Berita

Byadmin

Charity Area, Kawasan Bebas Sedekah di Murjani

Semangat kepedulian bisa diwujudkan dalam bentuk apa saja. Hal itulah yang sepertinya ingin ditunjukkan oleh Paguyuban Pedagang Minggu Pagi Ceria (PPMPC) Minggu (14/1) yang lalu. Menggandeng Radar Banjar Peduli (RBP), PPMPC yang dikomandoi oleh Abdul Azis SH menggelar bazar amal di salah satu sudut lapak. RBP dipercaya untuk mengelola penjualan dan penyaluran dana yang terkumpul nantinya. Bazar amal tersebut oleh RBP disulap dengan nama Charity Area.

Barang yang dijual hari itu adalah pakaian-pakaian. “Ini adalah pakaian lama tapi kondisinya 90% masih bagus, disumbangkan untuk dijual dan hasil penjualannya nanti seluruhnya untuk kegiatan sosial bersama RBP,” ujar Abdul Azis.

Abdul Azis menghimbau kepada  masyarakat untuk berpartisipasi dalam Charity Area tersebut. “Silahkan yang ingin mendonasikan barang-barang amal bisa langsung ke lapak ini,” ujarnya. “Ini adalah wujud kepedulian kami dan sesuai arahan dari Wakil Walikota Banjarbaru, kami juga ingin mendukung Murjani untuk punya nilai tambah,” imbuhnya.

RBP sebagai lembaga kemanusiaan memberi dukungan penuh dengan kerjasama program ini. “Charity Area adalah kawasan bebas sedekah untuk mengakomodir bentuk kepedulian dari seluruh warga Banjarbaru dan sekitarnya. Alhamdulillah para relawan Sahabat Kalsel juga siap,” ujar Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra.

Bagi warga yang ingin bertanya lebih jelas tentang program ini silahkan menghubungi 082250379647 (edo) atau 081250567117 (khairil).

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Asyiknya Mengikuti Program Relawan Menulis RBP

“Sebuah Pembelajaran Sekaligus Penggali Potensi Diri”

Bergabung di Komatik (Komunitas Mahasiswa Jurnalistik) Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Banjarmasin sebagai reporter rupanya tidak cukup memenuhi hasrat Nadia Susiyana di bidang jurnalistik. Berawal dari informasi dari seorang teman bahwa RBP membuka Program Menulis yang secara tidak langsung akan memberikan pengalaman dalam penulisan berita humanis membuatnya tertarik untuk ikut serta.

Nadia mengaku banyak pembelajaran yang didapatkan selama mengikuti program ini. Mulai dari menambah kecakapan menulis, mendorongnya mengeksplorasi dunia luar kampus hingga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama yang kemudian menuntunnya mengikuti segala bentuk kegiatan kerelawanan. Dunia relawan inilah yang akhirnya memberi kesan mendalam baginya.

Sebelum mengikuti program ini, Nadia beranggapan bahwa kepedulian kaum muda terhadap masyarakat kurang beruntung masihlah kecil. Namun ternyata anggapannya itu dilihatnya salah. “Cukup banyak kaum muda Banjarbaru yang peduli terhadap masalah-masalah masyarakat di sekitarnya,” ucap gadis berkacamata itu.

Persepsi Nadia mulai berubah sejak diberi tugas meliput kegiatan Sahabat Kalsel di Kampung Purun, Kelurahan Palam, Banjarbaru Minggu (24/12) tahun lalu. Nadia menyaksikan langsung bahwa cukup banyak mahasiswa bahkan pegawai kantoran yang ikut menunjukkan kepedulian mereka dengan cara berbagi kebahagiaan hingga bingkisan untuk anak-anak kurang beruntung di daerah Kampung Purun tersebut.

Tak terasa sudah hampir dua bulan Nadia menjajal kemampuannya sebagai tenaga reporter dalam program relawan menulis RBP, artinya sudah hampir berakhir. Program yang dilaksanakan oleh Divisi Marketing Komunikasi RBP itu memang hanya bergulir per dua bulan. “Tujuan saya ingin mencetak jurnalis-jurnalis humanis di Banua ini, agar makin banyak informasi positif di sekitar kita,” ujar Retno Sulisetiyani selaku Manajer Divisi.

