Inspirasi

Byadmin

Gelora Cinta Ulama Jadi Pemersatu Umat

Catatan Relawan Haul Akbar Abah Sekumpul 2018

Oleh Wahyu Aji Saputra

Menjadi relawan dalam peringatan Haul ke-13 Abah Guru Sekumpul tahun ini adalah yang pertama kalinya bagi Saya. Seperti kebanyakan orang, kesan mendalam juga Saya rasakan ketika berada di tengah-tengah ribuan Jemaah.

Menurut Saya, Haul Abah Guru Sekumpul memberikan berkat tersendiri bagi setiap orang. Dimana haul ini merupakan cara untuk para Jemaah untuk saling bersilaturahmi, bertemu satu sama lain, yang mungkin belum saling kenal sebelumnya. Selain itu, haulan ini juga telah menjadi momen berkumpulnya anggota keluarga yang lama tak berjumpa.

Satu hal yang paling berkesan adalah gelora kerelawanan dari berbagai penjuru tempat. Dari berbagai kalangan. Tanpa sekat. Semua membaur, bahkan tanpa undangan sekalipun.

Para relawan saling bahu-membahu untuk kelancaran acara besar tersebut. Berbagai posko kesehatan dan istirahat bagi jemaah banyak tersebar, tidak hanya di Sekumpul tapi juga sampai di Banjarbaru. Saya terlibat sebagai pasukan relawan di Gang Taufik bersama Sahabat Kalsel, Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (Himatekin), dan Mahasiswa Akper Pandan Harum. Kami, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan daerah disatukan dengan semangat yang sama, kemanusiaan. Meski hanya sebagai tukang bagi nasi, tetapi hal tersebut sudah membuat Saya merasa bahagia karena dapat memberikan manfaat kepada para jemaah.

Jika kita lihat lebih luas, maka banyak amalan kebaikan yang terjadi kala itu. Kebaikan yang diberikan oleh relawan kesehatan kepada jemaah yang sakit, kebaikan yang dilakukan oleh pengatur arus lalu lintas agar tak ada kecelakaan ataupun kebaikan yang hanya dihantarkan oleh sebungkus nasi. Kebaikan tetaplah kebaikan, sekecil apapun itu.

Kegiatan keagaman yang terjadi setahun sekali ini menjadi implementasi dari berbagai aspek kehidupan umat. Selain faktor religi yang terkandung di dalamnya, rasa kemanusiaan dan sosial juga ikut melambung karenanya. Di sini kita bisa melihat rombongan jemaah yang begitu banyaknya dalam satu salawat yang sama, yang mungkin hanya terjadi di tanah Borneo setahun sekali. Di sini pula kita melihat setiap orang bisa saling membantu tanpa perlu kenal sebelumnya.

Haul Abah Guru Sekumpul seolah menjadi media pemersatu umat. Dimana saat ini umat sering kali diadu domba dengan berita-berita tak jelas (hoax). Tapi pada acara itu mereka menjadi lebih dari sekedar saudara. Ketika kita melihat berbagai ujaran kebencian berdatangan, kali ini satu sama lain saling bergandengan.

Banyak hal yang dapat kita ambil hikmah dan berkatnya dari kegiatan tahunan ini. Bahkan ada dampak yang menyebar luas kepada seluruh insan yang terlibat, salah satunya rasa kemanusiaan dalam bingkai kebaikan. Semoga kesan kebaikan juga dirasakan Presiden Joko Widodo yang turut hadir di tengah para Jemaah. Aamiin.

Editor: Retno Sulisetiyani

Byadmin

Relawan Bersinergi, Bergerak Mewujudkan Solusi

Banyak kesan yang berarti dari sosok Mbah Suminem, terutama para relawan yang selama dua pekan menemani beliau di rumah sakit. Salah satunya Munajatunnisa, salah seorang anggota Relawan Nusantara. Bagi Muna, begitu Ia kerap disapa, Mbah Suminem merupakan pibadi yang supel dan senang bercerita.

“Saya sering mendapatkan nasehat dari Mbah untuk menjaga kesehatan, dapat pekerjaan hingga cepat dapat jodoh,” ucapnya mengenang Mbah Suminem.

