Gugah

Byadmin

Berbuatlah yang Terbaik

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Sebagai orang beriman, selayaknya kita kembalikan ke Allah Swt dan Rasulnya segala permasalahan yang kita hadapi. Dari petunjuk-Nya pulalah kita berharap bisa memperoleh solusi dari berbagai deraan kesulitan. Nampaknya, kunci jawaban dari permasalahan sebenarnya juga telah disiapkan oleh Allah swt. Yang maha tahu atas segala sesuatu, sebelum permasalahannya sendiripun ada. Kunci tersebut terdiri dari tiga hal antara lain kunci pertama, pertolongan hanya datang dari Allah. Dalam Al-Quran surat Ali-Imran ayat 160 Allah Swt berfirman bahwa, “Apabila Allah menolong kamu sekalian? maka tidak akan ada yang mengalahkanmu, dan apabila Dia meninggalkanmu siapa yang akan menolongmu kemudian. Hanya kepada Allahlah orang beriman berserah diri”. Ayat yang begitu jelas tersebut mengingatkan kita bahwa pertolongan tidaka akan datang dari manapun/siapapun selain Allah. Hanya dari Allah-lah pertolongan akan datang.

Kunci kedua, Allah hanya akan menolong yang menolong-Nya. “Hai orang-orang beriman, Apabila kamu menolong Allah, Dia akan menolongmu dan teguhkanlah langkah kakimu” (QS. Al-Hajj: 40). Allah yang maha kuasa tidak membutuhkan pertolongan dari makhluknya, tetapi orang-orang yang menolong agama-Nya, menegakkan kalimatNya, menerapkan syari’ah adalah orang-orang yang disebut sebagai menolong Allah dan yang berhak atas pertolongan-Nya.

Kunci ketiga, pertolongan Allah hanya datang kepada orang-orang yang beriman. “Dialah yang membantu kamu melalui pertolongan-Nya dan melalui orang-orang beriman” (QS. Al-Anfal: 62). Berbagai peristiwa disebutkan Allah dalam Al-Quran untuk mendemonstrasikan pertolongan-Nya bagi kaun mukminin. Misalnya dalam perang Badr, Al-Khandaq dan Hunain Allah menurunkan malaikat-Nya untuk menolong kaum mukminin (QS. Al-anfal: 12). Pada kesempatan lain Allah mengirimkan pertolongan-Nya berupa angin dan tentara-tentara yang tidak terlihat, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni’mat Allah  kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya . Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Ahzab: 9)

Dari ketiga kunci tersebut nampak bahwa hukum sebab akibat bahwa pertolongan Allah hanya untuk orang beriman, oleh orang beriman (yang menolong agama-Nya, kemudian ditolong oleh-Nya). Jadi tidak serta merta turun dari langit, tetapi memerlukan upaya tangan-tangan orang beriman di bumi. Cara yang lain untuk melihat tiga kunci tersebut adalah dengan mengurutkannya dari bawah yaitu kita menguatkan Iman kita, kemudian kita mau mulai menolong Agama-Nya, baru kemudian bisa berharap pertongan Allah akan datang.

Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Abdullah bin Humaid, Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa’y, Ibnu Majah, Ad-Daruquthny, Al-Baihaqy, dan Abu Ya’la mentakhrijkan dari Qais bin Abu Hazim, dia berkata, “Setelah Abu Bakar menjadi khalifah, dia naik ke atas mimbar, lalu menyampaikan pidato. Setelah menyampaikan pujian kepada Allah, Abu Bakar berkata, “Wahai semua manusia, tentunya kalian juga membaca ayat ini, ‘Hai orang orang yang beriman, jagalah diri kalian”.

Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk, (QS Al-Maidah : 105), namun kalian meletakkan ayat ini bukan pada tempatnya. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran dan mereka tidak mau merubahnya, maka Allah akan menyegerakan siksa yang menyelingkupi mereka semua”.

Ath-Thabrany mentakhrijkan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, “Itris bin Urqub Asy-Syaibany menemui Abdullah ra. seraya berkata, “binasalah orang yang tidak menyuruh kepada yang ma’ruf dan tidak mencegah dari yang mungkar”. Abdullah ra. meralat ucapannya dengan, “Bahkan binasalah orang yang tidak memperlihatkan yang makruf dan tidak mengingkari yang mungkar”.

Pesan yang disampaikan oleh Abu Bakar Ash Shidiq merupakan pesan relevan sepanjang zaman. Sebagai pemimpin, Khalifah Abu Bakar sangat tahu kondisi rakyatnya. Besarnya amanah yang diberikan rakyatnya, membuat Abu Bakar berhati-hati dengan apa yang dipimpinnya. Dalam pesan itu, menandakan timbal balik nasehat dari pemimpin dengan mereka yang dipimpin merupakan hal yang penting. Ini untuk menjaga agar penyelewengan yang terjadi di masyarakat, bisa segera diatasi. Bahkan segera dibersihkan agar tidak mencapai pada tahap bahaya laten. Sehingga kebiasaan saling menasehati antara pemimpin dan rakyatnya menjadi satu budaya yang baik. []

Byadmin

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

Oleh : Ibnu sina

Tidak terasa kita telah berada di tengah Bulan Sya’ban. Bulan ini seringkali dilalaikan oleh manusia. Hingga Rasulullah SAW bersabda: “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan”. (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Ternyata bulan Sya’ban adalah bulan yang istimewa. Karena pada bulan ini diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda dalam kelanjutan hadits di atas: “Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam”. (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Itulah keutama’an bulan Sya’ban yang pertama. Bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT.