“Sebenarnya saya ingin membuka kesempatan bagi banyak relawan untuk mengikuti program ini. Tapi saya khawatir tidak optimal membina. Meski begitu saya merasa bangga, Alhamdulillah program ini sudah punya dua angkatan dengan tiga alumni yang luar biasa,” ujar Retno saat pertemuan penutupan Angkatan ke dua, Kamis (18/1) kemarin di Kafe Montana Syariah Banjarbaru.

Bagi Nadia sendiri, dengan berakhirnya program tersebut tak lantas membuatnya berhenti untuk terus bergerak dibidang kerelawanan. Hal ini dibuktikannya dengan langsung bergabung dengan Forum Relawan Sahabat Kalsel. “Mumpung masih sebatas jadi mahasiswa, harus mengambil kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berguna bagi masyarakat. Dengan menulis saya punya kesempatan untuk mempengaruhi apa yang orang lain pikirkan atau lakukan. Terima kasih atas kesempatan besar ini,” pungkasnya. (nd)

editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Parenting Desa, Berinovasi Demi Perbaikan Banua

Lemahnya pengasuhan anak ternyata bukan lagi persoalan bagi keluarga duafa atau tidak mampu, namun juga terjadi di keluarga mampu yang bahkan berpendidikan tinggi. Hal ini disampaikan oleh Ketua Himpaudi Kota Banjarbaru Hj Nurhayati SPd kepada RBP disela silaturahminya ke kantor RBP di Gedung Biru Radar Banjarmasin Rabu (17/1) kemarin.

Menurut Nurhayati ada saja persoalan pengasuhan anak yang dihadapi di sekolahnya, padahal rata-rata orang tuanya berpendidikan. “Artinya persoalan ini sudah menjadi persoalan kita semua, sehingga diperlukan perhatian dan kerja dari semua pihak,” ujarnya.

Melihat tersebut, lanjutnya, program Parenting Desa yang digagas RBP harus dilanjutkan. “Ini ide yang sangat bagus, agar pendidikan bukan hanya berada di lingkungan khusus, namun bisa dibangun bahkan di rumah-rumah warga,” ucap Ibu dua anak itu.

Keseriusan Himpaudi dengan upaya penanaman pola asuh anak yang benar terlihat dari inovasi yang diberikan terhadap program ini. Rencananya, konsep baru program bertujuan pada penanaman pembiasaan. Pertemuan tidak lagi bersifat berkeliling, tapi fokus untuk enam titik saja dimana masing-masing titik dilaksanakan dua kali pertemuan. “Harapannya dalam setahun ada enam kelompok masyarakat yang terbina, nanti ada nilai ukur yang kami siapkan sebagai indikator keberhasilan,” imbuh Nurhayati.

Sekretaris Himpaudi Kota Banjarbaru Endang Puryani yang juga hadir menambahkan bahwa penanaman pembiasaan menjadi penting karena hal tersebut adalah dasar dari pembentukan karakter. “Kita miris dengan tata krama dan kesopanan anak-anak zaman sekarang, jadi memang harus dimulai dari keluarga. Ayah ibu sebagai teladan bagi anak-anaknya,” ungkapnya.

Direktur RBP Dokter Diauddin MKes melalui Manajer Keuangan Nurhayah menilai konsep baru yang ditawarkan Himpaudi adalah inovasi yang sangat bagus. “Dukungan Himpaudi Kota Banjarbaru menjadi motivasi dan semangat bagi kami, karena tanpa dukungan berbagai pihak tentu kami bukanlah apa-apa,” ujar Nurhayah yang saat itu menerima kunjungan Himpaudi di ruang rapat Radar Banjarmasin lantai 2.

“Kami berharap tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, dapat memberi manfaat yang lebih besar untuk masyarakat,” pungkasnya.