Muna mengaku tergerak untuk ikut menjaga Mbah Suminem di rumah sakit karena mendapat kabar tentang beliau dari Sahabat Kalsel RBP. “Katanya ada orang tua yang sakit dan cuma ditemani suami yang juga mengalami keterbelakangan mental, jadi kami dari Relawan Nusantara berbagi tugas, bergantian menjaga beliau di RS,” terang Muna.

Pribadi Mbah Suminem yang begitu baik membuat para relawan selalu mengingat beliau. “Selamat Jalan Mbah Suminem, inshaAllah Mbah mendapatkan tempat yang pantas disisi Allah swt,” ucap Muna mewakili Relawan Nusantara.

Begitulah, betapa besar peran relawan bagi masyarakat. Mereka saling bergotong royong memikul beban pengabdian. Sahabat Kalsel berkolaborasi dengan Relawan Nusantara menjadi solusi bagi permasalahan di banua ini. Semoga sinergi seperti ini bisa ditiru siapa saja, karena dengan bersama-sama maka semua lebih ringan rasanya.

Mengenal Lebih Dekat Relawan Nusantara

Dari relawan, mengabdi kepada negeri untuk kebahagiaan umat dan masyarakat dunia khususnya Indonesia. Itulah misi dari Relawan Nusantara yang dibentuk sebagai wadah atau sarana bagi para pemuda Indonesia untuk membentuk pribadi-pribadi  yang tangguh, kreatif, inovatif dan berjiwa sosial tinggi. Relawan Nusantara juga ingin membentuk pribadi yang dapat berbagi kemanfaatan potensi diri di tengah-tengah masyarakat.

Munajatunnisa, salah satu relawan yang bergabung ke dalam Relawan Nusantara sejak empat tahun yang lalu mengaku banyak hal positif yang didapat. “Saya ingat sekali pada kegiatan pertama dapat amanah menjadi penanggung jawab kegiatan Relawan Cilik, acaranya itu membuat figura menggunakan stik ice cream. Dari sana saya belajar bagaimana menjadi pribadi yang bertanggungjawab dengan jiwa kepemimpinan,” tutur Muna.

Selain itu, Muna juga mengaku akhirnya memahami bagaimana menjadi pribadi yang berjiwa sosial tinggi. “Membantu menjaga Mbah Suminem menjadi kontribusi saya untuk itu,” imbuhnya.

Muna hanyalah satu contoh kisah relawan yang bisa menjadi cerminan tentang lingkungan banua kita saat ini. Tentu banua ini tak cukup hanya dengan satu Muna. Maka dukungan moril dan materiil dari kita lah yang bisa membantu gerakan kerelawanan ini semakin meluas.

Penulis : Eggy Akbar Pradana

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Bersabar Hingga Akhir Hayat, Lahirkan Kebaikan yang Bertunas

Mengenang Sosok Suminem, Lansia Duafa Penderita Gagal Ginjal

Selama dua pekan dirawat di rumah sakit, tak ada keluhan keluar dari mulutnya. Sosok Suminem atau biasa disapa Mbah Suminem itu seolah menjadi cambukan bagi kita dalam berbuat kebaikan. Kini, Mbah Suminem tidaklah benar-benar tiada, karena beliau masih tetap hidup dalam kebaikan-kebaikan dan kasih sayang yang telah Ia lakukan semasa hidupnya.

(Wahyu Aji Saputra, Banjarbaru)

Mbah Suminem mungkin hanyalah perempuan tua yang tinggal di rumah sederhananya di Jalan Parambaian Sungai Besar, Banjarbaru. Namun, bagi Radar Banjar Peduli (RBP) Mbah Suminem telah menjadi pejuang hebat yang memberi arti.

Setiap perempuan pasti bermimpi memiliki suami yang dapat diandalkan dan mampu memberi nafkah yang cukup. Namun rupanya tidak bagi Mbah Suminem. Ia menikah dengan seorang lelaki yang memiliki kekurangan secara mental. Kasim, demikian lelaki itu biasa disapa. Meski begitu, Mbah Suminem tak pernah ragu memberikan kasih sayang untuk suaminya.

Sehari-hari Mbah Suminem berjualan nasi kuning dan lontong untuk menghidupi keluarga. Di mata para tetangga Mbah Suminem dikenal sebagai orang yang begitu baik, disenangi dan dihormati. “Mbah itu nggak segan untuk berbagi rezeki, padahal keadaan beliau serba kekurangan,” ujar Ratna, salah seorang tetangganya.

