Inspirasi

Byadmin

Kisah Fahrurrazi, Semangat Meraih Cita meski Sempat Putus Sekolah

Ingin menjadi atlet bela diri nasional. Itulah yang diucapkan Fahrurrazi saat ditanya tentang cita-cita. Meski hidup dalam keluarga yang terbatas ekonominya, remaja 16 tahun yang biasa disapa Fahru itu tak lantas melepas mimpinya. “Saya berharap bisa membahagiakan ibu suatu hari nanti,” ungkapnya. Fahru seharusnya sudah masuk ke jenjang sekolah tingkat atas tahun lalu, namun semenjak ayahnya meninggal dunia Ia tak bisa melanjutkan sekolah. Sang Ibu, Rabiatul Adawiyah, yang hanya seorang buruh di pabrik arang tak sanggup membiayai pendaftaran sekolah kala itu. “Saya bantu ibu menjaga adik yang paling kecil di rumah, sementara ibu kerja,” kisahnya.

Namun, tahun ini mungkin adalah wujud dari doa dan keyakinan Fahru dalam menjalani hidup. RBP bersama mitranya Sedekah Oksigen memberikan jaminan pendidikan berupa beasiswa. “Sebagai anak sulung laki-laki, Fahru punya tanggungjawab besar bagi keluarga. Semoga dengan beasiswa ini Fahru bisa mewujudkan cita-cita,” ucap Direktur RBP Dokter Diauddin.

Baca tentang Sedekah Oksigen : http://radarbanjarpeduli.org/berita/rbp-dan-so-bagi-tas-di-desa-puntik/

Fahru tinggal di Liang Anggang Kecamatan Landasan Ulin Timur Banjarbaru bersama ibu dan keempat adiknya. Rumah yang Ia tempati adalah rumah pinjaman, di atas lahan pemerintah. Sebenarnya, kondisi rumah itu boleh dikatakan kurang layak huni. Sudah lama tidak tersentuh renovasi. “Uang hasil kerja ibu hanya cukup untuk makan dan biaya pendidikan adik-adik,” ucap Fahru lirih.

RBP sedang berusaha mengumpulkan donasi untuk membelikan kasur baru dan sepeda untuk Fahru sekolah. Kasur yang dimiliki keluarga Fahru sangat tipis dan sudah kusam. “Semoga ada dermawan yang berkenan membantu keluarga Fahru agar mendapatkan fasilitas hidup yang lebih layak,” ucap Khairil selaku relawan pendamping wilayah Liang Anggang. “Apalagi kalau ada bantuan bedah rumah akan sangat membantu menjaga kesehatan mereka,” lanjutnya.

Sekarang Fahru sudah menjadi siswa di SMK Negeri 4 Banjarbaru yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Sementara ini Ia membonceng teman sekelasnya pulang pergi sekolah. “Alhamdulillah ada yang mau bantu. Saya senang sekali bisa sekolah,” ujarnya. Setiap pulang sekolah Ia akan ke rumah kakeknya untuk mengaji. Begitu setiap hari Ia lakukan.

“Saya harus tetap semangat sekolah, tak peduli apa kata orang. Yang penting bisa membahagiakan orang tua,” ucapnya menggebu. “Terima kasih RBP dan Sedekah Oksigen yang telah membantu,” ungkapnya lagi. (gst/en)


Ayo Menjadi Orang Tua Asuh

Masih banyak anak-anak yang bernasib serupa seperti Fahru. Kendala biaya dan ketidakberanian orang tua menjadi faktor penghambat anak-anak usia sekolah mendapatkan hak pendidikannya. Para orang tua dengan tingkat pendidikan rendah terlalu takut mencari tahu bagaimana mendapatkan jaminan pendidikan gratis dari sekolah.

Takut bayar ini lah. Takut bayar itu lah. Di satu sisi, dengan pekerjaan menjadi buruh atau serabutan, mereka hanya punya waktu sedikit bahkan tidak punya waktu lagi untuk mengurus segala macam prosedur di pemerintahan.

RBP hadir untuk menjembatani permasalahan itu. Melalui program Bunda (Tabungan Duafa), RBP mengajak para dermawan baik individu ataupun kelompok untuk menjadi orang tua asuh anak-anak duafa. “Program ini kami rancang untuk menjawab permasalahan di masyarakat yang sering kami temukan. Meski ada jaminan pendidikan, keperluan sekolah di luar jaminan juga tak sedikit. Contoh, seragam dan tas sekolah,” ujar Direktur RBP Dokter Diauddin.