Keutamaan kedua bulan Sya’ban adalah, pada pertengahannya. Inilah yang dikenal dengan istilah Nisfu Sya’ban. Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan nishfu Sya’ban : “Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya”. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al Albani).

Diantara amal di bulan Sya’ban yang dicontohkan Rasulullah SAW, yang pertama, adalah memperbanyak puasa sunnah. Dalam sebuah hadits dijelaskan : “Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di Bulan Sya’ban,” Rasulullah menjawab, “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan ini amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa.” (HR. An Nasa’i dihasankan oleh Al Albani).

Begitulah Rasulullah SAW banyak berpuasa di Bulan Sya’ban sekaligus menginginkan agar ketika amalnya diangkat, beliau dalam keadaan sedang berpuasa.

Ummul Mukmin ‘Aisyah juga meriwayatkan : “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada Bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari).

Tahulah kita bahwa berpuasa sunah di Bulan Sya’ban menjadi begitu istimewa karena pada bulan ini amal diangkat, dan sekaligus persiapan untuk puasa di Bulan Ramadhan.

Namun, yang perlu diperhatikan, tidak boleh mengkhususkan berpuasa pada satu atau dua hari terakhir kecuali puasa yang harus ditunaikan (karena nadzar, qadha’ atau kafarat) atau puasa sunah yang biasa dilakukan (puasa Daud, Senin Kamis). Rasulullah SAW bersabda :  “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali seseorang yang memang seharusnya/biasanya) melakukan puasa pada hari itu. Maka hendaklah ia berpuasa.” (HR. Bukhari).

Amal kedua pada Bulan Sya’ban ialah melunasi hutang-hutang puasa, khususnya yang masih belum selesai meng-qadha’ puasa Ramadhan sebelumnya. ‘Aisyah berkata : “Aku punya hutang puasa Ramadhan, aku tak dapat mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban, karena sibuk melayani Nabi SAW.” (HR. Bukhari).

Amal ketiga pada bulan Sya’ban ialah memperbanyak ibadah dan amal kebajikan secara umum, seperti shalat Rawatib, Qiyamullail, Tilawah Al Quran, bershadaqah. Karena ketika amal kita diangkat, amal kita benar-benar bagus pada bulan itu, asal sesuai sunah.

Adapun malam nishfu Sya’ban, sebagaimana hadits di atas, memang memiliki keutamaan. Ibnu Taimiyah menegaskan :”Adapun malam nishfu Sya’ban, didalamnya terdapat keutamaan”.

Karena itu, sebagian ulama salaf dari kalngan tabi’in di Negeri Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin Amir menghidupkan malam ini dengan berkumpul di Masjid untuk melakukan ibadah. Dari merekalah kaum muslimin mengmabil kebiasaan itu. Imam Ishaq ibn Rahawayh menegaskannya dengan berkata, “Ini bukan bid’ah!”

Ulama Syam lain, diantaranya Al Auza’i, tidak menyukai perbuatan berkumpul di Masjid. Tetapi beliau menyetujui keutamaan shalat, baca Al Qur’an pada nishfu Sya’ban jika dilakukan sendiri-sendiri. Pendapat ini yang dikuatkan Ibn Rajab Al Hanbali dan Ibnu Taimiyah.

Adapun Ulama Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, dan para pengikut Imam Malik menganggap Nishfu Sya’ban sebagai ­bid’ah. Namun, qiyamullail sebagaimana disunahkan dan puasa disiangnya sebab termasuk Ayyaumul bidh ialah baik.

Semoga perbedaan pendapat ini dipahami dengan baik dan tidak menghalangi kita untuk melaksanakan segala amal ibadah utaman pada bulan Sya’ban.

Wallahu a’lam bishshawab…..

Byadmin

Social Movement

Oleh : Yohandromeda Syamsu

 

Selama ini gerakan keagamaan identik dengan urusan-urusan ritual yang bersifat privat dan ada kecenderungan untuk menganggap agama hanya semata mengurus persoalan rohani. Bahkan, beragam masalah dalam hidup dan kehidupan selalu dikaitkan dengan soal spiritualitas (agama). Jika benar agama hanya mengurusi soal rohani, hal ini akan bertentangan dengan prinsip kunci dari semua agama di Bumi ini, yakni keadilan.

Dalam Islam, keadilan menduduki posisi sangat penting dan terkait dengan hampir semua urusan duniawi. Bagaimana manusia menakar keadilan jika agama semata mengurusi rohani dan spiritualitas. Salah satunya diwujudkan dalam praktek ibadah zakat. Zakat yang merupakan rukun Islam keempat, adalah wujud nyata dari pembelaan Islam terhadap prinsip keadilan. Zakat juga menawarkan pengelolaan uang negara sekaligus mengoreksi tradisi pengelolaan uang publik oleh kekuasaan yang hanya berpihak pada kepentingan elite.

