Ayo Peduli !

Byadmin

Ayo Peduli !

Oleh : Yohandromeda Syamsu

Di kota suci Madinah, saat Rasulullah Saw masih hidup. Tersebutlah seorang pria miskin yang sedang melintas di sebuah kebun kurma. Hari itu ia merasa lapar. Tidak ada makanan yang dapat ia makan dan tidak ada harta yang ia miliki untuk sekedar membeli pangan.

Saat ia melintas di kebun kurma. Ia dapati ada sebuah pohon kurma yang amat subur. Daunnya rimbun dan buahnya menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Pria itu khilaf, sebab saat berjalan, hidungnya yang naas tertubruk dengan jumputan buah kurma yang ranum dan mengundang selera makan. Ia pun tak kuasa menahan diri. Ia petik sebuah kurma, lalu dimakanlah.

Sial, apa yang ia lakukan diketahui oleh pemilik kebun yang datang menghardik dengan mengacungkan parang. Ia pun tertangkap. Kesialan itu semakin bertambah, saat ia tahu bahwa pemilik kebun kurma itu adalah orang yang amat kikir.

“Aku akan bawa dan adukan kamu kepada Rasulullah. Biar tanganmu dipotong!” pemilik kebun itu berkata dengan nada tinggi dan mata mendelik. Si pria miskin tidak bisa berbuat banyak. Ia tahu dirinya salah. “Tapi, apakah tanganku harus dipotong hanya sebab sebuah kurma?” ia membatin. Ia pun pasrah saat digiring oleh pemilik kebun itu.

“Ya Rasul, potong tangan orang ini. Ia telah mencuri di kebunku!” pemilik kebun berkata kepada Rasulullah Muhammad Saw sambil menenteng pria miskin dengan sebelah tangannya.

“Apa yang sudah kau curi, wahai saudaraku?” Rasul Saw bertanya dengan penuh kesabaran. “Maafkan aku, ya Rasulullah! Aku telah mencuri sebutir kurma dari kebun bapak ini. Aku khilaf, ya Rasul. Aku lapar.” Pemuda itu mengiba.

Rasul Saw menghela nafas sejenak, kali ini pandangannya ditujukan kepada pemilik kebun, “Hmm… rupanya hanya sebutir kurma. Mengapa tidak kau infakkan saja kepadanya sehingga engkau akan mendapat kebaikan dan pahala berlipat?” Rasul bertanya dan menunggu jawaban dari pemilik kebun itu. “Tidak ya Rasulullah. Orang ini harus diberi pelajaran. Kalau dibiarkan nanti menjadi kebiasaan. Aku tidak mau menginfakkan kurma itu. Aku memilih agar orang ini dipotong saja tangannya!” ia menyergah.

“Infakkan wahai saudaraku…! atau maukah kau aku tawarkan yang lebih hebat lagi? infakkan pohon kurma yang lebat itu, dan engkau akan dapat surga karenanya?” Rasul menerbitkan senyum di sudut bibirnya tanda optimis menunggu respon dari pemilik kebun itu.

Sang pemilik kebun menerawang sesaat. Kepalanya diangkat ke arah langit. Ia menimbang-nimbang kebenaran janji surga dari Rasulullah Saw yang baru saja disebutkan untuknya. Terakhir, ia pun menghelakan nafas sambil berujar, “Surga, ya Rasulullah? Apakah sedemikian remeh kau tawarkan surga hanya dengan sebatang pohon kurma? Tidak. Aku tidak menginginkannya!” bantah pemilik kebun itu tak percaya.

Rasul Saw tersedak… Tak terbayang olehnya kekikiran yang dimiliki oleh salah seorang umatnya. Namun Allah Swt tidak akan membiarkan hati Rasul berubah sedih. Lalu terdengarlah tutur seorang pria yang juga turut hadir dalam kesempatan itu. “Wahai pemilik kebun, bila engkau tidak mau menerima tawaran surga dari Rasulullah mengapa tidak kau jual saja padaku?”

Rasulullah Saw dan pemilik kebun itu tertegun. Dalam saat bersamaan keduanya menoleh pada sumber suara. Pemilik kebun itu berkata kepadanya, “Aku tidak akan menjual pohon itu dengan harga yang murah, wahai saudaraku,” kesombongan terdengar dalam nada suaranya. “Berapa yang kau minta untuk pohon kurma itu?” sumber suara menunjukkan keseriusannya. “Aku akan tukar pohon kurma lebatku itu dengan 40 batang pohon kurma. Ayo bagaimana, apakah kamu mau membelinya?”

Harga yang amat hebat, fantastis dan tidak masuk akal. Sebuah harga yang terbit dari sifat kekikiran yang membawa pada ketamakan. Namun, kenikmatan surga tidaklah sebanding dengan mahalnya dunia. Pria itu lalu membalas, “Baik, aku akan beli pohon kurma itu dengan 40 batang kurma yang aku miliki. Bahkan bila engkau meminta lebih dari itu, aku pun akan membelinya demi mendapatkan surga di akhirat nanti!”

Maka dijuallah pohon itu dengan 40 batang pohon lainnya. Kemudian pemilik pohon yang baru menginfakkan pohon itu di jalan Allah, berikut kurma yang telah dimakan oleh pria miskin.

Sementara, si pemilik kebun pelit telah mendapatkan keuntungan dunia yang berkali lipat. Namun karena kekikirannya, ia telah menyia-nyiakan ajakan Rasulullah Saw demi mendapatkan surga di sisi Allah Ta’ala.

Kejadian ini kemudian menyebabkan turunnya (asbabun nuzul) beberapa ayat dari surat Al-Lail: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala terbaik, Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS. Al Lail: 5-11)

Demikianlah akhir kisah manusia kikir yang Allah pastikan akan mendapat kesukaran. Sementara yang terjadi bagi orang yang bersifat penderma adalah senantiasa kemudahan.

Memang banyak manusia yang bersifat kikir dan itu akan membawa dirinya kepada kerugian sejati. Saat Allah Swt mengajak berderma dan meminta kita untuk mengeluarkan apa yang kita miliki, itu berarti Allah menyediakan sebuah kesempatan emas untuk diraih. Allah Maha Kaya, dan Dia tidak membutuhkan harta hamba-Nya. Dia hanya ingin melipat-gandakan harta tersebut. Memberi keberkahan padanya, lalu melimpahkan segala kemudahan. Bila demikian, lalu apa ruginya berderma di jalan-Nya?

Allah berfirman dengan nada keheranan atas kekikiran manusia, “Apakah kemudharatan (rugi) bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezki yang telah diberikan Allah kepada mereka Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.” (QS.. An-Nisa: 39)

Pada kesempatan lain Allah Swt berfirman hal senada, “Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi” (QS. Al-Hadiid: 10)

Mulai sekarang, tanamkan dalam hati kita semua, untuk selalu bersedia menerima ajakan Allah Swt untuk berderma. Janganlah kesempatan ini anda lepaskan dan lewatkan! Sehingga pada saatnya kita semua tidak menjumpai penyesalan dimana tidak ada lagi orang miskin yang mau menerima derma kita. Di hari, tiada berguna lagi harta serta keturunan, Semoga Allah Swt merahmati selalu. Amien!.(*)

About the author

admin administrator

Leave a Reply