Parenting Desa sebagai wujud kepedulian RBP pada permasalahan bangsa tentu tak bisa berjalan sendiri. Hakikatnya manusia itu sendiri adalah makhluk sosial, maka RBP perlu berbagai pihak termasuk masyarakat untuk bisa terus bergerak menggaungkan kepedulian. Terima kasih kepada Himpaudi Kota Banjarbaru atas sinergi yang saling menguatkan ini.

Kami juga meminta dukungan dari para dermawan di banua untuk bisa menyisihkan sebagian hartanya untuk program-program sosial seperti ini. Donasi terbaik Anda menjadi kebahagiaan kita semua. Ayo bergotong-royong membangun banua.

penulis: Retno Sulisetiyani

editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Kapal Kemanusiaan Palestina, Ekspresi Diplomasi Beras Bangsa Indonesia

Muhajir Arif Rahmani

Media Network Development – ACT

Sukses melabuhkan “Kapal Kemanusiaan” pembawa beras dari Indonesia di Somalia (seribu ton) dan di Bangladesh (dua ribu ton) tahun 2017 lalu, memicu syukur, tapi bukan puas. Kapal Kemanusiaan harus selalu hadir selama krisis kemanusiaan menggayuti umat manusia. Salah satunya adalah Palestina, negeri yang masih dijajah hingga kini, namun tetap bertahan dengan segala cobaan beratnya.

Setahun setelah Indonesia merdeka, pemerintah unjuk eksistesi dengan mengirim bantuan beras ke India saat negeri itu dilanda kesulitan pangan. Peristiwa tersebut dinilai fenomenal buat negara yang baru menata pemerintahannya. Kini, setelah absen cukup lama tidak menyapa dunia dengan aksi bantuan kemanusiaan serupa, ACT melanjutkannya. 

ACT hanyalah lembaga kemanusiaan yang diinisiasi dan disokong rakyat Indonesia. Sehingga, krisis seberat apapun, wujud dukungan rakyat tentu saja sebatas bantuan kemanusiaan people to people. Rakyat Indonesia berbagi peran dengan pemerintah yang lebih memiliki kewenangan dan akses dalam hubungan antarbangsa dan mewakili negara, dari bantuan sosial hingga bantuan diplomasi. Tidak menutup kemungkinan pula untuk bantuan militer jika nyawa manusia sudah sangat kritis dan mengusik peri-kemanusiaan.

Beberapa waktu lalu, ACT mengumumkan, Kapal Kemanusiaan Palestina (KKP) yang membawa 10.000 ton beras dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina akan berangkat pada 21 Februari 2018. Yang dibawa bukan beras biasa, tapi beras pembawa misi perdamaian, peranti perlawanan antipenjajahan.

KKP mengemban amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 sekaligus membawa misi edukasi kemanusiaan global. ACT melanjutkan sikap konsisten Pemerintah Indonesia untuk menjaga ketertiban dunia, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. KKP juga menyambung teladan para pemimpin bangsa.

Usai rencana keberangkatan KKP diumumkan ke publik, tim ACT berjibaku menyiapkan beras, kapal, proses perizinan dan segala sesuatu demi suksesnya pengiriman bantuan. Empat belas cabang ACT se-Indonesia dan Turki bergerak mengedukasi publik dan menggalang kepedulian. Sejak Senin (15/1), Presiden ACT Ahyudin hadir di Blora, memantau persiapan pengadaan beras untuk Palestina.

Mengikuti persiapan beras dan sesi briefing dengan Presiden ACT, terasa keseriusan prosesnya. Saya menyerap energi tersendiri selama proses itu. Menerjuni dunia kemanusiaan tak boleh berpikir tunggal, namun harus menyiapkan mental, fisik dan pikiran untuk berpikir berbagai isu. Menyiapkan beras saja sudah menjadi sebuah tantangan besar. 