Lembaga zakat dalam Islam memberikan kemungkinan upaya pemberdayaan bagi masyarakat lemah dan miskin. Kehadiran zakat secara tidak langsung menegaskan bahwa uang publik adalah uang Allah (haq Allah). Ini bermakna uang tersebut harus digunakan di jalan Allah SWT dan penguasa hanya berkedudukan sebagai amil (penyalur). Zakat juga memperkenalkan istilah tarif baku (miqdar), kekayaan yang jadi obyek pajak (maal zakawy), dan batas minimal terkena pajak (nisab) secara proporsional. Tidak berhenti di situ, zakat juga mengatur bagaimana membelanjakan uang yang terkumpul. Bahwa uang itu pertama-tama harus dibelanjakan untuk kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah dan fakir miskin, apa pun agamanya. Islam sebagai ajaran spiritual dan moral sesungguhnya melihat problem kemiskinan. Kalau hampir semua nabi memulai dakwahnya dengan upaya pemberdayaan masyarakat miskin, itu karena memang di situlah peran sentral agama diperlukan. Dan, tidak satu pun agama yang memberi penghargaan terhadap mereka yang serakah.

Masrcel Boisard seorang pengamat dunia Islam menyebutkan, zakat memberi kemenangan terhadap egoisme diri atau menumbuhkan kepuasan moral karena telah ikut mendirikan sebuah masyarakat Islam yang lebih adil. Ibadah zakat ikut menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat. Dalam bahasa Roger Garaudy, zakat adalah satu bentuk keadilan internal yang terlembaga sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu, orang dapat menaklukan egoisme dan kerakusan diri.

Dengan demikian, zakat tidak sekadar menjangkau hubungan teologis dengan Tuhan, tetapi juga merefleksikan kehidupan sosial. Parameternya adalah, orang yang memiliki kesadaran hidup yang transendental (dekat dengan Tuhan) seharusnya merefleksi ke dalam kesadaran horizontal, seperti peduli terhadap masyarakat sekitar. Memang zakat dalam Islam dimaksudkan sebagai ajaran sosial, selain sebagai ibadah ritual yang ditujukan untuk menyucikan jiwa atas harta yang diperolehnya. Yang jelas, efek sosial dari ajaran zakat amat mengena pada kepedulian terhadap masyarakat yang tidak mampu.

Saat ini, bukan persoalan zakat dikelola negara atau tidak, tetapi bagaimana zakat itu bisa bermakna transformatif; menjangkau seluruh kehidupan masyarakat fakir-miskin, bukan menjadi perebutan para pengelola. Sebab harus diingat, prioritas zakat diberikan kepada fakir-miskin bukan para pengelolanya. Inilah yang kita khawatirkan, dana zakat yang begitu besar hanya dimanfaatkan oleh mereka yang secara agama tidak berhak menerimanya.

Oleh karena itu, zakat harus bisa dijadikan sarana transformasi masyarakat menuju kehidupan yang berkeadilan dan seimbang secara ekonomi. Sebab, zakat dapat dijadikan modal untuk memperkuat civil service, yang salah satu cirinya adalah independensi. Artinya, suatu gerakan (institusi) yang tidak tergantung kepada negara/pemerintah. Maka amat relevan fungsi zakat sebagai media transformasi masyarakat, dalam mewujudkan apa yang disebut civil society. Tentu, dengan makna transformatif ini, zakat harus dikelola secara profesional untuk penguatan ekonomi masyarakat.

Di sinilah zakat tidak sekadar menjadi aspek kesucian jiwa dan harta, tetapi juga mempunyai efek terhadap pemberdayaan masyarakat.[]

Byadmin

Pekerja Sosial

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Adakah diantara anak-anak Anda yang bercita-cita menjadi pekerja sosial? Pernahkah mereka berteriak lantang, “Pekerja sosial” untuk menjawab pertanyaan guru di kelas tentang profesinya setelah dewasa nanti? atau adakah orangtua yang menyiapkan satu saja -diantara sekian anaknya- untuk menjadi pekerja sosial?

Pertanyaan lain, benarkah pekerja sosial (social workers) tidak pernah menjadi cita-cita yang dituliskan remaja-remaja yang menjelang dewasa dalam kertas mimpi mereka sepuluh tahun yang akan datang? Atau memang para orang tua tak memperkenankan dan mengarahkan anak-anaknya menjadi pekerja sosial, lantaran satu pandangan bahwa kegiatan sosial masih bisa dikerjakan sambil waktu, di paruh waktu dan sisa waktu. Misalnya hanya pada saat akhir pekan saja, atau disaat memasuki usia pensiun (produktif).

