Ibrahim as

Byadmin

Ibrahim as

Oleh : Yohandromeda Syamsu

Ibrahim as. Menemukan tauhid dengan perjalanan yang cukup panjang. Ibrahim lahir dari kalangan keluarga kufar. Ayahnya, Azar, adalah tokoh kufar, pembuat berhala. Namun fitrah Ibrahim menolak keyakinan bapaknya, menyembah sesuatu yang dibikinnya sendiri. Keyakinan yang begitu kontras membuat Ibrahim lugas dan tegas. Keyakinan yang menjadikan lingkungan sekitar sentimen membuat Ibrahim kaya argumen. Pengamatannya terhadap semua unsur yang menakjubkan di alam semesta ini membawa kesimpulan, bahwa hanya ada satu di alam raya ini yang patut dan berhak disembah. Dan itu bukan sesuatu yang selama ini diabdi kaumnya. Sampai akhirnya Allah SWT membimbingnya kepada tauhid murni.

Ujian terberat Ibrahim tatkala ia diperintah untuk menyembelih Isma’il, putranya yang selama seabad dirindukan kelahirannya. “Wahai brahim…Taruhlah pisau ke leher putramu, dan dengan tanganmu sendiri sembelihlah dia”, bunyi perintah Allah.

Bagi orang tua, anak adalah segala-galanya, dan tidak bisa dinilai dengan apapun. Lebih-lebih jika ia anak tunggal seperti Isma’il. Tak bisa dibayangkan betapa goncangnya jiwa Ibrahim kala menerima perintah itu. Betapa tidak, Ibrahim sebagai Nabiyullah yang terkenal ketundukan dan kepasrahannya itu di tuntut untuk memilih. Antara cinta Allah atau cinta anak. Menjadi seorang ayah ataukah Nabi Allah. Mementingkan syari’at kebenaran ataukah bisikan hawa nafsu. Allah… ataukah Isma’il?

Seandainya yang diperintahkan Allah adalah untuk mengorbankan dirinya sendiri, tentu tidak ada masalah dan tidak sulit untuk menentukan pilihan, karena Ibrahim telah mempertaruhkan jiwa raganya demi Allah. Tetapi bukan itu yang diminta Allah, Allah hanya meminta Isma’il putra yang amat dicintai Ibrahim. Pergulatan yang muncul kian kuat tatkala Allah mempertegas perintah itu hingga tiga kali.

Akhirnya Ibrahim mengambil sikap tegas. Perintah Allah itu dilaksanakan dengan ikhlas dan tawakal. Dan Ibrahim lulus dalam ujian berat ini. Sebuah ketulusan dan ketundukan yang luar biasa, refleksi ketinggian iman.

Kisah Ibrahim patut diteladani, paling tidak menjadi bahan renungan ulang pada setiap Idul Adha, untuk menimbang sejauh mana ketundukan dan kepasrahan kita kepada Allah?

Dari cerita itu terlihat bahwa sebuah keyakinan menjadikan manusia mau untuk “berqurban” walaupun pengorbanan tersebut harus memakan korban seorang manusia. Dan sekarang kita sudah mendekati sebuah bulan yang di dalamnya di sunnahkan bagi kita untuk melakukan “Qurban”. Syariah Qurban di dalam agama Islam merupakan suatu hal yang syarat dengan nilai-nilai karena ibadah ini menunjukan kebaikan pada pribadi yang melaksanakannya, di antaranya: Pertama, Bukti Keimanan. Keimanan bukanlah suatu khayalan dan angan-angan, namun iman adalah sebuah realita yang harus membumi dalam tataran prilaku. karena keimanan terdiri dari tiga unsur, keyakinan dalam hati, di ucapkan dengan lisan, dan di realisasikan dengan amal perbuatan. Tanpa ketiga dimensi ini iman tidak akan pernah sempurna.

Kedua, Bukti Penyerahan diri kepada Alloh Swt. Hal ini terbukti ketika Allah Swt mensyariatkan Qurban pertama kali kepada Nabi Ibrahim as, sebagaimana Allah Swt beritakan dalam Qur’an Surah Ash-Shoffat ayat 103, “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis” Apa yang tersisa setelah itu?…mereka telah pasrah, dengan melaksanakan perintah robb mereka, Ismail telah tertelungkup di atas tanah, sedang ayahnya Nabi Ibrahim as. sudah siap dengan genggaman pisaunya tanpa ada keraguan sama sekali di dalam hatinya…tidak ada yang tersisa kecuali penyembelihan…! Apakah penyembelihan tersebut yang Allah inginkan ?…tidak ! sama sekali tidak! yang Allah SWT inginkan adalah kepasrahan yang haqiqi dari mereka kepada khaliknya.

Ketiga, Bukti Kepedulian kepada sesama. Kedermawanan merupakan salah satu sifat yang menonjol pada pribadi Nabi Ibrahim as, hal itu sebagaimana tertulis di sejarah bahwa ia tiap kali hendak makan selalu mencari orang untuk di ajak makan bersamanya. Begitu pula dengan syariah Qurban yang merupakan sunnah bapak para Nabi ini, sangat sarat dengan nilai nuansa ‘sosial’. Karena dalam ilmu Fiqih di katakan bahwa sebagian besar daging tersebut harus di berikan kepada fakir miskin, bahkan Hujjatul Islam Al-Imam Al Ghozali berpendapat agar semua daging tersebut di sedekahkan kepada yang berhak.

Namun ketiga hal itu tidak akan terealisir apabila tidak di bingkai dengan dua hal, Pertama, Ketaqwaan. sesuai dengan firman Allah Swt “Daging-daging unta dan darahnya tersebut tidak akan sampai kepda Alloh SWT, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang akan sampai” (QS: Al Haj: 37)

Kedua, Kesucian Hati. Inilah rahasia keberhasilan Nabi Ibrahim sehinggga ia mampu dan mau untuk pasrah mengorbankan apa saja demi melaksanakan perintah rabbnya.”Ingatlah ketika ia datang kepada robnya dengan hati yang suci” (QS. Ash Shoffat: 85).

Idul Adha bukanlah hari raya biasa. Untuk merayakannya, tidak sekedar bertakbir, tahmid, tahlil serta bertasbih. Yang dilanjutkan dengan shalat ied dan menyembelih hewan qurban. Tapi lebih dari itu, Idul Adha melalui syari’at qurban mengingatkan kita untuk merenung, berpijak dari keagungan sejarah yang melatar-belakanginya : pengorbanan nabiyullah Ibrahim dan putra tercintanya Isma’il. ***

About the author

admin administrator

Leave a Reply