Gugah

Byadmin

Hubungan Anak Dan Orangtua

Oleh Ibnu Sina

Kita bersyukur Kota Banjarmasin pada Hari Keluarga Nasional 2018 mendapat penghargaan Manggala Karya Kencana, penghargaan tertinggi bidang keluarga berencana dan pembangunan keluarga dari pemerintah pusat melalui BKKBN.

Membangun keluarga tidak terlepas dari hubungan yang baik antara orangtua dan anak. Banyak hal/dalil yang memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orangtua, diantaranya :

Pertama, Allah menyandingkan perintah untuk beribadah kepadaNya dengan keharusan berbakti kepada orangtua.

Kewajiban paling besar yang harus ditunaikan oleh hamba setelah kewajibannya kepada Allah dan RasulNya adalah kewajiban dalam memenuhi hak orangtua. Allah SWT berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu.” (QS. Al Isra` [17] : 23).

Kedua, Allah memerintahkan kita untuk selalu berbuat baik dalam berinteraksi dengan orangtua. Sekalipun mereka memaksamu, untuk menyekutukan Allah.

Allah SWT berfirman : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergauilah keduanya dengan baik”. (QS. Luqman [31] : 15).

Nabi Ibrahim mendakwahi ayahnya agar beribadah kepada Allah, justru ayahnya  mendakwahi supaya beliau menyembah berhala-berhala. Sang bapak marah dan mengancam, namun Nabi Ibrahim meresponnya secara lemah-lembut dengan berkata : “Semoga keselamatan bersamamu. Aku akan memohonkan ampun kepada Rabb-ku untukmu”. (QS. Maryam [19] : 47).

Ketiga, Nabi mengutamakan bakti kepada orangtua atas jihad fii sabilillah.

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Mendirikan shalat pada waktunya.” Aku bertanya kembali, “Kemudian apa?” Jawab Beliau, “Berbakti kepada ke orangtua,” lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, “Kemudian?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari).

Dikisahkan dari Mua’wiyah bin Jahimah, ia bercerita: Aku bersama Nabi untuk meminta pertimbangan dalam berjihad. Maka Beliau bertanya, ”Apakah kedua orangtuamu masih hidup?” Aku jawab,”Ya (masih hidup)!” Beliau berkata,”Temanilah mereka berdua. Sesungguhnya surga berada di bawah telapak kaki keduanya.”.

Keempat, Perintah berbakti kepada orangtua merupakan titah ilahi yang sudah berlaku pada umat sebelumnya.

Firman Allah SWT : “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin…” (QS. Al Baqarah [2] : 83).

Kelima, Allah menyanjung para nabi karena telah berbuat baik dengan baktinya kepada orangtua.

Secara khusus, Allah menyebut nama Nabi Yahya atas baktinya kepada kedua orangtuanya yang telah tua renta. Allah SWT berfirman : “Dan banyak berbakti kepada kedua orangtuanya dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam [19] : 14).

Begitu pula Allah memuji Nabi Isa, lantaran beliau telah melayani sang ibu dengan sepenuh hati, dan bahkan merasa mendapat kehormatan dengan sikapnya itu. Allah SWT berfirman : “Dan berbakti kepada ibuku dan Dia (Allah) tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32).

Keenam, Berbakti kepada orangtua, akan melahirkan banyak kebaikan, terangkatnya musibah, lenyapnya masalah dan kesedihan.

Sebagai mana kisah tiga orang yang terperangkap di sebuah goa karena tertutup sebongkah batu besar. Mereka berdoa dan bertawasul dengan amal shalih yang pernah mereka kerjakan. Salah seorang di antaranya, bertawassul dengan baktinya pada orangtua.

Ketujuh, Bakti kepada orangtua tidak berhenti, meskipun kematian telah menjemput mereka.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasul SAW bersabda: “Ada seorang lelaki yang kedudukannya terangkat di surga kelak.” Ia pun bertanya,”Bagaimana ini?” Maka dijawab: “Lantaran istighfar anakmu”.

Kedelapan, Rasulullah menghubungkan kedurhakaan kepada kedua orangtua dengan berbuat syirik kepada Allah.

Rasul SAW bersabda : “Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Nabi bersabda, “(Yaitu) berbuat syirik, durhaka kepada orangtua.” (HR Bukhari).

Rasul memberi peringatan: “Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orangtua. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat).” (HR Bukhari)

Membuat menangis orangtua juga terhitung sebagai perbuatan durhaka. Hadits Rasul SAW : “Tangisan kedua orangtua termasuk kedurhakaan dan dosa besar”. (HR Bukhari).

Allah SWT berfirman : “Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ahh” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Isra` [17] : 23).

Allahu a’lam bish-shawab

Byadmin

8 Hal Tentang Qurban

Oleh Ibnu Sina

Kita bersyukur pada Allah atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang serta nikmat yang begitu besar yaitu berada dalam keadaan iman dan islam. Alhamdulillah, kita telah berada di pertengahan bulan Dzulqaidah dan sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, di mana keutamaannya seperti yang dikatakan oleh Nabi SAW sebagai waktu terbaik untuk beramal shalih.

Disebutkan dalam hadits : “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun darinya.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727 dan Ahmad no. 1968)

Juga disebutkan dalam riwayat Abu Daud bahwa Nabi SAW pernah melakukan puasa sembilan hari di awal Dzulhijjah, lebih-lebih lagi puasa hari Arafah yang menghapuskan dosa selama dua tahun.

Ada suatu ibadah yang mulia yang diperintahkan pada bulan Dzulhijjah yaitu ibadah Qurban.

Berikut 8 hal terkait masalah qurban. Moga dengan mengetahuinya qurban kita bisa sesuai dengan tuntunan.