Tantangan pertama, keberhasilan menghimpun dan mengirim 1.000 ton beras ke Somalia dan 2000 ton beras ke Bangladesh (untuk pengungsi Rohingya) memacu ACT untuk meningkatkan jumlah tonase beras hingga 500 persen pada tahun 2018 ini. Kedua, wilayah tujuannya pun kawasan konflik kelas dunia: Palestina.

Spirit dan semangat Tim ACT baik di pusat maupun di daerah, terutama tim KKP di Blora dan beberapa kabupaten dan kota sekitarnya, terus dipompa. Mengapa harus memiliki spirit hebat? Karena tingginya nilai ideologis dan filosofis program ini. Misi kemanusiaan ini akan menentukan posisi bangsa Indonesia, bukan hanya posisi Lembaga ACT atau masyarakat Blora dan sekitarnya saja. Presiden ACT Ahyudin mengungkapkan, ”Kerja kita, menunaikan kepercayaan dari bumi dan langit (ilahiah) untuk bangsa Indonesia.”

Mendengar untaian pesan selanjutnya yang disampaikan Presiden ACT, hilang sudah keraguan saya untuk memenuhi tantangan bersama ini. 

“Saya yakin Kabupaten Blora dan sekitarnya akan menjadi proyek kemanusiaan yang besar yang levelnya tidak hanya nasional namun internasional. Seperti saat momen Kapal Kemanusiaan untuk Afrika dan Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya. Kapal Kemanusiaan untuk Palestina ini akan lebih besar, lebih fenomenal dan lebih ideolgis,” ungkap Ahyudin, saat meninjau persiapan pengepakan beras di gudang Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) ACT di Kecamatan Cepu, Blora, Selasa (15/1).

Saya memahami, betapa wujud dukungan doa dan aksi turun ke jalan menyuarakan kepedulian terhadap warga Palestina dari masyarakat Indonesia amat penting. Namun, doa dan dukungan saja tidaklah cukup kalau masyarakat Indonesia  tidak memberikan kontribusi konkret. “Sukses menyiapkan 10.000 ton beras melalui KKP, salah satu momentum masyarakat untuk ikut berkontribusi secara nyata untuk membantu warga Palestina,” ujar Ahyudin.

Kapal Kemanusiaan untuk Palestina ini, imbuh Ahyudin, merupakan peristiwa sejarah bagi bangsa Indonesia. Program ini lebih besar target sasarannya ke dalam negeri sendiri. Program KKP mengedukasi rakyat Indonesia untuk memiliki kepedulian terhadap rakyat Palestina, memiliki perasaan keumatan dan spirit ukhuwah yang kuat.

KKP juga menjadi ekspresi “diplomasi beras” bangsa Indonesia. Dahulu, pengiriman bantuan beras ke India berbuah pemberian perlengkapan pertanian dan obat-obatan dari India (saat Indonesia belum memproduksi barang-barang itu) untuk Indonesia. Kini, KKP insya Allah akan berbuah sesuatu yang lebih besar, yakni doa tulus bangsa Palestina serta kepercayaan dan penghormatan dunia untuk bangsa Indonesia. Maka, di hari-hari persiapan pelepasan KKP ini, kami mohon doa dan dukungan konkret bangsa Indonesia.

Seremoni pelepasan KKP yang berupa konvoi kontainer beras akan dilepas dari Kecamatan Cepu, Blora, menuju Terminal Petikemas Surabaya. Pelepasan tersebut akan dibarengi dengan peluncuran Program Desa Wakaf, di mana Kabupaten Blora menjadi salah satu percontohan Program Desa Wakaf-ACT. 

“Bantuan beras untuk Palestina melalui Program KKP ini menunjukkan hebatnya bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tak sekadar mengejar swasembada pangan. Lebih dari itu, bangsa ini pun mampu berbagi,” ungkap Presiden ACT Ahyudin. 

