Gugah

Byadmin

Berbagi Tak Melulu Soal Materi

Berbagi bukan hanya tentang uang, harta benda, atau materi. Membantu orang lain dengan kemampuan atau skill yang kita miliki juga salah satu bentuk berbagi dan pastinya punya keuntungan tersendiri.

Seperti yang dilakukan Muhammad Tasyrifin, pemuda 21 tahun asal Martapura ini berbagi dengan caranya sendiri. Ia baru saja menyelesaikan studinya di Akademi Perawat (Akper) Intan Martapura. Dengan latar belakang pendidikannya itulah ia berbagi. Ia menjadi salah satu relawan medis yang membantu program Homecare RBP yaitu menjadi perawat bagi Hanil. Hanil yang kini dalam keadaan lumpuh harus mendapatkan perawatan secara rutin.

“Saya biasanya membantu membersihkan luka dan mengganti kateter (alat bantu buang air kecil) beliau secara rutin,” ujar pemuda yang akrab disapa Tasyrifin itu.

Bagi Tasyrifin menjadi relawan itu memberikan banyak keuntungan. Ia bisa mendapatkan kesempatan belajar dan pengalaman yang pastinya akan ia temui lagi dalam dunia kerja. “Tak ada ruginya menjadi relawan itu, bahkan bagi saya adalah pekerjaan yang paling menguntungkan,” tuturnya.

Tak hanya itu, ia pun mengaku mendapatkan keluarga baru setelah menjadi relawan. Rutinitas membersamai keluarga Hanil rupanya menumbuhkan keakraban di antara mereka. Hal itu membuat Tasrifin tak ingin berhenti membantu walau kini ia sudah menyelesaikan studinya di Akper Intan Martapura.

“Saya ingin terus membantu, apalagi sudah akrab dengan keluarga Pak Hanil,” ujarnya yang kini sudah memakai gelar Ahli Madya di belakang namanya.

Tasyrifin mengungkapkan, awalnya ia diminta oleh Ketua IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa) untuk menjadi relawan program homecare RBP. Meski ragu, akhirnya tawaran tersebut Ia terima.

Pertama kali melakukan perawatan Tasyrifin merasa gugup karena belum tahu kondisi pasien yang akan ditangani, namun kekuatan tekadnya berbuah manis. “Kalau di kampus kan biasanya yang jadi pasien teman sendiri jadi biasa aja. Kalau pasien betulan pasti tekanan mentalnya beda,” tuturnya.

Keberhasilan pertamanya membantu pasien membuatnya lebih percaya diri dan dengan senang hati menjalani pekerjaannya itu. “Alhamdulillah senang rasanya. Dengan terlibat langsung saya jadi merasa lebih percaya diri. Terima kasih kepada RBP atas kesempatan yang diberikan,” ungkapnya lagi.

Tasyrifin yang tinggal bersama orang tuanya di Karang Intan Martapura harus menempuh jarak lebih dari 10 km untuk sampai ke rumah Hanil. Bahkan jika aktivitas di kampus cukup padat, Ia rela pergi ke rumah Hanil pada malam hari. Keputusannya untuk menjadi relawanpun didukung oleh orang tuanya sehingga semua Ia lakukan dengan ringan hati.

Tak ingin merasakan kebahagiaan menjadi relawan itu sendiri, ia juga sering mengajak teman-teman kuliahnya untuk membantu di lapangan. Bergantian menjadi tenaga sukarela pagi pasien duafa.

Sosok Tasyrifin hanya satu dari sekian banyak relawan yang telah bermitra dengan RBP. Mereka mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk membantu sesama. Tak ada imbalan yang mereka terima, bahkan bisa jadi harus berkorban materi saat beraksi. Namun, tak ada gurat lelah di wajah mereka. Yang ada hanya senyum ketulusan hati. Karena berbagi tak melulu soal materi. (hwf/en)

Byadmin

Homecare : Jalan Panjang Hanil Jalani Pengobatan

Sinergi Program : RBP – Dinkes Kota Banjarbaru – IDI Kota Banjarbaru

Siapapun di dunia ini tentu tidak ada yang ingin hidup dalam kondisi cacat atau lumpuh. Namun terkadang keadaan tidak bisa diatur sesuai kehendak diri. Seperti yang dialami Hanil, lelaki 45 tahun asal Kecamatan Cempaka Banjarbaru, kini hanya bisa terbaring di atas kasur karena mengalami patah tulang belakang akibat kecelakaan saat bekerja. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2016 yang lampau. “Waktu itu saya tertimpa bongkahan bangunan dari atas saat sedang bekerja,” kenang Hanil saat ditanya kronologis kejadian.

Setelah itu Hanil sempat dirawat di rumah selama lima hari sebelum dibawa ke rumah sakit. “Kami sempat bolak balik ke rumah sakit sebanyak empat kali, tapi karena kondisi keuangan semakin menipis akhirnya dirawat di rumah saja,” ujar Sahni (44), istri Hanil. Sejak suaminya tak bekerja, Sahni memang hanya mengandalkan tabungan dan pemberian anak untuk kebutuhan sehari-hari.