Pertanyaan lain yang juga harus dijawab. Apakah masalah sosial hanya bisa ditangani oleh pejabat negara bersangkutan? bukankah peran masyarakat begitu besar untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial, seperti kemiskinan, bencana alam, konflik sosial, dan berbagai bentuk patologi sosial yang terus menerus muncul dengan ragam dan bentuk terbarunya. Tak menjadi pentingkah keberadaan lembaga-lembaga sosial lengkap dengan para pekerja sosialnya? Dan, bukankah masalah kemiskinan, bencana alam, konflik dan lain sebagainya itu tak hanya datang di akhir pekan atau hari libur saja?

Bencana alam, kemiskinan dengan berbagai derivasinya, atau konflik bisa hadir kapan saja. Kadang menimpa orang-orang yang jauh dan sangat tidak kita kenal. Meski suatu saat dan sangat mungkin mendatangi orang-orang terdekat, sanak famili, kerabat, sahabat, bahkan diri kita sendiri. Dan yang pasti, butuh penanganan cepat, serius, tidak setengah-setengah, profesional, serta tidak menunggu akhir pekan. Mengingat begitu banyaknya masalah-masalah sosial yang terus terjadi, dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan lembaga sosial. Pemerintah sebagai penentu kebijakan, masyarakat sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar yang turut memberikan sumbangsihnya, dan lembaga sosial sebagai eksekutor di lapangan yang mendapat mandat dan kepercayaan penuh, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas. Idealnya seperti ini.

Lembaga kemanusiaan asal Cuba, Brigada Medicana Cubana, misalnya, bisa menjadi contoh ideal sinergi yang cantik antara pemerintah, masyarakat dan lembaga tersebut. Tanggal 5 September 2006, lembaga kemanusiaan tersebut meninggalkan Jogjakarta dan Klaten untuk kembali ke negaranya setelah sekitar 3 bulan mendedikasikan waktu, pikiran, tenaga, harta dan keterampilannya membantu para korban gempa Jogja dan Jawa Tengah. Lembaga tersebut membawa serta tim kemanusiaannya yang berjumlah sekitar 95 orang dan mendirikan 2 rumah sakit lapangan di Klaten. Sesungguhnya, apa yang dilakukan lembaga tersebut tak jauh berbeda dengan lembaga kemanusiaan lain dari negeri sendiri. Yang membedakan adalah, bahwa hampir setiap hari mereka mendapat telepon langsung dari Fidel Castro, pimpinan negara tersebut. “Bekerjalah sebaik-baiknya, kalian semua adalah kebanggaan kami karena datang mewakili negara,” begitu kira-kira yang dipesankan Castro.

Sungguh, iri rasanya mendengar kisah mereka tentang perhatian dan dukungan penuh yang didapat dari pemerintah dan masyarakatnya. Kerinduan yang teramat sangat untuk kebanyakan lembaga sosial non pemerintah, untuk mendapatkan sekadar “Apa kabar para relawan?” dari pimpinan atau pejabat negara ini.

Terlepas dari adanya oknum dan lembaga yang kurang dipercaya lantaran kasus tertentu yang kemudian menciptakan “negative image” bagi lembaga sosial/kemanusiaan secara keseluruhan, sesungguhnya kerja-kerja lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan akan lebih solid, profesional, cepat dan bertanggungjawab jika kepercayaan dan dukungan terus diberikan. Memang, butuh waktu dan perjuangan melelahkan untuk menghadirkan dukungan dan kepercayaan tersebut. Karena untuk mendapatkan satu orang yang percaya saja begitu sulitnya, terlebih sebuah komunitas masyarakat.

Tentu saja, masyarakat berhak untuk menentukan percaya kepada siapa dan lembaga apa. Masyarakat juga berhak untuk mengkritik, mempertanyakan, dan meminta pertanggungjawaban dari lembaga yang dipercayanya. Jelas, karena mereka telah mencoba menitipkan amanah donasinya untuk disampaikan langsung kepada para penerima manfaat. Namun, selain tuntutan dan kritikan tersebut, dukungan yang lebih dan peningkatan kepercayaan adalah hal lain yang juga diharapkan. []

Byadmin

Menakar Kemiskinan

Oleh: Yohandromeda Syamsu (Alm)

Sering orang miskin dipandang rendah, dianggap gagal dalam menjalani hidup, tidak pintar, minim pendidikan, dan sebagainya. Karenanya, orang miskin  kurang dihormati, jarang dilibatkan, kecuali dalam peran yang memang cocok bagi mereka. Faktanya, orang miskin tidak selalu merasa menderita. Meski miskin, mereka bisa tertawa, gembira, dan juga bersyukur sebagaimana orang kaya, bahkan hidupnya jauh lebih tenang.

Ya, kemiskinan memang bisa karena banyak hal, pertama karena keadaan yang memaksa.  tidak mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, jatuh pailit, atau tertimpa banyak hutang. Usaha yang selalu gagal, menjadi orang yang tersisih, atau tertinggal karena tidak memiliki kecakapan hidup, dan sebagainya. Kedua, mereka yang memang sengaja menjalani hidup dengan keadaan miskin. Orang-orang ini tidak merasa menderita dengan keadaannya itu. Mereka tidak mau tinggal di rumah mewah, berpakaian yang serba wah, juga tidak kepingin memiliki uang banyak, tabungan atau harta yang melimpah. Mereka hanya ingin hidup secukupnya atau sederhana, tidak ingin terbebani atau terbelenggu hidupnya oleh harta, atau disebut sebagai menjadi abdi harta benda.