Ya, Indonesia besar bukan untuk dirinya, melainkan untuk berbagi kepedulian kepada bangsa-bangsa lainnya. Doakan dan dukung Kapal Kemanusiaan Palestina. Bersama, kita songsong kejayaan bangsa Indonesia. []

Foto: Rudi Purnomo

Sumber: ACT

Byadmin

Bank Kalsel Siap Bersinergi Memajukan Banua

Bank Kalsel Cabang Banjarbaru menyatakan siap bersinergi bersama Radar Banjar Peduli (RBP) dalam menggaungkan kepedulian di Kalimantan Selatan, khususnya di Banjarbaru. Hal ini disampaikan oleh Hambali selaku Pemimpin Cabang kepada RBP melalui Manajer Operasional Haris Santana, Selasa (16/1) kemarin.

“Kami salut dengan upaya yang dilakukan RBP dalam bidang sosial kemanusiaan, tentu kami juga ingin mendukung,” ujar Hambali. 

Menurutnya, ada kesamaan antara Bank Kalsel dan RBP yaitu ingin memajukan banua. “Jadi mari kita sama-sama bergandengan tangan mewujudkannya,” ucapnya lagi.

Dukungan itu tentu menjadi semangat sendiri bagi RBP. Manajer Fundraising RBP Achmad Ridho Indra mengaku senang dengan apa yang telah disampaikan Bank Kalsel Banjarbaru. 

“Ini jadi penyemangat untuk kami karena dukungan positif adalah sumber energi kami. Terima kasih kepada Bank Kalsel Banjarbaru yang telah berkomitmen kepada RBP sejak 2017 lalu,” ungkapnya. 

Memang, sejak 2017 Bank Kalsel Banjarbaru menjadi mitra peduli RBP dalam program Nutrisi Duafa. Selama setahun Bank Kalsel Banjarbaru telah menyalurkan donasi lebih dari Rp 8juta dengan menjangkau lebih dari 400 penerima manfaat. 

RBP berharap tahun 2018 ini akan lebih banyak lagi penerima manfaat yang bisa terbahagiakan. 

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Story Telling, Komitmen Membangun Banua

Kekerasan terhadap anak baik secara fisik maupun psikis semakin hari semakin memprihatinkan. Kepada JawaPos.com, Komisioner KPAI Jasra Putra pernah mengungkapkan data yang menunjukkan bahwa pihaknya menemukan 116 kasus kekerasan seksual anak pada 2017. Di Kota Banjarbaru sendiri ada 9 kasus pelecehan anak yang sedang ditangani pemerintah (P2TP2A).

Anak-anak itu adalah masa depan banua. Juga bangsa. Sepuluh atau duapuluh tahun nanti, di tangan mereka lah nasib bangsa ini ditentukan.

Atas dasar kepedulian terhadap persoalan tersebut, maka RBP bersama Sahabat Kalsel menggalang sebuah gerakan peduli anak. “Tujuan gerakan ini adalah ingin menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak,” ungkap Direktur RBP Dokter Diauddin MKes. “Alhamdulillah ada beberapa komunitas dan professional yang mendukung gerakan ini, yang sudah bergabung ada Kampung Dongeng Intan Kalsel yang dikomandoi Bunda Enik, beberapa mahasiswa, dan seorang psikolog,” ungkapnya.

Kepedulian tersebut diwujudkan dengan kegiatan Story Telling di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. “Kelurahan Palam menjadi sasaran saat ini karena kami melihat area bermain di sana belum banyak sedangkan anak-anak sangat membutuhkannya. Ini juga menjadi bentuk dukungan kami untuk Kota Banjarbaru yang sedang mencanangkan Kelurahan Ramah Anak,” ucap Diauddin.

Retno Sulisetiyani selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan bahwa Story Telling adalah wujud nyata dari tekad relawan yang tidak ingin berhenti pada level simpati. “Kami ingin bergerak menjadi solusi bagi banua dan bangsa,” ucapnya. “Setiap Minggu Sore kami mengumpulkan puluhan anak-anak untuk bermain bersama dan menikmati story telling dari para relawan,” imbuh perempuan yang akrab disapa Eno itu.