Apalagi, lanjut Ratna, tepat sekitar lima bulan yang lalu, Mbah Suminem menderita sakit. “Hampir seluruh badan Mbah Suminem bengkak. Jadi nggak bisa jualan. Untuk sekedar menghidupi sehari-hari saja cukup susah, apalagi untuk pengobatan,” ujarnya lagi.

Namun Tuhan ternyata sangat menyayangi Mbah Suminem. Uluran tangan para tetangga senantiasa ada untuknya. Dari makanan hingga membantu memperbaiki peralatan rumah tangga yang rusak.

Hingga pada Jumat (9/2) lalu, RBP akhirnya dipertemukan dengan Mbah Suminem melalui seorang dermawan yang telah lebih dulu membantu. Dengan semangat kemanusiaan, relawan Sahabat Kalsel menyambangi Mbah Suminem untuk dibawa ke rumah sakit agar dapat perawatan yang lebih layak. “Mbah sempat tidak mau, tapi saya dibantu beberapa tetangga membujuknya hingga berhasil,” terang Devi Putri Listyasari, relawan Sahabat Kalsel.

Ditemani oleh suami beliau, Mbah Suminem akhirnya dirawat di RSUD Ulin, Banjarmasin. “Menurut dokter, beliau menderita gagal ginjal jadi diharuskan perawatan yang intensif,” ucap Devi.

Selama di Banjarmasin pendampingan Mbah Suminem dibantu oleh para relawan dari Relawan Nusantara. Tak ada kesedihan yang diperlihatkan oleh Mbah Suminem selama dirawat. Ia malah bersikap sabar dan bahkan kebaikan hatinya masih dapat dirasakan oleh para relawan. “Nanti kalau sudah sembuh, saya bikinkan peyek ya,” ucapnya satu kali kepada para relawan disertai sebuah senyuman. Tak pelak ucapan itu membuat para relawan terharu.

Kasim, sang suami juga tak henti-hentinya memberikan curahan perhatian kepada Mbah Suminem. Tak jarang Kasim menyuapi dan memijat badan Mbah Suminem.

“Rasanya masih banyak yang ingin dilakukan bersama Mbah Suminem, ingin belajar hidup dari beliau. Namun, ternyata Allah lebih ingin bertemu dengan Mbah,” ungkap Devi.

Tepat hari Jumat (23/2), hari yang sama saat beliau masuk RS, Mbah Suminem menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 73 tahun. “Padahal saat itu Mbah mau proses cuci darah yang kedua,” pungkas Devi.

Tak ada cara yang paling indah dalam belajar berbagi kebaikan selain menjadi saksi dari kebaikan itu sendiri. Mungkin ini jua lah maksud dari takdir Tuhan untuk saling mempertemukan para insan kebaikan.

Kematian Mbah Suminem menuai nilai hidup yang luar biasa bagi para relawan. Mbah Suminem dengan waktunya telah membuktikan bahwa kebaikan yang tulus akan selalu mendapat tempat yang tepat. Dalam sisa hidupnya, masih ada benih kebaikan yang siap untuk bertunas kembali. Jadi, bagaimana dengan kita? Yang sudah menjalani masa hidupnya hingga sekarang? Adakah kebaikan yang bisa untuk ditinggalkan dan dikenang?.

Editor : Retno Sulisetiyani

Byadmin

Terima Kasih Ni

(Sebuah Catatan Kenangan untuk Masliah)

Nini Masliah. Begitu kami biasa menyapanya. Sosoknya yang kecil dengan rambut memutih dipotong pendek. Kekinian banar Nini lah kaya Agnez Mo, satu kali pernah relawan bercanda begitu. Beliau hanya tertawa sembari menutup mulutnya.

Nini Masliah adalah sosok senja yang patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, meski rambutn kian memutih namun jiwa muda lah yang ditunjukkannya kepada kami. Wajahnya selalu menyuguhkan senyum yang merekah. Sorot matanya senantiasa memancarkan kebahagiaan. Suatu ketika, Masliah baru saja selesai mandi, kamipun mencoba membantu memapahnya. “Indah, aku indah. Kawa haja nah sorangan. Kawa haja aku, Ia berkeras menyeret sendiri badannya dengan tenaga tuanya. Ngesot. Satu cara yang hanya mampu beliau lakukan dengan kondisi rentanya. Tak jarang Ia tergores paku yang tak menempel sempurna di lantai rumahnya.