Menurut Diauddin, selain bantuan berupa sarana pendidikan, edukasi dan pendampingan keluarga juga menjadi penting. “Untuk itulah dalam program orang tua asuh RBP ada layanan bimbingan belajar dan pendampingan keluarga duafa,” terangnya.

Mari bersama-sama mencetak generasi emas masa depan dengan menjadi “Bunda” bagi kaum duafa. (en)

Byadmin

Dapur Amanah, Dapurnya Ibu-ibu Penebar Berkah

Sedih melihat kekurangan orang lain sudah menjadi naluri manusia kebanyakan. Namun, berapa banyak yang kemudian tergugah dan mampu berempati? Komunitas Dapur Amanah menjadi salah satu contoh konkrit wujud empati kepada kaum duafa. Komunitas yang dimotori oleh Nadia Susanti, warga Banjarbaru, selama lebih dari tiga tahun secara rutin membagikan nasi bungkus gratis untuk warga tidak mampu.

“Awalnya saya dan keluarga saja dan jumlahnya juga sedikit, kami bagikan kepada buruh-buruh di Pasar Martapura. Lama-lama banyak yang ikut bergabung,” cerita Ibu berusia 45 tahun itu menggebu.

Nadia tak pernah menyangka, apa yang telah dimulainya menjadi aksi yang terus mengalir. Niat iseng berbagi foto di sosial media ternyata ditanggapi antusias jejaring teman-temannya. Satu-satu menghubunginya untuk bisa terlibat dalam aksi berbagi nasi bungkus gratis itu. “Ada yang nitip sebungkus, 2 bungkus sampai 5 bungkus. Alhamdulillah makin banyak yang bisa kami bantu,” ujarnya. Sebungkus dihargai nominal sebesar Rp 10ribu saja.

Bukan tak ada rintangan, Nadia tak jarang mendapatkan kritikan tentang aksinya tersebut. Kalau berbuat baik itu tidak usah pamer. Kalau dipamerin bukannya malah riya?.

“Niat saya cuma ngajak orang lain berbuat baik, kalau dikritik diamkan saja. Yang penting saya sudah berbuat,” jawabnya masih dengan senyuman di wajahnya.

Nadia memang hanya ibu rumah tangga biasa, namun kreatifitasnya telah terasah zaman. Makin banyak donasi yang dititipkan, membuatnya makin berkreasi. Nasi bungkus yang awalnya Ia beli akhirnya dimasak sendiri dengan memberdayakan warga tak mampu. “Saya cari tukang masak, beli bahan-bahan sendiri, ternyata lebih irit. Sisa donasi saya bikin program sosial yang lain,” terang Nadia. Maka, terbantulah Ani, seorang ibu rumah tangga beranak 7 yang tinggal di Martapura. Suami Ani bekerja serabutan, jadi sebelum menjadi tukang masak di Dapur Amanah, Ani banting tulang bekerja apa saja sampai ke Banjarmasin. “Alhamdulillah ketemu Bu Nadia dan diberi pekerjaan yang penuh berkah ini,” ungkap Ani syahdu. Ani juga mendapatkan pinjaman tanpa bunga untuk modal usaha warung kelontong di rumahnya. Kini Ani tak perlu kesana kemari mencari nafkah membantu suami.

Selain Ani, Nadia juga dibantu Mita, Ulfa, dan asisten rumah tangganya Eva. Setiap jumat pagi mereka bergelut dengan waktu demi mengisi perut-perut warga tak mampu.

Lelah kah? Nadia hanya tersenyum. “Alhamdulillah setiap mau ketemu jumat kami malah semakin semangat. Menjemput berkah sedekah,” ucapnya sumringah. Mita yang juga sepupunya bertutur tentang hikmah sedekah yang Ia saksikan. “Ada teman saya rutin donasi dua bungkus tiap minggu dengan nazar supaya bisa hamil lagi. Alhamdulillah tiga bulan kemudian Ia positif hamil,” kenang Mita.

Ya. Ternyata kebaikan sedekah melahirkan banyak kebaikan lainnya. Tak hanya duafa yang tersenyum karena bisa menyisihkan uang makannya hari itu, tapi juga buah yang tak terkira bagi yang memberi.
Tak ingin merasakan indahnya kebaikan itu sendiri, Nadia juga menebar bagi nasi bungkus gratis ke daerah lain yaitu Malang, Yogya, Solo, dan Blitar. “Saya senang makin banyak yang mengikuti jejak, tapi kalau numpuk kan jadi mubazir. Makanya saya bagi-bagi ke daerah lain,” terang wanita lulusan STIE Banjarmasin itu.

