Haji dan Kesalehan Sosial

Byadmin

Haji dan Kesalehan Sosial

Oleh : Yohandromeda Syamsu

Haji adalah salah satu kewajiban umat Islam selama dia mampu melakukannya. Dalam deretan arkan (fondasi) agama, haji berada pada urutan kelima setelah syahadat, salat, puasa, dan zakat. Seperti juga bentuk peribadatan yang lain, haji diwajibkan bukan semata-mata berorientasi pada aspek keimanan kepada Tuhan secara personal, namun yang lebih penting juga bagaimana keimanan pada Tuhan itu kemudian ditindaklanjuti dengan amal kebajikan yang berdimensi sosial. Dimensi sosial haji, antara lain terlihat jelas ketika para hujjaj (orang-orang yang tengah melakukan ibadah haji) melakukan wukuf (bermalam) di Arafah. Di mana satu sama lain saling berinteraksi dengan niat yang utuh untuk semata-mata melakukan kebajikan.

Dengan berhaji, manusia harus meninggalkan keluarga, handai-tolan, tanah air, dan seluruh hartanya untuk menuju satu tujuan, Allah. Pasrah total kepada-Nya, seperti kepasrahan Ibrahim as. Dan, karena totalitas inilah kiranya mengapa di antara parahujjaj ada yang mengharapkan tidak kembali ke tanah air (meninggal di Tanah Suci). Ada keyakinan meninggal di Tanah Suci ketika berhaji merupakan puncak syahadah yakni perjumpaan dengan Allah pada saat pasrah secara total kepada-Nya.

Untuk meningkatkan iman, seseorang calon haji hendaknya menjauhkan dirinya dari syirik. Karena, syirik menyebabkan rusak pekerjaan ibadahnya yang konkret maupun yang abstrak, sesuai firman Allah: ”Dan, jika mereka musyrik niscaya rusaklah pekerjaan-pekerjaan mereka yang pernah mereka lakukan.” (QS.  Al-An’am: 88).

Melakukan tobat dari segala perbuatan maksiat dan larangan-larangan agama, adalah dengan total menyesali langsung perbuatan tersebut (tidak ditunda-tunda) serta bertekad tidak mengulangi kembali. Selain itu harus mengembalikan hak-hak orang lain yang dia pergunakan tanpa izin, melunasi utang-utangnya, minta maaf atau minta dihalalkan segala urusan dan sangkut paut dengan orang lain mengenai urusan dunia dalam masa pergaulan terdahulu.

Para calon haji dianjurkan untuk berwasiat kepada keluarga yang akan ditinggalkan pergi haji, dengan menyertakan saksi dan mewakilkan kepada orang lain yang akan mengurusi atas namanya selama ia tidak dapat menyelesaikan karena menunaikan ibadah haji. Calon haji sangat dituntut untuk memperluas wawasan keagamaannya dengan cara giat menghadiri majelis-majelis taklim, mencari guru pembimbing yang berpengalaman. Diutamakan pembimbing itu adalah ulama yang dapat membantunya tentang ilmu manasik haji serta akhlak yang mulia, mencegahnya apabila calon haji melakukan perbuatan tercela.

Calon haji wajib mempelajari ilmu manasik haji karena ibadah tidak sah bagi yang tidak paham makna ibadah itu. Bahkan mempelajari manasik haji bagi jemaah haji merupkan fardu ain. Calon haji seharusnya menghindari kesalahan dalam melaksanakan yang disyariatkan. Perlu diingat bahwa ibadah haji itu baru dapat diterima apabila mempunyai dua syarat yaitu ikhlas dan menurut tuntunan Nabi Muhammad saw.

Haji merupakan latihan bagi manusia untuk kesalehan sosial, seperti meredam kesombongan, kediktatoran, gila hormat, dan keinginan menindas sesamanya. Sebab, dalam haji, manusia harus mencopot pakaian kebesarannya. Pakaian sehari-hari yang menciptakan ke-‘aku’-an berdasarkan ras, suku, warna kulit, eselon kepangkatan, dan lain-lain harus ditanggalkan dan diganti dengan pakaian ‘ihram’ yang sederhana, tidak membedakan kaya-miskin, ningrat-jelata, penguasa-rakyat, dan status sosial lainnya. Egoisme ke-‘aku’-an lebur dalam ke-‘kita’-an, kebersamaan, kesamaan sebagai manusia yang hadir, berada dan menuju hanya kepada-Nya. Ditegaskan dalam Alquran:”Tunaikanlah ibadah haji dan umrah (hanya) karena Allah.” (QS, Al-Baqarah: 196).”Dan, Allah adalah tujuan perjalanan….” (QS, An-Nur: 42)

Haji juga melatih manusia melepaskan diri dari selera konsumtif, cinta harta. Dalam berhaji manusia dilarang mengenakan perhiasan atau parfum. Bahkan sebaliknya (sangat) dianjurkan untuk rela berkorban apa saja miliknya termasuk yang paling dicintainya, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim as yang rela mengorbankan Ismail, putra yang amat dicintainya (QS, 37:99-113).

Dalam rangkaian ibadah haji, selain wukuf di Arafah yang menjadi inti haji (al-hajju ‘arafah), yang menjadi perlambang kebersamaan, dan miniatur sejati hakikat perjalanan umat manusia. Juga diharuskan melontar tiga jumrah (berhala) yakni Ula, Wustha, dan Aqabah, yang menjadi isyarat menurut istilah Shariati, ‘trinitas’. Dalam tataran teologis, ‘trinitas’ berarti keyakinan dan penghambaan manusia terhadap tiga eksistensi Tuhan (musyrik, politeisme), dan dalam tataran sosiologis berarti penghambaan menusia pada tiga jenis nafsu yang dimilikinya: totalisme dalam kekuasaan, kapitalisme dalam kepemilikan, dan hedonisme (free sex) dalam pergaulan sesama atau antarjenis. []

About the author

admin administrator

Leave a Reply