Pertama, Hendaklah qurban tetap dilakukan bagi yang mampu melakukannya. Qurban adalah ibadah yang disunnahkan, dikatakan sunnah muakkad oleh para ulama dan ditujukan bagi yang mampu berqurban. Imam Syafi’i sendiri yang menganggap hukum berqurban itu sunnah dalam hal ini menyatakan bahwa yang mampu jangan sampai meninggalkannya.

Qurban dilakukan setiap tahunnya, bukan sekali seumur hidup. Jadi, bagi yang memiliki kelebihan rezeki setiap tahunnya, hendaklah berqurban.

Kedua, qurban adalah suatu bentuk sedekah. Bahkan berqurban itu lebih utama dari sedekah yang senilai. Kita pun tahu bahwa dengan bersedekah harta kita semakin berkah. Bersedekah tidaklah pernah mengurangi harta. Rasul SAW bersabda : “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558).

Ketiga Allah akan mengganti harta yang kita gunakan untuk berkurban. Allah SWT berfirman : “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ [34] : 39).

Keempat, Qurban dilakukan dengan ikhlas untuk mencapai takwa. Hendaklah qurban dilakukan dengan ikhlas untuk menggapai ridha Allah, bukan untuk mengejar strata sosial, bukan ingin mencari pujian manusia, bukan ingin sum’ah dan riya’. Allah SWT berfirman : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj [22] : 37).

Kelima, Hati-hati melakukan amalan yang tidak ada tuntunan dalam qurban. Dalam ibadah qurban mesti dilakukan sesuai tuntunan. Jika tidak, akan membuat qurban tersebut menjadi tidak diterima.

Keenam, dalam aturan qurban sapi bisa dengan patungan tujuh orang. Adapun kambing hanya boleh dari satu orang. Status yang ada jika melebihi dari aturan adalah daging biasa, bukan daging qurban.

Ketujuh, Qurban disembelih pada waktunya. Qurban mulai disembelih setelah shalat Idul Adha dan dua khutbah, lalu berakhir ketika hari tasyriq yang terakhir (13 Dzulhijjah) saat tenggelamnya matahari.

Kedelapan, Yang biasanya dilanggar adalah sebagian dari hasil qurban diperjualbelikan. Seperti jual beli kulit yang terjadi di tengah-tengah aktivitas qurban di negeri kita. Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan qurban, maka tidak ada qurban baginya.” (HR. Al-Hakim. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adz Dzahabi mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat Ibnu ‘Ayas yang didha’ifkan oleh Abu Daud. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1088)

Maka hendaklah berqurban bagi yang punya kelapangan rezeki. Kemudian dilakukan ikhlas, untuk menggapai ridha Allah. Lalu hendaklah qurban dilakukan sesuai dengan tuntunan yang berlaku sehingga qurban tersebut memperoleh pahala yang besar. Kalau tidak demikian, statusnya hanya menjadi daging biasa.

Semoga Allah menerima setiap amalan yang berqurban di tahun ini. Bagi yang belum berqurban, moga di tahun berikutnya Allah beri taufik untuk berqurban.

Allahu a’lam bish-shawab

Byadmin

Haji dan dan Kurban: Kesatuan Akidah dan Tujuan Hidup

Oleh: Yohandromeda Syamsu

Ibadah haji adalah merupakan lambang dan pemaduan jiwa dan semangat tauhid, yang menggalang kesatuan akidah dan tujuan hidup kaum muslimin.Dalam bahasa yang satu dan sama, ratusan ribu jamaah haji waktu wukuf di Arafah memakai pakaian yang sama, seragam putih, mengumandangkan ucapan yang sama yang keluar dari lubuk hati yang suci (yang artinya): “Aku sambut panggilanMu, Ya Allah. Aku sambut perintahMu. Aku sambut panggilanMu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan seluruh kekuasaan adalah milikMu sendiri. Tiada sekutu bagiMu.”

Perilaku dan ucapan itu melambangkan dan meningkatkan semangat Tauhid, mempertebal keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa, yang tunggal dalam iradat dan qudrat-Nya. Perjuangan dan pengorbanan dalam melaksanakan ibadah haji itu, bergumul dengan kesulitan demi kesulitan, kekurangan demi kekurangan, semua itu semakin memantapkan jiwa manusia untuk mewujudkan kesatuan tujuan hidup, yaitu berbakti kepada Yang Maha Esa dan berjuang untuk mencapai mardhatillah, ridha Ilahi.

Kurban, dalam rangkaian ibadah haji tersedia pula sarana amaliah yang bukan saja mengandung nilai-nilai ubudiyah, tapi juga mempunyai aspek-aspek sosiologis, kemasyarakatan (ijtima’iyah), yaitu menyembelih hewan, dimana daging-dagingnya itu disediakan untuk menyantuni dan menggembirakan orang-orang fakir dan miskin, umumnya kaum yang tidak berpunya.

Para jama’ah yang sedang melakukan ibadah haji melaksanakan penyembelihan hewan itu di kota Mina pada tanggal 10 Zulhijjah. Berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus ribu hewan (kambing) yang disembelih pada hari itu. Daging-dagingnya diserahkan kepada kaum fakir-miskin yang datang mengambilnya, malah dalam prakteknya, persediaan daging melimpah-limpah, sedang yang membutuhkan (konsumen) sedikit, sehingga daging-daging yang tersisa banyak yang menjadi busuk (dahulu), tapi untunglah sekarang, pemerintah Arab Saudi sudah melakukan usaha pengawetan daging-daging itu, yaitu dengan mengalengkannya menjadi daging kalengan (seperti misalnya kornet, dan sebagainya), yang dikoordinir dan diproduksi dengan bantuan beberapa negara tetangga terdekat, agar penyembelihan hewan kurban tidak menjadi mubazzir atau sia-sia. Dan bahkan konon kabarnya daging-daging itu juga dikirim ke berbagai negara miskin yang penduduknya sangat membutuhkan bahan makanan. Subhanallah!
Penyembelihan hewan oleh para jamaah haji di Mina itu dinamakan ‘had-yu’.