Komitmen itu rupanya tidak main-main. Buktinya, hingga Minggu (7/1) yang lalu, sudah kali ketiga kegiatan berlangsung. Bahkan, kini sudah ada Story Telling edisi spesial. Rencananya, Senin (15/1)  besok Bunda Enik akan menghibur 84 anak di TK Nurul Hikmah Kelurahan Palam. “Harapan kami langkah-langkah kecil itu bisa mewujudkan asa kita semua terhadap anak-anak bangsa. Asa bahwa mereka masih punya banyak cinta. Sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang menjadi pemimpin harapan yang berakhlak mulia,” pungkas Eno. 

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Siapkan Mahasiswa untuk Terjun Langsung Layani Masyarakat

 

Tahun 2018 menjadi tahun yang penuh dengan pengharapan bagi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin. Institusi pendidikan ini berharap dapat meningkatkan kerjasamanya dengan Radar Banjar Peduli (RBP) dibandingkan tahun lalu.

Menurut Kepala Unit Pengabmas Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Dr Waljuni Astu Rahman SKM MPd, kerjasama antara Poltekkes dan RBP, tahun 2017 kemarin sudah cukup bagus. Namun, masih ada catatan yang harus diperbaiki ke depan. “Kolaborasinya bagus, tapi yang menjadi catatan penting disini adalah keterlibatan hanya pada beberapa jurusan tertentu saja, tidak melingkupi seluruh jurusan yang ada di Poltekkes Banjarmasin,” tuturnya.

Waljuni berharap ke depan semua jurusan bisa terberdayakan melalui desa binaan yang dikelola bersama dengan RBP. “Sebelumnya saya telah menyampaikan keinginan tersebut dengan Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani. Sepertinya RBP memiliki ketertarikan yang sama dengan kami, semoga saja ketertarikan kami bersama ini dapat direalisasikan pada tahun ini,” ujar Waljuni. Dengan adanya desa binaan tersebut, diharapkan masyarakat dapat pula mendapatkan pelayanan kesehatan gratis yang tidak hanya dari bidang keperawatan ataupun analis kesehatan saja, tapi dapat pula berupa layanan gizi bagi keluarga, sanitasi lingkunan bahkan pada kesehatan gigi dan mulut.

Manajer Marketing Komunikasi RBP Retno Sulisetiyani mengapresiasi ide tersebut. Menurutnya, hal itu selaras dengan visi kerja tahun 2018. “Kebetulan tahun ini kami pun ingin meningkatkan semangat kemitraan dalam implementasi program-program. Kami yakin dengan bersinergi, kerja lebih berarti,” ungkap wanita berkacamata itu.

Harapan Poltekkes untuk memiliki desa binaan tersebut dianggap sejalan dengan tujuan dalam kegiatan-kegiatan Homecare yang dilakukan RBP, yakni pelayanan kesehatan yang berbasis pendekatan keluarga. Dengan adanya pelayanan Homecare RBP yang dilaksanakan pada tempat yang terpisah-pisah, maka Poltekkes Banjarmasin berencana untuk menggabungkan pelayanan tersebut di satu tempat tertentu yang mana mahasiswa Poltekkes daari tiap jurusan pun dapat terjun langsung dalam melayani masyarakat.

Tanggapan positif juga diberikan dosen Poltekkes Kemenkes Banjarmasin yang lain, Hj Aprianti SPd MPd. “Saya mendukung sekali terhadap rencana tersebut karena dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk ikut berkontribusi langsung terhadap kesehatan masyarakat di daerahnya sekaligus wadah bagi Poltekkes untuk memperkenalkan dan mendekatkan diri di dalam masyarakat,” ujarnya.

Selama tahun 2017, Aprianti menilai bahwa penyelenggaraan kegiatan-kegiatan mahasiswa terutama jurusan gizi sudah baik. Banyaknya agenda kegiatan yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa menjadi tuntutan bagi mereka sendiri untuk dapat lebih aktif dalam berkegiatan. “Semoga ditahun 2018 ini, jenis kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa dapat lebih banyak,” sambung Aprianti yang juga merupakan Koordinator Kemahasiswaan HMJ Gizi.

