjarmasin kembali menunjukkan peran sertanya dalam peningkatan pelayanan kesehatan. Tidak hanya mendidik calon tenaga kesehatan berkompeten saja, melaksanakan pangabdian masyarakat juga telah menjadi program yang setiap tahun dilaksanakan. Pengabdian masyarakat tahun ini dilaksanakan di Desa Biih, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Desa Biih sendiri terkenal dengan wisata duriannya. Selain untuk mengangkat wisata desa tersebut, kegiatan ini dimaksudkan untuk membina warga setempat untuk lebih sadar akan kesehatan. Baik itu kesehatan dari diri sendiri maupun lingkungan tempat mereka tinggal.

Ketua Pelaksana kegiatan Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd menyebutkan bahwa masalah yang mereka temukan di Desa Biih berhubungan dengan kesehatan lingkungan. “Masih kurangnya gorong-gorong sebagai saluran pembuangan limbah menjadi masalah di desa ini,” terangnya. Selain itu, imbuhnya, kesadaran warga yang masih kurang mengenai pentingnya kesehatan lingkungan menyebabkan beberapa faktor gangguan kesehatan lainnya.

“Akhirnya pendekatan yang kami lakukan adalah pendekatan keluarga. Jadi, kami membina mulai dari keluarga terlebih dahulu tentang masalah kesehatannya,” jelas staff pengajar Poltekkes Kemenkes Banjarmasin jurusan Kesehatan Gigi itu.

Waljuni, begitu sapaannya, lebih lanjut menerangkan bahwa masalah-masalah yang sudah diketahui akan menjadi prioritas untuk ditangani lebih lanjut. “Harapan kami bisa membangun desa dengan standar kesehatan yang baik dan benar, tentu dengan enam indicator sesuai jurusan yang ada di Poltekkes Banjarmasin,” ujarnya.

Waljuni menilai sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Desa Bi’ih sendiri sudah cukup baik. “Pelayanan masih terbatas untuk golongan lansia saja, sedangkan untuk bayi dan balita masih kurang,” ungkapnya.

Menurut Abdul Malik selaku Kepala Desa Biih, kegiatan pengabdian yang dilakukan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin bermanfaat sekali. “Kami berharap program terus berlanjut sehingga masalah kesehatan dapat dikurangi sekaligus dicegah untuk ke depannya,” ucapnya.

Pengabdian masyarakat yang bertajuk Praktek IPE IPC itu dilaksanakan sejak Sabtu (10/2) hingga Minggu (11/2) tadi. Para mahasiswa menginap di desa dan membentuk kelompok yang didalamnya terdapat enam jurusan yaitu keperawatan, gizi, analis, lingkungan, gigi, dan kebidanan. Pembinaan kesehatan komprehensif. Demikian kira-kira tujuan dari sebaran kelompok-kelompok tersebut.

Minggunya, dilaksanakan layanan kesehatan gratis massal dari enam jurusan. Mulai dari konsutasi gizi, pemeriksaan gigi, cek gula darah, konsultasi kesehatan lingkungan serta pemeriksaan tekanan darah. Kegiatan yang dilaksanakan tepat di area wisata durian terlihat begitu ramai oleh warga yang berbondong bondong ingin memeriksakan kesehatannya. Mulai dari kakek nenek hingga anak-anak begitu antusias untuk mendatangi stand-stand layanan yang telah disediakan.

“Terima kasih atas kepedulian Poltekkes Banjarmasin, semoga warga kami makin sadar akan pentingnya kesehatan,” ucap Abdul Malik mewakili para warga Desa Biih.

Penulis : Wahyu Aji Saputra

Editor: Retno Sulisetiyani

Foto by Wahyu AS