Adapun penyembelihan hewan bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji dinamakan Kurban, yang dianjurkan untuk dilakukan sesudah shalat Idul Adha sampai akhir hari tasyrik, tiga hari kemudian.

Ada dua macam nilai-nilai atau keuntungan yang dapat dicapai oleh orang-orang yang melakukan (penyembelihan) kurban itu. Pertama, dengan jalan menyembelih kurban itu ia mendekatkan diri (berbakti) kepada Allah SWT dan dalam kehidupan di akhirat kelak akan menerima pahala yang berlipat ganda. Begitu besar pahalanya, sampai-sampai dalam satu hadist dilukiskan, bahwa darah hewan yang disembelih itu, tanduknya dan bulunya semuanya merupakan amal kebajikan yang akan ditimbang pada hari kiamat. Ada juga yang mengatakan bahwa di akhirat kelak, seorang yang rajin melakukan kurban, akan dipertemukan kembali dengan hewan-hewan (kambing) yang dikurbankan (hewan-hewan itu akan dibangkitkan kembali dan dihidupkan kembali oleh Allah secara utuh), sehingga hewan-hewan itu akan menjadi hewan peliharaannya (yang disayanginya) di akhirat kelak. Bahkan seseorang yang mengurbankan unta, sapi, dan sebagainya akan dipertemukan kembali dengan hewan-hewan tersebut, sehingga ia akan mempunyai hewan tunggangan (unta, sapi, dsb) di akhirat kelak.

Kedua, dengan menyembelih hewan kurban itu, maka dapatlah dipupuk dan dikembangkan pembinaan masyarakat yang berjiwa keadilan sosial, karena kaum fakir miskin dengan menerima daging-daging kurban itu merasa mendapat santunan dan perhatian.Seorang muslim yang berkurban berarti telah membuat sebuah investasi untuk kehidupan di akhirat, selain ia juga membuktikan keberadaannya sebagai manusia yang berjiwa sosial di mata masyarakat dan juga memperoleh kemuliaan di sisi Tuhan.Selain dari itu, dengan tindakan amaliahnya itu, ia mengembangkan pula nilai-nilai rohaniah dalam kehidupan pribadinya, yaitu meningkatkan semangat berkorban, memberikan sesuatu dari karunia Ilahi yang diterimanya, kepada orang lain yang membutuhkannya, suatu hal yang merupakan sikap jiwa dan mental yang diperlukan dalam kehidupan ini, terutama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Hendaknya kesempatan berkurban ini tidak saja dilakukan pada saat hari raya Idul Adha, namun juga disemangati dalam kehidupan sehari-hari dan juga hendaknya tidak diabaikan oleh kaum muslim, sebagai ungkapan rasa syukur atas kelapangan rezeki yang telah diberikah Allah SWT.Dalam berkurban sebaiknya tidak ditunda-tunda, karena siapa yang tahu apakah tahun depan kita masih diberikan umur panjang oleh Allah. Maka berkurbanlah hari ini demi kehidupanmu di akhirat kelak! []

Byadmin

Hikmah Di Balik Kurban

Oleh Ibnu Sina

Sungguh selalu ada hikmah di setiap perintah yang Allah SWT serukan kepada kita umatnya, meskipun jika dipandang berat menjalaninya. Begitulah perintah berqurban yang didasari kepada kisah sepasang ayah dan anak nan sholeh, nabiyullah Ibrahim dan putranya Ismail AS.

Pada hakekatnya berqurban adalah wajib bagi yang mampu. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW : “Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : Siapa yang memperoleh kelapangan untuk berkurban, dan dia tidak mau berkurban, maka janganlah hadir di lapangan kami (untuk shalat Ied).” [HR Ahmad, Daru qutni, Baihaqi dan al Hakim].

Berikut delapan hikmah dibalik menyembelih hewan kurban :

Pertama, Qurban Pintu Mendekatkan Diri Kepada Allah

Sungguh ibadah qurban adalah salah satu pintu terbaik dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia juga menjadi media taqwa seorang hamba. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Maidah [5] : 27)

Kedua, Berqurban menjadi bukti ketaqwaan seorang hamba.

Allah SWT berfirman : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj [22] : 37)

Ketiga, Berkurban tanda syukur kepada Allah atas nikmat kehidupan yang diberikan

Keempat, Sebagai sikap Kepatuhan dan Ketaaan pada Allah

Allah SWT berfirman : “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al Hajj [22] : 34).

Kelima, Sebagai Saksi Amal di Hadapan dari Allah

Ibadah qurban mendapatkan ganjaran yang berlipat dari Allah SWT, dalam sebuah hadits disebutkan, “Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Juga kelak pada hari akhir nanti, hewan yang kita qurbankan akan menjadi saksi. Rasul SAW bersabda : “Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dgn tanduk-tanduknya, kuku-kukunya & bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” (HR. Ibnu Majah No. 3117).

Keenam, Membedakan dengan Orang Kafir

Sejatinya qurban (penyembelihan hewan ternak) tidak saja dilakukan oleh umat Islam setiap hari raya adha tiba, tetapi juga oleh umat lainnya. Sebagai contoh, pada zaman dahulu orang-orang Jahiliyah juga melakukan qurban. Hanya saja yang menyembelih hewan qurban untuk dijadikan sebagai sesembahan kepada selain Allah.

