Belajar Nilai Hidup dari Sosok Renta Bersahaja

Byadmin

Belajar Nilai Hidup dari Sosok Renta Bersahaja

Oleh Retno Sulisetiyani (Manajer Marketing Komunikasi RBP)

Menjadi tua itu sebuah kepastian, namun menjadi dewasa merupakan sebuah pilihan. Pepatah tersebut seringkali diungkapkan untuk memotivasi seseorang dalam menjalani hidup, terlebih kepada para pemuda. Betapa tidak? Banyak kaum pemuda yang terkesan cepat menyerah dalam berjuang saat ini. Narkoba, pergaulan bebas, orientasi seks yang keliru, hingga tindak kriminal di luar batas kemanusiaan. Zaman sudah edan!. Demikian banyak orang menuding zaman, padahal kita sendirilah pelaku sejarah.

Baiklah. Izinkan kami bercerita tentang sosok-sosok renta bersahaja.

Namanya Patimah, seorang janda berusia 75 tahun yang tinggal di Kecamatan Liang Anggang Banjarbaru. Hidupnya sehari-hari dibantu oleh anaknya yang bekerja sebagai buruh. Selain itu, kadang-kadang ada rezeki dari hasil beliau mengajar ngaji anak-anak di lingkungan rumahnya. Ya! Meski sakit-sakitan, Patimah tetap memiliki semangat untuk hidup sekaligus berbagi ilmu. Sebenarnya, selain punya penyakit darah tinggi Patimah juga mengalami gangguan melihat dan mendengar. Lantas bagaimana Ia mengajar ngaji?

“Kalau anak-anak mengaji Alhamdulillah kadada halangan pang, jelas haja mendengar,” akunya kala ditanya. Begitulah Kuasa Ilahi. Bahwa dibalik kekurangan selalu ada kelebihan. Demikian juga sebaliknya. Setiap sore Patimah menerima anak-anak yang ingin belajar mengaji di rumah sederhana yang hampir puluhan tahun tak tersentuh renovasi. Kondisi fisiknya yang bahkan gemetar saat berjalan tak menyurutkan semangatnya demi sebuah harap : agar anak-anak dekat dengan Al Qur’an.

Tengok juga sepasang renta, Sabran (85) dan Siti Aisyah (80) yang tinggal tak jauh dari rumah Patimah. Kondisi rumahnya tak jauh beda dengan rumah Patimah. Dengan kisah berbeda, Sabran harus bersabar menghadapi istrinya. Di usia senja, Siti Aisyah mengalami sedikit gangguan psikis dimana Ia beranggapan dikejar-kejar oleh sosok yang tidak dikenal dan mengancam. Meski kadang lelah, Sabran tak pernah meninggalkan istrinya. Mungkin dengan menjadi teman di masa tua itulah, Sabran telah membuktikan diri menjadi pasangan yang hebat bagi istrinya.

Sosok Patimah maupun Sabran hanya segelintir dari 2,3 % jumlah lansia di Kalimantan Selatan. Bisa jadi mereka beruntung karena masih bisa menikmati tinggal di rumah (dekat dengan keluarga meskipun kekurangan), jika dibandingkan dengan kebanyakan lansia yang dititipkan di panti. Namun, perlu perjuangan sendiri saat nasib membawa mereka pada satu masa dimana mereka harus hidup di rumah sendirian. Terbatas secara fisik juga ekonomi. Namun, kenyataannya mereka bisa menemukan cara bagaimana menjalani hidup. Terlebih masih bisa berbagi untuk sesama.

Lantas bagaimana dengan kita hari ini? Berpasrah diri hingga menua atau memilih berjuang dalam kedewasaan?.

About the author

admin administrator

Leave a Reply