Orang yang menyukai atau mencintai harta, tatkala melihat orang yang sengaja hidup sederhana menganggapnya aneh. Tunggu dulu, jangan dikira, mereka yang menjalani hidup sederhana itu selalu bodoh. Bisa jadi mereka lebih pintar. Mereka memilih jalan hidup seperti itu, didasari oleh logika dan keyakinannya tersendiri. Walau, umumnya, orang menyukai harta. Tetapi, ada juga yang sebaliknya, tidak menyukainya. Artinya, tidak semua orang miskin selalu identik dengan kerendahan. Lihat saja misalnya, para kyai atau ulama yang mengambil sikap hidup sederhana. Mereka sengaja memilih cara hidup sederhana, tidak menganggap bahwa harta selalu bisa menyelamatkan dirinya.

Mereka yang berpotensi kaya, namun tidak memanfaatkannya, ternyata ada di mana-mana, dalam khazanah Islam disebut kaum shufi. Dikalangan pesantren dikenal istilah kyai waro’. Kaum shufi atau kyai waro’, biasanya lebih dihormati. Ada sebagian pemahaman, kalau ulama’atau kyai yang menjalani hidup sederhana justru dipandang sebagai ulama’atau kyai yang sebenarnya.

Sementara, orang kaya memandang kemiskinan identik dengan penderitaan, kaum shufi atau kyai waro’ melihat justru sebaliknya. Orang kaya, apalagi mereka tidak memanfaatkan kekayaannya secara benar, dipandang sebagai penyandang derajad rendah. Sebaliknya, secara umum orang miskin dianggap menderita, harus ditolong, istilah populernya dientaskan, diangkat dari lembah penderitaannya.

Memahami orang lain ternyata tidak mudah, sering terjadi salah paham. Perasaan bahagia dan derita bisa ada pada mereka yang berharta ataupun yang papa. Lihatlah, banyak orang kaya, berpangkat tinggi, sehari-hari hidup diliputi oleh suasana gelisah. Mungkin karena korupsi atau sebab lain, akhirnya dimasukkan penjara. Orang-orang seperti itu tidak akan bisa merasakan kenikmatan dari kekayaannya. Tragis lagi, justru kekayaannya itu yang menjadikan sebab, mereka masuk bui.

Boleh-boleh saja menjadi kaya, tetapi tidak perlu merendahkan yang miskin. Kaya dan miskin adalah biasa. Orang kaya, tidak identik dengan hidup sukses. Sukses dalam hidup tidak selalu diukur dari jumlah hartanya. Keberhasilan hidup dalam Islam diukur dari tingkat keimanannya, amal sholeh, dan kemuliaan akhlaknya. Orang yang memenuhi ukuran itu, bisa saja berasal dari orang miskin atau juga orang kaya. Begitulah semestinya berakhlak terhadap orang miskin, tidak merendahkan dan atau menganggap hina.

Berangkat dari pandangan itulah, sesungguhnya ada perspektif lain dari pengertian kemiskinan. Yaitu, miskin keimanan, miskin amal sholeh, dan juga miskin akhlak. Mereka itu juga perlu ditolong, dientaskan, dan diajak ke jalan yang benar. Kemiskinan iman, amal sholeh, dan miskin akhlak bisa lebih berbahaya dari sebatas miskin harta. Inilah akhlak yang seharusnya dibangun bersama, Namun, menolong mereka yang miskin harta pun, tidak boleh berhenti.[]

Byadmin

Pemberdayaan

Oleh: Yohandromeda Syamsu (Alm)

Kadang kita mempunyai persepsi dan anggapan keliru tentang Islam. Kita beranggapan bahwa seolah-olah Islam hanya berkaitan dengan ibadah ritual saja, seperti syahadat, mendirikan salat, menjalankan puasa, membayarkan zakat, dan menunaikan ibadah haji serta hal-hal yang lain yang bersifat vertikal semata. Sedangkan hal-hal yang bersifat horizontal, apalagi di bidang pembangunan ekonomi, tidak ada kaitannya, bahkan seringkali Islam dicurigai sebagai factor penghambat pembangunan ekonomi.

Namun jika kita mau menelaah lebih lanjut, maka kita akan paham, bahwa Islam adalah agama yang mempunyai ajaran yang komprehensif dan universal. Kegiatan sosial ekonomi (muamalah) dalam Islam mempunyai cakupan yang luas dan fleksibel, serta tidak membeda-bedakan antara Muslim dan non Muslim. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali, yaitu dalam bidang muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita.

Dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi, dunia Islam mempunyai sistem perekonomian yang berbasiskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Syariah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis serta dilengkapi dengan Al-Ijma dan Al-Qiyas. Sistem perekonomian Islam yang dikenal dengan istilah Sistem Ekonomi Syariah, dengan tujuan, kesejahteraan ekonomi dalam kerangka norma moral Islam. Membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid, berdasarkan keadilan dan persaudaraan yang universal. Mencapai distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil dan merata. Menciptakan kebebasan individu dalam konteks kesejahteraan sosial.