Firman Allah SWT : “Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al – An’am [6] : 162-163)

Ketujuh, Ajaran Nabi Ibrahim AS

Berkurban juga menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim AS yang ketika itu Allah memerintahkan untuk menyembelih anak sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).

Rasul SAW Bersabda : “Berkata para sahabat Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, hewan qurban apa ini?” Beliau bersabda: “Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim.” Mereka berkata: “Lalu pada hewan tersebut, kami dapat apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu ada satu kebaikan.” Mereka berkata: “Bagaimana dengan shuf (bulu domba)?” Beliau bersabda: “Pada setiap bulu shuf ada satu kebaikan.” (HR. Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya No. 3127)

Kedelapan, Berdimensi Sosial Ekonomi

Ibadah qurban juga memiliki sisi positif pada aspek sosial. Sebagaimana diketahui distribusi daging qurban mencakup seluruh kaum muslimin, dari kalangan manapun ia, fakir miskin hingga mampu sekalipun.

Sehingga hal ini akan memupuk rasa solidaritas umat. Jika mungkin bagi si fakir dan miskin, makan daging adalah suatu yang sangat jarang. Tapi pada saat hari raya Idul Adha, semua akan merasakan konsumsi makanan yang sama.

Hadits dari Ali bin Abu Thalib : ”Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya.”

Allahu a’lam bisshawab.

Byadmin

Keutamaan Sedekah

Oleh Ibnu Sina

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun [64] : 15).

Rasul SAW bersabda : “Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah” (HR. Muslim).

Di antara keutamaan sedekah adalah sebagai berikut:

Pertama, Sedekah adalah bentuk ketundukan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

Allah SWT berfirman : “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim [14] : 31)

Firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2] : 254).

Kedua, Seorang Mukmin berada dalam naungan sedekahnya pada Hari Kiamat kelak.

Dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda : “Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya : … Seseorang bersedekah dengan satu sedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya…” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031).

Ketiga, Sedekah itu akan menghindarkan dari musibah dan menjauhkan dari kematian yang buruk.

Rasul SAW bersabda : … sedekah yang tersembunyi itu akan memadamkan amarah Rabb, …” (HR. Ath-Thabrani)

Dari Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya sedekah itu dapat memadamkan amarah Rabb dan menghindarkan diri dari kematian yang buruk.”

Keempat, Sedekah memanjangkan umur.

Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya…” (HR. Thabrani).

Kelima, Pahalanya akan dilipatgandakan

Allah SWT berfirman :Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (shodaqoh) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugerahNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqaroh [2] : 261).

Keenam Menjadi amal yang tidak akan putus sampai mati.

Nabi Saw bersabda : “Apabila anak cucu Adam itu mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara yaitu Sedekah jariyah, anak yang saleh yang mendoakan ampunan untuknya dan ilmu yang bermanfaat.” (HR. Abu Hurairah).

Ketujuh, Terhindar dari Neraka

Nabi SAW bersabda : “Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma”. (Muttfaqun ‘alaih).

Kedelapan, Allah memberikan ganti kepada orang yang memberi sedekah

Allah berfirman : “…barang apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ [34] : 39)

Ini adalah sebuah kabar dari Allah kepada para pemberi sedekah dan pemberi nafkah, bahwa Allah akan menggantinya untuk mereka.

Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda : “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepada manusia, Wahai anak cucu Adam! Berinfaklah, niscaya Aku akan memberi rizki atas kalian’.” (HR. Muslim)

Demikianlah beberapa keutamaan yang akan di dapat oleh orang-orang yang bersedekah. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang gemar bersedekah sehingga kita mendapat keutamaan-keutamaan tersebut. (Allahu a’lam bish-shawab).

Byadmin

Pandangan Islam Tentang Sepakbola

Oleh Ibnu Sina

Hampir semua orang di berbagai belahan dunia mengenal sepakbola, olahraga yang paling digemari oleh banyak orang. Tadi pagi, kita disuguhui perhelatan sepakbola besar yaitu Final Piala Champhion Eropa antara Real Madrid melawan Atletico Madrid.

Sepakbola adalah salah satu olahraga yang sangat terkenal bahkan di seluruh pelosok negeri. Tidak sedikit orang yang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain, karena sepakbola mempunyai efek yang boleh dipertimbangkan seperti membuat tubuh anda bugar, menghilangkan rasa malas dan bisa meningkatkan stamina tubuh. Olahraga ini banyak digemari karena memang mudah cara melakukannya.

Namun bagaimana pandangan Islam tentang sepakbola? Berikut beberapa pendapat ulama mengenai sepakbola. Dalam kitab Musytaq fi Hukmil Lahwi wal La’bi was Sibaq disebutkan, “Para ulama syafiah mengisyaratkan diperbolehkannya bermain sepakbola, jika dilakukan tanpa taruhan (judi). Dan, mereka mengharamkannya jika pertandingan sepakbola dilakukan dengan taruhan.” Dengan demikian, hukum bermain sepakbola dan yang serupa dengannya adalah boleh, jika dilakukan tanpa taruhan (judi).

As-Sayyid Ali Al-Maliki dalam kitabnya Buluqhal Uminiah halaman 224 menjelaskan, “Dalam pandangan syariat, hukum bermain sepakbola secara umum adalah boleh dengan dua syarat. Pertama, sepakbola harus bersih dari unsur judi. Kedua, permainan sepakbola diniatkan sebagai latihan ketahanan fisik dan daya tahan tubuh sehingga si pemain dapat melaksanan perintah sang Khalik yaitu beribadah kepada-Nya dengan baik dan sempurna.”

