Belanja Seperlunya

Byadmin

Belanja Seperlunya

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Tentu pernah ada perasan dalam diri, begitu besar rezeki yang Allah limpahkan, hingga hampir semua kebutuhan hidup, bahkan yang selama ini tidak bisa kita miliki, dengan limpahan karunia-Nya dapat kita penuhi. Yah, sungguh itu merupakan suatu kenikmatan terbesar yang kita rasakan. Namun pernahkan kita berfikir kebelakang sejanak, apakah semua barang kebutuhan yang kita penuhi tersebut betul-betul merupakan kebutuhan pokok ataukah hanya sebagai kebutuhan penunjang (barang-barang komplementer) belaka.

Seandainya semua itu adalah kebutuhan dasar, tentu sesuatu yang seharusnya dilakukan. Namun kalau itu hanya kebutuhan komplementer semata, tentu masih ada hal-hal lain yang harus kita fikirkan sebelum memenuhinya.

Islam tentu tidak melarang ummatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan utama ataupun kebutuhan sekunder bahkan kebutuhan tersier sekalipun. Hanya saja islam melarang umatnya dalam memenuhi kebutuhan tersebut bermewah-mewahan (baca: berlebih-lebihan). Islam senantiasa mengajarkan kesederhanaan dalam hidup.

Ya, kesederhanaan. Kalimat itu tentu saja sangat mudah diucapkan, namun dalam melaksanakannnya amatlah sulit. Bagaimana biar tidak sulit? Dimana kita bisa bercermin dan memperoleh teladan? Jawabnya, semua ada dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an bagi kaum Muslimin diyakini bukan hanya kitab suci ’ansich’ yang bersifat pasif, tapi merupakan wahyu Allah kepada ummat manusia lewat perantaraan Nabi Muhammad Saw dan utusan ’ruh suci’ Jibril yang berisi kebenaran-kebenaran absolut dari Rabb al-Alamin Azza wa Jalla. Dengan demikian al-Qur’an dijadikan sebagai pedoman hidup bagi ummat Islam dalam melakukan ibadah, muamalah dan pembinaan akhlaq.

Aspek yang menarik untuk dikaji lebih mendalam ialah bagaimana nilai-nilai Islami (syari’ah) dilaksanakan dalam berbagai sendi kehidupan, salah satunya ialah mengenai pembelanjaan harta.

Harta sebagai salah satu amanah yang diberikan oleh Allah kepada ummat manusia harus disyukuri dalam parameter nilai-nilai Islami. Pertanyaan yang segera muncul ialah jika berkaitan dengan masalah pembagian harta, bagaimana mekanismenya? Kalau sasarannya ialah ’optimalisasi pembelanjaan harta’ sementara secara realitas timbul kesenjangan sosial, salah satunya di Indonesia dengan kondisi masyarakat mayoritas Islam.

Fenomena distribusi harta merupakan suatu makna yang sangat menarik untuk dikaji sebagai upaya untuk mengarahkan pada solusi dari permasalahan kesenjangan sosial terutama dalam struktur sosial masyarakat Indonesia.

Prinsip utama yang menentukan dalam distribusi harta ialah keadilan dan kasih sayang. Tujuan pendistribusian meliputi: Pertama, agar kekayaan tidak menumpuk pada sebagian kecil masyarakat, tetapi selalu beredar dalam masyarakat.

Kedua, berbagai faktor produksi yang perlu mempunyai pembagian yang adil dalam kemakmuran negara. Pengertian dari pembersihan jiwa dalam dataran doktrin diimbangi dengan pertimbangan keadilan untuk mewujudkan suatu sistem kehidupan yang sejahtera. Islam menghendaki kesamaan di kalangan manusia di dalam perjuangannya untuk mendapatkan harta tanpa memandang perbedaan kelas, kepercayaan atau warna kulit.

Tujuan utama Islam ialah memberikan peluang yang sama kepada semua orang dalam perjuangan ekonomi tanpa membedakan status sosialnya, di samping itu Islam tidak membenarkan perbedaan kehidupan lahiriah yang melampaui batas dan berusaha mempertahankannya dalam batasan-batasan yang wajar dan seksama. Dalam rangka mengontrol pertumbuhan dan penimbunan harta kekayaan, Islam mencegah terjadinya penimbunan dan menolong setiap orang untuk membelanjakannya demi kebaikan masyarakat.

Pesan al-Qur’an di dalam surat al-Isra ayat 16: “Dan jika Kami hendaki membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Israa:16)

Firman Allah di atas merupakan hukum Allah terhadap orang-orang yang bermewah-mewahan tanpa memberikan kewajiban kepada yang berhak menerimanya. Pola hidup yang dijalankan atas dasar bermewah-mewahan dalam tataran mencapai tujuannya tidak segan-segan menindas golongan miskin dan lemah untuk maksudnya yang individualistis, oleh karena itu orang yang kaya bertambah kaya dan orang miskin akan semakin miskin, alur dari problematika tersebut akan memporak-porandakan keutuhan masyarakat. ***

About the author

admin administrator

Leave a Reply