Atas bantuan seorang dermawan, Hanil akhirnya mendapatkan BPJS dan melanjutkan pengobatan ke rumah sakit. Setiap dua minggu sekali Hanil harus mengganti kateter (alat buang air kecil). Hal ini membuat keluarga kerepotan dan akhirnya pada bulan November 2016 meminta bantuan kepada RBP. Sejak saat itulah RBP melakukan pendampingan pengobatan untuk Hanil.

Dokter Fatmawati Spesialis Syaraf yang menangani Hanil beberapa bulan terakhir menjelaskan bahwa yang bisa diupayakan untuk saat ini adalah terapi untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencegah komplikasi. “Kemungkinan untuk pemulihan dari sisi kecacatan memang jelek, jadi sekarang yang ditangani adalah nyeri supaya dia bisa hidup lebih nyaman dan mencegah komplikasi akibat duduk atau tirah baring lama seperti decubitus,” ungkapnya.

Fatmawati menyayangkan penanganan yang cukup terlambat sejak awal kejadian. “Kalau saja sejak awal ditangani secara cepat dan optimal, mungkin kemungkinan pemulihan dari cacat bisa lebih baik,” imbuhnya.

RBP sendiri melakukan peran pendampingan untuk meringankan beban Hanil dan keluarga. “Hanil adalah kepala keluarga, sedangkan istrinya mau tidak mau harus melakukan perawatan harian dan menjaganya, sehingga tak bisa bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Kami lakukan pendampingan dalam bentuk bantuan kunjungan dokter dan berobat rutin,” terang Direktur RBP Dokter Diauddin.

Diauddin menyampaikan bahwa RBP tidak bekerja sendiri. Banyak mitra peduli yang bergandengan dalam upaya menuntaskan masalah sosial kemanusiaan tersebut. “Alhamdulillah ada para relawan medis dari Akper Intan Martapura yang secara sukarela membantu melakukan upaya perawatan rutin ke rumah Hanil. Selain itu untuk mengantar ke RS juga dibantu ambulan dari Masjid Agung Al Munawarah Banjarbaru,” paparnya.

Sinergi seperti itu, lanjut Diauddin, menjadi solusi yang tepat bagi kondisi Hanil. “Bagaimanapun nanti, yang jelas upaya terbaik yang akan kita lakukan demi kemanusiaan,” imbuhnya.

Ya. Tentu RBP tak bisa bergerak sendiri. RBP memerlukan dukungan semua pihak dalam mengemban amanah dan berupaya menyelesaikan masalah sosial kemanusiaan di sekitar kita. Dengan kedermawanan yang terulur maka kebaikan demi kebaikan akan terus terwujud di sekitar kita. Aamiin. (en)

 

 

Byadmin

Merajut Kepedulian dalam Kebersamaan

Catatan Perjalanan RBP Bersama Radar Banjarmasin
Oleh : dr. Diaudin (Direktur Radar Banjar Peduli)

Tahun 2016 menjadi tahun lompatan besar bagi Radar Banjar Peduli (RBP). Tak dipungkiri, Radar Banjarmasin (RB) sebagai perusahaan yang selama ini menaungi RBP juga menjadi salah satu barometer untuk semakin berbenah. Ibarat adik dalam sebuah keluarga, kami selalu tidak ingin terlihat jomplang dari kakaknya. Banyak program inovatif yang lahir dari kebersamaan yang semakin erat bersama RB.

RB semakin menguatkan dirinya sebagai Koran lokal yang terdepan. RBP pun tak ingin kalah langkah mencoba bergandengan dengan RB membuat inovasi program sosial, salah satunya Food for Charity. Sebuah program penggalangan dana sosial melalui kerjasama dengan berbagai restoran hotel di Banjarmasin dan Banjarbaru. Dukungan yang besar dari RB membawa hasil yang luar biasa. Rantai kebaikan yang terjalin ibarat efek domino tak berkesudahan. Langkah RBP sebagai lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan semakin besar.
Hingga akhirnya aksi sosial tersebut berhasil menggalang dana mencapai Rp 18juta selama sekitar dua bulan saja. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui program pendidikan untuk anak-anak duafa. Sampai sekarang pun Food for Charity telah menjadi warna khas dalam aksi-aksi sosial yang RBP lakukan.

Seperti yang dikatakan salah satu pendiri RBP, Ersis Warmansyah Abas tahun 2016 lalu dalam catatan memoar 12 tahun RBP, RB merupakan garansi bagi keberadaan RBP. Apapun analisisnya, tanpa RB, RBP itu tidak ada apa-apanya. Keduanya telah hadir di Banua sebagai satu kesatuan meski dengan wajah yang berbeda. RB telah mendedikasikan diri sebagai media yang menghadirkan konten-konten berita terbaik. Sedangkan RBP bergerak melalui aksi-aksi sosial demi mengangkat harkat kaum duafa.

Sejarah telah mencatat ketika di usia belasan tahun Hamka, Mohammad Natsir dan Bung Karno telah menjadi pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa, maka harapan besar juga tersemat untuk 16 tahun kehadiran RB di Kalimantan Selatan. Secara tak langsung pun menjadi harapan tersendiri bagi RBP yang 3 tahun lebih muda.
Selamat hari jadi ke-16 Radar Banjarmasin. Semoga semakin melaju menjadi lokomotif peradaban Banua.