Allah SWT berfirman : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Az Zariyat [51] : 56).

Syekh Abu Bakar Al-Jaizairi dalam karyanya Minhajul Muslimin hal 315 berkata, “Bermain sepakbola boleh dilakukan dengan syarat meniatkannya untuk daya tahan tubuh, tidak membuka aurat (bagian paha dan lainnya), serta si pemain tidak menjadikan permainan tersebut dengan alasan menunda shalat. Selain itu, permainan tersebut harus bersih dari gaya hidup glamor yang berlebihan, perkataan buruk dan ucapan sia-sia, seperti celaan, cacian dan sebagainya.”

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”. (HR. Bukhari No. 6.475 dan Muslim No. 74). Jika kita dilarang dari berucap kecuali yang baik-baik saja, maka terlebih lagi perbuatan.

Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan :

Pertama, Tidak membuka Aurat, Aurat pria adalah antara pusar hingga lutut. Artinya antara pusar dan lutut tidak boleh dipandang. Nabi SAW bersabda : “Karena di antara pusar dan lutut adalah aurat.” (HR. Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan).

Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Ubaikan, ulama senior di Saudi Arabia ditanya mengenai hukum bermain sepakbola oleh orang awam dan kapan terlarang, lalu apa batasan pakaian yang dibolehkan. Beliau hafizhohullahmenjawab, “Bermain sepakbola itu boleh. Akan tetapi harus menutup aurat antara pusar dan lutut, wallahu a’lam.

Kedua, Bermain sepakbola tidak dengan taruhan, Nabi SAW hanya membolehkan musabaqoh (perlombaan) dengan taruhan pada perkara yang dapat menegakkan Islam, yaitu sebagai sarana untuk latihan berjihad. Beliau bersabda : “Tidak ada taruhan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.” (HR. At Tirmidzi No. 1.700, An Nasa’i No. 3.585, Abu Daud No. 2.574, Ibnu Majah No. 2.878. Dinilai Shahih oleh Syaikh Al Bani).

Sebagian ulama memperluas lagi perlombaan yang dibolehkan (dengan taruhan) yaitu perlombaan menghafal Al Qur’an, hadits dan berbagai macam ilmu agama. Karena menghafal di sini dalam rangka menjaga langgengnya ajaran Islam sehingga bernilai sama dengan lomba pacuan kuda atau lomba memanah.

Ketiga, Tidak menyia-nyiakan waktu shalat. Amirul Mukminin, Umar bin  Khattab RA mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Ash Sholah, Ibnul Qayyim. Hal. 33, Darul ‘Aqidah)

Keempat: Betujuan untuk membugarkan badan.

Kelima: Tidak sampai menyia-nyiakan waktu, Nabi SAW bersabda :Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At Tirmidzi No. 2.318, shahih lighoirihi kata Syaikh Al Bani).

Keenam: Jangan mudah emosi, Allah Ta’ala berfirman : “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat [41] : 34-35).

Byadmin

Ritual Bulan Suci

Oleh Erwin D Nugroho

RAMADAN tiba. Bulan di mana segala berkah dilimpahkan bersama pintu-pintu surga yang dibuka, pahala dilipatgandakan, kebaikan-kebaikan tercurah dan kejahatan dihalang-halangi. Inilah bulan di mana malaikat-malaikat berdatangan lebih banyak, mendekat di sekeliling kita, mengamini setiap munajat dan doa, menjaminkan ijabah bagi segala nazar dan asa.

Suatu ketika, sebuah berita mengundang tawa. Dalam tayangan kriminal televisi swasta, seorang tersangka pembunuhan membela diri di hadapan polisi. Dia bilang, pembunuhan itu memang benar terjadi. Tetapi spontan dan di luar kendali kesadaran. “Saya seperti kerasukan iblis.”

Berita lain tak kalah uniknya. Seorang tersangka pencabulan anak di bawah umur, menyebut perbuatannya itu dia lakukan karena godaan si setan laknat bin terkutuk. “Saya khilaf. Terlalu mudah mengikuti rayuan setan.”Duh, andai saja bisa diberi hak jawab, mungkin si setan akan berkata dengan lantang; “Kamu yang cabul kok aku yang disalahkan.’

Sekarang Ramadan. Meski ada jaminan setan-iblis dibelenggu, kriminal tetap merajalela. Kejahatan masih saja terjadi. Televisi dan koran-koran seperti tak kehabisan bahan menayangkan berita jenis ini. Tentu saja juga korupsi, kebohongan-kebohongan, kemunafikan dan tipu-daya.

Bisa jadi memang ada setan-iblis yang “lolos” saat “razia” menjelang Ramadan, entah sembunyi ketika mau dimasukkan kerangkeng atau melarikan diri setelahnya. Tetapi kemungkinan terbesarnya adalah ini; manusia diberi hati dan pikiran, di mana menjadi baik atau buruk adalah pilihan. Tak peduli bulan apa pun juga, sebab iblis dan setan sebenarnya provokator saja.

Di saat pelajaran paling berharga dalam ibadah puasa adalah menahan hawa nafsu, kita justru disuguhi pemandangan sebaliknya; dibandingkan hari biasa, Ramadan mengundang lebih banyak orang memadati pasar, mal dan plaza, berbelanja macam-macam kebutuhan, memborong bertroli-troli barang dan menghabiskan bergepok uang. Haruskah, untuk urusan semacam ini, kita lagi-lagi menyalahkan setan?

Peradaban membuat manusia menjadi semakin konsumtif. Ukuran kekhusyukan ibadah puasa bukan lagi pada seberapa seseorang bersikap prihatin dan meresapi makna lapar-dahaga, sebagai bentuk solidaritas atas betapa banyak orang di tempat lain harus berpuasa sepanjang tahun karena dibelit kemiskinan, tetapi malah pada kualitas menu sahur dan varian makanan di waktu berbuka.