Bahkan, ketika kami berkunjung ke kediamannya Ramadhan tahun lalu, ia tetap menunaikan ibadah puasa sebulan penuh.

Diusianya yang ke 75 tahun, Masliah menutup mata. Senin (29/1) yang lalu. Menyisakan ketakjuban bagi kami, para relawan. Dua tahun membersamai, Masliah mengajarkan kepada kami tentang semangat yang luar biasa. Tentang optimisme terhadap hidup dan takdir. Kelumpuhan yang Ia alami tak pernah melemahkan jiwanya dalam menghadapi hidup dan juga beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Kekuatan. Kesabaran. Kesyukuran. Begitulah yang kami ingat tentang sosok Masliah.

Terima kasih Ni. Hanya itu yang bisa kami ucapkan sebagai salam perpisahan.

Penulis: Devi & Enok

Byadmin

Alif Wahyu Satryana : Saya Hanya Perantara

Mengenal Sosok Inspiratif Dibalik Engineer Bites Charity

Tubuhnya mungkin bisa dikatakan mungil untuk ukuran ibu-ibu dengan dua anak. Namun, semangat ibu muda ini ternyata luar biasa besar. Betapa tidak? Sendirian memasak setiap hari untuk menyampaikan amanah donatur mengisi makanan di Food Counter for Duafa pernah dilakoninya. Atau yang baru-baru saja, Sabtu (7/10) tadi. Sejak pagi Ia sudah berkutat dengan adonan kue, sembari menyiapkan paket untuk yatim dan duafa dalam aksi berbagi kebahagiaan 10 Muharram. Lalu siangnya mengantarkan paket-paket itu ke panti asuhan hingga sore menjelang magrib. Tak berhenti sampai di situ, aksinya berlanjut ke Banjarmasin.

“Takziah ke keluarga penderita kanker yang meninggal malam tadi,” ungkapnya.

Bersama empat perempuan sahabatnya dan anak-anaknya, mereka menyambangi sebuah rumah kecil di wilayah Kelayan A Banjarmasin. Meski diiringi hujan, tak menyurutkan semangatnya menyuntikkan motivasi kepada seorang ibu yang telah kehilangan anaknya. “Anak pian sudah tenang, rezeki yang datang ke pian adalah hadiah dari anak, syukuri dengan sungguh-sungguh menata masa depan,” ucapnya lembut kepada Ibu tersebut. Rupanya kalimat itu mampu menghadirkan senyuman dalam duka.

Alif Wahyu Satryana, perempuan muda yang tinggal di Banjarbaru itu bukanlah manusia super. Ia hanya seorang perempuan biasa. Hanya saja keyakinan terhadap Ilahi telah melahirkan komitmen terhadap jalan kebaikan. “Saya hanya bisa nyetatus, Alhamdulillah kalau bisa jadi jalan kebaikan bagi orang lain,” begitu setiap ditanya bagaimana Ia memulai aksi kebaikan tersebut.

Ya. Trya, begitu Ia sering disapa, memang memiliki daya tarik dalam menggalang kebaikan di media sosial. Namun semua itu selalu Ia kembalikan kepada Sang Pemilik Semesta, Allah swt. “Saya hanya perantara, Allah lah yang menggerakan kebaikan-kebaikan itu. Karena kebaikan selalu akan menemukan jalannya,” pungkas Trya. (en)

Byadmin

Berbagi Tak Melulu Soal Materi

Berbagi bukan hanya tentang uang, harta benda, atau materi. Membantu orang lain dengan kemampuan atau skill yang kita miliki juga salah satu bentuk berbagi dan pastinya punya keuntungan tersendiri.

Seperti yang dilakukan Muhammad Tasyrifin, pemuda 21 tahun asal Martapura ini berbagi dengan caranya sendiri. Ia baru saja menyelesaikan studinya di Akademi Perawat (Akper) Intan Martapura. Dengan latar belakang pendidikannya itulah ia berbagi. Ia menjadi salah satu relawan medis yang membantu program Homecare RBP yaitu menjadi perawat bagi Hanil. Hanil yang kini dalam keadaan lumpuh harus mendapatkan perawatan secara rutin.