Sistem ekonomi syariah mempunyai konsep yang lengkap dan seimbang dalam segala hal kehidupan, namun kita umat Islam di Indonesia, tidak menyadari hal itu. Kita masih berpikir dengan kerangka ekonomi kapitalis, karena berabad-abad dijajah oleh bangsa barat, dan juga bahwa pandangan dari barat selalu lebih hebat. Padahal tanpa kita sadari ternyata di dunia barat sendiri telah banyak negara mulai mendalam system perekonomian yang berbasiskan Syariah.

Sistem Ekonomi Syariah mengakui adanya perbedaan pendapatan dan kekayaan pada setiap orang dengan syarat bahwa perbedaan tersebut diakibatkan karena setiap orang mempunyai perbedaan keterampilan, inisiatif, usaha dan resiko. Namun perbedaan itu tidak boleh menimbulkan kesenjangan yang terlalu jauh antara yang kaya dengan yang miskin karena kesenjangan yang terlalu dalam tidak sesuai dengan syariah Islam yang menekankan bahwa sumber-sumber daya bukan saja karunia dari Allah bagi semua manusia, melainkan juga merupakan suatu amanah. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk mengkonsentrasikan sumber-sumber daya di tangan segelintir orang.

Kurangnya program-program yang efektif untuk mereduksi kesenjangan sosial yang terjadi selama ini dapat mengakibatkan kehancuran, bukan penguatan perasan persaudaraan yang hendak diciptakan Islam. Syariah Islam sangat menekankan adanya suatu distribusi kekayaan dan pendapatan yang merata. Syariah Islam mewajibkan setiap individu untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, dan juga menetapkan kewajiban kolektif bagi masyarakat Muslim untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang tidak mampu karena kekurangannya. Salah satu cara yang dituntut oleh Islam atas kewajiban kolektif tersebut adalah ”lembaga zakat” yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rukun Islam. Secara teknik, zakat adalah kewajiban finansial seorang muslim untuk membayar sebagian kekayaan bersihnya atau hasil usaha-usahanya jika kekayaan tersebut telah melebihi nisab (kadar tertentu yang telah ditetapkan).

Penciptaan lingkungan yang kondusif perlu digalang dengan kerjasama antara pihak pemerintah, ulama, cendikia, akademisis, pengusaha, asosiasi pengusaha, perbankan, media massa, LSM dan pihak-pihak lain yang menginginkan kemajuan sosio ekonomi yang positif, sehingga terbentuk sebuah jaringan sosio-ekonomi yang diciptakan dengan konsep yang matang dan dikelola secara profesional, effektif dan efisien.

Pembagian dana zakat harus memberikan preferensi dengan tujuan memungkinkan si miskin untuk dapat berdikari, karena merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk dapat menghidupi dirinya sendiri. Bagi yang lain, zakat harus dipergunakan hanya untuk bantuan keringanan temporer disamping sumber-sumber daya esensial untuk memperoleh pelatihan, peralatan, dan materil sehingga memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan yang mencukupi.

Zakat juga akan meningkatkan ketersediaan dana bagi investasi. Pembayaran zakat pada kekayaan termasuk emas, perak dan harta yang tersimpan akan mendorong para pembayar zakat untuk mencari pendapatan dari kekayaan mereka, sehingga mereka mampu membayar zakat tanpa mengurangi kekayaannya. Dengan demikian, dalam sebuah masyarakat dengan nilai Islam yang telah terinternalisasi, simpanan emas dan perak serta kekayaan yang tidak produktif akan cenderung berkurang sehingga meningkatkan investasi dan menimbulkan kemakmuran yang lebih besar. []

Byadmin

Belanja Seperlunya

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Tentu pernah ada perasan dalam diri, begitu besar rezeki yang Allah limpahkan, hingga hampir semua kebutuhan hidup, bahkan yang selama ini tidak bisa kita miliki, dengan limpahan karunia-Nya dapat kita penuhi. Yah, sungguh itu merupakan suatu kenikmatan terbesar yang kita rasakan. Namun pernahkan kita berfikir kebelakang sejanak, apakah semua barang kebutuhan yang kita penuhi tersebut betul-betul merupakan kebutuhan pokok ataukah hanya sebagai kebutuhan penunjang (barang-barang komplementer) belaka.

Seandainya semua itu adalah kebutuhan dasar, tentu sesuatu yang seharusnya dilakukan. Namun kalau itu hanya kebutuhan komplementer semata, tentu masih ada hal-hal lain yang harus kita fikirkan sebelum memenuhinya.

Islam tentu tidak melarang ummatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan utama ataupun kebutuhan sekunder bahkan kebutuhan tersier sekalipun. Hanya saja islam melarang umatnya dalam memenuhi kebutuhan tersebut bermewah-mewahan (baca: berlebih-lebihan). Islam senantiasa mengajarkan kesederhanaan dalam hidup.

