Pahala-wan

Byadmin

Pahala-wan

Oleh Erwin D. Nugroho

 Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan pahlawan sebagai “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.” Pahlawan dalam bahasa kita seolah “dipersempit” dalam urusan perang, perjuangan, bela negara — sesuatu yang sangat beraroma keprajuritan, meskipun tetap dibatasi hanya untuk yang “membela kebenaran”. Artinya, biar gagah, berani, dan rela berkorban, belum tentu mati jadi pahlawan kalau yang dibela adalah kesesatan.

Ini berbeda dengan hero, padanan kata pahlawan dalam bahasa Inggris, yang relatif lebih luas dan menabrak batas antara peran sipil dan militer. Siapa pun bisa digelari hero, meskipun sebatas, misalnya, menolong seorang bocah yang hampir mati terserempet mobil di jalan raya. “He (or she) is my hero.”

Kepada para “pembela negara”, orang Barat punya kosakata patriot, yang memang lebih spesifik diterjemahkan sebagai “pencinta tanah air”, yang karena cintanya itu lantas rela mati demi negara. Itu sebabnya tokoh fiksi seperti Batman atau Superman bisa digolongkan sebagai hero, sementara para anumerta yang pulang ke Amerika dalam peti mati dari Irak disebut patriot.

Tetapi bukan Indonesia namanya kalau tak banyak akal. Pahlawan kemudian kerap juga dipermaklumkan sebagai bentukan dua kata; pahala dan wan. Artinya, pahala-wan adalah orang-orang yang membuat pahala (kebaikan-kebaikan) dengan membela negara. Mirip-mirip warta-wan untuk pembuat warta, atau juga sastra-wan bagi para penyastra. Jangan tanya kenapa untuk seni harus disebut seni-man, bukan seni-wan — meskipun secara bahasa saya termasuk menganjurkan sebaiknya kita sebut pekerja seni sebagai penyeni saja.

Lepas dari perdebatan soal-soal harfiah itu, pahlawan dalam peradaban kita hari ini juga sepertinya sudah harus diredefinisi. Ini bermula dari sebuah pertanyaan; kalau untuk menjadi pahlawan harus berlaga di medan perang, atau setidak-tidaknya mati karena suatu perjuangan, seperti predikat “pahlawan reformasi” bagi beberapa mahasiswa yang ditembak mati tentara saat unjuk rasa tahun 1998, bagaimana generasi tanpa pertumpahan darah seperti kita-kita sekarang bisa tercatat dalam sejarah sebagai pahlawan?

Maka, ada yang mengusulkan agar pahlawan perlu dilekatkan kepada siapa pun yang dalam hidupnya melakukan kebaikan bagi orang lain. Ia tak harus seorang pemimpin pasukan atau komandan gerilya, seperti kebanyakan “pahlawan resmi” yang ditetapkan pemerintah kita saat ini. Ia bisa saja seorang yang tak dikenal, tapi berkat perbuatannya ada orang lain yang hidupnya menjadi lebih bermakna — dan saat matinya kelak tak harus dikubur di sebuah lapangan sepi bernama Taman Makam Pahlawan, yang sering hanya jadi tempat kunjungan seremoni setahun sekali.

Sayangnya, karena sejumlah kelatahan dan sikap gagap, banyak di antara kita yang kemudian dengan mudah mengira seseorang pahlawan, hanya karena dia berlelaku seolah-olah sebagai penolong di masyarakat. Dengan cara semacam ini, penjahat paling kejam pun bisa tampil dalam balutan topeng kepahlawanan dengan gayanya yang sok baik.

Pahlawan-pahlawan palsu itu mungkin ada di sekitar kita, boleh jadi sedang nongkrong di kursi-kursi terhormat yang selama ini keberadaannya kita puja-puja, yang dalam setiap pidatonya sering menyebut rakyat sebagai segala-galanya, tujuan nomor satu dalam hidup mereka. Itu diucapkan di saat di mana duit rakyat mereka keruk untuk kepentingan pribadi, memperkaya diri, membeli prestise, dan kemudian membelanjakan sebagian kecilnya saja untuk apa yang mereka sebut-sebut sebagai sikap kepahlawanan — sesuatu yang membuat kita terbuai lantas percaya.

Betapa makna kepahlawanan itu belakangan tak lagi sejalan dengan konsep pahala-wan — lepas dari benar-tidaknya asal kata pahlawan ini —  di mana seseorang dengan kreasi dan sikapnya melahirkan pahala-pahala, kebaikan-kebaikan bagi orang lain. Pahlawan hari ini, yang harus selalu dipastikan apakah asli atau tipu-tipu, memang seringkali justru bukan orang yang berpahala.

Mungkin karena konsep pahlawan terlalu mudah dijadikan dagangan politik, untuk pencitraan dan tebar pesona, sehingga seseorang bisa dielu-elukan sebagai pembela rakyat kecil hanya dengan sekali berbagi sembako, padahal barang yang dibagi-bagi itu ternyata dari uang rakyat juga. Bisa pula dipuja sebagai dewa penolong meski hanya mengumbar janji kata-kata, yang sejatinya tak pernah dituntaskan dalam sesuatu yang nyata.

Kita mencatat banyak nama, baik dalam konteks bernegara di mana pemerintah menetapkan orang-orang, yang biasanya telah mendiang, sebagai tokoh bangsa dan karenanya patut ditahbiskan sebagai pahlawan, maupun dalam diri kita sendiri; di saat hati kita mencatat deretan nama mereka yang menjadi pahlawan dalam hidup kita. Dalam pengertian yang kedua inilah, mestinya, pahlawan bangsa diakui sebagai pahlawan sebenar-benarnya.

Seorang jenderal memanggil tiga prajurit berprestasi, yang dinilai patut ditetapkan sebagai pahlawan, setelah lebih tiga tahun berjuang di Aceh. Selain mengalungkan medali tanda jasa, sang jenderal juga memberi hadiah uang.

“Yang harus kalian lakukan adalah menentukan dua titik di tubuh kalian, dan saya akan memberikan 100 ribu rupiah untuk setiap sentinya. Kita mulai dari kamu,” jenderal menunjuk prajurit pertama.

“Dari ujung kepala ke ujung kaki, jenderal.”

“Bagus, 180 senti, kamu mendapat 18 juta, lumayan kan…”

“Dari ujung jari kiri ke ujung jari kanan, jenderal,” sambar prajurit kedua.

Jenderal langsung mengukurnya. “Bagus sekali, 185 senti, total 18,5 juta.”

Giliran prajurit ketiga, agak terlambat dan baru bicara setelah dibentak. “Hei, kamu, gimana?!”

“Hmm… emm, dari pundak ke kelingking, jenderal.”

Sang jenderal terkejut. “Apa tidak salah? Pundak ke kelingking? Aneh, tapi ya sudahlah…”

Jenderal jadi tambah terkejut saat mulai mengukur, “Mana kelingkingmu, prajurit?”

Prajurit ketiga tersipu malu. “Di Aceh, jenderal!” ***

About the author

admin administrator

Leave a Reply