“Saya biasanya membantu membersihkan luka dan mengganti kateter (alat bantu buang air kecil) beliau secara rutin,” ujar pemuda yang akrab disapa Tasyrifin itu.

Bagi Tasyrifin menjadi relawan itu memberikan banyak keuntungan. Ia bisa mendapatkan kesempatan belajar dan pengalaman yang pastinya akan ia temui lagi dalam dunia kerja. “Tak ada ruginya menjadi relawan itu, bahkan bagi saya adalah pekerjaan yang paling menguntungkan,” tuturnya.

Tak hanya itu, ia pun mengaku mendapatkan keluarga baru setelah menjadi relawan. Rutinitas membersamai keluarga Hanil rupanya menumbuhkan keakraban di antara mereka. Hal itu membuat Tasrifin tak ingin berhenti membantu walau kini ia sudah menyelesaikan studinya di Akper Intan Martapura.

“Saya ingin terus membantu, apalagi sudah akrab dengan keluarga Pak Hanil,” ujarnya yang kini sudah memakai gelar Ahli Madya di belakang namanya.

Tasyrifin mengungkapkan, awalnya ia diminta oleh Ketua IKM (Ikatan Keluarga Mahasiswa) untuk menjadi relawan program homecare RBP. Meski ragu, akhirnya tawaran tersebut Ia terima.

Pertama kali melakukan perawatan Tasyrifin merasa gugup karena belum tahu kondisi pasien yang akan ditangani, namun kekuatan tekadnya berbuah manis. “Kalau di kampus kan biasanya yang jadi pasien teman sendiri jadi biasa aja. Kalau pasien betulan pasti tekanan mentalnya beda,” tuturnya.

Keberhasilan pertamanya membantu pasien membuatnya lebih percaya diri dan dengan senang hati menjalani pekerjaannya itu. “Alhamdulillah senang rasanya. Dengan terlibat langsung saya jadi merasa lebih percaya diri. Terima kasih kepada RBP atas kesempatan yang diberikan,” ungkapnya lagi.

Tasyrifin yang tinggal bersama orang tuanya di Karang Intan Martapura harus menempuh jarak lebih dari 10 km untuk sampai ke rumah Hanil. Bahkan jika aktivitas di kampus cukup padat, Ia rela pergi ke rumah Hanil pada malam hari. Keputusannya untuk menjadi relawanpun didukung oleh orang tuanya sehingga semua Ia lakukan dengan ringan hati.

Tak ingin merasakan kebahagiaan menjadi relawan itu sendiri, ia juga sering mengajak teman-teman kuliahnya untuk membantu di lapangan. Bergantian menjadi tenaga sukarela pagi pasien duafa.

Sosok Tasyrifin hanya satu dari sekian banyak relawan yang telah bermitra dengan RBP. Mereka mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk membantu sesama. Tak ada imbalan yang mereka terima, bahkan bisa jadi harus berkorban materi saat beraksi. Namun, tak ada gurat lelah di wajah mereka. Yang ada hanya senyum ketulusan hati. Karena berbagi tak melulu soal materi. (hwf/en)

Byadmin

Kisah Fahrurrazi, Semangat Meraih Cita meski Sempat Putus Sekolah

Ingin menjadi atlet bela diri nasional. Itulah yang diucapkan Fahrurrazi saat ditanya tentang cita-cita. Meski hidup dalam keluarga yang terbatas ekonominya, remaja 16 tahun yang biasa disapa Fahru itu tak lantas melepas mimpinya. “Saya berharap bisa membahagiakan ibu suatu hari nanti,” ungkapnya. Fahru seharusnya sudah masuk ke jenjang sekolah tingkat atas tahun lalu, namun semenjak ayahnya meninggal dunia Ia tak bisa melanjutkan sekolah. Sang Ibu, Rabiatul Adawiyah, yang hanya seorang buruh di pabrik arang tak sanggup membiayai pendaftaran sekolah kala itu. “Saya bantu ibu menjaga adik yang paling kecil di rumah, sementara ibu kerja,” kisahnya.