Repotnya, di tengah konsumsi dan belanja yang meningkat berlipat-lipat itu, produktivitas justru menurun. Jam kerja pegawai negeri dikurangi, dengan alasan butuh waktu untuk menyiapkan saat berbuka puasa, seperti halnya perlu bangun lebih telat karena sahur dan salat subuh telah memotong jatah istirahat. Hidup seolah berubah. Banyak orang menjadi manja — tentu untuk menghindar menyebutnya menjadi malas.

Masjid-masjid penuh orang tidur selepas zuhur. Bangun ketika azan asar mengumandang, salat berjamaah, lantas tidur lagi sampai menjelang berbuka. Meski tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, ada pahala yang lebih besar lagi, tentu saja, bagi orang-orang yang tetap beraktivitas memakmurkan bumi di tengah shaum-nya yang suci.

Gang-gang permukiman dipadati cengkerama bocah-bocah bermain petasan. Remaja-remaja sibuk dengan permainan kekanak hingga menjelang tengah malam. Maklum besok jam masuk sekolah ditoleransi molor hingga satu jam. Pemuda-pemuda nongkrong main kartu sambil menunggu sahur. Sebagian yang lain menunggang motor kebut-kebutan di jalanan.

Sikap manusia memang kerap unik. Selama puasa, dalam perbincangan sehari-hari, sering kita dengar ungkapan, misalnya, “nggak boleh bohong ya, lagi puasa kan?”. Atau sebuah iklan televisi di mana seorang anak kecil berkata pada ibunya; “Mama, orang puasa kan harus sabar ya, Ma.” Padahal, puasa atau tidak puasa, kita tetap saja tak boleh bohong. Puasa atau tidak puasa, kita ya mesti sabar.

Ramadan berulang setiap tahun bersama macam-macam keunikan. Orang-orang mendadak gemar makan wadai (kue/kudapan) dan pasar wadai pun bertebaran di setiap sudut kota. Masjid-masjid dan musala tiba-tiba penuh dengan jamaah meskipun biasanya hanya di awal-awal dan dijamin terus berkurang menjelang lebaran. Anak-anak yatim kebanjiran hadiah dan panti-panti asuhan kewalahan menerima order acara buka puasa bersama. Ustaz-ustaz sibuk memenuhi undangan mengisi kultum di kampung-kampung.

Para politikus menggelar acara di sekretariat partai, berbagi takjil dan makanan buka puasa sembari menitip pesan-pesan politik. Pejabat-pejabat roadshow safari Ramadan hingga ke pelosok-pelosok dengan senyum dibuat-buat seolah bebas masalah dan ahli ibadah. Para saudagar kaya bikin acara buka puasa di ballroom hotel yang suasananya lebih mirip pesta makan malam bertitel gala dinner.

Tempat-tempat belanja menabur diskon gede-gedean. Jauh sebelum lebaran, iming-iming harga murah membuat banyak yang ngiler lantas mengutang dengan harapan dua pekan ke depan bisa dibayar dengan jatah THR. Kampanye produk menghubungkan semua promosi dengan keajaiban puasa; iklan-iklan televisi, reklame-reklame di jalan raya dan brosur-brosur penganjur hedonisme yang tercecer di depan rumah-rumah kita.

Ramadan akhirnya disambut bukan saja sebagai bulan penuh magfirah, tetapi juga ritual yang tak melulu berhubungan dengan religi; ada kepentingan politik, juga bisnis, yang bagi banyak pihak justru semakin membuktikan bahwa sang holy month memang benar-benar penuh berkah.

Selamat menikmati indahnya puasa. Selamat berjuang menuju fitrah. Maaf lahir batin.*

Byadmin

OBRAL KEBAIKAN DI BULAN RAMADHAN

Oleh : Ibnu Sina

Ibadah di Bulan Ramadhan ini tidak hanya puasa. Jamuan spesial lainnya yaitu :

Pertama, Jamuan jutaan Kebaikan Ramadhan

Adalah dengan kita membaca Al Qur’an minimal 1 juz perhari. Dari Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan : “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat….” (HR. At-Tirmidzi).

Sederhananya : 1 juz sekitar 7.000 huruf, dikalikan dengan 10 kebaikan x pahala 70 kewajiban = 4.900.000 kebaikan. Jika kita mampu mengkhatamkan 1 kali saja di Bulan Ramadhan, maka biidznillah kita meraih 147 juta kebaikan.

Kedua, Jamuan Terhindar dari Neraka dan Penyakit Nifaq

Jamuan ini akan kita raih jika kita menjaga shalat lima waktu di masjid berjamaah dengan mendapati takbiratul ihram. Rasul SAW bersabda : “Barangsiapa yang shalat karena Allah 40 hari secara berjamaah dengan mendapatkan takbiratul ihram, maka ia dipastikan akan terhindar dua hal : api neraka dan penyakit nifaq atau munafiq”

Ketiga, Jamuan 30 Kali Haji dan Umrah

Rasul SAW bersabda : “Barangsiapa shalat subuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidzi).

Keempat, Jamuan Doa Tak Tertolak

Dalam hadits Nabi SAW : “Tiga kelompok yang tidak akan ditolak doanya : Pemimpin yang adil, Orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan Orang yang teraniaya….” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Maka khususkan berdoa sebelum buka puasa. Allah SWT berfirman : “…. Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku kabulkan.” (QS. Ghafir [40] : 60).

