Pemberdayaan

Byadmin

Pemberdayaan

Oleh: Yohandromeda Syamsu (Alm)

Kadang kita mempunyai persepsi dan anggapan keliru tentang Islam. Kita beranggapan bahwa seolah-olah Islam hanya berkaitan dengan ibadah ritual saja, seperti syahadat, mendirikan salat, menjalankan puasa, membayarkan zakat, dan menunaikan ibadah haji serta hal-hal yang lain yang bersifat vertikal semata. Sedangkan hal-hal yang bersifat horizontal, apalagi di bidang pembangunan ekonomi, tidak ada kaitannya, bahkan seringkali Islam dicurigai sebagai factor penghambat pembangunan ekonomi.

Namun jika kita mau menelaah lebih lanjut, maka kita akan paham, bahwa Islam adalah agama yang mempunyai ajaran yang komprehensif dan universal. Kegiatan sosial ekonomi (muamalah) dalam Islam mempunyai cakupan yang luas dan fleksibel, serta tidak membeda-bedakan antara Muslim dan non Muslim. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali, yaitu dalam bidang muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita.

Dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi, dunia Islam mempunyai sistem perekonomian yang berbasiskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Syariah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis serta dilengkapi dengan Al-Ijma dan Al-Qiyas. Sistem perekonomian Islam yang dikenal dengan istilah Sistem Ekonomi Syariah, dengan tujuan, kesejahteraan ekonomi dalam kerangka norma moral Islam. Membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid, berdasarkan keadilan dan persaudaraan yang universal. Mencapai distribusi pendapatan dan kekayaan yang adil dan merata. Menciptakan kebebasan individu dalam konteks kesejahteraan sosial.

Sistem ekonomi syariah mempunyai konsep yang lengkap dan seimbang dalam segala hal kehidupan, namun kita umat Islam di Indonesia, tidak menyadari hal itu. Kita masih berpikir dengan kerangka ekonomi kapitalis, karena berabad-abad dijajah oleh bangsa barat, dan juga bahwa pandangan dari barat selalu lebih hebat. Padahal tanpa kita sadari ternyata di dunia barat sendiri telah banyak negara mulai mendalam system perekonomian yang berbasiskan Syariah.

Sistem Ekonomi Syariah mengakui adanya perbedaan pendapatan dan kekayaan pada setiap orang dengan syarat bahwa perbedaan tersebut diakibatkan karena setiap orang mempunyai perbedaan keterampilan, inisiatif, usaha dan resiko. Namun perbedaan itu tidak boleh menimbulkan kesenjangan yang terlalu jauh antara yang kaya dengan yang miskin karena kesenjangan yang terlalu dalam tidak sesuai dengan syariah Islam yang menekankan bahwa sumber-sumber daya bukan saja karunia dari Allah bagi semua manusia, melainkan juga merupakan suatu amanah. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk mengkonsentrasikan sumber-sumber daya di tangan segelintir orang.

Kurangnya program-program yang efektif untuk mereduksi kesenjangan sosial yang terjadi selama ini dapat mengakibatkan kehancuran, bukan penguatan perasan persaudaraan yang hendak diciptakan Islam. Syariah Islam sangat menekankan adanya suatu distribusi kekayaan dan pendapatan yang merata. Syariah Islam mewajibkan setiap individu untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, dan juga menetapkan kewajiban kolektif bagi masyarakat Muslim untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang tidak mampu karena kekurangannya. Salah satu cara yang dituntut oleh Islam atas kewajiban kolektif tersebut adalah ”lembaga zakat” yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rukun Islam. Secara teknik, zakat adalah kewajiban finansial seorang muslim untuk membayar sebagian kekayaan bersihnya atau hasil usaha-usahanya jika kekayaan tersebut telah melebihi nisab (kadar tertentu yang telah ditetapkan).

Penciptaan lingkungan yang kondusif perlu digalang dengan kerjasama antara pihak pemerintah, ulama, cendikia, akademisis, pengusaha, asosiasi pengusaha, perbankan, media massa, LSM dan pihak-pihak lain yang menginginkan kemajuan sosio ekonomi yang positif, sehingga terbentuk sebuah jaringan sosio-ekonomi yang diciptakan dengan konsep yang matang dan dikelola secara profesional, effektif dan efisien.

Pembagian dana zakat harus memberikan preferensi dengan tujuan memungkinkan si miskin untuk dapat berdikari, karena merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk dapat menghidupi dirinya sendiri. Bagi yang lain, zakat harus dipergunakan hanya untuk bantuan keringanan temporer disamping sumber-sumber daya esensial untuk memperoleh pelatihan, peralatan, dan materil sehingga memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan yang mencukupi.

Zakat juga akan meningkatkan ketersediaan dana bagi investasi. Pembayaran zakat pada kekayaan termasuk emas, perak dan harta yang tersimpan akan mendorong para pembayar zakat untuk mencari pendapatan dari kekayaan mereka, sehingga mereka mampu membayar zakat tanpa mengurangi kekayaannya. Dengan demikian, dalam sebuah masyarakat dengan nilai Islam yang telah terinternalisasi, simpanan emas dan perak serta kekayaan yang tidak produktif akan cenderung berkurang sehingga meningkatkan investasi dan menimbulkan kemakmuran yang lebih besar. []

About the author

admin administrator

Leave a Reply