Namun, tahun ini mungkin adalah wujud dari doa dan keyakinan Fahru dalam menjalani hidup. RBP bersama mitranya Sedekah Oksigen memberikan jaminan pendidikan berupa beasiswa. “Sebagai anak sulung laki-laki, Fahru punya tanggungjawab besar bagi keluarga. Semoga dengan beasiswa ini Fahru bisa mewujudkan cita-cita,” ucap Direktur RBP Dokter Diauddin.

Baca tentang Sedekah Oksigen : http://radarbanjarpeduli.org/berita/rbp-dan-so-bagi-tas-di-desa-puntik/

Fahru tinggal di Liang Anggang Kecamatan Landasan Ulin Timur Banjarbaru bersama ibu dan keempat adiknya. Rumah yang Ia tempati adalah rumah pinjaman, di atas lahan pemerintah. Sebenarnya, kondisi rumah itu boleh dikatakan kurang layak huni. Sudah lama tidak tersentuh renovasi. “Uang hasil kerja ibu hanya cukup untuk makan dan biaya pendidikan adik-adik,” ucap Fahru lirih.

RBP sedang berusaha mengumpulkan donasi untuk membelikan kasur baru dan sepeda untuk Fahru sekolah. Kasur yang dimiliki keluarga Fahru sangat tipis dan sudah kusam. “Semoga ada dermawan yang berkenan membantu keluarga Fahru agar mendapatkan fasilitas hidup yang lebih layak,” ucap Khairil selaku relawan pendamping wilayah Liang Anggang. “Apalagi kalau ada bantuan bedah rumah akan sangat membantu menjaga kesehatan mereka,” lanjutnya.

Sekarang Fahru sudah menjadi siswa di SMK Negeri 4 Banjarbaru yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Sementara ini Ia membonceng teman sekelasnya pulang pergi sekolah. “Alhamdulillah ada yang mau bantu. Saya senang sekali bisa sekolah,” ujarnya. Setiap pulang sekolah Ia akan ke rumah kakeknya untuk mengaji. Begitu setiap hari Ia lakukan.

“Saya harus tetap semangat sekolah, tak peduli apa kata orang. Yang penting bisa membahagiakan orang tua,” ucapnya menggebu. “Terima kasih RBP dan Sedekah Oksigen yang telah membantu,” ungkapnya lagi. (gst/en)


Ayo Menjadi Orang Tua Asuh

Masih banyak anak-anak yang bernasib serupa seperti Fahru. Kendala biaya dan ketidakberanian orang tua menjadi faktor penghambat anak-anak usia sekolah mendapatkan hak pendidikannya. Para orang tua dengan tingkat pendidikan rendah terlalu takut mencari tahu bagaimana mendapatkan jaminan pendidikan gratis dari sekolah.

Takut bayar ini lah. Takut bayar itu lah. Di satu sisi, dengan pekerjaan menjadi buruh atau serabutan, mereka hanya punya waktu sedikit bahkan tidak punya waktu lagi untuk mengurus segala macam prosedur di pemerintahan.

RBP hadir untuk menjembatani permasalahan itu. Melalui program Bunda (Tabungan Duafa), RBP mengajak para dermawan baik individu ataupun kelompok untuk menjadi orang tua asuh anak-anak duafa. “Program ini kami rancang untuk menjawab permasalahan di masyarakat yang sering kami temukan. Meski ada jaminan pendidikan, keperluan sekolah di luar jaminan juga tak sedikit. Contoh, seragam dan tas sekolah,” ujar Direktur RBP Dokter Diauddin.

Menurut Diauddin, selain bantuan berupa sarana pendidikan, edukasi dan pendampingan keluarga juga menjadi penting. “Untuk itulah dalam program orang tua asuh RBP ada layanan bimbingan belajar dan pendampingan keluarga duafa,” terangnya.

Mari bersama-sama mencetak generasi emas masa depan dengan menjadi “Bunda” bagi kaum duafa. (en)

Byadmin

Dapur Amanah, Dapurnya Ibu-ibu Penebar Berkah

Sedih melihat kekurangan orang lain sudah menjadi naluri manusia kebanyakan. Namun, berapa banyak yang kemudian tergugah dan mampu berempati? Komunitas Dapur Amanah menjadi salah satu contoh konkrit wujud empati kepada kaum duafa. Komunitas yang dimotori oleh Nadia Susanti, warga Banjarbaru, selama lebih dari tiga tahun secara rutin membagikan nasi bungkus gratis untuk warga tidak mampu.