Ya, kesederhanaan. Kalimat itu tentu saja sangat mudah diucapkan, namun dalam melaksanakannnya amatlah sulit. Bagaimana biar tidak sulit? Dimana kita bisa bercermin dan memperoleh teladan? Jawabnya, semua ada dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an bagi kaum Muslimin diyakini bukan hanya kitab suci ’ansich’ yang bersifat pasif, tapi merupakan wahyu Allah kepada ummat manusia lewat perantaraan Nabi Muhammad Saw dan utusan ’ruh suci’ Jibril yang berisi kebenaran-kebenaran absolut dari Rabb al-Alamin Azza wa Jalla. Dengan demikian al-Qur’an dijadikan sebagai pedoman hidup bagi ummat Islam dalam melakukan ibadah, muamalah dan pembinaan akhlaq.

Aspek yang menarik untuk dikaji lebih mendalam ialah bagaimana nilai-nilai Islami (syari’ah) dilaksanakan dalam berbagai sendi kehidupan, salah satunya ialah mengenai pembelanjaan harta.

Harta sebagai salah satu amanah yang diberikan oleh Allah kepada ummat manusia harus disyukuri dalam parameter nilai-nilai Islami. Pertanyaan yang segera muncul ialah jika berkaitan dengan masalah pembagian harta, bagaimana mekanismenya? Kalau sasarannya ialah ’optimalisasi pembelanjaan harta’ sementara secara realitas timbul kesenjangan sosial, salah satunya di Indonesia dengan kondisi masyarakat mayoritas Islam.

Fenomena distribusi harta merupakan suatu makna yang sangat menarik untuk dikaji sebagai upaya untuk mengarahkan pada solusi dari permasalahan kesenjangan sosial terutama dalam struktur sosial masyarakat Indonesia.

Prinsip utama yang menentukan dalam distribusi harta ialah keadilan dan kasih sayang. Tujuan pendistribusian meliputi: Pertama, agar kekayaan tidak menumpuk pada sebagian kecil masyarakat, tetapi selalu beredar dalam masyarakat.

Kedua, berbagai faktor produksi yang perlu mempunyai pembagian yang adil dalam kemakmuran negara. Pengertian dari pembersihan jiwa dalam dataran doktrin diimbangi dengan pertimbangan keadilan untuk mewujudkan suatu sistem kehidupan yang sejahtera. Islam menghendaki kesamaan di kalangan manusia di dalam perjuangannya untuk mendapatkan harta tanpa memandang perbedaan kelas, kepercayaan atau warna kulit.

Tujuan utama Islam ialah memberikan peluang yang sama kepada semua orang dalam perjuangan ekonomi tanpa membedakan status sosialnya, di samping itu Islam tidak membenarkan perbedaan kehidupan lahiriah yang melampaui batas dan berusaha mempertahankannya dalam batasan-batasan yang wajar dan seksama. Dalam rangka mengontrol pertumbuhan dan penimbunan harta kekayaan, Islam mencegah terjadinya penimbunan dan menolong setiap orang untuk membelanjakannya demi kebaikan masyarakat.

Pesan al-Qur’an di dalam surat al-Isra ayat 16: “Dan jika Kami hendaki membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Israa:16)

Firman Allah di atas merupakan hukum Allah terhadap orang-orang yang bermewah-mewahan tanpa memberikan kewajiban kepada yang berhak menerimanya. Pola hidup yang dijalankan atas dasar bermewah-mewahan dalam tataran mencapai tujuannya tidak segan-segan menindas golongan miskin dan lemah untuk maksudnya yang individualistis, oleh karena itu orang yang kaya bertambah kaya dan orang miskin akan semakin miskin, alur dari problematika tersebut akan memporak-porandakan keutuhan masyarakat. ***

Byadmin

Responsif

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh. Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.

Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.

Bagaimana dengan mereka yang tidak terkena musibah atau bencana? Kecepatan yang diimbangi profesionalisme dalam merespon segala sesuatu merupakan investasi terbaik untuk meraih segalanya. Sebutlah, tindakan penyelamatan dan mengatasi dampak buruk bencana, meraih kepercayaan (tsiqoh) masyarakat dan donor, bahkan kecintaan (mahabbah) dari Allah Swt.

Sekaligus membuktikan bahwa sedekah terbaik adalah sedekah yang diberikan saat hati terbetik untuk memberikan sedekah. Amal terbaik adalah amal yang disegerakan, maknanya adalah “kecepatan”.

Dalam hal lain, shalat terbaik adalah shalat yang disegerakan saat tiba waktunya. Mu’amalah terbaik adalah ketika seseorang menyegerakan membayar hutangnya. Berlomba lebih cepat memberi salam kepada saudaranya merupakan sebuah keutamaan. Bangun malam lebih cepat (awal) untuk bersujud bermunajat kepada Allah Swt lebih baik. Membuat masyarakat korban bencana lebih cepat bahagia itu juga lebih baik.

Karenanya, lebih cepat beramal, lebih cepat bekerja, lebih cepat menjalankan program berarti lebih cepat mengatasi masalah, lebih cepat menuai keberhasilan, lebih cepat sampai di tujuan, lebih cepat meraih kecintaan Allah Swt, lebih cepat meraih ke-taqwaan, dan  bahkan bisa lebih cepat meraih syurga.

