Responsif

Byadmin

Responsif

Oleh : Yohandromeda Syamsu (Alm)

Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh. Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.

Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.

Bagaimana dengan mereka yang tidak terkena musibah atau bencana? Kecepatan yang diimbangi profesionalisme dalam merespon segala sesuatu merupakan investasi terbaik untuk meraih segalanya. Sebutlah, tindakan penyelamatan dan mengatasi dampak buruk bencana, meraih kepercayaan (tsiqoh) masyarakat dan donor, bahkan kecintaan (mahabbah) dari Allah Swt.

Sekaligus membuktikan bahwa sedekah terbaik adalah sedekah yang diberikan saat hati terbetik untuk memberikan sedekah. Amal terbaik adalah amal yang disegerakan, maknanya adalah “kecepatan”.

Dalam hal lain, shalat terbaik adalah shalat yang disegerakan saat tiba waktunya. Mu’amalah terbaik adalah ketika seseorang menyegerakan membayar hutangnya. Berlomba lebih cepat memberi salam kepada saudaranya merupakan sebuah keutamaan. Bangun malam lebih cepat (awal) untuk bersujud bermunajat kepada Allah Swt lebih baik. Membuat masyarakat korban bencana lebih cepat bahagia itu juga lebih baik.

Karenanya, lebih cepat beramal, lebih cepat bekerja, lebih cepat menjalankan program berarti lebih cepat mengatasi masalah, lebih cepat menuai keberhasilan, lebih cepat sampai di tujuan, lebih cepat meraih kecintaan Allah Swt, lebih cepat meraih ke-taqwaan, dan  bahkan bisa lebih cepat meraih syurga.

Bekal ruhiyah yang tinggi akan tetap menjaga semangat, komitmen, dan mujahadah. Siap dan terus pelihara niat dan keikhlasan, supaya amal berbuah kemanisan bukan kepahitan. Bekal pikiran yang jernih, cerdas, dan totalitas. Tunjukkan kemampuan menyelesaikan masalah. Siapkan bekal kecerdasan sosial yang prima : empati, simpati, peduli, saling menyemangati, meneguhkan kebersamaan, tak menahan racun dalam hati, tak berprasangka buruk dengan sesama tim, mencemooh, menggunjing, merasa lebih hebat dan merasa lebih berjasa. Jangan ada sensasi pribadi, ujub, berbangga diri. Merusak hati karena menyukai apresiasi orang, dan buang perasaan merasa telah beramal lebih baik.

Bekal profesionalisme manajemen yang baik, bayangkan bahwa kita sedang merancang bangunan amal yang lebih indah dari istana, bekerjalah bagai seorang visioner agar tak cepat bosan, jangan terjebak dengan rutinitas, statis, dan stag.

Bersiap dengan dinamika yang tinggi, jangan apriori dengan perubahan yang cepat. Bekerja dalam tim yang solid. Pahami dan laksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai kewajiban amal masing-masing. Berlombalah karena Allah Swt untuk menjadi yang terbaik. Bekerja dengan rencana, buat target dan berusaha untuk mencapainya. Bicara dengan data dan fakta. Menyelaraskan kehebatan berkata-kata dengan kehebatan meraih hasil kerja. Jangan sekedar membawa angin surga tetapi bawalah surga itu sebagai realita. Pro-aktif, jangan pelit untuk berkomunikasi, jangan pelit berbagi informasi, lakukan supervisi dan evaluasi, dan belajarlah terus tanpa henti guna menyempurnakan amal.

Apa yang menjadi target? Bagi korban bencana, menjadi masyarakat model yang tegar, sabar, mampu mandiri. Masyarakat yang memiliki budaya hidup terhormat dan maju, disipilin, kerja-keras, belajar tanpa henti, gotong-royong, dan peduli. Bagi lembaga, mempunyai basis dukungan publik, mempunyai donor society sebagai modal untuk memperkuat pendanaan program lembaga, menjadi lembaga model di dunia kemanusiaan, khususnya dalam penanganan bencana. Bagi masyarakat dan negara, menghidupkan budaya peduli masyarakat. Donatur mempunyai sarana wisata sosial, masyarakat akan  menjadi subjek kerelawanan. Negara memiliki asset, lembaga sosial dan masyarakat relawan.

About the author

admin administrator

Leave a Reply