“Awalnya saya dan keluarga saja dan jumlahnya juga sedikit, kami bagikan kepada buruh-buruh di Pasar Martapura. Lama-lama banyak yang ikut bergabung,” cerita Ibu berusia 45 tahun itu menggebu.

Nadia tak pernah menyangka, apa yang telah dimulainya menjadi aksi yang terus mengalir. Niat iseng berbagi foto di sosial media ternyata ditanggapi antusias jejaring teman-temannya. Satu-satu menghubunginya untuk bisa terlibat dalam aksi berbagi nasi bungkus gratis itu. “Ada yang nitip sebungkus, 2 bungkus sampai 5 bungkus. Alhamdulillah makin banyak yang bisa kami bantu,” ujarnya. Sebungkus dihargai nominal sebesar Rp 10ribu saja.

Bukan tak ada rintangan, Nadia tak jarang mendapatkan kritikan tentang aksinya tersebut. Kalau berbuat baik itu tidak usah pamer. Kalau dipamerin bukannya malah riya?.

“Niat saya cuma ngajak orang lain berbuat baik, kalau dikritik diamkan saja. Yang penting saya sudah berbuat,” jawabnya masih dengan senyuman di wajahnya.

Nadia memang hanya ibu rumah tangga biasa, namun kreatifitasnya telah terasah zaman. Makin banyak donasi yang dititipkan, membuatnya makin berkreasi. Nasi bungkus yang awalnya Ia beli akhirnya dimasak sendiri dengan memberdayakan warga tak mampu. “Saya cari tukang masak, beli bahan-bahan sendiri, ternyata lebih irit. Sisa donasi saya bikin program sosial yang lain,” terang Nadia. Maka, terbantulah Ani, seorang ibu rumah tangga beranak 7 yang tinggal di Martapura. Suami Ani bekerja serabutan, jadi sebelum menjadi tukang masak di Dapur Amanah, Ani banting tulang bekerja apa saja sampai ke Banjarmasin. “Alhamdulillah ketemu Bu Nadia dan diberi pekerjaan yang penuh berkah ini,” ungkap Ani syahdu. Ani juga mendapatkan pinjaman tanpa bunga untuk modal usaha warung kelontong di rumahnya. Kini Ani tak perlu kesana kemari mencari nafkah membantu suami.

Selain Ani, Nadia juga dibantu Mita, Ulfa, dan asisten rumah tangganya Eva. Setiap jumat pagi mereka bergelut dengan waktu demi mengisi perut-perut warga tak mampu.

Lelah kah? Nadia hanya tersenyum. “Alhamdulillah setiap mau ketemu jumat kami malah semakin semangat. Menjemput berkah sedekah,” ucapnya sumringah. Mita yang juga sepupunya bertutur tentang hikmah sedekah yang Ia saksikan. “Ada teman saya rutin donasi dua bungkus tiap minggu dengan nazar supaya bisa hamil lagi. Alhamdulillah tiga bulan kemudian Ia positif hamil,” kenang Mita.

Ya. Ternyata kebaikan sedekah melahirkan banyak kebaikan lainnya. Tak hanya duafa yang tersenyum karena bisa menyisihkan uang makannya hari itu, tapi juga buah yang tak terkira bagi yang memberi.
Tak ingin merasakan indahnya kebaikan itu sendiri, Nadia juga menebar bagi nasi bungkus gratis ke daerah lain yaitu Malang, Yogya, Solo, dan Blitar. “Saya senang makin banyak yang mengikuti jejak, tapi kalau numpuk kan jadi mubazir. Makanya saya bagi-bagi ke daerah lain,” terang wanita lulusan STIE Banjarmasin itu.

Aksi-aksi kece lainnya pun bertebaran. Sembako gratis untuk warga tak mampu, pompa untuk langgar atau masjid, air minum gratis untuk musola atau masjid, sampai bantuan modal usaha untuk duafa.