Bekal ruhiyah yang tinggi akan tetap menjaga semangat, komitmen, dan mujahadah. Siap dan terus pelihara niat dan keikhlasan, supaya amal berbuah kemanisan bukan kepahitan. Bekal pikiran yang jernih, cerdas, dan totalitas. Tunjukkan kemampuan menyelesaikan masalah. Siapkan bekal kecerdasan sosial yang prima : empati, simpati, peduli, saling menyemangati, meneguhkan kebersamaan, tak menahan racun dalam hati, tak berprasangka buruk dengan sesama tim, mencemooh, menggunjing, merasa lebih hebat dan merasa lebih berjasa. Jangan ada sensasi pribadi, ujub, berbangga diri. Merusak hati karena menyukai apresiasi orang, dan buang perasaan merasa telah beramal lebih baik.

Bekal profesionalisme manajemen yang baik, bayangkan bahwa kita sedang merancang bangunan amal yang lebih indah dari istana, bekerjalah bagai seorang visioner agar tak cepat bosan, jangan terjebak dengan rutinitas, statis, dan stag.

Bersiap dengan dinamika yang tinggi, jangan apriori dengan perubahan yang cepat. Bekerja dalam tim yang solid. Pahami dan laksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai kewajiban amal masing-masing. Berlombalah karena Allah Swt untuk menjadi yang terbaik. Bekerja dengan rencana, buat target dan berusaha untuk mencapainya. Bicara dengan data dan fakta. Menyelaraskan kehebatan berkata-kata dengan kehebatan meraih hasil kerja. Jangan sekedar membawa angin surga tetapi bawalah surga itu sebagai realita. Pro-aktif, jangan pelit untuk berkomunikasi, jangan pelit berbagi informasi, lakukan supervisi dan evaluasi, dan belajarlah terus tanpa henti guna menyempurnakan amal.

Apa yang menjadi target? Bagi korban bencana, menjadi masyarakat model yang tegar, sabar, mampu mandiri. Masyarakat yang memiliki budaya hidup terhormat dan maju, disipilin, kerja-keras, belajar tanpa henti, gotong-royong, dan peduli. Bagi lembaga, mempunyai basis dukungan publik, mempunyai donor society sebagai modal untuk memperkuat pendanaan program lembaga, menjadi lembaga model di dunia kemanusiaan, khususnya dalam penanganan bencana. Bagi masyarakat dan negara, menghidupkan budaya peduli masyarakat. Donatur mempunyai sarana wisata sosial, masyarakat akan  menjadi subjek kerelawanan. Negara memiliki asset, lembaga sosial dan masyarakat relawan.

Byadmin

Kebaikan Selalu Menemukan Jalannya

Oleh Retno Sulisetiyani
(Manajer Marketing Komunikasi RBP)

“Saya kepikiran biaya kontrakan, bulan Desember harus bayar 700rb,” Bu Sum akhirnya bersuara tentang gundah yang Ia rasakan pagi itu, Jumat (17/11). “Ibu ingat Allah yaa, tenangkan pikiran, perbanyak doa. InsyaAllah rezeki ibu sudah ada yg ngatur,” Saya berusaha menguatkan.

Malam itu saya coba membagi kisah tentang Sumiati kepada para sahabat dermawan.

Sumiati adalah janda berusia 45 tahun yang hidup bersama anak satu-satunya bernama Zailani. Ia dan anaknya tak punya pekerjaan tetap. Sehari-hari Sumiati kerja menjadi asisten di kantin kantor Gubernur. Tapi sudah dua bulan libur karena kantin sedang direnovasi. Akhirnya Sumiati mengambil upah nyuci baju tetangga beliau. Namun, kondisinya yang sakit membuatnya kesulitan. “Biasanya dibantu Zailani,” ucapnya kala itu.

Zailani, yang kini berusia 28 tahun juga sedang tak punya pekerjaan. Dulunya, Ia bekerja di sebuah bengkel di Liang Anggang. Namun, karena ada pelebaran bengkel tersebut kena gusur dan akhirnya tutup. Ia tak bisa ikut kerja bangunan karena tak punya sepeda motor. “Kalau harus naik angkutan umum malah habis upahnya untuk ongkos transport,” keluhnya siang itu kepada Saya.

Saya tentu tak bisa membantu Sumiati dan anaknya secara langsung. Namun ikhtiar Saya maksimalkan untuk membaginya kepada teman-teman. Rupanya Allah swt mendengar doa-doa Sumiati. Selang beberapa jam kemudian beberapa pesan masuk ke handphone Saya.

Saya bantu satu juta
Kontrakan beliau biar saya yang tanggung
Ada sepeda motor silahkan dipakai

Allahuakbar. Segalanya mudah bagi Allah swt. Benar janjiNya, bahwa kebaikan pasti akan menemukan jalannya. Banyak tangan terulur untuk Sumiati. Bahkan ada yang hanya mengirimkan bukti transfer donasi dengan nominal yang lumayan. Ah, semua memang sangat mudah bagiNya.

Terima kasih sahabat dermawan. Semoga kebaikan dari segala arah kembali kepada kalian.