Kelima, Jamuan 90 Rumah di Surga

Nabi SAW bersabda : “Tidaklah seorang hamba muslim melaksanakan shalat karena Allah, setiap hari sejumlah 12 rakaat Sunnah selain wajib, kecuali Allah siapkan baginya Syurga.” (HR. Muslim)

Jika kita ingin mendapatkan 3 rumah di Syurga, maka kita melaksanakan shalat 36 rakaat selain wajib, seperti : Shalat Rawatib (14 rakaat), shalat tarawih dan witir (minimal 11 rakaat), Shalat Dhuha (4 rakaat), Shalat Tahiyatul Masjid (2 rakaat), Shalat sesudah Wudhu (2 rakaat). Jumlahnya 36 rakaat, sepadan dengan 3 rumah di surga setiap hari atau 90 rumah sebulan.

Keenam, Jamuan Penghapusan Dosa

Dengan cara menunaikan umrah. Rasul SAW bersabda : “Umrah di Bulan Ramadhan sebanding dengan haji.” Dalam riwayat lain: “sebanding haji bersamaku” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan balasan bagi haji yang mabrur adalah Syurga. Nabi SAW bersabda : “… Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali Syurga.” (HR. Ahmad).

Ketujuh, Jamuan Rumah Masa Depan

Dengan cara melakukan shalat malam di sepertiga malam terakhir. Allah SWT berfirman : “…. Maka shalat tahajud lah sebagai ibadah Nafilah kamu. Mudah-mudahan Allah membangunkan bagimu tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra [17] : 79).

Kedelapan, Jamuan Malam Sepanjang Umur

Dengan menghidupkan malam qadar. Allah SWT berfirman : “Malam itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr [97] : 3).

1.000 bulan = 83 tahun 3 bulan. Artinya beribadah pada lailatul qadar lebih hebat pahalanya dibanding dengan indah sepanjang umur.

Rasulullah SAW memberikan tuntunan agar lailatul qadar itu diburu pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Delapan jamuan istimewa ini bukan untuk mengajarkan kita menghitung-hitung pahala, tapi ini untuk memotivasi untuk meraih kebaikannya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Byadmin

MENIKMATI JAMUAN RAMADAN

Oleh : Ibnu Sina

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Mendengar bulan suci Ramadan, layaknya kita bergembira, bukan merasa menjadi beban dan memberatkan. Karena Bulan Ramadan hadir membawa jamuan istimewa bagi fisik, akal dan rohani kita.

Puasa sebagai Perisai

Rasul SAW bersabda : “Puasa itu ada perisai yang dapat melindungi diri seorang hamba dari api neraka”. (HR. Ahmad).

Puasa akan memelihara setiap hamba yang berpuasa agar tidak terjerumus pada perbuatan maksiat.

Puasa Memasukkan Seseorang ke Surga

Karena puasa dapat menjauhkan diri dari neraka, maka otomatis membawa pelakunya ke surga. Diriwayatkan dari Abu Umamah Ra, ia berkata : “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga. Maka Rasulullah SAW menjawab : Hendaknya kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingan (pahala)nya”. (HR. An-Nasa’i).

Puasa Mendapatkan Pahala Tak Terhitung

Allah SWT berfirman : “Laki-laki dan perempuan yang berpuasa, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Ahzab [33] : 35).

Orang yang Puasa Mendapatkan Dua Kebahagiaan

Nabi SAW bersabda : “Ada dua kebahagiaan yang diperuntukkan bagi orang yang berpuasa, kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Tuhannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bau Mulut Orang yang Puasa Harum di Hadapan Allah

Rasul SAW bersabda : “Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum bagi Allah daripada aroma minyak misk.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Puasa dan Alquran Memberi Syafaat bagi Pelakunya

Rasul SAW bersabda : “Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata : “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di waktu siang, karenanya perkenankan lah aku untuk memberikan syafaat kepada nya”. (HR. Ahmad)

Puasa sebagai Kafarat atau Penebus Dosa

Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa berpuasa pada Bulan Ramadan dengan iman dan berharap ridha Allah maka dosa-dosa yang lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari).

 Ar-Rayyan Disediakan bagi Orang yang Berpuasa

Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyan. Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorangpun yang masuk ke pintu itu kecuali orang-orang yang berpuasa”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah jamuan Ramadan yang dapat memberikan kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Karena secara garis besar tujuan dari ibadah puasa adalah membersihkan jiwa, menahan nafsu dan menjaga kesehatan diri.[]

Allahu a’lam bishshawab

Byadmin

Pahala-wan

Oleh Erwin D. Nugroho

 Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan pahlawan sebagai “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.” Pahlawan dalam bahasa kita seolah “dipersempit” dalam urusan perang, perjuangan, bela negara — sesuatu yang sangat beraroma keprajuritan, meskipun tetap dibatasi hanya untuk yang “membela kebenaran”. Artinya, biar gagah, berani, dan rela berkorban, belum tentu mati jadi pahlawan kalau yang dibela adalah kesesatan.

Ini berbeda dengan hero, padanan kata pahlawan dalam bahasa Inggris, yang relatif lebih luas dan menabrak batas antara peran sipil dan militer. Siapa pun bisa digelari hero, meskipun sebatas, misalnya, menolong seorang bocah yang hampir mati terserempet mobil di jalan raya. “He (or she) is my hero.”

Kepada para “pembela negara”, orang Barat punya kosakata patriot, yang memang lebih spesifik diterjemahkan sebagai “pencinta tanah air”, yang karena cintanya itu lantas rela mati demi negara. Itu sebabnya tokoh fiksi seperti Batman atau Superman bisa digolongkan sebagai hero, sementara para anumerta yang pulang ke Amerika dalam peti mati dari Irak disebut patriot.

