Menakar Kemiskinan

Byadmin

Menakar Kemiskinan

Oleh: Yohandromeda Syamsu (Alm)

Sering orang miskin dipandang rendah, dianggap gagal dalam menjalani hidup, tidak pintar, minim pendidikan, dan sebagainya. Karenanya, orang miskin  kurang dihormati, jarang dilibatkan, kecuali dalam peran yang memang cocok bagi mereka. Faktanya, orang miskin tidak selalu merasa menderita. Meski miskin, mereka bisa tertawa, gembira, dan juga bersyukur sebagaimana orang kaya, bahkan hidupnya jauh lebih tenang.

Ya, kemiskinan memang bisa karena banyak hal, pertama karena keadaan yang memaksa.  tidak mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, jatuh pailit, atau tertimpa banyak hutang. Usaha yang selalu gagal, menjadi orang yang tersisih, atau tertinggal karena tidak memiliki kecakapan hidup, dan sebagainya. Kedua, mereka yang memang sengaja menjalani hidup dengan keadaan miskin. Orang-orang ini tidak merasa menderita dengan keadaannya itu. Mereka tidak mau tinggal di rumah mewah, berpakaian yang serba wah, juga tidak kepingin memiliki uang banyak, tabungan atau harta yang melimpah. Mereka hanya ingin hidup secukupnya atau sederhana, tidak ingin terbebani atau terbelenggu hidupnya oleh harta, atau disebut sebagai menjadi abdi harta benda.

Orang yang menyukai atau mencintai harta, tatkala melihat orang yang sengaja hidup sederhana menganggapnya aneh. Tunggu dulu, jangan dikira, mereka yang menjalani hidup sederhana itu selalu bodoh. Bisa jadi mereka lebih pintar. Mereka memilih jalan hidup seperti itu, didasari oleh logika dan keyakinannya tersendiri. Walau, umumnya, orang menyukai harta. Tetapi, ada juga yang sebaliknya, tidak menyukainya. Artinya, tidak semua orang miskin selalu identik dengan kerendahan. Lihat saja misalnya, para kyai atau ulama yang mengambil sikap hidup sederhana. Mereka sengaja memilih cara hidup sederhana, tidak menganggap bahwa harta selalu bisa menyelamatkan dirinya.

Mereka yang berpotensi kaya, namun tidak memanfaatkannya, ternyata ada di mana-mana, dalam khazanah Islam disebut kaum shufi. Dikalangan pesantren dikenal istilah kyai waro’. Kaum shufi atau kyai waro’, biasanya lebih dihormati. Ada sebagian pemahaman, kalau ulama’atau kyai yang menjalani hidup sederhana justru dipandang sebagai ulama’atau kyai yang sebenarnya.

Sementara, orang kaya memandang kemiskinan identik dengan penderitaan, kaum shufi atau kyai waro’ melihat justru sebaliknya. Orang kaya, apalagi mereka tidak memanfaatkan kekayaannya secara benar, dipandang sebagai penyandang derajad rendah. Sebaliknya, secara umum orang miskin dianggap menderita, harus ditolong, istilah populernya dientaskan, diangkat dari lembah penderitaannya.

Memahami orang lain ternyata tidak mudah, sering terjadi salah paham. Perasaan bahagia dan derita bisa ada pada mereka yang berharta ataupun yang papa. Lihatlah, banyak orang kaya, berpangkat tinggi, sehari-hari hidup diliputi oleh suasana gelisah. Mungkin karena korupsi atau sebab lain, akhirnya dimasukkan penjara. Orang-orang seperti itu tidak akan bisa merasakan kenikmatan dari kekayaannya. Tragis lagi, justru kekayaannya itu yang menjadikan sebab, mereka masuk bui.

Boleh-boleh saja menjadi kaya, tetapi tidak perlu merendahkan yang miskin. Kaya dan miskin adalah biasa. Orang kaya, tidak identik dengan hidup sukses. Sukses dalam hidup tidak selalu diukur dari jumlah hartanya. Keberhasilan hidup dalam Islam diukur dari tingkat keimanannya, amal sholeh, dan kemuliaan akhlaknya. Orang yang memenuhi ukuran itu, bisa saja berasal dari orang miskin atau juga orang kaya. Begitulah semestinya berakhlak terhadap orang miskin, tidak merendahkan dan atau menganggap hina.

Berangkat dari pandangan itulah, sesungguhnya ada perspektif lain dari pengertian kemiskinan. Yaitu, miskin keimanan, miskin amal sholeh, dan juga miskin akhlak. Mereka itu juga perlu ditolong, dientaskan, dan diajak ke jalan yang benar. Kemiskinan iman, amal sholeh, dan miskin akhlak bisa lebih berbahaya dari sebatas miskin harta. Inilah akhlak yang seharusnya dibangun bersama, Namun, menolong mereka yang miskin harta pun, tidak boleh berhenti.[]

About the author

admin administrator

Leave a Reply