Aksi-aksi kece lainnya pun bertebaran. Sembako gratis untuk warga tak mampu, pompa untuk langgar atau masjid, air minum gratis untuk musola atau masjid, sampai bantuan modal usaha untuk duafa.

Dapur Amanah pun bersinergi dengan Sahabat Kalsel. Nadia yang hobi bercocok tanam itu mengaku sangat senang ketemu dengan forum relawan tersebut. “Kami bersinergi membantu rumah singgah anak kanker di Banjarmasin. Wah ternyata makin menyenangkan ya kalau bersama-sama,” ucapnya.

Dapur Amanah hanya satu contoh begitu hebatnya kebaikan sedekah. Donasi 10ribu bisa melahirkan puluhan kebaikan. Melahirkan ratusan senyuman. Yang perlu kita lakukan hanyalah berbuat sekarang juga dan jangan pernah berhenti. Biarkan semua menjadi investasi abadi. Biar Allah Sang Maha Kaya yang memberi nilai akhir nanti. (en)

Byadmin

Belajar Nilai Hidup dari Sosok Renta Bersahaja

Oleh Retno Sulisetiyani (Manajer Marketing Komunikasi RBP)

Menjadi tua itu sebuah kepastian, namun menjadi dewasa merupakan sebuah pilihan. Pepatah tersebut seringkali diungkapkan untuk memotivasi seseorang dalam menjalani hidup, terlebih kepada para pemuda. Betapa tidak? Banyak kaum pemuda yang terkesan cepat menyerah dalam berjuang saat ini. Narkoba, pergaulan bebas, orientasi seks yang keliru, hingga tindak kriminal di luar batas kemanusiaan. Zaman sudah edan!. Demikian banyak orang menuding zaman, padahal kita sendirilah pelaku sejarah.

Baiklah. Izinkan kami bercerita tentang sosok-sosok renta bersahaja.

Namanya Patimah, seorang janda berusia 75 tahun yang tinggal di Kecamatan Liang Anggang Banjarbaru. Hidupnya sehari-hari dibantu oleh anaknya yang bekerja sebagai buruh. Selain itu, kadang-kadang ada rezeki dari hasil beliau mengajar ngaji anak-anak di lingkungan rumahnya. Ya! Meski sakit-sakitan, Patimah tetap memiliki semangat untuk hidup sekaligus berbagi ilmu. Sebenarnya, selain punya penyakit darah tinggi Patimah juga mengalami gangguan melihat dan mendengar. Lantas bagaimana Ia mengajar ngaji?

“Kalau anak-anak mengaji Alhamdulillah kadada halangan pang, jelas haja mendengar,” akunya kala ditanya. Begitulah Kuasa Ilahi. Bahwa dibalik kekurangan selalu ada kelebihan. Demikian juga sebaliknya. Setiap sore Patimah menerima anak-anak yang ingin belajar mengaji di rumah sederhana yang hampir puluhan tahun tak tersentuh renovasi. Kondisi fisiknya yang bahkan gemetar saat berjalan tak menyurutkan semangatnya demi sebuah harap : agar anak-anak dekat dengan Al Qur’an.

Tengok juga sepasang renta, Sabran (85) dan Siti Aisyah (80) yang tinggal tak jauh dari rumah Patimah. Kondisi rumahnya tak jauh beda dengan rumah Patimah. Dengan kisah berbeda, Sabran harus bersabar menghadapi istrinya. Di usia senja, Siti Aisyah mengalami sedikit gangguan psikis dimana Ia beranggapan dikejar-kejar oleh sosok yang tidak dikenal dan mengancam. Meski kadang lelah, Sabran tak pernah meninggalkan istrinya. Mungkin dengan menjadi teman di masa tua itulah, Sabran telah membuktikan diri menjadi pasangan yang hebat bagi istrinya.

Sosok Patimah maupun Sabran hanya segelintir dari 2,3 % jumlah lansia di Kalimantan Selatan. Bisa jadi mereka beruntung karena masih bisa menikmati tinggal di rumah (dekat dengan keluarga meskipun kekurangan), jika dibandingkan dengan kebanyakan lansia yang dititipkan di panti. Namun, perlu perjuangan sendiri saat nasib membawa mereka pada satu masa dimana mereka harus hidup di rumah sendirian. Terbatas secara fisik juga ekonomi. Namun, kenyataannya mereka bisa menemukan cara bagaimana menjalani hidup. Terlebih masih bisa berbagi untuk sesama.

Lantas bagaimana dengan kita hari ini? Berpasrah diri hingga menua atau memilih berjuang dalam kedewasaan?.