Dapur Amanah pun bersinergi dengan Sahabat Kalsel. Nadia yang hobi bercocok tanam itu mengaku sangat senang ketemu dengan forum relawan tersebut. “Kami bersinergi membantu rumah singgah anak kanker di Banjarmasin. Wah ternyata makin menyenangkan ya kalau bersama-sama,” ucapnya.

Dapur Amanah hanya satu contoh begitu hebatnya kebaikan sedekah. Donasi 10ribu bisa melahirkan puluhan kebaikan. Melahirkan ratusan senyuman. Yang perlu kita lakukan hanyalah berbuat sekarang juga dan jangan pernah berhenti. Biarkan semua menjadi investasi abadi. Biar Allah Sang Maha Kaya yang memberi nilai akhir nanti. (en)

Byadmin

Belajar Nilai Hidup dari Sosok Renta Bersahaja

Oleh Retno Sulisetiyani (Manajer Marketing Komunikasi RBP)

Menjadi tua itu sebuah kepastian, namun menjadi dewasa merupakan sebuah pilihan. Pepatah tersebut seringkali diungkapkan untuk memotivasi seseorang dalam menjalani hidup, terlebih kepada para pemuda. Betapa tidak? Banyak kaum pemuda yang terkesan cepat menyerah dalam berjuang saat ini. Narkoba, pergaulan bebas, orientasi seks yang keliru, hingga tindak kriminal di luar batas kemanusiaan. Zaman sudah edan!. Demikian banyak orang menuding zaman, padahal kita sendirilah pelaku sejarah.

Baiklah. Izinkan kami bercerita tentang sosok-sosok renta bersahaja.

Namanya Patimah, seorang janda berusia 75 tahun yang tinggal di Kecamatan Liang Anggang Banjarbaru. Hidupnya sehari-hari dibantu oleh anaknya yang bekerja sebagai buruh. Selain itu, kadang-kadang ada rezeki dari hasil beliau mengajar ngaji anak-anak di lingkungan rumahnya. Ya! Meski sakit-sakitan, Patimah tetap memiliki semangat untuk hidup sekaligus berbagi ilmu. Sebenarnya, selain punya penyakit darah tinggi Patimah juga mengalami gangguan melihat dan mendengar. Lantas bagaimana Ia mengajar ngaji?

“Kalau anak-anak mengaji Alhamdulillah kadada halangan pang, jelas haja mendengar,” akunya kala ditanya. Begitulah Kuasa Ilahi. Bahwa dibalik kekurangan selalu ada kelebihan. Demikian juga sebaliknya. Setiap sore Patimah menerima anak-anak yang ingin belajar mengaji di rumah sederhana yang hampir puluhan tahun tak tersentuh renovasi. Kondisi fisiknya yang bahkan gemetar saat berjalan tak menyurutkan semangatnya demi sebuah harap : agar anak-anak dekat dengan Al Qur’an.

Tengok juga sepasang renta, Sabran (85) dan Siti Aisyah (80) yang tinggal tak jauh dari rumah Patimah. Kondisi rumahnya tak jauh beda dengan rumah Patimah. Dengan kisah berbeda, Sabran harus bersabar menghadapi istrinya. Di usia senja, Siti Aisyah mengalami sedikit gangguan psikis dimana Ia beranggapan dikejar-kejar oleh sosok yang tidak dikenal dan mengancam. Meski kadang lelah, Sabran tak pernah meninggalkan istrinya. Mungkin dengan menjadi teman di masa tua itulah, Sabran telah membuktikan diri menjadi pasangan yang hebat bagi istrinya.

Sosok Patimah maupun Sabran hanya segelintir dari 2,3 % jumlah lansia di Kalimantan Selatan. Bisa jadi mereka beruntung karena masih bisa menikmati tinggal di rumah (dekat dengan keluarga meskipun kekurangan), jika dibandingkan dengan kebanyakan lansia yang dititipkan di panti. Namun, perlu perjuangan sendiri saat nasib membawa mereka pada satu masa dimana mereka harus hidup di rumah sendirian. Terbatas secara fisik juga ekonomi. Namun, kenyataannya mereka bisa menemukan cara bagaimana menjalani hidup. Terlebih masih bisa berbagi untuk sesama.

Lantas bagaimana dengan kita hari ini? Berpasrah diri hingga menua atau memilih berjuang dalam kedewasaan?.