Tetapi bukan Indonesia namanya kalau tak banyak akal. Pahlawan kemudian kerap juga dipermaklumkan sebagai bentukan dua kata; pahala dan wan. Artinya, pahala-wan adalah orang-orang yang membuat pahala (kebaikan-kebaikan) dengan membela negara. Mirip-mirip warta-wan untuk pembuat warta, atau juga sastra-wan bagi para penyastra. Jangan tanya kenapa untuk seni harus disebut seni-man, bukan seni-wan — meskipun secara bahasa saya termasuk menganjurkan sebaiknya kita sebut pekerja seni sebagai penyeni saja.

Lepas dari perdebatan soal-soal harfiah itu, pahlawan dalam peradaban kita hari ini juga sepertinya sudah harus diredefinisi. Ini bermula dari sebuah pertanyaan; kalau untuk menjadi pahlawan harus berlaga di medan perang, atau setidak-tidaknya mati karena suatu perjuangan, seperti predikat “pahlawan reformasi” bagi beberapa mahasiswa yang ditembak mati tentara saat unjuk rasa tahun 1998, bagaimana generasi tanpa pertumpahan darah seperti kita-kita sekarang bisa tercatat dalam sejarah sebagai pahlawan?

Maka, ada yang mengusulkan agar pahlawan perlu dilekatkan kepada siapa pun yang dalam hidupnya melakukan kebaikan bagi orang lain. Ia tak harus seorang pemimpin pasukan atau komandan gerilya, seperti kebanyakan “pahlawan resmi” yang ditetapkan pemerintah kita saat ini. Ia bisa saja seorang yang tak dikenal, tapi berkat perbuatannya ada orang lain yang hidupnya menjadi lebih bermakna — dan saat matinya kelak tak harus dikubur di sebuah lapangan sepi bernama Taman Makam Pahlawan, yang sering hanya jadi tempat kunjungan seremoni setahun sekali.

Sayangnya, karena sejumlah kelatahan dan sikap gagap, banyak di antara kita yang kemudian dengan mudah mengira seseorang pahlawan, hanya karena dia berlelaku seolah-olah sebagai penolong di masyarakat. Dengan cara semacam ini, penjahat paling kejam pun bisa tampil dalam balutan topeng kepahlawanan dengan gayanya yang sok baik.

Pahlawan-pahlawan palsu itu mungkin ada di sekitar kita, boleh jadi sedang nongkrong di kursi-kursi terhormat yang selama ini keberadaannya kita puja-puja, yang dalam setiap pidatonya sering menyebut rakyat sebagai segala-galanya, tujuan nomor satu dalam hidup mereka. Itu diucapkan di saat di mana duit rakyat mereka keruk untuk kepentingan pribadi, memperkaya diri, membeli prestise, dan kemudian membelanjakan sebagian kecilnya saja untuk apa yang mereka sebut-sebut sebagai sikap kepahlawanan — sesuatu yang membuat kita terbuai lantas percaya.

Betapa makna kepahlawanan itu belakangan tak lagi sejalan dengan konsep pahala-wan — lepas dari benar-tidaknya asal kata pahlawan ini —  di mana seseorang dengan kreasi dan sikapnya melahirkan pahala-pahala, kebaikan-kebaikan bagi orang lain. Pahlawan hari ini, yang harus selalu dipastikan apakah asli atau tipu-tipu, memang seringkali justru bukan orang yang berpahala.

Mungkin karena konsep pahlawan terlalu mudah dijadikan dagangan politik, untuk pencitraan dan tebar pesona, sehingga seseorang bisa dielu-elukan sebagai pembela rakyat kecil hanya dengan sekali berbagi sembako, padahal barang yang dibagi-bagi itu ternyata dari uang rakyat juga. Bisa pula dipuja sebagai dewa penolong meski hanya mengumbar janji kata-kata, yang sejatinya tak pernah dituntaskan dalam sesuatu yang nyata.

Kita mencatat banyak nama, baik dalam konteks bernegara di mana pemerintah menetapkan orang-orang, yang biasanya telah mendiang, sebagai tokoh bangsa dan karenanya patut ditahbiskan sebagai pahlawan, maupun dalam diri kita sendiri; di saat hati kita mencatat deretan nama mereka yang menjadi pahlawan dalam hidup kita. Dalam pengertian yang kedua inilah, mestinya, pahlawan bangsa diakui sebagai pahlawan sebenar-benarnya.

Seorang jenderal memanggil tiga prajurit berprestasi, yang dinilai patut ditetapkan sebagai pahlawan, setelah lebih tiga tahun berjuang di Aceh. Selain mengalungkan medali tanda jasa, sang jenderal juga memberi hadiah uang.

“Yang harus kalian lakukan adalah menentukan dua titik di tubuh kalian, dan saya akan memberikan 100 ribu rupiah untuk setiap sentinya. Kita mulai dari kamu,” jenderal menunjuk prajurit pertama.

“Dari ujung kepala ke ujung kaki, jenderal.”

“Bagus, 180 senti, kamu mendapat 18 juta, lumayan kan…”

“Dari ujung jari kiri ke ujung jari kanan, jenderal,” sambar prajurit kedua.

Jenderal langsung mengukurnya. “Bagus sekali, 185 senti, total 18,5 juta.”

Giliran prajurit ketiga, agak terlambat dan baru bicara setelah dibentak. “Hei, kamu, gimana?!”

“Hmm… emm, dari pundak ke kelingking, jenderal.”

Sang jenderal terkejut. “Apa tidak salah? Pundak ke kelingking? Aneh, tapi ya sudahlah…”

Jenderal jadi tambah terkejut saat mulai mengukur, “Mana kelingkingmu, prajurit?”

Prajurit ketiga tersipu malu. “Di Aceh, jenderal!” ***