Penulis : Nadia Susiyana

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Banua For Palestina, Ayo Bantu Rumah Sakit Palestina

Alhamdulillah, hingga hari ini ribuan porsi makanan dari Dapur Umum ACT masih melayani rakyat Palestina. Dibagikan kepada para murabetheen (kaum muslimin yang menjaga masjid Al-Aqsa) di kota tua dan para demonstran di seluruh Gaza setiap harinya (9-29 Desember) , Dapur Umum ACT juga menyapa para jamaah masjid serta sekolah-sekolah. 
Setelah Kementerian Kesehatan Palestina memberikan dukungan kepada para NGO di Gaza agar dapat menyokong kebutuhan makanan bagi para pasien yang tidak mampu lagi disediakan oleh pihak Rumah Sakit, ACT turut merespon hal ini dengan fokus menyuplai makanan bagi para pasien di Rumah Sakit sepanjang jalur Gaza.

Sejak 31 desember 2017 Dapur Umum ACT yang memiliki target awal melayani 8 rumah sakit kini sanggup menyuplai makanan ke 12 rumah sakit besar di seluruh area Gaza.  Setiap harinya menu disediakan bervariasi dan dipastikan selalu memenuhi syarat gizi oleh tim nutrisionist Rumah Sakit.

Sebanyak 65 orang tim dan relawan yang tersebar di 12 rumah sakit menjalankan program dengan atribut lengkap ACT dan bendera Indonesia. Hingga kini, total penerima manfaat dari program tersebut telah mencapai 24.629 penerima manfaat.  

Berikut daftar rumah sakit yang disuplai oleh Program Dapur Umum ACT :

– Al Shifa Medical complex 

– Al Rantessi pediatric hospital 

– Indonesian hospital 

– Beit Hanoun Hospital 

– Al Nasir pediatric hospital 

– Al Dorra pediatric hospital 

– Oncology specialized hospital 

– Europian hospital 

– Naser medical complex 

– Shohadaa Al Aqsa hospital 

– Al Yaseen hospital 

– Opthalmic specialized hospital Psychiatric Hospital

Dukung dengan doa dan bantuan terbaik kita, bersama kita layarkan “Kapal Kemanusiaan Untuk Palestina” insyaAllah 10.000 ton beras kita segera membahagiakan jutaan warga Palestina yang teraniaya.

Ayo warga banua kita bergotong-royong membantu sesama di Palestina. Donasi bisa disalurkan melalui rekening atas nama Yayasan Radar Banjar Peduli :

BSM 0262042000 

Silahkan konfirmasi via sms ke 081333272004 

#banuaforpalestina

Byadmin

Keren! Rayakan Hari Pernikahan, Ersis Ajak Anak Asuh RBP Makan Siang Bersama

Hari ini, Rabu (10/1), anak-anak asuh Radar Banjar Peduli berkesempatan bersilaturahmi dengan penulis banua, Ersis Warmansyah Abbas dan keluarga, di Moonlight Cafe, Banjarbaru. Sebanyak 9 anak bersama 5 orang tua hadir. Selain itu ada pula alumni penerima beasiswa SMART Ekselensia Indonesia yang sekarang telah menjandi mahasiswa-mahasiswa di ULM. 
Ersis yang adalah Dosen ULM sekaligus pembina RBP itu diminta memberikan motivasi kepada anak-anak. 

Ersis menceritakan bagaimana perjuangannya dalam mencari ilmu. Bagaimana dulu, Ia juga berasal dari keluarga tidak mampu. Namun, semangat belajar yang tinggi dan kerja keras membuatnya berhasil sampai pada titik ini. 

“Saya tidak suka disuruh orang, makanya saya mendidik diri saya sendiri untuk bisa apa saja. Belajar itu sepanjang masa,” pesannya kepada anak-anak duafa asuhan RBP. 

Lelaki berambut putih itu juga memboyong istri dan ketiga anaknya untuk membersamai para anak asuh. “Kebetulan hari ini adalah hari jadi pernikahan saya yang ke 25, jadi saya ingin berbagi dengan kalian,” ungkapnya. 
Kemudian acara diselingi dengan doa bersama dan pemotongan kue. Ersis dan istri mendapatkan ucapan selamat dari segenap anak asuh yang hadir juga dari pengelola RBP yang hadir. Suasana terasa sangat kekeluargaan. 

Mewakili RBP, Manajer Fundraising Achmad Ridho Indra, menyampaikan rasa syukur atas terjalinnya silaturahmi hari ini. “Kegiatan ini rutin kami laksanakan setiap tahun dengan konsep berbeda-beda. Alhamdulillah hari ini bisa berbahagia bersama keluarga Pak Ersis merayakan hari ulang tahun pernikahan beliau,” ujarnya. 

Penulis : Retno Sulisetiyani

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Butuh Dukungan Besar Demi Revolusi Kebaikan

Catatan Evaluasi Tahun 2017

Tahun 2017 menjadi tahun penyesuaian bagi Radar Banjar Peduli (RBP). Dimana di tengah kondisi internal yang masih harus berbenah, secara eksternal RBP juga harus memperbaiki performa karena kepercayaan masyarakat yang semakin besar.

Begitulah yang terungkapkan selama evaluasi tahunan yang diselenggarakan RBP sejak Selasa (19/12) hingga Jumat (22/12) lalu. Bertempat di Gedung Biru Radar Banjarmasin evaluasi berjalan dengan lancar. Selama hampir sepekan, tim pengelola yang terdiri dari Nurhayah, Achmad Ridho Indra, Retno Sulisetiyani, Devi Putri Listyasari, dan Azizah harus bergelut dengan catatan-catatan perjalanan selama tahun 2017. Catatan-catatan itu selanjutnya dilaporkan kepada Direktur RBP Dokter Diauddin dan Bendahara RBP Tini Elyn Herlina, Sabtu (23/12) kemarin.

Delapan tahun terakhir, tepatnya tahun 2009, RBP mulai bergerak melalui aksi-aksi sosial demi mengangkat harkat kaum duafa. Membuka keran kebaikan, tidak hanya soal kebencanaan. “Alhamdulillah kepercayaan masyarakat makin besar dimana makin banyak laporan kasus sosial yang masuk,” ujar Dokter Diauddin. “Kepercayaan itu tentu harus diimbangi performa yang baik, namun kami juga harus menghadapi masalah yaitu makin terkurasnya kas lembaga,” imbuhnya.

Hal ini tentu menjadi masalah tersendiri bagi lembaga sebesar RBP, sehingga perlu terobosan baru. “Pilihannya hanya dua, begini-begini saja atau revolusi,” ucap Tini Elyn Herlina selaku perwakilan pengurus. “Selain membuka keran fundraising yang lebih besar, tahun 2018 RBP juga akan mulai optimalisasi keran bisnis,” pungkasnya.

Delapan tahun memang bukanlah waktu yang singkat dan RBP telah membuktikan kemampuannya dengan memberikan program-program terbaik. Dengan segala keterbatasanya, RBP terus mencoba berinovasi dan bersinergi. Buktinya, selama 2017 sebanyak 116 mitra telah bekerjasama dengan RBP. Sedangkan penerima manfaat yang telah merasakan kebaikan melalui RBP sebanyak 6.299 jiwa.

Banyaknya warga duafa yang kami temui menjadi motivasi agar kami terus hadir sebagai jembatan kemanusiaan. Dari penyandang kanker ganas, hingga anak-anak dengan prestasi emas. Betapa indahnya jika bisa terus-menerus memberikan kebahagiaan kepada mereka hingga akhirnya mereka bisa memandang hidup ini dengan positif. Bahwa betapa indahnya merasakan kebaikan hingga akhirnya mereka yang menjadi agen kebaikan-kebaikan itu. Dari diberi menjadi memberi.
Ayo dukung kami berbagi kebaikan!. 

Penulis : Devi Putri Listyasari

Editor : Retno Sulisetiyani